Home » Cerita Seks Ayah Anak » Harapanku Buyar di Rumah Pacar

Harapanku Buyar di Rumah Pacar

Halo namaku Dodi, aku ingin menceritakan pengalamanku yang unik. Sengaja nama-nama pelaku yang terlibat didalamnya telah aku samarkan demi kepentingan mereka sendiri.

Kejadiannya sewaktu aku masih menjalin hubungan asmara dengan pacarku, Ima. Saat itu Ima masih duduk dikelas 3 SMA.

Aku tidak pernah menduga bahkan terbersit didalam pikiranku, bahkan sekilas juga tidak pernah dibenakku. Ternyata pacarku itu mempunyai hubungan cinta dengan ayah kandungnya sendiri! Jujur saja aku sakit hati dan kecewa berat. Peristiwa itu kuketahui bukanlah berasal dari orang ketiga tetapi dari mata kepalaku sendiri!

Ceritanya begini, hari itu aku ingin main kerumah pacarku itu. Biasanya sih aku menelponnya dahulu memberitahukan perihal kedatanganku kerumahnya itu. Tetapi karena aku tidak berangkat dari rumahku melainkan sehabis menjenguk temanku yang dirawat dirumahsakit yang lokasinya kebetulan lebih dekat kerumah Ima, ketimbang kerumahku yang jaraknya lebih jauh.

Ditengah perjalanan menuju rumahnya, aku kirim SMS juga dia, untuk memastikan keberadaannya dirumahnya sendiri. Tak lama kemudian datang balasan SMS dari Ima yang memberitahukanku bahwa dia ada dirumahnya sendirian lagi menonton TV, tetapi… katanya pada jam 11-an dia ada janji dengan teman ceweknya.

Segera kulihat arlojiku, jarumnya menunjukkan jam sekitar jam 9-an. Kupikir masih ada waktu kerumahnya. Ya… sekedar bertegur-sapa dan melihat wajahnya yang manis… cukuplah bagi-ku. Bagaimana tidak manis, wajah Ima kata teman-temanku mirip dengan Nana Mirdad itu lho puteri pertama Jamal Mirdad, mantan suami dari aktris kondang Indonesia, Lydia Kandou. Dan potongan rambutnya juga sama, begitulah komentar teman-temanku mengenai pacarku, Ima.

Sengaja aku tidak mengirim SMS balasan lagi, aku berniat memberi surprise untuknya, ya… semacam ‘in cognito’ begitu, itu lho kegiatan yang suka dilakukan oleh pejabat negara yang baik untuk datang mendadak guna memantau segala hal yang menjadi tanggung-jawabnya.

Ketika aku sudah sampai tidak jauh dari rumah Ima, aku mematikan mesin sepeda motorku lalu turun dan menuntunnya mendekati rumah pacarku itu.

Sesampainya aku dirumah Ima, kuingat tadi dalam SMS-nya Ima mengatakan bahwa dia sedang sendirian menonton TV, maka dengan santainya aku melenggang masuk kedalam rumahnya… toh tidak ada orang didalam rumah itu kecuali Ima yang sedang sendirian. Aku melewati ruang keluarga yang ada TV-nya masih menyala, tetapi kemana penghuni rumah ini? Kupikir Ima mungkin kekamar mandi mungkin lagi kebelet pipis, barangkali he-he-he… Jadi aku melangkah menuju dapur karena kamar mandinya terletak disamping dapur, tapi tak kutemukan siapa-siapa.

Aku kembali keruangan keluarga, pas aku melangkah lewat depan pintu kamar Ima, mendadak aku berhenti dan terdiam sejenak. Aku mendengar ada suara cewek, itu pasti suaranya Ima tetapi kok ada suara cowoknya didalam kamar Ima. Aku menjadi curiga karena kamarnya tertutup rapat dan lagipula setahuku Ima tidak mempunyai saudara kandung yang lelaki. Aku menarik napas menenangkan pikiran sekejap, mungkin itu suara sepupunya yang lelaki… ‘Mungkin…’, pikirku. Kusimak dan mendengarkan lagi percakapan diantara cewek dan cowok yang berada didalam kamar itu, kok makin lama semakin mencurigakanku apabila mendengar nada-nada dari percakapan yang sedang berlangsung itu.

