Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 10

Bundaku 10

Cerita Sebelumnya : Bundaku 9

“Maling… maling… ”

Aku terbangun saat mendengar teriakan Bunda, buru-buru aku melompat dari tempat tidurku. Dan benar saja kulihat dua orang pria yang sedang berusaha melarikan diri.

Tanpa memperdulikan Bunda, aku mencoba mengejar dua pencuri tersebut, lalu di susul beberapa warga yang mendengarkan teriakan Bunda.

Kulihat mereka semakin menjauh, menerobos masuk kedalam hutan, sementara aku ditemani warga berusaha menangkap mereka, hingga akhirnya kamipun kehilangan jejak mereka. Karena tak berhasil menangkap mereka, kuputuskan untuk kembali pulang kerumah.

“Gimana malingnya sayang, ketangkep ?” Tanya Bunda, aku menggeleng lesu.

“Ya sudah gak apa-apa, lain kali kita harus lebih hati-hati lagi.” Ujar Bunda sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Gimana sih Bun, kok bisa maling masuk ?” Kataku merasa penasaran, karena kulihat tidak ada tanda-tanda kerusakan dari pagar hingga pintu rumah kami.

“Bunda juga gak ngerti sayang.”

“Apa jangan-jangan ada orang dalam yang ikut terlibat ?” Kataku menduga-duga.

“Husss… mana mungkin ada orang dalam yang berbuat seperti itu, jangan ngacok kamu.” Omel Bunda sambil melototiku.” Sudalah, yang penting tidak ada yang hilang.” Lanjut Bunda, lalu dia berlalu begitu saja.

****

Aku kembali kekamarku, entah kenapa mengingat kejadian dua hari ini aku merasa ada yang aneh, sepertinya ada yang sengaja melakukan ini semua untuk meneror keluarga kami, tapi siapa yang tega melakukan semuanya ? Kalau karena uang, seharusnya mereka tidak mencuri untuk kedua kalinya secara berturu-turut.

Sudalah, yang penting tidak ada yang hilang, semoga pencuri itu tidak kembali lagi, agar Bunda tidak perlu khawatir.

Ngomong-ngomong soal Bunda, tadi Bunda terlihat begitu seksi, gaun tidur yang dia kenakan jelas tidak dapat menutupi keindahan tubuhnya. Ughkk… Bunda, kenapa Bunda selalu menggodaku.

Tak sadar tanganku mulai masuk kedalam celanaku, lalu dengan gerakan lembut aku mulai mengocok kontolku.

“Bunda… ”

Aku mulai membayangkan sedang mencium bibirnya, lalu tanganku dengan perlahan membuka gaun tidurnya, dan ternyata Bunda tidak mengenakan dalaman didalam sana, membuatku semakin bersemangat.

Ciumanku turun kelehernya, Bunda mulai menggelinjang seiring dengan rangsangan yang kuberikan kepadanya.

Uggkk Bunda…

Kuhentikan sejenak khayalanku, lalu kubuka lemari belajar dan mengambil sebuah benda berbentuk segitiga berwarna coklat, celana dalam milik Bunda yang baru ia kenakan tadi malam, tentunya belum sempat ia cuci.

Aku kembali naik keatas tempat tidurku, melanjutkan onaniku yang sempat tertunda.

“Bunda, Hmm… memek Bunda enak.” Gumamku sambil menciumi celana dalam Bunda.

Kubayangkan saat ini aku sedang menjilati bibir memek Bunda yang berlendir, lalu dengan ujung lidaku, aku memainkan clitorisnya, menghisap lembut sambil menusuk-nusuk dengan kedua jariku kedalam memeknya.

“Bundaa… aahk… aku Mau…. ” Mataku melotot, melihat Bunda yang entah semenjak kapan berdiri didepan pintu kamarku.

“Mau apa ?”

Creeets… creetts… Kutumpahkan spermaku tepat ketika mata kami beradu. Mati aku… Baru kali ini aku kepergok sedang beronani, parahnya Bunda pasti mendengar desahanku barusan.

Buru-buru kukenakan celanaku kembali, tapi Bunda segera menghentikanku.

“Udah biarin aja, kenapa ? Kamu malu.” Kata Bunda, aku hanya tertunduk lesu.

Bunda duduk disampingku, menatapku tajam seolah sedang menghakimiku, lalu tiba-tiba dia menepuk pahaku sambil menghela nafas panjang, aku tau dia pasti kecewa denganku. Maafkan aku Bunda…

“Buda sangat mengerti di usiamu saat ini sedang dalam fase mencari jati diri, tapi kenapa harus Bunda Dek ? Aku ini Ibu kandungmu, Bunda sangat kecewa, mungkin selama ini Bunda salah mendidikmu.” Entalah, apa yang kurasakan saat ini sangat sulit di tebak, di sisi lain aku merasa sangat malu dan bersalah, tapi di sisi lain aku merasa legah, setidaknya Bunda tau apa yang kurasakan kepadanya saat ini.

Kuberanikan diri untuk menggenggam tangannya, melihat tidak ada reaksi darinya, kusandarkan kepalaku dipundaknya.

