Home » Cerita Seks Ayah Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 11

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 11

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 10

Seminggu telah berlalu semenjak rumah ini kedatangan anggota baru keluarga pak Damarto. Selama itu pula suasananya menjadi penuh canda-tawa dan rasa bahagia meliputi kepelosok seantero dalam rumah ini.

Sekarang hari Senin, jam dinding dikamar Didit menunjukkan waktu pukul 21.30 malam. Didit duduk sendirian di kursi depan meja belajarnya, dia baru saja selesai belajar yang selalu rutin dilakukannya setiap harinya. Didit tidak pernah berambisi untuk jadi siswa ranking 1 ataupun sebagai runner-up, baginya adalah minimal dia tidak mendapat kesulitan apapun ketika menghadapi ulangan rutin mingguan di kelasnya… itu saja dulu. Didit sadar, kebiasaan belajarnya setiap hari harus semakin ditingkatkan sampai kelak dia naik (mudah-mudahan) ke kelas 3. Ini penting karena p*m*r*nt*h telah mengeluarkan keputusan lewat departemen terkait bahwa ujian nasional telah dihapus, sehingga kelulusan seorang siswa dari tingkat jenjang pendidikan SMU tergantung sepenuhnya dari / atas kebijakan yang diambil oleh sekolah masing-masing.

Sekolah mereka (Didit & Neni) tidaklah terlalu jauh dari rumah kediaman mereka, hanya memerlukan 3 menit lebih sedikit dengan mengendarai sepeda motor yang berkecepatan hanya 30 km/jam saja.

Memang gedung sekolah itu masih terletak didalam kawasan properti perumahaan yang sangat luas itu. Jalan aspal rata yang terletak didepan rumah kediamam keluarga pak Damarto adalah batas paling barat dari kawasan properti itu. Sedangkan tanah yang keseluruhannya 1.600 meter persegi yang ditempati keluarga pak Damarto, dahulunya adalah milik penduduk asli daerah itu yang dibeli oleh pak Damarto terlebih dahulu, jauh sebelum perusahaan pengembang properti di kawasan itu memulai proyeknya.

Sambil duduk bersandar kebelakang, Didit teringat kejadian tadi siang usai sekolah mereka, disaat Didit bergandengan tangan dengan Neni, ‘adik baru’-nya berjalan bersama menuju ke tempat parkir motor di sekolahnya.

‘Hai Dit…! Disebelah lo itu… adik elo ya? Kok beda jauh ya…”, sapa Burhan teman sekelas Didit yang cukup akrab dengannya. “Kok cantikan adik lo… kemana-mana… whe-whe-whe…!”, Burhan menertawai ucapannya sendiri.

“Dasar pale lo peyang…! Isinya cuma ngebayangin cewek mulu…!’, jawab Didit sambil lalu tanpa tertawa.

<Duukkk…!> “Aduh! Sialan nih tiang… lo cemburu apa sama si Neni yaa!”, kata Burhan yang berbadan agak tambun ini, ngomelin tiang lampu taman dipelataran depan halaman sekolah. Gimana nggak kebentur tiang kepalanya, habis… sambil melangkahkan kakinya, mata genitnya tak putus-putus memandang Neni, si gadis ayu… manis sekali!

Sedang Didit dan Neni tidak mau mengomentari ‘nasib malang’ yang menimpa Burhan itu… malah semakin mempercepat langkah-langkah kaki mereka mendekati motor milik Didit yang diparkir disana.

***

Besok (hari Selasa) Didit akan berperan lagi sebagai ‘the man and only of the house’, karena pada subuh-subuh sekali pak Damarto akan berangkat kembali ke proyeknya yang berdekatan dengan desa tempat domisili-nya bu bidan Atik. Kali ini cukup lama mungkin bisa sampai 1 bulanan, karena proyek yang dikerjakan perusahaan milik pak Damarto telah mendapatkan persetujuan untuk diperluas sampai 3 X dari yang sekarang! Pak Damarto akan mengendarai mobilnya yang akan disupiri oleh pak Suripman, sopir pribadi pak Damarto.

