Gairahku

Aku terdiam melamun di ruang kerja eksekutif kantor pusat X group ini sambil memandangi satu-satunya foto masa SMA yang kumiliki. Saat ini, diperusahaan milik seorang Konglomerat ternama di Nusantara itu aku menduduki jabatan yang begitu strategis, aku direktur SDM, umurku tak lebih dari 29 tahun. Di ruangan sebelah kiri dari ruanganku adalah ruangan Direktur Utama group bisnis besar yang berkantor di sebuah pencakar langit bilangan MH Thamrin, ia tak lain adalah ibu angkatku sendiri. Orang memanggilnya Bu Siska, nama lengkapnya Francisca Katherine S. Beliaulah yang sejak aku berumur 14 tahun mengangkatku sebagai anak dan mengantarkan aku pada kehidupan maha mewah seperti saat ini. Umurnya sudah memasuki 47 sekarang, perawakannya bongsor, putih, sedikit gemuk sesuai tinggi badannya yang 169cm.

Saat itu hari minggu pagi dan aku baru saja menyelesaikan tugas dari beliau yang memang mendesak untuk dikerjakan karena keesokannya ada recruitment cukup besar untuk sebuah pabrik kami di Jababeka. Biasanya hari minggu kuisi dengan jalan-jalan bersama beliau, tapi minggu ini kami semua sibuk dan beliau harus berada langsung kantor cabang kami di Tangerang untuk mengawasi langsung persiapan kerja senin keesokannya. Karyawanku di bagian SDM sudah kuperintahkan utk pulang setelah merampungkan tugas-tugasnya. Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB, tinggal aku sendiri diruanganku yang luas ini, melamun membayangkan review perjalanan hidupku sejak 15 tahun yang lalu.

Rasanya aku hampir tak mempercayai dengan umur yang dini ini hidupku begitu sesak dengan dinamika. Terlahir dari sebuah keluarga miskin di propinsi kaya minyak bagian timur Indonesia, Bapakku meninggal saat aku masih dalam kandungan, menyusul setahun kemudian ibuku sakit keras dan meninggal, jadilah aku yatim piatu. Kakak perempuanku yang mengasuhku waktu itu berumur 18 tahun menikah dengan seorang PNS di propinsi itu yang mengasuh aku sejak bayi.
Aku tumbuh dalam keluarga kakakku yang miskin juga, namun sukurlah kakakku mampu menyekolahkan adik-adik dan anaknya hingga aku SMP. Setelah itu kakakku merasa bebannya terlalu berat hingga aku diserahkan pada keluarga kaya Bu Siska yang pada waktu itu tinggal di daerah sama. Bu Siska dan Suaminya, pak Jimmy, memang berasal dari daerah itu. Mereka punya perusahaan tambang yang cukup berkembang hingga saat ini menjadi salahsatu yang terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Karena hanya memiliki dua anak yang semuanya perempuan, Bu Siska dengan senang hati menerima aku untuk tinggal dan sekaligus menjadi saudara angkat kedua anaknya, Rani dan Rina. Rani berumur sama denganku sedangkan mbak Rina lebih tua 5 tahun. Keluarga itu memang sangat menginginkan anak laki-laki, namun oleh sebuah masalah kesehatan, Papa Jim (begitu aku memanggil bapak angkatku) tidak mampu lagi memberikan keturunan. Mbak Rina dan Rani juga sangat menyayangiku. Kehadiranku ditengah keluarga mereka semakin membuat cerah kondisi keluarga itu, hingga pada suatu saat tragedi keluarga (yang sebenarnya menurutku adalah anugerah) itu terjadi.

Ketika aku dan Rani berusia 15 tahun, setamat dari SMP, keluarga itu memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Om Jim memiliki beberapa rumah mewah di Menteng dan Pondok Indah. Bisnis keluarga itu juga telah berkembang pesat hingga kebanyakan transaksinya harus dilakukan di Jakarta. Sebelum itu, aku dan Rani sudah sering pula diajak dalam perjalanan bisnis Bu Siska ke Jakarta. Om Jim lebih sering bepergian sendiri ke luar negeri sehingga aku dan Rani lebih dekat dengan Bu Siska daripada dengan Om Jim, sedangkan Rina waktu itu sudah kuliah di London. Aku dan Rani bersekolah di tempat yang sama di Jakarta, SMA di kawasan elite Menteng tempat anak-anak pejabat tinggi negara dan konglomerat bersekolah. Aku dan Rani dekat sekali, kami tidak saja merasa seperti saudara, tapi sudah lebih jauh dari itu. Ia merasa aku pacarnya, sebaliknya aku juga merasa Rani adalah pacarku. Bu Siska tahu itu dan tak pernah mempermasalahkannya. Ia mengerti, aku dan Rani tidak memiliki hubungan darah, lagi pula keluarga itu sangat mengerti bahwa akau adalah anak yang baik. Prestasiku di sekolah sangat bagus, tak pernah meleset dari rangking 1 yang membuat mereka semua bangga padaku. Kalau di rumah aku lebih sering membaca buku dan mengajari Rani pelajaran yang ia tidak mengerti dengan baik. Kadang-kadang aku tertidur di kamar Rani yang berada persis di samping kamarku. Lantai 3 rumah luas itu. Di luar kamarku juga ada teras yang menghadap kebun belakang halaman rumah, aku dan Rani sering ?pacaran? disana. Dan Bu Siska sering menggoda kami dengan mengatai ?romeo dan juliet mabok!?. Tapi ia tidak marah, malah seringkali di waktu luangnya, Bu Siska membuatkan jajanan utk kami berdua. Sesekali ia juga sempatkan untuk bergabung ngobrol maslah-masalah ringan seputar study kami.

RANI, CINTA DAN SEKS PERTAMA

Rani

Aku ingat hari itu di bulan November, aku dan Rani sedang berduaan di teras kamar Rani, kami ngobrol lepas soal teman-teman centil kami di sekolah. Aku dan Rani waktu itu duduk di kelas 2 SMA, Rani jurusan Biologi dan aku di kelas Fisika. Rani duduk di pangkuanku, aku memeluk sambil sesekali menciumi rambut hitam sebahunya dari arah belakang.

?Say, kamu tadi ada di perpustakaan ya?? tanyaku pada Rani, oh ya sejak dua tahun sebelumnya, aku mulai memanggil Rani dengan sebutan ?sayang?. Itu pula yang menyebabkan keluarga itu menyebut kami ?Romeo & Juliet?.

?Iya, emang kenapa? Kamu cemburu?? jawabnya enteng,

?Ngga sih, hanya saja kalau aku yang begitu pasti udah disemprot?.,?

?Iya?iya?maaf, aku ngga ngapain kok?,? Ia mendaratkan sebuah ciuman di pipiku. Dan untuk pertama kali dalam hidupku aku membalas ciuman itu di bibirnya, bukan ciuman tapi melumat. Hanya beberapa detik tapi cukup untuk membuatnya gemas dan melotot penuh arti.

Selepas ciuman pertama itu ia menatapku, tatapan serius yang cukup sulit untuk diartikan. Ada senyum terbersit di bibir tipisnya namun warna muka yang berubah merah itu bisa mengacaukan perasaan orang yang ditatapnya.

?Kamu marah say?? aku mengeratkan pelukan di pinggangnya.

?mmm?.hhh,? ia bangkit dan berbalik menghadap aku, tapi kemudian memeluk. Ada beberapa titik air mata terasa menetesi belakang leherku. Kulepaskan pelukan dan menatapnya, ah si cantik saudara angkatku, pacarku, cantik sekali !

?Kamu jahat?,? ia memberanikan diri memelukku lagi.

?Kenapa sayaaaang?? aku jadi tidak mengerti

?tadi kamu juga duduk bareng sama si Mira, aku lihat waktu jalan ke perpustakaan, kamu ngerayu dia kan? Kamu ngga sayang aku lagi! Kamu jahat!?

?ya ampuuun?.sayang?gitu aja dicemburuin?.iiiihhh, kan dia cuman minta tolong ditulisin rumus kimia itu,? aku membelai rambutnya.

