Home » Cerita Seks Ayah Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 14

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 14

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 13

Bu Atik, bu Nining, pak Damarto, Rani dan Rina, baru saja menyelesaikan makan siang mereka.

Seperti biasanya pasti Rani yang pertama angkat bicara, apalagi kalau perut rampingnya telah terisi penuh… kekenyangan, setelah menarik napas yang dalam, mulailah Rani bersuara. “Benar kata bu bidan Atik tadi… ikannya benar-benar… ikan! Eh! Maksud Rani ikannya… segar sekali dan… enak! Terimakasih bu Nining atas masakan yang enak ini, ‘tul nggak Rin?”, ujar Rani sambil meminta dukungan suara dari teman akrabnya, Rina.

“Bener sekali, setuju!”, jawab Rina singkat saja.

“Kok segitu doang jawabannya sih…?”, tanya Rani yang masih kurang puas dengan dukungan suara Rina yang singkat itu.

“Begini Ran…! Rina baru pertama kalinya makan sebanyak ini… pake nambah lagi…! Terimakasih banyak ya bu Nining dan bu bidan Atik… ini sungguh makan siang yang enak… makanannya enak dan suasananya pun sungguh enak sekali…!”, kata Rina bebas lepas perkataannya, maklum saja lagi… kekenyangan!

“Suasananya, apa… makanannya sih yang enak…?”, tanya Rani lagi pada Rina, ingin memastikan ketegasan pendapat Rina ini.

“Dua-duanya…”, jawab Rina santai saja sambil menyandarkan tubuhnya kebelakang.

“Kok cuma bu Nining dan bu bidan Atik saja yang diberi ucapan terimakasih sih…?!”, kata bu Atik menggoda kedua gadis remaja itu.

Seketika Rani dan Rina saling berpandangan. Jawaban kedua sangat mengherankan… selalu kata-kata mereka keluar secara bersamaan. Rupanya aba-abanya dilakukan dengan gerakan sandi… hanya anggota geng mereka saja yang mengetahuinya.

“Terimakasih pada pak bidan… eh pak Damar untuk yang tadi… tuh! Hi-hi-hi…!”, serentak mereka tertawa tersipu-sipu.

Pak Damarto menjawab sambil lalu saja, “Sudah lupa tuh! Apaan… ya?!”.

Kedua gadis remaja itu memerah pada paras cantik mereka, tidak berani menjelaskannya secara detail.

“He-he-he… ya terima kasih kembali! He-he-he…”, jawab pak Damar tertawa terkekeh-kekeh, langsung mengusap-usap kedua rahangnya yang kiri dan kanan… masih terasa pegal saja otot-ototnya.

Melihat ini, spontan bu Nining bertanya, “Waktu tadi makan tertusuk tulang ikan gurame ya mas?!”.

“Tidak juga, dik. Masakannya sungguh enak sekali! Kalau kami sekeluarga rindu dengan makanan sejenis ini, dan makan di rumah-makan didalam mall-mall yang dekat sekitar rumah kami, wah… rogohan koceknya untuk membayar itu semua… sungguh dalam sekali!”, kata pak Damar menjelaskan pada bu Nining yang agak kurang enak hatinya. “Kalau soal rahang ini sih… bukannya sakit tertusuk tulang ikan, tapi… rasanya pegal saja… Kalau ingin tahu jelasnya… tanya saja sama Rani dan Rina, pasti mereka bisa menjelaskannya dengan gamblang, he-he-he… gitu lho!”.

Bu Nining menoleh pada kedua gadia remaja, meminta penjelasan.

Langsung dibantah oleh Rani dengan tegas walaupun wajahnya memerah karena malu.

“Iihh… pak bidan! Jangan gitu dong…! Masak sih… ‘lempar batu, sembunyi tangan’… pak Damar kok tidak adil sih! Rina 2X masak sih Rani cuma sekali! Hutang 1X ya pak sama Rani… hi-hi-hi…”, kata Rani sangat lancar.

