Home » Cerita Seks Mama Anak » BUndaku 4

BUndaku 4

Cerita Sebelunya : Bundaku 3

Part 4

Malam ini adalah malam terindah yang perna kulalui, sekalipun aku tak perna membayangkan bisa merasakan nikmatnya mulut Kak Nurul, ya walaupun hanya mulutnya, tapi aku merasa sangat puas, bayangan wajahnya di balik kerudungnya membuat gairah mudaku kembali bergelora.

Segera kubuka celanaku, lalu dengan perlahan tanganku bergerak mengocok kontolku sambil membayangkan tubuh molek Kak Nurul.

“Ooo… Kak Nurul !” Desahku pelan.

****

Seperti biasanya, aku bangun lebih awal, saat aku keluar kamar aku tak mendapatkan Bunda diruang keluarga, apa mungkin Bunda masi tidur ? Lebi baik aku susul Bunda kekamarnya.

Kreeek… dengan perlahan aku membuka pintu kamar Bunda, dan benar saja kulihat Bunda sedang meringkuk didalam selimutnya.

Segera aku berjalan mendekatinya dan hendak membangunkannya, tapi saat melihat wajah Bunda aku kembali teringat permainanku semalam dengan Kak Nurul, bayangan-bayangan Kak Nurul yang sedang memainkan kontolku, membuat nafsuku kembali naik.

Sadar Al… sadar, ingat dia Ibumu ! Huh…

Perlahan kubuka selimut tebal milik Bunda, dan lagi-lagi pemandangan di depanku membuat kontolku mengeras di balik celanaku. Cukup lama aku memandangi rubuh Bunda yang di balut gaun tidur yang semi transparan, puttingnya yang kecoklatan tampak menjiblak, paha mulusnya hingga celana dalamnya dapat kulihat dengan sebebas-bebasnya.

Entalah tiba-tiba saja aku jadi ragu ingin membangunkannya. Perlahan kuusap wajah Bunda yang masih begitu cantik, lalu kutundukan tubuhku, menciumi sekujur wajahnya, dari keningnya, hingga kebibirnya.

“Ehhmmm… ” Segera kuangkat wajahku, saat Bunda menggeliat, tidurnya tampak terganggu oleh ciumanku barusan.

Melihatnya yang kembali terlelap, aku mencoba untuk kembali mengerjainya, tapi kali ini aku fokus terhadap payudarahnya yang besar.

“Bunda… Aldi nenen bentar ya ?” Bisikku pelan, tentu saja agar dia tidak mendengarnya.

Lalu dengan perlahan aku menurunkan salah satu tali gaunnya, hingga sebelah payudarahnya menyembul keluar. Saat ini perasaanku menjadi tak menentu, antara terangsang dan merasa bersalah karena telah bebuat tidak senonoh terhadap Ibuku sendiri.

Tapi yang namanya nafsu, tidak ada kata kompromi, segera aku berjongkok didepan Bunda, lalu dengan sigap aku mengulum payudarahnya, puttingya yang besar kuhisap lembut, sementara tangan kiriku menjamah paha mulus Bundaku.

“Eehkk… Ssttt… ” Kulihat Bunda mulai gelisah, aku tau mungkin saat ini ia sedang terangsang.

“Enak ya Bun, memeknya biar aku pijitin ya Bun, biar makin enak ?” Tentu saja dia tidak akan menjawab pertanyaanku, karena saat ini ia sedang menikmati mimpinya.

Tanganku mulai kupindahkan keatas memeknya yang masih di balut celana dalam, aku dapat merasakan kalau dibawah sana sudah amat basah, oleh lendir yang keluar dari dalam memeknya. Tubuh Bunda mulai bergerak tak beraturan, dari bibirnya terdengar suara rintihan-rintihan yang terdengar sangat menggairahkan.

Hampir selama setenga jam aku mengulum payudarah Bunda, dan selama itu juga aku mengocok kontolku, tak lama kemudian aku merasa ada sesuatu yang ingin muntah dari ujung kepala kontolku, buru-buru aku berdiri lalu kuarahkan kontolku kearah wajahnya.

“Bundaaa… anakmu keluar ” Desahku pelan sambil memuntahkan spermaku kewajahnya.

***

Hari ini di sekolah tidak ada yang baru, belajar, belajar dan belajar. Sepulang sekolah seperti biasanya aku mengantar Putri terlebih dahulu, setelah itu aku baru pulang kerumah.

Untuk kejadian tadi subuh, jujur saja aku merasa sangat khawatir, karena tadi pagi aku tidak sempat membersihkan sperma di wajah Bunda, tapi untunglah, Bunda sepertinya tidak sadar kalau tadi pagi anaknya baru saja berbuat yang tidak senono kepadanya.

Sesampai di rumah, kulihat Bunda belum pulang, itu artinya tidak akan ada makan siang.

Tok… tok… tok…

Kudengar dari.luar ada orang yang sedang mengetuk pintu, buru-buru aku kedepan dan membukakan pintu, dan ternyata yang datang adalah Kak Nurul.

Kulihat Kak Nurul berdiri didepan pintu lengkap dengan seragam sekolahnya putih hijau, ia terseyum sambil membawa kantong kresek di tangannya.

“Kok bengong, Kakak gak di bolehin masuk ni ?” Katanya, sedikit menyindirku.

“Eh, maaf Kak… ayo masuk Kak !”

Kak Nurul segera masuk, lalu duduk di atas sofa, sementara aku memilih posisi duduk didepan, tapi Kak Nurul langsung protes.

“Kok duduknya jauhan, sini deketan.” Ajaknya.

Aku segera pindah tempat duduk, kini aku duduk di sampingnya, dari jarak yang begitu dekat, aku dapat mencium aroma tubuhnya yang menggoda.

“Tadi Umi pesan, katanya dia lagi ada rapat, Kakak di suruh nganterin ini untuk kamu, biar anaknya yang ganteng ini gak kelapara hihihi !” Katanya panjang lebar, sambil menyerahkan bungkusan yang ternyata berisi makan siangku.

“Iya Kak, makasi ya.”

“Etss… cuman itu aja ?” Katany sambil mencengkram erat lenganku.

“Terus, harus gimana ?” Tanyaku bingung, lalu dia terseyum, seyuman yang sama seperti semalam, membuat tubuhku merinding.

“Yuk kekamar kamu.” Ajaknya, lebih tepatnya dia memaksaku.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*