?sedekat itu untuk sekedar nanya rumus??

?Iya?iya aku minta maaf lagi deh, tapi sumpah demi Allah aku ngga ada apa-apa ama dia,? kucium lagi pipinya, terus ke bibir.

?mmmhhhh?.benar?? ia melepaskan lumatanku sambil merengek manja.

?Beneerr?sueeerrr?!!!? aku melumat lagi, kali ini ada desiran geli di bawah sana. Sehari-hari aku memang sering memeluknya, tapi kali ini terasa lain, ada gelora dan sayang yang lebih terasa. Kami terus berciuman, melumat, tanganku masuk ke dalam bajunya yang berkancing depan.

?Boleh?? kataku meminta ijin.

?he eh?,? Rani mengangguk lemah, dan inilah pertama kali dalam hidupku merasakan penjelajahan tubuh wanita dengan tanganku. Kancing pengait BH nya yang juga di depan itu kulepas dan tergapailah bukit payudaranya yang cukup ranum. Rani memang memiliki payudara besar seperti ibu dan kakaknya, mungkin secara genotip keluarga ini punya bentuk payudara yang besar membusung.

?Auuuhhhffff?..sayaaangg?.kamu yakin ?? ia menatapku sejenak untuk meyakinkan bahwa ini pasti akan lebih jauh dari sekedar petting. Ini yang pertama bagi kami, aku menariknya ke kamar, kami menuju tempat tidurnya yang luas. Ranilah yang lebih dulu melepas celana pendekku, lalu baju kaus putih yang keukenakan, dan terakhir Cdku. Kini aku bugil dihadapannya, Rani langsung mendekap

?Aku pasrah sayang,? sejenak ia menghentikan eksplorasi itu, mencium pipi dan melumuri wajahku dengan lidahnya

?aku yakin kita memang dijodohkan untuk ini, dan hari ini, detik ini, jadilah orang pertama yang???.,? ia terdiam tak melanjutkan. Kemudian ia terduduk di hadapanku.

aku meloloskan daster tipis itu dari tubuhnya, lalu Cdnya, Bhnya dan hmmm, saudara angkatku, pacarku, kekasihku, alangkah indahnya tubuhmu.

?untuk cinta kita, sayang, kamu harus janji nggak akan ninggalin aku,?

?Aku bersumpah, sayang?..,? Dan terjadilah peristiwa itu, pelan dan lembut sekali, Rani menghantarkan aku ke daerah pangkal pahanya yang ternyata sudah banjir itu, dengan pasrah Rani menyerahkan seluruh jiwa raganya untukku, aku juga mengakhiri keperjakaanku. Penis ku yang baru kali ini merasakan hal itu otomatis mendorong masuk, Kami sama-sama mabuk asmara. Dengan penuh kasih sayang kusetubuhi saudara angkatku yang telah begitu baik padaku itu. Saat itu, dengan air mata berderai, diiringi rintihan Rani dan cumbuanku, darah perawannya mengalir deras, aku jadi tak tega pada awalnya.

?kenapa nangis sayang?,? kuhentikan gerakanku, penisku masih terbenam dalam liang vagina yang baru saja tertembus penis untuk pertama kalinya itu.
?yang pelan aja sayang, punyaku sakiiit banget,?

?apa kita berhenti dulu??

?jangan say, aku rela, aku bahagia bisa mempersembahkan kehormatanku buat kamu,? tangisnya terus mengalir seiring kata-kata mesra itu. Aku yang tak tahan untuk terus berdiam, kugoyang perlahan sambil terus mengecup bibir indahnya.

?iyyyaaahhhh sayaaaanggg?oooouuuffff??.pelaaan-pelaaaann?yyyaaahhh uuhhhhff mulai?enaaakkkhhh ooouuhhh?..aku sayang kamuuuuhhh??,?

?akuuuuhhh jugaaahhhh?.sayaaaanggg?oooohhhhhh, kaaalaaauuuu sakiit?hhhh biiill aangg yaaaahhh?? sambil terengah-engah menikmati goyanganku aku mencoba menjawab cumbuan kata-kata mesra dari bibir mungil itu.

?Boleh aku diatas, yang?? pintanya setelah beberapa saat aku menindihnya dengan gaya konvensional.

?iyaaahh?sayang, ayo?.kamu juga harus puas?.,?

?kamu masih lama, kan??

?hk..ehh,? kuangkat tubuhnya sambil merebahkan diriku ke samping, kemaluan kami masih terpaut. Kini ia berada diatasku, mengangkang disana, betapa menggairahkannya posisi ini kalau dilihat dari bawah, susunya berayun-ayun mengundang tanganku menjamahnya, aku meremas, rani sudah tak merasa sakit lagi. Ganti ia yang banyak mendesah, malah kini berteriak-teriak histeris sambil menghempaskan pantatnya dengan keras, aku pasif saja menikmatinya, hanya tangan dan bibirku terus memainkan payudaranya yang kencang dan ranum itu.

?aku?..uuuuoooohhhmauuuuhhhh saaaammmm??aaahhh saaaammmpaaaaiiii?oou uuhhhh?.aaaaahhhhh?keluuuaaaarrrr?.sayaaaaanggggg? ?.hhhhhh,? Rani menjerit keras, diiringi dengan hempasan yang sangat kuat kearah pinggangku, penisku otomatis menghujam keras dan mentok di dasar liang rahimnya. Berdenyut disitu dan dengan segala sisa tenaganya Rani menjambak rambutku, menunduk dan menyedot bibirku keras, lalu pindah ke dadaku, ia menggigit disitu.

?aku juuuugaaahhhhhh?.keluuuaaarhhhhhh oooohhh??..saaaayaaaanggg??.,? jerit ku panjang karena mendadak penisku seperti tersedot nikmat dalam vaginanya, tak dapat lagi kutahan cairan spermaku meluncur dengan deras di dalam liangnya.

?saaaaamaaahhhh?.saaamaaa?.saaayaaaangggggg aaaakuuu ngggaakkkk kuaaat lagiii iiiihhhhh aaaaahhhhhhh,?

?yessss???.Raaaaaannnnnn??.iiiiii?.saaayaaaanggggg ???yaaaahhh?,?

Tergolek lemas kami berdua, masih berpelukan, berebut mengambil nafas kepuasan yang terpancar di wajah kami berdua. Rani Bahagia sekali. Dan dasar pemula, kami masih saling merangsang, lagi dan lagi, seperti tak ada hari esok. Waktu merayap tak terasa selama 4 jam lebih kami melakukannya. Sore hingga malam harinya kami saling tindih, saling rengkuh, darah perawannya berceceran di sprei, di karpet dan di sofa. Akhirnya kami tertidur.

Sejak saat itu aku dan Rani jadi semakin ketagihan, hubungan kami tak lagi seperti saudara, tapi lebih sebagai suami istri. Di sekolah kami saling mengawasi, kasih sayang kami jadi benar-benar tak bisa dipisahkan, walaupun kami masih melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Rupanya Bu Siska mengetahui perubahan pada diri anaknya, namun tetap saja ia menyayangi kami berdua. Bahkan sesekali ia menyuruhku tidur di kamar Rani saat ia tidak dirumah. Dan kalau kami makan bersama, Rani selalu mengambilkan makanan dimeja itu untukku. Ia tak lagi canggung di depan keluarganya, bahkan kini Papa Jim seringkali menyindirku dengan bertanya, ?istrimu sehat, bud?? maksudnya tak lain adlah anaknya sendiri si Rani. Kalau bicara denganku Papa Jim memang lebih sering menggunakan terminologi ?istrimu? daripada ?anakku si Rani?. Sewaktu dia mendapatkan lembar ulangan Rani yang buruk nilainya malah dia langsung menelponku dengan mengatakan ?aduh bud, gimana istrimu itu, nilai kok hancur begitu??. Ah beruntungnya aku. Tapi aku yakin, keluarga itu tidak pernah tahu bahwa aku dan Rani sudah melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Mereka paling hanya melihat tingkah kami yang mesra itu tanpa tahu sejauh mana hubungan kami.

