Home » Cerita Seks Kakak Adik » Kak Alya 9

Kak Alya 9

Cerita Sebelumnya : Kak Alya 8

Aku benar-benar panik. Kak Alyapun ikut panik ketika harus membersihkan pejuku yang belepotan di wajahnya. Namun setelah itu dia terlihat lebih tenang meski aku tetap bisa melihat ketegangan di wajahnya, seolah-olah aku bisa mendengar degup jantung kakakku yang memburu.

ÔÇ£Kak, di rambutnya masih ada peju tuh!ÔÇØ
Duh, mana mana? Kamu sih dek pejunya banyak banget

Kesal banget aku dengan gaya kak Alya yang sok santai ini. Padahal orang-orang bermotor itu sudah parkir dan mematikan kendaraan mereka. Itu berarti mereka bisa kapan saja masuk ke dalam mini market!

Duh, Kak! Gimana niihh?

Ya gimana dong Kakak juga gak tau nih, tapi kayaknya mereka bukan kriminal kok paling cuma mau beli minum kayak kita, ga bakal ngerampok mas kasirnya aja nyantai tuh dek

ÔÇ£Bukan itu masalahnya kak!ÔÇØ Sanggahku pada kak Alya sambil melihat kondisinya yang saat ini.

Duh, iya yah dek kakak gak pake baju, gimana dong? Ujarnya berlagak seperti baru tersadar kalau dia sedang bugil total.

ÔÇ£Kakak sih pake dibuang segala mantelnyaÔÇØ ujarku yang dibalasnya dengan memeletkan lidah. Sungguh bikin aku gemas!

Sambil terus berusaha memposisikan diri dan kak Alya agar tidak mencurigakan dari luar, aku terus memperhatikan orang-orang yang baru saja datang itu. Empat motor diparkirkan di depan, sedang yang bergoncengan ada dua orang, total jumlah mereka ada enam orang. Enam orang yang mungkin akan segera masuk dan memenuhi mini market ini. Aku hanya berharap mereka takkan mengetahui keberadaanku dan kakakku di sini. Entah apa jadinya kalau mereka melihat gadis secantik kakakku bertelanjang di mini market.

Sebenarnya perawakan mereka biasa saja, tapi dandanan mereka yang lusuh dengan jaket kotor dan celana jeans sobek-sobek membuatku jadi tidak nyaman untuk berada di sini, apalagi bersama kakakku yang sedang tak berpakaian sedikitpun. Usia mereka sepertinya sedikit di atas kak Alya, namun ada satu diantara mereka yang badannya agak sangar berbadan gempal walaupun lebih pendek dari yang lainnya, sepertinya dia yang dianggap seperti bosnya, aku menebak itu karena suaranya yang cukup keras tiap kali ia berbicara.

Mereka mulai masuk ke dalam. Aku semakin panik. Namun aku berusaha tampak wajar dan diam di sini bersama kakakku. Kulihat mereka langsung menuju ke showcase minuman yang letaknya di tepi satu sisi ruangan dan mulai memilih-milih. Aku agak lega ketika mereka mulai berhenti di sana, tapi kekhawatiranku segera menyergap kembali ketika salah satu dari mereka mulai menyusuri beberapa showcase minuman yang searah menuju tempat kami berdiri. Karena apabila mereka mencari makanan ringan, di tempat kami berdirilah daerah makan ringan berada. Hanya saja di rak sisi kami bersembunyi adalah makanan ringan seperti kue-kue kering dan roti, sedang makanan ringan seperti kacang-kacangan, coklat, dan sejenisnya berada di rak depan kami tempat sebelumnya penjaga kasir yang mengobrol dengan kak Alya. Aku berharap mereka bukan mencari kue-kue kering untuk teman merokok dan minum-minum, melainkan kacang.

Aku lega dugaanku benar, karena salah seorang yang mendekat kearah kami berhenti persis di rak bagian depan kami. Sehingga aku dan kak Alya kembali berhadap-hadapan dengan orang lain yang kuharap tak mengetahui kalau kakakku ini sedang bugil, jika tidak habislah kak Alya.

Namun memang tidak perlu waktu lama untuk si orang itu sadar kalau ada cewek cantik di depan matanya. Untungnya hanya sebatas leher dan kepala kak Alya saja yang terlihat olehnya.

Wuih, ada cewek cakep, bening euy cari apa neng malem-malem? orang itu menyapa kak Alya sambil menggoda. Sedang kak Alya kulihat membalas dengan senyum manis. Senyuman yang pastinya membuat pria itu makin pengen berani ngegodain kakakku.

ÔÇ£Cari apa neng?ÔÇØ tanya orang itu lagi.
ÔÇ£Cari minuman bangÔÇØ
Lho cari minum kok di situ, sini nih di rak sini minuman mah di kulkas kata si abang itu sambil menunjuk kulkas yang dimaksud.

Ooh, di sini juga ada kok bang, hi hi
ÔÇ£Ah, minuman apa di situ? Susu kaleng ya?ÔÇØ
ÔÇ£Hi hi, susu? Emang ada yah dek di sini susu?ÔÇØ tanya kak Alya sambil tersenyum genit melirik kearahku. Aku malah jadi melirik ke buah dadanya. Duh!

ÔÇ£Susu kak?ÔÇØ tanyaku bingung.

ÔÇ£Ape? Susu kakak? Merek apaan tuh?ÔÇØ tanya pria itu juga bingung tapi tampak bersemangat.

ÔÇ£Hihi.. kok susu kakak sih dek?ÔÇØ ujar kak Alya. Padahal aku sama sekali tidak bermaksud bicara tentang susu kakakku. Saking paniknya aku malah tak bisa bicara apa-apa sambil melihat mereka berdua.

ÔÇ£Bukan kemasan kaleng dong? Wuih, kemasan apaan yah neng?ÔÇØ

ÔÇ£Umm… kemasan apa yah? Kemasan alami kali yah bang, hihiÔǪÔÇØ Jantungku serasa mau pecah! Udah dalam posisi telanjang menegangkan begini masih nekat meladeni omongan orang itu. Terang saja orang itu semakin ingin mendekat ke arah kami. Diapun perlahan-lahan mendekat sambil cengengesan menyusuri raknya menuju tempat kami berdiri, tapi langkahnya tertahan karena dipanggil oleh temannya.

ÔÇ£Uuugh.. kakaaak..ÔÇØ bisikku gemas melihat tingkah kak Alya.

Makin kesini aku mulai meragukan keseharian kakakku yang dikenal sopan, baik dan terhormat. Entah kenapa malam ini kak Alya mulai terlihat seperti tidak biasanya, lebih berani, bahkan terlalu berani dari biasanya. Inikah yang sesungguhnya dari kakakku, atau ada sesuatu yang membuatnya seperti ini??

Beberapa orang teman lainnya yang melihat si pemuda itu ngobrol dengan kakakku malah jadi ikut mendekat. Langkahnya terdengar pelan karena mereka sembari ngobrol dan lihat-lihat makanan sepanjang yang mereka lalui. Kak Alya menarik napas panjang dan menghelanya sambil terus pura-pura melihat makanan-makanan kecil yang dipajang. Ketegangan nampak dari wajahnya, tak jelas apakah ia ketakutan atau justru menikmatinya. Aku sendiri semakin panik. Sebesar apapun rasa penasaranku ketika melihat kakak kandungku yang cantik ini menjadi tontonan cowok-cowok jelek tak jelas seperti mereka, aku tetap saja tak rela bila benar-benar terjadi.

