Home » Cerita Seks Ayah Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 15 (Tamat)

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 15 (Tamat)

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 14

Cuaca mulai meredup, sang mentari pun telah berada di pintu masuk peraduannya, hari pun menjelang malam dihari Kamis ini, mereka, pak Damarto, Rani dan Rina telah sampai di halaman luas kediaman keluarga pak Damarto. Serta pak Suripman tengah memasukkan mobil masuk kedalam garasi yang berada jauh di sisi selatan dari area lahan kediaman pak Damarto sekeluarga yang luas ini.

Biasa… Rani mulai angkat bicara. “Ini rumah kediaman, apa… alun-alun yang luas! Gimana pendapatmu Rin…?”, kata Rani sambil akhirnya bertanya pendapat dari sahabat karibnya, Rina yang lagi limbung sambil membawa tasnya yang berisi pakaian dan bawaan lainnya, kelihatan sedikit linglung jalannya, maklum saja dia baru bangun dari tidurnya sejenak sehabis mereka keluar dari resto di mall terdekat.

Kaget sejenak dengan pertanyaan dari Rani barusan dan menjawabnya saja asal. “Iya… kali!”. Yang langsung diprotes oleh Rani yang kurang puas dengan jawaban singkat dari Rina.

“Mana ada kali… Rin!? Ini kan cukup terang, lihat… banyak lampu-lampu taman disana… dimana kali-nya? Jangan-jangan elo lagi tidur berdiri ya?”, kata Rani sambil menatap lekat pada bola mata indah temannya itu dengan seksama.

“He-he-he…!”, pak Damarto ikut-ikutan nimbrung dalam percakapan kedua ABG itu. “Maksudnya Rina adalah… barangkali! Bukannya kali atau sungai kecil… gitu lho Ran…!”.

Rina yang tahu dapat dukungan dari pak Damarto, langsung angkat bicara, “Tuuhh… dengerin penjelasan pak Damar… gimana sih elo Ran?!”.

“Besok pagi saja kalau sudah terang dengan sinar matahari pagi… kamu berdua berdiri ditengah taman bunga disitu pastilah disana ada… KALI…an disana…! He-he-he…!”, kata pak Damarto mengoda kedua ABG manis itu.

“Sudah aahhh… nggak mau ngomongin itu lagi!”, kata Rani rada keki tahu dia sedang dikerjain sama pak Damarto. “Eehh… jangan-jangan Neni sudah tidur… lagi! Kan kasihan dia, kalau dibangunkan… ‘tul nggak Rin?”, seperti biasanya selalu meminta pendapat dari Rina, sobat karibnya ini.

“Bener… setuju!”, jawab Rina singkat yang baru saja hilang rasa linglungnya.

Buru-buru pak Damarto menghubungi nomor BB-nya Neni. “Halo sayang…! Papa sudah ada di halaman rumah kita nih…! Bersama teman-teman geng SMP-mu dulu…! Rani dan Rina…!”.

Hanya berapa detik saja… terdengar sayup bunyi derap langkah-langkah kaki yang terburu-buru. <Klik…!> begitu terbuka… langsung Neni melompat dan bergayut di leher pak Damarto sambil tersedu bahagia… “Terimakasih papa! Inilah ‘Oleh-oleh’ yang paling membahagiakan Neni… yang pernah papa bawakan untuk Neni seorang…!”, sambil merebahkan kepalanya pada pundak ayahnya yang bidang… dengan manja.

***

Sambil membawa Neni bergayut di leher, pak Damarto mengajak Rani dan Rina yang kedua yang melangkah mepet, rupanya 3 ABG itu tengah asyik berbicara, dimana Neni sambil menaruh dagunya di pundak ayah angkat, katanya sambil berbisik pada teman-teman satu geng sewaktu SMP dulu. Rani dan Rina yang mendongakkan kepalanya keatas karena posisi Neni yang sekarang lebih tinggi. “Sssttt… jangan nangis dulu! Nanti diruang tengah saja… Malu ada cowok didekat kita!”.

Rani dan Rina serempak berbisik, “Mana cowoknya… Ren!”.

“Nih…”, bisik Neni pada teman-teman gengnya, sambil menunjuk dengan telunjuk tangan kirinya yang mungil, mengarah pada punggung ayah angkatnya yang bidang. “Masak sih segini gedenya… nggak kelihatannya…?!”.

“Oohhh… iya!”, jawab serempak Rani dan Rina dengan berbisik pula sembari menahan tawa cekikikan mereka.

