Home » Cerita Seks Ayah Anak » Keluarga Pak Trisno

Keluarga Pak Trisno

Ah, sial… Biang kerok dari semua ini adalah gubernur usil itu.. komisi sekian M yang seharusnya sudah didepan mata terpaksa harus melayang. Sudah bagus kalau hanya sekedar melayang tanpa adanya imbas lain yang bakalan menyulitkan diriku.

Sebagai pejabat tinggi dari sebuah instansi kementerian yang menangani masalah pendidikan, sudah barang tentu diriku juga memiiki kaitan dengan proyek pengadaan perangkat kebutuhan pendidikan itu. UPS, entah binatang apa lagi itu..melihat wujudnyapun aku belum pernah.

Bagaimana seandainya aku diangkut ke Kuningan..itu artinya mimpi buruk. TRISNO BUDIYANTO,45 TAHUN.. SEORANG PEJABAT BLA..BLA..BLA..DIPERIKSA KPK, KARENA BLA..BLA..BLA.. pasti akan seperti itu yang diberitakan disurat kabar atau televisi. Ah, akan ditaruh dimana mukaku seandainya itu benar-benar terjadi..dan bukan hanya itu, bisa jadi komisi-komisi lainnya yang telah aku terima beberapa tahun belakangan juga akan diungkit, yang semuanya entah sudah berapa M kalau dijumlahkan.

Tapi aku masih bisa sedikit bernafas lega, setidaknya lembaga itu kini tengah dilumpuhkan. Itu artinya kasus ini akan ditangani kepolisianÔǪ Ah, untuk lembaga yang satu ini, dengan sedikit mengorbankan uang yang aku miliki, semuanya beres…bisa diatur. Jadi tak ada alasan bagiku untuk memusingkan otakku dengan hal yang satu itu.

Sore ini aku hanya menggelosor diatas sofa sambil pandanganku menatap malas pada hamparan gambar bergerak yang sedari tadi menayangkan berita, sebelum akhirnya terdengar deru kendaraan dari arah depan rumahku.

Dari sebuah mobil Toyota Alpard berwarna putih yang deikemudikan oleh sopir pribadiku, keluar sesosok mahluk manis dengan langkahnya yang ringan dan lincah..dia adalah putriku, Nanda, berusia 16 tahun, seorang siswi kelas 1 SMU.

” Selamat sore papa… Emuaahh…emuaahh…” seperti biasa, gadis yang selalu manja denganku ini mencium kedua pipiku disaat pulang atau berangkat kesekolah.

” Sore Nanda sayaaang…koq sesore ini baru pulang..kemana aja sih..?”

” Biasa pa..tadi kan latihan vocal dulu sama temen-temen Girl-Band disekolah Nanda…” dengan tanpa sungkan dirinya duduk dipangkuanku, menghempaskan bokongnya yang masih dibalut rok abu-abu diatas pahaku. Ah, dasar anak manja..apakah dia tidak menyadari, bahwa dirinya bukanlah lagi anak balita yang masih pantas untuk berlaku seperti ini.

” Girl-Band? kamu main band? Emangnya kamu bisa main alat musik…” godaku

” Ah, papa itu kuper banget sih..gaptek ahÔǪ Girl band itu kelompok cewek-cewek nyanyi yang sambil ngedance itu lhoÔǪ kan di tivi juga sering adaÔǪ itu lho.. yang cibiÔǪcibiÔǪÔÇØ terangnya, sambil mencubit kedua pipiku dan mengguncang-guncangnya dengan gemas.

Sebenarnya diriku tidaklah kuper-kuper amat. Aku juga tau dengan apa yang dikatakan Girl-band oleh anak gadisku itu. sekumpulan gadis-gadis berpenampilan imut bak boneka Barbie yang menyanyikan lagu secara bersamaan sambil melenggak-lenggokan tubuh mereka. dan penampilan mereka itu persis dengan gadis yang ada didepanku sekarang ini. Rambut lurus panjang sepundak, disemir agak pirang, dengan poni menghias keningya. Dan diatas matanya yang bulat bercahaya itu berbaris dengan rapinya bulu mata yang begitu lentik, persis seperti boneka terlebih dengan kulitnya yang putih mulus bak patung lilin, hidung bangir, dan bibirnyaAh, bibir tipis yang saat ini sedang dimonyong-monyongkan kearahku itu memang sungguh menggemaskan.

Diriku yang hanya mengenakan celana pendek membuat paha kami saling menempel, karna rok abu-abunya yang hanya setinggi diatas lutut itu tersingkap dengan posisinya yang seperti ini. Dingin kurasakan kulit paha yang putih mulus itu, sepertinya efek perpindahan kalor oleh AC dari dalam mobil masih terasa pada tubuhnya.
Dan, mengapa benda dibalik celana pendekku ini seperti mengalami perubahan bentuk. Sadar Tris.. itukan anak kandungmu sendiri, masih kurang puas kamu dengan istrimu yang cantik itu, belum lagi beberapa wanita muda yang pernah kamu tiduri dengan sedikit mengorbankan ÔÇ£uang recehanÔÇØmu. Ya, aku tau..tapi? Ah, Mengapa juga bocah ini justru menggoyang-goyangkan bokongnya, apakah dia menyadari dengan batang penisku yang mulai berdiri tegak ini. Ah, aku rasa itu hanya perasaanku saja.

