Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 2

Bundaku 2

Cerita Sebelumnya : Bundaku 1

Sehabis sarapan, segera kupacu sepedaku menuju salah satu rumah sahabatku yang berada tidak jauh dariku, sesampainya, aku segera memarkir sepedaku.

“Assalamualaikum Umi… ” Sapaku, saat melihat Umi Salma, Ibunya sahbatku yang sedang menyiapkan sarapan pagi.

“Walaikum salam, ayo sarapan dulu Al ?”

“Makasi Umi, tadi di rumah sudah sarapan.” Jawabku dengan halus, lalu langsung menuju kamar sahabatku yang berada dilantai dua.

Tanpa permisi lagi aku langsung membuka kamarnya, dan ternyata Putri sedang mengenakan pakaian sekolahnya. Yups… Putri adalah sahabatku dari kecil, aku sudah terbiasa keluar masuk rumahnya, bahkan masuk kedalam kamarnya tanpa permisi seperti saat ini.

Orang tuaku dan orang tuanya Putri tak perna mempermasalahkan kedekatan kami yang menurut sebagian orang terlalu dekat, apa lagi memgingat jenis kelamin kami yang berbeda.

“Bentar ya Al.” Ujarnya sambil mengancingkan satu persatu kancing seragam sekolahnya.

Sementara itu mataku tak lepas memandangi bulatan dadanya yang tetutup bra merah muda yang menurutku berukuran 32b. Selesai mengancingkan bajunya, dia segera mengenakan kerudung putihnya.

“Ayo berangkat sekarang !”

“Yukkk… ” Jawabku sambil menggandeng tangannya.

***

Teng… teng… teng…

Ketika bel pulang berbunyi, kami segera berhamburan keluar kelas, sebagian dari mereka ada yang memilih untuk tetap berada disekolah, dan sebagian lagi ada yang langsung pulang kerumah atau pulang keasrama mereka masing-masing.

Oh iya, di tempat di sekolahku memang disediakan asrama bagi murid-murid luar kota, sehingga mereka tak perlu lagi mencari kos-kossan.

Aku sendiripun tidak langsung pulang, melainkan menunggu Putri di depan gerbang sekolah, memang kami berada di satu sekolah yang sama, tapi di sekolahku siswa putra dan putrinya di pisah. Tak lama berselang, kulihat Putri keluar dari gerbang sekolah bersama seorang sahabatnya yang bernama Ayu.

“Ayo Al pulang, laper ni… ” Katanya sambil menepuk pundakku.

“Lama banget si keluarnya.” Omelku kesal.

Cletaak… sebuah pukulan mendarat dikepalaku. “Gak usah bawel, buruan pulang.” Katanya setengah memberi perintah kepadaku.

Segera kupacu sepedaku dengan kecepatan maksimum, membuat Putri mencengkram pundakku semakin erat, tidak sampai disitu saja, terkadang aku sengaja menabrakan ban sepedaku keara polisi tidur yang menghalangi jalan sepedaku, membuatnya beberapa kali nyaris terjatuh.

“Pelan-pelan Al.” Rutuknya.

Tapi aku tak perduli, bahkan aku semakin cepat mengayuh sepedaku. Ini balasannya kalau berani menjitak kepalaku.

***

Sesampai dirumah, aku segera kekamarku tidak memperdulikan panggilan Bunda yang juga baru pulang dari mengajar, segera kulempar tasku ke atas tempat tidurku, lalu aku beranjak melompat dari jendela kamarku, lalu aku berjalan mengendap-endap kesalah satu kamar penghuni kos.

Kuputuskan siang ini untuk mengintip Kak Sifa dan Kak Peni. Dengan langkah menjinjit, aku mendekati jendela kamar mereka yang terbuka, lalu ku sibak sedikir hordeng kamarnya.

“Gimana hafalannya Pen ? tadi bisa gak ?” Tanya Kak Sifa sambil membuka kerudung putihnya, lalu kerudung itu ia lipat dan diletakan diatas lemarinya.

“Belum tuh say, masih mentok… ” Jawab Kak Peni.

“Bukannya kamu menghafal dari seminggu yang lalu ? Seharusnya sekarang kamu sudah hafal dong.” Ujar Kak Sifa yang sedang berusaha membuka satu persatu kancing seragam sekolahnya. Aku semakin tak sabar melihat Kak Sifa menanggalkan seluruh pakaiannya.

Tiba-tiba Kak Peni mendekat, lalu memeluk Kak Sifa dari belakang, dadanya yang cukup besar menempel erat di punggung Kak Sifa. Entah apa yang dibisikan Kak Sifa, sehingga Kak Peni tertawa renyah, lalu kemudian aku dibuat terkaget-kaget ketika Kak Peni membantu Kak Sifa melepas seragam sekolahnya, hingga aku dapat melihat tubuh bagian atas Kak Sifa yang hanya mengenakan Bra berwarna cream, sedikit ada renda di pinggiran cupnya.

Kak Sifa memutar tubuhnya hingga menghadap Kak Peni, lalu tiba-tiba saja Kak Sifa melumat bibir Kak Peni sambil saling membantu membuka pakaian mereka masing-masing.

Kini mereka berdua nyaris telanjang bulat, hanya menyisakan pakaian dalam saja.

“Entot aku say… ” Ujar Lirih Kak Sifa sambil menggandeng Kak Peni naik keatas kasur, lalu Kak Sifa berbaring sambil menatap sayu kearah Kak Peni.

