Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 9

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 9

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 8

Jam dinding menunjukkan pukul 19:30. Bu Ratna dan Didit, putera tunggalnya duduk-duduk diatas sofa ruang tamu. Seperti biasanya bu Ratna duduk di ujung kanan sofa dan Didit duduk di ujung sebelah kirinya. Sofa itu menghadap ke depan dengan posisi agak menyamping kekiri dari arah pintu utama rumah.

Mereka telah menyelesaikan makan-malam setengah jam lalu, serta keadaan dapur sudah rapi kembali oleh tangan-tangan lentik bu Ratna yang selalu tidak pernah mau menunda pekerjaan sampai bertumpuk. Apalagi Didit juga ikut membantunya mencuci piring.

Bu Ratna mengambil sebuah majalah wanita dari rak dibawah daun meja tamu yang terbuat dari kaca bening setebal 1 inci (= 2,54 cm). Bu Ratna sambil membuka-buka lembar majalah itu sambil lalu saja dan melirik kearah Didit yang duduk gelisah. Sebenarnya kedua ibu-anak ini juga sama-sama gelisahnya, maklum saja sedang menunggu kehadiran 2 orang yang belum dikenal secara fisik yang akan menjadi anggota baru keluarga ini. Cuma saja bu Ratna dapat menyembunyikan kegelisahannya meskipun tidak terlalu baik sekali dengan membuka-buka lembaran majalah, sedangkan Didit yang bertemperamental sangat ekspresif sekali itu… kelihatannya sangat gelisah sekali duduknya.

“Daripada duduk bengong begini, mendingan…”, belum juga Didit menyelesaikan perkataannya sudah dipotong oleh ibunya.

Bu Ratna segera menimpali perkataan Didit. “A quickie ML… maybe? Hi-hi-hi…!”.

Jadi melongo Didit mendengarnya dan melihat wajah cantik rupawan sang bunda, “Iihh… mama! Horny ya ma…?”.

“Eh… maafkan mama sayang… nggak tau nih! Mama jadi teringat saat awal membawa-bawa kamu dalam kandungan, pengennya begituuaaann… melulu…! Papa-mu jadi kewalahan jadinya… Jangan-jangan sekarang ‘jadi’ kali! Ini tidak mungkin disebabkan oleh karya papa-mu, karena meskipun kondisi tubuh papa-mu normal tak kurang apapun, tetap dia tidak bisa membuahi sel telur mama, penyebabnya ya… gen papa-mu itulah yang membawa faktor keturunan keluarga besarnya…”, kata bu Ratna menjelaskan duduk perkara yang dialami tubuhnya saat ini.

“Jadi gimana dong nih…?”, kata Didit yang sangat simpati akan keadaan yang dialami ibunda tercintanya. “Kan… papa sebentar lagi mau datang…”.

“Udah… nggak usah terlalu dikhawatirkan! Malam ini tugas papa-mu yang melakukannya, hi-hi-hi…!”, kata bu Ratna, sekarang malah dia yang menenangkan kekhawatiran anak kesayangannya itu.

“Wahhh…! Didit malam ini, bakalan… tidak bisa tidur deh!”, kata Didit yang jadi mengeluh sekarang.

“Sudah… jangan khawatir dulu dong sayang… hadapi saja segala sesuatunya nanti… step-by-step! Jangan terlalu meremehkan kemampuan mama-mu ini sayang…”, kata bu Ratna masih tetap berusaha menenangkan Didit yang khawatir akan semuanya hal itu.

“Kemampuan apa itu… ma?”, Didit ingin segera mengetahui secara jelas kemampuan apa yang dimaksudkan oleh ibunya itu, ya… wajar saja, memang para remaja seusianya pada umumnya bertemperamental seperti begitu adanya.

“Tepatnya mana mama mengetahuinya sekarang…?! Kan ‘nanti’ bukanlah ‘sekarang’! ‘Nanti’ itu adalah sama dengan ‘sekarang’ ditambahkan proses waktu yang selalu berjalan maju”, kata bu Ratna. Nah solusi yang tepat akan didapat adalah pada saat proses itu berlangsung…”, kata bu Ratna berfilsafat yang membuat mumet kepala Didit mendengarkannya. “Intinya adalah… percayakan soal itu pada mama-mu sayang…”.

