Home » Cerita Seks Ayah Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 13

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 13

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 12

Saat mereka berdua (bu Atik beserta ‘adik baru’-nya, pak Damarto) sudah berada didalam kamar mandi setelah agak berkeringatan… atas dan bawah tubuh mereka, usai berolahraga sehat ‘luar-dalam’ barusan tadi, bukannya membersihkan tubuh mereka malah memulai lagi babak tambahan… betul-betul keduanya prima sekali stamina tubuh mereka. Kali ini mereka melakukan dengan cara… bu Atik membungkukkan tubuhnya yang masih bertelanjang bulat, kedua kakinya agak meregang kesamping serta kedua tangannya berpegangan erat pada tepian bak penampungan air untuk mandi, sedangkan pak Damarto berdiri tegak malah agak doyong kebelakang sedikit, masih bertelanjang bulat juga, dibelakang tubuh telanjang bu Atik. Sedangkan penis tegang pak Damarto sudah mengubrak-abrik disepanjang lorong gua nikmat didalam vagina temben tapi legit milik bu Atik. Persetubuhan gaya semi Doggie ini berlangsung seru, tapi tidak memakan waktu terlalu lama… paling sekitar 10 menit lebih sedikit mereka telah selesai menuntaskan babak tambahan ini. Tubuh keduanya bukannya tambah lemas malah terlihat puas dan… tambah bersemangat pula.

Setelah membersihkan diri mereka, dan mulai berpakaian rapi lagi, kemudian mereka duduk-duduk diruang tengah rumah bu Atik sambil minum teh manis hangat yang memang telah disiapkan bu Atik dengan cepat dan praktis saja tadi dan ditaruh diatas meja didekatnya.

***

Sekitar jam 12 siang, ada suara dari satu atau lebih gadis muda belia berucap salam didekat pintu depan rumah bu bidan Atik.

Begitu mendengar salam itu, langsung saja bu bidan Atik memberi komentar ditujukan pada ‘adik baru’-nya, pak Damarto yang lagi duduk didekatnya.

“Waahhh… kok tahu yaa?! Ada semut mendatangi gula…?”, kata bu Atik sambil lalu mengomentari suara salam itu. Yang didengar oleh pak Damarto dengan keheranan… memang dia tidak tahu apa maksud kata-kata ‘mbak baru’-nya ini.

“Siapa semut-nya dan siapa pula gula-nya… mbak? Aku kok tidak mengerti… apa yang dimaksud mbak ini… yaaa?!”.

Memang inilah sebenarnya sifat asli dari bu Atik sepuluh tahun yang silam… ketika suami yang dikasihinya itu masih berada disisinya. Ceria, ramah, supel dan… penuh canda tawa. Hanya dengan pak Damarto inilah, yang dinilai bu Atik sebagai pria ganteng yang baik hati… memang sih rada genit tapi terbuka dan santun dalam bertutur kata… melenyapkan segala derita dan luka hatinya yang telah ditanggungnya selama 1 dekade ini dengan sangat tabah!

Sekarang kalau bu Atik berbincang dengan pak Damarto bagaikan bicara sama adik kandungnya saja layaknya, dan… bila mereka berdua bermain seks bagaikan pasangan sejoli yang sangat serasi!

“Rupanya dik Damar pengen tahu yaa…? Yang jadi semut-nya adalah gadis-gadis muda belia didepan sana… Kalau yang jadi gulanya… ini dia orangnya… hi-hi-hi…!”, kata bu Atik sambil menunjuk kearah pak Damarto dengan ibu jari tangan kanannya. “Gede lagi… hi-hi-hi…!”, meledak lepas tawanya yang senada dengan tawa Atik dikala masih sebagai seorang wanita lebih muda… sepuluh tahun yang silam…

“Wahh! Jangan aku jadi gula-nya dong… dimana-mana juga gula yang manis itu selalu menjadi perumpamaan kata bagi para wanita…!”, kata pak Damarto rada protes.

“Oh… jadi mau jadi semut-nya toh…? Tidak masalah! Dik Damar yang jadi semut rangrang-nya deh! Hi-hi-hi…!”, jawab bu Atik sambil tertawa.

‘Kok pake rangrang segala sih? Semut saja… kenapa?!’, protes pak Damarto dalam hati serta langsung berkata lagi. “Gula-nya… siapa?”.

“Seperti kata dik Damarto… tentu saja gadis-gadis muda belia didepan sana… jadi gula biangnya, hi-hi-hi…!”, tertawa senang bu Atik jadinya.