Diatas kasur mereka kembali berciuman, tangan Kak Peni menyelusup masuk kedalam bra Kak Sifa. Kak Sifa mulai mendesah lirih ketika payudaranya di remas-remas oleh Kak Peni, bahkan aku dapat mendengar cukup jelas suara desahan mereka.

Kak Peni memindakan ciumannya keleher jenjang Kak Sifa, lalu turun menuju bukitnya. Aku dapat melihat cukup jelas saat mulut Kak Peni mencomot salah satu payudarah Kak Sifa, sementara yang satunya masih berada di dalam genggamannya.

“Sekarang aja say… Memekku sudah sangat basah ni.” Pinta Kak Sifa.

“Aku ambil dulu ya.” Ujar Kak Peni, lalu berdiri mengambil sesuatu di dalam lemarinya.

Apa itu dildo ? Aku sedikit terhenyak saat melihat benda yang dipegang oleh Kak Peni, benda itu seperti dildo pada umumnya, tapi bedanya dildo itu terpasang di bagian depan celana dalamnya. Kak Peni segera melepas celana dalamnya, lalu menggantinya dengan celana dalam dildo tersebut.

Kak Peni kembali mendekat, lalu ia berjongkok didepan selangkangan Kak Sifa. Dengan perlahan ia membuka celana dalam Kak Sifa, sehingga aku dapat melihat bibir vagina Kak Sifa yang berlendir.

Aku kembali dibuatnya terkheyak ketika Kak Peni menjilati bibir vagina Kak Sifa.

“Uuhkkk… Memek aku kamu apaan si say ? Aahkk… enak say… Aahk… Ahkk… ” Rintihan Kak Sifa terdengar semakin kencang.

“Ini hukuman buat pelacur seperti kamu say… !” Balas Kak Peni membuatku merinding mendengarnya.

“Yeeaa… Memek aku enak say, Kamuu jahaaatn…. aku sampe Say.” Kemudian Kak Sifa berteriak histeris, lalu di susul goyangan pantat Kak Sifa yang bergetar hebat, lalu beberapa detik kemudian tubuh Kak Sifa mendadak lemas seperti tak memiliki tulang.

Kak Peni sepertinya tidak ingin memberi kesempatan Kak Sifa untuk beristirahat sejenak, ia segera menindi tubuh Kak Sifa, aku melihat ujung kelala dildo itu menyentuh lipatan vagina Kak Sifa, sedetik kemudian, kepala dildo itu amblas kedalam tubuh Kak Sifa, seiring dengan teriakan Kak Sifa yang menggelegar.

“Aahkk…. Aahkk… Aku belum siap say !” Rintih Kak Sifa, tapi Kak Peni seperti orang yang sedang kesurupan, pinggulnya bergoyang maju mundur semakin cepat.

“Uuhkkk… Gimana sayang, rasanya enakkan ? Hihi… ” Tawa Kak Sifa.

Pemandangan yang ada didepanku ini sungguh sangat menakjubkan, baru kali ini aku menonton secara langsung persetubuhan antara sesama wanita, sungguh aku tidak menyangka kalau Kak Peni dan Kak Sifa penyuka sesama jenis.

Segera kubuka resliting celanaku, lalu dengan sedikit gerakan, kukeluarkan burungku dari sangkarnya. Dengan perlahan aku mulai mengocok penisku sambil melihat mereka berdua.

“Uuhkk… Enak Pen ! Aahkk… Tusuk lebih dalam sayang.” Pinta Kak Sifa yang kini sedang menungging. Entah semenjak kapan mereka berganti gaya, mungkin saat aku sedang sibuk membebaskan juniorku tadi.

Dari posisiku, aku dapat melihat jelas pantat Kak Peni yang sedang menyodok memek Kak Sifa dari belakang.

“Kita ganti gaya lagi ya… !” Pinta Kak Peni sambil mencabut dildonya dari dalam memek Kak Sifa.

“Duu… aku capek Pen.” Keluh Kak Sifa, aku tau Kak Sifa pasti sangat kelelahan kalau dilihat dari butiran-butiran keringat diwajahnya.

“Ayo dong sayang, aku belum puas ngegenjot memekmi itu.” Ujar Kak Peni sambil menarik tangan Kak Sifa agar segera menuruti keinginannya.

“Puas kamu ya siksa aku, awasnya nanti malam aku balas.” Rungut Kak Sifa, tapi ia menurut juga saat di minta untuk duduk di pangkuan Kak Peni yang sedang berbaring.

“Tapi kamu suka kan ?” Goda Kak Peni.

Kak Sifa duduk diatas selangkangan Kak Peni dengan posisi membelakanginya, itu artinya tubuh depan Kak Sifa berhadapan denganku. Entah kenapa aku jadi cemas, takut kalau nanti ia mengetahui keberadaanku, tapi rasa penasaran membuatku tetap bertahan di posisiku.

“Aahkk… kontolnya enak Pen ” Rintih Kak Sifa ketika ia menduduki dildonya.

Tak lama kemudian, tubuh Kak Peni bergerak naik turun diatas dildo tersebut. Sementara kedua tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara aku sendiri semakin sibuk memainkan burungku, mataku mendelik masih tak percaya melihat dua sosok bidadari cantik saat ini sedang melakukan perbuatan yang tidak senonoh, yang seharusnya tidak mereka lakukan, mengingat status mereka sebagai seorang Santri.

Tapi kenikmatin itu tiba-tiba saja terganggu, ketika seseorang menarik paksa tanganku agar menjauh dari tempatku mengintip. Saat aku berbalik, kulihat seorang wanita berusia 17 tahun lengkap dengan seragam sekolahnya menatapku sinis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*