Home » Cerita Seks Umum » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 12

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 12

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 11

Pak Damarto sampai di mess yang dibangun sementara proyek sekitar pukul 22:00 hari Selasa, merasa kelelahan karena perjalanan daratnya dengan mengendarai mobil yang disetir oleh pak Suripman, sopir pribadinya, lagipula telah mengisi perutnya diperjalanan tadi… pak Damarto tertidur pulas tanpa sempat mandi dahulu.

Keesokan pagi harinya (hari Rabu), setelah membersihkan dan merapikan dirinya, dia menyantap sarapannya berupa bubur gandum (yang konon katanya bisa melarutkan lemak yang berlebih didalam tubuh). Jam 9:00 tepat, mengadakan rapat dengan anak buahnya yang menjabat sebagai Pimpro (Pimpinan Proyek) dan beberapa staf lainnya untuk meng-evaluasi dan mengatur kembali penjadwalan kerja dan lain sebagainya yang memang perlu dibahas, agar proyek bisa ditingkatkan operasi kerjanya dengan lancar dan tepat waktu. Jam 11:00, rapat itu selesai dengan sukses.

Segera pak Damarto pergi, diantar dengan mobil yang disetir pak Uripman, ingin bertandang ke rumah kediaman bu Murni Atika alias bu bidan Atik, sekalian membuktikan dengan mata kepalanya sendiri apa benar bu Warni Ningsih atau biasa dipanggil sebagai bu Nining saja, yang tak lain dan tak bukan adalah ibu kandung dari Naning dan Neni… tinggal bersama bu bidan Atik dirumahnya. Perjalanan dengan mengendarai mobil ini tidaklah dirasakan pak Damarto sebagai jarak yang jauh, karena hanya memakai waktu sekitar 30 menit saja.

Sesampainya ditempat yang dituju, dia bertemu dengan bu bidan Atik.

Setelah mengawali perbindangan dan basa-basi yang membuat perbincangan menjadi rada kikuk dan risih. Akhirnya sang nyonya rumah, bu bidan Atik berkata dan mengusulkan tanpa tedeng aling-aling lagi.

“Begini pak Damar, kalau boleh… saya ingin tahu… berapa umur pak Damar sekarang?”, tanya bu bidan Atik terus terang tapi penuh hormat.

“Ooh itu toh bu…? Saya masih belum lupa dengan umur saya… bu, umur saya 40 tahun dan isteri saya berumur 36 tahun… masih muda kan bu…? He-he-he…”, jawab pak Damarto berusaha mencairkan suasana yang kaku ini dengan tawanya yang renyah.

“Masa sih bisa lupa dengan umurnya sendiri, ini tidak mungkin kan? Hi-hi-hi…”, kata bu bidan Atik. Tawa pencair suasana dibalas dengan tawa serupa. Lanjut bu bidan Atik lagi, “Biarpun muda dan ganteng dengan umurnya 40 tahun ini… dik Damar sebaiknya memanggil saya dengan panggilan mbak saja… tidak percuma mbak Atik berumur 42 tahun… berarti menang 2 tahun kan? Hi-hi-hi… tidak menolak kan! Hi-hi-hi… kapan lagi bisa mendapatkan adik yang gagah… mana ganteng dan baik budinya lagi… hi-hi-hi…!”.

“Wahh! Ini suatu kebahagiaan baru untukku, mbak! Seperti diketahui sanak keluargaku sedikit sekali! Terimakasih mbak…!”, jawab pak Damarto dengan perasaan sangat bahagia sekali, refleks tanpa disadarinya, dia segera mendekap erat tubuh ‘mbak baru’-nya disertai kecupan lembut pada kedua pipi bu bidan Atik, kemudian segera melepaskan kembali dekapannya.

Yang didekap dan diciumi pipi kiri-kanannya, kelihatannya memegang pipi kiri dengan telapak tangan kirinya dan memegang pipi kanan dengan telapak tangan kanannya, sembari berucap bagaikan mengambang. “Ini satu hal baru juga bagi mbak, dik…! Lagipula ini bukanlah kebiasaan orang-orang di dusun ini! Jangan marah ya… dik, kalau boleh… mbak usulkan hal serupa ini harusnya dilakukan… bagaimana… kalau setiap hari saja… hi-hi-hi… habis enak sih…! Hi-hi-hi…”, kata bu bidan Atik sambil tertawa lepas.