Terhenyak tubuh Didit bersandar kebelakang pada sandaran sofa jadinya… mencoba menenangkan dirinya. Dan berkata singkat, “Que Sera Sera!”.

Kemudian Didit bangkit dari duduk, ingin pergi kekamarnya dan berpamitan dulu dengan ibunya, “Ma… kalau begitu, Didit ingin menyiapkan segala sesuatu untuk sekolah besok”. Didit mendekati ibunya dan mendekap dan mencium sekilas dengan rambut dibagian belakang kepala ibunya sambil berkata, “Mama juga jangan gelisah dong, Didit lihat sedari tadi, tuh… majalah cuma dibolak-balik saja tanpa dibaca…”.

“Hi-hi-hi… kamu memperhatikan mama juga ya…? OK… nanti kalau mereka datang, akan mama beritahu kamu deh! Bye sayang…!”, kata bu Ratna memberi semangat pada anaknya.

***

Waktu telah menunjukkan pukul 22:00.

<Kriieeett…!> bunyi suara pintu kamar Didit terdengar dibuka dari luar kamar.

Sedangkan si empunya kamar, Didit tidur terlentang dan terlibat dalam impiannya yang syur… dinegeri antah-berantah…
Penisnya kelihatan sangat tegang bila dilihat dari tonjolan pada dorongannya depan celana pendek Hawaii yang dikenakannya.

3 wanita bak bidadari jelita telah berdiri berderet menyamping menghadapi tubuh Didit yang sedang sedang tidur terlentang itu. Ketiga ‘jelmaan’ bidadari itu mempunyai paras dan tubuh indah dengan kecantikan khas masing-masing, umur mereka adalah berturut-turut: 36, 19 dan 15 tahun.

Bu Ratna menyapa Didit yang masih tertidur, dengan suara lembut. “Dit! Didit… sayangku…! Nih… adik sama kakakmu telah datang. Kan tadi kamu gelisah sekali menunggunya…”, sapa bu Ratna tanpa mengejutkan anak lekakinya itu.

Sempat juga Didit bangun terduduk dan sekilas memandang didepannya samar-samar, lalu merebahkan kembali dirinya terlentang diatas tempat tidurnya, sambil bergumam agak keras, “Orang… lagi sange juga…! Pake mimpi ketemu 3 bidadari cantik lagi… uuuh… aahh-heemmm!” <zzz…> <zzz…>.

Gumaman Didit yang agak keras dan terdengar jelas di kuping para wanita cantik didalam kamar itu, menggelitik dan memicu tawa cekikikan mereka.

“HI-HI-HI… Hi-Hi-Hi… hi-hi-hi…!”, bagaikan koor dari 3 bidadari yang melantunkan suara merdu mereka, seakan… menarik lembut bahu Didit untuk duduk kembali diatas tempat tidurnya. Kali ini kesadaran Didit sudah pulih seperti sedia kala kembali.

“Eeehh… maafkan Didit ya?! Hai adikku… halo kakakku… selamat bertemu…! Dan… mama-ku tersayang, ternyata mama tidak lupa janjinya tadi untuk membangunkan Didit, terimakasih yaa… ma!”, kata Didit menyapa semua 3 wanita cantik itu tanpa terkecuali…

Bu Ratna diam-diam mendorongkan tangannya dengan lembut pada bahu bagian belakang Neni, sambil berbisik pelan didekat kuping sebelah kiri gadis belia berumur 15 tahun itu, “Sayang… sapa kakakmu, Didit… tidak usah takut, kan ada mama disini…”.

Neni menuruti perkataan ibu barunya ini, dan seketika menyodorkan tangan mungilnya, mengajak Didit untuk bersalaman.

Didit buru-buru berdiri di pinggir tempat tidurnya dengan tidak menghiraukan sodoran tangannya Neni, malahan memberikan kecupan mesra di pipi sebelah kanan, bahkan… berusaha memberi satu tanda cupangan dengan mengenyotnya agak keras dan lama.