 Mama sama Doni kemana pa? koq kayaknya sepi-sepi aja. Tanyanya, seraya tubuh itu turun dari pangkuanku. Oh iya, Doni yang dimaksud putriku ini adalah anak keduaku, adiknya Nanda, yang usianya terpaut dua tahun dibawahnya, dia masih duduk dikelas 2 SMP.

ÔÇ£ Mama sama Doni ke Bandung.. menghadiri pernikahan anaknya Tante Wiwik..ÔÇØ

ÔÇ£ Koq, papa enggak ikut? ÔÇ£

 Papa kan kerja, lagian kerjaan papa kali ini gak bisa begitu saja untuk ditinggalkan

ÔÇ£ Kapan mereka pulang?ÔÇØ

ÔÇ£ Gak tau juga sih.. acaranya resepsinya saja baru besok.. kemungkinan lusa mereka sudah kembali..ÔÇØ

 Jiaaahhh bolos dua hari tuh si Doni..enak banget tuh anak..

Seraya dirinya ngeloyor dari hadapanku,menapakan kaki indahnya diantara anak-anak tangga menuju lantai atas. Ah, tubuh itu…betapa sempurnanya.. Ngidam apa dulu istriku hingga melahirkan anak sesempurna dia, postur tubuh yang ideal, tidak terlalu kurus, apalagi kegemukan, bokongnya padat serta naik keatas, tidak turun atau tepos. Buah dadanya yang masih dalam fase pertumbuhan tidak bisa dibilang terlalu besar, tapi seragam putihnya yang agak ngepres membuat kedua gunung kembar itu membusung menantang.

Tentu saja kekagumanku itu hanyalah sebatas kekaguman seorang ayah yang mempunyai putri sesempurna dia, bukanlah jenis rasa kagum seorang pria terhadap lawan jenisnya.. Ah, yang benar kau tris? Tapi mengapa batang jakarmu tadi ikut berdiri saat putrimu itu menindihinya..? Tentu saja batang jakarku berdiri, karna bokongnya bergoyang-goyang diatas jakarku, bukankah itu normal..itukan merupakan reaksi alami dari suatu organ tubuh saat menerima rangsangan. Alaaahh…alasan, lalu mengapa saat istrimu meremas-remas jakarmu dia tidak berdiri? justru malahan kau tertidur memunggunginya… Itukan karna aku sedang enggak mood..sedang capek..biasanya juga gak begitu koq.. kehidupan seks kami tak ada masalah, kami tetap rutin melakukannya walau hanya seminggu sekali. Owwhh..waktu itu sedang enggak mood ya…terus saat putrimu nangkring diatasnya justru moodmu itu timbul..begitu? Ah, terserah apa katamu lah.

********

Sepeninggalan istriku ke Bandung, praktis aku hanya seorang diri dikamar tidurku ini. Sebenarnya tak enak juga harus tak hadir pada pernikahan keponakanku itu. Tapi bagaimana lagi, pekerjaan yang mengharuskan keberadaan diriku tidak bisa dihindari.

Fuhhh…seandainya malam ini ada istriku, pasti libido yang tengah memuncak ini bisa tersalurkan. Ah, mengapa justru pada saat istriku tak ada ini terjadi..? Apakah..? ah tidak.. ini bukan karena Nanda, bukan anak gadisku itu yang memancing libidoku ini. Tapi? Tapi mengapa pikiran ini selalu membayangkan dirinya sejak sore tadi, masih kurasakan paha mulusnya menempel pada pahaku, begitu pula dengan bokongnya yang menekan-nekan penisku. Dan bahkan barusan tadi mengapa justru aku membayangkan berhubungan badan dengan dia, membayangkan bagaimana bibir yang tipis itu, yang sore tadi dimonyong-monyongkan dengan gemas sambil mencubit pipiku, dan itu hanya beberapa senti saja didepan wajahku, sehingga hangat hembusan nafasnyapun dapat kurasakan. Ah, seandainya bibir mungil itu kupagut.. Dan buah dadanya itu akan kuremas, dan putingnya, yang pastinya masih begitu kecil dan berwarna pink akan kujilat,kukulum… Lalu, yang dibalik rok abu-abunya itu…Ah, tentu saja itu hanyalah hayalan konyol belaka…yang seharusnya itu tak patut singgah didalam pikiranku. Sebaiknya kubuang jauh-jauh hayalan gila itu..huss..husss…

********

Dok..dok..dok… Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku, siapa lagi itu?dirumah ini hanya ada Tini pembantuku, dan Nanda. Ah, paling-paling Tini, janda 30 tahun itu kerap minta ijin keluar pada jam-jam seperti ini, entah itu hanya sekedar ingin ngerumpi dengan teman seprofesinya, atau ingin pacaran dengan satpam komplek.

” Buka aja pintunya…gak dikunci…” teriakku, setelah terlebih dulu mengecilkan volume tv melalui remot kontrol.

Pintu terbuka, diikuti dengan sesosok tubuh yang langsung masuk kedalam dengan wajah murung.

” Baru jam sembilan koq udah mau tidur pa….?” Ternyata dugaanku salah, sosok yang baru saja nyelonong masuk kedalam kamarku ternyata adalah Nanda.yang saat itu mengenakan atasan tank-top dan celana pendek hot-pan. Tapi yang membuatku sedikit heran adalah sikapnya itu..Kemana anak gadisku yang biasanya lincah, periang, dan terkadang sedikit ngocol. Sepertinya anak ini sedang memiliki masalah.