Tadinya hati pak Damarto sempat keburu ciut jadinya mendengar komentar awal atas perbuatan spontannya itu, tapi begitu mendengar tawa tulus yang lepas dari ‘mbak baru’-nya, hatinya menjadi gembira lagi disertai senyumannya yang sumringah.

“Dengan senang hati mbak, pada pagi hari, siang hari atau ditambah juga dengan pada malam hari… gimana mbak? Pake bonus deh… he-he-he…!”, jawab pak Damarto lega dan mulai mulai berani melancarkan canda perdana-nya disertai tertawanya yang kalau didengar dengan seksama… ada nada-nada genitnya.

‘Wah… udah tampan… genit lagi. Tapi memang pada dasarnya genit… ya tetap genitlah! Tapi aku lebih suka pria ganteng yang genitnya terbuka, daripada… pria ganteng yang santun, tapi… tertutup!’, begitulah penilaian yang mantap bu bidan Atik yang telah kepincut hatinya dengan keterbukaan ‘adik baru’-nya ini yang spontan tanpa tedeng aling-aling lagi.

“Pake bonus segala…? Emangnya apaan tuh?”, tanya bu bidan Atik ingin tahu.

“Maaf mbak masih rahasia tuh…! Ini aja mbak yang tidak ada rahasianya…”, jawab pak Damarto, segera mengambil dari dalam tas pikniknya, yaitu 1 set BB cellular dalam kotak yang masih baru dan bersegel.

“Oohh… HP baru toh, dik? Buat apa dik…”, kata bu bidan Atik menolaknya secara halus. “Lagipula… mbak sudah mempunyai HP, walaupun tipe lama tapi mbak nyaman memakainya. Kalau yang baru seperti itu kan… mbak harus mempelajari lagi cara-cara penggunaannya, iya toh…?”.

“Jangan khawatir mbak… nanti aku akan mengajari secara mudah dan gamblang… yang penting-penting saja dahulu secara bertahap… dan pulsanya akan ditanggung aku deh… lagian selain untuk kepentingan mbak sendiri, ini kan juga memudahkan Naning dan Neni menghubungi mbak demi kepentingan mereka… siapa tahu kedua anak itu ingin menyampaikan sesuatu atau ingin sekedar berbicara dengan mbak… untuk melepaskan rindu, iya nggak…? Pasti… dan aku yakin mbak akan bisa mengetahui segala sesuatu dalam hal penggunaan BB ini dengan cepat! Aku akan berada lumayan lama ditempat proyek disini… sebulan… bahkan mungkin lebih… mbak!”, kata pak Damarto meyakinkan ‘mbak baru’-nya yang kelihatan rada ragu-ragu atas kemampuannya sendiri untuk menyerap teknologi cellular modern ini.

“Begitu toh…? Tapi ini lebih penting untuk dik Nining… itu lho… ibu kandungnya Naning dan Neni… ya nggak…!”, kata bu bidan Atik lagi.

“Itu sih urusannya lain mbak! Untuk mbak Nining…”, perkataan pak Damarto berhenti seketika karena dipotong oleh ‘mbak baru’-nya.

“Tidak-tidak…! Jangan panggil dia dengan sebutan ‘mbak’… kasihan dia… sudah lagi keadaan susah, nanti… malah tambah tua lagi dengan sebutan itu. Nining baru berumur 34 tahun dik! Pada usia 15 tahun dia telah melahirkan Naning yang sekarang sudah berusia 19 tahun malah! Dia menikah pada umur 14 tahun, pada saat itu… di dusun ini… usia gadis sebegitu, sudah dianggap layak dan cukup umur untuk dinikahkan! Meskipun setelah hampir 2 dekade (= 20 tahun) belakangan ini, kebiasaan yang kurang baik itu sudah tidak lagi dilakukan disekitar dusun-dusun disini. Bahkan Nining masih lebih muda 2 tahun dari usia isteri dik Damar sendiri seperti yang dik Damar telah memberitahukannya tadi berumur 36 tahun, ya kan…?”, kata bu bidan Atik.