Tapi tiba-tiba aku melihat sesuatu. Ah, kenapa tidak dari tadi aku sadar? Padahal dari awal masuk tadi udah ngeliat. Aku teralihkan ketika awal masuk tadi karena kak Alya yang menyerobot masuk mendahuluiku.

Mini market ini menjual kaos basket!

Aku melihat kaos basket dipajang rak display terdekat dengan meja kasir. Segera dengan gerak secepat kilat aku mengambilnya, tentu dengan berusaha tidak terlihat sekumpulan geng anak motor itu, dan kembali untuk menyerahkannya kepada kak Alya. Kakakku tanpa pikir panjang menerima kaos itu dari tanganku serta secepat kilat memakainya sambil merunduk. Ternyata kakak ketakutan juga. Dasar!

Kaos basket itu hanya mampu menutupi sekitar 5 cm di bawah pantat kak Alya. Sangat mepet, dan jelas mengekspos kaki jenjang dan paha putih mulus kak Alya kemana-mana. Belum lagi belahan leher kaos yang rendah, membuat belahan dada kakakku yang putih bening jadi terekspos. Bahkan puting susu kak Alya yang mengacung keras tampak tercetak, walau tidak terlalu jelas karna kaosnya hitam, tapi jika sedikit memperhatikan saja maka memang tidak bisa disembunyikan tonjolan puting itu.

Ketika para pemuda itu datang, kak Alya sudah mengenakan kaos itu. Waktunya sangat tepat sekali. Jantungku hampir copot rasanya.

ÔÇ£Suit-Suiiiiit! Bening broo!ÔÇØ
ÔÇ£Wuih! Pemandangan apa ini?ÔÇØ
ÔÇ£Waduuh, gak dingin emangnya neng malam-malam pake beginian doang?ÔÇØ
ÔÇ£Gue kira cuman di lampu merah sono noh nemuin cewek-cewek begituan, ternyata di sini ada juga.. gileee..ÔÇØ

Mereka terus melempar godaan pada kakakku yang menurutku lebih cenderung melecehkan itu. Kak Alya sendiri berusaha tetap tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya. Sedangkan aku setengah mati cemas menghadapi situasi ini. Harus cepat-cepat minggat sebelum terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Dan sepertinya kakakku juga sudah merasakan hal yang sama dengan langsung menggandeng tanganku dan mengajakku pergi dari tempat itu, Misi yah bang.. mau pulang dulu.. ucap kakakku sambil tetap menggandengku mengambil minuman kaleng asal-asalan dan bergegas menuju kasir. Kakak mulai panik nih

ÔÇ£Lho kok buru2 neng?ÔÇØ
ÔÇ£Eh, susunya tadi mana neng?ÔÇØ seloroh mereka sambil masih mengikuti kami yang sedang menuju ke meja kasir. Apa mereka nggak ngerti kalo kami nggak mau diikuti? Kak Alya juga sih, dari kondisinya saja sudah jelas sangat mengundang orang-orang seperti mereka, mana tengah malam lagi.

Mas mas kasir juga yang tadinya terkantuk-kantuk jadi terbelalak melek melihat penampilan kakakku. Masalah muncul ketika hendak membayar, minuman yang dibeli kak Alya harganya sih tidak lebih dari sepuluh ribu, tapi kaos basketnya yang sudah dikenakan itu harganya lebih dari lima puluh ribu, dan aku tidak membawa uang sebanyak itu. Keringat dinginku mulai bercucuran. Alamat gawat!

Tapi pada saat mas penjaga itu menghitung barang belanjaan kami, dia hanya menghitung kaleng minuman yang kak Alya ambil saja. Padahal barang yang kami ambil ada dua, yang satu lagi adalah kaos yang kuambil tadi. Sambil si mas penjaga menyiapkan kantong plastik untuk membungkus kaleng minuman, sesekali pandangannya mengintip kakakku. Kini aku berharap bahwa si mas mas penjaga itu memang sedang iseng melihat keseksian kakakku yang sedang mengenakan kaos seadanya itu, bukan karena curiga apakah kaos itu adalah item yang dijual di mini market ini.

Tanpa sadar aku menelan ludah berkali-kali berharap semua ini akan cepat selesai, apalagi di belakang kami dan di parkiran luar mini market ini masih ada beberapa pemuda geng bermotor yang kelihatannya belum tentu kami bisa lolos semudah itu, mengingat kini sudah malam dan kak Alya hanya mengenakan kaos yang hanya seadanya menutupi bagian vital dari tubuh kakakku.

Udah minumnya aja? Pulsanya nggak mbak? Ini wafernya sedang promo, beli 2 gratis 1 Tanya si mas kasir sesuai prosedur memang harus menawarkan barang lain pada tiap pembeli.

ÔÇ£Oh ngga usah mas, minumannya aja kok..ÔÇØ jawab kakakku sambil melempar senyum kepada mas itu, aku yakin kakakku juga sedang menutupi tindakan nyolong kaos ini, dan tiba-tiba kak Alya menoleh kearahku, ÔÇ£adeek, besok diganti yah… kakak ngga mau dikira klepto, hihi..ÔÇØ

ÔÇ£I-iya kak..ÔÇØ Duh kakakku ini, bisa-bisanya bicara bicara seperti itu di depan mas penjaga kasir, untung dia tidak memperhatikan kami. Padahal setengah mati aku ambilkan kaos untuk menutupi tubuhnya. Pulang nanti aku takkan memberi ampun pada kakakku ini. Kalau perlu akan aku ikat seharian supaya tidak keluar rumah.

ÔÇ£Enam ribu lima ratus mbak..ÔÇØ
ÔÇ£Oh, i-iya.. ini..ÔÇØ sambil menyerahkan lembaran lima puluh ribuan aku mulai berdiri tak nyaman ingin segera menggandeng kakakku keluar dari sini.

ÔÇ£Ini kembaliannya mas.. terimakasih, silakan berbelanja kembali mas..ÔÇØ ketika ingin menjawab ucapan dari mas itu tiba-tiba kak Alya sudah menggandengku pergi menuju pintu kaca keluar dari toko ini. Aku yang seharusnya panik mendadak malah terasa sangat nyaman sekali ketika digandeng olehnya. Entah kenapa aku malah menikmati kebersamaan ini bersama kakakku walau di tengah situasi yang pelik seperti ini. Aku mulai berpikir, apapun kulalui asalkan selalu bersama dengannya.

Sampai di parkiran depan toko itu kami berdua berpapasan dengan orang-orang yang tengah nongkrong sambil ngobrol-ngobrol dengan suara yang keras. Beberapa sambil merokok dan yang lainnya sambil minum. Melihat cara mereka memandang pada kakakku aku sungguh merasa tak nyaman dibuatnya.

