Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 8

Bundaku 8

Cerita Sebelumnya : Bundaku 7

Part 8

Rasanya lega juga setelah ikatan dan sumpalan di mulutku di lepas oleh mereka, aku masih memasang wajah cemberut didepan mereka, enak saja mereka memperlakukanku seperti hewan qurban, awas ya, nanti tak balas lebih sadis lagi.

“Cup… cup… cup… jangan ngambek dong Adekku yang ganteng, nanti gantengnya hilang loh.” Bujuk Kak Sifa, sambil memoncongkan bibirnya, huh jadi gemes ingin segera mencipoknya.

“Iya ni Adek, kan uda dikasi hadiah yang enak.” Timpal Kak Peni.

“Cuman segitu doang apa enaknya !”

“Eh ni anak ngelunjak, trus maunya kamu gimana, kamu mau… hmmm… ” Suara Kak Peni terputus ketika tiba-tiba saja aku memanggut bibirnya.

Mungkin mereka masih mengira kalau aku Aldi yang polos, hmm… mereka salah besar, aku sudah banyak belajar dari Kak Nurul, aku tau bagaimana cara mencium wanita, aku tau bagaimana cara membuat wanita terangsang, dan malam ini akan kubuat mereka merasakannya.

“Hihihi, hajar terus Al.” Ujar Kak Sifa memberi semangat.

Kutarik tubuh Kak Peni hingga jatuh kesampingku, lalu dengan gerakan cepat aku menindi tubuhnya. Rasakan ini, aku akan balas perbuatan kalian hehe…

Sambil melumat bibirnya, tanganku bergerak meraih payudarahnya, remasanku yang cukup kencang membuat Kak Peni mengaduh kesakitan, tapi aku yang sudah kesetanan tak perduli dengan rintihannya.

Segera ku loloskan dasternya, dan ternyata di balik dasternya Kak peni sudah tidak mengenakan pakaian, kulihat payudarah Kak Peni yang barukuran cukup kecil, besarnya tak lebih dari mangkok mie, tapi puttingnya cukup besar berwarna kecoklatan sama seperti milik Bunda.

“Aawww…. aduh ampun Dek.” Ceracau Kak Peni saat puttingnya kuhisap secara bergantian.

Puas bermain dengan payudarahnya, kini aku beralih keselangkangannya, satu kakinya ku angkat sehingga aku dapat melihat bibir vaginanya yang sudah berlendir. Segera kuciumi pahanya, lalu turun menuju bukit kecil yang berada di kedua pahanya.

“Aaahkk… Oohkk… Dek, memek Kakak kamu apaain ?” Gelinjangnya, sambil mengais apapun yang ada disekitarnya.

“Eehnm… memek Kakak enak ! Sluupss… slupss… ”

“Uuhkk… Adek, Kakak mau sampe !” Rintihnya, dan aku semakin menjadi-jadi.

Segera dengan jari telunjukku, kutusuk vaginanya, lalu dengan gerakan mencongkel kutarik dan kemudian kutusukan kembali jariku sambil menghisap dalam-dalam clitorisnya.

Pinggul Kak Peni mulai terangkat, tubuhnya mengejang, kedua betisnya bergetar hebat, lalu disusul semburuan air dari dalam vaginanya. Aku sempat takjub saat melihat banyaknya cairan yang keluar dari dalam vaginanya.

****

“Tanggung ni Dek, masukin sekalian ya.” Pintanya, sambil mengangkangkan kedua kakinya.

“Siap ya Kak, hehe… !” Kataku, lalu kuposisikan terpedoku tepat di lobang senggamanya. Perlahan aku mulai mendorong pinggulku, dan dengan satu kali hentakan kontolku terbenam didalam memeknya.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku maju mandur, sementara kedua tanganku bermain-main diatas payudarahnya, sengaja kusentil puttingnya dengan kedua jariku, membuat Kak Peni mendesah semakin kencang.

“Oohh… Kamu hebat Dek, Eehm… !” Rintih Kak Peni.

Lalu Kak Sifa yang tadi hanya melihat, kini ikut bergabung, dia menundukan wajahnya, lalu melumat bibir Kak Peni. Pemandangan yang ada di depanku membuat aku semakin bernafsu, mempercepat pompaan penisku kedalam memeknya.

“Kaak… Aahk… Aahk… Enaak Kak.” Ceracauku semakin gak jelas.

“Adeekk… Kakak mau sampe !”

“Bareng Kak… Adek juga mau keluarr…. ”

Kurasakan sesuatu yang mendesak di ujung kontolku, membuatku semakin bersemangat menghentak-hentak pinggulku lalu ketika aku hampir sampai tiba-tiba saja ‘Byyuuuurrr… ‘ Seseorang menyiramku dengan air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*