Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 1

Bundaku 1

Cerita Sedarah Dengan Bunda  Berjudul : Bundaku

Namaku Aldi, saat ini aku masih duduk di bangku SMP kelas satu. Di rumah ini aku hanya tinggal berdua dengan Bundaku, karena Ayah sangat jarang dirumah, karena pekerjaannya sebagai seorang pelaut, memaksanya jarang pulang.

Jujur saja, tinggal berdua dengan Bunda terkadang sangat menyiksaku, apa lagi Bundaku ini sangat cantik dan seksi, untunglah selama ini aku slalu dibekali ajaran Agama yang cukup kuat hingga aku masih bisa mengontrol nafsuku.

Ngomong-ngomong soal nafsu, jujur aku sangat bernafsu setiap melihat Bundaku, di usianya yang ke37 tahun ia masih terlihat begitu cantik, bentuk tubuhnya masih seperti anak abg pada umumnya. Belum lagi, sehari-hari didalam rumah, dia selalu mengenakan pakaian yang menurutku terbilang seksi, dan tak jarang dia hanya mengenakan daster semi transparan, atau celana yang super pendek dan tank top di bagian atasnya. Sungguh tampilannya sangat berbeda ketika ia berada di luar rumah yang selalu mengenakan pakaian tertutup.

Sebagai pria yang normal tentu saja itu sangat menggangguku, apa lagi akhir-akhir ini aku sering bermimpi sedang menyetubuhinya.

****

Seperti biasanya, setiap pagi kami melakukan ibadah bersama, tentu saja aku sebagai imamnya. Setelah selesai beribadah, aku segera mengganti posisi dudukku menghadap kearahnya.

“Bu… bunda !” Kataku protes, karena saat aku ingin menyalaminya Bunda sudah melepas mukenanya.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan caranya melepas mukena, tapi masalahnya ialah di balik mukena itu Bunda hanya mengenakan hotspan hitam dan tanktop berwarna putih, sehingga aku dapat melihat langsung paha mulusnya dan belahan dadanya yang membusung.

Bunda hanya terseyum mendengar protesku, bahkan ia seperti sengaja ingin menggodaku.

“Kok bengong… ni salim dulu.” Katanya sambil menjulurkan tangannya, dengan malas aku segera mencium punggung tangannya.

Saat itu juga Bunda langsung mencium ubun-ubun kepalaku, sambil mengusap-usap rambut ikalku.

“Anak pintar, sini cium Bunda dulu.” Lanjutnya, sambil mulai menciumi kedua pipiku. Saat ia mendekatkan tubuhnya, aku dapat menghirup aroma tubuhnya yang begitu menggoda.

“Bunda, Aldi uda gede.” Kataku kembali protes, tapi seperti biasanya protesku tidak di gubris olehnya.

“Emangnya kenapa kalau uda gede ? Bunda gak boleh cium kamu lagi ya ?” Katanya, sambil mengubah posisi duduknya bersandar dengan kedua tangannya yang berada di belakangnya, hingga membuat payudarahnya yang besar semakin membusung.

Glek, tak sadar aku menelan air liurku sendiri saat mataku tertuju kearah belahan dadanya yang menggoda, entah sengaja atau tidak, saat Bunda menarik nafas dadanya ikut naik turun, membuat sarung yang kukenakan mendadak membentuk tenda dengan sendirinya.

Sadar Al… sadar, dia Ibumu, jangan berfikiran macem-macem deh. Buru-buru aku alikan padanganku kearah jam dinding, kulihat jam didinding sudah menunjukan pukul lima pagi.

“Bunda… Aldi bikin pr dulu ya, yang semalam belum selesai.” Kataku teringat dengan prku yang memang belum sempat aku selesaikan karena semalam keburu ngantuk.

“Ya sudah sana kerjakan.” Katanya sedikit judes, buru-buru aku beranjak kekamar.

***-

Entah ini anugrah apa musiba bagiku, dikediamanku yang sederhana ini, aku di kelilingi bidadari-bidadari yang cantik jelita. Oh ya aku belum memperkenalkan Bundaku, Bundaku bernama Erlina Dwi Sari, biasanya dia di panggil Ustadza Lina terkadang dia juga di panggil Umi, yups… Bunda memang mengajar di madrasa yang tidak jauh dari rumah kami, selain mengajar Bunda juga menjadikan halaman belakang rumah kami sebagai asrama putri, tepatnya bangunan asrama itu berada disamping kamarku, saat aku membuka jendela maka aku bisa langsung melihat asrama mereka yang hanya terdiri dari 3 kamar, setiap kamar di isi oleh dua orang.

Kamar pertama di isi oleh Kak Santi dan Kak Nurul, kamar kedua di isi sama Kak Liza dan Kak Vera, sementara kamar terakhir di isi oleh Kak Sifa dan Kak Peni, mereka semua adalah muridnya Bunda.

Selain mereka kami juga memiliki dua orang pembantu pria yang pekerjaan sehari-harinya membersikan halaman rumah kami, tapi mereka hanya datang di siang hari hingga sore hari.

***

“Aahkkk…. ” Akhirnya selesai juga prku.

Agar dapat menghirup udara segar, aku segera membuka jendela kamarku.

Deg… Untuk kedua kalinya pagi ini aku di suguhi pemandangan yang indah, kulihat Kak Liza sedang menjemur pakaiannya, sepertinya dia baru saja selesai mandi dan mencuci pakaiannya, karena kain yang ia kenakan masih tampak basah.

“Cowok, lagi ngapain ni ?” Tiba-tiba saja Kak Santi keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya yang cantik terseyum menggodaku. Huff… pagi-pagi sudah di beri cobaan seperti ini.