Dua bulan setelah itu keluarga itu mengalami ujian yang sangat berat. Dari Rani aku mengetahui rahasia keluarganya yang sebelumnya gelap gulita bagiku. Ternyata Papa Jim memiliki simpanan yang cukup banyak, perjalanan bisnisnya keluar negeri atau keluar daerah selama ini hanya jadi kesempatan baginya untuk menjalin affair dengan banyak wanita. Bu Siska sebenarnya sudah mengetahui semua itu sejak awal namun ia tak kuasa begitu memikirkan keharmonisan keluarganya. Sebagai seorang ibu yang mencintai keluarganya ia lebih mementingkan keutuhan rumahtangga daripada ego pribadi kepada suaminya itu. Ternyata selama itu pula keluarga Bu Siska menyembunyikan disharmoni keluarganya dariku, bahwa kemesraan antara Bu Siska da Papa Jim hanya sandiwara untukku saja. Rani mengakui ia telah kehilangan figur bapak pada diri papanya dan oleh karena itulah ia begitu mendambakan saudara pria, dan begitu aku memasuki kehidupannya ia langsung menumpahkan segala perasaan sayangnya kepadaku. Mbak Rina juga memutuskan utk study luar negeri karena merasa muak dengan papanya, mereka bertiga sudah merasa tak lagi memiliki ayah atau suami sejak mengetahui rahasia papanya itu.

Ternyata pula perusahaan besar itu adalah milik keluarga Bu Siska, Papa Jim awalnya hanyalah seorang karyawan disana yang karena pernikahannya dengan Bu Siska mendapat jabatan direktur. Entah kenapa semenjak mengetahui cerita tersebut dari Rani, aku jadi ikut-ikutan menjustifikasi Papa Jim. Kini ia tak lebih baik dari seorang bajingan tengik yang tak tahu diri. Akhirnya pada bulan itu juga, aku lupa tanggalnya, terjadi pertengkaran yang hebat antara Bu Siska dan suaminya. Banyak kata-kata sumpah serapah yang keluar dari mulut Papa Jim, sedang Bu Siska tampak lebih bisa menguasai diri. Tapi ujungnya mereka memutuskan untuk bercerai dan Papa Jim tidak diperkenankan lagi menduduki jabatan diperusahaan itu, alias dipecat!

Aku menghela nafas panjang mendengar penuturan Rani, sore itu setelah semua hal yang berkaitan dengan perceraian dan kepergian Papa Jim dari rumah itu, kami (aku, Rani dan Bu Siska duduk santai di beranda belakang lantai dua rumah itu. Bu Siska segaja membiarkan anaknya menuturkan semua rahasia itu padaku, ia hanya terdiam sambil menyandarkan kepalanya di dadaku. Kami bertiga memang lebih akrab lagi sejak peristiwa perceraiannya. Aku dan Rani sepakat untuk saling membantu menghibur mamanya agar cepat melupakan kenangan buruk itu. Aku duduk berselonjor kaki di lesehan empuk beranda itu, bersandar di tembok. Di pundak kananku ada kepala Bu Siska sedang Rani tiduran dengan kepalanya diatas pahaku.

Tak ada perasaan apa-apa waktu itu karena hal yang sangat lumrah bagi kami bertiga yang hampir tiap sore curhat ditempat itu. Sampai kemudian Bu Siska menyuruh Rani agar masuk tidur karena terlihat matanya yang sembab menahan tangis ketika bertutur tadi. Rani pun mengiyakan dan beranjak ke kamarnya. Tinggal aku dan Bu Siska disana, ia masih bersandar di bahuku, lama kelamaan mungkin karena pegal, ia pindah dan berbaring di pahaku. Akupun sudah terbiasa dengan hal itu, kubelai rambutnya yang sebahu, lebat dan hitam terawat. Keharuman tubuhnya menyeruak seketika ia mengangkat tangannya membelai pipiku.

?Bud?.,? panggilnya pelan sekali.

?Iya Bu?,?

?Ibu sayang sama kamu, ibu sudah menganggap kamu seperti anak ibu sendiri,? tangannya masih membelai pipi kiriku dengan lembut,

?Terimakasih Bu, Budi juga sangat sayang pada ibu, Mbak Rina dan Rani,?

?Dan ibu juga ingin kamu benar-benar menjaga Rani dengan baik, ibu tahu kalian tak sekedar main-main dengan hubungan kalian kan??

?Bu, dari mana ibu tahu hubungan kami?? aku terkejut juga, wajahku berubah pucat membayangkan apa yang akan ia katakan kepadaku mengetahui hubunganku dengan Rani. Aku khawatir sekali jangan-jangan ia marah dan memutuskan hubungan itu, lebih parah lagi jika ia mengusirku dari rumahnya. Wah bakalan buyarlah masa depanku.

Tapi melihat sikapnya yang biasa saja aku jadi sedikit tenang dan berharap tak akan ada apa-apa saat itu. Bu Siska masih memejamkan mata dan membelai pipiku manja.

?Ibu juga pernah muda Bud, ibu tahu hubungan kalian sudah jauh. Kalian sudah layaknya suami istri, itu ibu bisa mengerti. Dan ibu tidak mempermasalahkan itu karena ibu sangat menyayangi kalian berdua,? katanya lirih. Aku meraih telapak tangan Bu Siska dan menciumnya sebagai rasa hormatku kepadanya. Sebenarnya waktu ia mengatakan tahu hubunganku sudah jauh itu, jantungku terasa mau copot, namun kelembutan belaian tangannya di pipi kiriku membuat aku jadi mengerti betapa ia sebenarnya benar-benar merestui hubungan kami.

?Terimakasih bu, saya berjanji jika diberi umur panjang maka sayalah orang yang akan menjaga dan bertanggungjawab untuk Rani, sebenarnya saya malu mengatakan itu kepada ibu. Karena tanpa masalah itupun saya merasa sangat berhutang budi kepada ibu dan keluarga,? aku membelai kepalanya dan mencium kening wajah cantik jelita itu.

?ada satu hal yang mengganjal dihati ibu Bud, itu yang ingin ibu katakan kepada kamu. Tapi besoklah, ibu tidak ingin Rani atapun Rina mengetahui hal itu dulu. Sebaiknya kita bicarakan besok saja di kantor, karena hal ini butuh waktu yang lama untuk kita bicarakan,? ia beranjak bangun dan merapikan dasternya, Bu Siska lalu mencium pipiku dan beranjak pergi.

?ibu mau siapkan bahan kerja dulu, besok sepulang sekolah tolong kamu telpon ibu ke kantor ya? Tuh temeni istrimu bobo dulu,? katanya mengakhiri pembicaraan,

?Trims Bu,? aku mengangguk sambil berfikir apa yang akan dibicarakan oleh Bu Siska besok hingga harus merahasiakannya pada ?istriku? si Rani. Adakah rahasia lain lagi yang akan ia katakan kepadaku? Ah, aku melangkah gontai ke kamar ?kami?, sejak sebulan ini aku memang tak pernah lagi tidur di kamarku. Sejak perceraian Bu Siska aku tiap malam menemani Rani tidur, dan kami tentu saja secara rutin melakukan ?ritual-ritual? layaknya suami istri di kamarnya. Kami sudah banyak punya koleksi blue film yang setiap habis belajar malam kami tonton berdua untuk selanjutnya dipraktekkan langsung. Kami yang dulunya melakukan hubungan badan karena rasa cinta itu kini tak sekedar meresapinya tapi mengembangkannya dengan berbagai variasi. Aku yakin, dibandingkan pasangan lain di dunia ini mungkin aku dan rani adalah pasangan yang paling aktif, bayangkan sehari rata-rata kami bermain 3 sampai 6 kali yang dalam tiap rondenya paling cepat 45menit. Dan Rani yang kutahu adalah tipe wanita yang multi orgasme, dalam satu ronde permainan yang nonstop ia sanggup meraih 3 sampai 4 kali orgasme.