***

Sedang bu Ratna sekarang sedang ngelonin Neni yang tidak mau tidur sendirian ditinggal oleh kakaknya Naning, yang katanya sedang diberi wejangan oleh pak Damarto, apa saja yang harus dikerjakan Naning sepeninggalnya pak Damarto pergi keluar kota.

Tadi siang bu Ratna telah menggunakan Pregnancy Test, dan… ternyata beliau positif hamil!

Seperti kebiasaan yang lalu-lalu, pak Damarto sebelum keesokan paginya berangkat keluar kota, selalu melakukan ML dengan isterinya yang tercinta. Tapi tadi begitu diberitahu oleh bu Ratna bahwa dia telah positif hamil, pak Damarto minta ijin pada isterinya tersayang yang lagi hamil muda itu, agar supaya kegiatan ML itu diwakilkan pada Naning saja. Pak Damarto berdalih bahwa dia memikirkan mengenai embryo awal yang telah terbentuk dalam rahim isterinya itu masih belum kuat dan stabil posisinya. Bu Ratna setuju saja karena dia sangat berkepentingan dengan kehamilan ini, karena pada usianya yang 36 tahun sekarang ini, adalah saat yang sangat aman untuk melahirkan anaknya daripada nanti pada tahun-tahun berikutnya. Seperti juga pada proses kelahiran Didit dahulu melalui ‘caesarean’ (kelahiran seorang satu atau lebih bayi lewat pembedahan di perut), proses kelahiran bayi yang sedang dikandungnya, rencananya juga dengan proses ‘caesarean’. Bekas-bekas ‘caesarean’ yang pertama sudah tidak terlihat samasekali, karena telah dirapikan kembali dengan sempurna melalui bedah plastik yang ditangani langsung oleh ahli kondangnya.

Jadi tadi sekitar jam 22:00, ketika Naning dan Neni telah memasuki kamar, bu Ratna mendatangi Naning dan memintanya untuk menemani ‘ayah baru’-nya untuk malam ini, sedangkan bu Ratna menggantikan posisi Naning untuk menemani tidur Neni.

Jadi sekarang ini bu Ratna bersama Neni berada dikamarnya Neni sebenarnya. Sedangkan kamar Naning yang sesungguhnya berada disebelah kanannya. 2 kamar itu adalah sebenarnya kamar-kamar tamu, karena itu masing-masing mempunyai kamar mandi & closet sendiri didalamnya.

Sementara Neni yang belum terbiasa tidur sendiri, yang dari dulunya (di rumah lamanya) selalu ditemani Naning, kakaknya untuk tidur bareng, sampai nanti Neni berani tidur dikamarnya sendirian.

“Ma…!”, kata Neni ketika mereka berdua (bu Ratna dan Neni) telah membaringkan badan mereka terlentang berdampingan. “Kenapa sih papa sama mama… bahkan kak Naning membohongi Neni sih…? Neni tau kok… kak Naning lagi gituan kan… sama papa sekarang!”.

Tercekat bu Ratna jadinya mendengat perkataan Neni yang ‘to the point’ itu. ‘Benar juga seperti yang telah lama kuduga sebelumnya, pasti Neni mengetahui segalanya, Neni adalah seorang gadis belia yang cerdas, bukankah dia selalu menjadi ranking satu di kelasnya!?’. Akhirnya bu Ratna buka suara, “Benar sayang apa yang kau duga itu, apalagi kau dengan kakakmu Naning kan selalu tidur bersama sejak dirumah yang lama dulu, maafkan mama yang telah menyepelekanmu, mama harap kamu juga mau memaafkan papa dan Naning, kakakmu ya sayang… mulai detik ini mama akan bicara apa adanya tanpa menutup-nutupinya lagi… tiada lagi kebohongan diantara kita bahkan untuk hal yang sekecil apapun…!”.

