Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibu, Maafkan Anakmu 2

Ibu, Maafkan Anakmu 2

Cerita Sebelumnya : Ibu, Maafkan Anakmu

Tidak terasa sudah setahun lamanya aku terjebak dalam obsesiku ini. Di usianya yang sudah menyentuh angka 53 ibuku juga sudah mulai nampak keriput dan beberapa helai uban dikepalanya. Wajahnya ayu (bukan cantik) sangat keibuan, Erni sulistiawati nama lengkap ibuku, tubuhnya sudah agak sedikit berlemak tapi tidak gemuk. Buat orang seusiaku jenis wanita seperti ibuku tentu bukanlah hal yang menarik, tapi tidak bagiku, aku tidak memandangnya secara fisik utuh, maksudku penilaianku bukan mutlak secara fisik, karena aku juga menyadari untuk usia ibuku bukan lagi kecantikan yang jadi pokok utama. Aku menyadari betul dia adalah ibuku yang 22 tahun lalu melahirkanku dari lubang vaginanya. Pertalian darah yang dimana dahulu aku tumbuh dalam rahimnya, setelah lahir aku meminum susu dari kedua payudaranya hingga kini aku tumbuh dewasa dan pada akhirnya justru aku malah memiliki keinginan untuk merasakan bagaimana aku menyetubuhi lubang vaginanya dan menumpahkan sperma kedalam rahimnya. Kenyataan tersebutlah yang makin memicu gairahku. Antara tabu dan rasa sensasi yang berbeda.

Kisahku tentang aktifitas didalam kamar dan kamar mandi rasanya tidak perlu lagi diulang atau diperjelas, disini aku hanya akan mengurai peristiwa yang menjadi moment baru yang kualami semenjak awal pertama aku bertingkah mesum terhadap ibuku.

Malam itu seperti biasa ibuku menonton sinetron religi kesukaannya di salah satu stasiun tv swasta. Beliau memang sangat menyukai acara tersebut, sementara aku lebih memilih untuk chatting dengan teman-temanku lewat hp dikamar. Ruang kamarku menghadap langsung ruang tv, terkadang aku menonton tv dari kamarku karena letaknya memang menghadap ke arah kamarku.

Karena asik ngobrol di chatting tidak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam, aku lihat nampak ibu juga sudah tertidur didepan tv. Aku semula bermaksud membangunkan ibu supaya pindah ke kamar, namun sialnya justru ibu tidur terlentang dengan sebelah kaki menekuk keatas, otomatis paha ibu terlihat jelas dimataku. Aku bimbang, seketika gairahku langsung tinggi. Lampu kamar aku matikan, dan aku lihat ke arah paha ibuku sambil meremas-remas penisku. Jarak antara aku dan ibuku hanya beberapa meter saja dan ini sudah cukup menegangkan rasanya bagiku. Tanpa sadar aku keluarkan batang penisku dan kuremas sambil kuusap diujungnya. Aku tidak menurunkan seluruh celanaku, aku tetap waspada manakal setiap saat ibuku terbangun aku tinggal tarik kembali celanaku., namun nyatanya ibu masih tetap tidur.

Lama kelamaan aku tidak sanggup lagi menahan aliran sperma yang ingin keluar, saat itu juga aku muncratkan spermaku di lantai kamarku, aku sedikit menahan nafas dan menjaga agar suara gesekan penis dan tanganku tidak terdengar. Banyak sekali spermaku yang tumpah di lantai, dengan cepat aku ambil tisu dan membersihkannya. Ada perasaan aneh dan tidak nyaman sama sekali manakala aku berhasil orgasme, penyebabnya adalah memang aku merasa bersalah yang sebelumnya hanya ada nafsu.
Setelah itu aku matikan tv dan membangunkan ibu untuk pindah ke kamar. Malam itu aku berhasil menuntaskan, bahkan langsung berhadapan dengan objek onani yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.