” Tumben…enggak biasanya kamu dateng kekamar papa.. Ada apa nih? Koq keliatannya galau begitu ”

” Emang lagi galau pa…” jawabnya, kali telah duduk dibibir ranjang dengan membelakangiku.

” Iya, galau kenapa? Cerita dong…barang kali papa bisa bantu…”

” Si Riko tuh pa….cowok aku.. Katanya akan selalu setia, sehidup sematilah… Nyatanya.. Barusan si sherli nelpon, bahwa si Riko jalan dengan cewek lain… pantesan akhir-akhir ini dia dingin banget sama NandaÔǪ” paparnya dengan penuh emosi, kali ini telah menghadap kearahku, dan kedua kakinya kini telah dinaikan diatas tempat tidur.

” Makanya..kan sebelumnya papa sudah pernah bilang…kamu tuh masih terlalu muda..gak usah pacaran dulu.. Tapi malah kamu bilang apa… Ah, inikan cuma untuk penyemangat belajar aja pa… Nah, sekarang kamu liat sendirikan..disaat terjadi konflik, kamu uring-uringan begini.. Lalu selanjutnya gimana…?”

“Selanjudnya? Ya aku putusin… Barusan aku telpon dia…aku maki-maki..gak bisa ngomong dia..mau rasanya aku cakar mukanya tuh anak…” Ekspresi wajahnya semakin emosional, Ah, anak gadisku ini, dalam marahnyapun dia masih terlihat cantik, pipinya yang putih dan licin tampak memerah karena emosi, sedang bibir bawahnya digigit-gigit menahan geram.

” Eiittt..sudah..sudah… Anak papa yang manis kenapa jadi marah-marah begitu sih…”

” Abis gimana enggak marah sih..aku kan…aku kan…aku kan…aaaeeeeeeeeeng…” Ah, dasar anak ini memang manja dan kekanak-kanakan, akhirnya cuma menangis seperti anak kecil inilah yang dia bisa.

” Eeehh..koq malah nangis kayak gitu sih…gak malu apa kamu.. sudah sini..sini..anak manis..sini sayang..cuup..cuup..ÔÇØ tangan kiriku meraih tangannya, sedang tangan kanan kugunakan untuk membelai rambutnya. Tapi..Ah, mengapa anak ini justru ikut berbaring dan memeluk tubuhku..bahkan pipi kanannya disandarkan pada dadaku.. Bukan ini sebenarnya yang aku inginkan, niatku tadi hanya ingin meremas tangannya dan membelai rambutnya agar dia sedikit tenang, itupun dalam keadaan dia sedang terduduk tadi, bukannya dengan kami sama-sama berbaring seperti ini.

Dan, Ah..kaki kirinya justru diselempangkan diatas pahaku. Waktu dia masih SD dulu memang ini bukanlah suatu masalah bagiku, tapi yang sekarang ini adalah seorang gadis remaja. Tapi itukan anakmu Tris, darah dagingmu iya, aku tau, dan bukannya aku tidak berusaha untuk melawan perasaan celaka ini, sekarangpun aku tengah mencoba mengusirnya dari kepalaku.

Beberapa menit telah berlalu. Baju piyamaku sepertinya telah basah oleh tetesan air matanya. Tangisnya yang sebelumnya meraung-raung, kini hanya menyisakan sesengukan dan beberapa kali suara sedotan hidungnya.
Aku hanya membelai-belai rambut lurusnya sambil tatapanku tertuju pada layar televisi.

Selang beberapa menit, akhirnya bocah ini menghentikan tangisnya, seraya menyeka sisa air mata diwajahnya dengan baju piyamaku. Lalu diam melamun, entah apa yang sedang dipikirkannya.

 Papa benar.. memang seharusnya Nanda gak usah pacaran celetuknya tiba-tiba.

 Bukan gak boleh pacarantapi belum waktunya, nanti kalau kamu sudah cukup dewasa dan bisa mengambil keputusan yang dapat kamu pertanggung jawabkan.. belum lagi habis yang kukatakan, langsung dipotongnya ucapanku.

 Enggak.. pokoknya, mulai sekarang Nanda gak mau pacaran. Ah, dasar anak-anak, saat sedang putus cinta dia berkata begitu, tapi nanti begitu ada pria lain yang menarik hatinya, tentu sudah berbeda lagi ceritanya..dasar cinta monyet.

 Ya udahterserah kamu lah.. jawabku untuk sekedar menenangkannya.

Tangisnya sudah reda, dan semua keluhannya telah diungkapkan tapi mengapa belum juga dirinya beranjak dari sini, jangankan beranjak dari ruangan ini, bahkan posisinyapun masih seperti tadi, posisi memeluk diriku yang berbaring telentang, dengan kaki kirinya yang dikaitkan diatas pahaku. Dan sambil melamun jemari lentiknya memain-mainkan kancing piyamaku.

Dan mengapa lututnya menyentuh-nyentuh batang jakarku.. Ah,mungkin itu bukan suatu kesengajaan, tapi mengapa terus menerus dan secara intens… Paling-paling dia hanya iseng, namanya juga anak-anak. Kebiasaanku saat tidur yang selalu tanpa mengenakan lagi celana dalam, sehingga dibalik celana setelan piyama yang berbahan katun ini sudah tak ada lagi yang melindunginya.

