Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 5

Bundaku 5

Cerita Sebelumnya : Bundaku 4

Part 5

Aku tercengang, dengan mata melotot memandangi sesosok bidadari yang kini nyaris toples, hanya menyisakan kerudungnya saja. Untuk kedua kalinya, aku melihat Kak Nurul nyaris telanjang.

Kuperhatikan secara detail tubuh Kak Nurul, dari ujung kerudungnya hingga ujung kukunya. Tubuh Kak Nurul memang tak seramping tubuh yang lainnya, tapi menurutku itu sama sekali tidak mengurangi keindahan tubuhnya, karena ia terlihat begitu montok seperti Bunda.

Tetek Kak Nurul ukurannya juga lebih besar kalau di bandingkan yang lainnya, walaupun kulitnya tidak begitu putih, tapi tidak menghilangkan kesan kemulusan tubuhnya. Mataku mulai menelusuri bagian bawah perutnya, kulihat rambut-rambut hitam yang tertata begitu rapi, menamba keindahan bukit kecil yang menjanjikan surga duniawi. Glek… sungguh tubuh yang ada didepanku ini sangat menggoda keimananku.

Burungku kembali mengeras, memberontak meminta jatahnya. Sabar…. ada waktunya nanti kamu harus keluar, kataku berusaha menenangkan si junior.

“Kok Kakak di anggurin ?” Pancingnya. Aku hanya diam menunggu reaksi dari Kak Nurul.

Mungkin karena kesal, dia berjalan mendekatiku, lalu duduk di sampingku. Sambil terseyum, ia memegang tanganku yang gemetaran, lalu ia letakan di atas dadanya yang terasa begitu kenyal diatas kukit tanganku, lalu ia memberi sedikit gerakan agar aku meremas teteknya.

Kak Nurul menarik leherku, sedikit menunduk lalu melumat bibirku. Oh tuhan, bibir Kak Nurul begitu lembut, lidanya menari-nari membelit bibirku.

Perlahan instingku sebagai seorang pria mulai membalas perlakuan Kak Nurul, selain meremas kini aku juga memainkan putting susunya, membuatku dapat mendengar desahan dari ujung bibirnya, Kak Nurul melepas ciumannya, lalu kembali menatapku.

“Udah gak takut lagi ?” Tanyanya, sambil mengusap rambut ikalku.

“Eh… hmmm…. ” Aku menggeleng, lalu entah kekuatan dari mana aku mendorong tubuh Kak Nurul, lalu merebahkannya keatas kasur.

Diatas ranjang kami kembali bergumul, tubuhnya kutindi, bibirnya kembali kulumat, sementara tanganku bergerak liar meremas payudarahnya.

“Aahkkk…. Enak, geli Dek.” Pintanya, saat aku mengalikan ciumanku dilehernya.

“Adek suka bauk Kakak, harum… sangat menggoda.” Bisikku, lalu ciumanku kuarahkan kesalah satu payudarahnya. “Kak, Adek boleh nenen gak ?” Tanyaku, sambil memainkan puttingnya.

“Uugkkk… boleh sayang, sini nenen sama teteknya Kakak.” Jawab Kak Nurul sambil memegang kepalaku untuk diarahkan kesalah satu teteknya.

Sesampainya di gunung kembar, mulutku langsung mencomot.puttinya, menghisap liar puttingnya. Sementara tanganku yang satunya masih sibuk meremas payudarahnya.

Tiba-tiba kurasakan tangan Kak Nurul menggapai kontolku, lalu dia meremas-remasnya dengan lembut. Sepertinya Kak Nurul tidak mau kalah dariku.

Segera kulumat payudarahnya yang lain secara bergantian hingga aku merasa bosan.

“Yang ini belom Dek ?” Ujar Kak Nurul sambil menunjuk selangkangannya.

“Yang mana Kak ? Adek gak ngerti.” Kataku balas menggodanya.

“Kamu nakal sayang, ini loh… memek Kakak belum kamu sentuh.” Pintanya lagi dengan nada yang di buat semanja mungkin membuatku semakin gemes melihat tingkahnya.

Segera kubuka lipatan kedua kakinya, sehingga aku dapat melihat memek Kak Nurul dengan jarak yang begitu dekat, bahkan aku dapat mencium aroma memek Kak Nurul, yang membuatku semakin bernafsu.

“Jilatin memek Kakak sayang, rasanya gatal sekali.” Katanya sambil mengusap wajahku.

