Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 6

Bundaku 6

Cerita Sebelumnya : Bundaku 5

Part 6

Saat aku terbangun, aku tak lagi mendapatkan Kak Nurul di sampingku, kemana dia pergi ? apa jangan-jangan aku sedang bermimpi ? Ah, tidak mungkin, aku masih bisa merasakan nikmatnya hubungan sex kami tadi siang. Kusingkirkan selimutku dari atas tubuhku, meninggalkan tubuhku yang telanjang bulat.

Aku berdiri, lalu mengenakan kembali celana kolorku. Aku sempat berkaca sebentar sebelum membuka jendela kamarku, saat jendela itu terbuka, beberapa bidadariku sudah siap menyambut kedatanganku hehe.

Kulihat Kak Vera sedang duduk dikursi plastik, hanya mengenakan kain dan kerudung kaos, sementara Kak Liza sedari tadi mondar mandir sambil memegang kitab kecil di tangannya, sepertinya dia sedang sibuk menghafal, selain mereka berdua ada juga Kak Peni dan Sifa yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, sepertinya mereka habis mandi berdua, sementara Kak Santi baru saja masuk kedalam kamar mandi menggantikan posisi mereka berdua. Lalu dimana Kak Nurul ? Aku mencoba mencari sosoknya tapi tak dapat kutemukan, mungkin ia masih tidur dikamarnya.

“Sore Dek, baru bangun ya !” Sapa Kak Vera, membuatku kini mengalihkan pandangan kearahnya.

“Iya Kak, habis capek pulang sekolah.” Jawabku sembari menyunggingkan seyum di bibirku.

“Gimana Dek di sekolahnya tadi ? Ada pr gak ?” Tanya Kak Vera yang memang slalu perhatian kepadaku. Aku mengangguk sambil memasang wajah memelas.

“Kenapa Dek, kok mukanya di tekuk gitu.”

“Prnya banyak Kak, pusing !” Jawabku.

“Ya sudah, nanti habis magrib kamu kekamar Kakak ya, biar Kakak bantu ngerjainnya.” Perkataannya membuatku kembali terseyum lebar, setidaknya aku tak perlu lagi pusing memikirkan prku.

“Oke de Kak, aku mandi dulu ya.” Tutupku, lalu aku buru-buru mengambil handuk dan keluar kamar.

Sambil bersiul girang aku melewati kamar Bunda, lalu menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, aku segera membuka pintunya, tanpa menyadari kalau didalamnya sedang ada orang.

“Adek… tutup pintunya.” Perintah Bunda, tapi aku masih berdiri mematung melihat Bunda yang sedang duduk diatas kloset.

Kulihat Bunda yang sedang duduk diatas closet dengan keadaan celana yang tergeletak diujung kakinya, itu artinya di bagian bawahnya Bunda tak mengenakan apapun. Mataku tak berkedip memandang paha mulus milik Bunda, lalu bergeser menuju sebuah bukit yang tertutup ribuan rambut hitam diatasnya.

Tak lama kemudian aku mendengar suara yang audah tak asing lagi. ‘Serrrr… seeerr… ‘ Ternyata Bunda sedang pipis.

“Adek… hayo lagi liatin apa ?” Tegur Bunda buru-buru aku mengalihkan pandanganku kearah yang lain.

“Maaf Bun, iya Adek keluar.” Kataku, buru-buru keluar dari kamar mandi, lalu menutup kembali pintunya. Sepintas aku sempat melihat Bunda yang sedang terseyum.

***

“Adeek… hayo makan dulu.”

“Iya Bunda sebentar !” Pekikku dari dalam kamar.

Sreekk… kudorong pintu kamarku, lalu aku berjalan santai kearah Bunda yang sedang menyiapkan makan malam kami. Lalu seperti biasanya aku duduk dengan manis sambil menunggu Bunda selesai menghidangkan makan malam kami.

Selesai makan malam, Bunda segera membereskan meja makan, sementara aku memilih duduk bersantai di depan tv sambil menonton.

Sekitar pukul 8 malam, barulah aku menuju kamar Kak Vera, seperti janjinya yang akan membantuku mengerjakan pr malam ini, entah kenapa aku jadi tak sabaran.

“Bunda, adek kebelakang dulu ya, ngerjain pr.” Kataku setengah berteriak.