Ah, celaka…sepertinya anak ini memang sengaja, terlebih saat dia menyadari benda dibalik celanaku ini berangsur menegang.. Itu kusadari dari senyum yang mulai menghiasi wajah yang baru beberapa menit lalu masih murung itu.

” He..he..he…dede’nya bangun…” Astaga, apa maksud perkataannya itu.

” Dede’ apaan?” kagetku, memastikan maksud perkataannya itu..

” ini…” jawabnya dengan cengengesan, sambil meremas lembut batang jakarku yang masih terbungkus setelan piyama.

” Nanda…apa-apaan sih kamu…gak pantes dong sayaaang…kamu kan udah gede…” ujarku mengingatkan.

” Apa sih papa.. orang cuma begini aja koq…” rajuknya, dengan wajah cemberut
Untuk beberapa saat dia hanya terdiam, sedang aku masih berpura-pura menonton tivi, namun tidak dengan pikiranku.

Namun itu hanya beberapa menit, karna setelah itu

” Dooott…Dooott… Roti..Roti…” godanya, sambil meremas penisku seolah itu adalah klakson karet tukang roti.

” Nandaaaaa…” ujarku, yang hanya dijawab dengan tawanya yang renyah

” Teeeett…Teeeettt….Es…Es…” ulangnya lagi, sambil diikuti dengan tawanya yang semakin cekikikan.

” Sudah dong Nanda… Iiiihhh..nih anak ” gemasku, sambil memencet hidungnya yang bangir. Ekspresiku yang seolah sedang menahan tawa, diartikan sebagai sebuah pembolehan olehnya. Pembolehan untuk melakukan hal yang diinginkannya itu, sehingga kini malah diremas-remasnya dengan lembut batang penis yang masih terbungkus dalam celanaku. Kali ini aku tak kuasa lagi untuk melarangnya, Ah..aku justru menikmatinya.

” Emang kalo digini-giniin masih bisa tambah gede lagi ya pa…? ” tanyanya, seolah tanpa dosa.

” Tau, ah…” jawabku dengan ketus, sambil berpura-pura seolah perhatianku masih tertuju pada layar tivi. Sial,dia pikir ini barang mainan apa, entah dengan cara apa lagi aku melarangnya.

” Eh, iya pa…tambah gede nih pa..hi..hi..hi…” dengan mengetahui benda yang diremasnya mengalami perubahan ukuran, sepertinya bocah ini semakin tertarik dan bersemangat meremasi batang penisku.. tak terlihat sama sekali tanda-tanda bahwa beberapa menit lalu dirinya baru saja menangis tersedu-sedu.

Kini dia bangkit dari posisi tidurnya, lalu jongkok menindihi pahaku dengan posisi mengangkang didepanku…Dan..Ah, apa lagi itu yang dia lakukan.

” Nanda..jangan..aaahhh…” tangan anak gadisku kini telah menelusup masuk kedalam celanaku yang memang hanya menggunakan karet kolor yang elastis. Dan, tangan mungil itu kini telah menggenggam batang jakarku tanpa aku mampu berbuat apa-apa.

” Nann..da..kamu..nakal baa..nget..ssiihhhh…” aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa, seolah diriku tengah berada dalam cengkramannya, sehingga aku hanya bisa menikmatinya.

” Enak ya pa? ” Aku tak menjawab apa yang ditanyakan itu, kecuali hanya menatapnya dengan tatapan mataku yang sayu dan nafas yang tersengal.

” Dikocok-kocok ya pa? ” kembali aku tak menjawab, membiarkan dirinya yang mulai mengocok-ngocok penisku secara berirama.

” Dibuka sekalian aja lah, celananya…” tanpa menunggu persetujuanku, langsung saja dipelorotkannya celanaku hingga sebatas paha.

” Woooowwwww….gede banget pa… Mana tegang banget lagi..hi…hi..hi…” mata yang bulat bercahaya itu semakin berbinar melihat penisku yang berdiri tegak, dan kembali aku hanya bisa diam tanpa tau untuk bersikap seperti apa, nafsu birahi semakin menguasaiku, ingin rasanya kuterkam darah dagingku yang menggemaskan ini, tapi kegilaan dan keberanianku belum sampai sejauh itu.

Batang penisku yang berdiri tegak diamat-amatinya, bagaikan anak kecil yang baru saja menerima mainan barunya. Kedua telurku kadang dipencetnya hingga aku terpekik, atau urat-uratku yang menonjol dirabanya dengan heran, bahkan lubang kencingku disibaknya seolah mencari sesuatu.

Tiba-tiba kedua telapak tangannya diludahinya sendiri, lalu sekaligus dengan dua tangan dikocoknya penisku, ukurannya yang panjang dan besar memungkinkannya untuk melakukan seperti itu.

Sloopp…slloop..sloopp… Cairan ludah yang melumuri menghasilkan bunyi yang berirama saat kedua tangan itu bergerak naik turun. Sambil melakukan aksinya itu dia menatapku, seolah ingin mengetahui reaksi yang aku berikan. Wajah itu tampak tersenyum saat mengetahui reaksiku yang memang begitu menikmatinya.

” Iihh…papa keenakan tuuuuhhh…hi..hi..hi…” godanya, kini aku jawab dengan mengusap lembut paha mulusnya. kali ini bukan usapan kasih sayang seorang ayah, melainkan usapan seorang laki-laki yang tengah birahi atas lawan jenisnya.