Terlonjak kaget Neni jadinya dan seketika memundurkan dirinya sambil menutupi pipi kanan yang tadi ‘di-ngok’ dengan telapak kanannya, serta menjauhi Didit yang ingin juga mengecup pipinya yang sebelah kirinya.

Sedangkan Didit kembali duduk di pinggir tempat tidurnya sambil membungkukkan sedikit tubuh bagian atas sambil tertawa kecil cengegesan serta menggosok-gosokkan cepat kedua telapak tangannya. “Asyik kan… kecupan mesra dari kak Didit…? He-he-he… ya nggak… adikku yang manis…?!”.

Tapi begitu Naning, yang sudah didaulat ibunya sebagai kakak barunya, menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Didit menyambut tangan Naning dengan menciumnya punggung telapak tangan Naning serta kemudian menempelkan pada jidatnya yang nong-nong dengan penuh rasa hormat dan tanpa sebuah kata apapun. Sebagaimana mesti layaknya sang adik menghormati kakaknya.

Terharu sekali jadinya perasaan Naning diperlakukan penuh hormat oleh ‘adik-barunya’, seakan sekujur tubuhnya diguyur dengan perasaan bahagia yang belum pernah dirasakan Naning sebelumnya!

Sementara itu bu Ratna hanya diam saja mengawasi seluruh ulah tingkah-polah anak-anaknya dengan perasaan bahagia yang baru pertama kali ini dirasakannya.

Neni setelah melihat ‘acara salam kenal’ Naning dan Didit selesai, segera dia mendekat pada Naning, kakaknya itu seraya menyodorkan pipi kanannya yang habis ‘di-ngok’ oleh kakak-barunya, Didit. “Kak Naning… somplak nggak pipi Neni… ini lho yang sebelah kanan”, tanya Neni dengan rasa khawatir.

Naning yang tersenyum dalam hati dengan berpura-pura serius memeriksa pipi kanan itu, kemudian membandingkannya dengan pipi sebelah kirinya, kemudian berkata kagum agak keras, sehingga membuat kaget hati adiknya itu. “Wah… kok jadi bagus… dik! Ada merah-merahnya… persis seperti apel udah mau mateng, kayaknya… kalau kakak memandangmu dari arah kananmu…”. Naning berpindah ke sebelah kanannya Neni dan meneruskan perkataannya yang terputus tadi. “Woiihhh… cantiknya! 2 tingkat diatas daripada sebelumnya…!”.

Bu Ratna yang melihat semua itu, menjadi tertawa didalam hati melihat ulah Naning berupaya meyakinkan adik perempuannya itu.

Sedangkan Didit yang terus dengan seksama melontarkan komentar singkat, “He-he-he… asyik kan… itu sampel dari kak Didit, adikku sayang…”.

Neni lalu mendekat pada Didit. “Ya… udah deh kak! Nih satu lagi yang kiri… digituin lagi kayak yang tadi…”, kata Neni pasrah sambil menyodorkan pipi kirinya untuk ‘di-ngok’ oleh kakak-barunya ini.

“He-he-he… ini dia baru… asyik! Yang pertama tadi kan kakak sudah katakan sebagai sampel… alias gratis! Tapi untuk yang kedua ini… sudah masuk waktu ‘promosi’ tapi diskon-nya sangat besar, sehingga adik cukup membayar dengan ini nih…”, kata Didit mengacungkan telunjuk kirinya… menunjuk ke pipi kirinya. “Dan… ini…”, sambung Didit sambil mengacungkan telunjuk kanannya yang menunjuk pipi kanannya.

Bu Ratna memberi komentar keras, “Sejak kapan… kamu jadi komersil begini, huh…!”, katanya pada Didit dengan nada gregetan.

Didit menjawab komentar ibunya dengan santai saja, “Yaa… sejak Didit ketemu Neni, adikku yang imut-imut… manis sekali ini”.

Naning ikut nimbrung sambil tertawa, “Emangnya Neni… gulali apa? Pake imut-imut dan manis! Hi-hi-hi…”.