“Hebat juga ingatan mbak… BB untuk dik Nining sudah ada mbak, tuh… didalam tas!”, kata pak Damarto.

“Kalau soal ingatan sih… memang harus dijaga dik… apalagi menghadapi dik Damar yang ganteng ini hi-hi-hi… kata neneknya mbak sih… itu bisa berbahaya lho… hi-hi-hi…”, kata bu bidan Atik menggoda pak Damarto.

“Tidak usah khawatir mbak! Aku sudah jinak kok… He-he-he…!’, kata Damarto yang sekarang membalas candaan bu bidan Atik. Disambung dengan pertanyaannya pada bu bidan Atik. “Dik Nining… kemana mbak, kok sedari tadi tidak kelihatan?”.

“Baru saja berangkat, kira-kira 5 menitan lah sebelum kedatangan dik Damar, bakal pulangnya lama dik… soalnya dia pergi ke pasar panen yang terletak dipinggiran dusun ini, dan… pasar ini tidak setiap hari diselenggarakan… hasil panennya bagus-bagus… murah lagi harganya…”, jawab bu bidan Atik menjelaskan.

“Kebeneran dong nih…!”, kata pak Damarto menarik napas panjang dahulu sebelum melanjutkan perkataanya.

‘Kebeneran buat apaan…?’, pikir bu bidan Atik jadi tercekat hatinya dan diikuti dengan… <seerrr…!> ada semprotan kecil yang keluar dari dalam vagina-nya yang langsung melicinkan sebagian besar permukaan pada lorong gua nikmat dalam vagina-nya itu…

Perawakan bu bidan Atik boleh dikatakan prima bila dibandingkan dengan wanita-wanita seumuran di dusun ini. Dari semua wanita disini, bu bidan Atik adalah seorang wanita yang berpendidikan paling tinggi. Dia lulus sekolah tinggi pendidikan ilmu kebidanan dan telah mendapatkan ijazah resmi D3 untuk itu dan ditempatkan disini sebagai bidan resmi sejak 15 tahun yang silam bahkan dia telah diangkat dari instansi terkait sebagai bidan resmi untuk 7 dusun sekitarnya. Dia mempunyai kewenangan penuh untuk mengangkat satu atau lebih tenaga wanita sebagai asistennya. Karena itulah, dia mengangkat Warni Ningsih (bu Nining) dan langsung menjadi pegawai negeri sipil kabupaten setempat dan mendapat gaji tiap bulannya dari instansi itu.

Bu bidan Atik yang belum begitu terlalu tua dengan umurnya 42 tahun sekarang, berkulit bersih kuning langsat, tinggi 162 cm dengan berat badan 57 kg sangat ideal dan sangat montok… bagaimana tidak?! Payudaranya 38B, sekal dan sangat indah apalagi dimata seorang pemahat, memang… dia ideal juga sebagai model untuk para pematung yang khusus mematung tubuh wanita tanpa busana…

Dia telah dicerai oleh suaminya 10 tahun lalu karena sang suami tidak sabaran ingin punya turunan… terserah gendernya mau laki atau perempuan pun jadi. Inilah yang menyebabkan dia menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk segala perhatian para pria yang selalu meneguk air liurnya tatkala memandang tubuh idealnya itu. Apa lagi bila menatap payudaranya yang ukuran 38B itu (‘ancur… minah!’ kata engkongnya si polan). Barulah setelah bertemu dan berkenalan dengan pak Damarto yang ganteng, disertai anggapannya bahwa pria satu ini cukup jenaka dan… rada genit, tapi selalu santun sewaktu mengungkapkannya.

Kerja bu bidan Atik yang sekarang santai-santai saja adalah berkat usaha kerja keras pelayanannya selama 15 tahun itu! Serta dalam rangka mensukseskan program KB untuk menekan laju pertambahan jumlah penduduk. Memang masih ada beberapa wanita muda hamil, itu wajar saja… karena hal itu terjadi pada keluarga yang baru satu atau 2 tahun menikah.

Pak Damarto berdehem pelan, “Eehh-heeemm…!”.

