Home » Cerita Seks Kakak Adik » Semua Terjadi di Hari Sabtu 10

Semua Terjadi di Hari Sabtu 10

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 9

Dikamar Didit sekarang, tinggal yang empunya kamar dan Naning… berdua saja, setelah ditinggal oleh bu Ratna yang kembali ke kamar tidur utama.

Didit yang belum mencapai orgasme-nya sendiri dari ML tadi… yang dinikmati ‘sepihak’ oleh ibundanya tersayang, tetap tenang-tenang saja, walaupun penisnya belum merasa senang… buktinya masih tetap tegang, dan… kadang-kadang tersentak-sentak ‘kesal’.

Sekarang Didit, seperti kebiasaannya yang lalu, mengambil posisi berbaring terlentang serta kedua telapak tangannya yang kiri dan kanan ditaruh dibawah tengkuknya, kedua kakinya terentang lebar dan tidak lupa… menggoyang-goyang kedua telapak kakinya… menggeleng-geleng kekiri dan kekanan. ‘Cool’ betul anak muda ini kelihatannya.

Biasanya sang cewek akan merasa rada keki melihatnya atau bagi cewek yang kadung sange sedari tadi, pasti akan langsung ‘menghajar’ Didit dengan WOT-nya atau paling sedikit ‘mencaplok’ dengan gaya BJ penis Didit ini yang bikin gregetan sang cewek.

Naning terdiam sejenak duduk diatas tempat tidur, didalam hatinya sedang menimbang-nimbang tindakan apa yang tepat untuk menghadap ‘adik baru’-nya yang terlihat sangat cuek ini. Memang Naning agak bingung juga jadinya, maklumlah ini adalah sesuatu hal yang baru baginya. Pengalamannya yang sudah berbulan-bulan yang selalu jadi bulan-bulanan pelampiasan nafsu seks kakeknya selalu menempatkan dirinya pada posisi sebagai pasangan-seks yang pasif, yaitu… terlentang… ngangkang dan diterjang… oleh penis pasangan ngeseks-nya itu. Demikian juga ketika dia ML dengan pak Damarto yang tidak lain adalah ‘papa baru’-nya itu tatkala mereka menginap di bungalow.

Didit dengan santainya memberi komentar meniru gaya bicara bu Ratna sang ibunda ketika melihat Naning sang ‘kakak baru’ yang lagi kebingungan kelihatannya.

“Eeh-hmm…! Eeh-hmm…! Kakakku ini… sudah cantik… botoh… sekal dan mana montok lagi entuannya tuh… tapi sayang… suka bengong atau lagi kebingungan ya…?! Chk-chk-chk… kacian deh…! Sini kakakku sayang… nenen sama adik…!”.

Melonjak keki Naning jadinya, sambil melototkan mata indahnya berkata dengan nada kesal. “Emangnya! Apa yang mau dinenenin…!? Uughhh… dasar!”.

Didit membalas perkataan sengit dari Naning dengan santai saja. “Dasar masih… eehh… nggak ding…! Maksud daku… kakakku sayang… pilihan nenennya lumayan… banyak kok! Lihat nih!”, kata Didit mengacungkan telunjuk tangan kanannya menunjuk ke pentil rata yang ada dipermukaan dadanya sebelah kanan. “Nih…!”, kata mengacungkan telunjuk tangan kirinya menunjuk ke pentil rata yang ada dipermukaan dadanya sebelah kiri. “Dan… ini nih…!”, kata Didit dengan mantap, sembari kedua telunjuknya kiri dan kanan berbarengan menunjuk kearah penisnya yang masih ngaceng saja. Segera dimainkannya otot-otot dalam batang penisnya, akibatnya terlihat penisnya seakan-akan mengangguk-angguk. “Tuh! Lihat tuh… kak! Penisku setuju sekali denganku, buktinya… lihat dong! Lagi mengangguk-angguk tanda setuju banget! He-he-he…!”, kata Didit yang mulai lagi dengan tertawa cengengesannya, bagi cewek yang mendengarnya seakan sebagai ejekan saja kedengarannya.

Naning yang sedari tadi mau marah malahan jadi tertawa lepas melihat tingkah-laku Didit yang rada konyol ini. ‘Hi-hi-hi… adik…! Adikku sayang…! Bener-bener deh, kakak jadi kewalahan menghadapi kamu… habisnya… harus gimana dong kakak? Sayang”, akhirnya terlontar juga kata-kata penyerahannya… pasrah.