“Ya sudah deh… kak Didit, sini Neni sun pipi kiri dan sun pipi yang kanan…!”, kata Neni pasrah. Tapi ketika dia melihat kakak-barunya itu sudah memejamkan kedua matanya… bersiap-siap menerima kecupan di pipi kiri-kanannya, Neni menjadi ragu karena sempat berpikir tentang sesuatu, malah menarik wajahnya, dan pasang aksi bersiap untuk ‘di-ngok’ pipi kirinya terlebih dahulu oleh Didit, kakak-barunya itu. ‘Masak sih… bayar duluan, dimana-mana juga… barangnya duluan dong..!’, kata Neni dengan mantap didalam hatinya.

Jadilah ada suatu pemandangan lucu dengan momen yang sangat jarang bisa ditemui dan… langka!

Takut kehilangan momen yang sangat berharga ini, bu Ratna buru-buru mengabadikannya dengan camera-internal HP-nya yang cukup canggih. Rencana beliau, gambar dari foto ini akan diperbesar sampai ukuran 1 m X 1 m, kalau memungkinkan lebih besar lagi.
Dan akan dipajang sebagai gambar kenangan yang termanis untuk keluarga ini.

<Click… brrrplassttt…!>

Terkejut Didit karena kedua pelupuk matanya yang masih terpejam itu terkena ‘sapuan’ kilatan cahaya blitz itu… langsung membuka matanya dan memandang dengan sangat heran… pada sikap Neni yang berdiri tegak dan berdiam diri dan dengan kedua matanya masih terpejam sambil seakan menyodorkan pipi kirinya siap untuk ‘di-ngok’ itu.

“Pantesan…! Nggak nyampe-nyampe tuh kecupan… untung nggak ditunggu sampai pagi! Bisa-bisa… tidur berdiri… kali!”, kata Didit rada keki dan ngedumel pelan saja… hampir menyerupai bisikan saja sambil mendekati Neni dan berdiri didepan gadis manis muda belia itu. Segera melancarkan cupangan pada pipi kiri yang masih putih bersih itu, setelah selesai… Didit mundur selangkah sambil mengawasi ‘hasil karya’-nya itu, lalu berkata dengan mantap. “Sudah selesai… adikku manis! Perlihatkan pada kak Naning untuk dinilai, he-he-he… asyik kan dik…?!”, kata Didit dengan senang… bisa ngerjain adik-barunya ini.

Dengan berpura-pura pasang mimik muka yang serius tingkat tinggi, mengawasi dengan seksama kedua pipi Neni… lalu berkata, “Beres dik! Ternyata kamu jauh lebih cantik dari kak Didit-mu itu… hi-hi-hi…!”.

“Aaah… kak Naning, kok dibandingkan dengan cowok sih…!”, kata Neni protes.

Bu Ratna buru-buru mendekat pada Neni dan mencium mesra jidat mulus gadis itu, dan berkata, “Sudah-sudah… sayang, ingat…! Besok adalah hari pertama kamu masuk sekolah. Besok kamu akan jadi siswi SMU kelas 1, Berangkat bersama-sama papa dan kakakmu, Didit yang duduk dikelas 2. Setelah pulang dari sekolah, barulah kita semua bersama-sama membereskan kamar yang jadi kamarmu untuk seterusnya. Tapi malam ini kamu akan tidur bersama-sama papa dan mama”.

Naning yang ingin ikut keluar dari kamar Didit, dicegah oleh bu Ratna. “Ning, kamu tunggu saja disini, nih… duduk disini sebentar… nanti mama akan balik lagi kesini 5 menit lagi”, kata bu Ratna sambil menuntun tangan Naning dan menyuruhnya duduk ditepi tempat tidur Didit yang sebelah kanan, sementara sekarang Didit sudah kembali duduk ditepi tempat tidurnya yang sebelah kiri. Kemudian bu Ratna berlalu melangkah keluar kamar itu dan sambil merangkulkan tangan kanannya melingkar pada bahu Neni dengan mesra serta melangkah bersama menuju kamar tidur utama, dimana sudah ada tubuh pak Damarto yang sudah terbaring pulas kelelahan ditengah-tengah spring bed yang lapang itu.