“Ma… gituan itu… enak nggak sih? Cerita teman-teman Neni sewaktu di SMP sana… untuk pertama kali katanya cukup sakit tapi tidak terlalu amat sih, kemudian… enaknya seterusnya…! Sewaktu di penginapan bungalow disana seminggu yang lalu… Neni pengen minta sama papa… tapi Neni tidak berani mengucapkannya…”.

“Itulah gunanya mama memberimu sebuah buku catatan pribadi atau diary untuk mencatat hari-hari apa saja dan tanggal berapa kamu mendapatkan haidmu. Nanti setelah data dalam diary-mu sudah mama anggap cukup barulah mama bisa menghitung dan menentukan tanggal-tanggal ‘subur’ dan ‘tidak subur’ dirimu. Ini disebut sebagai sistim kalender KB. Pada sekarang-sekarang ini kamu hendaknya jangan melakukannya… sebab enaknya cuma sekejap dan kalau lagi tidak beruntung… ya tidak beruntung terus selama hidupmu! Sebab kalau kamu terlanjur melakukannya dan… menjadi hamil karenanya… kamu tidak boleh menggugurkan kandunganmu itu, karena itu melanggar hukum dan berbahaya bagi keselamatanmu. Pokoknya mama tidak mau mendukung aborsi biar sekecil apapun juga!”.

“Berapa lama lagi Neni harus menunggunya… ma?”, tanya Neni masih penasaran saja pada ‘ibu baru’-nya ini.

“Enam bulan lebih dari sekarang…”, jawab bu Ratna singkat saja.

“Aduh mama…! Itu lama sekali…!”, keluh Neni dan raut wajahnya menjadi sangat kecewa kelihatannya.

“Memang sih banyak cara lainnya, tapi ingat…! Tidak ada satu cara pun yang 100% aman. Satu-satunya yang paling aman dan tidak dapat dipungkiri keamanannya 100%, yaitu… dengan tidak melakukannya samasekali!”.

“Emangnya tidak ada cara lainnya lagi ma…??”, kata Neni yang masih saja bersikukuh penasaran.

‘Waahhh… gawat deh nih…! Libido-nya rupanya sudah tumpah-ruah agaknya. Hal ini bisa menimbulkan sesuatu yang bakal merugikan… apa itu? Tidak ada satu orang pun yang dapat melakukan prediksi awal… berbentuk apa itu nantinya, juga aku tanpa daya mengatasi itu semua. Ini adalah akibat kesalahan orang-orang disekitar Neni selama ini, yang terlalu memandang sepele akibat yang ditimbulkan pada gadis muda belia ini’.

“Baiklah… tetapi mama tanya sekali lagi padamu sayang… benar yakin kamu ingin sekali merasakannya?”, tanya bu Ratna yang sebenarnya pertanyaan ini justru untuk meyakinkan dirinya sendiri, agar tidak keliru mengambil langkah untuk mengatasi hal ini.

“Benar mama! Neni sudah siap kok…!”.

“OK kalau begitu ikut dengan mama sekarang”, kata bu Ratna, tetapi sebelumnya dia membuka laci pada meja rias yang ada didekatnya lalu merogoh dibagian atasnya, begitu dia mengeluarkan tangannya… didalam genggaman tangannya itu ada sekotak kondom bersegel dan masih baru, berisi 6 sachet yang masing-masingnya berisi 1 buah kondom.

Ketika langkah mereka melewati saja kamat tidur utama dan terus melalui ruang TV… menuju kamarnya Didit. Ini mengundang protes dari Neni.

“Ma! Kok kesini sih…?”, tanya Neni yang jantungnya mulai berdetak lebih kencang.