Keesokannya saat sedang belajar di kelas, aku menjadi tak konsentrasi. Pikiranku berkecamuk dan bertanya-tanya apa yang akan dikatakan oleh ibu angkatku itu nanti. Beberapa item pelajaran bahkan tidak sama sekali masuk dalam otakku, padahal sebulan lagi kami akan menghadapi ujian akhir yang akan sangat menentukan koordinat arah pendidikan tinggi yang diinginkan. Akhirnya jam satu siang tiba juga, aku yang biasanya menunggu Rani untuk pulang bersama (karena kami pakai satu mobil antar jempt yang sama) kini harus berbohong dengan mengatakan bahwa aku harus ke tempat temanku yang lagi sakit keras dan absen beberapa hari. Rani memang tak satu kelas denganku, jadi ia tidak mungkin tahu hal itu, dan ia selalu percaya padaku.

Taksi membawaku menyusuri jaran lebar dan padat di Kawasan Thamrin, memasuki sebuah gedung pencakar langit, mungkin yang tertinggi di Jakarta. Aku sampai juga di kantor ibu yang ada di lantai 28 gedung itu. Seorang petugas keamanan rupanya sudah dipesan untuk mengantarku dari loby ke ruangannya yang luas. Masih dengan seragam sekolah lengkap dengan tas pundak penuh buku, aku masuk dengan perasaan yang masih bertanya-tanya, apa yang akan dikatakan ibu angkatku ini.

Pintu ditutup perlahan dan dengan penuh hormat, satpam perusahaan tadi pamit melangkah keluar ruangan ibu. Tinggal aku dan dia di dalam ruangannya.

?Duduk dulu Bud, ibu ke toilet sebentar,? katanya menyambutku dengan nada datar sambil berlalu membuka pintu kamar mandi yang ada disana. Tinggal aku yang masih termenung menebak-nebak apa yang akan dibicarakan ibu denganku. Namun hanya 5 menit kemudian ibu sudah keluar dari kamar mandinya, dengan senyuman yang penuh misteri ia langsung duduk disampingku, memeluk, hal yang sangat biasa ia lakukan terhadap satu-satunya anak angkat pria yang ia miliki ini.

?sebenarnya ini bukan kehendak ibu untuk membicarakannya, tapi sebagai orang tua, ibu merasa tertuntut untuk mengjak kamu musyawarah,? itu kata pembuka dari ibu setelah mendaratkan ciuman hangat di pipi kananku.

?dan karena kedekatan kalian, ibu merasa tak ada orang lain yang lebih berhak untuk diajak bicara tentang Rani selain kamu, sebab kamulah orang yang paling dia sayangi saat ini,? lanjut ibu. Tangan kanannya masih merangkul pundakku. Sebuah cara yang selama ini yang menunjukkan bahwa aku adalah anak lelaki kesayangannya.

?jadi ini tentang Rani, Bu? Tapi kenapa ibu bilang ini rahasia kita berdua? Saya bingung,? jawabku sambil menundukkan kepala kearah dada ibu.

?ini memang pendapat ibu sendiri yang ibu pikir tak boleh diketahui oleh Rani, dan ibu melakukannya karena ibu tahu kalau Rani sendiri takkan sanggup mengatakannya kepada kamu,?
?tentang apa sih bu?? aku tambah tak mengerti. Giliran aku memeluk pinggul ibu. Kami jadi berdekapan.

?ini tentang pendidikan Rani, sejak SMP dulu, dia ingin sekali melanjutkan pendidikannya di luar negeri???,?

?Haaah !!!? aku terhenyak kaget. Tapi ibu yang mempererat pelukannya, kini malah membelai lembut kepalaku yang bersandar di dadanya.

?Reaksi kamu itulah yang ditakutkan oleh Rani, dia sangat sayang sama kamu tapi kamu kan tahu juga kalau dia itu orangnya sangat haus ilmu, kalian punya kemiripan. Sama-sama haus ilmu, sama-sama anak pintar dan itu membahagiakan ibu,?

?jadi Rani takut mengatakan ini kepada saya langsung, bu? Kenapa??

?Rani takut mengecewakan kamu dan ibu,?

?apa hubungannya bu? Bukankah saya akan selalu menemaninya kemanapun?? aku memotong sebelum ibu melanjutkan.

?Ia ibu tahu itu, tapi Rani juga memikirkan ibu yang akan ditinggal sendiri disini, dia sangat memikirkan keadaan ibu disini sehingga merasa kasihan kalau harus meninggalkan ibu sendiri disini,?

?ah?saya baru mengerti bu, jadi Rani takut ibu kesepian tidak ada yang menemani disini kalau saya juga ikut ke luar negeri, tapi?.hmmmm, gimana ya? Sulit juga masalahnya, saya juga tidak tega kalau harus membiarkan ibu sendiri disini, saya merasa wajib menjaga ibu?.,?

?terimakasih sayang, itulah masalahnya, ibu pasti kesepian jika ditinggal sendiri, tapi ibu juga tidak boleh menghalangi niat anak-anak ibu untuk mendapatkan pendidikan yang kalian inginkan. Jadi ibu bingung??, ibu sangat menyayangi kalian, ibu pikir tak akan sanggup jauh dari kalian,? kembali ibu mencium pipiku.

?jadi bagaimana solusinya Bu? Saya rasa Rani juga berpikiran sama dengan ibu, dia pasti tidak mau meninggalkan ibu sendiri disini,?

?tapi Rani juga sangat sayang pada kamu?..dan dia pasti sedih kalau?mmmmm,?

?kalau apa bu? Kalau kami berpisah?? aku tahu arahnya meski ibu canggung sekali mengatakannya.

?itu juga masalah, Bud. Kalian sudah sangat dekat, Rani sepertinya takut kalau kalian jauh, kamu akan??? ibu tak melanjutkan. Canggung lagi rupanya, karena jelas itu adalah tuduhan untukku. Aku juga termenung sesaat memikirkan hal itu. Bagaimana tidak, aku dan Rani sudah layaknya suami istri, bagaimana hari-hariku tanpa Rani? Apa iya aku bisa tahan rasa kangenku pada ?istriku? itu? Apa iya aku sanggup hanya membaca emailnya saja? Dan apa iya aku sanggup menahan rasa ingin melakukan ?ritual rutin? kami? Ah aku bingung juga! Sepertinya ibu membaca pikiranku.

?yang paling ibu takutkan adalah kalau hal ini sampai merusak hubungan pribadi kalian, bud. Ibu tidak mau itu terjadi, ibu sangat berharap hubungan kalian ini bisa dipertahankan?..,? berhenti lagi. Ibu yang sekarang menaikkan kepalaku dari dadanya, dengan telapak tangannya yang lembut ia mendongakkan wajahku kearahnya seolah meyakinkan aku untuk secara tegas menjawab pertanyaannya. Akupun semakin mengeratkan pelukanku di pinggang ibu. Sesaat kami saling diam sambil menatap, dengan pandangan penuh misteri. Aku yang kemudian memindahkan pelukan tanganku ke pundak ibu. Kepalaku bersandar di pangkal lehernya, menghindari tatapan ibu.

?Ayo, sayang, putuskan sekarang. Apakah kamu mau meninggalkan ibu untuk menemani istrimu? Atau kamu nggak tega meninggalkan ibu dan memilih menemani ibu dan melanjutkan kuliah disini??

?siapa yang akan menjaga Rani disana Bu??

?kan ada Rina, daftarnya juga di Universitas yang sama?..,?

?Ooo, begitu?.? Aku terdiam lagi. Membayangkan ?istriku? yang kurang dua minggu lagi akan meninggalkanku.

?saya yang takut kehilangan Rani, Bu. Saya memang tidak bisa melupakan Rani, tapi apa iya Rani juga begitu??

?sebenarnya pertanyaan itu juga yang ada dalam benak Rani, kalian memang saling menyayangi, Rani juga takut kehilangan kamu, dia takut kamu berpaling dari dia,?