“Maafin Adek Bunda, tapi… ”

“Kamu suka Bunda ?” Potongnya, aku mengangguk lemah. “Apa yang kamu suka dari Bunda ? Kamu juga taukan Bunda sudah tua, tubuh Bunda sudah tak sebagus dulu.”

“Tapi bagi Adek Bunda tetaplah wanita yang paling sempurna, Bunda cantik, tubuh Bunda masih bagus.” Kataku berusaha jujur.

“Dasaaar gombal, emang apanya yang bagus ?” Ujar Bunda sambil mengucek-ngucek rambutku, ketegangan yang terjadi diantara kami berdua perlahan mulai mencair.

Kuangkat kepalaku, lalu dengan perlahan aku menarik kedua pundak Bunda agar kami bisa saling berhadapan. Ya… usiaku saat ini memang tidak bisa di bilang dewasa, tapi bagaimanapun juga aku seorang pria, aku memiliki naluri itu terlepas berapapun usiaku saat ini.

Perlahan kuangkat dagu Bunda, lalu dengan lembut kukecup bibirnya.

“Hmmpp… ” Bunda merintih ketika lidaku menyelusup kedalam mulutnya, lalu dengan gerakan perlahan aku mengulum lida Bunda.

Melihat tidak ada penolakan dari Bunda, kuberanikan diriku untuk menyentuh payudarahnya, kuremas pelan tapi kasar, membuat tubuh Bunda meresponya dengan gerakan menggelinjang.

Segera kulepas pagutannya, lalu kembali kepandangi matanya. Tak tahan Bunda menunduk malu.

“Maafin Adek Bunda, tapi… Adek sangat sayang Bunda, Adek tau Bunda kesepian, biarkan Adek yang menggantikan posisi Ayah saat ini.” Kataku berterus terang, lalu tanpa meminta izin aku membuka kancing gaun tidurnya.

“Hentikaaaan, ingat sayang ini tidak benar.” Bunda berusaha mendorongku, tapi aku berhasil menangkap tubuhnya, lalu dengan gerakan cepat kurebakan tubuhnya.

“Hhhmmpp… ” Kulumat kembali bibirnya.

Setelah berhasil membuka kancing gaun tidurnya, kususupkan tanganku, masuk melewati bra yang dikenakan Bunda, lalu dengan gerakan kasar aku kembali meremas dadanya yang montok.

Tetek Bunda rasanya begitu empuk, ukurannya yang besar memang sedikit menyulitkanku, tapi aku tidak mau menyerah.

“Bunda… Adek sayang Bunda.” Bisikku, kemudian kukulum daun telinganya.

“Aahkk… Ka… kamu sudah gila sayang, lepaskan Bunda.” Rengek Bundaku, sambil berusaha mendorong pundakku.

Dengan gerakan cepat aku melucuti gaunnya, sehingga kini ia hanya mengenakan pakaian dalam yang melekat ditubuhnya, dengan bersusah paya Bunda menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

“Bunda sangat menggairahkan.” Kataku dengan nada menggoda.

“Hentikan sayang… Kalau tidak Bunda akan sangat marah.” Katanya sembari berusaha menghindariku.

Entah setan apa yang telah merasukiku, keluguan dan sifat kekanak-kanakanku hilang sudah, saat ini dimataku Bunda bukanlah orang yang telah melahirkanku, melainkan sebagai mangsaku. Segera kubuka pakaianku hingga aku telanjang bulat

Mata Bunda terbelalak saat ia melihat burungku, aku yakin dia sudah lama tidak melihat kontol, mengingat Ayah sudah lama pergi, dan hingga sekarang belum ada tandanya kalau dia akan segera pulang

Aku merangkak naik keatas tempat tidurku, melihat wajah Bunda yang ketakutan bukannya kasihan aku malah semakin bernafsu.

“Bunda… aku mencintaimu.”

Kembali kulumat bibirnya, tapi kali ini aku tak mendapatkan perlawaban berarti, lalu ciumanku turun kearah gunung kembarnya, secara bergantian kuhisap puttingnya yang sangat menggemaskan itu, sementara tangan kananku bergerak turun membelai paha mulusnya, lalu dengan satu sentuhan aku memijat bibir memeknya yang ternyata sudah sangat basah.

Ciumankupun kembali turun, kini aku mulai menjilati perutnya, trus turun hingga lidahku menyentuh daging mungil yang sangat menggairahkan diantara dua lipatan kakinya.

“Aahkk… Apa yang kamu lakukan Dek ?” Erang Bunda sambil menjambak rambutku.

“Memek Bunda enak, lendirnya sangat banyak sekali, Bunda pasti sangat terangsang.” Kataku disela-sela menjilati memeknya.

“Saaayaaaang… Bunda mau sampai, Uuhkk… hisap yang itu sayang !”

“Yang mana Bunda ? yang ini ?” Kataku sembali memainkan ujung lidahku di clitorisnya.

“I… iya, hisap di situ… Ooo… Memek Bunda enak sayang, kamu pintar mainnya, Aahkk… Aaahkk… Seeerrrr…. seerrr… ” Tiba-tiba Tubuh Bunda tersentak, pinggangnya menelikung tajam, matanya terbelalak ketika kurasakan cairan kental keluar dari lubang kemaluannya.

Bunda orgasme….

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*