Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 3

Bundaku 3

Cerita Sebelumnya : Bundaku 2

Part 3

Seperti biasanya, setiap malam jum’ad Bunda selalu mengumpulkan seluruh penghuni kos, tujuannya untuk mendengarkan curhatan mereka, dan mempererat hubungan silaturahmi.

Tapi tidak seperti biasanya malam ini aku tak begitu mendengar nasehat-nasehat Bunda, yang selalu ia sampaikan sebagai salam pembuka.

Bayangan-bayangan tadi sore membuatku tak begitu bersemangat mengikuti pertemuan malam ini, apa lagi kulihat diantara keenam gadis yang sedang duduk bersimpuh ada satu orang yang sering melirikku sambil terseyum licik.

“Maaf Umi, aku kekamar sebentar ya !” Katanya, lalu ia berdiri hendak kembali kekamarnya.

“Jangan lama-lama ya, kamu belum menyetor hapalan kamu minggu ini.” Ujar Umi mengingatkan Kak Nurul yang hendak meninggalkan forum.

“Iya Umi.” Jawabnya singkat. Lalu sebelum dia meninggalkan ruangan, Kak Nurul sempat memberi kode untuk segera mengikutinya.

Mendadak aku tertunduk lesu, mengingat kembali janjiku kepadanya tadi siang. Iya, aku berjanji akan menuruti semua kemuannya asal perbuatanku yang mengintip Kak Peni dan Kak Sifa tidak di adukan ke Bunda.

Setelah lima menit berlalu, aku kembali kekamarku, lalu dengan perasaan was-was aku melompati jendela kamar, dan berjalan mengendap-endap kekamarnya Kak Nurul, dengan perlahan aku mengetuk kamar Kak Nurul sambil menunggu jawabannya.

“Masuk Dek !” Katanya, aku segera membuka kamarnya.

Kulihat Kak Nurul sedang duduk ditepian tempat tidurnya, seperti biasanya dia terseyum sambil menatapku tajam, aku yakin ada sesuatu di balik seyum manisnya. Ah… seandainya saja aksi tadi siang tidak ketahuan, mungkin kondisi saat ini sangat menyenangkan untukku, berdua dengan Kak Nurul didalam kamar.

“Kunci pintunya.” Katanya terdengar seperti sebuah perintah. Segera kukunci pintu kamarnya. “Sekarang buka seluruh pakaian kamu !”

“Eh…” Aku bengong sesaat.

“Kenapa ? Bukannya kamu sering ngintipin Kakak telanjang, emang kamu pikir Kakak gak tau kalau kamu suka ngintip ? Semua penghuni kos juga tau kalau kamu suka mengintip.” Aku tertunduk lesu, saat ini wajahku mungkin sudah memerah karena malu, dari awal aku sudah merasa kalau mereka semua tau kalau aku suka ngintipin mereka.

“Hayo sekarang gantian Kakak yang melihat kamu telanjang, atau Kakak aduhin kamu sama Bunda, kalau kamu suka ngintipin kami.” Katanya dengan nada ancaman.

Dengan menahan rasa malu, aku terpaksa membuka satu persatu pakaianku, di mulai dari bajuku hingga aku bertelanjang bulat, sebisa mungkin aku menutupi burungku dengan kedua tanganku. Perlahan Kak Nurul mendekatiku lalu ia membimbingku keatas kasurnya.

“Berbaring.” Perintahnya dan aku menurutinya.

Setelah itu sungguh aku di buatnya terkejut, kulihat Kak Nurul mulai membuka satu persatu kancing piyamanya, hingga menampakan kedua pundaknya yang mulus dan payudarahnya yang berukuran 36b, ternyata Kak Nurul tak lagi mengenakan dalaman di balik pakaiannya. Tidak sampai disitu saja, Kak Nurul mulai menarik karet celananya dengan perlahan, di bawah sorotan lampu kamarnya, aku melihat Kak Nurul nyaris telanjang bulat, hanya menyisakan kerudungnya saja.

Cukup lama aku terdia memandangi vagina Kak Nurul yang di tumbuhi rambut-rambur hitam diatas permukaan vaginanya, pemandangan itu dengan cepat membakar darah mudaku.

“Kenapa, kok bengong ? Bukannya kamu sering melihat Kakak telanjang ?” Godanya, lalu berjalan mendekatiku.

Aku hanya diam membisu ketika Kak Nurul menyingkirkan kedua tanganku dari selangkanganku, burungku yang tadinya loyo, kini mendadak sekeras batu, Kak Nurul hanya tertawa melihat pergerakan burungku yang sedang naik turun.

“Uhhkkk…. Kak !” Aku melenguh pelan ketika ia membelai burungku, lalu mengocoknya dengan perlahan.

“Kenapa Dek ? Enak ya… ? hihi.” Katanya dengan nada yang sangat menggoda. Duh rasanya ingin sekali aku langsung menerkamnya, tapi aku takut kalau dia sedang mengetesku, atau sedang menjebakku.

“I… iya Kak, itunya Adek di apain si Kak ?” Tanyaku polos, membuat Kak Nurul semakin gemes melihatku.

“Itunya apa si Dek ? Kakak gak ngerti ?” Bisiknya lirih sambil memainkan kepala penisku, Uhk… rasanya gelia sekali.

“Itu Kak, burung… ”

“Maksuk kamu ini.” Katanya sambil memainkan penisku. “Ini namanya bukan burung dek tapi kontol, ngomong yang jelas dong.” Lanjutnya sambil memasang wajah jutek, tapi wajahnya itu tetap saja bikin aku mupeng.

Duh… membayangkan seorang wanita berkerudung sedang memainkan penisku saja sudah sangat terangsang, apa lagi sampe mengalami sendiri, rasanya nikmat sekali.

“Iya Kak, kontol adek diapain Kak, kok enak banget Kak.” Kataku terputus-putus sanking nikmatnya.

“Kakak lagi kocokin kontol kamu, enakan ? dari pada ngocok sendiri mendingan Kakak yang ngocokin Hihihi…” Tawanya renyah, lalu sedetik kemudian ia menciumi kepala kontolku.

Tubuhku menggeliat seperti orang kesetrum, rasanya geli-geli enak ketika lidanya menyapu kepala kontolku, tidak sampai di situ saja, dia mencucupnya, lalu melahap habis kontolku. Melihat caranya memainkan kontolku, aku yakin Kak Nurul sudah biasa mengulum kontol.

“Aahkkk… enaaak.. Kak… isap lebih dalaaam.” Pintaku, kini tanganku mulai berani menjambak kerudungnya yang berwarna coklat.

Perlahan aku mulai menggoyang pinggulku, menusuk mulut Kak Nurul yang terasa begitu nikmat, belum lagi jari-jarinya yang lentik bermain di kantung telurku, membuatku semakin melayang, dan aku merasa sebentar lagi aku mau keluar.

“Kak, aku mau keluar.” Rintihku.

“Kleruanin ajha dhek.” Ujarnya tak jelas.

“Aahk… aku keluar Kakakku yang cantik !” Gumamku sambil memuntahkan lahar panasku kedalam mulutnya, puas sekali rasanya bisa memuntahkan spermaku kedalam mulutnya.

Glek… Kak Nurul menelan spermaku, bahkan dia menjilati sisa sperma di ujung bibirnya.

“Kamu nakal ya Dek,berani ya pejuhin mulut Kakak hihi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*