Didit yang ditinggal berduaan dengan Naning, masih sempat-sempatnya berpikir, ‘Apa ini yang dimaksudkan mama tentang solusi yang didapat dari proses waktu yang selalu berjalan maju itu…?’. Didit tidak mau membuat pikirannya menjadi mumet dengan memikirkannya terlalu lama. Baginya yang penting hadapi saja apa yang ada didepan kita, prinsip yang dipakainya sementara waktu ini.

Didit memecah kebisuan diantara mereka berdua dengan meluncurkan gombalan pada Naning yang masih saja berpikir-pikir apa yang diinginkan bu Ratna, ‘mama baru’-nya dengan menempatkannya berdua dengan Didit, ‘adik baru’-nya ini.

“Eheeeem… kak… eeh… jangan marah ya kak…!? Didit ingin bertanya… kakak harus menjamin bahwa kakak tidak marah atas pertanyaan Didit berikut ini… bagaimana dong kak…?”, tanya Didit takut dimarahi oleh ‘kakak baru’-nya mendengarkan segala gombalannya nanti.

Berdegup kencang detak jantung Naning jadinya… ‘Apa Didit sudah mengetahuinya? Perselingkuhanku dengan ayahnya. Ooh… bagaimana aku menjawabnya…’, Naning jadi berdebar-debar hatinya dan… merasa ketakutan sendiri.

Tapi Didit adalah seorang remaja yang tidak terlalu memikirkan soal jaminan segala… apalagi kalau ragu-ragu memberikannya. ‘Fun must go on!’ Itulah prinsip yang dipakai Didit guna menghadapi Naning yang serba ragu-ragu ini.

Terhenti napas Naning sejenak ketika melihat Didit membuka mulutnya… ingin bicara, ‘Oooh… inilah saatnya… mama kemana sih nggak nongol-nongol…!’, pikir Naning sangat khawatir, padahal paling baru 10 detikan saja ditinggal oleh bu Ratna. Akhirnya Naning memejamkan matanya… pasrah.

“Kak Naning, sebenarnya… makannya apa sih…? Sampai secantik begini…?! He-he-he…. jangan marah lho, kakak kan sudah memberikan jaminan tidak marah dalam hati kakak, iya kan? Buktinya tadi Didit melihat kakak memejamkan kedua mata kakak, he-he-he…!”, kata Didit sambil tertawa cengegesan dan melanjutkan bokisannya yang ditelan bulat-bulat oleh Naning yang tanpa tahu bahwa dia sedang dikerjai Didit dengan seenak hatinya.
“Kalau disini, memejamkan dua mata, artinya adalah ‘free to go!’ dan kalau memejamkan mata sebelah saja, terserah mau kanan saja atau yang kiri saja, itu artinya adalah ‘no go!’, he-he-he… apa dong jawaban kakak atas pertanyaan Didit tadi, he-he-he…”, kata Didit girang bisa ngerjain ‘kakak baru’-nya sambil tetap tertawa cengegesan.

Tapi yang tidak diperhitungkan oleh Didit adalah… sebenarnya Naning tidaklah bodoh-bodoh amat! Kesalahan Didit yang fatal dalam menghadapi Naning adalah… Didit terlalu berbicara panjang-lebar, inilah yang menimbulkan kecurigaan dalam diri Naning.

‘Dasar adikku yang ganteng tapi nakal… persis sama dengan papa-nya… pake ngegombalin aku lagi! Hi-hi-hi…!’, Naning tertawa dalam hati.

Tapi persis Naning baru mau membuka mulut, ingin menjawab pertanyaan Didit, sudah keburu datang bu Ratna yang langsung masuk kekamarnya Didit dan langsung mengunci kamar dari dalam. Tanpa banyak bicara lagi, bu Ratna yang sudah bersalin pakaian tidur suteranya, cukup dengan mengendorkan simpul yang ada pada gaun tidur itu sudah menyebabkan gaun itu merosot kebawah tapi dengan sigap buru-buru memegangnya agar tidak menyentuh lantai dan segera melipat-lipat gaun itu, kemudian ditaruhnya diatas meja belajar Didit yang cukup lebar.