?ah?nggak ada alasan?..,? kataku keluar setengah bergumam sambil mencium pipi kanannya.

?ih anak ibu, kamu tuh nggak PD banget sih? Liat tuh di cermin, hmm?cakep kan? Perempuan mana sih yang nggak mau sama kamu?? ibu mencubit kedua pipiku dan mengarahkan wajahku kearah cermin lebar di salahsatu dinding ruangan.

?iih ibu, bikin GR aja?.,? aku berpaling kearahnya dan mencubit, bukan di lengannya seperti kebiasaanku kalau bercanda. Tapi di pantatnya, cukup keras karena aku gemas juga.

?auuuu?.sakit sayang!!? ibu menjerit, menatapku lucu sambil memonyongkan bibirnya,

?hehehe?.ibu cantik deh kalau monyong begitu,? candaku.

Tangan ibu meraih remote control audio dari atas meja kerjanya. Menyalakan audio ruangan itu, dan jadilah kami berdansa pelan diiringi beberapa symphony bethoven & mozart yang romantis. Aku memeluk pinggulnya dan ibu mendekap erat dadaku keatas sehingga otomatis dada besarnya tersaji sedikit dibawah daguku. Bu Siska memang lebih tinggi 3-4cm dari aku. Entah karena romantisnya dansa kami atau gerakan ibu yang kadang menggoyang dadanya itu, penisku yang sedari tadi tidur itu mulai beranjak bangun dan mengeras hingga menimbulkan cembungan yang rupanya dirasakan juga oleh Bu Siska. Tapi ia diam saja, saat aku membuka mata malah kulihat ia terpejam seperti menikmati suasana itu. Pinggulnya justru semakin sengaja digerakkan menggesek cembungan ditengah selangkanganku itu.

Aku bingung harus bagaimana, apalagi aku adalah tipe pria yang cepat sekali terangsang. Biasanya kejadian semacam ini hanya berlangsung sesaat saja dan ibu biasanya langsung mengelak kalau menyadari aku mulai terangsang. Tapi inikali berbeda, ibu malah semakin membiarkan dadanya menggencet ketat di dadaku. Adakah ini berarti Bu Siska juga sedang birahi? Sudah beberapa bulan hampir setahun setahuku ibu tak mendapat sentuhan lelaki.

Ditengah batinku bertanya-tanya tentang keanehan itu, tiba-tiba ibu membuka matanya. Lalu entah apa yang menggerakkan wajah itu mendekat ke arah bibirku. Aku masih penasaran dan bingung, kukecup pipi kirinya, namun wajahnya seakan mengarahkan gerak yang lebih sensual dari biasanya, telapak tangannya kini mendekap kedua pipiku.

Aku terdiam, memejam, dan hanya sesaat setelah itu kurasakan sebuah kelembutan menyentuh bibirku, aku pasrah saja tak berani menolak, tapi tak hanya sampai disana. Sekujur badanku merinding merasakan gejolak aura lidahnya yang berusaha memasuki rongga mulutku, bibirnya menjepit bibirku. Aku biarkan saja ketika bibir itu kini berhasil menjepit dan menyedot lidahku. Pikiranku masih berkecamuk antara percaya atau tidak terhadap apa yang kami lakukan saat ini. Bu Siska sudah mulai mendesah, terdengar nafasnya mulai memburu. Dekapan tangannya di kepalaku sudah terlepas, entah kapan dan aku tak menyadari ketika membuka mataku, belahan jas kerja Bu Siska ternyata sudah terbuka, sebelah tangannya menuntun tanganku kearah gundukan payudara berlapis BH putih berenda yang ukurannya my God, diatas rata-rata!

? Bu?..mmm,? aku mencoba bicara namun secepat itu pula ia kembali menyumbat mulutku dengan sebuah ciuman. Dan lebih ganas dari sebelumnya, Bu Siska sudah tidak lagi menahan desahannya. Kali ini ikat pinggangku ia lepaskan, lalu zipper celana sekolah itu dan tasss?.celana abu SMA itu melorot sampai setengah paha.

?Ibu?.please?.,? aku kembali bicara. Tapi tanganku malah memberi remasan lembut pada buah dadanya.

?terussskan sayang aaauuuffffhhh?..,? hanya itu yang terdengar dari desahannya yang semakin keras saja.

Aku jadi tak berani lagi bicara, kubiarkan ibu bertambah liar dengan melukar pakaianku. Dan kalaupun aku mampu menolak, hal itu tidak akan aku lakukan. Karena beberapa saat kemudian otakku mulai dikuasai oleh egoisme birahi yang seakan bersorak; ?Ayo, Bud, setubuhi perempuan cantik didepanmu!!! Bukankah selera seksualmu lebih besar pada wanita paruhbaya seperti ini? Dan kapan lagi kamu akan membalas jasa Bu Siska yang telah memberimu kehidupan mewah seperti ini???

Petanyaan-pertanyaan tadi seperti menuntun tanganku untuk lebih jauh menuruti nafsu Bu Siska yang sudah pasti tidak dapat lagi dibendung. Dan seperti mencari pembenaran atas kejadian itu, batinku yang lain menjawab; ?sudah lah, Bud. Nikmati saja. Bukankah kamu juga tak kalah sayang pada Bu Siska? Kamu juga mencintainya kan? Lupakan sejenak istrimu itu, dua lebih baik daripada satu dan yang ini adalah kunci masa depanmu!!!? Aku tak mampu lagi berpikir logis, segala bayangan tentang Rani hilang entah kemana, yang ada kini adalah kemolekan tubuh calon mertuaku, ibu angkatku yang mungkin juga akan segera jadi kekasih gelapku!!!

Pakaianku terlepas sudah seluruhnya, entah kapan Bu Siska mempretelinya dari tubuhku. Aku telanjang dan terduduk di sofa panjang ruang kerja yang luas itu. Kupejamkan mata, tak berani melihat Bu Siska yang baru saja beranjak dari mengunci pintu ruang kerjanya. Dan bak penari striptease, dari arah pintu ia berjalan sambil melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Uhhfff?.kini aku yang terbelalak, sebelum melepaskan roknya, Bu Siska sudah melepas celana dalam putih, dan sesampainya didepanku dengan sekali langkah tubuh montok dan sedikit gemuk itu terpampang jelas di depanku. Ia berjongkok tepat dihadapan tempat aku duduk, lalu kembali memeluk. Kali ini aku yang menyambut dengan ciuman penuh kerinduan. Kunikmati bibir Bu Siska yang terus mendesah. Tanganku meraba dan sesekali meremas bongkahan payudara besarnya. Memilin putingnya bergiliran, lalu mencium dan menjilati lehernya.

?aaauuuuhhh??sssssshhhhh aaaahhhh?.hmmmmm?oooohhhh..terussss saaayaang..ohhhh,? hanya desahan itu yang bisa diucapkannya. Tangan kiri Bu Siska meraih batang kemaluanku dan meremas lembut.

?ooooohhhh??..Bu?..ssshhhh?aaaauuhhhh,? desahanku juga mulai keras. Dan kami semakin liar. Kutarik tubuh ibu ke sofa. Ia berbaring sambil tersenyum, sepertinya mengundang aku untuk segera memuaskan dahaga asmara yang sesungguhnya terlarang itu. Baiklah, ibu angkat, aku bertekat akan membuatnya berteriak-teriak dan memohon supaya aku segera dan lagi dan lagi menyetubuhinya, akan kubuat calon mertuaku ini mengemis untuk dipuasi oleh calon menantu sekaligus anak angkatnya ini!!! Akan kusetubuhi engkau dengan keras?!!!! Dan sekarang terimalah birahi anak angkatmu ini!!! Bersiaplah untuk menampung cairan sperma yang biasanya hanya ditampung oleh anakmu!!!

?Ayo?sayang, kemari, sentuhlah ibu, ibu mau sayang ayooouuuhhh?.,? kali ini ibu memohon agar aku segera menindihnya. Tapi nanti dulu, bukankah ibu mau dipuaskan lebih dari apa yang saya berikan pada anakmu?