Segera kuturuti permintannya, wajahku kubenamkan keselangkangannya, lidahku menari-nari di bibir vaginanya, lalu tak sengaja lidahku menyentuh daging kecil diantara lipatan bibir vaginanya. Entah apa yang mendorongku untuk.menghisap daging itu.

“Aaawww…. Yeaah…. Enak Dek ! Oohkk… kamu pinter sayang.” Puji Kak Nurul, tubuhnya mengulet, membuatku kesulitan menggapai clitorisnya.

Melihat Kak Nurul yang semakin bernafsu, aku semakin gila mengerjai memeknya. Dengan kedua jariku, aku menusuk memeknya, lalu mengorek-ngorek bagian dalamnya, membuat Kak Nurul sepertinya semakin terangsang, melihat pantatnya yang begoyang hebat.

“Adeeek…. Kakak keluaaar.” Ia terpekik, pantatnya kembali terhempas kekasur.

***

Hampir lima menit lamanya kami terdiam, Kak Nurul tampak sedang mengatur nafasnya, sementara aku ? Aku sendiri bingung mau ngapain, karena ini adalah pengalaman pertama bagiku ngentot dengan seorang perempuan, jadi aku tak tau harus melakukan apa.

“Kamu hebat sayang… ” Pujinya, aku hanya terseyum mendengarnya.

“Hehe, makasi Kak, tapi habis ini kita ngapain ?” Tanyaku polos, Kak Nurul hanya terseyum, lalu ia duduk menghadapku.

“Dasar bego, ya ngentotlah, sini kamu tiduran, biar Kakak saja yang ngatur temponya.” Katanya, aku hanya menurut saja.

Aku tiduran terlentang, sementara Kak Nurul naik keatas selangkanganku, sebelum kontolku di masukan kedalam memeknya, Kak Nurul memijit sebentar kontolku, lalu ia menurunkan secara perlahan pantatnya, sambil mengarahkan kontolku kedalam lobang memeknya.

“Aaahkkkk… !” Aku melenguh tertahan, ketika inci demi inci kontolko di himpit oleh dinding memek Kak Nurul. Rasanya begitu hangat dan nikmat, seperti sedang di pijit-pijit.

“Kontol kamu keras banget Dek ! Eehmm… enak.” Gumam Kak Nurul sambil mulai menggerakan pinggulnya naik turun. Sementara aku hanya diam sambil memperhstikan wajahnya yang sedang nafsu berat.

Iseng aku meraih teteknya, lalu meremas-remas teteknya dengan kasar. Ternyata remasanku membuat Kak Nurul semakin bernafsu, dia semakin cepat menghentak pantatnya, membuat kontolku terasa ingin patah, aku berusaha mengingatkan Kak Nurul agar tidak terlalu kasar, tapi ia tidak perduli.

“Gilaaa… kontol kamu enak banger Dek, aahkk… aahkk… nikmat dek Oo…” Rintihnya.

Entah kenapa mendengar desahannya aku jadi ikut bersemangat, dan mulai ikut menggerakan pinggulku secara naluri. Genjotanku ternyata membuatnya semakin blingsatan, kepalanya bergerak liar tak beraturan.

“Ternyata ngentot itu enak ya Kak ! Huhu… memek Kakak sedap banget.” Ceracauku.

“Terus tusuk sayang, Kakak hampir sampaaai…. Aaahkk…. Kakak sampe sayang, Kakak keluar !” Lolongannya begitu panjang, kepala mengada keatas, lalu tubuhnya yang bermandikan keringat jatuh kesamping tubuhku.

Sebenarnya aku merasa kasihan melihat Kak Nurul yang sedang kelelahan, tapi aku belum merasa puas. Segera kutindi tubuhnya, lalu dengan secara naluri aku melesatkan kontolku kedalam memeknya.

Kugenjot ia dengan cepat, hingga aku mulai merasakan sebentar lagi aku akan mendapatkan puncaknya.

Segera kuraih kedua payudarahnya sebagai tumpuan, agar genjotanku semakin cepat. Tak lama kemudian, di ujung kontolku terasa bergetar hebat, lalu dengan satu kali sentakan, aku menumpakan seluruh spermaku kedalam rahim Kak Nurul.

“Kakak… aku keluar !”

Croottss,… crooott… croots…

Selamat tinggal perjakaku….

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*