(NB: Semut Rangrang [Oecophylla smaragdina] yang larva-nya sebagai bahan dasar pembuatan ‘kroto’, pakan burung kicauan dan walet serta sebagai umpan mancing, biasa hidup diatas pohon besar yang bergetah, misalnya pohon mangga, dukuh, dsb. Koloni semut besar yang berwarna agak oranye dan rada galak ini membuat sarang dengan cara melengkungkan daun yang lebar, yang dilakukan secara bergotong-royong, dan kantung daun inilah akan dijadikan sarang mereka. Jangan sampai tangan atau bagian tubuh kita lainnya, tersengat oleh semut rangrang ini, rasanya nyelekit dan… disekitar sengatan itu… dijamin deh… pasti membengkak!)

Sesaat kemudian muncullah 2 ABG masih berseragam sekolah SMU, kedua gadis belia ini dulunya adalah teman sekelasnya Neni pada waktu mereka masih di kelas-3 di sekolah SMP didekat sini, berjalan menuju dapur agak jauh dibelakang rumah sambil berceloteh riang dengan temannya, sama seperti yang dilakukan ABG umumnya yang seumuran dengan mereka dikala berjalan bersama teman akrabnya. Menyusul dibelakangnya bu Nining, wanita yang muda, berumur 34 tahun, ibunda dari Naning dan Neni.

Ketiga perempuan itu, baik yang ABG-nya maupun yang lebih tua masing-masing membawakan barang belanjaannya bu Nining dari pasar panen tadi. Mereka tidak janjian tetapi kebetulan bertemu saja di pasar panen itu.

Kedua ABG itu sudah pasti seumuran dengan Neni yang 15 tahun. Yang rada montokan (payudara remajanya… gitu loh!), bernama Rinawati, biasa dipanggil dengan Rina saja serta yang rada kurang montokan, sedikit saja sih perbedaannya, bernama Rani Astuti, biasa dipanggil Rani saja. Keduanya sangat manis dan ayu paras wajahnya, modal dasar kelak menuju… menjadi wanita lebih dewasa yang pasti akan mempunyai paras wajah yang cantik sesuai dengan ke-khas-an wajah mereka masing-masing. ABG yang bernama Rani memang agak centil tapi tidak terlalu dan rada berani untuk memulai bicara, kedua ABG ini sopan santunnya sangat mereka jaga dengan baik.

Melewati ruang duduk keluarga (ruang tengah), begitu melihat bu Atik yang ditemani oleh seorang bapak-bapak muda yang lumayan ganteng menurut penilaian mata ABG mereka, serentak memberi ucapan hormat layaknya ketika sang murid bertemu dan menyapa bu gurunya.

“Selamat siang… bu bidan Atik!”, kata mereka serentak serta menoleh pada pak Damarto yang sudah berdiri dari duduk-duduk santainya. Dengan agak ragu kedua ABG ini menyapa pak Damarto, “Selamat siang pak bidan…! Hi-hi-hi…! Eehhh… maafkan kami pak…! Hi-hi-hi…!”.

“Selamat siang juga… adik-adik manis! Kalau ada diantara kalian yang mau memeriksakan diri… kebetulan bapak lagi banyak luang waktu… kok!”.

“Emangnya… apanya yang mau diperiksa pak… badan kami oke-oke saja kok… hi-hi-hi…!”, jawab kedua ABG ini yang selalu dimotori dahulu oleh siapa lagi kalau bukan oleh Rani, ABG ayu, calon wanita yang cantik nantinya!

‘Bukan main… deh! Memang bener kalau sudah genit, yaa… tetap genitlah’. “Selamat siang juga nona-nona manis, hi-hi-hi…! Pak Damarto ini bukanlah seorang pak bidan… tapi sebagai adiknya ibu… Kalau memang diantara kalian ada yang mau memeriksakan dirinya… ibu tidak keberatan kok! Terlebih adik ibu ini… pasti dengan senang hati melakukannya… hi-hi-hi…”, kata bu Atik ceria, yang memang lagi senang-senangnya bisa ngerjain ‘adik baru’-nya ini, mumpung dia masih disini yang menurut penuturannya sendiri bisa untuk sebulan bahkan mungkin lebih.

Hampir saja pak Damarto ingin menggaruk-garukkan kepalanya yang tak berkutu, sekilas terbayang wajah yang jelita dari isteri tercinta… yang ada dirumah sana. Memang jadi ‘mati kutu’ pak Damarto menghadapi ‘serangan’ dari seorang wanita paruh baya dan 2 gadis remaja belia ini.

“Nona-nona manis keduanya, ibu bidan mau ngasih tahu nih! Bukan pengumuman dari sekolah kalian berdua, tapi tentang teman akrab kalian, yaitu Neni, puteri bungsu bu Nining… dia sekarang telah diangkat anak… dan sekarang Neni sudah duduk dikelas satu SMU… sama dengan kalian berdua!”, demikian isi pengumuman ‘resmi’ dari bu bidan Atik.