Oh iya, kamar mandi mereka memang terpisah dari kamar mereka, sehingga tak jarang aku melihat mereka masih memgenalan kain seadanya yang tampak basah plus kerudung yang dikenakan ala kadarnya.

“Habis mandi ya Kak ?” Kataku hanya sekedar berbasa-basi kepada mereka.

“Iya habis mandi wajib Hihihi…. ” Jawab Kak Liza sporadis, membuatku jadi salah tingkah. Emangnya habis ngapain Kak Liza hingga harus mandi wajib ? Duh… pikiran jorokku kembali menerawang jauh.

Bukannya kembali kekamarnya, Kak Santi malah ikut nimbrung disamping Kak Liza yang sedang menjemur pakaiannya sejenak, Kak Santi seperti sedang berbisik, entah apa yang mereka bicarakan, karena aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Tak lama kemudian, Kak Liza berjongkok sambil mengambil kain basah didalam baskom, lalu menyerahkan pakaian basah itu kepada Kak Santi.

Wajarkan kalau sesama penghuni asrama saling bantu membantu ? Tapi yang menjadi tidak wajar, Kak Liza berjongkok dengan kondisi kain yang terangkat hingga sebatas pahanya, sehingga aku dapat melihat betisnya yang putih mulus.

Aku semakin tidak tahan saat pandanganku kuarahkan kearah Kak Santi yang telah menyibakkan kerudungnya kebelakang, sehingga bagian atas dada dan lehernya terekpose didepanku.

“Dasar gadis-gadis mesum.” Keluhku dalam hati, tapi aku menikmati pertunjukan yang mereka berikan kepadaku.

Sebenarmya pertunjukan ini sudah biasa aku dapatkan dari mereka, dan aku cukup menikmatinya.

Segera kususupkan tangan kananku kedalam celana kolorku, lalu dengan perlahan aku mulai mengocok penisku sambil memandangi mereka.

“Kamu kenapa Dek ? Kok mukanya kayak keenakan gitu ?” Tanya Kak Liza yang tampak mulai curiga.

“Eeehk… anu gak kok Kak, ini lagi garuk-garuk, jadinya keenakan hehe !” Jawabku tanpa memindakan pandanganku dari paha mulus Kak Santi yang semakin lama semakin terbuka lebar.

“Hayo… lagi garuk apa tu ? Lagi garuk eheeem ya ? Hihi.” Tawa Kak Santi meledekku.

Kepalang tanggung pikirku, toh aku yakin mereka juga pasti tau apa yang sedang kulakukan saat ini, buktinya Kak Asanti sengaja membenarkan kainnya, lalu melilitkan kembali kainnya sedikit lebih renda sehingga aku dapat melihat belahan payudaranya yang kutaksir berukuran 34B, tidak terlalu besar tapi cukup menantang.

“Eheemm apa si Kak ? gak ngerti de ?” Pancingku.

“Huh… dasar pura-pura bego ? Hayo ngaku kamu lagi coli kan, sambil bayangin ininya Kakak.” Tiba-tiba Kak Liza menyingkap kainnya, hingga aku dapat melihat sekilas bayangan hitam diantara kedua pangkal pahanya yang mulus, tapi tak lama kemudian dia kembali menutup kainnya. Anjirrr…

“Ya… ” Desahku kecewa.

“Hihihi…. dasar, Adek mulai nakal ya sekarang, nanti tak aduhin loh sama Ustadza Lina.” Ancam Kak Santi, tapi aku tau dia hanya sedang menggertakku saja.

“Kakak aduhan ni ? Kan Kakak sendiri yang salah.” Keluhku sambil memasang wajah cemburut, mereka kembali cekikikan.

“Loh, salahnya Kakak di mana ?” Timpal Kak Liza.

“Itu… ” Aku menunjuk paha mulus Kak Liza dengan bibirku. “Sengaja banget ngeliatin pahanya, Adekkan uda gede Kak.” Kataku membela diri.

“Hihihi… ya uda de, nikmatin aja ya… ” Jawab Kak Liza sambil tertawa cekikikan.

Setelah itu mereka tak lagi memperdulikanku yang sibuk dengan fantasiku sendiri sambil menatap nanar terhadap mereka secara bergantian. Tapi ketika aku hampir saja menuntaskan hasratku, tiba-tiba saja pintu kamarku di buka seseorang.

“Aldi… Kamu ngapain ?” Kulihat Bunda tampak terkejut saat melihatku yang nyaris telanjang, celana kolor yang aku gunakan kutarik turun hingga sebatas lututku.

Buru-buru aku kembali mengenakan celana kolorku dengan benar, sambil menatap Bunda dengan tatapan memelas.

“Kamu ngintipin mereka lagi ya ?Duh… dasar anak mesum, berapa kali sih Bunda bilang jangn suka ngintip, ni sudah di bilangin masih aja ngintip.” Omel Bunda sambil menjewer kupingku.

“Ampun Bunda, janji gak lagi… ” Kataku sambil meringis menahan sakit di kupingku.

Bunda melepaskan tangannya dari kupingku, tapi matanya masih melotot kepadaku, menandakan kalau ia masih marah.

“Duhh, kuping Aldi bisa putus ni Bunda.!” Keluhku sambil mengusap-usap kupingku yang pastinya memerah.

“Biarin aja, habis dibilangin berapa kali tidak denger juga.” Omel Bunda, aku hanya diam tertunduk karna malu. “Ya sudah sana ganti baju, Bunda tunggu di ruang makan.” Lanjutnya, lalu ia pergi meninggalkanku

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*