ÔÇ£Wuih, malam-malam liat ginian?ÔÇØ
ÔÇ£Anjrit brooo.. apaan tuuh, bening poll.. hahaha!ÔÇØ
ÔÇ£Busyeeet, gak dingin tuh neng bawahannya? Sini deh abang pangku biar anget, hahaha!ÔÇØ

Cibiran-cibiran mereka mulai terdengar panas di tellingaku, apalagi ucapan-uacapan mereka mulai melecehkan kakakku. Aku tak boleh berbuat konyol karena aku mengkhawatirkan keselamatan kakakku juga. Apalagi kakakku juga terus menggandengku erat walau masih mencoba untuk tersenyum di hadapan mereka.

Siapa juga yang gak bakaln menggoda kakakku di malam seperti ini, kakinya yang putih terpampang bebas dari paha hingga ke ujung kakinya. Belum lagi pundak hingga keujung lengan, aku saja yang digandengnya dan langsung bergesekan kulit saja sudah cukup bikin otongku agak mulai tak menentu nasibnya.

ÔÇ£Misi yah abang-abang semua.. hihi..ÔÇØ
ÔÇ£Waaah.. manis nian senyumnya kakak ini.. hahaha.. kenalan dulu donk, buru-buru amat?ÔÇØ seloroh salah satu pemuda yang bicara sambil duduk di atas motornya dengan dandanan yang tak kalah kumalnya dari temannya yang masih di dalam toko itu.

Sambil tak mempedulikan mereka, aku dan kak Alya meninggalkan mereka walau mereka tetap memanggil-manggil tak jelas apa maunya itu. Semakin jauh kami meninggalkan mereka entah kenapa aku bukannya semakin aman tapi malah panik. Bagaimana kalau mereka menyusul kami? Apalagi potongan mereka adalah orang yang bakal nekat melakukan apa saja? Duh, benar-benar akan terjadi kriminalisasi nih, bukan seperti yang kak Alya perkirakan sebelumnya.

ÔÇ£Iih dek, serem-serem yah orangnya?ÔÇØ
ÔÇ£Iya nih kak, mana jantung mau copot lagi.. gara-gara kakak sih..ÔÇØ
ÔÇ£Hihihi, beneran jantungnya yang mau copot? Atau yang lainnya yang mau copot?ÔÇØ ujar kak Alya dengan nada manjanya sambil mengerling kearahku, aku dibuatnya gemas melihat tingkahnya itu. Tapi bukan kak Alya namanya kalau bukan terus langsung menggodaku dengan mengatakan..

ÔÇ£Tapi kalau mereka godain kakak terus ikut nyusul sampai kerumah gimana yah dek?ÔÇØ
ÔÇ£Iya, terus kakak diperkosa di dalam rumah sama mereka… kakak mau?ÔÇØ
ÔÇ£Kok adek bayanginnya kayak gitu sih? Jangan-jangan adek pengen lihat yah? Hihihi..ÔÇØ jawabnya balik tanya sambil menatap lekat wajahku, kak Alya tahu betul fantasiku tentang dirinya yang biasa kujadikan bahan colian setiap harinya.

ÔÇ£Ah kakak apaan sih?ÔÇØ
ÔÇ£Terus mereka pada nginep di rumah dek, bolak-balik gantian masuk ke kamar kakak, hihihiÔÇØ

ÔÇ£Kak Alya!ÔÇØ
ÔÇ£Yeee, muka adek merah tuuh… adek ngebayangin kakak digituin sama preman-preman kayak mereka juga yah?ÔÇØ

ÔÇ£Udah donk kak, pulang yuk!ÔÇØ perasaanku seperti tidak enak sambil agak menarik kak Alya pulang sebelum hal yang kutakutkan nanti terjadi, yaitu para geng yang mungkin saja akan menyusul kami.

ÔÇ£Apa perlu kakak minta antar pulang mereka nih? Hihi..ÔÇØ
ÔÇ£Kak!ÔÇØ
ÔÇ£Apaan sih dek? Kakak becanda tau..ÔÇØ
ÔÇ£Bukan itu kak.. mereka pada mau nyusul kita tuh!ÔÇØ aku masih menoleh kebelakang yang akhirnya pandanganku diikuti oleh kak Alya, aku melihat mereka mulai menghidupkan motornya masing-masing sambil menunjuk-nunjuk kearah kami. Ternyata benar mereka hendak menyusul kami berdua. Aku rasa mereka masih penasaran dengan kakakku. Kulihat di depan sudah dekat dengan tikungan tempat kami berbelok tadi saat hendak menuju mini market.

Aku dan kak Alya mempercepat langkah kami untuk segera berbelok dan berharap bisa segera menghindar dari geng motor itu. Sesampainya di jalan belokan ini aku bingung lagi hendak kemana karena jalan yang akan kami susuri sampai ke belokan masuk ke gang perumahan kami nanti masih cukup panjang, tak mungkin kalau harus berlari apalagi mereka menyusul menggunakan motor. Bahkan di sepanjang jalan ini hanya satu orang saja yang kulihat sedang berdiri dekat gerobaknya dengan lampu petromak nya yang terang menyala dari tempat kami berdiri. Ya, dia adalah si tukang penjual nasi goreng yang tadi.

ÔÇ£Adek! Sini ikut kakak!ÔÇØ kata kak Alya sambil menarik lenganku. Aku tak tahu apa rencananya, tapi aku coba saja mengikuti karena aku sendiri sudah kehabisan ide.

Kak Alya setengah menyeretku menggandeng sepanjang jalan menuju abang nasi goreng itu. Sebenarnya aku masih agak sebal dengan si abang penjual nasgor itu, tapi dibandingkan dengan preman geng motor tadi, aku seperti tak punya pilihan. Sesampainya di dekat abang nasgor itu kak Alya memanggilnya.

ÔÇ£Eh abang ketemu lagiÔÇØ
ÔÇ£Wah, si eneng yang putih bening, hehehe… kayaknya berjodoh kita yah? Mau kemana-kemana juga ketemu lagi..ÔÇØ sahutnya cengengesan sambil memandang kakakku dari ujung kepala sampai kaki berharap kakak memperlihatkan tubuh polosnya seperti tadi walau hanya bagian belakangnya saja.

ÔÇ£Bajunya kok ganti neng?ÔÇØ tanya abang tukang nasi goreng itu heran karena tadi kak Alya memakai mantel, bukan kaos basket ini.
ÔÇ£Hihihi ceritanya panjang bang. Gini bang, sebenarnya Alya mau minta tolong sama abang, boleh yah?ÔÇØ

ÔÇ£Hah? ehm.. minta tolong apa yah neng?ÔÇØ
ÔÇ£Itu bang, tadi Alya diikutin sama preman-preman motor dari mini market…ÔÇØ
ÔÇ£Ooh, si neng takut yah diikutin sama mereka?ÔÇØ

ÔÇ£Ummm… engga juga sih… Cuma lagi males aja ngeladenin mereka semua, hihi.. tolong yah abang..ÔÇØ pinta kak Alya dengan nada centilnya yang membuat si abang mendadak seperti seorang pahlawan yang sedang dibutuhkan pertolongannya dari seorang gadis cantik.

ÔÇ£Kak..ÔÇØ bisikku pelan di telinga kakakku.

ÔÇ£Apa sih dek?ÔÇØ
ÔÇ£Yang bener nih kak minta bantuan nih orang?ÔÇØ
ÔÇ£Kita punya pilihan apa donk dek? Mau yah kakak disusul mereka?ÔÇØ ujar kak Alya. Aku yang tak punya pilihan seperti menaruh harapan pada penjual nasi goreng itu walau aku masih tak suka padanya. Jangan-jangan dia menolong kakakku karena ada maunya.