“Horeee…! Jadi juga sama-sama duduk dibangku SMU…! Selamat yaa… Neni! Dan terimakasih bagi bapak angkatnya… yang baik hatinya!”, seru kedua gadis ABG ini spontan dan terharu bahagia. Sedangkan ABG yang rada montokan, Rina tak kuasa menahan jatuhnya setetes airmatanya yang terharu berbaur dengan rasa bahagianya untuk teman akrab mereka yang beruntung… nun jauh disana…

“Hei…! Elo kok jadi nangis sih Rin…?”, tanya Rani pada temannya Rina yang lagi terharu bahagia.

“Ini bukannya menangis… tau! Aku lagi terharu bahagia untuk Neni… sahabat kita itu lho! Payah deh lo, perasaanmu coba di-amplas sedikit dong, biar… rada halusan gitu…!”, kata Rina berkelit, takut disangka sebagai gadis yang penangis.

“Enak aja…! Pake diamplas segala lagi…! Ini juga udah rada halusan dibanding dari pada…”, jawab Rani keki sambil pandangan matanya yang tajam ‘menunjuk’ kearah dada montok Rina.

“Sudah-sudah… sahabat karib tidak boleh bertengkar… apa lagi demi hal-hal yang sepele saja… Setiap pribadi masing-masing dari seseorang… adalah tidaklah sama dalam hal mengungkapkan perasaan dari dalam hati mereka. Cukuplah sekali ini saja kalian mempertengkarkan hal sepele ini! Agar tidak menjadi ganjalan yang akan terus membesar diantara persahabatan tulus kalian berdua… Mau tahu tidak…? Siapa yang jadi bapak angkatnya Neni… sahabat ‘satu geng’ kalian itu…?”, kata bu bidan Atik, berhenti sejenak menunggu reaksi dari Rina dan Rani.

Benar saja… keduanya ABG ini seketika menghentikan silang pendapat diantara mereka… sekarang kedua pasang mata jeli berlentik indah dari ABG ini memandang tajam pada bu bidan Atik… menunggu dengan rasa keingin-tahuan yang besar… penjelasan selanjutnya dari mulut bu bidan Atik. Bu Atik melirikkan matanya sekilas pada ‘adik baru’-nya, yang dilirik yaitu pak Damarto tahu apa yang diinginkan ‘kakak baru’-nya ini… yaitu agar dia bisa bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan… misalnya akan adanya pertanyaan-pertanyaan atau lain sebagainya dari kedua ABG yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat kental anak-angkatnya sendiri, Neni.

“Ayah angkat Neni, sahabat karib kalian itu… telah berdiri didepan kalian sekarang… dari tadi malah…!”, bu bidan Atik menuntaskan pemberitahuannya.

Seketika kedua ABG itu saling bertatapan mata, kemudian masing-masing mengeluarkan pendapat, dimulai dari Rani yang memang cekatan untuk angkat bicara terlebih dahulu.

Kata Rani sangat tercengang. “Apaaa…! Pak bidan…? Eh-ehh… maafkan Rani… ya! Terimakasih banyak yaa… pak..!”, Rani tak kuasa melanjutkan kata-katanya, karena… tanpa bisa ditahan lagi beberapa tetes airmata haru dan bahagia berhamburan keluar dari matanya yang indah. Buru-buru dia mengambil sehelai saputangan dari dalam tas sekolahnya yang disandang menyilang di bahunya.

Sedang Rina dengan sekuat hatinya berusaha menahan rasa harunya… dan berhasil, tapi akibatnya… perkataan yang keluar dari mulutnya yang mungil itu menjadi… sangat pelan sekali, seakan berbicara dengan dirinya sendiri. “Terimakasih banyak ya pak… adiknya bu bidan Atik, Rina sungguh bahagia mendengarkannya…!”, kata Rina tidak sanggup melanjutkan perkataannya lagi.

Kemudian kedua ABG yang bersahabat ini berdiam diri sejenak. Pak Damarto membiarkannya lagi untuk beberapa detik, kemudian berkata, “Memang benar apa yang telah disampaikan oleh bu bidan Atik, Neni telah menjadi puteri kami, tepatnya menjadi puteri bungsu yang disayang dan dicintai seluruh anggota sekeluarga… sebelumnya kami sekeluarga telah mempunyai anak lelaki, Didit namanya, sekarang berusia 17 tahun yang duduk di kelas-2 SMU dan juga… sekarang menjadi kakak kelasnya Neni yang duduk di kelas-1 SMU pada sekolah yang sama… letaknya tidak jauh dari kediaman kami sekeluarga. Jangan ditanya perasaan Didit yang menjadi sangat bahagia sekali. Hal ini telah berlangsung selama seminggu ini sampai sekarang… dan saya… sekeluarga baru… juga jangan dilupakan bahwa… Naning adalah puteri sulung kami ingin mengucapkan banyak terimakasih pada ibunda dari Naning dan Neni dan titip salam sayang pada ibundanya, bu Nining…”, kata pak Damarto menyudahi perkataanya serta menyodorkan tangan kanannya ingin bersalaman dengan tangan mulus dan halus dari bu Nining.