” Zzzzzzzz…aaaauugghhhhh….Nandaaaa..keter..lalua n bang..nget sih..ka..mu. aahhh..” Erangku, Paha putih mulus yang sebelumnya hanya kuusap kini telah kuremas, hingga akhirnya aku tak tahan dengan kocokan lembut tangannya pada penisku.. Dan..

” Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhh….Nandaaaaaaaaa……” semprotan sperma muncrat dengan hebatnya, yang membuat anak gadisku terpekik kaget oleh sebagian cairan kental yang memuntahi wajah imutnya. Rasa kagetnya itu hanya sesaat, disusul dengan tawa cekikikannya seolah itu adalah sesuatu yang lucu baginya.

” Waaa…ha..ha…ha…. Nyemprot mek….gile beneeerr.. Ini yang namanya sperma ya pa..?” ujarnya sambil mengamati cairan kental yang melumuri tangannya. sesekali diciumnya untuk mengetahui aromanya, lalu diamati lagi sambil diraba-raba dengan ibu jari dan telunjuknya.

” Duuhhh…muka Nanda jadi belepotan begini tuh pa….”

” Biarin…biar tau rasa.. Dasar anak nakal….” godaku, yang kini hanya berbaring puas karna puncak kenikmatan yang telah kuraih.

” Ah, gak apa-apa koq pa… Baunya koq begini sih…agak amis-amis gitu… Rasanya kayak apa ya?” Ah, dasar…jari telunjuknya yang masih belepotan pejuku itu malah diemutnya. dikenyam-kenyam sebentar, lalu ditelannya tanpa rasa jijik.

” Mmmmm…Agak asin-asin gimanaaa gitu…” komentarnya, bagai tengah mencicipi suatu masakan.

” Jorok kamu…”

” Biarin aja….”

Beberapa saat kemudian disekanya wajah yang belepotan peju itu pada piyamaku, lalu dinaikan kembali celanaku yang sebelumnya dipelorotkan hingga sebatas lutut.
” Udah ya….dede’nya boboÔÇÖ dulu ya…Nanda juga mau bobo’…” ujarnya seolah berbicara pada batang penisku yang sudah setengah tertidur.
” Pa…udah ya…Nanda mau bobo’ dulu…muaahhhh..” Bocah itu akhirnya kembali kekamarnya setelah memberiku sebuah ciuman padaku, Bukan ciuman pada pipi kiri dan kanan seperti biasanya.. malainkan pada bibirku.

Seperti biasanya, pukul enam pagi aku telah terbangun. Setelah mandi, sedikit roti untuk pengganjal perut, kubawa segelas kopi yang telah dihidangkan Tini pembantuku kedepan TV diruang keluarga.

Perhatianku kini tertuju pada tayangan berita di Metrotv, walau tidak sepenuhnya…sebagian pikiranku masih teringat pada peristiwa malam tadi, peristiwa dimana penisku dimasturbasi oleh anak gadisku sendiri. Ah, entah lakon apa lagi yang akan terjadi antara aku dan Nanda berikutnya. Jujur belum pernah aku merasakan orgasme senikmat dan sedahsyat malam tadi, hingga spermaku menyembur begitu kuat dan banyak. Entah karena memang sebelumnya aku begitu terobsesi dengannya, dan saat obsesiku itu menjadi kenyataan, birahikupun menjadi begitu meletup-letup, sehingga ketika orgasmepun menjadi begitu nikmat.

Masih terbayang bagaimana menggemaskannya Nanda saat duduk mengangkang dihadapanku sambil mengocok penisku, betapa menggodanya dia saat itu. Ah..seandainya aku bisa memperoleh lebih dari sekedar gosokan tangannya. Tapi? Baiklah,aku kira tidak perlu sejauh itu. Semoga ini adalah yang terakhir, setelah itu semua ini akan tinggal menjadi rahasia kami berdua, selesai.. Bahkan aku berharap peristiwa semalam itu hanyalah sebuah mimpi.

Dari sebelah kananku kulirik sosok gadis remaja menuruni tangga, siapa lagi kalau bukan Nanda anak gadisku itu. Rambutnya masih dalam balutan handuk, sepertinya dia baru saja selesai mandi, dan hanya mengenakan gaun tidur tipis berbahan satin tanpa lengan,. Bahannya yang tipis tak dapat menyembunyikan lekuk tubuh didalamnya yang masih dibungkus lingrie dengan setelan bra berwarna hitam. Sepanjang melangkah, perhatiannya tak pernah lepas dari ponselnya, bahkan sampai dirinya duduk disampingkupun seolah diriku dianggapnya tak ada. Sesekali bibir itu tersenyum sambil menarikan jari-jari lentiknya pada monitor ponsel, dan dengan masih tak memperdulikan diriku, diraihnya cangkir kopi diatas meja, cangkir kopi milikku yang isinya masih tersisa separuh langsung diseruputnya tanpa sisa.

Ah, dasar anak kurang ajar.. dan lebih kurang ajar lagi saat dengan seenaknya meraih remot tv dan menggantinya dengan chanel yang lain. Terpaksa kini perhatianku harus rela tertuju pada tayangan infotement yang masih didominasi oleh berita seputar kematian presenter pria feminim itu.

Smartphone miliknya kini diletakan diatas meja. Sepertinya urusannya dengan ponsel telah selesai. Gaunnya yang tinggi membuat paha mulusnya tersingkap saat dalam posisi duduk seperti itu, terlebih dengan seeanaknya salah satu kakinya dinaikan diatas sofa.

