Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 12

Bundaku 12

Cerita Sebelumnya : Bundaku 11

Part 12

Tiga hari telah berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda kalau Bunda akan memaafkanku, sementara aku sendiri tetap tak berani menegurnya, aku takut teguranku membuatnya semakin marah. Selain Bunda, hubunganku dengan Putri juga semakin memburuk, dia tak lagi mau bermain denganku lagi.

Kuambil sebatang rokok, lalu kuhidupkan rokokku dengan zipo. Fuuh… saat ini hanya rokok yang mau menemaniku.

“Tumben kamu ngerokok Al ? Lagi ada masalah apa sob ?” Kulihat Lintar baru saja tiba, lalu duduk dibangku tepat disampingku.

Saat ini kami sedang duduk di sebuah gubuk yang sudah tak terpakai, disinilah aku dan para sahabatku biasa nongkrong sambil menikmati nikotin.

Gubuk yang kami jadikan markas ukurannya tidak terlalu besar, hanya ada dua ruangan, ruang depan dan sebuah kamar yang sudah lama tak terpakai, saat ini kami sedang duduk diruang depan, ditemani sebungkus rokok mild.

“Lagi stres aja.” Jawabku malas.

“Gimana sama Putri ? Kulihat kayaknya dia lagi dekat sama si Fuad.” Lintar mulai membuka obrolan, jujur dadaku mulai merasa sesak saat ia menyebut nama Putri dan Fuad.

Ingatanku kembali ketadi pagi, didepan mataku kulihat mereka tampak begitu mesra, tawa Putri tanpa begitu lepas ketika sedang bercanda dengan Fuad, Berbeda ketika ia sedang bersama denganku.

“Sudalah aku tidak mau ngebahasnya.” Kataku sambil menghembuskan hasap rokok kelangit-langit gubuk.

“Cemburu ya ?”

“Hmm… Gak mungkin aku cemburu, emangnya dia siapa.” Kataku sengit, tapi sejujurnya aku sendiri tidak tau apakah aku cemburu atau tidak.

“Apa perlu kita pukulin si Fuad berengsek.” Kata Lintar sambil menepuk pundakku, matanya berbinar, menatapku tajam.

“Tidak perlu, itu urusan mereka.” Jawabku singkat.

Kami kembali terdiam, aku sibuk dengan khayalanku sendiri, sementara sahabatku sibuk menikmati nikotin yang memenuhi paru-parunya. Tak terasa waktu terus berjalan hingga sorepun tiba menggantikan siang.

***

Seperti biasanya, aku duduk disamping jendela kamarku, mataku memang tertuju kearah para bidadariku, tapi sebenarnya tatapanku kosong, entah kenapa penampilan mereka kali ini tidak mampu menutupi kegundahan hatiku.

Sekarang apa yang harus kulakukan ? Kini semua orang seperti sedang berlomba ingin menjahuiku, bahkan Kak Nurul kini juga ikut-ikutan mengabaikanku.

“Dek… Adek… ”

“Eh ya Kak, ada apa ya ?” Tanyaku ketika aku tersadar dari lamunanku.

“Kakak panggil dari tadi gak jawab-jawab, kamu kenapa sih, kok kayaknya lagi galau banget.” Ujar Kak Vera yang sedang berdiri didepan jendela kamarku. Entah semenjak kapan ia berdiri disitu, membuatku merasa malu sendiri.

Posisiku yang sedang duduk di kursi, membuat wajahku sejajar dengan dadanya, apa lagi jarak kami begitu dekat, tapi anehnya aku sama sekali tidak terangsang.

“Gak apa-apa kok Kak, cuman lagi males saja, lagi pengen menyendiri.” Kataku malas, sembari kembali melempar pandanganku keluar jendela.

“Pasti masalah perempuan ya ?” Tembak Kak Vera, aku sedikit terkejut mendengar tebakannya.

“Kak Vera ngasal ni.”

“Emang siapa cewek yang kamu taksir ? cerita dong sama Kakak.” Katanya seolah tak mengindahkan ucapanku.

“Gak ada kok Kak.” Jawabku tetap kekuh.

Tiba-tiba Kak Vera melompati jendelaku, ketika ia mengangkangi jendela kamarku, kain yang biasa ia gunakan untuk mandi tersingkap cukup tinggi, mengekpose pahanya yang mulus, bahkan sekilas aku sempat melihat celana dalamnya yang berwarna putih.

Lalu sembari terseyum, ia duduk ditepian ranjangku, menungguku untuk mulai bercerita. Duh… wajah itu sangat menggemaskan.

Huh.. Kak Vera memang selalu bisa memaksaku, dan kali ini lagi-lagi aku dibuatnya tak berdaya.

“Ada seorang wanita yang sedang marah kepadaku.” Kataku akhirnya menyerah.

Aku mulai menceritakan masalahku, baik itu tentang Putri maupun Bunda, tapi tentu saja nama mereka aku samarkan, aku tidak ingin Kak Vera tau kepada siapa aku saat ini sedang bermasalah.

Selama aku bercerita, Kak Vera sama sekali tak perna memotong ceritaku, dia tanpa serius mendengar ceritaku.

“Solusinya kamu hanya perlu meminta maaf, kamu cari waktu yang tepat, lalu sampaikan permintaan maafmu. Masalah kamu yang berani melecehkan Tante Rita (Nama Bunda yang kusamarkan ) jujur Kakak sendiri sangat kaget mendengarnya, tapi Kakak rasa dia pasti tetap mau memaafkan kamu, asal kamu mau mengakui kesalahan kamu dan berjanji tidak akan mengulanginnya lagi.” Dengan serius aku mendengar pencerahan darinya.

Sepertinya apa yang dikatakan Kak Vera benar juga, aku harus berbicara kepada mereka, dan aku harus siap menerima kosekuensinya, bagaimanapun juga akulah yang memulainya, dan aku juga yang harus mengakhirinya.

“Ya udah deh Dek, Kakak mau mandi dulu gerah ni.” Katanya, lalu kembali melompati jendela kamarku.

“Kak…” Panggilku. “Terimakasih ya… ” Diapun terseyum lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*