Home » Cerita Seks Mama Anak » Di Sebuah Pulau 3 (Tamat)

Di Sebuah Pulau 3 (Tamat)

Cerita Sebelumnya : Di Sebuah Pulau 2

Beberapa yang ikut satu perahu dengan mereka, ternyata ditemukan meninggal dunia. Jenazah dimakamkan, dan tak lebih dari 10 hari, pulau kecil itu dirundung dukacinta. Setelah itu, semuanya kembali normal kembali. Semua kembali melaksanakan tugasny masing-masing dan duka sudah dapat diatasi.

Maimunah juga mulai melaut, karean suaminya yang sudah lumpuh tak bisa berbuat apa-apa lagi, hany tinggal di rumah mereka yang kecil. Harus diuruskan makan dan mandinya. Bergantian Maimunah dan anak-anaknya mengurus suaminya itu. Dalam sebuah kesepakatan, Burhan mengusulkan agar dia ditemani ibunya untuk bersma melaut dan m,enangkap kepiting serta hal lain yang bisa dilakukan. Sedang dua adik Burhan dengan perahu lain. Isteri Burhan untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumah. Kesepakatan itu disetujui oleh seisi penghuni rumah. Kesepakatan itu dimulai esok pagi.

Pagi-pagi sekali Maimunah sudah mempersiapkan sarapan pagi dan bontot untuk dua orang untuk dibawa ke laut dan ke pulau lain. Disiapkan jaring dan jala, serta alat penangkap kepiting. Adik Burhan juga demikian. Selesai sarapan pagi itu, Burhan bersama Emaknya menuju perahu mereka dan dua adiknya menuju perahu lain. Mereka sepakat, Burhan dan Emaknya menuju pulau Lingam dan dua adiknya menuju Pulau Layu. Layar pun dipasang, Burhan mengemudikan perahu itu dengan telaten.

ÔÇ£Apakah Emak mengerti, kenapa aku memilih emak temanku satu perahu?ÔÇØ tanya Burhan di sela-sela desau angin yang membawa perahu mereka melaju. Maimunah tak menjawab dengan kata-kata, tapi dengan senyum. Burhan mengerti jawaban Emaknya. Sebuah senyum pengertian.
ÔÇ£Aku rindu, Mak?ÔÇØ kata Burhan.
ÔÇ£Aku mengerti. Nanti kita ke Pulau Jago-jago dulu, untuk mengambil beberapa ramuan. Emak takut, kalau nanti Emak menjadi hamil,ÔÇØ kata Maimunah.
ÔÇ£Jangan, Mak. Aku mau Emak hamil, karena aku. Aku mau kita punya anak, Mak.ÔÇØ
ÔÇ£Bagaimana nanti kata orang?ÔÇØ
ÔÇ£Pokoknya aku mau Emak hamil karena aku,ÔÇØ kata Burhan menegaskan.

Perahu pun tak jadi diarahkan ke Pulau Jago-jago. mereka meneruskan arah ke Pulau Linggam. Di sana banyak paluh-paluh dan lumpur. Mereka menunggu sebentar pasang surut, agar mereka bisa meraba kerang. Burhan meminta Maimunah mendekat ke arahnya di buritan agar haluan perahu tengkat sedikit ke atas dan angin meniup layar, kemudian laju perahu bisa semakin kencang. Maimunagh pun melakukan permintaan anaknya. Maimunah menyandarkan tubuhnya ke punggung Burhan. Sembari menjaga kemudi, Buhan pun memeluk Emaknya dari belakang. Dimasukkannya tangan kirinya ke dalam baju Emaknya dan dia mengelus tetek Emaknya yang masih kenyal. Emaknya pun merasakan, ada daging menekan-nekan punggungnya. Dia tahu kalau kontol anaknya Burhan, sudah mengeras.

ÔÇ£Hati-hati. Sebentar lagi kita sampai ke pulau. Arahkan haluan ke sebelah kiri. Aku yakin di sana sepi,ÔÇØ kata Maimunah. Burhan mengikuti. Begitu beberapa puluh meter lagi di pantai pulau, burhan menurunkan layar dan dia mulai mengkayuh perahu. Langsung Burhan mengkayuhkan ke sela-sela rumpun pohon-pohon Bakau. Ada bebetrapa pasang anak burung mencicit-cicit di pepohonan, merasa terusik ketenanganb mereka tas kehadiran Maimunah dan Burhan.