Aku meraba pangkal paha Bu Siska, sudah basah dan becek disana, kasihan ibuku ini, mungkin delapan bulan ini pemenuhan birahi tak sebanding dengan produksi sel telurnya. Aku merunduk disitu dan dengan buas langsung membuka pahanya, menjulurkan lidahku dan menjilat permukaaan vagina yang berbulu sangat lebat itu.

?Oooowwwhhhhh?..yessss?..sayaaangggg?.aaaahhhh?.ss hhhhhhhh,?

Jari-jariku sibuk mengucel-ucel bibir kemaluannya, lidahku terus menusuk-nusuk dan membelai dinding kemaluan wanita paruhbaya yang ternyata tak kalah menariknya dengan istriku itu. Sesekali bibirku menggigit pinggiran bibir kemaluannya yang cembung dan gemuk, memberikannya sensasi kebuasan birahi anak angkatnya yang polos ini.

?aaaauuuuwww??.uuuoooooooohhhh geliiiiiiii??sssshhhh?naaakaaallll?.kamu sayang??aaaaaaahhhhhhh???,? jeritnya saat aku menggigit biji klitorisnya yang membengkak karena rangsangan hebat itu. Aku tak peduli lagi pada teriakan histerisnya, aku yakin dinding ruangan itu sedemikian tebalnya sehingga kalaupun ada yang menembakkan pistol disini pasti akan terdengar sayup-sayup saja.

?oooooohhh?.yeeesshhhhh?gigit sayang oooohhh gigit lagi yyyyaaaahhh?..,? ia malah minta aku meneruskan mengulum biji clitorisnya. Aku asik saja, cairan yang terus semakin deras mengalir dari liang vaginanya habis kusedot dan kuminum. Seperti daerah vagina milik Rani, kemaluan Bu Siska juga tampak sangat terawat. Tak tampak noda kotor setitikpun pada bagian itu. Hanya saja baru kali ini aku mengetahui bahwa ternyata lebatnya bulu kemaluan Bu Siska membuat penialainku pada bentuk vaginanya lebih baik dari milik istriku itu.

?Ayo sayang, setubuhi ibu sekarang, hooooouuuhhh?.ibu sudah ngga tahaan?.,? pintanya memelas. Aku menuruti meskipun biasanya kalau aku melakukannya dengan Rani, tentu aku minta di-karaoke dulu sebagai imbalan aku menjilati vaginanya. Tapi kali ini aku canggung untuk meminta, karena dalam keadaan begini aku masih menaruh rasa hormat pada ibu angkatku itu.

Kuambil posisi diatasnya, Bu Siska mengangkang, sebelah kakinya menjutai jatuh, sebelah lagi dinaikkan ke sandaran sofa. Kemaluanku memang sudah keras sejak tadi, kini sudah menempel dan siap masuk dan mengoyak bibir vagina Bu Siska. Telapak tanganku memegang kedua buah dada besar itu dan seketika ia menarik pinggulku mendekat. Lalu dengan keras aku menghujamkan penisku sejadi-jadinya dan sreeeeppp?.bleesssss??.untuk pertamakalinya aku merasakan sensasi menyetubuhi wanita paruhbaya yang selama ini mengasuhku itu.

?aaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh???.,? jerit Bu Siska keras sekali sampai menghentikan tusukanku yang baru masuk itu.

?uuuffff?kenapa bu?? aku terhenyak juga.

?punya kamu besar sekali, uuuuhhhh?..ibu nggak pernah mengalami dimasuki segede ini sayang?..tapi coba yang pelan sayang, ibu agak nyeri,? katanya masih mendekapku. Sepasang kakinya mengikat pinggulku hingga penisku tertahan didalam.

Kuberikan ia ciuman untuk merangsang nafsunya, bibirku menyedot putting susunya, dan beberapa detik setelah itu jepitannya melonggar. Tangannya malah menuntun pinggulku naik turun secara perlahan. Bu Siska mulai mendesah dan menikmati goyanganku.

?Oooouuhhh?sayaaaangggg?..ooooouuhhh?besarnya aaauuuuff?..tariiiikhh aaaaahh enaaaakkkhhhh??.teeekaaaan lagiiihhh aaaahhhh niiiiikmaaaattttt?.uuuuhhhh, yang pelan aja sayaaaaanggg oooouuuffff?.enaaaknyaaaahhhh?..ooooooohhhhhh, saayaaaang?..,? tak henti-henti ia memuji kenikmatan dari penis besarku yang kini menggesek dinding-dinding vaginanya. Aku juga sebenarnya tak kalah nikmat. Apa yang selama ini kurasakan dari Rani memang enak juga, tapi sensasi kenikmatandari liang vagina dan tubuh montok Bu Siska memberiku pelajaran berharga bahwa ternyata kepiawaian dan pengalaman lebih mampu menciptakan sensasi kenikmatan yang lebih dahsyat ketimbang besaran liang vagina. Hehehe itu teori baru!

Aku terus menggenjot dengan perlahan dan teratur, Bu Siska membuat suasana romantis dengan memberi ciuman mesra bertubi-tubi, mengulum bibirku dengan sepenuh hati. Matanya yang terpejam semakin mengguratkan warna kecantikan alami seorang ibu. Akupun terlena dengan pesona itu, baru aku sadar bahwa ternyata kecantikan ibu angkatku ini benar-benar luar biasa, bahkan kalau mau jujur, Bu Siska jauh lebih cantik dari kedua anaknya. Rasa nikmat dari pertautan kelamin kami terus menjalari seluruh urat sarafku, memenuhi rongga sanubariku dengan berjuta kenikmatan biologis. Tak terasa waktu berlalu hampir tigapuluh menit. Pelukan kaki dan tangan Bu Siska di pinggangku yang semakin erat dan tiba-tiba itu menunjukkan tanda sesaat lagi ia akan mencapai orgasme.

?uuuuuuffff?..sayaang, boleh hhhhhh?.ibu?hhhh minta diatas?? pintanya setengah mendesah. Aku mengerti dan segera menghentikan kocokan penisku di vaginanya.

?ooooouuuuhhhh??baaaiiikkkk?aaahhhh?Bu,?

Kali ini aku yang berbaring, Bu Siska langsung mengangkangi pahaku, liang vaginanya yang sudah becek itu menganga tepat diatas kemaluanku yang mengacung-acung seperti tak sabar ingin segera masuk. Punggungku bersandar pada sandaran sofa sehingga dengan mudah mulutku meraih putting susu Bu Siska yang sedang berusaha memasukkan kembali penisku kedalam vaginanya. Saat sedang asik meremas dan menghisap putting susu Bu Siska itulah dengan cekatan ibu menggenggam penisku dan mengarahkannya tepat di bibir kemaluannya dan sreeep bleesss?..

?aaaaahhhhh??.nikmatnyaaaaakkkkkhhh?.aaahhhh?.saaa yaaanggg?.ooouuhh..,?
?mmmmhhhhh??ibuuuu?aaaaauuuhhhh?enaaaakhhhh?ssshhh hh,? jeritku tak kalah seru dengan jeritannya. Bu Siska yang kini asik menaik turunkan pinggulnya untuk meraih kenikmatan dari gesekan relung kelaminnya. Sesekali gerakannya berubah dari turun naik menjadi maju mundur, lebih nikmat lagi saat ia memutar-mutar dengan poros kelaminnya yang terpaut dengan penisku. Alangkah sensualnya ketika aku melirik kearah kelaminku yang terjepit bibir vagina Bu Siska yang ikut keluar masuk dan membelai, vagina itu penuh sesak oleh buah pelirku yang berukuran diatas rata-rata itu.

?hooohhh?..saaayannng?.kamuhhhh masih aaahhhh lama aauuufff sayaaaang??

?Iyaaah Buuuhhh, ooohhh kenapaaahhh, aaaahhh, enaaakkkhhh ooohhh,?