Hari hari berikutnya aku mulai berpikir bahwa kesempatan terbaik dan paling memacu adrenalin adalah pada saat ibuku tidur. Sempat terpikir juga untuk memberi obat tidur pada ibuku, kebetulan aku mengetahui beberapa jenis obat tidur yang aman dikonsumsi seperti Ambien CR atau Stilnox, tapi hal tersebut urung kulakukan.

Suatu malam hujan turun dengan sangat deras, biasanya kalau sudah hujan begini pasti listrik padam. Benar saja baru setengah jam hujan listrik sudah gelap. Aku nyalakan lilin disetiap sudut ruangan. Karena tidak ada kerjaan akhirnya aku dan ibuku ngobrol di ruang tv sambil tidur-tiduran. Banyak hal yang kami bicarakan sampai akhirnya tidak sadar aku tertidur. Aku terbangun 2 jam kemudian karena ingin buang air kecil. Hujan masih turun deras dan listrik juga belum kunjung menyala.

Ketika aku kembali hendak tidur aku lihat ibuku masih tertidur didepan ruang tv dengan posisi telentang. Ibuku mengenakan kaos dan sarung dibawahnya. Aku langsung masuk kamar untuk melanjutkan tidur. Selang 10 menit kemudian mataku tak kunjung tidur, disinilah tiba-tiba aku ingat ibuku tadi yang masih tertidur. Aku tiba-tiba saja horny saat itu. Kulihat ibuku masih tidur dengan posisi tadi. Batinku berkecamuk luar biasa, dengan situasi seperti itu aku benar-benar ingin bersetubuh dengan ibu. Tapi logikaku masih berjalan, masih ada rasa was-was takut ibuku terbangun pada saat menggerayanginya.

Sebenarnya aku lebih merasa takut ketimbang horny, tapi sialnya lagi aku juga tak kuasa menghentikan laju nafsu dalam diriku. Aku masih berdiri dipintu kamarku dengan perasaan bimbang luar biasa. Aku berpikir akan lebih aman bila aku cukup onani saja dari dalam kamarku, namun aku juga butuh pengalaman yang lebih dari sekedar itu. Dalam perasaan was-was aku mulai mendekati ibuku. Rasanya ingin balik lagi ke kamar tapi kakiku seakan berat.

Perlahan sekali aku mengambil posisi tidur juga disebelah ibuku, menyamakan posisi tubuhku dengan ibuku. Aku diam dahulu, meyakinkan segalanya masih berjalan aman, sesekali aku melirik ke arah ibuku yang tertidur pulas disamping kiriku. Aku tidak serta merta menyentuh ibuku, tapi hal pertama yang aku lakukan adalah memasukkan tanganku kedalam celanaku sendiri dan mengelus perlahan penisku. Sampai disini saja rasanya sudah menggairahkan buatku. Kukocok pelan sekali penisku, sambil kutatap tubuh ibuku dari wajah hingga payudaranya.

Amat janggal rasanya buatku sebagai anak yang mengocok penis disamping ibuku sendiri, memang tidak seharusnya aku berbuat demikian namun aku juga menikmati sensasi aneh dalam diriku. Buat yang memiliki pengalaman yang sama denganku akan tahu bagaimana rasanya, antara was-was dan horny, ada rasa ingin segera menyudahi namun ada juga rasa ingin tetap bertahan. Pada akhirnya rasa ‘nanggung’ inilah yang mengalahkan segalanya.

Aku mulai merubah posisi tubuhku menyamping, dengan begini mataku tidak pegal lagi untuk lirik-lirik. Kulihat ibuku tertidur lumayan pulas, mulutnya agak terbuka dan nampak gigi depannya. Tiba-tiba aku merasa ingin sekali mencium bibirnya, aku mengangkat badanku dan mendekatkan wajahku pada wajah ibu. Kuamati terus sudut bibir serta rongga mulu dalamnya. Sebenarnya aku juga tetap mengawasi kelopak matanya, mana tau tiba-tiba ibuka terjaga. Maklum ruangan itu begitu redup dengan cahaya lilin, jadi aku harus ekstra waspada mengantisipasi bilamana ibu terbangun.