“Pertama… jangan mengganggu kesenangan seseorang… kedua… tidaklah mungkin kamu mendapatkan ‘itu’ dengan papa-mu… mau tahu, kenapa…? Kamu masih ingat kan lingkaran pergelangan tangan kakakmu, Naning?”, kata bu Ratna menjelaskan sekaligus bertanya pada Neni.

“Iya… pasti tahulah ma…! Dia kan kakak Neni…!”, jawab Neni dengan pasti.

“Nah… sebesar itu pulalah penis papa-mu yang kamu damba-dambakan itu!”, kata bu Ratna.

“Apa?! Sampai sebesar itu punyanya… papa?! Mana bisa masuk kedalam memek Neni… sedang telunjuk Neni saja susah sekali masuknya kedalam lubang memeknya Neni…!”, jawab Neni kaget dan merasa ngeri juga.

“Papa-mu itu… sangat bernafsu sekali ingin ML denganmu, tapi papa-mu tahu diri dan sadar akibatnya, yaitu hal itu hampir tidak mungkin dilakukan… kalau tetap dipaksakan… itu akan menyakitkanmu dan… papa-mu juga! Tidak ada setitik pun rasa nikmat yang akan dapat kamu rasakan juga bagi papa-mu, yang kamu rasakan cuma rasa sakit yang amat sangat dan… begitu juga yang akan dialami papa-mu…! Neni… sayangku… percayakan semuanya pada mama-mu ini nak…”, kata bu Ratna berusaha menyakinkan Neni.

Sampai didepan pintu kamar Didit, bu Ratna mengetuk pelan pintu itu. “Didit sayang… boleh mama masuk?”.

Didit yang mendengar ketukan di pintu dan suara ibunya yang tersayang dan memang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya. ‘Jadi juga olahraga sehat malam ini he-he-he… wah bakalan aku bisa tidur nyenyak nih… nanti!’, kata Didit didalam hatinya dan sungguh sangat senang jadinya.

“Masuk aja mama-ku sayang… pucuk dicinta… mama pun tiba…! He-he-he…!”, Didit tertawa senang dan… penisnya pun ikut-ikutan girang… ndut-ndutan dan mengangguk-angguk tegang…

“Huuusshh… dasar otak ngeres…!”, kata bu Ratna masuk kedalam kamar mendekati Didit yang sudah berdiri menghadapinya. Langsung saja melancarkan aksi FK dan tangan kirinya kebawah dan mencekal penis tegang milik Didit.

Neni yang mengikuti bu Ratna dari belakang jadi terhenti langkahnya seketika melihat aksi yang dilakukan ‘ibu baru’-nya ini. ‘Bukan main! Nafsuan banget sih… mama-ku ini… yang mau ML… mama, apa… aku sih?!’, Neni terpesona melihatnya dan… vagina muda-nya langsung basah jadinya… ikut-ikutan bernafsu rupanya.

Bu Ratna melepaskan tautan FK-nya, kesempatan dipergunakan sebaik-baiknya oleh Didit dengan bertanya, “Mama horny ya…?! Asyik dong…! Udah 2 hari nih… tidak olahraga yang bisa menyehatkan luar-dalam he-he-he…!”, kata Didit sambil mulai lagi tertawa cengengesan yang agak menyebalkan bagi orang yang mendengarkannya.

“Huuusshh… dasar otak ngeres…!”, kata bu Ratna kembali sambil melototkan mata indahnya pada Didit. “Tuh lihat…! Siapa yang ada dibelakang mama sekarang?!”.

Didit mendongakkan kepalanya melewati bahu kanan ibunda tercinta. “OMG…! Maafkan kakak sayang”, katanya kaget bersipu malu pada Neni yang masih melongo saja… “Tau nih…! Mulut kakak… suka usilan dan ngomong ngaco…!”, kata Didit lagi sambil menutupi mulutnya dengan telapak kanan dan diikuti segera dengan gerakan telapak kiri tangannya yang menampar keras punggung telapak kanannya… <plaaakkk..!> “Dasar mulut kurang ajar! Ngomong sembarangan!”.