“Biarpun Didit lebih muda dari kakak, tetapi soal teori dan praktek nge-seks… cukuplah, tidak terlalu malu-maluin banget! OK deh Didit yang menuntun kakak, tapi… kakak jangan tersinggung ya? Didit lagi serius nih…!”, kata Didit mulai memberi pengarahan pada Naning ‘kakak baru’-nya.

“Iya deh… kakak tidak bakalan tersinggung… yang penting jadi cepat ‘urusan’-nya, kan… kamu harus bangun pagi… pergi bersekolah bersama Neni dan papa ke sekolah? Iya… nggak?! Atau… gimana kalau kakak yang usulkan… kamu aja yang diatas, setuju nggak…?”, kata Naning harap-harap cemas… agar segalanya menjadi cepat selesai.

Usulan Naning ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Didit dengan berkata, “Tidak-tidak… kakakku sayang… tidak ada nilai tambahnya… baik untuk Didit dan untuk kakak! Katanya kakak mau mendengarkan saran Didit… gimana sih…?!”.

“Oh… iya! Maafkan kakak, sayang… lagipula ini kan cuma usulan saja… iya toh”, kata Naning bersemu malu, khawatir dipandang ingkar oleh ‘adik baru’-nya ini.

“Begini kak… pakai saja gaya WOT, kepanjangan dari ‘Woman On Top’, jadi kakak jongkok dan menduduki penis Didit… apa mau tahu tentang reaksi penis Didit ini? Hai pen! Elo setuju nggak… kalo digituin sama kakakku ini?”, Didit berpura-pura bertanya pada penisnya sembari memain-mainkan otot-otot didalam penisnya, akibatnya… ya terlihat penisnya mengangguk-angguklah jadinya.

“Hi-hi-hi… dasar kamu dik! Ngebanyol terus sih! Hi-hi-hi…!”, Naning spontan tertawa jadinya.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Naning dengan sigap dan nekat langsung jongkok diatas kedua pinggul remaja Didit, dan… menyambarkan penis tegang Didit dengan mencekalkan kelima jari tangan kanannya melingkari batang penis Didit yang sangat keras dirasakan oleh Naning. ‘Bukan main deh… nih barang! Keras amat sih…! Pantesan mama tadi jadi cepat nyampe duluan…!’, kata Naning dalam hati, sangat kagum dengan penis yang tengah digenggamnya itu. Langsung saja mengarahkan palkon penis itu berada di pintu masuk gua nikmat vagina legitnya dan dilanjutkan dengan menurunkan pinggulnya. “Aduh! Sakit…!”, jerit kaget seketika Naning oleh aksi sendirinya… begitulah pengalaman pada WOT perdana-nya ini. Penis Didit belumlah bisa masuk menerobos gua nikmat miliknya itu, kalau dipaksakan… akibatnya bisa fatal… organ vital masing-masing akan sama-sama lecetnya. Maklum saja jalan masuk dalam vagina Naning masih kering… belumlah basah yang bisa melicinkan lorong-lorong sempit itu.

Dengan cepat Didit meletakkan kedua telapak tangannya menopang pinggul Naning mencegah jangan sampai turun menekan kebawah.

‘Uuugghhh! Dasar pemula…’, keluh Didit dalam hati, ikut merasakan sakit pada palkon-nya. Dan berkata lagi pada Naning, “Udah deh kak! Bawa deh memek kakak mendekat pada mulut Didit…”.

Kalau yang beginian sih, Naning tahu akan maksud dan tujuan perkataan Didit. Hampir mirip kejadiannya dengan yang di bungalow sana, yang membedakannya adalah… kalau dulu (di bungalow) Naning dibawah dan pak Damarto diatas… kalau sekarang Naning diatas dan Didit dibawah.

Segera Naning menempelkan permukaan vagina-nya pada mulut Didit, yang disambut dengan ujung lidah Didit yang kesat… langsung mengulek-ulek kelentit mungil milik Naning yang menyebabkan tersentak-sentak pinggulnya merasakan nikmatnya rangsangan pada kelentit-nya itu. “Oohhh… nikmatnya! Terus dik… sayang! Pintar sekali kamu!”, tersentak-sentak perkataan Naning keenakan.

Kedua tangan Didit juga tidak mau tinggal diam… ikut berperan serta meramaikan suasana yang beraroma penuh nafsu birahi itu. Semakin gelagapan saja Naning merasakan ‘gempuran’ nikmat ini, bagaimana tidak? Kesepuluh jari-jari tangan Didit bergerak serentak mengalun-alun, serempak meremas-remas buahdada montok dan sekal… asset indah milik Naning, sesekali diselingi dengan plintiran jari telunjuk dan jempol kiri dan kanan tangannya Didit, ikut membuat suasana bertambah semarak saja.