?Ibuuu?ooooohhh sudaaahhhhhhh?mmmmmhhh ngggaaa?.kkkhh..tahaaan, ooohhf yeeessss?.ooooohhh?punyaaaahh kaaaamuuuhhh mennnntthooookkhhhh?.aaauuuhhhh ibuuu ngggaaaaaa?.aaaaakkkhhhh tahaaannnnn?oohhh?ohhh?ooohh?.ooohhh?yyaaa?yaaa..u h uuuhhh?..ibuuuu?.ngaaa?taaaahhhh?haaaann..oooooooo ooohhh?..,? lolongnya panjang

BUDI HARTAWAN

Sekali seketika itu tiba-tiba Bu Siska menggenjot keras sekali, semakin cepat, dan rupanya ia mengalami orgasme yang begitu dahsyat.

?Reeeeeeeemeeeeshhh?.suuuuusuuuu?.iiiibuuuu sayaaaanngggg..ooouuhhhh, remassh terussshhhh Buudddiiii?aaahhhhh?..ennaaakkkhhh iiiibuuuu nggaaaaaa taaaaahaaannn?ibu keluuuuuaaaarr..keeeeeeeeelllllluuuuuaaarrr?hhhhaa aaahhhhhhh??yesssssshhhhhhh,? jeritan panjang diiringi hempasan keras pangkal pahanya kearah penisku. Aku yang sudah tahu hal itu dari kebiasaanku dengan Rani segera memberikan remasan yang keras pada kedua buah dada Bu Siska. Kira-kira semenit kemudian badannya jatuh menimpaku. Nafasnya tersenggal-senggal, tubuhnya lemas lunglai terkapar sudah. Kelaminku yang masih mengeras mengganjal dalam vaginanya yang banjir.

?ooouuhhhh?.sayang, kamu belum keluar ya? Maapin ibu ya, Bud. Ibu egois, maklum sudah delapan bulan lebih ibu tidak merasakannya,? Bu Siska mulai berbicara setelah nafasnya agak teratur.

?Nggak apa-apa Bu, yang penting ibu puas dulu,? aku menciumnya

?Jangan gitu dong, sayang. Beri ibu kesempatan beberapa menit lagi ya? Ibu akan buat kamu
puas sebentar lagi,? ia balas mencium mesra.

?Kamu kok bisa lama ya, sayang? Ibu nggak nyangka kamu sekuat itu,?

?Ngga tau deh, Bu, mungkin karena saya suka dan sayang ibu kali ya??

?ahhh?masa? Bisa aja kamu, sayang, benar kamu suka sama ibu? Suka apanya ayo??

?Suka yang ini,? jawabku singkat sambil menerkam buah dadanya. Mungkin benar karena buah dada ini aku jadi begitu semangat, ukurannya yang besar dan ranum dengan bentuk yang sangat menantang itu membuatku jadi merasa lain saat ini, apalagi dengan ?penemuan? bahwa ternyata wajah ibu jauh lebih cantik dari kedua anaknya itu. Atau aku memang punya selera yang lebih pada wanita STW seperti Bu Siska.

Gara-gara sensasi STW itu, tanpa sadar penisku bangkit lagi, berkedut-kedut didalam sana. Ibu rupanya merasakan juga.

?Say, bangun lagi tuh?.Ibu sudah siap nih, yuk,? ajaknya seraya melepas gigitan vaginanya pada penisku. Cropss?aku terhenyak.

?Duuuhhh?besarnya sayang, pantas tadi punya ibu rasanya hampir robek,? ujarnya sambil menggenggam batang penisku. Ia terus memujinya dan mengocok lembut.

?Ayo dong, Bu, nggak tahan nih,? ajakku. Aku berdiri dibelakangnya, maksudku agar Bu Siska menunduk dan aku masuk dari belakang. Rupanya ia mengerti. Kakinya dilebarkan dan tangannya menjangkau sandaran sofa. Bu Siska menunduk dan tampaklah belahan vagina wanita paruhbaya itu menganga ke belakang. Sejenak aku sempatkan untuk menjilatinya, tak tahan dengan pemandangan yang menggoda birahi itu.

?aaaduuuhhh sayaaang, ayo dong masukiiin, ntar ibu keluar lagi lho??
aku tak menjawab, tapi langsung meraih pinggulnya dengan tangan kanan, tangan kiriku mengarahkan kepala penisku menuju liang vagina yang merah itu dan sreeeeppp?.

?uuuuhhhh?..kocok yang keras sayang, ibu mau yang keras aaaahhhhhh,?
aku menuruti apa maunya, kusodok sekuat tenaga, kutarik hingga hampir lepas, Bu Siska memundurkan pantatnya seperti tak mau melepaskan penisku, tancap lagi terus begitu berulang-ulang sehingga menimbulkan decakan yang cukup keras, plaak..plak?plak?plak?sreeepp?.. plaak?.sreeep?crreeekkk?.ada sekitar sepuluh menit kami melakukannya dengan posisi itu sampai ibu bilang lelah berdiri. Kuminta ia duduk santai dan bersandar di sofa lalu dengan segera kukangkangkan kakinya dan segera menusuk keras dalam posisi setengah berdiri. Tanganku sibuk dengan kedua buah dada besar itu. Sesekali aku menunduk agar dapat menjangkau susunya untuk menyedot. Bu Siska mendesis dan mendesah kegirangan. Cairannya semakin membanjir.

?Aooooohhhh?.yessshhh?yeeesss?yesss?genjooot yaaang kerasshhh saayaaang,?

?ooouuhhh buuu?.iiiibuuuuu?.aaauuhhh ennnnaaaakhhhnyaaaahhh?ssshhhh, saaa yaaa?.hhhhaaaaaahhh haaaammmmpiiirrr ooouuffff???,?

?iibuuuu juuuuhhhhhggggaaaaa aaaahhhhh haaampiiirrr saaaaa?..yyyyaaaaangg?aaahh yyeeeesss?.oooohhhh niiikkkmaaaattttnyyyaaaahhhhh?yeeessss..yeeesss,ye eesss,?

selama sepuluh menit kemudian akupun mulai tak dapat menahan, sarafku menegang, meluncur ke satu titik di ujung penis, dan?

?oooooohhhhhhhhh??.,? aku rebah menimpa ibu dan memeluknya, mengujamkan kemaluanku sejadi-jadinya. Mentok didalam sana hingga dasar liang vagina ibu dan berteriaak panjang.

?aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa????hhhhhhhh?.yeeeee esssshhhhh??.keluuuu aaaarrrrr???buuuuuu?..oooohhhhh?yeeeeshhhhh?oooooo oooooohhhhhhhhhh,? aku berteriak histeris sambil menyemprotkan banyak sekali cairan sperma kedalam vagina Bu Siska. Ia pun demikian. Kakinya menjebit keras, tangannya menjambak rambutku dengan geras, dan giginya mengatup rapat.

?hhhhhhhhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaahhhhhh iiiiibuuuuu juuuu gaaaaaaaahhhhhh?keeeellluuuuuaaaarrrr..laaaaggggii ihooooooohhhhhhhh?yeeeshhhhhh?..,?
Ibu mendekapku erat, aku ambruk keatas tubuh montok ibu angkatku itu. Kami sibuk mengatur nafas masing-masing.

Pelan-pelan kulepaskan penisku yang mulai melemas, Bu Siska masih memejamkan mata, kelelahan rupanya.

?Luar biasa sayang!!?

?Trims Bu, ibu juga luar biasa nikmat?.? aku menciumnya, lalu beranjak memunguti pakaian kami yang berserakan, kutumpuk diatas meja tamu ruangan.

?Mau kemana sayang??

?mandi, Bu. Penat,?

?ibu boleh ikut??

?Boleh,? aku mengulurkan tangan dan membimbingnya ke kamar mandi.

?Kamu tadi benar-benar hebat,? tak habisnya dia memuji.

?Pasti kalau sama Rani, bisa lebih dari itu ya?? seketika Bu Siska menyebut nama istriku, aku jadi tersadar apa yang aku lakukan tadi.