“Apa-apaan sih, dehem-deheman segala… dik?!”, kata bu bidan Atik tersadar seketika dari lamunannya.

“He-he-he… ingat pacar lama yaa… mbak?! He-he-he…!”, canda pak Damarto mulai lagi menggoda ‘mbak baru’-nya ini.

“Enak aja… sembarangan! Ingat pacar baru lah… eh… maksud mbak ingat calon pacar baru dong… gitu loh…!”, jawab bu bidan Atik dengan santai.

“Gini lho mbak… mumpung dik Nining pulangnya masih lama, kita manfaatkan waktu ini dengan mempelajari BB ini, yaa…? Sembari menunggu dik Nining pulang begitu… setuju ya mbak…?”, kata pak Damarto tanpa menunggu jawaban, membuka kotak BB baru itu dan memasang sana dan sini seperlunya, kemudian dengan memegang BB baru ini menaruhnya ditelapak tangan kirinya pas didepan bu bidan Atik serta pak Damarto menempatkan dirinya dibelakang bahu kiri bu bidan Atik, kalau dia bicara menerangkan segala sesuatunya mengenai BB itu, tidak perlu terlaku keras berbicaranya… karena mulutnya berada didekat telinga kirinya bu bidan Atik.

Kemudian keduanya terlihat asyik terlibat dalam hal menerangkan dan diterangkan, menjelaskan dan dijelaskan… singkat kata bu bidan Atik yang memang tidaklah ‘telmi’ (telat mikir) sudah menguasai hampir 99% dari segala hal-ikhwal BB itu.

Sesaat kemudian, bu bidan Atik menunggu penjelasan selanjutnya dari ‘adik baru’-nya untuk melengkapi pengetahuannya tentang BB itu agar menjadi sempurna 100%… tapi kok tak kunjung tiba penjelasan itu… ‘Kenapa yaa…?’, tanya bu bidan Atik dalam hatinya sambil melirikkan matanya keatas rada kebelakang tanpa menggerakkan kepalanya sedikitpun. Yang dilihatnya adalah mata ‘adik baru’-nya sedang nanar penuh konsentrasi memelototi kearah buahdadanya yang besar dan montok dan telanjang bila dilihat dari atas! Maklumlah meskipun dia memakai blus tebal… tapi kan tidak memakai BH!

“Eehh-heeemm…!”, sekarang bu bidan Atik yang mendehem. Menyadarkan pak Damarto dari inspeksi khusyuk matanya yang memandang penuh gairah pada seluruh permukaan buahdada montok yang telanjang itu. “Asyik kan…?! Cukup jelas nggak… melihatnya hi-hi-hi…”, kata bu bidan Atik pasrah tanpa berusaha menutupi bagian dadanya yang terbuka itu. Habis… kadung terlihat semuanya, ya sudah… biarkan saja!

“Mulus dan montok…!”, jawab pak Damarto tanpa menyadarinya sekilas, sesaat kemudian baru menyadari kekurang-ajarannya itu. Berkata terbata-bata, “Eh… maafkan aku mbak…! Dasar… mataku diluar kendali nih…!”. Buru-buru pak Damarto bangkit berdiri, langsung meregangkan pinggangnya memutar kekiri <krrttek…!> lalu kekanan <krrttek…!>

“Tidak apa-apa, kan dilihat sama adik mbak sendiri! Ya… hitung-hitung… amal deh…! Hi-hi-hi…!”, tawa bu bidan Atik dengan renyah. “Tadi kedengarannya tuh pinggang kiri-kanan pada bunyi bergemeretakan, sini deh mbak urut… sebentar ya mbak ambil minyak urut dulu yaa…”. tapi langsung ditahan oleh pak Damarto.

“Jangan pake minyak urut deh mbak, pake tangan kosong aja deh…”, pinta pak Damarto menghadang bu bidan Atik yang mau melangkahkan kakinya menuju dapur yang berada lumayan jauh dibelakang rumah.