Sebaiknya kulihat dahulu siapa gerangan cowok itu. Jadi aku ambil sebuah kursi dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara sekecil apapun, kuangkat dan menaruhnya didepan pintu kamar Ima.

Diatas pintu kamar memang ada kisi-kisi lubang angin untuk ventilasi udara, disitulah aku akan mengintip memantau kedalam kamar Ima.

Aku dengan tenang dan berhati-hati sekali mengintip melihat keadaan dalam kamar Ima. Seluruh bagian kamar itu terlihat jelas, kecuali tentu bagian dalam didepan pintunya. Setelah mataku lebih fokus dan melihat… aku sangat kaget sekali… nyaris aku jatuh terjengkang. Bagaimana tidak…? Kulihat Ima dan ayah kandungnya sedang berada diatas kasur pembaringan tempat tidur. Punggung ayahnya bersandar pada dinding, dengan duduk bersandar itu tangan ayahnya sedang mengelus-elus rambut Ima yang sedang tiduran dipangkuan sang ayah.

Memang sih sebenarnya wajar-wajar saja tangan seorang ayah mengelus-elus rambut puteri kesayangannya. Akan tetapi menjadi tidak wajar dan tidak pantas dilakukan seorang ayah pada puteri nya kalau disimak lebih jauh percakapan diantara dua insan ayah dan puterinya itu.

Begini kira-kira seingatku perbincangan sumbang itu berlangsung:

Ayahnya: Im… bapak bangga mempunyai puteri secantik
kamu. Apalagi bisa menikmati tubuhmu…
sayang… kamu tidak menyesal kan…?

Ima: Tentu tidak dong pak, malahan aku juga bangga
mempunyai ayah seperti bapak… kuat lagi…

Kulihat tangan Ima mengelus-elus penis ayahnya yang ngaceng, yang harus kuakui batang penis ayah Ima itu panjang dan gemuk apalagi palkonnya besar dan mantap kelihatannya. Pikirku, pantas saja Ima jadi kesemsem ketagihan kontol milik sang ayah rupanya, siapa diantara dua insan yang berbeda gender ini yang mendahului ya? Kalau kupikir-pikir Ima orangnys lembut, manis dan sopan tutur katanya, itulah penyebabnya aku jatuh hati pada-nya. Pasti bukan Ima yang memulainya, aku yakin pasti ayahnya si bandot tua itu! Anaknya sendiri ‘dimakan’! Aku jadi geram dan kecewa, yang pasti aku akan memutus-kan hubunganku dengan Ima. Percuma saja kalau aku lanjutkan, seandainya aku jadi suami Ima, bisa-bisa aku jadi ayah dari anak hasil hubungan gelap Ima dengan ayah kandungnya, pikirku menerawang jauh ke masa depan.

Kusimak terus tingkah gila mereka itu. Entah bagaimana awal kejadiannya berlangsung aku pun tidak tahu, yang jelas saat aku intip mereka, sang ayah hanya memakai kolornya saja sedangkan Ima masih memakai tanktop dan celana legging. Dengan melihat kearah dadanya Ima yang berayun-ayun, aku pastikan Ima tidak mengenakan BH dibalik tanktopnya itu. Kurasa mereka baru mulai, setidaknya untuk hari itu, hari-hari sebelumnya… siapa yang tahu? Tapi dengan melihat tingkah mereka yang mesra bagaikan pasutri dan tidak ada keraguan dan penolakan sedikitpun dari Ima… pastilah mereka sudah sering melakukannya.

Mereka saling menatap mesra lalu berciuman penuh gairah. Seru sekali kulihatnya. Ima melumat bibir ayahnya penuh nafsu birahi.

Sama halnya dengan sang ayah, betul-betul hot sekali adegan yang kulihat. ‘Hot live show’ yang mengalahkan adegan dalam BF.