?Bu? Please?.jangan sebut nama Rani dulu, saya masih shock,?

?Eh iya, maaf?.. Ibu juga nggak ngerti kenapa kita bisa seperti ini ya? Mungkin ibu yang terlalu sayang sama kamu sehingga ibu lupa kalau kamu adalah suami anak ibu,? katanya meralat sambil memberiku ciuman.

?Nggak apa-apa Bu, saya juga tadi salah nggak bisa menahan nafsu, bagaimana kalau Rani tahu hal ini?? kami masuk ke bathtube yang sudah terisi air hangat. Sambil berendam dan menyabuni tubuh montok Bu Siska.

?ibu mau terus terang sama kamu, Bud. Tapi jangan marah ya? Ibu harap kamu mau memenuhi permintaan ibu ini,? katanya, tangan Bu Siska menggenggam penisku yang menyisakan sedikit ketegangan pasca klimaks tadi. Sementara tanganku asik mempermainkan buahdadanya, bukan menyabuni, tapi meremas-remas. Gemas aku dibuatnya karena bentuk dan ukurannya.

?Mana mungkin saya marah sama ibu, ibu kan sudah sedemikian baik sama saya. Apa mungkin saya akan menolak keinginan ibu??

?Tapi ibu mau ini datang dari hati kamu tanpa paksaan, Bud.?

?Tentang apa sih, Bu??

?Tentang kita,?

?Maksud ibu??

?Bud??,? kini ia meraih tubuhku sehingga posisiku jadi mendudukinya, ibu memangku aku yang bersandar di dada bersusu besar itu. Aku menurut saja.

?Sejak ibu punya masalah dengan mantan suami, ibu sangat mendambakan kehadiran pria yang benar-benar menyayangi ibu dengan tulus dan ihlas. Beberapa kali sejak mengetahui sumai ibu berselingkuh dengan wanita lain, ibu juga menjajaki kemungkinan untuk mencari pengganti. Tapi apalah mau dikata, tiga orang yang pernah berkenalan dengan ibu tak satupun memenuhi syarat lelaki yang setia,?

Aku diam saja tak berani memotong. Takut ibu tersinggung.

?Dan semenjak mengetahui kamu dan Rani sudah berhubungan jauh layaknya suami istri, ibu jadi semakin merasakan kebutuhan akan pria. Akhirnya ibu mengamati kehidupan kamu. Ibu mempelajari semua celah kehidupan kalian dan menemukan bahwa kamulah tipe lelaki yang paling sempurna di mata ibu.?

?Jadi Bu? Apakah ibu akan memisahkan kami?? sergahku.

?dengar dulu sayang, ibu tak bermaksud sejauh itu, hanya saja, ibu ingin kamu juga membagi kasih sayang itu sama ibu,? ia mempererat pelukannya. Aku masih terdiam tak bereaksi.

?ibu juga tak ingin merusak hubungan kalian atau melukai perasaan anak ibu sendiri,?

?lalu apa yang harus saya lakukan Bu??

?untuk sementara, sebelum ibu menemukan cara terbaik, kamu mau kan merahasiakan hubungan kita ini dari istrimu??

?iya Bu, itu pasti, mana mungkin saya bisa mengatakan hal ini pada Rani, bisa bubaran saya?.,?

?itulah sebabnya kenapa ibu mau kamu tinggal di Jakarta menemani ibu, terus terang ibu sangat memerlukan kamu, Bud,?

sesaat kemudian kami terdiam, aku memikirkan hal ini. Aku memang sayang pada Rani, ia cinta pertamaku, orang yang membawaku kedalam dunia kedewasaan dan kami sudah bertekat akan menjalani kehidupan rumah tangga setamat Rani kuliah nanti. Tapi aku juga tak mengelak kenyataan bahwa pesona dan kecantikan calon ibu mertuaku ini begitu hebatnya, saat ini aku bahkan tak mau memikirkan hubunganku dengan Rani. Yang ada dalam benakku hanyalah mereguk kenikmatan dari Bu Siska seperti ang barusaja kami lakukan, aku bahkan tak ingin ritual nikmat ini berakhir cepat. Betah sekali rasanya berada dalam pelukan wanita paruhbaya ini. Dan yang terpenting adalah, bagaimana lagi aku harus membalas kebaikan Bu Siska yang telah membawaku kedalam kehidupan seperti saat ini.

Saat aku tersadar dari lamunan, tangan bu Siska telah menggenggam batang penisku yang kembali tegang. Barangku yang satu itu memang cepat sekali bangun, apalagi yang menyentuhnya adalah wanita idamanku ini.

?ibu mau lagi?? aku menatapnya,

?hek eh?.,? ia mengangguk senang.

?ngga disisain buat Rani??

?hmmm, ibu tahu kamu mampu sampai enam kali sehari, jadi ibu yakin, sesampai di rumah nanti, pasti kamu main lagi sama istrimu, iya kan??

?koq ibu tahu sih??

?kan sering ngintip kamu ama Rani?..,?

?haah? Jadi? Ibu lihat apa aja??

?banyak, dari gaya kalian, samapai berapa lama dan berapa kali sehari?,?

Gemas juga aku dibuatnya, dengan sekali gerak aku berbalik menghadap ibu dan langsung menyerbu buah dadanya, ibu menjerit, aku tak peduli

?aaaampuuun geliii sayaaang, aaauuuhhh??.,?

?rasain! Ini untuk ulah orang yang suka ngintip,?

Kukenyot keras buah dadanya bergiliran, kiri, kanan, kiri, kanan terus begitu, sampai menimbulkan bercak merah cupang mulutku. Bu Siska hanya bisa kelonjotan sambl teriak-teriak.

Kupaksa ibu berdiri membungkuk, lau dengan segera setelah kudapati liang vagina merah itu terkuak, langsung kucoblos dan bleeessss?..aku segera mengocok keras. Bu Siska semakin kelonjotan. Sengaja kubuka kran shower, kami main sambil berdiri ditengah guyuran air. Ahhhh nikmatnya ibu angkatku.

Dan seperti sebelumnya, aku keluar setelah membuatnya orgasme dua kali. Kemudian kami kembali ke ruang kerjanya, setelah mengeringkan badan, dengan mesra aku membantu Bu Siska mengenakan pakaian kerja jas biru tua dan rok bawahan berwarna putih itu. Entah kenapa, ketika hendak membantunya memasang CD, ibu menolak dan langsung membantu memasangkan pakaianku yang tercecer di meja kerjanya.

?dasar maniak, lutut ibu rasanya mau patah,? gerutunya dengan wajah lucu.

?siapa yang mulai ayo?? jawabku sekenanya sambil meremas buah dadanya.

?iiihhhh ngeriiii??,? Ibu menjerit kecil saat tangannya balas menggenggam punyaku.

?tahu rasa!!!? aku mengecupnya.

Bu Siska melangkah kedepan cermin lebar dan merias kecil wajahnya disana, kupandangi wanita itu dari belakang. Luar biasa! Tubuh yang kini terbungkus rapi pakaian kerja itu tampak begitu ?menghebohkan!?, masih kuat bayangan bagaimana sesaat yang lalu aku menggumulinya, menindihnya, menggoyangnya, menusuk-nusukkan penisku dalam vaginanya yang oh my God, luar biasa nikmat! Tak sadar bayangan vulgar dibalik gaun itu kembali mengundang gelak birahiku. Niat nakalku muncul, bagaimana sensasinya kalau sekarang kusetubuhi Bu Siska dengan tanpa melepas penutup tubuhnya itu? Ah rasanya pasti lebih nikmat, dan tanpa penetrasipun vaginanya masih becek oleh dua kali tumpahan spermaku yang menyembur sepuluh menit yang lalu?

?Buu?..,? panggilku

?hmmm?? ia menoleh, ah cantik sekali.

Aku mendekat dan memeluknya dari belakang, kutuntun ia berjalan kearah meja kerjanya. Sampai disana ibu masih belum sadar apa yang akan aku perbuat.

?apa an sih sayang??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*