Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 11

Bundaku 11

Cerita Sebelumnya : Bundaku 10

Pov Bunda.

Aku benar-benar terkejut dengan apa yang sedang terjadi anatara aku dan anakku, semuanya seperti mimpi, tapi aku sadar ini bukan mimpi. Kembali kupandangi tubuhnya, ada satu bagian yang menarik bagiku, yaitu burungnya, ukurannya memang tidak begitu besar, tapi terlihat sangat kokoh dan keras.

Duh ada apa dengan diriku, vaginaku kembali terasa gatal, apa aku menginginkan persetubuhan ini ? Tidak… aku Ibunya, ini tidak boleh terjadi, tapi apa yang bisa kulakukan saat ini.

“Bunda… kulumin kontol anakmu ini ya.” Eh, apa-apaan ini.

“Jangan kurang ajar kamu Aldi, ingat aku ini Ibu kandungmu.” Kataku berusaha bersikap tegas, aku tidak ingin kecolongan lagi seperti sebelumnya.

“Ayolah Bunda, Adek udah gak tahan ni, selama ini Bunda yang sering godain Adek, sekarang Adek sudah gak tahan lagi, Bunda harus tanggung jawab.” Katanya, seolah menyalahkanku apa yang telah terjadi saat ini.

Lama aku merenung, jujur selama ini memang akulah yang sering menggodanya, tapi itu karena aku hanya iseng, melihat tingkah Aldi yang kenak-kanakan rasanya tidak mungkin ia senekat ini, sekarang apa yang harus kulakukan, menuruti keinginannya ?

“Baiklah, tapi hanya kali ini dan tidak ada yang namanya penetrasi, kamu mengerti ?” Oh tuhan apa yang kukatakan.

“Ya, kalau gitu Bunda bisa memulainya dari sekarang.”

Peralahan kuangkat tanganku, lalu dengan jari-jariku aku mengenggang penisnya, menggerakan tanganku maju mundur, sementara mataku tak lepas memandangi kepala penisnya yang sedikit berair.

“Bunda sukakan ?” Tanyanya.

Kupalingkan wajahku, aku tidak ingin anakku tau kalau aku sudah sangat terangsang.

“Eeghkk.. ” Aku kaget saat kurasakan tangannya meremas dadaku, sangat kasar tapi aku menyukainya.

Aku berusaha menahan suaraku saat di mulai memainkan puttingku, dia menarik-narik putingku, memutarnya dengan kasar. Uughk… rasanya nikmat sekali, seandainya yang melakukan ini adalah Suamiku, mungkin aku akan segera memintanya untuk menyodokku.

Dimana kamu sekarang Mas ? Aku sangat merindukanmu.

“Bundaaa… Kocokan Bunda enak banget, aku hampir sampai.” Katanya sambil menjambak rambutku, membuatku terpaksa membuka mulutku dan menelan penisnya.

Kini tanganku kuarahkan kekantung pelirnya, kupijit lembut kantungnya membuat anakku merem melek, aku tau dia pasti sangat menikmatinya.

Entah kenapa aku senang melihatnya puas, aku bahagia melihat dia menikmati permainanku, respon darinya membuatku semakin bersemangat memainkan burungnya, lidaku dengan lembut menyapu kepalanya, memainkan lidaku di atas lobang kencingnya.

“Bunda… Aahk… aku sampai.” Tubuhnya mengejang, kedua tangannya menekan kepala bagian belakangku, membuatku nyaris tersedak.

Crrott… croott… Tak lama kemudian, kurasakan cairan kental memenuhi tenggorokanku, rasanya hangat dan sangat guri, jujur ini adalah pengalaman pertamaku merasakan sperma didalam mulutku, bahkan Suamiku sendiri belum perna melakukannya.

Aku kembali tertunduk, segera aku ambil selimut untuk menutupi tubuh telanjangku, jujur jauh didalam diriku aku menginginkan lebih, vaginaku sudah sangat basah dan ingin segera merasakan penisnya, tapi sedikit kesadaran yang aku miliki menyadarkanku akan konsekuensi atas kenekatanku.

“Sudah selesaikan ?”