Pak Damarto yang tahu dirinya diomongin, cuek saja… pura-pura tidak tahu dan mempercepat langkah kakinya. Sampai diruang tengah, dia menurunkan Neni dan berkata ketiga ABG itu, “Aku tinggal kalian disini ya… mau menemui bekas pacarku… dong!”.
Pak Damar buru-buru menuju kamar tidur utama, sempat didengarnya komentar Rani dan Rina.

“Iiih pak Damar lagi kangen berat tuh…! Hi-hi-hi…”.

Baru juga pak Damarto menutup kembali pintu kamar utama itu dari dalam… meledaklah tangisan bahagia dan haru… dari 3 ABG itu… membahana keras ke seantero ruangan tengah itu.

<Kriieeett…> bunyi suara pintu kamar Didit terdengar dibuka dengan segera oleh penghuninya. Didit yang melihat 3 ABG itu saling berangkulan disertai jerit bahagia dan cucuran airmata langsung berkata pelan, “Waduhh… ada ‘hujan lokal’ diruang tengah…!”. Buru-buru dia masuk lagi kedalam kamarnya dan keluar lagi dengan memegang kotak tissue lebar yang masih baru… segera mendekati 3 cewek ABG itu… dan menaruh kotak tissue itu diatas lantai sambil berkata pelan. “Nih adik-adik biar lantai tidak kebanjiran… he-he-he…!”.

Neni yang tahu kehadiran Didit didekat mereka, segera berkata pada Rani dan Rina, “Iihh… ada cowok nih! Yuk… teman-teman kekamarku saja… biar aman!”.

Segera 3 ABG satu geng itu menuju kamar Neni yang di pandu oleh pemilik kamarnya. Tinggal Didit sendiri yang lagi bengong berdiri mengawasi 3 ABG satu geng itu.

Ketika dilihatnya kotak tissue itu masih berada ditempat semula diatas lantai, buru-buru dia berteriak, “Hei.. neng geulis! Nih… tissue-nya ketinggalan!”.

Rani yang rada centil… mendengar teriakan Didit, segera berbalik badan untuk mengambil tissue ini. Dengan wajah manis masih basah oleh airmata bahagia segera memungut tissue itu sembari angkat bicara, “Hai cowok…! Kok ganteng sekali sih kamu… deh!”

Ketika mendengar perkataan ABG ini yang agak berani ini, dengan serta-merta Didit mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman kenal dengan ABG. Tapi Rani dengan sigap berbalik badan dengan tangan kanannya memegang kotak tissue itu berlari menyusul teman-temannya satu geng sambil berkata tanpa menengokkan kepala kebelakang. “Acara salam kenalnya… nanti atau besok aja deh…! Aku masih kangen berat nih dengan Neni, daagghhh… cowok ganteng!”.

Didit yang mendengar itu semua, mengangkat bahunya serta berkata pelan seakan berbicara dengan dirinya sendiri. “Dasar ABG ya… tetap ABG!”, dan melangkahkan kakinya menuju kamar tidur utama, membuka pintu itu dan masuk kedalam tanpa ragu-ragu setelah menutup kembali pintu kamar itu tanpa di kunci. Ketika dia membalikkan badannya, dilihatnya ayahnya tengah asyik melakukan FK mesra dengan kakak barunya, Naning yang kedua tangannya sedang bergayut di leher ayahnya yang kekar. Ayahnya berditi memunggunginya, dengan sangat jelas dia melihat tangan kanan ayah yang kekar sedang asyik meremas-remas mesra buahdada Naning yang montok dengan gairah yang begejolak.

Bu Ratna yang tengah duduk diatas tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya kebelakang pada bagian ‘kepala’ spring bed itu, ketika melihat Didit… langsung memanggil putera kandungnya itu, “Kesini sayang… naik keatas tempat tidur… temanin mama!”.

Pak Damarto yang berpaling tanpa terkejut, menyapa putera kandungnya itu, “Halo… jagoan! Apa kabar…? Berhubung papa lebih berat darimu, lagi pula kan… mama-mu lagi hamil muda… Tanggung jawab dong…! He-he-he… Ayoo… Naning mendingan kita kekamarmu saja… Daaaghhh Rat… aku tinggalkanmu sayang dengan jagoanku ini. Dit… kamu tidur disini saja meeemani mama… papa mau ‘berbincang-bincang’ sejenak dengan kakakmu Naning…”. Dengan menggandeng mesra pada pinggang ramping Naning, mereka berdua melangkah keluar kamar tidur kamar utama.