Sekilas pandangan mata bu bidan Atik tertuju pada tonjolan didepan pantalon ‘adik baru’-nya itu. ‘Besar amat tuh tonjolannya! Pasti nggak salah lagi… gede dan panjang penis adikku ini! Ampun deh! Nggak boleh lihat yang montok-montok… langsung pengen nyodok aja lagi tuh barang! Hi-hi-hi…!’, kata bu bidan Atik dalam hati disertai… <seerrr…!> untuk kedua kalinya ada semprotan kecil yang keluar dari dalam vagina-nya yang langsung melicinkan sempurna permukaan yang belum dilumasi pada semprotan kecil yang pertama tadi pada lorong gua nikmat dalam vagina-nya itu…

Bu bidan Atik mengulurkan tangan kirinya dan mengandeng tangan kanan ‘adik baru’-nya melangkah bersama menuju kamar tidurnya, setelah berdua berada dialam kamar, dia mendorong asal saja pintu itu kembali menutup tapi tidak rapat ada celah sekitar 4 cm dari tiang kosen pintu itu.

Pak Damarto memberanikan dirinya (nekat bener pria ini!) mendekap mesra tubuh ‘mbak baru’-nya ini dari belakang punggungnya dan berbisik dekat telinga kiri bu bidan Atik dan berbisik penuh nafsu birahi, “Mbak Atik sudah cantik… badannya indah dan mulus sekali! Sampai-sampai… aku jadi…”. Langsung saja disambung oleh ‘mbak baru’-nya.

“Sange… begitu! Tuh pentungan kayu… jangan dibawa kemana-mana kenapa?! Hi-hi-hi…!”. Sambil mengulurkan tangan kirinya kebelakang meraba-raba, dan… ketemu! Langsung saja tangannya mencekal mantap penis pak Damarto yang lagi ngaceng sempurna. Tersentak kaget dan tercekat hatinya sambil berkata, “Ampun deh… gede amat sih…! Adik pinjam… punyanya… kuda yaaa…?! Hayo jawab mbak! Sayang…!”, kata ‘mbak baru’nya pak Damarto, yang merajuk rada manja.

“Tidak pake pinjam… mbak! ‘Swear’ deh… kalau mau lihat buka aja sendiri… juga tidak mengapa kok… Hitung-hitung untuk membayar pemandangan yang indah tadi…! He-he-he…”, kata pak Damarto disertai tawanya yang sekarang tidak bernada genit lagi, tapi…. penuh gairah birahi yang sekonyong-konyong tumbuh menjadi besar bak… ‘magic bean’ yang ditanam di tanah saja layaknya…

“Wahhh…! Ini sih benar-benar kebetulan, dik! Tidak baik untuk ditolak… tuman…! Mbak-mu ini sudah hampir-hampir lupa akan bentuk punyanya orang lelaki… gitu lho!”, jawab bu bidan Atik penuh dengan keinginan-tahu disertai… gairahnya yang mulai beranjak melonjak tinggi. Segera saja melucuti pantolan beserta CD-nya sekali. Dan… ‘Aduh… mak! Besar sekali!’. Bukan panjang penis yang sedang ditatapnya itu, tetapi… gemuknya itu lho… ‘Besar sekali…! Apa bisa masuk ke memekku… Uuughhh… mengerikan sekali… tapi sekaligus… membuatku jadi penasaran! Bagaimana rasanya yaaa… digituin seperti punya kuda ini…?!’.
Dengan nekat mencekal batang penis yang lagi ngaceng itu, diperhatikan sesaat palkon yang licin bulat dengan seksama. Dikecupnya berkali-kali dengan gaya seperti mentotol-totolkan mulutnya pada palkon ‘adik baru’-nya, yang kemudian mengundang protes dari sang ‘adik baru’.

“Aduuuhhh… mbak! Jangan digituin terus dong…! Dikenyot apa sekali-sekali…! Entar kuda yang punyanya… ngamuk lho!”.

“Ah! Nggak takut…! Nama kudanya saja… mbak tau kok! Yaitu… Da-mar…. to! Hi-hi-hi…!”.