“Setuju!”, timpal Rina singkat.

Wajah bu Nining jadi termangu-mangu, mengolah perkataan Rani tadi… jadi bingung dan terheran-heran, tak mengerti apa makna sesungguhnya dibalik itu semua.

Bu Atik buru-buru mendekati bu Nining dan… berbisik pelan padanya. Tersentak kaget bu Nining mendengarkan semua penjelasan itu, seketika mata indahnya membelalak, lalu mata itu meredup kembali. Komentarnya pelan saja, “Mau dong…! Eh… ya benar kok… hi-hi-hi…!”, akhirnya bu Nining tertawa juga mengalahkan rasa malunya… “Hi-hi-hi… nekat aja deh… habis… kapan lagi?!”.

“Bu Nining… pengen juga tuh… hi-hi-hi…”, timpal Rani spontan.

Segera bu Nining memelototkan mata indahnya pada Rani, “Uuughhh bisa aja… emangnya pengen apaan ayooo…!”.

Tapi Rani tidak menggubrisnya, hanya menjawab sambil tertawa… malah sekarang didukung sepenuhnya oleh teman akrabnya, Rina.

“Yang itu tuh… hi-hi-hi… ya nggak Rin? Hi-hi-hi…”.

“Bener… setuju sekali Ran! Hi-hi-hi…”.

“Tuh… kalian harus bertanggung jawab dong! Hi-hi-hi…!”, ujar bu Atik berseloroh… memojokkan kedua gadis ABG itu.

“Eehhh… nggak bisa dong…! Orang kami yang diam saja kok… malah dikasih yang enak ya… tuman lah… diterima saja… abis… enak sih…! Hi-hi-hi…”, kelit Rani sambil tertawa yang diikuti dengan tawaannya Rina, “Bener Ran! Setuju sekali… hi-hi-hi…!”.

Rani berkata lagi, “Emangnya kami berdua tidak tahu apa? Ya nggak Rin? Geng kami termasuk Neni dulunya… kan sudah lama mempelajari kata sandi dan kode-kode gerak sandi… Ayo… ngaku aja! Kan… bu bidan tadi lagi bersandi-ria… hi-hi-hi…! Kode 1 untuk Rina, kode 2 untuk Rani, dan gerakan lidah memutar sambil menyentuh bibir… itu memang kami tidak tahu tadinya… setelah mengetahuinya… ternyata sungguh-sungguh enak…! Baru pertama kali kami merasakannya…! Terimakasih banyak ya… bu bidan Atik, ternyata telah sukses mendewasakan kami… ya nggak Rin? Jangan diam aja dong…!”.

Buru-buru Rina mendukung pernyataan Rani, sobat karibnya itu. “Betul… setuju! Kayaknya semakin sering… semakin indah eh… enak deh rasanya… hi-hi-hi…”, kata Rina sambil mengeluarkan ‘opini’-nya dangan nekat.

Bu Atik masih penasaran saja. “Tapi kan kalian berdua… wajahnya lagi ayik memandang pak Damar…?”.

Dijawab oleh Rani. “Dibelakang pak bidan ada cermin lebar, jadi bu bidan Atik mau ngapain aja… pasti kami dapat melihatnya didalam cermin itu…!”.

“Ooohhh… iya! Lupa aku! Bener juga ya…!”, kata bu Atik sambil menepak pelan jidatnya dengan telapak tangan kanannya.

“Geng sandi kami kok… mau diuji…! Tul nggak Rin?”, kata Rani rasa pongah tapi masih tetap minta dukungan suara dari Rina.

“Tul juga Ran… setuju! Hi-hi-hi…!”, dukungan dari Rina ditambah dengan bonus tertawanya yang rada mengikik.

<Drzzz…> <drzzz…> <drzzz…>

Bunyi RBT getar dari HP yang letaknya entah dimana.