“Enaknyaaa…! Nikmat sekaliii…! Terus dik jangan berhenti!”.

Jangankan disuruh terus… disuruh berhenti pun Didit akan tetap terus melancarkan aksi nikmatnya ini.

Ada kedutan-kedutan kecil didalam vagina Naning, semprotan awal cairan pelicin telah membasahi seluruh permukaan dinding dalam lorong-lorong nikmat vagina Naning… melumasi sempurna bagi kunjungan penis sang ‘pecinta ulung’ alias Didit si remaja yang doyan nge-seks ini.

“Ingat kak! Kalau mau dimasukkan kembali, jangan main amblas saja! Pertama masuk sedikit saja, kemudian angkat sedikit lalu tekan kebawah, kemudian angkat lagi… begitu seterusnya kak, supaya lumasan ini merata dan menyebabkan licin untuk seluruh dinding lorong nikmat vagina kakak…”, kata Didit memberi pengarahannya pada ‘kakak baru’-nya yang kurang begitu berpengalaman nge-seks secara benar dan ber-variasi itu.

Sebenarnya sih… kalau dilihat lamanya mengenal seks pastilah Naning, yang praktis sudah berbulan-bulan menjadi sasaran tembak air mani kakeknya, tapi… dengan gaya yang monoton dan pasif. Sedangkan Didit juga mengenal seks sudah cukup lama, juga berbulan-bulan, tapi teoritis tapi variatif di internet… ditambah praktek singkat baru 2 hari, tapi sangat intensif dan penuh variasi serta sangat dinamis sekali. Secara kualitas, Didit lah yang lebih berpengalaman nge-seksnya, apalagi sang ibunda tersayang telah memberi gelar padanya sebagai seorang pencinta yang ulung!

‘Kalau terus dibiarkan begini, bisa-bisa aku nyampe duluan nih! Hampir sama saja kejadiannya dengan bu Ratna ‘ibu baru’-nya tadi’. Sedang bagi Naning belum dimasukin penis keras Didit, sudah klimaks duluan, ini tidak diinginkan Naning karena ingin juga merasakan klimaks ketika batang penis keras milik Didit… yang mulai didambakannya itu masih berada didalam vagina-nya. Apalagi bukankah ini kesempatan emas baginya… untuk pertama kali dalam hidupnya… merasakan kehebatan penis muda? Dengan pertimbangan itu, Naning segera melepaskan diri dari sergapan mulut dan jari-jari tangan Didit dengan memundurkah tubuh indahnya, dan… kembali pada posisi awal.

Dengan sentakan mantap dari pinggulnya menekan kebawah <bleeesss…!> tanpa ampun lagi masuk sudah seluruh batang penis muda milik Didit yang sangat tegang itu, menerobos masuk ‘gua nikmat’ dalam vagina legitnya Naning. Terdiam sejenak Naning oleh sensasi nikmat yang tengah dirasakannya ini.

Naning memulai ayunan pinggul mulusnya, yang mengakibatkan otot-otot dalam vaginanya mencengkeram kencang sekeliling dan sepanjang batang penis kerasnya Didit. Naning sudah terlalu lama mengalami sange dari sejak bu Ratna bersama anak tunggalnya, Didit terlibat ber-aktivitas incest tadi.

“Kakak sudah tidak tahan lagi… terlalu sangat nikmat untuk merasakannya lebih lama lagi… ooh… sayang! Aku mau nyampe nih…!”.

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

Terhempas tubuh sintal Naning jadinya kedepan menindih tubuh Didit… oleh kenikmatan orgasme yang sedang dialaminya ini. Napasnya jadi satu-satu dan… terengah-engah serta detak jantungnya bergemuruh kencang.

Didit membiarkannya menunggu sampai keadaan Naning pulih kembali seperti sediakala.

Kemudian menggulirkan tubuh mereka, sehingga sekarang Didit yang menindih tubuh muda jelita Naning. Segera memompakan penisnya sejenak agar upaya penisnya yang sempat mulai melunak karena dibiarkan diam terlalu lama… mengeras kembali dan tegang.

Mengecup lembut dan mesra bibir sensual Naning… melepaskan tautannya pada bibir merah itu, dan sekarang beralih sasaran pada puting indah milik Naning dengan mengulum-ngulumnya dengan tidak terlalu keras tetapi cukup lembut saja dan mesra.