Rani dan Rina yang menyaksikan serius dengan kedua mata-kepalanya apa yang terjadi dihadapan mereka sekarang.

Rani yang mudah sekali untuk angkat bicara, apalagi bila lagi tergelitik hatinya… memberi komentarnya yang asal. “Nanti Rani mau SMS Neni aaahh…! Bahwa Rani telah menyaksikan semuanya… cuma kok… penyampaian ‘salam sayang’ Neni pada ibundanya tercinta lewat jabatan tangan saja…! Harusnya pake peluk-cium dong… ya nggak Rin…!”, kata Rani berlagak jadi ‘announcer’ sekalian meminta dukungan yang positif dari temannya, Rina.

“Hi-hi-hi… bisa aja kamu… Ran! Tapi Rina mendukungnya dengan sepenuh hati’, jawab Rina dengan mantap.

Tidak pake lama, seketika terdengar ‘applause’ meriah yang gempita disertai yell-yell yang seru. “Hi-hi-hi…! Horeee…! Cium-cium-cium…! Horeee…! Hi-hi-hi… Horeee…! Cium-cium-cium…! Horeee…! Hi-hi-hi…”. Pelaku soraknya bukan hanya 2 ABG itu, tetapi bertiga bersama bu bidan Atik yang ikut serta dan yang paling keras suaranya dengan bersemangat. Atik yang asli sudah… kembali…! Ceria, ramah, supel dan… penuh canda tawa…!

Bu Nining dan pak Damarto tidak bisa berkutik lsgi karena desakan ‘publik’ ini… dengan bermula memiringkan tubuhnya kekanan dan kekiri dahulu, pak Damarto langsung ‘menyergap’ dan mendekap tubuh bu Nining dengan erat serta dilanjutkan dengan kecupan bibir di pipi kiri bu Nining lalu diteruskan dengan kecupan bibir di pipi kanannya disertai dengan bisik rayuan perdana-nya khusus untuk bu Nining seorang. “Cantik dan ayu sekali kamu… dik…!”, kemudian segera melepaskan dekapannya, takut… mengundang protes dari ‘publik’ didekatnya ini…

Ada sekitar beberapa detik lamanya, hening sepi diruang tengah dirumah kediaman bu bidan Atik ini dan yang sekarang juga menjadi tempat tinggal barunya bu Nining… mereka masing-masing masih menyelami suasana bahagia, yang menyentuh perasaan hati mereka yang paling dalam…

Tiba-tiba suara Rani memecah suasana sepi ini, yang didengar semua yang ada diruang ini bak suara nyaring yang agak mengagetkan mereka dan menjadi tersadar dari lamunan masing-masing.

Kata Rani dengan malu-malu kucing, “Boleh nggak…? Rani nitip selamat dan salam sayang untuk Neni… hmmm… boleh yaaa… pak…!”. Yang langsung ditimpali seketika oleh Rina, teman akrabnya Rani itu, yang seakan tahu apa yang akan dibuatnya pada ayah angkatnya Neni ini.

“Iiihhh… kamu Ran! Malu… atuuh! Ganjen amat sih… kamu Ran…!”, kata Rina sambil memelototkan mata indahnya pada Rani.

Rani yang jarang mau mengalah, balik bertanya pada Rina. “Emangnya ‘ganjen’ itu apa ayooo… artinya? Kalau tidak tau jangan dikit-dikit ngomong ‘ganjen’ dong… payah deh kamu… Rin…!”.

Rina karena didesak oleh Rani, mulai mencoba (dengan ragu-ragu sih… sebenarnya!) menerangkan arti kata ‘ganjen’ itu. “Ganjen itu… artinya-artinya-artinya… apa yaa…? Udah deh Rina nyerah… Rina tarik lagi kata-kata tadi disertai permintaan maaf… boleh ya… Ran? Kan… kita sahabat karib… iya kan…?!”, kata Rina pasrah dan merasa bersalah.

Rani yang merasa ‘menang diatas angin’, menjawab, “Sudah pasti Rin… tidak percuma kita berteman akrab sudah lama lho… sejak dari SD! Permintaan maaf lo… aku terima dengan tangan terbuka, aku maafin deh elo… ‘swear’ deh…! Tapi kata yang sudah terucap tidak mungkin ditarik lagi… sudah kadung didengar oleh kita semuanya!”.