Tak sabar sudah pak Damarto jadinya, segera melucuti kemejanya sendiri… kemudian menarik tubuh ‘mbak baru’-nya itu keatas untuk berdiri, dengan cepat menelanjanginya bulat-bulat… Kemudian mulai melakukan FK seru pada wanita ayu paruh baya ini. Melepaskan tautan FK-nya, dengan mendekap erat sambil tak henti-hentinya mengenyoti pentil dari buahdada yang besar montok itu. Dengan perlahan menggeser posisi mereka mendekati tepian tempat tidur yang lumayan besarnya itu dan mendorong tubuh ‘mbak baru’-nya terjatuh terlentang diatas tempat tidur dengan kedua kakinya masih menjuntai dipinggiran tempat tidur.

Pak Damarto berlutut dilantai yang berkarpet warna hijau, menghadapi vagina klimis (‘Rupanya mbakku ini termasuk komunitas cewek ber-vagina klimis rupanya!’), dengan labia mayora-nya yang rada tembem itu. Tidak membuang-buang waktu lagi, mulut dan lidah pak Damarto mulai menggarap vagina tembem itu. Terlonjak-lonjak jadinya pinggul bu Atik dan tidak malu-malu lagi memberi komentar dengan agak keras suaranya.

“Aduuuhh dik! Itu kan jorok namanya… aaahhh… kenapa enak banget ya…? Udah-udah… dik… aduh… gimana sih nih…! Enaknyaaa…! Nyampe deh… mbak jadinya! Oooh…!”, keluh desah bu Atik, menyambut orgasme-nya yang sepuluh tahun terakhir ini belum menyentuh tubuhnya… <seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

Belepotan jadinya wajahnya dengan sedikit cipratan cairan nikmat klimaksnya bu Atik. Segera dia merogoh saku pantolannya yang masih tergeletak diatas karpet hijau itu. Setelah menyeka wajahnya dengan saputangan yang dirogoh dari sakunya itu, kembali berlutut lagi menghadapi vagina bu Atik lagi.

Bu Atik yang masih sedikit terlena oleh nikmat orgasme itu dan mengawasi dengan pasrah gerak-gerik ‘adik baru’-nya jadi terkesiap seketika. “Eh-eh-eeehhh… dik! Mau ngapain lagi sih…! Jauh-jauh dong dari situ… adikku sayang…!”, kata bu Atik memelas, takut di-oral lagi vagina-nya oleh ‘adik baru’-nya yang ternyata rada usilan tingkah-lakunya kalau lagi nge-seks…!

“He-he-he… nikmat kan… mbak? Kalau tidak mau aku gitukan seperti tadi… he-he-he… mbak buruan deh… berbaring terlentang ditengah-tengah… tempat tidur… bagaimana…?”.

Buru-buru bu Atik beringsut ketengah-tengah tempat tidur, walaupun tubuhnya masih lemas. Dengan bertelanjang bulat dan menelentangkan tubuhnya serta mengangkangkan paha mulusnya selebar mungkin. ‘Jadi juga deh…! Ngerasain juga punyanya lelaki mampir ke memekku… setelah absen selama 10 tahun…!’.

Tidak salah dugaan bu Atik, segera ‘adik baru’-nya menaiki tubuh telanjangnya dan menindih. Setelah mencium lembut bibir ranumnya, diam sebentar… palkon ‘adik baru’-nya sudah menerobos labia mayora dan ‘melongok-longok’ didepan mulut gua nikmatnya. Rada ciut hati bu Atik merasakan palkon pak Damarto berusaha menyeruak masuk… tetapi ada perlawanan dari otot-otot sekitar pintu masuk lorong nikmat dalam vagina bu Atik.

Segera pak Damarto berbisik dengan suara mesra menenangkan kegelisahan ‘mbak baru’-nya ini. “Santai saja mbak… rileks-kan dahulu otot-otot vagina mbak, biar punyaku mudah masuknya. Nanti… kalau sudah masuk semua, barulah… terserah mbak mau memain-mainkan lagi otot-otot itu… atau tidak”.

“Mbak tidak memain-mainkannya kok… itu bergerak dengan sendirinya…!”, jawab bu Atik yang mulai jantungnya berdetak kencang saking nafsu gairahnya muncul lagi lebih besar dari yang tadi.

