Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 9

Bundaku 9

Cerita Sebelumnya : Bundaku 8

Part 9

Saat aku terjaga, kulihat beberapa pasang mata memandangku dengan tatapan khawatir, apa yang sebenarnya terjadi ? seingatku aku sedang bermain dengan kedua bidadariku, tapi kenapa sekarang aku ada dikamarku dan dikelilingi oleh banyak orang seperti ini ? Kualikan pandanganku kearah Bunda, berharap mendapat jawaban darinya.

“Kamu gak papakan sayang ?” Tanya Bunda khwatir.

“Emangnya kenapa Bun ?”

“Syukurlah kalau kamu sudah baikan, bunda sangat khawatir sekali.”

“Benar kamu gak ingat apa-apa ?” Tanya Kak Vera, diantara mereka hanya Kak Vera yang terlihat lebih tenang.

“Tadi ada perampok yang masuk kerumah kita, tapi syukurlah tidak ada yang terluka.” Ujar Bunda yang kini terlihat lebih tenang.

“Perampok ? trus… ada yang hilang ?”

“Ada tapi gak banyak, yang penting kita semua selamat.” Sahut Kak Liza sembari terseyum sembari memamerkan giginya yang rapi.

Aaah… aku baru ingat, semalam waktu aku ingin pulang kerumah tiba-tiba saja ada orang yang mendekapku, lalu setelah itu aku tak ingat apa-apa, dan saat aku sadar aku sudah bersama Kak Sifa dan Kak Peni didalam kamarnya, habis itu aku ehem-ehem sama mereka dan…

“Aawww… ” Aku menjerit lalu memegangi kepalaku yang terasa sakit.

“Sayang, kamu kenapa ? Sekarang kita ke rumah sakit ya.”

“Gak perlu Bunda, Adek cuman butuh istirahat aja.” Kataku sembari meyakinkan Bunda. Entalah apa yang kurasakan tadi bersama Kak Sifa dan Peni terasa begitu nyata, tapi melihat keadaanku saat ini ? Apakah aku hanya sekedar bermimpi ?.

“Ya sudah, kalau begitu kami keluar dulu, biar Adek bisa istirahat, nanti kalau perlu apa-apa pangil Bunda ya sayamg.” Ujar Bunda, aku mengangguk lemah.

***

Keesokan harinya pada jam Istirahat, aku memutuskan untuk menyendiri dibawah pohon besar yang terletak dibelakang bangunan sekolah, tempat biasa aku menghabiskan waktuku saat aku sedang bosan. Bayangan-bayangan tadi malam kembali melintas dikepalaku, aku masih ingat betul saat aku bercinta dengan kedua bidadari rumahku, lalu saat aku ingin sampai, tiba-tiba saja seseorang memyiramku dengan airku, habis itu aku tidak ingat apapun.

“Woi… ”

“Anjiiing… !” Aku melompat lalu dengan gerak cepat aku memasang kuda-kudaku.

“Hahaha… ” Sahabatku, Lintar tertawa ngakak melihatku yang sedang terlihat konyol. Sial, aku dikerjain, tungguh saja pembalasanku nanti.

“Huh… ” Aku mendengus kesal, lalu duduk kembali.

“Kenapa Bero ? kayaknya lagi banyak pikiran ni ? Apa lagi mikirin… Ehem… ehem… tuan Putri.” Ledek Lintar sambil menepuk-nepuk punggungku.

“Sembarangan.” Jawabku kesal.

“Hehe, terus kalau lagi gak berantem sama tuan Putri, kenapa tadi kesekolah sendirian ?”

“Eeh… ” Mataku mendelik, aku baru ingat kalau tadi aku langsung pergi kesekolah tanpa menjemputnya. Kacau, Putri pasti sangat marah, ini semua karna kejadian semalam yang membuatku kebingungan.

Teeett… teett… teett…

“Udah gak usah dipikirkan, ayo masuk kelas.” Ajak temanku, aku mengangguk lalu mengikutinya dari belakang.

***

“Assalamualaikum… ” Sapa Ustadza Karimah, diiringi seyuman yang menghias dibibirnya, lalu dengan perlahan ia menjatuhkan pantatnya diatas kursi kebesarannya. “Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, Ustadza minta kumpulkan tugas kalian kemarin di meja Ustadza.” Katanya sambil membuka buku absen lalu memanggil nama kami satu persatu.

Ketika teman-teman kelasku sibuk mengumpulkan tugas mereka, akun malah sibuk menepok jidatku. Gara-gara semalam semuanya jadi kacau, tadi pagi aku lupa mengbil buku prku di Kak Vera.

“Aldi… mana pr kamu ?” Tanya Bu Karima sambil menatapku dengan tatapan tajam.

“Maaf Bu, buku saya ketinggalan.” Kataku memberi alasan yang sebenarnya, tapi sepertinya Bu Karima tidak begitu saja mempercayai ucapanku.

“Ketinggalan ? Berdiri kamu Aldi.” Katanya yang terdengar seperti sebuah perintah.

Dengan langkah gontai akupun berjalan menuju depan kelas, beberapa teman kelasku mulai kasak kusuk, bahkan sebagian dari mereka mulai cekikikan mentertawakanku. Huh… sial, padahal selama ini akulah yang paling rajin diantara mereka.

“Sudah… sudah… sekarang kita mulai pelajarannya, dan kamu, angkat kaki satu sambil pegang telinga kamu kedua-duanya jangan dilepas sampai pelajaran selesai.” Kata Ustadza Karima, dan aku hanya bisa pasrah menerima hukuman darinya.

***

Penderitaanku hari ini tidak berakhir sampai disitu saja, Ustadza Karima menghukumku membersikan halaman rumahnya jum’ad depan, hukuman yang memang biasa ia berikan kepada kami muridnya yang nakal. Aku hanya bisa pasrah menerima hukuman darinya.

Sepulang sekolah, seperti biasa aku menunggu tuan Putri didepan gerbang sekolah, tapi setelah menunggu begitu lama, aku di buat kecewa olehnya, kulihat Putri duduk manis diatas jok motor yang di tunggangi oleh Kakak kelasku. Siaal… sepertinya dia masi marah kepadaku.

Cukup lama aku memperhatikan Putri yang berada di belakang Kak Fuad, dia terlihat begitu mesrah sambil memeluk pinggang Kak Fuad. Duh… kenapa dadaku jadi terasa sesak begini melihat kedekatan mereka, sudalah mending sekarang aku langsung pulang kerumah, siapa tau Bunda sudah pulang lebih dulu dan memasakan sesutu yang lezat untukku siang ini.

Siang itu aku terpaksa pulang sendirian sambil mengayuh sepedaku dengan gontai.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*