Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 7

Bundaku 7

Cerita Sebelumnya : Bundaku 6

Part 7

Sungguh aku sangat terkejut saat melihat Kak Sifa dan Kak Peni sedang menatapku sambil tertawa renyah. Huh, hampir saja aku jantungan akibat ulah mereka berdua, entah apa yang mereka inginkan sehingga sampe harus menculikku.

Aku duduk ditepian tempat tidur mereka, sambil memasang wajah jutek.

“Udah, gak usah cemberut gitu.” Kata Kak Sifa.

“Habis, Kakak si… gimana kalau Adek sampe jantungan ? Kakak mau tanggung jawab.” Kataku kesal, gara-gara mereka rasa kantukku hilang, pokoknya mereka harus bertanggung jawab.

“Maaf ya Dek !” Lalu Kak Peni langsung mengecup keningku sebagai ucapan permintaan maaf.

“Emangnya ada apa si Kak, kok sampe culik menculik segala, kan bisa ngomong baik-baik.” Protesku, karena aku masih tak terima dengan perlakuan mereka barusan.

Mereka saling berpandangan, lalu Kak Sifa dan Kak Peni duduk disampingku, mengapitku hingga aku berada di tenga diantara mereka berdua. Lalu Kak Peni dan Sifa tiba-tiba saja menarik tanganku kebelakang, kemudian dengan gerakan cepat mereka mengikat kedua tanganku.

Belum sempat aku berfikir, Kak Peni mendorongku hingga terlentang, lalu di bantu oleh Kak Sifa, Kak Peni menyumpal mulutku dengan kain. Oh tidak, kain itu ternyata celana dalam milik Kak Peni. Dengan sekuat tenaga aku berusaha memberontak, tapi ternyata tenagaku kalah kuat dari mereka, penderitaankupun semakin bertambah ketika Kak Sifa juga ikut melepas celana dalamnya, lalu dia memasangkan celana dalamnya keatas kepalaku.

Tidak… sepertinya mereka benar-benar ingin membunuhku.

“Hihihi… ini hukumannya udah berani ngintipin kita lagi main. Say… di foto dong.” Pinta Kak Peni, lalu Kak Sifa dengan camera hpnya, bersiap memfoto diriku dalam keadaan yang mengenaskan.

Setelah puas memfoto diriku, Kak Sifa mendekatiku lalu menunjukan foto memalukan itu kepadaku.

“Ini sebagai jaminan agar kamu gak ember, na… sebagai gantinya, Kakak akan kasih pertunjukan kayak kemarin didepan kamu.”

Eh… maksudnya apa ni ?

Tiba-tiba Kak Peni sudah merangkul tubuh Kak Sifa dari belakang, lalu Kak Sifa membalasnya dengan memutar kepalanya hingga wajah mereka saling berhadapan, dan kemudian bibir merekapun menyatu menjadi satu, aku dapat melihat lelehan air liurnya di ujung bibir mereka.

Puas berciuman, Kak Peni membantu membuka pakaian Kak Sifa hingga telanjang bulat, rambut Kak Sifa yang pangjangnya sampai kepunggung tergerai begitu indah.

Melihat pemandangan tersebut, membuat kontolku langsung berdiri tegak.

“Tu… adek kesayangan kamu sudah bangun.” Bisik Kak Peni, lalu dia mengulum mesra daun telinga Kak Sifa.

“Uuhkk… Geli say, Aahkk…. !”

Kak Peni membimbing Kak Sifa tiduran di sampingku, lalu tepat di depan wajahku Kak Peni menjamah payudarah Kak Sifa, lidahnya menari-nari bermain disekitar putting Kak Sifa, lalu dengan lihainya ia menyentil putting Kak Sifa yang memang sudah berdiri sejak tadi.

Tubuhku ditarik Kak Sifa hingga aku berlutuk disamping ranjang mereka, lalu dengan santainya Kak Peni membuka lebar kedua kaki Kak Sifa.

“Gimana sayang, kamu suka ?” Ucap Kak Peni kepadaku, dalam keadaan mulut tersumpal celana dalamnya tentu saja aku tidak bisa menjawabnya.

Tapi jujur saja, aku sangat suka melihat Kak Sifa yang sedang tak berdaya dalam kondisi mengangkang.

Rasanya air liurku mulai menetes dan aku mulai merasakan rasa asin yang di timbulkan celana dalam Kak Peni, dan mencium aroma celana dalam Kak Sifa, tapi hal tersebut mendatangkan sensasi yang membuatku semakin terangsang, dan menikmati ketidak berdayaanku.

“Ayo Peni jilat Memekku !” Pinta Kak Sifa.

Kembali Kak Peni melempar seyum kearahku, lalu dengan kedua jarinya dia membuka lipatan bibir memek Kak Sifa, sehingga aku dapat melihat bagian dalam memek Kak Sifa yang berwarna merah dan sedikit berlendir.

Didepan mataku, kulihat Kak Peni menjilati memek Kak Sifa, sementara kedua jarinya menusuk lobangnya, mengorek-ngorek lobangnya hingga mengeluarkan cairan yang lebih banyak lagi. Aku menggeser posisiku agar dapat melihat lebih jelas.

“Kamu suka kan say, memek kamu aku giniin sambil diliatin Adik kesayangan kamu. hihi…” Ujar Kak Peni, menggoda Kak Sifa.

“Aahkk… Adeekk… tolong Kakak Dek, memek Kaka di tusuk ni Dek… Aahkk…. Ahkk… ”

Huff… baru aku sadari, termyata kehadiranku diantara mereka hanya di jadikan pelengkap imaginasi mereka. Ada perasaan bangga karena namaku di masukan sebagai skenario permainan mereka.

Sluupss…. sluuppss… slupps…

“Aahkk…. aahkk….ahkk… Kakak sampe Dek, Ooo… ” Tiba-tiba saja tubuh Kak Sifa melejang-ejang, matanya merem melek, lalu dengan cara tiba-tiba juga tubuhnya mendadak lemas.

***-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*