Neni yang masih melongo… mendengarkan tamparan keras itu… tercekat kaget jadinya, “Iiihhh… kakak! Bikin kaget Neni saja…!”, katanya jadi kesal sama ‘kakak baru’-nya itu.

“Yang bangor itu adalah… otak ngeresmu sendiri sayang… pencinta ulung mama…! Hi-hi-hi…!”, timpal ibunya lagi.

“Bener-bener… minta ampun deh! Ngomong sama mama… kalau lagi horny, susah-susah… sulit!”, kata Didit kewalahan ngadepin ulah sang ibundanya tercinta. Saking kesalnya, Didit langsung menarik turun celana Hawaii kombornya, dan… terpampang sudah… bebas hambatan… penis Didit lagi garang-garangnya terlihat… tegang, kencang dan menjulang… segera saja Didit ‘bertanya’ pada penisnya sembari memainkan otot-ototnya. “Gimana pendapat lo… pen? Setuju nggak…?”. Segera terlihat penis itu mengangguk-angguk kencang…

“HI-HI-HI… hi-hi-hi…!”, tersentak kaget bu Ratna dan Neni melihatnya dan tak kuasa menahan gelak tawanya lagi.

“Lihat tuh… ulah konyol kakakmu, Nen…! Sanggup nggak kamu menjinakkan penis nakal kakakmu ini? HI-HI-HI…! Ayooo… jawab dong! Mama ingin mendengarkanmu jawabanmu…?! Suaranya yang mantap dan lantang!”, tanya bu Ratna pada puteri remaja belia ini.

“Sapa… yang takut…!??”, jawab Neni agak gemetaran dan takut-takut… mencoba memberanikan dirinya yang tiba-tiba menjadi ciut nyalinya itu.

“He-he-he… uuughhh! Ecel…! Baru juga cuma dua cewek cantik…! Let’s ACTION… darlings! He-he-he…!”, kata Didit dengan pongah sambil tertawa dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

(NB: ecel = mudah, gampil, gampang).

Mendengar perkataan Didit si pecinta ulungnya, segera saja bu Ratna melucuti pakaiannya sendiri sambil menoleh sekilas pada Neni. “Ayooo… Neni sayangku! Lepaskan semua pakaianmu, mari kita wujudkan keinginanmu… malam ini!”, kata bu Ratna mengajak Neni dengan suara mantap.

Didit dengan cekatan menelanjangi dirinya sendiri. Tinggal Neni, gadis ayu muda belia rada gemetaran melucuti pakaiannya sendiri.

Terlihatlah jelas didalam kamar itu seakan ada satu pagelaran cerita Yunani kuno… Adonis muda dengan kedua wanita, setengah baya dan remaja belia, pengagum dirinya…

“Ayooo… Neni sayangku… naik ke tempat tidur… berbaring terlentang saja ditengah-tengah… agak renggangkan kedua pahamu… yaa… sedikit lagi… ngangkang begitu…!’, instruksi bu Ratna pada Neni, gadis muda belia… pendamba seks. Kemudian bu Ratna membuka lemari pakaian milik Didit dan mengambil sebuah handuk bersih berukuran medium, dan segera naik ketempat tidur… meminta Neni untuk mengangkat sedikit pinggul mulusnya, segera menaruh handuk itu dibawah pantatnya Neni. “Ya sudah… turunkan pantatmu kembali dan tekuk kedua lututmu keatas sayang… yaaa benar begitu. Kok kelihatan kamu jadi ragu-ragu sih…? Berusaha berbaring tenang… kenapa?!”. Sedang Neni sudah tidak mampu lagi berkata-kata hanya menunggu pasrah… apa yang akan dihadapinya nanti…

Bu Ratna turun lagi dari tempat tidur, mendekati Didit dan mendekap erat tubuh anak lelaki satu-satunya ini dan berbisik mesra didekat kuping sebelah kanan Didit. “Sayangku… mama benar-benar sangat nafsu sekali padamu… mama kepengen ngentot denganmu malam ini!”.