Ayahnya: Mhhh… kamu nakal banget Im… lidah bapak kamu sedot-
sedot… mhhh…

Sang ayah mendesah keenakan. Ima menjawab perkataan ayahnya dengan manja disela-sela ciumannya yang hot itu…

Ima: Sssh… iya pak… Ima sayang bapak… oooh…

Ayahnya: Mhhh… pacar kamu tidak kesini kan Im…? Beruntung
sekali pacarmu itu Im… bisa dapat perawan kamu
mhhh…

Ayah Ima tetap menciumi Ima sembari tangannya sudah mendarat di payudara Ima yang montok dan meremas-remasnya dengan bernafsu.

‘Wahh…’, pikirku, ketahuan juga oleh ayahnya Ima kalau aku yang pertama mengentot Ima dan memerawaninya. Kalau melihat gelagatnya sih, benar apa yang sekilas kupikir tadi, bisa-bisa aku dijadikan ayah… untuk anak haram yang akan sering mereka buat nantinya.

Ima yang masih tidur terlentang dipangkuan sang ayah, mulai berkata…

Ima: Iya pak… sudah… tidak usah menyesal pak… kan biar
sudah tidak perawan, kan bapak sendiri yang bilang… punya
Ima sempit dan enak…

Ayahnya: Benar sayang… mhhh… kamu anak kesayangan bapak!

Mereka masih tetap kuintip, cukup lama mereka tidak merubah posisi. Kemudian ciuman sang ayah mulai beralih pada leher dan bagian belakang dari kuping Ima. Lihai juga sang ayah karena titik-titik yang diciuminya itu adalah sebenarnya titik kelemahan Ima. Kalau titik-titik itu dirangsang dengan ciuman dan jilatan pasti akan menyebabkan Ima menjadi pasrah dan menunggu segera dipuaskan nafsu birahinya… dengan sukarela!

Tangan sang ayah beralih lagi sekarang beliau memasukkan tangan-nya kedalam celana legging Ima, kelihatan olehku tangan sang ayah sedang seru bergerilya disana, menyebab kan Ima mengeluar-kan desahan seperti keenakan serta tubuh menggeliat-geliat. Aku yakin tangan sang ayah sedang mengelus-elus memek Ima meskipun masih terbalut dengan CD, mungkin… mana kutahu… Ima memakai CD apa tidak?!

Ngaceng juga kontolku dengan melihat itu semua, Tapi masih lebih besar lagi rasa cemburu dan sakit hatiku. Mengapa pula aku jadi saksi mata peristiwa ini, seandai-nya aku tidak melihatnya langsung, tentu tidak jadi masaalah dan hubunganku dengan Ima pasti akan tetap langgeng. Mengenai adanya hubungan cintanya dengan ayah kandungnya… kalau itu kan… aku belum tahu… jadinya.

***

Ima sudah setengah telanjang, bagian bawah tubuhnya ‘bebas lepas’ tanpa ditutupi sehelai benang pun! Sedangkan tubuh Ima bagian atas masih mengenakan tanktop-nya tapi yang sudah disingkap jauh keatas. Seluruh bagian payudaranya yang berukuran 34B bebas terpampang bagi mata sang ayah… tentunya bagiku juga yang sedang mengintip, he-he-he…

Sang ayah rupanya tidak mau ketinggalan moment, memulai meng-ekplorasi tubuh Ima dengan menjilatinya dan tidak lupa meremas buahdada puterinya itu dan disapnya dengan keras kedua puting Ima yang kecil tapi imut-imut itu, disertai gumamannya pada Ima, puterinya tersayang…

Ayahnya: Mhhh… sayang… enak tidak bapak beginikan… mhhh…
shhh…

Ima: Aaah… oooh paaak… geli tapi… nikmat… terus pak…
pokoknya tubuh Ima buat bapak… bikin Ima melayang
paak…!

Ima kulihat mendesah kenikmatan, benar-benar tubuhnya dipasrah-kan bagi ayahnya untuk dinikmati sepenuhnya. Tangannya yang mungil dan halus itu dengan gemas meremas-remas rambut ayahnya.

Ayahnya: Mhhh… iya sayang, nikmati saja… ahhh… tubuhmu
bagus… Im…

Jilatan demi jilatan datang bertubi-tubi mendarat di tubuh Ima yang putih mulus, berangsur-angsur berpindah sasaran menuju diantara pangkal paha Ima… Sekarang tubuh sang ayah diatas tubuh Ima, tepat didepan memek mungil milik Ima yang masih sedikit bulu-bulunya, kalau pun ada masih pendek dan jarang-jarang. Sehingga belahan vagina dan clitorisnya terlihat jelas.