Sempat pak Damarto mendengar pertanyaan usil yang mengoda dari isterinya yang tercinta, “Mau ‘berbincang-bincang’ apa… itu tuh… hi-hi-hi…!”.

Pak Damarto menjawab pertanyaan isterinya yang menggoda itu. “Sssttt… jalan pertandingannya dirahasiakan, tapi jangan khawatir dan mas beritahu hasil akhir score-nya! He-he-he… hi-hi-hi…!”, jadi ikut-ikutan tertawa jadinya dan menegur ayah, “Papa nih! Jangan godain mama terus dong! Ma! Papa memangnya genitnya dari dulu ya ma…?”.

“Kamu baru tahu sekarang Ning…? Hi-hi-hi…”, jawab bu Ratna singkat. “Buruan deh! Ksmi berdua mau mengadakan exhibition-match nih, jalan pertandingannya kita rahasiakan ya Dit! Takut teknik-teknik andalannya ditiru lagi! Pokoknya nggak usah khawatir deh mas… nanti score akhirnya kita beritahu deh… ya nggak Dir! Hi-hi-hi… he-he-he…”, kata bu Ratna sambil tertawa dan diikuti oleh tawa Didit yang merasa geli. ‘Masak disamain dengan pertanding bila sih…! He-he-he’.

“He-he-he…!”, sambil tertawa renyah pak Damarto menutup pintu kamar itu dari luar.

***

Tinggallah bu Ratna berduaan saja dengan Didit didalam kamar utama itu. Didit mendekati ibunya dan berbisik lembut di telinga kanan ibunya.

“Emangnya mama lagi horny?”.

“Cium dulu mama… tapi yang mesra dong, nanti baru mama jawab deh…!”, kata bu Ratna sedikit merajuk, biasa… namanya lagi keadaan hamil muda…

Kemudian mereka melakukan FK dengan lembut dan mesra. Lidah-lidah mereka lagi olahraga ‘smack down’, saling membelit dan saling menjatuhkan diiringi dengan tepukan seru dari air liur yang ikut keluar…

Lumayan agak lama berlangsungnya FK ini. Setelah melepaskan tautan mulut dari mulut sexy ibu kandungnya, langsung saja menagih janji bu Ratna tadi. “Sekarang lagi kenapa… ma!”, tanya Didit ingin tahu.

Jawab ibunya kalem saja, “Maaf ya Dit, sebenarnya mama lagi tidak horny, tumben mama hari ini tidak mual-mual… rupanya anakmu yang didalam rahim mama sekarang sedang rindu berat dengan kunjungan ayahnya sendiri!”.

“Jadi maksud mama… gimana dong…?”, tanya Didit tambah tidak mengerti.

“Begini sayang… kalau dibilang mama lagi ‘horny’ saja, itu masih kurang tepat. Tapi kalau dikatakan ‘horny sekali’ ditambah ‘sangat bernafsu sekali’ itu… baru betul!”.

“Tahu ah ma! Yang penting…”, langsung berdua berteriak serempak dengan keras, “ACTION!”. “Hi-hi-hi-…. he-he-he….”, mereka berdua tertawa bersama.

Segera Didit membantu melucuti gaun tidur… terlihat tubuh indah milik ibunya, pinggang masih terlihat ramping saja, maklum usia kehamilan baru seminggu lebih saja. Tapi buahdada bertambah montok saja. Tergoda hatinya, segera Didit mengemut-emut pentil susu yang berwarna maroon mudah itu. Kemudian dengan agak gregetan penuh nafsu-syahwat yang menggebu-gebu, Didit meremas-remas buahdada yang kanan mengenyot-ngenyot dengan getol.

Bu Ratna yang tahu akan tujuan tingkah putera kandungnya, berkata sambil tertawa, “Sudah… ah! Jangan keras-keras kenapa?! ASI-nya belum diproduksi sayang. Wah… kalau itu adonan roti… ngkali udah kalis deh! Hi-hi-hi…1”.

“Kalau begitu oral-seks dulu deh…”. Tapi tangan Didit keburu dicekal oleh tangan lentik ibunya.