Tercekat hatinya mendengar ibunya itu mulai mengeluarkan kata-kata vulgar… begitu ulah ibunya kalau lagi sangat ‘tinggi’ nafsunya.

Tanpa melepaskan dekapan eratnya pada tubuh Didit, bu Ratna mendorong dan mengarahkan tubuh Didit pada posisi yang diinginkannya. Kemudian mendorongnya kebelakang yang menyebabkan tubuh Didit jatuh terlentang dan melintang diatas tempat tidur, dan posisi wajah gantengnya dekat dengan vagina klimis imut-imutnya Neni dan kaki-kaki Didit menjuntai kebawah pada pinggiran tempat tidur.

“Oral seks… adikmu sayang!”. Tanpa membuang-buang waktu lagi, bu Ratna berlutut didepan penis Didit yang ngaceng, langsung mencekalkan batang penis itu dengan jari-jari lembut dan lentik tangan kanannya serta mengarahkan palkonnya menyentuh mulut sexy-nya. Segera saja bu Ratna mengulum-ngulum intens palkon Didit itu. Tidak terlalu lama sih… hanya semenit kurang saja, kemudian menghentikan kulumannya itu, berbaring telentang seperti Didit dan berkata pada Didit yang lagi sibuk berat melakukan oral-seks pada Neni, dengan nada bergetar diselimuti hawa-nafsunya penuh gejolah gairah birahi berkobar-kobar. “Sekarang Dit… sayangku! Entot mama-mu sekarang… semprotkan sperma-mu kedalam nonok mama… cepat…!”.

Didit segera menghentikan oral-seks pada vagina Neni sambil berkata, “Lanjutkan dengan tanganmu dik… kalau bisa sampai klimaks biar memek-mu jadi licin… jangan khawatir, nanti akan tiba giliranmu, percaya deh… ini tidak akan lama…!”.

Didit bergegas bangkit dari tempat tidur dan berdiri tegak didepan vagina ibunya yang sudah membasah dan lagi ndut-ndutan itu.

Bu Ratna dengan sigap mencekal batang penis Didit yang lagi ngaceng sempurna… dan menempelkan palkon Didit pada labia-mayora pas didepan pintu masuk gua nikmat vaginanya. “Ayoo… tancap… full-speed sayang!”, instruksi bu Ratna yang mabuk dengan nafsu birahi.

Mulailah ‘the young mothefucker’ ini memenuhi hasrat seks ibunda yang mendesak, memompa intens vagina legit ibu kandungnya, maju-mundur… maju-mundur… maju-mundur…

Aksi incest ini tidak terlalu memakan waktu lama… mungkin malah telah memecahkan rekor dari persetubuhan-persetubuhan yang mereka lakukan selama ini… dengan rekor paling cepat! Hanya 3 menit saja… hebat! Apa… apa ya…?

“Oooh pecinta ulung mama yang ganteng… mama sampai!”, dikuti dengan… <seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

5 detik kemudian menyusul giliran Didit, “Dasar vagina mama yang super legit… Didit semprot nih pake sperma Didit… oh nikmatnya… mama-ku sayang…!”.

<CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!> menyembur-menyembur sperma Didit didalam vagina ibunya… bahkan semprotan pertama yang sangat kuat… langsung memicu lagi vagina ibunya mendapatkan orgasme keduanya… <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

Nah ini baru hebat namanya, 2 X orgasme dalam waktu hanya 3 menit saja… Rekor baru telah diciptakan oleh pasangan incest, bu Ratna dengan putera kandungnya, Didit sang pecinta ulung muda…

Bahkan Neni yang melotot sambil melongo menyaksikan aksi seru gituannya Didit dengan ibunya… ikut-ikutan mendapatkan klimaks nya yang dirasakan Neni inilah masturbasi yang paling nikmat yang pernah dia rasakan…!