Ayahnya: Memek kamu bagus banget Im… benar-benar bikin bapak
ketagihan… bapak jilat ya sekarang…

Meningkahi ulah sang ayah dan mendengar perkataanya membuat kadar birahi Ima seketika membumbung tinggi dengan mesra dan penuh gairah Ima menjawab ayahnya.

Ima: Iya… pak… nikmati dan jilat sepuasnya… pokoknya memek
Ima seutuhnya milik bapakku tersayang…!

Ima bahkan melebarkan renggangan pahanya dengan sendiri-nya, agar memudahkan sang ayah meng-akses memeknya yang mulai berkedut-kedut saking nafsunya. Ima memejamkan matanya, pasrah menunggu ‘eksekusi’ dari sang ayah.

Sang ayah tidak pakai menunggu lama lagi langsung saja mulutnya menyambar memek mungil milik puteri kandungnya dengan rakus dijilatnya memek itu dengan lidahnya yang kesat. Menyebabkan Ima terlonjak kaget tapi perlahan mulai menikmati cunnilingus dari sang ayah.

Ayahnya: Sttt… <slurp…> akhhh… enak banget… punya ibumu
masih kalah enaknya… sayang… <slurppp…> akhhh…

Memeknya dijilati oleh ayah kandungnya sendiri selama kurang lebih 10 menitan menyebabkan Ima megap-megap, napasnya jadi tidak beraturan bagaikan tersedak diterpa gelombang nikmat teramat sangat. Dadanya turun-naik serta puting mungil kulihat lebih mancung dan kaku, rupanya Ima akan mendapatkan orgasme-nya yang pertama dalam permainan seks incest bersama ayah kandungnya sendiri…

Ima: Oooh… terus paaak… enak baanget…! Aaah… memek
Ima… tidak tahan pak… sssh… aaah… paaak…!

Ima mencengkeram kepala sang ayah dengan kuat sambil tubuhnya mengejang-ngejang, kupikir pastilah cairan nikmat dari memeknya tersemprot… dan memang kulihat sekilas muka sang ayah yang membasah… yang masih saja menjilati memek puteri kandungnya itu… sampai tetes terakhir…

Ima menjadi lemas tubuhnya cuma bisa mendesah pelan. Akhirnya sang ayah menghentikan kegiatan cunnilingus-nya, menunggunya sebentar kemudian langsung menindih tubuh puteri kandungnya. Mendekatkan mulutnya serta memberi kode dengan bahasa matanya yang langsung dimengerti Ima dengan refleks membuka mulutnya. Sang ayah meludah kedalam mulut Ima yang bercampur dengan cairan nikmat dari dalam memek Ima sendiri, seraya berkata.

Ayahnya: Bagaimana… enak tidak sayang… peju kamu?

Ima: Mmmh… kok dikasih ke Ima sih pak…? Kenapa tidak ditelan
bapak saja…? Mmmh… asin-asin… tapi enak…

Ayahnya: Tidak apa-apa… tadi bapak sudah menelannya juga…
malahan lebih banyak… bagaimana sayang… kamu sudah
siap atau belum…?

Ima menjawab ayahnya dengan senyuman dan menganggukkan kepala. Yang langsung di-antisipasi sang ayah dengan memegang batang kontol yang tegang dan keras dari sejak awal permainan seksnya dengan puteri kandungnya dengan menggesek-gesekkan palkonnya pada permukaan memek Ima yang sekali-sekali menyenggol clitoris-nya.

Ini menyebabkan tubuh Ima terlonjak-lonjak kegelian tapi sungguh nikmat dirasakan Ima sehingga memicu gairah birahi menjadi tinggi kembali. Memeknya minta dimasuki kontol ayahnya, segera Ima membuka lebar-lebar pahanya ingin segera disetubuhi oleh ayah kandung yang tersayang… dan mengingatkan sang ayah…

Ima: Ingat lho pak… maninya jangan disemprot didalam memek…
Ima sekarang lagi masa subur… nanti sebelum keluar segera
dicabut saja… biar deh… Ima minum air mani bapak…

Rupanya kalau Ima lagi tidak dalam masa subur, sang ayah selalu menyemprotkan air maninya didalam memek puteri kandungnya itu. Kelihatan muka sang ayah sedikit kecewa… sembari penisnya masih saja menggesek-gesek memek Ima, sang ayah berkata.