“Oke deh… kalau begitu…!”, segera pak Damarto memundurkan tubuhnya dan mengambil ancang-ancang ingin melakukan oral-seks lagi…

Bu Atik yang tahu gelagatnya keinginan ‘adik baru’-nya itu buru-buru membujuk dan memintanya agar jangan melakukan itu lagi. “Aduh dik… jangan lagi dong! Biar enak rasanya, tapi… itu lho… ngilunya minta ampun deh rasanya… nggak bisa ditahan! Langsung saja mbak disodok kenapa… pelan-pelan dulu… entar juga masuk…! Mbak janji deh… entar kalau dik Nining datang… mbak bujuk deh dia untuk kita main bertiga… biar adikku sayang jadi… tambah puas…!”.

Segera pak Damarto menindih lagi, setelah mencium lembut dengan mesra bibir ranum ‘mbak baru’-nya, lalu berbisik, “Rileks saja mbakku yang cantik”.

Yang tidak diketahui pak Damarto adalah bahwa tangan kanan bu Atik dengan nekat sudah memegang erat batang penisnya keras dan menempatkan palkonnya pada pas di mulut pintu masuk gua nikmatnya.

“Haayooo dik! Tekan deh pinggulnya”, kata bu Atik dengan tabah.

Mendengar itu pak Damarto langsung menuruti apa yang dikatakan ‘mbak baru’-nya sementara itu dengan waktu berbarengan bu Atik menekan keatas pinggul mulusnya keatas!

<Bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis pak Damarto yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah pak Damarto. Ayunan pinggulnya yang kekar bergerak… turun-naik… turun-naik… turun-naik… tidak terlalu grasa-grusu… kalem saja… kecepatannya sedang-sedang saja tapi konstan, seakan pak Damarto ingin meresapi kenikmatan yang didapat dari persetubuhannya dengan bu Atik, ‘mbak baru’-nya yang sangat menggairahkannya ini.

Baru juga berjalan 10 menit, bu Atik sudah merengek-rengek minta dihentikan sejenak pompaan nikmat dari penis tegang ‘adik baru’-nya ini. Tapi yang punya penis pura-pura tidak mendengarnya.

“Nikmat sekali…! Ya sudah terusin aja deh… Ooohhh… sayang mbak nyampe…!”, seru bu Atik penuh kepuasan menyambut orgasme yang ke-dua. <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

Tapi pak Damarto tidak mau lagi menunda gerakan nikmat ini. Sedang bu Atik belum bisa mengajukan protes, karena dia belum tersadar penuh, masih… diliputi suasana penuh kenikmatan dari orgasme ke-dua ini, yang dirasakan sensasi-nya jauh melebihi orgasme pertamanya tadi.

5 menit lagi telah lewat, bu Atik sudah penuh kesadarannya kembali, bu Atik merengek-rengek lagi manja agar dia diberi kesempatan rehat barang sejenak, alasannya adalah rasa ngilu yang dirasakannya sudah tidak tertahankan lagi.

Pak Damarto dengan kalem, berbisik dekat telinga kanan bu Atik. “Mbakku yang ayu… cantik dan menggairahkan! Kalau mbak merasakan sangat ngilu sekali… peluk erat tubuhku… sekuatnya yang bisa mbak lakukan, pokoknya… kenikmatan nanti bakal kita dapatkan bersama… pasti sangat nikmat… percaya deh padaku!”.

Begitu dirasakan pak Damarto akan pelukan erat yang kuat dari kedua tangan bu Atik, langsung saja pak Damarto… tancap gas! Pompaan penis yang menyodok-nyodok seantero lorong nikmat dalam vagina legit bu Atik… semakin intens dan dahsyat!

Ini berlangsung selama 10 menitan, dan… akhirnya sampai juga mereka di penghujung jalan…

<CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!> menyembur-menyembur sperma pak Damarto membanjiri lorong nikmat vagina bu Atik, orgasme pertama yang penuh dengan kenikmatan akhirnya menerpa juga disekujur tubuh tegap pak Damarto.

Berbarengan dengan waktu bersamaan, bu Atik mendapatkan orgasme yang ke-tiga… <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

Buru-buru pak Damarto mengulirkan tubuhnya, berbaring telentang disamping tubuh kekasihnya yang paling anyar ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*