Refleks pak Damarto merogoh saku pantalonnya, ketika ingin berdiri, dicegah oleh Rani yang gesit. “Tenang saja pak… ditempat! Biar Rani yang mencari… ada dimana ‘mahkluk’ bergetar itu bersembunyi”, kata Rani dengan yakin. Diselusurinya suara getar itu, dan berhenti depan tas piknik milik pak Damar, dengan mengambil ancang-ancang seakan ingin mengangkat sebuah barang yang berat… “Aduh mak! Hampir aja… jatuh terjengkang! Kirain sih berat! Pake sebelah tangan juga bisa!”, seru Rani yang sempat kaget hampir jatuh terjengkang. Ditengtengnya tas itu, dan diberikan pada pemiliknya.

Buru-buru membuka tas itu dan mengambil BB-nya, dan menjawab segera panggilan lewat saluran telekomunikasi cellular itu. Kelihatan mimik wajahnya agak serius ketika melakukan percakapan lewat sellular itu. Setelah selesai, kemudian ditaruhnya lagi BB-nya kedalam tas tadi.

Bu Atik yang kelihatan mengawasi dengan seksama dari jauh. “Kalau mbak boleh tahu… tentang apa itu… dik?”, tanya bu Atik berhati-hati, takut ‘adik baru’-nya menganggap dia usilan dengan urusan orang.

Tersadar pak Damarto seketika dan menyadari kekeliruannya yang menyebabkan suasana gembira tadi… seketika menjadi sedikit mencekam… gara-gara ulah dia. Lagipula tidak ada hal yang terlalu serius, ini menyangkut soal kerja proyek dan isteri dari staf karyawan yang di proyek… yang hamil tua masuk ke ICU dari rumahsakit terdekat. Tapi semuanya sudah teratasi oleh team dokter yang memang ahli dibidang mereka masing-masing. Ibu dengan bayinya selamat tak kurang sesuatu apapun, lewat operasi ‘caesarean’ (pembedahan pada kulit di perut untuk mengeluarkan sang bayi).

Kata pak Damarto, “Maafkan kekeliruan aku mbak, dan semuanya! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan… ini menyangkut kerja proyek dan isteri staf karyawan yang telah melahirkan dengan selamat… baik ibunya, maupun bayi. Tidak semestinya aku berlaku seperti ini, karena bagi kerabat dan keluarga tidak ada rahasia-rahasiaan!”. Kemudian pak Damarto menceritakan hal itu dari awal sampai akhir… tidak ada yang perlu ditutup-tutupi sama sekali.

“Ooohhh… begitu toh?”, kata bu Atik menarik napas panjang… lega jadinya. Suasana pun kembali ceria kembali.

“Besok subuh aku ingin berangkat ke kantor pusat sekalian menjenguk ke rumahsakit dan sekalian ke rumah untuk 2 hari kerja saja… yaitu Kamis, Jum’at, Sabtu dan Minggu, diharapkan bisa kembali ke tempat proyek hari Minggu malam… jadi total 4 hari penuh”, kata pak Damarto yang yang dipotong saja oleh bu Atik.

“Nginap disini saja ya dik, kan ada mbak dan dik Nining yang ikut menyiapkan segala sesuatunya, ya… kan dik…?”, pinta bu Atik dengan sangat. “Dan nanti pulangnya pada Minggu malam nanti… kalau dik Damar tidak keberatan… pulangnya kesini saja. Lagi pula kegiatan kantor di proyek kan dimulai Senin paginya… Sekali lagi ini bukanlah mbak mau mendikte segala kegiatan dik Damar… anggaplah saja… satu saran yang tulus dari seorang kakak pada adiknya… begitu lho dik…”.

“Takut merepotkan mbak dan dik Nining… Lagipula tadinya aku ingin mengusulkan begitu, mbak…! Khawatir ditolak mentah-mentah… eh… malah ditawari… emangnya sudah mateng banget nih dipikirkan mbak?”, kata pak Damarto hati jadi girang mendapat tawaran menginap itu. ‘Kebeneran…! Kapan lagi memanfaatkan waktu yang luang, he-he-he…!’.