Ditatap sejenak diriku dengan senyum-senyum, entah apa arti senyumnya itu.

” Gimana pa…semalem enak ya?” Ah, pertanyaan apa itu. Sebuah pertanyaan yang meyakinkanku bahwa peristiwa semalam itu memang bukanlah sekedar mimpi. Kujawab hanya dengan menolehnya sesaat, tersenyum, lalu kembali perhatianku mengarah pada layar tv, atau tepatnya berpura-pura nonton tv.

” Eh, ditanyain jugaÔÇÖ… Pa, semalam puas kan? hayo ngaku…” desaknya lagi

” Sok tau…” jawabku, masih dengan sikap sok ja’im.

” Pa…Mau ini enggak? ” Mau ini? Astaga…betapa terkejudnya saat aku menoleh kearahnya. Bagaimana tidak, gaun tipisnya diangkat, mempertunjukan padaku selangkangannya yang masih terbungkus oleh lingrie warna hitam.

” Hi..hi..hi…papa kaget tuuuhhh…abis cuek banget sih..” godanya, seraya menutup kembali gaunnya, mengakiri pemandangan indah dihadapanku, glek…aku meneguk ludah, birahiku mulai kembali bangkit.

” Ayo pa…sini..” Ajaknya, seraya berdiri sambil menarik tanganku.

” Apa sih…” protesku

” Ayo…kita kekamar Nanda… Papa kan tadi malam sudah Nanda puasin…sekarang gantian dong.. giliran papa yang puasin Nanda..” Glek…entah apa yang harus aku lakukan..Ah, masa bodo lah, setelah peristiwa semalam itu, sepertinya tak ada gunaya lagi aku bersikap pura-pura ja’im padanya..lebih baik aku ikuti saja irama permainan ini, ibarat syair lagu dangdut, terlanjur basah ya sudah..mandi sekali.

********

Gadis itu melepas belitan handuk pada kepalanya, seraya mengibas-ngibaskan rambut basahnya yang sepertinya baru saja dikeramas.
Kini aku telah berada didalam kamar tidurnya, dan masih berdiri mematung saat dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang.

” Ayo pa…Nanda dipuasin juga dong…”? Pintanya sambil berbaring telentang

” Mmm..pu..puasin bagaimana? ” Tanyaku gugup

” Si puss Nanda disayang-sayang dong…kayak yang difilm-film begituan itu lho pa…”

” Si puss yang mana? Disayang-sayang bagaimana?” walau secara garis besar aku mengerti apa yang diinginkannya, tapi secara spesifik, terus terang aku belum memahaminya, terutama istilah-istilah yang dipakainya itu.

” Ini lho si pussnya…” jawabnya sambil menyingkap keatas gaunnya hingga memperlihatkan lingrie berwarna hitam.. Glek.. mungkin benda dibalik lingrie hitam itulah yang dimaksudkannya sebagai si puss. bukankah dalam bahasa inggrisnya adalah pussy…tapi kenapa juga disebutnya si puss, aku pikir kucing..ah, dasar anak-anak.

” Ehmmm..iya..tapi disayang-sayangnya seperti apa? ” Tanyaku, yang kini telah duduk dibibir ranjang. Walau nafsu birahiku telah mulai menaik, tapi terus terang diri ini masih gugup.

” Kayak difilm-film bokep itu lho pa.. ih, papa ini koq gaptek banget sih…” sialan..untuk hal seperti ini aku lebih tau dari kamu tau…pikirku dalam hati.

Sepertinya aku mulai mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud oleh gadis imutku ini. Kegugupanku berangsur mulai berkurang, diriku kini telah naik keatas tempat tidurnya,memposisikan diriku tepat dihadapan selangkangan yang masih terbungkus lingrie itu.
Ahh…betapa indahnya apa yang berada dihadapanku ini, lekuk tubuh yang begitu sempurna putih bersih. Kuraba sesaat pangkal pahanya, sambil memperhatikan benda yang berada dibalik lingrienya itu. kulirik sebentar wajahnya, tampak dirinya tengah memperhatikan apa yang tengah aku perbuat.

” Celananya papa buka ya sayang….” yang dijawabnya dengan senyum dibarengi dengan mengangguk pelan.

Aahh…organ kewanitaan putriku kini telah berada dihadapanku, sepenuhnya… Ya, sepenuhnya terbebas dari benda yang menutupinya, dan terbebas pula dari rambu-rambu kenormaan yang merintanginya, sehingga aku bebas untuk melakukan apa saja.

Kusentuh bibir vaginanya, yang secara reflek kedua pahanya membuka, mempertunjukan belahannya yang berwarna merah jambu. Bulu-bulu yang menumbuhinya masih belum begitu lebat dan hanya tipis saja seperti bulu-bulu halus.

Kuhirup sejenak aroma liang vaginanya yang sedikit menganga, aroma sabun mandi masih terasa. Lidahku kini mulai terjulur, menjilat pelan pada keratan daging basah yang berwarna merah jambu pada bagian tengahnya. Kulihat sesaat ekspresinya, yang mendesah pelan saat menerima sentuhan lidahku yang pertama. Kulanjutkan lagi aksiku, kali ini lidahku lebih lincah lagi bergerilya, tanganku mulai kugunakan untuk menyibak bibir vaginanya, praktis belahan vertikalnya itu kini menganga lebar mempertontonkan isi jeroannya.