ÔÇ£Si eneng yang cantik tenang aja deh, abang bakal lindungin si neng sama adeknya yah.. gini deh, neng sama adek ngumpet aja di balik semak-semak tanaman itu yah.. tunggu aman baru keluar..ÔÇØ si penjual nasgor itu memberi instruksi agar kami mengikuti perintahnya dan segera bersembunyi di balik semak-semak yang dia maksud. Cukup lebar, tapi harus berjongkok dengan sangat rendah bila kepala kami tidak ingin terlihat oleh mereka.

Sambil bersembunyi bersama kakakku, aku mengintip dengan penuh ketegangan dari sela-sela tanaman yang tidak terlalu tinggi ini, apalagi mereka memang berhenti di dekat abang nasi goreng itu sambil celingukan.

Aku dengar mereka mulai ngobrol-ngobrol.
ÔÇ£Yang bener nih bang gak ada cewek lewat sini?ÔÇØ
ÔÇ£Beneran mas, gak ada yang lewat sini… apalagi cewek, malam-malam, apa mas gak salah lihat?ÔÇØ jawab si abang dan bertanya balik berusaha meyakinkan mereka.

ÔÇ£Ah, salah lihat bagaimana… tadi baru keluar dari toko langsung belok kesini kok..ÔÇØ
ÔÇ£Wah, malam-malam ada cewek jalan-jalan, mas udah cek kakinya belum? Jangan-jangan gak napak deh..ÔÇØ

ÔÇ£Hei, bang! Jangan macam-macam ya! Tukang nasi goreng aja belagu amat.. jangan-jangan lo ngumpetin mereka yah?ÔÇØ hardik orang yang badannya kelihatan besar itu. Keadaan mulai memanas hanya demi memperebutkan kakakku.

ÔÇ£Waduh mas, sabar donk… lagian ngapain saya pake ngumpetin mereka, ada juga harusnya mas-mas ini yang pada ngumpet, hehe..ÔÇØ aku melihat si abang nasi goreng ini berani banget ngadepin mereka. Bahkan kak Alya pun sampai terpesona melihatnya, bukannya terpesona padaku saat aku mengambilkan kaos buat dia, huh!

ÔÇ£Hah?! Maksud lo apa? Lo mau gue beri nih?!ÔÇØÔÇØ
ÔÇ£Ya ampun mas-mas ini, saya ngga takut sih.. lha wong tinggal teriak aja orang sekampung pada keluar semua.. apalagi mas mirip sekawanan pembegal motor, gak takut dibakar yah? Atau mau jadi nasi goreng? Hehe..ÔÇØ aku baru ingat belakangan marak kawanan pembegal motor, dan warga juga sudah mulai berani karena jengah dengan tindakan sadis mereka, hanya saja geng yang ini tidak seperti kawanan pembegal motor, tapi tetap saja membuat mereka panik karena kulihat mereka mulai saling berbisik-bisik tak jelas.

ÔÇ£Yuk cabut! Udah malem bro!ÔÇØ ajak yang paling besar pada teman yang lainnya sambil terus menatap kesal pada penjual itu.

ÔÇ£Ati-ati ya mas, jangan bergerombol pulangnya, hehe..ÔÇØ ledek si abang nasi goreng itu yang berhasil mengusirnya demi melindungi kakakku. Lega aku ketika melihat mereka sudah berlalu di tikungan, dan benar mereka ternyata berpencar, sepertinya takut apabila kena razia atau disangka kawanan pembegal motor.

ÔÇ£Udah kabur semua tuh kak?ÔÇØ
ÔÇ£Abang itu yang ngusir yah dek?ÔÇØ
ÔÇ£Kayaknya sih iya kak..ÔÇØ
ÔÇ£Keren yah dek, hihi..ÔÇØ Duh, kak Alya malah terpesona begitu, tapi apapun itu aku hanya ingin cepat pulang membawa kakakku yang setengah bugil ini sebelum keadaan berlanjut kearah yang tidak kami inginkan.

Begitu keadaan sudah aman, aku melongokkan kepalaku dan berdiri dari tempatku sembunyi yang diikuti kakakku. Hanya saja kak Alya malah langsung menghampiri abang penjual nasi goreng itu dengan gaya centil seperti anak kecil yang baru saja dilindungi orang dewasa yang lebih tua darinya.

ÔÇ£Makasih yah bang, udah nolongin barusan..ÔÇØ kak Alya menyampaikan terimakasih dengan tersenyum manis sekali pada si penjual nasi goreng itu. Dengan mengenakan pakaian kaos seadanya seperti itu gak mungkin si abang gak bakal berpikir ngeres.

ÔÇ£Oh.. i-iya neng, gak masalah kalau itu sih.. masih kalah mereka semua sama abang mah, hehe..ÔÇØ si penjual mulai cari muka di depan kakakku yang cantik.

ÔÇ£Kalah apa yah bang? Kalah kuat yah? Hihihi..ÔÇØ
ÔÇ£Eh, anu neng.. i-iya, kalah kuat sama abang, hehe..ÔÇØ
ÔÇ£Ooh, jadi abang kuat? Bagus deh… jadi tenang Alyanya, hihi..ÔÇØ
ÔÇ£Iya donk neng… tua-tua begini abang masih kuat lho neng, hehehe…ÔÇØ obrolan si abang penjual mulai melantur ke hal yang mesum, dikiranya aku anak kecil apa yang tidak tahu!

ÔÇ£Masa sih bang?ÔÇØ tanya balik kak Alya yang menurutku malah justru memperdalam suasana yang mulai tak nyaman di telingaku ini. Kurang kerjaan banget sih kakakku ini, bikin aku gemes pengen nyeret pulang aja, tapi seolah aku tak enak karena dia baru saja menyelamatkan kakakku, jadi aku coba untuk bersabar dulu sebentar. Lagi pula abang ini hanya ngobrol-ngobrol nakal saja dengan kakakku, asal tidak melecehkan saja.

ÔÇ£Oh iya dong neng, sampai malam aja abang masih kuat dorong-dorong gerobak, hehehe.. apalagi dorong-dorong yang lainnya neng..ÔÇØ dengan wajah cengengesan si abang mulai coba-coba ngomong gak jelas.

ÔÇ£Hihihi.. dorong-dorong apaan sih bang?ÔÇØ
ÔÇ£Yang bening-bening juga boleh dah didorong-dorong.. hehe..ÔÇØ
ÔÇ£Yeee si abang.. gerobak beningnya nyusruk loh kalo didorong terus, hihi..ÔÇØ
ÔÇ£Yaaah si neng… kan ada abang yang pegangin gerobaknya, biar nyusruk tapi kan gak kemana-mana gitu, hehehe…ÔÇØ

ÔÇ£Hihihi… udah ah, abang gangguin Alya terus, lihat deh adek Alya ampe cemberut gitu. Abang ini ngomong apaan yah dek? hihihiÔÇØ sambil masih terus bercanda dengan penjual itu kak Alya cekikikan ngeledekin aku juga yang terlihat tak suka obrolan mereka. Aku sangsi kalau kak Alya benar-benar gak tahu apa yang dimaksud sama si abang penjual itu.