“Kok dik Damar senyum-senyum sendirian sih…? Emangnya nggak sudi ya?”, kata bu Atik yang suka sekali menggoda ‘adik baru’-nya ini.

“Mauu-mau… dong! Jangan ditarik lagi tawarannya itu ya mbak-ku yang baik hati…”, pak Damarto melancarkan rayuan gombalnya tanpa tedeng aling-aling didepan semuanya yang hadir.

Rani yang dari tadi sudah tidak sabaran mau ikut nimbrung ngomong, begitu ada sela waktu lowong, langsung saja menyerobot dengan berkata agak lantang.

“Kalau cuma untuk 2 hari kerja… Rani ikut dong pak! Kan udah kangen berat nih… sama Neni, boleh ya pak… soalnya di sekolah kami sekarang ini… masih sibuk saja dengan penerimaan murid baru, belum ada guru yang full mengajar, malahan sekarang semua guru lagi rangkap kerja jadi petugas Tata Usaha. Kami tadi masuk pukul 7:30, eh… pukul 8.00 sudah dibubarkan… disuruh pulang. Kami jalan-jalan keliling saja di pasar panen… kebetulan malah bertemu bu Nining… kebeneran sekali… betul nggak Rin? Kok diam saja sih… elo sudah tidur kekenyangan ya?!”, cerita Rani sembari akhirnya jadi rada keki karena tidak mendapatkan dukungan suara dari sobat kentalnya, Rian.

“Emangnya aku harus berbuat apa… Ran…?”, jawab Rina sambil menguap kekenyangan.

“Apa mewek kek sebentar…! Apa saja yang bisa elo kerjakan!”, kata Rani rada kesal.

“Oh gitu toh? Ya sudah… aku merem dulu sebentar…”, jawab Rina cuek saja.

Bu Atik setelah melihat tingkah-laku dua ABG itu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Sudah-sudah jangan memulai pertengkaran baru…!”. Kemudian bu Atik berpaling menghadap ke pak Damarto. “Apa yang dikatakan Rani tadi tentang sekolahnya… memang benar dik! Sebelum dik Damar datang tadi pagi, mbak baru saja selesai berbicara panjang lebar dengan bu Saodah, gurunya Rani dan Rina. Mbak tidak ingin usil… seandainya dik Damar tidak keberatan… apa salahnya Rani dan Rina diajak untuk menemui teman satu geng dikala mereka masih SMP. Bukankah ini suatu ‘oleh-oleh’ yang terindah bagi Neni daripada sekedar membawa makanan kecil yang belum tentu baik bagi kesehatan tubuh! Tapi ini tergantung sepenuhnya dari dik Damar… lho”.

Pak Damarto seakan berkata pelan pada dirinya, “Benar juga, aku kan sekarang mempunyai 2 orang anak perempuan dan seorang anak lelaki?! Terimakasih mbak telah membuka mata hati-ku, sungguh benar… ini akan menjadi ‘oleh-oleh’ yang sangat istimewa bagi puteri bungsu kami. Neni adalah kesayangan seluruh anggota keluarga… mbak! Tapi gimana caranya memberitahu orangtua mereka masing-masing…”, kata Pak Damarto, belum juga menuntaskan perkataannya sudah dipotong oleh bu Atik.