“Kalau gitu apa dong artinya ‘ganjen’ itu sebenarnya… ayo…!”, Rina mulai berkelit dan mencoba memojokkan Rani. Yang dijawab santai saja oleh Rani…

“Mana aku tahu… lagi! Dari itu aku tidak pernah ngatain orang dengan kata ‘ganjen’ itu… hi-hi-hi…”, kata Rani puas karena malah dia yang bisa memojokkan Rina dengan pertanyaannya sendiri.

“Sudah-sudah… kok mulai lagi sih…?!”, kata bu bidan Atik, yang kemudian menoleh pada ‘adik baru’-nya. “Dik…!”, kemudian menengok pada kedua ABG itu, keduanya sedang memperhatikannya.

Pak Damarto yang tahu gelagat, segera mengerti, dengan berdehem yang mengundang perhatian Rina dan Rani, sekarang kedua ABG itu menolehkan pandangan mata mereka padanya, dan kemudian menyelusuri pandangan mata mereka pada wajah ganteng pak Damarto.

Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh bu Atik yang segera membuka mulutnya serta menjulurkan lidahnya dan memutar-mutarkannya sembari menyentuhkan lidahnya pada bibirnya, disertai ucapan. “Yang satu dulu dik, yang momor dua minta membantu dan… mbak bersama dik Nining ingin memasak dahulu… untuk makan-siang kita bersama…!”.

Lalu mengandeng dengan lemah lembut kedua tangan ABG itu, Rani disebelah kiri dan Rina disebelah kanan disamping tubuhnya dan bersama melangkah menuju kamar tidurnya yang lumayan besar. Ketika mereka sampai didalam kamar itu, bu Atik berkata lagi, “Nah disini kan… lebih aman dan… nyaman lagi! Duduk saja dipinggir tempat tidur… empuk kok! Nanti kalian akan dijelaskan arti sebenar kata ‘ganjen’ oleh ayah angkatnya Neni, pokoknya biar lebih jelas dan cepat… ikuti saja apa yang akan dikata oleh pak Damar… tidak usah khawatirkan lainnya! Sedangkan bu bidan bersama ibunya Neni akan memasak makan siang kita. Asal kalian tahu saja, bu Nining sungguh pintar memasak… buktikan sendiri nanti… pada waktu kita makan siang bersama. Nanti setelah ibu keluar kamar ini, kamu Rani… tutup saja pintunya kembali, tapi… jangan dikunci ya…”.

Bu Atik menoleh pada pak Damarto, yang sedari tadi diam saja berdiri, mengawasi semuanya. “Be success my beloved little brother!”, kata bu Atik sembari memicingkan matanya sebelah, lalu berlalu dari kamar tidur itu, langsung melangkahkan kakinya menuju dapur dimana bu Nining sudah sibuk menyiapkan bahan-bahan, sayur-mayur dan lainnya untuk segera dimasak…

***

Sepeninggal bu Atik, pak Damarto mulai mengambil ancang-ancang untuk melalukan ‘action’ (kata ini sering sekali diucapkan oleh isteri tercintanya yang cantik jelita itu, dikala dia lagi keadaan ‘tinggi’).

Pak Damarto mendekati Rina yang lagi berdiam diri berdiri kikuk didekatnya. Didekapnya tubuh seksi gadis belia yang montok ini (‘semok’ kata kalangan orang gaul disana…), dikecupnya lembut pipi kiri Rina diteruskan dengan kecupan bibir pada pipi kanannya serta berbisik pelan agar Rani tidak bisa mendengarkannya. “Santai saja… sayang… tidak usah khawatir… ini kan masih didalam rumahnya bu bidan Atik toh…”, kata pak Damarto membujuk Rina yang rada gelisah ini.

Yang dibisiki sih… tidak terlalu fokus pada kata-kata pak Damarto, tetapi lebih tertuju atas perlakuan pria ganteng ini pada dirinya. ‘Ooohh… jadi juga aku merasakan dicium cowok… pantes teman-teman cewek-ku tidak bosan-bosannya membicarakannya, sampai… malah aku menjadi bosan mendengarkan celotehan mereka begitu-begitu saja, jadinya…!’.

Pak Damarto kemudian mencium lembut dan melakukan FK sebentar saja pada Rina… ‘Apa ini yang disebut ciuman yang sesungguhnya? Oooh ternyata… menyebabkan aku jadi mabuk kepayang… nih…! Ooohhh.. pak Damar lakukan sesuka hatimu, sayang… aku akan menerimanya dengan… pasrah…! Mana susu-ku pake tersenggol-senggol oleh badan tegapmu…’ <seerrr…!> ada semprotan kecil yang keluar dari dalam vagina-nya yang langsung melicinkan sebagian besar permukaan pada lorong gua nikmat dalam vagina-nya itu…