Kukumpulkan keberanian untuk merasakan sentuhan bibir dengan ibu, kuatur nafas sedemikian rupa supaya tidak terlalu menyapu wajahnya. Jantungku semakin memacu, perlahan kukeluarkan lidahku dan kusentuhkan pada bibir atas ibuku. Pelan sekali, aku bahkan agak menahan nafas sedikit supaya ibu tidak merasakan sentuhan lidahku di bibirnya. Dari bibir atas aku sentuh ke bibir bawahnya, aku sapu dengan lidahku kekanan dan ke kiri mengikuti garis bibirnya.

Sampai disini, ibuku masih tertidur bahkan tidak ada gerakan yang berarti sama sekali. Mengetahui hal tersebut aku jadi semakin berani saja, yang semula hanya sebatas bibir atas dan bawah kini lidahku kuarahkan ke giginya. Kembali aku gerakkan lidahku menelusuri antara giginya yang sedikit terbuka, aku coba dorong lidahku kedalam lagi untuk menggapai rongga mulutnya. Agak tertahan memang, tapi aku terus melakukan itu, kembali kudorong pelan lidahku sampai akhirnya lidahku menyentuh langsung lidah ibuku. Ada rasa semacam asam yang kurasakan, ini pasti rasa dari liur ibuku dilidahnya.

Situasi masih aman, meski takut ibu kalau terbangun aku tetap melanjutkannya. Kini kepalaku agak kuputar ke kanan demi ingin mendapatkan posisi berciuman yang sempurna. Aku masih menggunakan lidahku untuk menyapu pelan lidah ibuku didalam rongga mulutnya, kutekan lebih dalam lagi dan aku menutup mulut ibuku dengan mulutku. Aku tahan sebentar jaga-jaga jika ibu sampai terbangun. Kini aku dan ibuku sudah dalam posisi berciuman dengan lidahku menjulur didalam rongga mulut ibuku. Dengan posisi seperti ini otomatis produksi liurku juga meningkat dan membasahi mulut kami berdua.

Lama aku menikmati posisi berciuman ini, lalu aku rebahkan badanku disamping ibuku dengan posisi tengkurap kedua tanganku sebagai tumpuan dan tetap menjaga mulutku melumat bibir ibuku. Aku telusuri lidahku didalamnya, mencari cari sudut kenikmatan yang aku rasakan. Bagiku inilah ‘prestasi’ besar obsesiku dimana aku berhasil merasakan berciuman dengan ibuku meski dia dalam keadaan tertidur. Pengalaman berciuman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya ini dengan cepat membuat aku orgasme, aku biarkan spermaku keluar membasahi celanaku, aku ingin menikmati benar adegan ini dan merasakan sensasi lebih dari sekedar yang aku bayangkan selama ini.

Setelah spermaku habis terkuras, aku angkat perlahan tubuhku. Kulihat mulut ibuku amat basah oleh liurku, wajar karena ada sekitar 15 menitan aku bertahan dalam posisi tersebut. Secara gaya gravitasi liurku akan ikut turun menetes menelusuri bibir, gigi, lidah serta rongga mulut ibuku. Setidaknya sekarang aku sudah tau bagaimana rasanya berciuman dengan ibuku, merasakan lidahnya di lidahku. Sungguh aku merasa sangat beruntung pada fase ini. Aku belum berpikir untuk mengulang kembali apa yang aku lakukan barusan, aku sudah cukup puas dengan pencapaianku kali ini, meski itu hanya sekedar berciuman. Namun ciuman yang akan aku ingat seumur hidupku. Ciuman gairah dari seorang anak untuk ibunya yang semestinya tidak dilakukan, dan sekali lagi aku beruntung sudah pernah merasakannya.

Sejak aku bisa merasakan berciuman langsung dengan ibu aku jadi makin penasaran untuk menyetubuhi ibuku. Ibuku tidak tau bahwa anaknya pernah melumat bibirnya secara langsung. Pengalaman tersebut selalu membuatku terangsang setiap kali mengingatnya, walaupun itu bukan kali pertama aku berciuman dengan wanita. Setiap aku melihat ibuku bicara padaku aku selalu memperhatikan gerak bibirnya. Semakin aku lihat semakin ingin aku mengulanginya. Ah..seandainya saja ibu mau memberikan bibirnya untuk kulumat, payudaranya untuk kuhisap dan vaginanya untuk kusetubuhi…, tapi rasanya juga tidak mungkin sekali bahkan bisa dibilang amat mustahil aku bisa menyetubuhinya.