“Maaf Bunda.”

“Sementara waktu jangan ganggu Bunda.” Kataku, lalu tanpa memperdulikannya aku berjalan keluar kamar.

Entalah apa yang kulakukan sekarang benar atau salah, aku sendiri juga merasa bingung, disisi lain aku merasa bangga karena anak semata wayangku tumbuh menjadi anak dewasa, tapi di sisi lainnya aku merasa kecewa karena tidak bisa medidiknya.

***
Pov Aldi

Aku terduduk lemas, masih sempat kulihat wajah sedih Bunda saat meninggalkan kamarku, oh tuhan… apa yang kulakukan, tidak seharusnya aku membuat Bunda sedih, apa yang harus aku lakukan.

Segera kuambil sisa pakaian Bunda yang tergelatak tak berdaya, lalu kulipat seadanya dan kuletakan diatas meja kecil yang ada di pojokan kamarku.

Aku berjalan mendekati lemari kamarku, mengambil sebuah handuk kecil, hanya dengan air dingin aku bisa menenangkan diriku saat ini.

Selesai mandi aku mengganti pakaian dengan piaya tidurku dan bermaksud ingin kembali tidur, tapi sayang mata ini sudah tidak mau terlelap, hingga akhirnya aku baru bisa tertidur ketika jam di dinding kamarku menunjukan pukul 4 subuh.

***

Keesokan harinya aku bangun lebih siang, tidak sepeti biasanya Bunda tidak membangunkanku, apa Bunda masih marah ? Ah bodohnya aku, tentu saja Bunda masih marah, kelakuanku semalam sudah sangat keterlaluan.

Selasai mandi dan berganti pakaian sekolah, aku keluar kamar menuju ruang makan, kulihat ada nasi goreng di atas meja makan, tapi pagi ini nafsu makanku sudah hilang.

Seperti biasanya aku mengayu sepeda kerumah sahabatku Putri, tapi baru saja tiba di persimpangan aku melihat Putri sedang duduk manis di jok belakang motor Kak Fuad, Putri melihatku, lalu tiba-tiba saja dia memeluk erat pinggang Kak Fuad. Huh… sepertinya dia sengaja mempertontonkan kedekatannya dengan Kak Fuad.

***

“Put… tunggu !” Aku berlari mengejar Putri.

Seolah tak memperdulikanku ia semakin mempercepat langkahnya, membuatku semakin cepat berlari agar bisa mendekatinya.

“Kamu kenapa sih Put ?” Kataku setelah berhasil mensejajarkan langkaku.

“Kenapa ? aku gak papa.” Katanya cuek.

“Kok tadi kamu jalan bareng Kak Fuad ?” Duh… ngapain juga aku nanya begituan, jelas itu bukan urusanku.

“Eh, apa urusannya sama kamu ?”

“Ya… cuman pengen tau aja.”

“Sudah ah aku mau masuk kelas dulu.”

“Tunggu bentar Put ?” Aku berusaha meraih tangannya, tapi Putri dengan cepat menepis tangannya.

“Hei… hei… ngapain kalian ?” Aku berhenti mengejar Putri yang terus saja berjalan menuju kelasnya.

Sial… aku pasti di hukum kali ini. Ustad Zakir berjalan cepat kearahku sambil menenteng sebila rotan di tangannya, sesampainya didepanku ia menghela nafas panjang sambil memberi kode agar aku menyerahkan tanganku yang tadi memegang tangan Putri.

Dengan terpaksa aku menyodorkan tanganku, lalu kemudian rotan itu melayang menghantam telapak tanganku.

“Aawww… ” Aku merintih menahan sakit di tanganku.

“Kamu tau dia itu bukan muhrimmu, kenapa kamu memegang tangannya.” Katanya mulai memerahiku sambil memukul tanganku.

“I.. iya Ustad Maaf.” Kataku meringis kesakitan.

“Lain kali jangan diulangi.” Katanya. “Sekarang masuk kelas.” Aku berjalan gontai menuju kelasku, sambil menahan rasa sakit ditelapak tanganku.

Hari ini, hari tersial yang perna kualami…

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*