Pak Damarto ‘menggiring’ tubuh sintal Rina yang masih dalam dekapannya menuju pinggir tempat tidur dan… kemudian mendorong dengan lembut tubuh gadis belia ini sehingga terjatuh dengan pelan… terlentang diatas tempat tidur dan kaki-kaki mulusnya masih menjuntai kebawah ditepian ranjang itu. Pak Damarto ikut berbaring tetapi tidak menindih tubuh Rina, melainkan berbaring miring kekanan menghadapi Rani. Sembari mengecup lembut pipi kiri Rina dan berbisik. “Sayang…! Santai saja… tenangkan hatimu… dengan memejamkan mata indahmu ini, dan… percayalah kamu nanti akan merasakan sensasi nikmat yang belum pernah kamu rasakan…! Percayalah…! Bapak akan ngomong sebentar sama Rani… yang kelihatannya lebih gelisah darimu…”.

Segera pak Damarto ingin bangun… tapi keburu lengannya dipegang oleh tangan mungil Rina. “Pak… jangan lama-lama ya… kan sekarang gilirannya Rina… sudah nggak tahan lagi nih… pengen ngerasain digituin…!”, kata Rina manja dan pasrah.

Setelah melepas pegangan tangannya pada lengan pak Damarto, Rina kembali berbaring telentang pasrah sambil memejamkan pelupuk matanya kembali sambil… menunggu kelanjutan apa yang terjadi atas dirinya nanti… Rina yang sudah dirundung birahi ini… dengan pasrah!

Pak Damarto sekarang mendekati Rani, dilihatnya 2 buah kancing atas pada baju seragam sekolahnya sudah dibuka dengan sengaja oleh Rani sendiri, mempertontonkan bagian atas payudara remajanya dan BH tipis yang berwarna pink muda bergaris-garis merah. Rani memang agak centil tetapi dia bukanlah termasuk tipe gadis yang genit apalagi sebagai wanita yang exhibitionist. Ini dikarenakan Rani terlalu mudah sekali ikut larut dalam suasana disekitarnya, itu saja… Kalau dia tidak pintar-pintar mengendalikan emosi negatif-nya ini, kelak… malah merugikan dirinya sendiri!

(NB: exhibitionist = suka memamerkan bagian tubuh yang telanjang)

Segera pak Damarto mendekap mesra tubuh sintal ABG ini sambil melancarkan FK yang lumayan seru… yang disambut Rani tanpa canggung… atau berusaha tidak terlalu canggung kelihatannya. Pak Damarto jadi terkesiap hatinya, menerima sambutan sangat hangat dari ABG ini.

“Rupanya… kamu sudah ada pengalaman ya… sayang…?!’, setelah melepaskan tautan FK-nya sejenak dan berbisik pelan di telinga kanan Rani.

“Tidak juga pak…”, jawab Rani masih terengah-engah napasnya. “Ini pengalaman Rani untuk pertama kalinya…! Tadi malam Rani ikut nonton filem bokep dirumah temannya Rani… tetapi bukan si Rina loh…!”, kata Rani yang menghentikan perkataannya, eh… malah dia yang nyosor duluan dan mengajak pak Damarto untuk melanjutkan FK seru yang dihentikan tadi.

‘Wah… gawat nih… kok Rani jadi agresif sekali sekarang…?!’. Pak Darmato mengikuti apa yang diinginkan ABG ini, untuk 10 detik lagi dan segera melepaskan tautan bibirnya dan berbisik lagi di telinga Rani. “Ran… nanti kamu bantu bapak untuk… melucuti CD-nya Rina, setelah itu bila situasi-nya memungkinkan… tolong buka baju seragam Rina… pokoknya sampai Rina bertelanjang dada seutuhnya…! Bisa kan… sayang…?”, bisik pak Damarto, membujuk Rani untuk membantunya.

“Apa yang pak Damar inginkan… akan Rani jalankan, tetapi pak… Rani duluan deh… yang ‘digituin’! Rani sudah keburu nafsu nih… sedari malam tadi… gara-gara nonton filem bokep tuh…!”, pinta Rani penuh nafsu birahi remaja ting-ting dan… penuh dengan harap-harap cemas!

“Oke jangan khawatir sayang…! Lebih baik Rina duluan, kan… bakalan dibantu kamu, sebab kalau kamu yang duluan, bisa-bisa… Rina kabur keluar dari kamar ini, melihat… kita lagi berasyik-masyuk seru, betul nggak…?!”, kata pak Damarto terus membujuk rayu Rani yang keburu sange ini.

Mereka berdua (pak Damarto dan Rani) berjalan mendekati Rina yang berbaring terlentang dengan pasrah. Segera pak Damarto berbisik dekat kuping sebelah kiri Rina, “Kamu sudah tenang kan sayang… pokoknya kamu diam saja… terima nikmat saja! Biar… bapak yang melakukan itu semuanya… untukmu!”. Pak Damarto memberi kode pada Rani untuk memulai aksi bantuannya. Kemudian pak Damarto berbisik lagi pada Rina, “Angkat pinggul mulusmu keatas sebentar sayang…”. Rina mengangkat pinggulnya keatas.