” Zzzzz…aaaauuugghhhhh….geli paaaaaa……uuuuhhhhh…” Desahan dari mulai terdengar, sambil kedua tangannya menjambak pelan rambutku, sesekali matanya melihat kearahku, kearah ayah kandungnya yang kini tengah menggelitikan lidahnya didalam liang vaginanya.
Srrruuuufffffkusedot agak kuat daging lembut yang mulai mengeluarkan cairan bening yang sedikit asin itu. Sepertinya dia agak sedikit terkejut, yang ditandai dengan gerakan bokongnya yang menyentak sesaat. Kelentit yang letaknya sedikit agak diataspun tak luput dari sedotan mulutku, yang membuat erangannya semakin keras.

 Papaaaaaaa.aaaauugghhhenak paaa.teruuuss..paaNanda sayang papa..aaaahh jambakan pada rambutku semakin keras, terkadang ditarik-tariknya yang membuatku sedikit nyeri.

Hingga akhirnya terdengar erangannya yang keras, yang kuyakini itu adalah puncak kenikmatannya yang telah dia capai.

 Aaaaaaaauuuhhhhh.papaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.. sebuah pekikan yang panjang, dibarengi dengan bokongnya yang terangkat keatas sehingga mulutku terbenam didalam liang kewanitaannya yang basah oleh cairan nikmat.

Setelahnya, gadis itu terdiam. menyisakan nafasnya yang kembang kempis, kutatap wajahnya..wajah yang kini tersenyum kearahku.

 Makasih paudah puasin Nanda ucapnya, sepertinya sebuah ucapan yang tulus. Yang kubalas dengan senyum.

” Papa..sun dulu dong…mmmm..” pintanya manja, sambil memonyongkan bibir, dan sedikit memejamkan matanya. Kukecup bibirnya dengan lembut, namun tak kusangka justru dibalasnya dengan lidahnya yang menelusup kedalam rongga mulutku, leherku ditarik hingga kami bergumul untuk beberapa saat.

Hingga akhirnya kami berhenti, dengan masih bebaring berdua, merebahkan diri kami dalam satu bantal.

” Enak ya pa…. kita akan sering-sering begini lagi kan pa? ”

” Sering-sering? Iya..iya…kita lihat saja nanti…” jawabku gugup, tanpa sempat berpikir. disamping diriku tentunya juga tengah dilanda birahi yang memuncak.. dan belum tertuntaskan..alias masih nanggung, sehingga aku hanya menatap wajahnya dengan penuh nafsu.

” Koq pakeÔÇÖ kita lihat saja nanti? Berarti belum pasti dong…” protesnya dengan wajah cemberut

” Oke deh…papa janji. Tapi kamu juga harus janji untuk merahasiakan semua ini…jangan sampai orang lain tau..terutama mama..”

” Oke deh pa deal…tos dulu dong..” setujunya, diikuti dengan mengangkat telapak tangannya keatas yang kubalas dengan membenturkannya dengan telapak tanganku.

********

” Eh, papa belum puas ya..? Papa mau Nanda puasin lagi? ” tawarnya, sambil memegang benda keras yang masih terbungkus celana pendeku.

” Iya nih..tolong dipuasin papa ya sayang…” pintaku, sambil mengusap-ngusap bibir kewanitaannya yang telah basah.

” Oke deh…sekarang Nanda mau sayangin dedenya ya pa…?”

Dirinya kini bangkit, seraya menarik lepas celana pendekku, lalu mencampakkannya kelantai. Batang penisku kini didalam genggamannya.

” Sayang…kamu buka bajumu dong…sekalian sama BHnya juga…” pintaku, sebelum dia meneruskan aksinya.

” Owwhhh…papa mau liat Nanda telanjang ya? ”

” iya dong sayang…kalau kamu telanjang kayaknya lebih seksi deh…” pujiku, yang langsung diturutinya. Kini dirinya benar-benar bugil dihadapanku, seperti yang kuduga, buah dadanya yang ranum dan baru mulai tumbuh itu memiliki puting berwarna merah jambu dengan bentuk yang masih kuncup belum terlalu bulat.

” Nih pa…Nanda udah telanjang…sekarang papa telanjang juga dong…baju papa juga dibuka…” aku segera menuruti keinginannya, kulepas t-shirt yg masih membalut tubuhku, hingga kami berdua benar-benar bugil.

Kini dia duduk diatas pahaku dengan posisi menghadap kearahku, tubuhnya yang telanjang membuatku merasakan hangatnya vagina menempel dipahaku, vagina yang baru saja kucicipi dengan mulutku.

” Dijilat dulu ya pa…?” yang kujawab hanya dengan mengedipkan mataku. Lidah yang lembut itu kini menyisiri sekujur batang penis dan topi bajaku, yang membuatku mendesah nikmat.

“Sekarang Nanda emut ya pa….?” pintanya, beberapa saat kemudian.

” Iya sayang…kamu memang pinter…si dede’nya jadi keenakan nih….” kini batang penisku benar-benar dikulumnya walau tampak kesulitan. Sepertinya batang jakarku terlalu besar untuk mulut mungilnya itu, sehingga hanya sepertiga bagiannya saja yang mampu masuk kedalam rongga mulutnya.