“Jangan dong… sayang…! Pokoknya dalam masa kehamilan ini, mama maunya klimaks dengan penis tegangmu berada dalam jepitan vagina mama. Kalau kamu memang rindu dengan oral-seks, lakukan saja dengan kakakmu, Naning dan entot memeknya dan semprot air mani-mu sebanyak-banyaknya, itu tidak mengapa karena Naning sudah dipasangin spiral KB, IUD… jadi aman! Dan pernah mengentot Neni tanpa memakai karet KB, atau biasa orang menyebutnya ‘kondom’. Ingat ya sayang… jangan pernah melupakan itu!”.

‘Wah… mama lagi sange berat nih! Buktinya tadi ngomong vulgar begitu!’.

“OK ma! Lets action babe…! Mama berbaring terlentang dan melintang dan kedua lutut mama menekuk keatas… dan telapak kaki mama menapak dipinggir tempat tidur, hati-hati ma… jangan kaki mama sampai terpeleset kebawah lantai. Atau begini saja, punggung ditopang oleh beberapa bantal… biar tangan mama saat menjur bia memegan penis Didit… biar Didit yang memegang kedua kaki bawah mama… ngerti nggak ma… apa yang Didit maksudkan?”.

“Ngerilah suamiku yang muda, yang ahli teori mengalahkan ayah kandungnya sendiri”.

“Wahh… mama jangan begitu dong ngomongnya… Didit jadi malu dan tambah…”, belum juga Didit menuntaskan perkataannya sudah dipotong dulu oleh ibunya.

“NAFSU! Udah ah jangan ngomong aja dong, mama udah kebelet pengen dientot nih!”.

Mendengar kata vulgar ini mulai mengalir keluar lagi dari mulut seksi ibunya… Didit buru-buru mengatur segalanya dan segera berdiri didepan vagina ibunya… Dan menaruh palkon-nya sambil mendorong sedikit pinggulnya kedepan yang langsung saja benda keras milik Didit melewati katupan labia majora… bahkan sekarang sudah dijepit oleh labia minora yang bertugas sebagai penjaga mulus gua nikmat dalam vagina mulus dan legit milik ibu kandungnya ini.

Tekan sedikit… lalu tarik lagi, terus dilakukan berulang-ulang kali sampai palkon-nya terbenam seluruhnya dalam gua nikmat ini… ‘Nah inilah saatnya dimulai ‘action’ yang sesungguhnya!’.

Ditariknya palkon-nya sampai nyaris terlepas, lalu… ditambah daya dorong pinggul remaja… tidak usah memakai tenaga yang besar… cukup dorong saja, dan kejutkan dorongannya… cukup sekali saja… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis remaja Didit yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ milik ibu kandungnya yang lagi hamil muda itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah remaja sang pecinta ulung… masuk-keluar… masuk-keluar…

“Aduh nikmatnya…! Pokok kalau mama lagi tidak mual-mual… kamu harus mulai belajar bertanggung jawab lho!”.

“Apa itu ma…? Uuugghh… nikmatnya! Mana itu otot-otot didalam vagina mama… pake ngemut-ngemut kenceng batang penis Didit lagi!”.

“Yang menjadi tanggungmu adalah… kalau mama lagi tidak mual-mual… pertama gituin mama pada pagi hari sebelum sarapan, kedua gituin mama setelah kamu pulang dari sekolah dan ketiga sebelum kamu tidur malam… selebihnya terserah kamu… anggap saja bonus dari mama. Mau diselingi gituan sama Naning serta gituan sama adikmu, Neni… tapi jangan lupa memakai kondom dari awal gituan… ingat Dit dari awal! Ooh… nikmatnya… kok kalau gituan sambil ngobrol… perasaan, jadi lama ngecrotnya ya…?!”.

***

10 menit telah lewat…

20 menit telah lewat…

30 menit telah lewat…

40 menit telah lewat…

50 menit telah lewat…

60 menit belum lewat… inilah saatnya persetubuhan incest yang sangat mesra ini akan berakhir… bersamaan…

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> langsung sang ibunda melalangbuana ke ‘negeri antah berantah’.

<CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

Sedangkan Didit yang masih gagah saja, memang sangat berlebih stamina remaja ini… sang pecinta ulung… sibuk mengatur posisi tidur sang ibunda tercinta serta membersihkan tubuh molek ini ala kadarnya. Setelah membersih dirinya sendiri, didalam kamar mandi. Kemudian sangat hati-hati dan dengan perlahan naik keatas tempat tidur, dan membaring tubuhnya terlentang disamping tubuh jelita sang ibunda tersayang…

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*