Ayahnya: Itu tergantung… sayang… nanti kalau keenakan…
tidak sempat mencabut… jangan salahkan bapak,
habis… memek kamu nikmat sekali sih…!

Mendengarkan kata-kata ayahnya itu, Ima menjadi kaget dan wajah seketika agak cemberut…

Ima: Aaah… bapak… jangan dong… entar Ima hamil
bagaimana…? Aaayo… dong pak… buruan… Ima sudah
tidak tahan nih… sssh…!

Setelah dirasa cukup lama menggeseki memek puteri kandungnya itu… sang ayah mengambil ancang-ancang untuk melakukan penetrasi penisnya memasuki memek Ima dengan menempelkan palkon-nya tepat didepan gua nikmat milik puteri kandungnya itu. Ima begitu tahu penis ayahnya akan memasuki tubuhnya segera saja mengangkang-kan kedua pahanya selebar-lebarnya. Maklumlah seperti yang sudah-sudah dialami dan dirasakan ketika disetubuhi ayahnya saat penis besar sang ayah masuk kedalam memek-nya membuat Ima sedikit tidak nyaman. Mungkin ukuran batang penis ayahnya terlalu besar bagi memek mungil miliknya, meskipun setelah penis besar ayah amblas semua kedalam memeknya sungguh memberikan sensasi nikmat luar biasa yang dirasakan Ima. Tersentak kaget Ima ketika palkon ayah kandungnya itu mulai menerobos masuk kedalam memeknya yang mungil, refleks Ima menggigit bibir bawah guna mengatasi rasa tak nyaman yang dirasakannya seperti yang sudah-sudah yang biasanya terjadi pada saat permulaan palkon ayahnya menerobos masuk kedalam memeknya.

Ima: Aaaduh… aaah… pak pelan-pelan dong… punya bapak gede
banget sih… sssh… aaah…

Sang ayah yang sudah kadung dirundung nafsu birahi bergejolak berkobar-kobar, seakan tidak mendengarkan perkataan puteri kandungnya itu. Dengan sedikit tenaga dilesakkannya batang penisnya yang besar itu menerobos masuk kedalam memek mungil Ima. Kemudian segera ditarik-nya lagi… lalu didorong masuk lagi kedalam memek Ima. Keluar-masuk… keluar-masuk dengan tempo sedang yang biasa dia lakukan pada persetubuhan-persetubuhan yang sudah-sudah dengan puteri kandung kesayangannya itu. Keluar-masuk… dengan tempo yang konstan. Kedua insan ayah dan anak ini asyik-masyuk serius merasakan nikmat nya persetubuhan ini. Apalagi bagi Ima yang sudah kecanduan disetubuhi ayah kandungnya itu. Sama sekali tiada rasa sesal bagi Ima telah disetubuhi oleh ayah kandungnya ini, karena memberi sensasi kenikmatan luar biasa. Malahan Ima merasa bersyukur ayah kandungnya mau dan berani lebih dahulu mengajak Ima untuk bersebadan dengannya. Untung saat pertama itu Ima tidak menolaknya meskipun masih ragu saat itu, kalau tidak mana mungkin dia dapat merasakan sensasi nikmat seperti yang sedang dialaminya sekarang.

***

30 menit telah berlalu, tapi persetubuhan incest itu masih tetap berlangsung bahkan tempo keluar-masuknya batang penis sang ayah menerobos masuk kedalam memek nikmat milik puteri kandung yang paling disayanginya ini semakin cepat saja, bagaikan sebuah mobil yang zig-zag tapi mengebut kencang…! Keringat bercucuran pada kedua insan mesum ini dan jangan pula ditanya berapa belas kali orgasme yang telah melanda Ima. Bagi Ima inilah sensasi persetubuhannya dengan ayah kandungnya sendiri, sangat nikmat dan selalu sangat lama persetubuhan ini berlangsung seperti yang sudah-sudah yang sering mereka lakukan tanpa sepengetahuan ibu kandungnya Ima yang juga sebagai isterinya sang ayah.