ÔÇ£Kenapa kita kemari?ÔÇØ tanya Maimunah.
ÔÇ£Agar orang tidak melihat kita. Aku rindu Mak. Aku ingin,ÔÇØ kata Burhan serak. Maimunah mengerti maksud anaknya. Sebenarnya Maimunah justru jauh lebih menginginkannya lagi, karena dia sudah merasakan lama tidak disetubuhi dan dia juga sudah measakan betapa nikmatnya disetubuhi Burhan anaknya itu.

Perahu ditambatkan di batang pohon Bakau dengan kuat. Mereka mengambil di sela-sela pohon Bakau yang sangat rimbun dan teduh dari terik matahari. Dengan tidak sabar Burhan langsung menyergap tubuh emaknya dan melapas kain sarung emaknya. Burhan sendiri melepas celana pendeknya yang pinggang celana itu itu hanya berkaret saja. Burhan dari rumah sengaja tidak memakai celana dalam. Emaknya dia tidurkan di atas potongan-potongan papan di atas perahu. Cepat dia mengangkangkan kedua kaki emaknya, lalu dia berjongkok di antara kedua kaki emaknya. Langsung dia cucuk memek yang berbulu lebat itu. Setalah semuanya masuk ke dalam memek hangat itu, Burhan menindih tubuh ibunya dan memompanya dari atas dengan ganas. Kali ini Maimunah yang sudah lama menginginkannya, langsung pula memberikan tanggapan dari bawah. Dia memeluk Burhan kemudian menggoyangkan bagian tubuhnya untuk menjawab pompaan Burhan.

Air berkecipak, karena perahu bergoyang-goyang dan burung-burungpun serentak terbang dari pohon-pohon bakau yang membuat suara dedaunan menjadi bergesekan. Saat itu pula Maimunah tak mampu membendung kenikmatan dalam dirinya. Dia menceracau. Duh enaknya, duh nimatnya, duh kontolmu besar juga dan seterus.
Mendengar ceracau emaknya, Burhan semakin bersemangat dan terus mempompanya dari atas, sampai mereka berpelukan erat dan Burhan memompakan spermanya dengan sebanyak-banyaknya ke dalam rahim emaknya.

Setelah semuanya kembali normal, mereka melepas tambatan perahu mereka menuju keluar. Di beberapa tempat mereka memasang jerat kepiting dan Maimunah menyiapkan alat-alatnya untuk merogoh kerang dari lumpur, karena sebentar lagi akan pasang, dia harus cepat. Burhan pun menyiapkan jalanya pula. Saat keluar itu Maimunah menanyakan, bagaimana dan apa alasan kepada siapa saja, bila dia benar-benar hamil.
ÔÇ£Orang kampung kan masih tau, kalau Bapak masih ada,ÔÇØ kata Burhan.
ÔÇ£Tapi bapakmu sudah tak bisa lagi melakukan seperti apa yang kita lakukan tadi.ÔÇØ
ÔÇ£Tapi apa orang kampung tau, kalau Bapak sudah tidak mampu lagi,ÔÇØ tanya Burhan.
ÔÇ£Tidak.ÔÇØ
ÔÇ£Kalau tidak, tenanag saja. Orang kampung akan mengira, emak hamil karena Bapak. Tak usah duipikirkan. Yang penting emak harus hamil dari aku,ÔÇØ tegas Burhan. Maimunah tersenyum. Dia juga ingin punya anak dari Burhan anaknya itu.
Mereka pun sibuk melakukan tugasnya. Burhan menjaga agak ketengah laut, sedang Maimunah meraba kerang serta memasang alat tangkap kepiting