Dengan cekatan Rani melucuti CD Rina dengan menarik CD itu kebawah serta meloloskannya lewat kaki-kakinya Rina. Sedetik kemudian CD itu sudah dilempar Rani ketengah-tengah diatas tempat tidur.

Pak Damarto sudah berlutut didepan vagina mulus segaris vertikal halus dan masih klimis, rupanya bulu pubis-nya agak telat bertumbuhnya. ‘Kebetulah…!’, pikir pak Damarto senang dan memandang kagum pada vagina mungil yang mulus milik Rina ini… mana kulitnya yang bersih berwarna kuning langsat serta warna labia mayor (bibir luar vagina) mulus sekali berwarna maroon sangat muda… indah sekali… membangkitkan gairah birahinya seketika.

Tanpa membuang waktu lagi, segera pak Damarto membuka tautan labia mayor-nya yang langsung memperlihatkan kelentit mungil Rina yang sekarang sudah terlihat jelas… bebas dari segala hambatan! Disapukanya ujung lidah kesatnya pada sekujur permukaan kelentit mungil itu. Terlonjak-lonjak pinggul mulus sang gadis perawan ini merasakan sensasi nikmat yang baru pertama kali dalam hidupnya, disertai desahan pasrah penuh birahi dan protes kecil yang tidak terlalu serius diucapkan… hanya asal dan sambil lalu saja.

“Aduuuhhh pak! Geli… eeh… bukan ding…! Kok bisa enak sekali sih…? Itu kan jijik… pak! Aaahh… enakk… bener! Aah… sebodoh amat aahhh! Pokoknya Rina sudah kasih tahu… terus pak…!”.

Ini telah berlangsung dan mulai memasuki menit yang ke-7.

Pak Damarto tidak berkeinginan memberi komentar, sebab kalau dia berbicara maka harus dihentikan sejenak oral-seks ini, dan sensasi nikmat yang lagi dirasakan sekarang oleh Rina, akan terputus… ini yang tak diinginkan pak Damarto samasekali! Terserah Rina mau mengeluh, mendesah bahkan mau menjerit sekalipun tidak jadi masalah… yang pasti oral-seks tidak akan berhenti, sampai… mencapai tujuan yang dikehendaki oleh semua pihak yang terlibat didalamnya, yaitu…

“Udah-udah… udah deh pak! Rina mau kencing nih jadinya! Pak… sayang…! Dengar nggak sih…! Aaahh…”, Rina menghentikan celotehnya seketika, karena dilanda rasa amat sangat nikmatnya! Nikmat yang yang baru pertama kali dirasakannya, walaupun dia termasuk gadis yang suka sekali bermasturbasi… hampir setiap harinya… kecuali kalau pikirannya lagi fokus ke hal-hal yang lainnya dahulu. Terhenyak sudah tubuhnya lemas bagaikan tak bertulang… Rina mendapatkan orgasme perdana-nya di siang hari ini…!

Sekarang pak Damarto mengalihkan perhatiannya pada Rani… “Oooh… bukan main!”, terlontar perkataan pak Damarto seketika… spontan saja. Terkesiap hatinya… bagaiman tidak…?! Rani yang cekatan, sudah berbaring terlentang mengikuti posisi posisi tidur Rina, teman akrabnya. Yang menjadikan pak Damarto tercekat hatinya, adalah… Rani berbaring terlentang bertelanjang bulat! ‘bukan main… deh! Indah sekali tubuh telanjang Rani ini, si perawan ting-ting… yang nekat! Terserah mau diapakan tubuh telanjangnya ini… dia akan menerimanya dengan sangat pasrah…!

Beruntung bagi Rani sebenarnya… pak Damarto bukanlah tipe orang yang suka memperkosa wanita… baik yang muda maupun yang perawan ting-ting sekalipun…! Kalau tidak… 5 menit kemudian Rani sudah dapat dipastikan, Rani sudah tidak bisa menyandang gelarnya lagi, yaitu ‘perawan ting-ting’…!

Pak Damarto adalah tipe orang pemuja kenikmatan bagi semuanya yang terlibat ngeseks dengannya…!