Aku mulai terinspirasi dari beberapa kisah incest yang beredar di internet. Aku buka situs-situs yang memuat cerita incest baik lokal maupun bahasa inggris. Aku pelajari betul bagaimana seorang anak bisa menyetubuhi ibu atau mama kandungnya. Kadang aku geli juga bila aku baca-baca situs cerita dewasa incest, kok bisa ya seorang anak dengan alasan cinta,obsesi, situasi bahkan unsur paksaan bisa sampai beradegan ranjang dengan orang yang melahirkannya, bahkan sampai menikahi ibunya !. Aku belum bisa kalau harus sejauh itu.

Aku jadi suka sekali membayangkan aku ada dalam cerita-cerita tersebut. Khayalankulah yang bermain apabila aku membaca adegan-adegan cerita tersebut. Diantara seluruh ‘tata cara’ menaklukan ibu kandung yang aku baca, aku paling tertarik dengan cerita seorang anak yang menyetubuhi ibunya saat tertidur. Buatku ini yang paling masuk akal untuk saat ini. Tapi aku juga penasaran dengan cara merayu secara frontal atau sengaja dengan cara memaksa untuk bersetubuh.

Lama aku berpikir bagaimana caranya menyetubuhi ibu. Berhari-hari aku mencari cara hasilnya buntu, aku benar-benar frustasi. Obsesi berlebihan dalam diriku pada akhirnya juga menyiksaku sendiri. Aku jadi lebih introvert dirumah, lebih banyak didalam kamar, aku jadi jarang bergaul dengan teman sebaya, keluar dari rumah pun hanya urusan pekerjaan atau suatu hal yang mendesak. Aku benar-benar terjebak dalam obsesiku sendiri yang malah berbalik menekan diriku. Hingga pada akhirnya aku putuskan obat tidurlah sebagai cara yang aku gunakan agar bisa menuntaskan hasratku ini, hal ini disebabkan karena aku tidak ingin ibu sampai tau kelakuanku selama ini, termasuk niat untuk memasukkan penisku kedalam vaginanya.

Sepulang dari kerja aku beli obat tidur di apotik, setelah aku beli aku bawa ke kamar. Kembali aku berpikir bagaimana supaya ibu meminumnya. Kalau dicampur dengan minuman pasti rasanya akan dikenali. Hmm… Benar….aku punya ide, obat tersebut akan aku campurkan pada jamu yang biasa ibu minum, ibu tidak akan bisa membedakan rasanya antara aku campur atau tidak. Ibuku memang setiap malam selalu merebus jamu godok, aku sendiri tidak tau jenis jamu apa, aku pernah mencoba rasanya pahit sekali. Kata ibuku sih supaya badan tetap sehat dan segar.

Aku menunggu hingga selepas ibu nonton tv, biasanya sekitar jam 8 malam ibu akan mulai merebus jamu godokan (istilah orang jawa) tersebut. Ibu mulai menyalakan kompor pertanda mulai memasak rebusan. Segera aku mengambil tas ku dan mengeluarkan obat tidur tadi sebutir yang sebelumnya sudah aku haluskan dalam bentuk puyer. Aku pergi ke dapur ketika ibu masuk ruang tv. Benar saja…ibu memasak jamu, aku lihat sebentar ke arah pintu dapur memastikan, ibuku masih didepan tv, secepatnya aku masukkan serbuk obat tidur tersebut kedalam panci, setelah itu aku kembali lagi ke kamar.