“Maaf dik… mbak potong…! Mbak sudah tahu apa yang dimaksudkan dik Damar… soal orangtua dan guru mereka serahkan semuanya pada mbak… dik Damar cuma diminta kesediaannya mengajak mereka berdua, dan… jangan lupa… ini adalah sebuah ‘oleh-oleh’ yang sangat istimewa untuk Neni… Terimakasih ya dik, tidak salah dugaan mbak… dik Damar memang seorang yang sangat baik hatinya… Ayo Rani dan Rina, kita minta ijin dulu pada orangtuamu masing-masing… mana yang paling dekat jaraknya dari sini…?”, bu Atik sambil menggandeng kedua ABG itu menuju keluar rumah, sengaja berpapasan dengan ‘adik baru’-nya ini, berbisik, “Manfaatkan waktumu bersama dik Nining ya… Be success my beloved little brother!”, segera mereka bertiga berlalu keluar rumah… meninggalkan pak Damarto berduaan saja dengan ibunda Neni, bu Nining… didalam rumah yang besar itu. Bu Nining tidak berada didekat pak Damarto, dia sedang sibuk bekerja jauh dibelakang rumah, yaitu… di dapur, membersihkan semua perkakas dapur yang telah dipakai untuk keperluan memasak tadi.

***

“Eeh-heemm…”, pak Damarto berdehem pelan, begitu langkah kakinya memasuki area dapur dari rumah yang besar ini. Terlihat hanya punggungnya, bu Nining yang sedang asyik mencuci perabotan dapur dan piring-piring kotor. Bu Nining hanya memalingkan kepalanya ketika melihat kedatangan pak Damarto.

“Eeehh… ada mas Damar toh, ngapain pula pake kemari-mari? Disini kan daerahnya para perempuan… apa mau nambah 1 piring lagi untuk ronde kedua makan siang…? Hi-hi-hi… maaf lho mas… sekali-sekali bergurau… tidak mengapa kan…? Hi-hi-hi…”, kata bu Nining menanggapi kedatangan pak Damarto di dapur ini.

“Tidak ada yang nemenin dik… ‘didepan’, aku jadi sendirian saja disana…”, jawab pak Damarto sembari ‘menyapukan’ pandangan matanya yang rada genit pada sekujur bagian belakang tubuh bu Nining yang lumayan indah.

“Kok bisa begitu…? Tega sekali ‘mereka’ meninggalkan mas sendiri didepan… emangnya mas merasa kurang nyaman apa rada takut ya… sendirian disana… hi-hi-hi…”, kata bu Nining yang masih saja terus melakukan pekerjaannya. ‘Kalau dihentikan… kapan selesai… jadinya?’, kata bu Nining bukannya merasa terganggu… malah menjadi senang dengan keberadaan ‘ayah angkat’ dari 2 anak perempuan kandungnya itu. <Seerrr…!> ada semprotan kecil didalam vaginanya yang keluar tanpa bisa dicegahnya.

“Mbak Atik dan kedua ABG itu sedang mendatangi orangtua dari kedua ABG itu untuk meminta ijin berangkat… untuk mengunjungi Neni, teman satu geng-nya sewaktu SMP… berangkat denganku untuk 4 hari kedepan… dan sebelum pergi mbak Atik meminta mas untuk menemanimu dik… disini, siapa tahu ada yang bisa mas bantu… misalnya cuci piring atau lainnya. Dan mana aku bisa menolaknya…”, kata pak Damarto yang sekarang sudah merapat lekat disekujur punggung bu Nining, malah sekarang memegang dengan lembut dikedua lengan atas bu Nining…

Terlonjak sedikit tubuh ramping bu Nining, merasakan hangatnya tubuh seorang pria yang sudah lama sekali tidak dirasakannya itu. Bu Nining berusaha tetap tenang dan menekatkan dirinya untuk menjawab perkataan bapak angkat dari anak kandungnya ini.

“Mas tidak bisa menolak atau… memang mau ya…? Hi-hi-hi… maaf ya mas… sudah lama sekali…”, tak mampu bu Nining meneruskan perkataannya. Rupanya kedua tangan kekar pak Damarto sudah bergrilya dan menyusup masuk lewat bagian bawah dari baju atasnya dan… segera menyergap mantap kedua payudara yang lumayan sekal dan lebih besar satu tingkat ukurannya dari buahdada montok milik ABG Rina.