Terheran-heran Naning melihat perbuatan bu Ratna itu semua, dan… jadi terkagum-kagum dia oleh kejelitaan ibu-barunya ini yang begitu cantik mempesona, bahkan kemulusan tubuh bu Ratna mengalahkan kemulusan tubuh Naning sendiri.

Naning masih mengagumkan keseluruhan tubuh elok didepannya itu. Bu Ratna mengetahuinya, dan membiarkannya untuk beberapa saat.

Sedang Didit sudah bertelanjang bulat, mengikuti ibunya. Penisnya… sudah tidak perlu dipertanyakan lagi… sangat tegang dan berdiri menyusuri perutnya yang rata.

‘Bukan main ‘mama baru’-ku ini, bagaikan memiliki tubuh bidadari, buahdadanya yang sangat montok serta masing-masing ber-‘topping’ puting yang tidak terlalu melebar, berwarna maroon sangat muda hampir mendekati warna pink… Vagina… yang garis vertikal tidak terlalu tebal serta… klimis seperti vagina Naning. Tetapi Naning mengakui bahwa vagina ‘ibu baru’-nya jauh lebih mulus.

Bu Ratna mendekati Naning dan menegornya, “Hei… sayang! Jangan bengong saja, buka semua pakaianmu semuanya dan… bantu mama menghadapi cowok nakal ini… yang telah ngerjain Neni dan kamu barusan…”.

Didit yang mendengarkannya, menjawab dengan santai saja. “Siapa yang takut…? Lihat nih ‘senjata-ampuh’ sudah dikokang dan sudah siap-siaga menghadapi gempuran… apalagi dari cuma 2 bidadari cantik, he-he-he…”, sambil memainkan otot-otot pada batang penisnya, akibatnya terlihat seperti penis itu mengangguk-angguk tegang seakan-akan menyatakan persetujuannya pada semua perkataan sang pemilik.

Bisik bu Ratna bergetar saking nafsunya pada telinga kiri Naning, “Biarkan mama yang ML dulu sayang… tidak lama kok! Mama sudah terlalu amat sange sedari sore tadi… sebelum kedatanganmu… habis itu tunjukkan kebolehanmu… agar supaya Didit tidak selalu besar kepala dengan nafsunya itu”.

Segera bu Ratna menelentangkan dirinya disamping putera tunggalnya dan berkata, “Let’s action… lover!”.

Begitu tubuh Didit yang telanjang menindih penuh tubuh ibu kandung tersayangnya yang juga telanjang, tangan lentik ibunya mencekal batang penis Didit yang amat sangat kerasnya, serta mengarahkan palkon-nya pada pintu masuk gua nikmat vagina-nya, dan… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis putera tunggalnya yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama yang intens tapi stabil speed-nya. Ayunan pinggul remajanya bergerak… turun-naik… turun-naik… turun-naik… Tidak perlu waktu yang lama bagi bu Ratna yang sudah sangat sange, hanya dalam waktu dibawah 10 menit atau tepat 7 menit lebih beberapa detik, mengantarkan bu Ratna pada orgasme yang dasyat…<seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

“Ooh nikmatnya…! Pencinta ulungku yang unggul…! Terimakasih ya sayangku…!’. Bu Ratna menolehkan wajahnya pada Naning yang terdiam dan terkagum-kagum menyaksikan persetubuhan antara sang ibu dengan putera tunggalnya itu.

Sampai-sampai Naning gelagapan mendengar teguran bu Ratna pada dirinya.

“Ayooo Naning, sayang… kesini dong! Teruskan ‘action’ ini dengan adikmu… ingat apa yang mama bisikkan padamu barusan!”, kata bu Ratna memberi semangat pada Naning. Setelah dirasakan pengaruh orgasme telah sirna, buru-buru bu Ratna turun dari tempat tidur dan langsung mengenakan lagi gaun tidurnya, memutar anak kunci kamar dan mendorong pelan daun pintu kamar, melangkah keluar dan menutup kembali pintu itu dan segera melangkah menuju kamar tidur utama…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*