Terdiam mereka bertiga sejenak, merasakan kenikmatan atas klimaks yang mereka dapatkan masing-masing.

“Ayo Dit… pecinta ulung mama yang tersayang, mulai persiapan memerawani adikmu ini, yang udah kebelet udah pengen banget digituin…! Sayangku Neni… say goodbye to your virginity…!”, kata bu Ratna pelan masih lemas, tapi… puas.

Dan buru-buru turun dari tempat tidur dan dengan agak sempoyongan mengambil 1 sachet kondom yang tadi ditaruh diatas meja belajarnya Didit dan langsung merobek bungkusnya. Meminta Didit duduk sebentar dipinggir tempat tidur. Sambil memegang kondom siap pakai itu ditangan kirinya, mulai melakukan kuluman-kuluman pada palkon Didit. Belum juga sampai 30 detik, penis Didit sudah ngaceng lagi dengan sempurna. Buru-buru memasangkan kondom itu menyarungi seluruh permukaan batang penis yang keras… selesai sudah pemasangan kondom itu.

“Langsung tancapkan saja kedalam memeknya Neni, pelan-pelan saja… tidak usah grasa-grusu… apa perlu mama mengulangi lagi urutan-urutannya?”, tanya bu Ratna pada Didit yang mau melaksanakan eksekusi ‘pendobrakan’ selaput dara Neni, gadis belia yang amat sangat mendambakan kunjungan nikmat sebuah penis tegang mampir di lorong gua nikmat dari vagina-nya yang klimis dan imut-imut, yang labia mayora-nya masih merapat ketat itu.

“Terimakasih ma! Kayaknya Didit bisa melakukannya deh… tolong mama mengawasi dan meralat cepat apabila Didit salah melakukannya dengan benar…”. Kemudian berkata pada ‘adik baru’-nya ini, “Come on Neni… my beloved sister… welcome to the fucking-world…!”.

Didit segera menindih tubuh mungil Neni, langsung melakukan FK… lembut saja dan mesra kelihatannya dimata bu Ratna yang mengawasi dengan seksama gerak-gerik si pecinta ulung muda ini dalam melakukan semua aksinya.

Didit melepaskan tautan FK-nya dan berbisik mesra pada telinga kanan Neni dan berbisik, “Peluk erat tubuh kakakmu ini sayang…”. Kemudian melanjutkan selusuran mulutnya pada pentil muda yang belum terlalu menonjol keluar, dan membelai-belainya dengan ujung lidahnya yang agak basah bergantian dari yang kanan lalu yang kiri… balik lagi yang kanan… begitu seterusnya, sementara jari-jari tangan dengan lembut meraba buahdada Neni yang sudah terbentuk indah itu, pelan saja rabaannya bergantian yang kiri dan yang kanan… tidak lupa meremas-remas lembut kedua susu indah milik Neni.

Tak terkira nikmatnya yang dirasakan Neni, gadis muda belia ini… baru pertama kali dalam hidupnya diperlakukan sangat lembut serta rangsangan-rangsangan yang menimbulkan gejolak gairah birahi ini pada bagian-bagian tubuhnya yang sensitif.

Sementara bu Ratna yang masih bertelanjang bulat ikut membantu eksekusi ini, dipegangnya dengan lembut batang penis Didit yang super keras, dan… menggosok-gosokan palkon Didit pada permukaan kelentit mungil yang berada dibagian atas vagina Neni.
Tersentak-sentak kaget dan merasakan sensasi nikmat pada seluruh bagian tubuh sang gadis belia ini.

“Ooh mama-ooh kakak-ooh mama… kok enak sekali sih…! Pantesan teman-teman cewek SMP Neni yang dulu… seneng banget menceritakannya… Aduh mama… ooohhh…! Neni mau pipis nih…!”, dikuti dengan… <serrr…!> <Serrr…!> <Seerrr…!>.