ÔÇ£Kak! Pulang yuk!ÔÇØ
ÔÇ£Oiya, udah malam nih.. Tapi gak enak sama si abang ini, masa udah nolongin kita tinggal gitu aja? Kita beli nasi goreng dua aja yah dek.. itung-itung bantuin si abang jualanÔÇØ

ÔÇ£Ya udah deh, masaknya rada cepetan yah bang!ÔÇØ aku meminta dengan nada ketus karena sedari tadi hanya dijadikan seperti obat nyamuk saja.

ÔÇ£Sip deh neng, dua porsi yah.. makan di sini kan?ÔÇØ untuk kesekian kalinya aku jadi obat nyamuk dan hanya kakakku saja yang didengar.

ÔÇ£Ummm.. engga deh bang, dibungkus aja, Alya ngga mungkin habis kalau makan di sini..ÔÇØ
ÔÇ£Hehehe… neng Alya mah mana bisa habis walau seharian juga… hehehe..ÔÇØ

ÔÇ£Adeeek, si abang ngomongnya mulai deh tuh, emang kakak makanan kali yah bisa dihabisin.. Hihihi..ÔÇØ

Semakin kesini aku justru berpikir seperti lolos dari mulut harimau malah nyemplung ke mulut buaya. Yup, si abang ini bener-bener buaya. Dari tadi cari kesempatan terus untuk memuaskan hasratnya ngomong mesum ke kakakku, seolah masih belum puas melihat belakang tubuh kakakku yang bugil tadi sebelum masuk ke mini market barusan, entah apa niatan si abang menahan-nahan kakakku.

Sambil masih memasak pesanan kami, aku memotong obrolan mesum si abang, ÔÇ£Jadi dua bungkus berapa bang?ÔÇØ dengan ketus aku agak menghardik.

ÔÇ£Ooh, jadi dua puluh dua ribu mas..ÔÇØ kata si abang sambil masih memasak mencoba curi-curi pandang melihat tubuh kakakku yang dia tahu hanya dibalut kaos basket yang longgar itu saja. Karena ingin cepat pulang dan pergi dari sini, aku buru-buru ingin menyerahkan uang pada penjual itu dan merogoh saku celanaku. Tapi mana uang tadi!? Uang kembalian tadi tidak ada di kantong celanaku!

Aku baru tersadar saat tadi hendak menerima kembalian tadi kak Alya langsung menggandengku tanpa aku sempat mengambil dari tangan si mas penjaga kasir. Aduh! Untuk kedua kalinya kami kekurangan uang, hanya saja yang sebelumnya kami berhasil lolos, tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Kakak juga sih pakai beli nasi goreng segala.

ÔÇ£Kak! Bentar deh..ÔÇØ bisikku pelan pada kakak supaya mendekatiku.
ÔÇ£Ada apa dek?ÔÇØ
ÔÇ£Uangnya gak ada nih kak..ÔÇØ
ÔÇ£Nah lho dek, kok bisa? Kan tadi ada kembaliannya dari mini market?ÔÇØ tanya kak Alya yang ikut bingung.

ÔÇ£Kakak sih tadi pake nyeret Aldi langsung pergi, jadi lupa ambil kembaliannya..ÔÇØ
ÔÇ£Masa sih dek? Hihihi… maaf yah, abis kakak udah tegang banget tadi..ÔÇØ
ÔÇ£Terus apa aku ambil lagi aja yah ke mini market tadi kak?ÔÇØ ujarku pada kakak sambil bersiap hendak kembali ke mini market tadi yang jaraknya lumayan agak dekat itu.

ÔÇ£Ummm.. apa ngga ambil di rumah aja dek?ÔÇØ
ÔÇ£Lho kok malah di rumah kak?ÔÇØ aku tambah bingung mendengar kak Alya dan penasaran dengan penjelasannya.

ÔÇ£Coba deh dek, kalo si mas penjaga kasir akhirnya sadar kaos ini barang yang dijual di sana, gimana hayo? Kalau uangnya kurang adek tetep harus ambil uang di rumah kan?ÔÇØ jelas kak Alya padaku. Tapi aku malah bingung lagi, apa aku ajak sekalian kakakku pulang untuk ambil uang di rumah?

ÔÇ£Kakak ikut aja deh!ÔÇØ
ÔÇ£Yeee adek, masa abangnya lagi masak ditinggal sih? Gak enak lho udah nolongin kita tadi..ÔÇØ

ÔÇ£Ah kakak, ditinggal bentar juga ga pa-pa kan?ÔÇØ
ÔÇ£Ya udah, kakak tanya yah dek..ÔÇØ kata kak Alya sambil menoleh ke abang meninggalkan acara bisik-berbisik kami barusan.

ÔÇ£Abaang… Alya uangnya kurang nih, ditinggal dulu yah mau ambil di rumah?ÔÇØ
ÔÇ£Ya udah gapapa, tapi anu neng, alamatnya si neng dimana yah? Maksudnya biar abang antar gitu nasi gorengnya, hehe..ÔÇØ

ÔÇ£Aduuh, pake pengen tahu rumah Alya segala, gak jadi deh, hihihi… biar adek aja yang ambil uangnya… yah dek..ÔÇØ tiba-tiba kak Alya merubah pikirannya yang awalnya hendak pulang bareng malah jadi pengen tinggal di sana nemenin si abang mesum itu.

ÔÇ£Kak Alya!ÔÇØ bisikku lagi sambil menatap heran kenapa malah merubah keputusan mendadak.

ÔÇ£Duh dek, dengerin deh, kebayang gak sih dek kalo si abang jadi tau rumah kita… adek pengen dia mampir terus nungguin kakak tiap malem? Iya?ÔÇØ jawab kak Alya balik bertanya menunggu keputusanku yang sepertinya jadi buah simalakama buatku. Tak ada jalan lain kecuali pergi secepat kilat agar dapat kembali menyusul kakakku.

ÔÇ£Tapi kakak jangan yang aneh-aneh lagi yah?ÔÇØ
ÔÇ£Duuh, kakak kapok deh tegang kayak tadi dek, kakak kira aman lho..ÔÇØ
ÔÇ£Uuugh, kakak sih nakal…ÔÇØ
ÔÇ£Tapi kalo adek yang kelamaan, jangan salahin kakak kalo kumat lagi yah? Hihihi..ÔÇØ

ÔÇ£Aaah kak Alyaa!ÔÇØ
ÔÇ£Makanya, gih cepetan ambil uangnya yah..ÔÇØ

Saat aku hendak mengambil langkah seribu, mungkin sepuluh ribu demi kakakku tidak macam-macam lagi, tiba-tiba kak Alya mendekatkan mulutnya ke telingaku sambil berbisik..

ÔÇ£Adeeek, gara-gara eksib semalaman, bawah kakak jadi banjir nih deek, cepet bawa kakak pulang yah.. hihihi…ÔÇØ kak Alya mengutarakan sambil menggigit bibir bawahnya dan mengatupkan kedua pahanya rapat-rapat hingga saling bergesek-gesek seolah ingin memperlihatkan betul bahwa kak Alya lagi horni banget. Mendadak otongku mencuat keras mempersempit celanaku.