Langsung saja pak Damarto menindih dengan lembut tubuh sintal perawan ting-ting yang bertelanjang bulat dan pasrah 100% ini. Terjadi lagi FK yang lebih seru di siang hari ini… diatas tempat tidur milik bu bidan Atik… Melepaskan tautan lidahnya dan menghentikan FK ini untuk memberi kesempatan pada mulutnya yang gasang ini menyelusuri tubuh indah ABG ini, dan ngetem sebentar didekat puting mungil berwarna maroon muda, yang terletak dipuncak bukit mulus payudara Rani di bagian dada sebelah kanan. Habis sudah bukit indah yang mengerucut pada puncaknya ini, menjadi ajang untuk berselancar ria ujung lidah pak Damarto yang kesat ini. Sensasi nikmat yang baru pertama kalinya dalam hidupnya dirasa oleh Rani… mengundang desahan-desahan lirih dari mulutnya mungil. “Ooohhh pak… sayangku… nikmat sekali… ayooo dong pak…! Dimasukin aja! Seperti dalam filem bokep yang Rani tonton kemarin malam itu… Nikmat sekali! Pokoknya rela deh… kehilangan keperawanan Rani… sodok aja jangan ragu-ragu, ya paak…!”, celoteh nekat sang ABG ting-ting.

Pak Damarto tidak menghiraukan keluh desah penuh kenikmatan dari Rani ini… malah mulutnya menyelusuri kearah bagian tubuh bawah sang ABG pasrah ini. Sambil selusurannya bergerak kebawah, dia hanya menjawab Rani dalam hatinya. ‘Seandainya saja kau tahu apa akibatnya dari permintaan nekatmu sayang… kau akan kesakitan dan aku juga akan merasakan sakitnya juga… seandainya aku ikut-ikutan menjadi bodoh menuruti segala permintaanmu yang konyol ini…! Kau bahkan akan trauma kelak bila diajak ngesek dengan kekasih hatimu kelak. Pokoknya nikmati saja ngesek aman bersamaku… seperti ini…!’.

Sampai juga selusuran mulut gasang pak Damarto, sempat-sempatnya juga ‘mampir’ sejenak di pusar indah pada perut datar, mulus kuning langsat itu. Segera membuka sedikit tautan labia mayora vagina klimis milik Rani membangkit gejolak gairah yang mulai membara… Rupanya vagina mungil ini sudah membasah sedari tadi rupanya. Proses oral-seks pun dimulai, Rani hanya bisa menggoyang-goyang pinggul remajanya tanpa mampu lagi mengeluarkan keluh desahnya… Rani hanya diam saja merasakan nikmat akibat mulut gasang pak Damarto yang dipandang Rani sebagai pria mateng yang ganteng ini.

Oral seks ini hampir tidak berbeda jauh dengan durasi oral seks yang dilakukannya sama Rina barusan tadi. Dan oral seks ini sudah berlangung sekitar 7 menitan lebih sedikit. Keluar juga seruan nikmat, yang dilantunkan lewat mulut mungil ABG ini… “Pipis… deh aku jadinya! Aaah…”, diikuti dengan semprotan kecil cairan klimaksnya… <seerrr…!> <Seerrr…!> Rani mendapatkan orgasme perdana-nya akibat ulah nakal lidah sang pecinta ‘old crack’ ini, mengantarkannya sejenak ke alam antah-berantah di siang hari ini…

Pak Damarto mengambil saputangan dari saku pantalonnya dan menyeka wajahnya yang basah. Dia menolehkan wajahnya kearah… Rina… ‘Ya… ampun! Rina sudah bertelanjang bulat juga!’.

Tahu bahwa dia tengah dipandangi oleh kekasih ‘old crack’-nya, Rina buru-buru berbaring terlentang, agak ketengah tempat tidur, sehingga kaki-kaki tidak menjuntai lagi. Bahkan Rina mengangkang dengan cara melebarkan regangan pahanya sejauh mungkin kesamping. Rupanya Rina menyaksikan dengan diam-diam tadi sampai selesai… Rani mendapatkan orgasme perdana-nya.

Dalam pikiran Rina sekarang adalah… kini saatnya dia akan digituin! ‘Selamat jalan perawan-ku…!’, pikir Rina pasrah.

Segera saja pak Damarto memulai ronde ke-2 yang proses dan urutannya sama dengan ronde pertama tadi. Kurang lebih 7 menitan berlalu… Rina mendapatkan orgasme-nya untuk ke-2 kalinya, kali ini lebih hebat efeknya… langsung mengantarkan Rina ke alam antah-berantah… mudah-mudahan pada negeri yang sama dengan dimana Rani berada sekarang…

Kaku sudah otot-otot rahangnya setelah melakukan 3 kali proses oral seks komplit secara berturut-turut tanpa henti, buru-buru pak Damarto keluar dari kamar tidur ini, meninggalkan kedua ABG yang bertelanjang bulat dan sedang tidur dengan raut wajah penuh kepuasan seks…

Pak Damarto tiba diruang tengah dan duduk melepaskan penat sembari minum teh manis yang sudah mendingin sedari tadi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*