‘Langsung aku menyerah kalah deh… oleh serangan kilat tangan-tangan kekar yang lagi menangkap bulat-bulat susu-ku ini… mana sebelum aku ke dapur sini, pake sempat-sempatnya aku melepas BH-ku lagi… terpaksa aku harus menyerah kalah… aaahh… mas! Jangan diplintir keras-keras dong…! Lagi pula itu kan… bukannya piring ataupun mangkuk… oooh nikmatnya’, <seerrr…!> satu lagi semprotan kecil didalam vaginanya yang keluar tanpa bisa dicegahnya, yang melumasi sempurna seluruh lorong gua nikmat didalam vagina-nya yang secara natural berbulu pubis tipis-tipis saja… licin dan siap sudah menyambut kedatangan batang penis yang keras yang sudah lama sekali tidak berkunjung…

Sambil mencium mesra pipi kiri bu Nining yang berwajah ayu seperti wajah Neni dalam versi usia 34 tahun nantinya… serta tidak menghentikan jari-jari tangannya yang masih saja menggeluti susu bu Nining dengan di-variasi dengan sesekali plintiran pada putik puting susunya yang lumayan sekal dan mulus itu.

“Ayoo.. adikku sayang… jangan buang-buang waktu kita yang berharga dan langka ini lagi… mari kita lakukan saja… di dapur sini atau dikamar tidurnya mbak Atik…?”, ajak pak Damarto yang sudah sangat sange semenjak oral-seks pada 2 ABG tadi.

“Tidak dua-duanya… mas! Dikamar tidurku saja ya… mas!”, ajak bu Nining yang ikut-ikut bernafsu tanpa bisa dibendung lagi.

Kamar tidur bu Nining letaknya disebelah kiri dari kamar tidur bu Atik, lebih kecil sedikit… tapi untuk menampung 3 orang dewasa saja sih… masih muat.

Setelah menutup kembali pintu kamar tidurnya tanpa dikunci lagi, segera melangkah ke tampat tidur… tubuh indah keburu dipeluk oleh tangan kekar pak Damarto. Mendekap dan melakukan FK lembut sebentar lalu melepaskan tautan bibirnya. Pak Damarto membuka satu persatu pakaian yang dikenakan bu Nining… blus atas, rok bawah dan CD tipis yang ketat. Pak Damarto meneruskan dengan menelanjangi dirinya… kemeja, pantalon dan… CD yang sudah sangat menonjol kedepan dibiarkan saja ditempatnya saja, ini mengundang protes dari bu Nining yang sebenarnya ingin melihat penis tegang milik pak Damarto… maklumlah sudah lama sekali, sehingga bu Nining rada-rada sedikit lupa bentuk penis tegang seorang pria kalau dilihat dari dekat.

“CD-nya… dibuka dong… mas! Biarkan seimbang! Hi-hi-hi…!”, kata bu Nining yang mulai tidak canggung lagi untuk mengeluarkan perkataannya.

“Nanti juga dibuka sayang… mas ingin mencumbu tubuhmu yang indah ini lebih dahulu… sayang!”, kata pak Damarto agak tersengal saking nafsunya dan meminta bu Nining segera berbaring telentang ditengah-tengah diatas tempat tidur. ‘Bila aku turuti permintaanya, wah… bisa-bisa malah aku yang kelabakan sendiri untuk membujuk dan meyakinkannya lagi untuk mau kembali ngesek denganku, apalagi dia kan sudah lama tidak melihat penis tegang, lalu melihat penisku yang gemuk ini…’, kata pak Damarto dalam hatinya.