” Aaaahhh…Susah pa….dede’nya gede banget sih…mulut Nanda gak muat….” keluhnya, saat sejenak melepaskan kulumannya.

” Gak apa-apa sayang….makanya pelan-pelan…nanti juga kamu terbiasa..papa percaya kamu anak yang cerdas, pasti kamu bisa…ayo sayang diemut lagi dede’nya…” paparku, sekedar memberinya motivasi.

Dalam beberapa menit kemudian memang kurasakan kemajuan yang cukup signifikan , gerakannya lebih rileks dan batang penisku yang berhasil ditelan kedalam rongga mulutnya lebih dari separuhnya.
Ah, mengapa menurutku begitu seksi dan menariknya dia dalam keadaan seperti itu. sungguh betapa konyolnya aku sebagai ayah… Ah, peduli setan..yang penting aku tak memerkosa anakku..ini kulakukan atas dasar suka sama suka, sama sekali tanpa adanya pemaksaan.. .dan, sekarang…yang penting happy…

Aaahhhh…betapa nikmatnya ini..kalau begini terus, tak perlu susah-susah aku “jajan” diluar dengan abg-abg yang hanya menginginkan uangku itu. bukan masalah uangnya…tapi sensasi yang kuterima tidak seberapa bila dibandingkan dengan anak gadisku ini..darah dagingku.

” Pa…Nanda jadi kepingin lagi nih…” pintanya,sambil meraba-raba liang vaginanya, setelah melepaskan kuluman penisku.

” Kepingin apa sih sayang..? Kan papa belum puas..belum keluar itunya, seperti tadi malam.. ayo sayang diemutin lagi dede’nya…” rayuku.

” Tapi Nanda kepingin dipuasin lagi pa… Gimana kalau dede’nya dimasukin kedalam sipuss…boleh ya pa?” glek..dia ingin aku menyetubuhinya.

Aku berpikir sejenak.

” Kamu sebelumnya sudah pernah melakukannya? ” tanyaku

” Belum pa…makanya Nanda pingin coba…Ayo pa..” rengeknya, kali ini sambil telentang dan membuka kedua pahanya. Ah, dasar..belum lagi aku memberi persetujuan, dia sudah memposisikan diri siap tempur seperti itu, glek..

” Baik..baik..itu artinya kamu masih perawan sayang… nanti saat dede’nya masuk kedalam sipuss, kamu akan merasa sakit..” jelasku.

” Iya pa…Nanda juga tau, kalau melepas keperawanan itu sakit..itu kata temen-temen Nanda yang sudah melakukan sama cowoknya.. tapi katanya lagi, itu cuma sekali saja..besok-besok kalau melakukannya lagi udah enggak sakit, malah enak dan bikin ketagian…gitu katanya.. Makanya pa ayo cepetan..” Sok tau nih anak, bapakmu ini lebih pinter soal beginian tau, pikirku.

” Oke deh sayang…kamu siap-siap ya…” kini posisi batang penisku telah mengarah pada liang vaginanya yang mungil namun menganga, sebenarnya aku tak tega membayangkan batang penisku yang besar ini menembus liang perawannya tapi..

” Pa..papa..” panggilnya lagi

” Apa lagi…?”

” Pa..inikan namanya ngentot pa…hi..hi..hi..” sial, aku sudah tau..tapi mengapa perkataan vulgarnya itu terdengar begitu seksi bagiku.

” Ayo pa..cepet entotin Nanda pa..hi..hi..hi..” Ah, tak kuasa aku mendengar kata-kata yang menggoda itu, dan akhirnya blessss…

” Aduh…paaaaaa….sakiiiiittt….” pekiknya, seolah menghapus tawa yang beberapa detik lalu masih menghias wajahnya.

” Enggak apa-apa ya sayang…tahan ya…dulu mamamu juga begini…” ujarku, sekedar menenangkannya.

” Aaaaaahhh…ya deh pa…enggak apa-apa..besok-besok udah enggak sakit lagi kan pa…uuuhhhh…”

” Iya sayang…besok kamu pasti ketagian…”

” Iya pa kalau begitu entotin Nanda terus aja pa…sampai papa puas..sampai keluar spermanya ya pa…nanti spermanya dikeluarin didalam sipuss aja…”

” Iya sayang.. Papa akan keluarin peju papa didalam sipuss, biar sipussnya kenyang…besok juga pasti papa akan entotin kamu lagi…” hiburku, seraya kulumat hibir mungilnya dengan rakus, yang dibalas dengan tak kalah rakusnya, kuhirup air liur dari mulutnya sebanyak-banyaknya namun seolah tak jua meredakan rasa dahaga ini.

Hingga akhirnya kurasakan getaran nikmat melanda sendi-sendi tubuhku dan…

” Aaaaaaaaaaaahhhhhhh….peju papa keluar sayang….aaaaaaaaaaaggghhhhh….”
Crottt..croott…croottt… Beberapa kali semburan spermaku menyirami rahimnya…rahim darah dagingku sendiri.

Hingga akhirnya aku ambruk diatas tubuh anakku, masih sempat kulihat cairan merah mengalir dari sela-sela bibir vaginanya..cairan darah..darah perawan.. yang telah direngut olehku, ayah kandungnya sendiri.

Papeju itu apa sih?  tanyanya disela-sela diriku yang menghimpit tubuhnya.

 Peju itu sperma sayangsperma yang baru saja menyirami rahim kamu ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*