ÔÇ£Aduh kakaaak… aku jadi pengen nih kaak..ÔÇØ
ÔÇ£Makanya cepetan… si adek gak mau keduluan kaaan?ÔÇØ dengan menatapku genit aku tak mengerti maksud kak Alya. Adek itu akukah atau adek kecilku yang meronta-ronta di balik celanaku? Aku memang harus cepat-cepat menuntaskan malam ini.

Sambil meninggalkan kak Alya dan si abang itu aku masih sempat melihat mereka mulai ngobrol-ngobrol lagi. Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang tidak aku inginkan, seperti melihat kakakku kembali berbugil ria dan membuatku panik semalaman.

Sesampainya di rumah aku langsung mengambil uang dua puluh dua ribu dari dompetku sambil melempar minuman kaleng ke sembarang tempat yang kak Alya beli tadi di mini market. Sungguh kebetulan bahwa minuman itu adalah susu kedelai kalengan, mengingat guarauan mesum geng motor tadi tentang susu kakakku.

Dengan gerakan yang cepat aku langsung keluar kamar dan ingin segera keluar rumah menyusul kakakku, tapi belum sampai keluar pintu rumah hp ku berbunyi, kak Alya!

ÔÇ£Adeek, buruan doonk.
Si abang pengen liat punggung kakak lagi nih.
Gimana nih dek?ÔÇØ

Terperanjat aku melihat pesan dari kakakku. Aku pun membalasnya dengan hati panas karena tak rela kakakku dicabuli seorang tukang nasi goreng yang udah berumur itu. Tiba-tiba terbayang tangannya yang dekil dan berminyak karena menggoreng itu hendak menggerayangi tubuh kakakku yang putih bersih.

ÔÇ£Duh kakak pergi aja deh dari sana!ÔÇØ

Hal yang kutakutkan sepertinya bakal terjadi Setelah dengan tegang menunggu beberapa saat, pesan dari kakak masuk lagi.

ÔÇ£Dek, ayo buruan.
Si abang udah kelar bikin nasi gorengnya tuuh.
Dia ngeliatin kakak terus nih..ÔÇØ

Belum sempat aku membalas pesan brikutnya sudah masuk satu pesan lagi, seolah seperti tak mengijinkaku untuk berpikir logis lagi harus bagaimana akunya.

ÔÇ£Adeeek.
Abangnya item banget iih..ÔÇØ

Seperti orang bodoh yang tersadar dari hipnotis aku langsung beranjak pergi keluar dari rumah dan menutup gerbang. Kenapa aku malah terdiam membaca pesan dari kakakku? Tak bisa kupungkiri kalau aku malah membayangkan yang tidak-tidak lagi tentang kakakku yang mana seharusnya aku melindungi kakakku. Aku benar-benar tak tertolong menghadapi khayalan mesum tentang kakak kandungku sendiri. Bahkan di saat genting seperti ini. Tapi tetap saja aku panik karena tak ingin hal buruk menimpa kakakku.

Seperti orang kesetanan di tengah malam, aku berlari kembali menuju tempat kak Alya dan penjual nasi goreng tadi. Sambil sesekali aku mengintip hapeku kalau-kalau ada pesan masuk lagi dari kakakku. Entah perkembangan berita apa yang kunantikan, aku sendiri jadi rancu. Apalagi sepanjang perjalanan menuju kesana tidak ada pesan masuk lagi. Saat ini aku hanya berharap kak Alya masih ada di sana.

Sesampainya di sana aku melihat lampu petromak gerobak abang itu, tapi begitu mendekat aku tak melihat seorang pun di sana. Jantungku yang sudah berdegup kencang karena berlari tadi kini semakin kencang karena cemas tak mendapati kakakku di sini. Sambil melempar pandangan ke segala arah dengan panik aku bersiap berteriak memanggil kakakku, hingga aku mendengar suara air seperti seseorang sedang mencuci. Suara itu datangnya dari semak tempat ember dan piring-piring kotor milik abang penjual nasi goreng tadi. Kulihat si abang sedang berjongkok di balik semak itu sambil mencuci piring, kuketahui itu karena suara kecipak air saat membasuh piringnya.

ÔÇ£Bang! Kakak saya mana?!ÔÇØ hardikku yang sudah malas berbaik-baik dengan orang itu karena aku lebih mengkhawatirkan keadaan kakakku yang tak ada di tempat ini.

ÔÇ£Oh anu den.. tadi kakaknya langsung pergi tuh.. gak tau deh kemana.. pulang kali yah?ÔÇØ
ÔÇ£Hah? Pulang? Serius bang?!ÔÇØ tanyaku panik, dan berpikir jangan-jangan kak Alya niat mau eksib dan gangguin aku lagi.

ÔÇ£Iya den, tadi ada di sini.. itu nasi goreng juga belum dibawa den, karena kelamaan saya tinggal nyuci dulu… maaf yah den, lagi nanggung nih cuci-cucinya..ÔÇØ

Pikiranku berkecamuk tak karuan. Badan jadi terasa lemas. Pikiran buruk berkecamuk di kepalaku, bertubi-tubi mengantri untuk membuatku cemas. Pergi kemana kakakku ini?

Tanpa menunggu lagi karena percuma bila hanya berdiam di sini, aku menaruh uang di gerobak dan mengambil bungkusan nasi goreng tadi. Entah siapa yang mau makan aku tak tahu. Aku hanya ingin mengetahui kemana sekarang kakakku berada.

ÔÇ£Tadi lewat mana bang kakak pergi?ÔÇØ
ÔÇ£Lewat sana kayaknya deh..ÔÇØ tunjuk si abang sambil masih mencuci piringnya. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke arah yang ditunjuk si abang.

Sambil terus menyusuri jalan dengan panik, akhirnya aku sampai di dekat rumahku lagi. Dan seperti tak ada tanda-tanda kalau kak Alya sudah pulang, aku membuka pagar rumah dan membiarkannya terbuka sambil masih terduduk lemas di kursi teras rumahku. Hari semakin larut tapi kak Alya belum kelihatan juga. Yang bisa kupikirkan hanyalah kakak saat ini sedang berada di luar rumah dengan hanya mengenakan kaos saja. Malam-malam berkeliaran perempuan cantik dan seksi, pasti akan mengundang kriminalitas. Aku membayangkan kakakku dipergoki orang-orang jalanan, lalu diculik, dan untuk menelusuri khayalan berikutnya malah antara membuatku tegang panik dan tegang tak jelas. Duh, kakak cepet pulang doonk… tega amat sih ngerjain adik sendiri sampai seperti ini..

Tak berapa lama ketika aku masih duduk di luar aku mendengar langkah seseorang mendekat kerumahku. Tiba-tiba muncul seseorang dari balik pagar yang masih terbuka seperti hendak mengagetkanku.

ÔÇ£Adeek! Nungguin kakak yah?ÔÇØ
ÔÇ£Kakak! Kakak jahat godain aku terus!ÔÇØ
ÔÇ£Hihihi.. adek khawatir yah? Maafin kakak deh..ÔÇØ
ÔÇ£Ngga ah.. aku gak mau maafin!ÔÇØ sambil merajuk aku pergi meninggalkan kakakku yang tertawa cekikikan menggodaku. Padahal melihat kakakku yang hanya berkaos longgar dan mempertontonkan auratnya dari lengan, atas dada, hingga paha dan kakinya yang putih itu saja sudah hampir melunakkan rasa kesalku padanya. Terutama ketika kak Alya tersenyum seperti anak manja yang takut dimarahi olehku.