Keluar-masuk… keluar-masuk… penis sang ayah dengan gagahnya sedang sibuk menggagahi puteri kandungnya sendiri. Hunjaman-hunjaman kontol sang ayah semakin mantap bertenaga. Beberapa gaya ngentot sudah dipraktek-kan. Sungguh luar biasa stamina sang ayah ini, mungkin karena dia sedang menyetubuhi puteri kandung sendiri. Dia tidak pernah mau memakai dan menelan obat perangsang ataupun obat-obatan yang mengandung zat-zat yang bersifat aphrosidiac. Kegiatan seks bersama isterinya yang juga ibunya Ima itu tidak pernah terganggu walaupun ada kegiatan incest didalam rumah mereka. Bahkan isterinya sendiri sering kewalahan menghadapi nafsu seks besar suaminya itu. Bukan saja besar nafsunya, kontolnya dirasakan isterinya sangat besar, tidak kurang 5 kali orgasme bahkan lebih ketika setiap kali dia disetubuhi suaminya yang gagah ini.

Ayahnya: Uhhh… nikmatnya… paten sekali memekmu ini Ima…
tak akan bapak berhenti ngentotin kamu Ima… ohhh…
Ima-ku tersayang… sungguh nikmat memekmu ini Ima…

Sang ayah dengan serius sangat menikmati persenggamaan yang sumbang ini dengan puteri kandungnya yang cantik menggairahkan. Tak terhitung lagi kata-kata kotor yang keluar dari mulutnya yang gasang itu. Akal sehatnya jungkir-balik tidak karuan, persetan dengan norma hukum dan agama… yang terpenting baginya adalah dapat menikmati tubuh puteri kandungnya ini sesering mungkin. ‘Ohhh… sungguh beruntungnya aku…!’, jerit pikiran mesum sang ayah yang pinggulnya tetap aktif bergoyang-goyang yang mengantar dan menjemput batang penisnya… keluar-masuk… keluar-masuk… memeknya Ima, puteri kandung kesayangannya.

Ima sampai terguncang-guncang tubuhnya digoyang rasa nikmat yang diberikan sang ayah kepadanya. Sekilas terbayang wajah ibunya dimata Ima, menyebabkan akal sehatnya balik kembali walau hanya sekejap… Ima terkesiap… dan berkata pada sang ayah yang tercinta…

Ima: Oooh… nikmatnya… tak tahan Ima menerimanya… oooh…
bapakku sayang… bagaimana dengan ibu… bagaimana kalau
ibu tahu…! Oooh enak sekali… teeerus… pak…!

Memang tadi akal sehat Ima sempat mampir kembali tapi dalam sekejap terlempar jauh diterpa rasa nikmat yang bertubi-tubi melanda tubuhnya itu.

Sang ayah yang meski sibuk mengayuh bahtera nikmatnya… tetap masih sadar apalagi dengan ocehan puteri kandung-nya yang lagi ditindihnya itu. Dengan tenang sang ayah menanggapi perkataan Ima…

Ayahnya: Uuuh…! Nikmatnya… Ima-ku… sayang, tidak usah
khawatirkan ibumu… yang pasti bapak memperhatikan…
keperluan ibumu… tadi malam saja bapak ngentotin
ibumu… tidak kurang 5 kali… ibumu mendapat
orgasme… bahkan… seandainya ibumu tahu…. tentang
kita… ibumu pasti bisa memakluminya… mungkin…
malahan berterima kasih padamu…! Karena… telah
ikut membantu… kewajiban ibumu… melayani
bapak…! Ima sayang… bagaimana kalau kita threesome
saja… dengan ibumu…!