Sekitar sejam kemudian ibu sudah masuk kamar pertanda akan tidur malam. Ibu tidak pernah mengunci kamarnya apabila sedang tidur, ibu hanya membiarkan pintu kamar setengah terbuka dan ada kain penutupnya dipintu itu, lampu ruang tv sengaja selalu dinyalakan supaya tetap ada bias cahaya dari balik kamar. Sementara dikamarku aku menunggu sampai hampir 2 jam. Aku sudah memperhitungkan efek dari obat mulai bekerjanya kapan serta berikut durasi efeknya, semua sudah aku pelajari dari penjaga apotik.

Sebenarnya aku segan masuk kamar ibu, jarang sekali aku masuk kamarnya apabila ibu didalam apalagi jika sedang tidur, tapi kali ini berbeda, aku memang menginginkannya tertidur untuk memuluskan rencanaku. Dengan setenga jinjit aku berjalan menuju kamar ibuku. Aku sudah menyiapkan alibi mau tukar bantal apabila ibu terbangun. Aku sangat memperhitungkan sekali memang segala kemungkinan yang terjadi supaya rencanaku ini berhasil.

Posisi ibuku tidur agak tengkurap dan setengah badannya agak naik ke atas, tangan kirinya menopang kepala dan kakinya setengah terlipat menyilang. Ibu kalau tidur pasti menggunakan sarung, dan kali ini ibu mengenakan atasan lengan panjang harian dengan 4 kancing didepan. Aku sudah membawa bantal saat itu, lalu kupanggil ibu perlahan. Sekali…dua kali…tiga kali…aku panggil lagi ibu dengan nada lebih keras, masih belum ada jawaban. Aku tidak mau gegabah, aku panggil ibu lagi tapi dengan sedikit mengguncangkan pundaknya. Masih tetap sama ibu tidak bangun.

Bukan main girangnya diriku seakan telah menemukan suatu hal besar. Ranjang ibu terbuat dari dipan kayu bukan model spring bed, maklum ranjang itu sudah ada sejak aku masih kecil dan kasurnya juga masih jenis kapuk. Aku berlutut ditepi ranjang ibu sedang posisi ibu membelakangiku menghadap kearah tembok. Aku ingin memastikan lagi bahwa efek obat yang kuberikan bekerja baik. Aku genggam tangan kanan ibu dan mengelusnya dengan jempolku sambil kupanggil-panggil. Kali ini aku yakin sekali ibu telah terlelap.

Aku mulai menyentuh pipi kanannya dengan telunjukku, menggesek perlahan melingkar, terus hingga ujung alis, hidung serta bibirnya. Aku pegang pundak kanan ibu dan pelan sekali aku tarik kearahku supaya posisi ibu terlentang. Ibu sama sekali tidak menunjukkan akan bangun, maka dengan sangat percaya diri aku dekati wajahnya. Cuppp…kecupan ringan aku daratkan dipipi ibuku, lanjut di dahinya, turun melalui hidung dan berakhir dibibirnya. Aku putar wajahku dan kedua tanganku kutahan dikedua sisi kepala ibu. Dengan setengah menunduk aku mulai menggumuli bibir ibuku.

Caraku melumat mengecup dan memainkan lidah ibuku hampir mirip dengan kejadian lalu. Cuma bedanya sekarang aku lebih percaya diri dan sudah bisa lebih jauh menjelajahi rongga dalam mulut ibuku. Lama aku mengulum mulut ibuku. Aku berdiri sejenak, kuperhatikan tubuh ibuku ini, lalu aku tarik sedikit demi sedikit sarungnya ke atas. Aku jadi sangat berdebar dengan hal ini, sangat memacu adrenalin tapi juga menyenangkan. Sampai akhirnya aku berhasil mengangkat sarung ibu ke atas. Aku tidak mau memelorotkannya, karena takut ibu curiga dipagi hari sarungnya sudah tidak mengikat dipinggangnya lagi.

Aku dapati celana dalam ibu agak longgar. Perlahan aku sentuh belahan vaginanya dengan sedikit menekan kedalam. Aku jadi penasaran seperti apa aroma asli vagina. Aku sedikit mengangkat celana dalam ibu dari bagian sisi vagina dengan 2 jariku. Bulu kemaluannya agak merambat keluar disisi vagina ibu. Kudekatkan wajahku pada vaginanya, aku hirup aromanya…pekat sekali dan kuat aromanya sedikit berbau pesing. Aku sendiri bingung menjelaskan bagaimana itu aroma vagina seperti apa. Yang jelas sangat merangsang libido.