Sambil terus menuju kedalam rumah aku duduk di ruang tengah sambil melipat kedua tanganku di depan dadaku. Seperti ingin menunjukkan padanya bahwa aku tak suka diperlakukan seperti ini. Walau sebenarnya aku setengah mati ingin memeluk kakakku. Apalagi kami sudah berada di rumah lagi, dan hanya berdua tanpa ada siapa-siapa. Otongku seperti berusaha menenangkan hatiku yang sedang panas dengan mengacung-acung membujukku untuk memeluk kak Alya.

ÔÇ£Adeeek… jangan marah lagi doonk..ÔÇØ ujar kak Alya duduk di sebelahku.
ÔÇ£…ÔÇØ aku hanya diam saja tak membalas kak Alya.

ÔÇ£Deek.. kakak sedih tau kalo adek marah.. hihi.. udahan donk deek..ÔÇØ
ÔÇ£Kakak tuh nyebelin…ÔÇØ
ÔÇ£Adek khawatir yah sama kakak?ÔÇØ ujarnya sambil melihatku dengan manja, aku benar-benar diuji untuk tetap merajuk atau menyerah di hadapannya.

ÔÇ£I-iya kak.. adek khawatir banget kalo terjadi apa-apa sama kakak…ÔÇØ
ÔÇ£Ya ampuun… adek baik banget deh sama kakak, maafin kakak yah…ÔÇØ
ÔÇ£Kakak nakal, sukanya godain aku terus… rasanya pengen iket kakak biar di rumah aja…ÔÇØ
ÔÇ£Iiih, kok kakak pake diiket segala sih dek?ÔÇØ

ÔÇ£Biar kakak gak godain aku lagi..ÔÇØ
ÔÇ£Ummm… bukannya adek suka yah kalo kakak godain kayak gitu? Hihihi…ÔÇØ sambil bicara agak mendesah kak Alya menatap genit padaku dengan masih mengenakan kaos itu, paha putihnya terpampang di depanku dengan indah, seolah aku dapat melihat bulu halus yang tumbuh dipermukaan kulit beningnya itu. Jebol sudah pertahananku..

ÔÇ£Aahhh, kakaaak..ÔÇØ
ÔÇ£Aaahh, adeek.. hihihi..ÔÇØ kak Alya menggodaku dengan mengikuti nada bicaraku.

ÔÇ£Aku iket nih kalo kakak nakal terus ke aku ya..ÔÇØ ancamku pura-pura sambil mulai ubah posisi duduk sambil menghadap kakakku.
ÔÇ£Adeeek, kalo kakak diiket jadi gak bisa kemana-mana doonk.. adek mau yah kak Alya jadi penjaga rumah?ÔÇØ

ÔÇ£Iya kak, kayak anjing betina, hehehe..ÔÇØ
ÔÇ£Huuu… enak aja ngeledek kakakÔÇØ

ÔÇ£Kak, kakak tadi pergi kemana sih?ÔÇØ
ÔÇ£Ummm… kemana yaaah..ÔÇØ
ÔÇ£Aaah, kakak mulai deeh, serius nih kak. Kakak tadi eksib lagi yah?ÔÇØ

ÔÇ£Engga.. kakak engga kemana-mana kok dek…ÔÇØ jawabnya enteng sambil pegang-pegang kaosnya sendiri. kulihat dengan seksama pada kaos itu seperti ada basah-basah pada bagian kerah dan potongan bagian bawahnya. Padahal di luar engga hujan, basah dari mana?

ÔÇ£Kak! Serius doonk..ÔÇØ
ÔÇ£Iiih, adek beneran pengen tau nih?ÔÇØ
ÔÇ£Iya!ÔÇØ
ÔÇ£Tapii.. adek gak boleh marah yaa..ÔÇØ katanya sambil bersiap menceritakan sesuatu. Ngga seperti biasanya dia akan bilang ÔÇ£jangan marahÔÇØ, tapi kini malah aku yang ÔÇ£tidak boleh marahÔÇØ, aku khawatir apa yang akan diceritakan akan membuat telingaku menjadi panas dan meradang. Tapi karena aku selalu penasaran dengan apa yang ia lalui, dan biasanya selalu membuatku panas dingin, aku seperti siap mendengarnya. Ia pun lanjut mulai bercerita.

ÔÇ£Ummm.. adek tadi datang sambil lari-larian yah?ÔÇØ
ÔÇ£Hah?!ÔÇØ
ÔÇ£Terus tanya-tanya kakak ada di mana, lalu si abang bilang kakak udah pulang kan?ÔÇØ
ÔÇ£K-kok.. kakak tau? Kakak memangnya di sana?ÔÇØ tanyaku mulai gelagapan, bagimana kak Alya bisa tahu semua detil ketika aku menyusulnya kesana?

ÔÇ£Sebenarnya kakak masih ada di situ kok dek..ÔÇØ
ÔÇ£Loh, tapi aku gak melihat kakak tadi?ÔÇØ aku mulai bingung, kalau kak Alya ada di sana, dimana dia berada? Apakah dia sengaja bersembunyi dan mengintipku? Tapi ngapain? Aku jadi teringat saat kak Alya mengirim pesan singkat tadi.

ÔÇ£Jadi waktu adek pergi tadi si abang mulai godain kakak..ÔÇØ
ÔÇ£Duh, orang gak tahu diri tuh, udah dibeli dagangannya, masih aja kurang ajar!ÔÇØ
ÔÇ£Iya tuh dek, masa pantat kakak dicolek-colek… mana adek tau sendiri, kakak kan gak pake daleman apa-apa.. geli tau dek, tangannya kasar banget..ÔÇØ

Seperti kaget dan terpaku dengan nafas tercekat aku terhipnotis mendengar cerita kak Alya, seolah aku seperti ingin tahu lanjutannya walau setengah tak rela kakak kandungku yang cantik ini diperlakukan tak senonoh oleh pedagang sialan itu. Tanpa menunggu reaksiku kak Alya terus melanjutkan ceritanya.

ÔÇ£Makanya kakak tadi sms adek…ÔÇØ
ÔÇ£Uugh kakak.. supaya adek cepat jemput kakak pulang tadi yah?ÔÇØ
ÔÇ£Ummm… iya juga sih…ÔÇØ sambil menjelaskan matanya agak beralih dariku sebentar, aku tak mengerti maksud kak Alya dengan jawaban yang seperti tak yakin itu. Aku malah makin penasaran dengan semua ini, misteri apa yang sedang kak Alya simpan dariku.

ÔÇ£Kurang ajar tuh abangnya grepe-grepe kakak!ÔÇØ sambil bersungut aku melirik kearah tubuh kakakku yang masih berkaos itu dengan paha terumbar. Kok malah aku jadi kepingin ikut grepe-grepe kakakku sendiri yah? Ugh, kacau sudah pikiranku.

ÔÇ£Tau ngga sih dek, si abang tadi minta tolong sama kakak untuk bantuin dia, karena kakak pikir udah bantuin kita, apa salahnya balas budi dikit..ÔÇØ

ÔÇ£Emang dia minta tolong apaan sih kak?ÔÇØ tanyaku seperti malas, tapi penasaran yang malah membuatku tersiksa.