****

Kukira malam ini aku bisa berduan saja dengan Kak Vera, ternyata tidak, mereka semua para bidadari berkumpul dikamar Kak Vera kecuali Kak Nurul. Dan hebatnya lagi malam ini mereka kompak mengenakan daster, walaupun daster yang mereka kenakan sangat sopan, karena bagaimanapun juga mereka seorang santri.

Segera aku masuk kedalam kamar Kak Vera, lalu duduk disampingnya, sementara itu, dua sejoli Kak Peni dan Kak Sifa duduk diatas ranjang sambil membaca buku, sedangkan Kak Liza duduk didekat pintu, dan Kak Santi sedang tiduran tengkurep tak jauh dari posisiku.

Entalah malam ini aku bisa belajar atau tidak, melihat potensi gangguan yang cukup besar.

Aku mulai membuka buku pelajaranku, lalu tak lama berselang aku mulai bertanya kepada Kak Vera.

“Ini gimana Kak ? gak ngerti maksudnya.” Kataku sambil menunjuk salah satu soal. Kak Vera segera mendekat, ia tampak serius memandangi bukuku. Dengan jarak yang begitu dekat aku dapat melihat wajah Kak Vera yang begitu cantik, wajar saja kalau banyak suka kepadanya.

“Ooo… ini maksudnya gini… bla… bla… ” Kak Vera menjelaskan apa yang tidak kumengerti, sementara aku hanya mangguk-mangguk tanpa melepas pandanganku ke wajahnya Kak Vera, walaupun aku sendiri sebenarnya masih tak paham dengan penjelasan Kak Vera.

“Oo… gitu Kak.” Kataku, mengakhiri penjelasannya.

Aku mencoba menjawab sesuai dengan penjelasannya, sambil sesekali melirik kearah Kak Peni dan Kak Sifa, entah kenapa setiap melihat mereka aku kembali teringat dengan permainan panas mereka tempo hari.

Merasa diperhatikan, Kak Sifa menyikut Kak Peni lalu mereka berbisik sambil memandangku, lalu sedetik kemudian, mereka berdua kompak mengakat salah satu kaki mereka, lalu dengan cara perlahan mereka menarik daster mereka, hingga aku dapat melihat paha mulus mereka plus celana dalam yang mereka kenakan.

Akibat ulahnya mereka, tubuhku jadi panas dingin, keringat mulai bercucuran dari keningku, padahal cuaca malam ini begitu dingin.

“Kamu kenapa Dek ? sakit ya ?” Tanya Kak Vera yang tampak khawatir melihat wajahku yang pucat pasi.

“Eeh, gak kok Kak, cuman stres aja mikirin soal ini.” Kataku beralasan. Duh… Kak Vera cantik sekali saat ia sedang terseyum, giginya yang putih tertata begitu rapi.

“Ya sudah, prnya nanti biar Kakak yang ngerjain, besok pagi kamu ambil, sekarang kamu istirahat aja, tiduran dipangkuan Kakak ya !” Aku sedikit terkejut saat ia menarikku, lalu merebakan kepalaku diatas pangkuannya.

Lalu Kak Vera kembali sibuk membaca bukunya tanpa memperhatikan wajahku yang tampak begitu menikmati keempukan pahanya.

Mataku kembali kuarahkan kedua sejoli yang tadi menggodaku, kini mereka ikut tenggelam dengan bacaan mereka, sehingga aku semakin leluasa memandangi selangkangan mereka yang terbalut kain berwarna putih. Hmm… mereka berdua memang sangat kompak.

Tak lama kemudian, aku mulai diserang rasa kantuk, satu persatu dari mereka mulai meninggalkan kamar.

“Kak, aku pulang ya.”

“Udah ngantuk ya ?” Aku mengangguk sambil mengucek mataku. “Ya sudah, besok pagi sebelum berangkat kesekolah kamu kekamar Kakak dulu ya.” Katanya sambil terseyum kepadaku.

“Iya Kak… aku bobo duluan ya Kak.”

“Mimpi indah ya sayang… ” Katanya, sebelum aku melangkah keluar dari kamarnya.

Dengan langkah tertatitati aku berjalan menahan rasa kantuk yang menyerangku, tapi saat aku ingin berbelok menuju pintu utama rumahku, tiba-tiba saja tubuhku ditarik oleh seseorang, mulutku dibekap membuatku tak bisa bergerak.

Oh tidak… apa aku sedang di culik ? Aku hanya bisa pasrah ketika orang tersebut menyeret tubuhku.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*