Segera bu Ratna menempatkan palkon Didit di mulut gua lorong nikmat vagina Neni. “Ayo Dit! Ini saatnya…! Action sayang!”, bu Ratna memberikan aba-aba finalnya.

Begitu mendengarkan intruksi ibunya itu, Didit langsung menekan kebawah penisnya… belum bisa masuk! Ditarik lagi… lalu menekan lagi kebawah penisnya dengan ditambah sedikit saja tenaga dorongan… <bleesss…!> masuk sudah seluruh palkonnya Didit… tapi belum sampai dengan batang penisnya yang kerasnya ampun deh. Didiamkan sejenak, lalu ditekan lagi… masuklah 1 cm batang penis itu, ditarik lagi 1 cm keatas, kemudian ditekan lagi kebawah… masuklah 2 cm batang penis Didit menyusup kedalam lorong nikmat vagina Neni yang super legit. Ditariknya 2 cm keluar batang penisnya… Inilah momen yang ditunggu-tunggu gadis muda belia itu yang masih setengah sadar diselimuti suasana klimaks yang barusan.

Dengan ditambah sentakan maju tidak terlalu pakai tenaga… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Didit yang sangat keras itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis keras si pencinta ulung muda ini. Ayunan pinggul remajanya bergerak… turun-naik… turun-naik… turun-naik… tidak terlalu cepat santai saja… kecepatannya sedang-sedang saja tapi konstan.

Keluar juga keluhan nikmat Neni “Aduh nikmatnya… nyengkal banget nih rasanya memek Neni, gede banget sih penis nakal kakak ini, uuughhh… tapi… enaknya minta ampun deh…! Ayoo dong kak…! Diterobos saja perawannya…! Neni sudah siap kok!”, tanpa mengetahui bahwa dia sudah tidak perawan lagi.

Tersenyum bu Ratna dan Didit mendengarkan ocehan nikmatnya Neni, Didit menolehkan wajah ganteng kearah ibundanya, langsung ditimpali bu Ratna dengan kata-kata pelan saja. “Terus saja Dit… enjot terus! Speed-nya tergantung dari jepitan otot-otot dalam memek adikmu… pada rasa nikmat di palkon-mu…!”, kata bu Ratna sambil mengacungkan kedua jempol tangannya keatas… yang menandakan sekaligus memberitahu Didit yang masih sibuk mengayun-ayunkan pinggul remajanya, bahwa Didit sudah sukses besar memerawani kegadisan ‘adik baru’-nya tanpa disadari oleh gadis muda belia ini.

Persetubuhan pasangan muda belia ini sudah berlangsung 15 menit, maklum saja baik Didit maupun Neni telah mendapat orgasme tadi… inilah menyebabkan persetubuhan ini berlangsung lumayan lama!

Semakin lama semakin cepat saja enjotan pinggul remaja Didit, dan… mulailah keluar keluhan, desahan, bisikan nikmat dari mulut mereka, herannya juga keluar dari mulut sexy bu Ratna, oh… rupanya dengan melihat persetubuhan diantara sesama anaknya ini, bu Ratna juga sibuk sendiri ber-masturbasi…!

Neni: “Oh nikmatnya… udah deh Neni nggak tahan pengen nyampe lagi nih…!”.

Didit: “Ini baru nge-seks dengan perawan namanya… ampun deh… nikmatnya,
semoga kondomnya dapat menampung sperma kakak… yang rasanya
bakalan banyak nih…!”.

Bu Ratna: “Auh-ahh g’lap! Terserah kalian mau ngomong apa, emangnya kalian
saja yang bisa… mama sebentar lagi juga… mau nyampe…!”.

Demikianlah komentar nikmat yang keluar bersahutan dari mulut ketiganya.

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>
<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>
<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

Semprotan cairan nikmat dari organ vital ketiganya, juga ikut-ikutan keluar… bersahut-sahutan…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*