Aku julurkan lidahku pada garis vagina ibu, kugerakkan lidahku keatas dan bawah kadang dengan sedikit menekan supaya lidahku bisa masuk lebih jauh sampai akhirnya seperti seolah-olah aku berciuman dengan vagina ibu. Lama kelamaan vagina ibu basah juga entah oleh air liur atau memang cairan vagina. Aku turunkan celanaku berikut CD, hingga penisku tegak berdiri. Kembali aku naik ranjang, sementara tangan kananku membuka sedikit celana dalam ibu yang menutup area vaginanya.

Aku mengalami sensasi dan adrenalin yang tinggi dan belum pernah aku rasakan selama ini, sampai untuk bernafaspun aku jadi agak ditahan dan sangat kuatur sekali. Jarak penisku dan vagina ibu makin dekat hanya tersisa beberapa centi saja. Disinilah aku bimbang kembali, haruskan ibuku yang sedang tertidur ini aku setubuhi, bagaimana aku menjelaskan kalau ibu bangun. Aku tetap tidak merubah posisiku, masih sama. Tak lama kemudian ujung penisku sudah bertemu dengan bibir luar vagina ibu hanya menempel saja. Kudiamkan sejenak penisku aku belum berani mendorong masuk. Aku hanya menggesek pelan sekali naik turun searah garis vagina.

Cairan dalam kedua kelamin kami makin banyak. Kadang ujung penisku sudah mulai menyeruak vagina ibuku. Pelan namun pasti kepala penisku sudah menekan agak lebih dalam beberapa centi. Aku gesek dan gerakkan secara perlahan memutar diantara celah vagina ibu. Aku merasakan dadaku agak sesak, kepalaku berat serta penisku sudah sangat berontak ingin memasuki vagina ibu, tapi ya itu tadi rasa keraguanku masih besar, ada rasa takut juga yang pada akhirnya aku tidak berani lebih jauh mendorong penisku. Sedang dalam kondisi seperti itu aku merasa ada stimulus pendorong keluarnya sperma yang dahsyat meski aku sebenarnya belum memasukkan penisku kedalam vagina ibu secara utuh. Mungkin karena pengalaman pertama kali aku bersentuhan kelamin dengan ibuku jadi baru menempel saja rasanya sudah nikmat sekali (orang jawa bilang peltu).

Aku merasa sebentar lagi aku orgasme, cepat aku cari celana dalamku. Setelah itu aku bungkus penisku dengan CD ku tadi serta kugenggam dan aku remas penisku sendiri. Akhirnya aku memuncratkan spermaku sendiri dibalik celana dalamku. Luar biasa rasanya, untuk beberapa detik aku merasakan puncak orgasme dahsyat. Aku tidak mau memuncratkan spermaku di vagina ibu, aku tetap belum berani untuk meninggalkan jejak mesum terhadap ibuku, karena untuk orang sepertiku saat ini tetap butuh rasa aman dan privasi tinggi untuk melampiaskan hasratku.

Aku segera merapikan sarung ibu tidak lupa aku bersihkan sisa cairan di vagina ibu dengan tisu dan membawa bekas spermaku yang menggumpal di CDku. Aku langsung ke kamar mandi lalu kubersihkan noda spermaku itu lalu meletakkannya pada ember kotor. Aku tidak mau ada jejak sedikitpun, harus benar-benar rapih tanpa jejak. Setelah itu aku kembali ke kamarku. Didalam kamar aku merenung, ada sedikit rasa tidak nyaman atau kalau boleh dibilang rasa bersalah. Karena memang bagaimanapun secara nurani aku tidak mau melakukan perbuatan ini, namun aku tidak sanggup menahan dorongan nafsu yang kian besar tumbuh dalam diriku. Pikiranku melayang kesana kemari dan tidak terasa aku pun tertidur pulas menutup malam dalam peraduan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*