ÔÇ£Minta tolong cuciin piring kotor dia..ÔÇØ
ÔÇ£Hah?ÔÇØ
ÔÇ£Makanya tadi kakak tau kalo adek datang nyariin kakak..ÔÇØ
ÔÇ£Jadi?! Waktu aku datang kakak ada di balik..ÔÇØ

ÔÇ£Iya dek.. mana kakak lagi nyuci kejorok badannya ampe nungging deh kakak..ÔÇØ
ÔÇ£Uuugh, kakaaak! Jadi tadi kak Alya… sama abang itu…ÔÇØ
ÔÇ£Abisnya si abang main dorong-dorong aja tuh dek… oiya dek, gak ngeluarin burungnya? Hihihi..ÔÇØ bisa-bisanya setelah diperlakukan tak senonoh oleh si abang itu malah menyuruhku untuk coli, walau aku cemburu dan sebal, tetap saja aku mengeluarkan penisku, aku tak tahan membayangkan kakakku tengah didorong-dorong oleh orang seperti itu.

ÔÇ£Uugh.. kakak nakal banget siih, mau-mauan sama dia..ÔÇØ
ÔÇ£Apaan sih adek, kakak dipaksa tau… lagian adek kelamaan datangnya..ÔÇØ
ÔÇ£Kalo aku tadi cepat datang, emang kakak mau langsung pulang?ÔÇØ

ÔÇ£Ummm.. ngga tau juga dek, hihi.. emang adek gak mau liat kakak didorong-dorong dari belakang sama abang itu yah?ÔÇØ aku kaget mendengar penuturannya. Benar-benar nakal kakakku ini. Aku malah jadi ikut membayangkan seperti apa adegan yang mereka lakukan yang gilanya lagi dilakukan saat aku masih ada di sana.

ÔÇ£Tuh kan! Kakak nakal, kakak perempuan binal!ÔÇØ ledekku habis-habisan ke kakakku yang nakal itu, aku lebih tak terima karena bukannya melakukan denganku tapi malah dengan orang-orang tak jelas seperti tukang nasi goreng itu. Aku benar-benar iri!

ÔÇ£Iiih adeek, kok kakak dibilang binal siih? Huu huu..ÔÇØ jawabnya seperti pura-pura menangis, tapi tubuhnya malah makin condong dan menempel pada tubuhku, bahkan aku mendengar nafas mulai berat. Masih melanjutkan godaannya kakak pun cerita lagi..

ÔÇ£Si abangnya tuh yang nakal, udah tau sempit, masih maksa masuk terus… kakak yang lagi nyuci piring ampe basah-basahan begini deh..ÔÇØ

Terjawab sudah kenapa pakaiannya basah, ternyata kak Alya disuruh cuci piring sambil didorong dari belakang. Mendengar kak Alya yang sempit dipaksa masuk oleh si abang mambuat kocokanku semakin kuat, aku hanya bisa membayangkan seperti apa ekspresi kakak saat si abang memaksa masuk di tengah kakak sedang mencuci piringnya. Kakakku benar-benar jadi mainan buat orang sialan itu malam ini.

ÔÇ£Uuughh.. kakaaak..ÔÇØ
ÔÇ£Mana gede banget lagi tuh ÔÇÿitemnyaÔÇÖ si abang, perut kakak kayak penuh dek, hihihi..ÔÇØ

ÔÇ£Kakak jahaat! Tadi aku panggil juga diem aja… kakak sengaja yah?ÔÇØ hardikku merana tak tahan melawan siksaan kakakku. Kakak yang sehari-hari berhijab dan dikenal sopan pada tetangga-tetangga benar-benar dientot dan digenjot tukang nasi goreng.

ÔÇ£Itu dia deek…ÔÇØ
ÔÇ£Kenapa kaak?ÔÇØ

ÔÇ£Sebelum adek dateng, waktu si abang ngentotin kakak dari belakang.. katanya kakak berisik banget dek, kakak jejeritan aja sekalian biar dia kelabakan, hihihi.. lucu tau dek liat dia panik..ÔÇØ

ÔÇ£Terus waktu aku datang kenapa kakak diem aja sih kak?ÔÇØ
ÔÇ£Ummm… mulut kakak disumpel pake celana dalam dia dek, kurang ajar gak sih tuh abang…ÔÇØ

Mendengar cerita kakakku aku semakin panas dan kocokanku makin kuat, antara rasa cemburu mendengar perlakuannya pada kakakku yang semena-mena, dan rasa ingin melihat kakakku yang cantik dan tak ternoda itu dikotori oleh orang-orang seperti mereka.

ÔÇ£Uugh kakaak.. aku gak tahan kaak, kakak perempuan nakal! Suka dientotin sama orang-orang jelek! Kakak binal!ÔÇØ hinaku pada kakakku yang justru membuatku semakin mempercepat kocokanku sambil melihat wajah kakakku yang cantik dan putih bersih tanpa noda itu.

ÔÇ£Uuugh.. adek nakal yaah, ngeledekin kakak teruss.. terus dek ngocoknya.. suka yah? Ayoh dek..ÔÇØ pancing kakakku sambil wajahnya mulai memerah dan nafasnya terdengar makin berat, bahkan suaranya mulai mendesah-desah membuatku membayangkan ekspresi inikah ketika kakak digagahi abang itu? Benar-benar membuat kepala atas dan bawahku mulai berkunang-kunang.

ÔÇ£Tau ngga sih dek waktu adek pergi ninggalin kakak sama si abang itu berduaan lagi?ÔÇØ
ÔÇ£Ughh.. kenapa kak?ÔÇØ

ÔÇ£Selesai kakak dientotin di balik semak-semak, waktu mau pulang kakak masih dientotin lagi di samping gerobak…dua kali loh kakak disemprot dalam rahim, mana ampe terpipis-pipis lagi nih kakak.. gila tuh abang… huh..ÔÇØ

ÔÇ£Aaaarrgghh! Kakaak nakaal!ÔÇØ
CROOOT! CRROOTT! CRROOTT!

Pejuku muncrat berhamburan dengan derasnya keatas dan mengenai dagu kak Alya yang terkaget-kaget melihat semprotan peju kentalku yang hangat menempel pada dagunya. Sebagian mengotori lenganku sendiri dan pahaku. Entah dari mana datangnya kekuatan semburan ini, tapi yang pasti aku tak tahan setiap mendengar cerita apa yang dialami kakakku. Bahkan lebih dahsyat ketimbang aku coli sendirian.

ÔÇ£Adeeek.. deres banget pejunyaa.. nakal nih adek. Suka yah kalo kakak beneran dientot orang asing? Hihihi..ÔÇØ

ÔÇ£Hah?! Maksud kakak?ÔÇØ
ÔÇ£Apaan sih dek.. Udah ah, kakak mandi dulu yah… kotor nih diajakin maenan sama si abang di atas rumput… abang gelo tuh..ÔÇØ

ÔÇ£Ah kakaaak! Tungguuu! Kakak beneran ngga sih tadi itu?ÔÇØ
ÔÇ£Apaan sih deek, hihi.. dag adeek..ÔÇØ
ÔÇ£Ah kakaak!ÔÇØ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*