Pak Damarto menyusul naik keatas tempat tidur, “Maaf ya dik… mas lebih renggangkan lagi… kangkangan paha mulusmu ini ya… dik! Nah… cukup biar ‘tamu kecil’ dik Nining bisa leluasa datang berkunjung… he-he-he….!”. Saat dilihatnya mata berbulu lentik pada pinggir katupan pelupuknya… mulai terpejam, secepat kilat pak Damarto melucuti sendiri CD-nya… bebas sudah… apa yang dikatakan ‘boss’-nya sebagai ‘tamu kecil’-nya bu Nining. helm batang penis iru semakian membesar dan mata tunggalnya rada melotot… seakan tidak sudi dijuluki sebagai ‘tamu kecil’!

Pak Damarto mulai menindih tubuh telanjang bulat bu Nining dengan hati-hati, serta bobot tubuhnya yang tegap ditunjang oleh lengan-lengan bawahnya yang kekar dan ditaruh didamping kiri dan kanan dari tubuh telanjang yang jelita ini. Dengan tangan kirinya dengan cepatnya mengatur palkon-nya yang masuk menerobos… yang langsung terjepit lembut oleh katupan labia majora vagina bu Nining yang sudah lama tidak dikunjung oleh ‘tamu kecil’. Helm-nya ngetem sebentar pas pada mulut gua nikmatnya.

Tercekat juga hati bu Nining merasakan dorongan helm itu, ‘Perasaanku kok… besar sekali ya…’. Langsung memberitahu pak Damarto, “Mas-ku sayang… pelan-pelan saja ya masuknya… habis sudah lama sekali sih…!”, kata bu Nining dengan perasaan was-was.

“Nggak usah khawatir dik, mas akan melakukannya dengan hati-hati… Adik akan merasakan sensasi nikmat yang dijamin akan mengantarkan adik pada puncak persetubuhan… percayalah pada mas…!”, kata pak Damarto berusaha menenangkan hati bu Nining yang seketika menjadi sangat galau.

Pak Damarto mencium lembut bibir merah bu Nining, sebentar saja… lalu mengalihkan selusuran mulut gasangnya itu pada kedua puting mungil di puncak bukit buahdadanya, bergantian… beberapa detik pada puting yang kiri… lalu beberapa detik pada puting yang kanan… seterusnya tanpa henti… Ini dilakukan pak Damarto sampai palkon-nya mendapat semprotan dari dalam gua nikmat vagina bu Nining… ya diperlukan pak Damarto adalah cuma 1 kali semprotan kecil saja. Tidak perlu menunggu lama… hanya dalam 5 menit saja sejak pertama cumbuan pada pentil susu itu… <seerrr…!> semprotan kecil yang ditunggu akhirnya datang juga, ini sangat berguna untuk melicinkan jalan masuk sang ‘tamu kecil’.

Dengan sentakan kenyotan yang keras pada pentil kanan yang mengundang reaksi keras dari bu Nining, “Aadduuhhh… mas! Jangan keras-keras dong ngenyotnya…! Ngakk bakalan keluar air susu-nya deh…!”. Inilah detik yang tepat yang ditunggu pemain ‘old crack’ ini… hanya dengan mendorong sedikit pinggul kekarnya kebawah… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis pak Damarto yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis tegang alias sang ‘tamu kecil’ seperti yang dikatakan oleh pak Damarto tadi.

Persetubuhan ini berlangsung relatif lama, jangan ditanya lagi… berapa kali bu Nining mendapatkan orgasme-nya… yang pasti berkali-kali.

Ketika bu Atik datang dengan diiringi oleh ‘kicauan’ dan ‘celotehan’ 2 ABG itu yang bernada riang gembira… buru-buru bu Atik menyelinap masuk kekamar tidur bu Nining dan segera mengunci pintunya dari dalam. Bu Atik memandang keduanya yang terbaring terlentang berdampingan… mereka rupanya tak sempat lagi mengenakan pakaiannya lagi… masing-masing telah terlelap dengan
napas yang teratur…

Tidak ingin mengganggu ketenangan tidur mereka… segera bu Atik keluar dari kamar itu dan menutupnya kembali dengan sangat perlahan-lahan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*