Terlontar juga suatu ide ‘cemerlang’ dari otak mesum sang ayah. Ima yang masih diguncang nikmat tidak terlalu memperhatikan perkataan sang ayah. Lihat saja mata Ima yang merem-melek yang sibuk mencerna nikmat yang dicekoki sang ayah secara bertubi-tubi…

Tak adanya jawaban dari Ima, sang ayah melanjutkan bicara sambil tetap menggoyang-goyang pinggulnya turun-naik… turun-naik…

Ayahnya: Nikmat sekali memekmu ini Ima… kontol bapak… kayak
dijepit… akhhh… pokoknya ingat… ya Im… kalau
kamu ada dirumah… kamu… tidak usah pakai CD…!
Kecuali waktu kamu dapat saja… biar bapak mudah…
mengelus… dan menjilat memekmu… dimana pun… bila
ada kesempatan…

Ima: Aaah… pak… kapanpun bapak pengen memek Ima… pasti
siap kok… kan sudah Ima bilang tadi… tubuh Ima seutuh-
nya… milik bapak…!

Mereka berdua sungguh menikmati persenggamaan mesum ini… tidak perduli dengan keadaan sekelilingnya… Inilah yang menyebabkan aku dengan leluasa menonton kegiatan mereka sekarang… tontonan ‘live show incest’ yang hot gratis lagi… sekaligus menyebalkan ku. Campur-aduk perasaanku meski tak dapat kupungkirkan bahwa ini membuatku jadi sangat bernafsu bercampur geram di hati, sehingga tiada niatku untuk menuntaskannya misalnya dengan ber-mastubasi… tak terpikirkan olehku.

Tiba-tiba terjadi perubahaan pola gerak pada persenggamaan ini. Sang ayah tancap gas, napasnya mengendus-endus keras bagaikan dengusan banteng yang lagi ngamuk saja. Sang ayah mengenjot tubuh puteri kandungnya dengan semangat juang yang tinggi… tak lama kemudian dia menghentikan sejenak ayunan pinggulnya seraya memberitahu Ima, puteri kesayangannya tapi juga yang menjadi obsesi dari target libido-nya yang tinggi itu.

Ayahnya: Sayang… kayaknya bapak mau keluar nih… yuk kita
rubah gaya yang seperti biasanya…

Ima tahu gaya apa yang dimaksudkan ayahnya itu… doggie-style yaitu gaya anjing jantan ngentotin betina-nya. Ditunggunya ayahnya mencabut keluar penisnya dari jepitan memeknya. Setelah sang ayah berdiri diatas lutut, segera Ima membalikkan tubuh-nya. Menelungkup dahulu sebentar kemudian menunggingkan tubuh dengan cara mengangkat pantatnya yang semok tinggi-tinggi keatas dibarengi dengan… suara gemeretak dari ruas-ruas tulang belakangnya… kreeetak… taaak… “Nyaman-nya…”, gumam Ima lega. Ya… bagaimana tidak berbunyi tuh tulang-tulang itu kembali pada letaknya yang benar… kan sang ayah menindih tubuh rampingnya non-stop… selama 30 menitan! Sang ayah tersenyum mendengar bunyi derak kembalinya posisi tulang-tulang itu pada letaknya yang semestinya. Seperti biasa halnya dengan persetubuhan-persetubuhan yang telah sering mereka lakukan, gaya doggie-style lah lebih nyaman dan… lebih nikmat dan tentunya lebih aman… sang ayah tidak ribet mencabut penis panjangnya itu… ketika saatnya tiba…

Dimulai lagi persenggamaan sungsang ini berlangsung ya… kurasa ini adalah babak penutup. Sang ayah memegang penisnya yang tegang dan keras itu, dimasukkan palkonnya <bleees…!> yang dengan dibantu sedikit tenaga menerobos masuk kedalam memek puteri kandungnya yang legit itu. Terjerembab dan jatuh tersungkur tubuh Ima menelungkup jadinya karena dorongan penis sang ayah tapi dengan sigap Ima memperbaiki posisinya kembali. Sang ayah mulai menarik lalu mendorong penis menerobos masuk mamek Ima, makin lama semakin lancar dan cepat saja bagaikan gerak engkol mesin kereta api uap yang mulai berjalan kencang. Tidak ada kepulan asap hitam, yang terdengar hanyalah dengus keras dari pejantannya… Sang ayah menundukkan sedikit badan-nya yang hampir-hampir menindih punggung mulus Ima, tangan sang ayah dengan sigap menyergap toket Ima yang montok. Dengan geram penuh nafsu birahi diremas-remasnya buahdada puteri kandungnya sendiri. Tahu toketnya diremas-remas kencang, menambah nikmat persetubuhan ini dirasakan Ima dan dia juga paham bahwa tak seberapa lama lagi pasti ayahnya akan meraih klimaksnya yang biasanya dahsyat itu, segera Ima menggerakkan pinggulnya kekiri dan kekanan, lalu… mengoyang memutar-mutarkan pantat semoknya itu dengan cepat.