‘Oohh… adikku sayang… kalau memperlakukanku terus seperti ini dengan lembut dan mesra… bisa-bisa kakak jatuh cinta padamu dik…! Nikmat dan syahdu sekali…!’, terbuai Naning oleh aksi lembut Didit ini.

Tapi Naning keliru menilai perilaku Didit, sang remaja si pecinta ulung ini. Didit dalam melakukan kegiatannya seks-nya, tidaklah dalam rangka mencari calon isteri melainkan hanya berkeinginan meraup sebanyak-banyaknya kenikmatan seks dan memberikan kenikmatan semaksimal mungkin bagi pasangan seks-nya semata… tidak ada tujuan lain! Didit terlalu sangat muda untuk memikirkan seorang yang bakal kelak jadi pasangan hidupnya!

Didit menghentikan sejenak enjotannya pada vagina Naning untuk mengatur posisi yang lebih nyaman, tapi penis kerasnya tetap masih mendekam didalam gua nikmat vagina Naning… terhimpit dan dicekal ketat oleh otot-otot dalam vagina legit itu. Setelah dirasakan oleh Didit, posisinya cukup nyaman, kembali mengecup dan FK sebentar dan menyudahi FK itu, mendekatkan mulutnya pada telinga kanan Naning yang polos tidak memakai anting-anting.

“Kak… kakakku sayang… peluk Didit yang erat dan kencang, kita akan melanjutkan ML ini ke tingkat action yang lebih serius… biar kita sama-sama mendapatkan orgasme bersamaan waktunya…!”.

Maka dimulailah action yang sesungguhnya… Didit mulai memompakan penis kerasnya disepanjang lorong nikmat dalam vagina legit sang ‘kakak baru’, Naning. Pinggul remajanya bergerak turun-naik turun-naik turun-naik… semakin lama semakin cepat saja. Sedangkan yang sedang dienjot, Naning sudah tidak mampu lagi berkata-kata… perhatian dan pikirannya fokus dan tertuju semata dalam meresapi kenikmatan yang bertubi-tubi datangnya yang melanda dan menerpa sekujur tubuhnya… tanpa henti akibat aksi seks si pecinta ulung ini.

Ini berlangsung hampir limabelas menitan, ya… tepatnya kurang 3 menitan deh… dengan enjotan nikmatnya, stabil, dan… powerful!

Akhirnya keluar juga kata-kata dari Didit yang diucapkannya agak terbata-bata, “Kakakku sayang…! Aduh nikmatnya vagina kakak nih…! Terimalah… persembahan… semprotan sperma Didit… aahhh…!”.

<CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!> menyembur-menyembur sperma Didit didalam vagina Naning… bahkan semprotan pertama yang sangat kuat… langsung memicu vagina Naning mendapatkan orgasme keduanya… <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

Terkulai sudah… kedua tubuh-tubuh pasangan muda nge-seks ini, masih menikmati orgasme masing-masing… Tak lama kemudian terdengar lemah dari mulut Naning… <zzz…> <zzz…> <zzz…> rupanya perempuan muda ini sudah berada di negeri antah-berantah… tertidur pulas dengan wajah cantiknya yang merona merah muda dan tersenyum puas tanpa bersuara… menambah suasana keheningan malam, jam di dinding kamar Didit telah menunjukkan waktu pukul 23:55… 5 menit lagi waktu akan berganti ke hari yang baru…

Tak lama kemudian Didit turun dari tempat tidurnya, melangkah kekamar mandi yang ada didalam kamar tidurnya, untuk membersihkan diri ala kadarnya… keluar kembali dengan membawa ember kecil yang berisi air hangat dan handuk yang tidak terlalu besar (didalam kamar mandi Didit ada kran air panas), mendekati tubuh Naning yang telentang masih bertelanjang bulat… agak mendekat ke tembok. Segera Didit dengan lembut dan telaten… menyeka dahi mulus Naning yang agak berkeringat karena kegiatan ngeseks-nya dan Didit juga tidak lupa membersihkan permukaan kulit putih mulus diseputar vagina segaris vertikal dan masih cukup klimis dan terakhir menyelimuti tubuh telanjang ‘kakak baru-nya dengan selimut baru cukup lebar. Didit juga sudah mulai mengenakan seragam tidurnya, 2 potong pakaian saja, yaitu celana pendek Hawaii dan T-short longgar yang polos.

5 menit kemudian, terdengar dengkur lembut yang bersahut-sahutan dari 2 orang anak manusia ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*