Sang ayah yang mendapatkan respon dan ‘service’ dari puteri kandungnya yang aduhai… matanya mendelik… biji matanya berputar-putar keenakan… tak mau kalah dengan puterinya itu dengan gerak refleks kedua tangan-nya mengcengkeram pinggul Ima dengan kuat seraya menggerakkan pinggulnya dengan sangat cepatnya… maju-mundur… tarik-dorong… menyebabkan batang penisnya keluar-masuk dengan sangat cepat…

Ayahnya: Ahhh… Ima… bapak sudah mau keluar…! Enakkk
sekali…!

<Slebbb…> <slebbb…> <slebbb…!> Orgasme milik sang ayah datang mendekat…

Ima: Iya… paaak… kencangin… paaak…! Biar sama-sama…
enak…! Tapi ingat paaak… jangan keluarin… didalam!
Teeerus…. paaak…! Oooh… niiikmat… sekali… ohhh…
Ima… mau keeeluar…!

Ayahnya: Tahannn duluuu… sayanggg…!

Bagaikan gila sang ayah mempercepat gerakan pinggulnya… maju-mundur… maju-mundur… Tak tahan lagi sang ayah buru-buru mencabut penisnya dari jepitan memeknya Ima langsung dikocok-kocok batang penisnya dengan sangat cepat diatas pantat semok puteri kandungnya itu dan… “Ahhh… ahhh… AHHH…”. <Crottt…> <crottt…> <crottt…> <crottt…> <crottt…> <crottt…> menyemprotlah sperma sang ayah dengan deras dan kuat… saking kuatnya daya semprotnya itu… jatuh dan melumuri rambut Ima dengan air mani ayahnya berwarna putih pekat… dan kental. Ahhh… lega sudah dapat menuntaskan gejolak gairahnya pada tubuh putih mulus puteri kandung kesayangannya itu…

Sama pula halnya dengan Ima yang sudah lebih tubuh terjerembab menelungkup lemas… tapi… lega dan puas… ‘Sungguh kuat… bapakku aaah… aheeem…’, dengan wajah damai Ima telah jatuh tertidur…

Ayahnya: Betul-betul nikmat…! Ngentotin kamu Im… pokoknya…
kita akan sering begini… tak akan berhenti…!
Aaah…

Sang ayah berbaring disamping Ima… tak lama kemudian… hening sudah suasana didalam kamar mesum itu… yang terdengar hanyalah dengkur pelan dari sang ayah yang disahuti dengan dengkur pelan dari puteri kesayangannya itu… yang pasti sejak itu Ima… sudah bukan menjadi pacarku lagi.

Dengan sangat hati-hati aku turun dari kursi dan membawanya kembali pada tempat semula tadi tempat kuambil.

Dengan gontai aku melangkah keluar dari rumah yang telah menghancurkan harapan masa depanku… dengan Ima yang masih kucinta…

Kudorong pelan sepeda motorku menjauhi rumah Ima, tempat aku memadu kasih pertama kali bersama Ima… Diatas tempat tidur itulah kami sama-sama kehilangan… perjakaku… perawannya…

Tanpa sadar pelupuk mataku digenangi oleh airmataku… aku buru-buru menolehkan kepalaku kekanan dan kekiri… khawatir ada orang yang memperhatikanku. Dengan sigap kuambil saputangan dari saku-ku untuk menyeka mataku… dan kemudian berpura-pura menyeka muka dan jidatku.

Kunaiki sepeda motorku… men-starternya dan… melaju dijalan beraspal yang rata.

Selamat tinggal Ima-ku sayang… semoga kau selalu berbahagia…

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*