Hasil tangkapan Burhan dan Maimunah kelihatan baik-baik saja. Isteri Burhan yang masih memiliki bayi merah, senang-senang saja. Demikian juga Suami Maimunah yang selalu mengeluarkan lendir (ngences) dari mulutnya dan terus terbaring di tempat tidur atau di dudukkan. Suami Maimunah, ayah Burhan sudah tak bisa ditangkap lagi, apa yang dibicarakannya. Sudah dibawa ke berbagai dukun yang mengatakan, pohon tempatnya memanjat itu ada hantunya, hingga harus dibuatkan syaratnya. Sudah berkali-kali disyarati, namun tak sembuh juga. Maimunah pun atas anjuran Burhan, selalu bercerita kepada tetangga, kalau dirinya selalu dipaksa oleh suaminya untuk betrsetubuh. Maimunah diminta dari atas dan harus begini dan begitu dengan bumbu mebenaskan, Maimunah terus bercerita kemana-mana. Tetangga pun merasa simpati kepada Maimunah.

Hayo cepat bawa jaring, biar kita kerja cari ikan yang banyak untu mengobati bapakmu, teriak Maimunah seakan marah kepada Burhan. Burhan pun dengan cepat menyiapkan segalanya. Mereka naik ke perahu dan berkayuh ke tengah laut, setelah isteri Burhan, menantu Maimunah memberikan bontot untuk makan siang mereka berdua. Layar pun terkembang dan Maimunah mulai mengeser duduknya merapat ke belakang dan menyandarkan dirinya ke dada Burhan dengan manja.

ÔÇ£Pandai juga Emak, hingga mereka semua simpati kepada kita,ÔÇØ ujar Burhan,. Maimunah tersenyum saja. Mereka mendatangi pulau, kemudian menebar perangkap penangkap kepiting, lalu ke pulau lain dan terus menebar perangkap kepiting. Orang-orang yang mengetahui kalau itu perangkapnya Burhan dan ibunya, mereka tak mengusiknya, karena mereka juga takut pada Burhan yang sangat tempramental. Ada beberapa pulau yang mereka tebar. Kemudian Burhan mengarahkan haluan perahu nun ke pulau yang jauh di sana.

ÔÇ£Kenapa kita begitu jauh?ÔÇØ tanya Maimunah.
ÔÇ£Agar kita aman,ÔÇØ kata Burhan. Maimunah pun tersenyum. Dia sudah ketagihan mendapat nikmat dari Burhan. Sembari berlayar, Maumunah mengarahkan tangan Burhan memasuki baju kaosnya agar Burhan meremas-remas teteknya.
Semua teman mereka satu pulau, mengenal layar Burhan yang merah bergaris-garis. JIka layar itu melintas, mereka malah menjauh, karena mereka takut bertengkar dan mengakibatkan perkelahian dengan Burhan. Melihat layar Burhan menuju pulau yang terjauh, mereka selain bertanya-tanya, juga ada rasa kagum, ibu dan anak itu berani berlayar sebegitu jauh, dengan adlih harus kerja keras untuk mendapoatkan uang untuka mengobati seorang ayah yang sedang sakit.

Pulau kecil, dikelilingi sekali. Kemudian mketreka bertambat di tempat teduh dengan pasir yang landai. Sejauh mat amemandang tak ada kelihatan perahu. Hanya ada sebuah kapal besar yang melintas nun di kejauhan. Burhan Maimunah memeluk Burhan dan dengan buasnya dia langsung melumat bibir Burhan. Dielusnya kontol Burhan dari balik celana.
ÔÇ£Aku gak pernah puas dan rasanya tak pernah mau berhenti,ÔÇØ kata Maimunah. Dikeluarkannya teteknya dan diminta untuk dilumat oleh Burhan. Burhan mulai melumatnya dan mempermainkannya. Burhan mengajak Maimunah agak ke dalam pulau. Disana mereka menelanjangi diri mereka dan mengembangkan kain layar sebagai alas mereka. Mulailah mereka bergumul dan saling merangsang. Maimunah belum pernah dijilati memeknya dan beluim pernah pula mengulum-nguluim serta menjilati kontol siapapun juga.

Maimunah pun merengek-rengek meminta, agar Burhan memasukkan kontolnya ke dalam memeknya yang sudah ternganga sadari tadi.
ÔÇ£Ayo sayang. Jangan sampai Emak tersiksa lama-lama,ÔÇØ pinta Maimunah memelas. Burhan mulai mengocoknya maju-mundur. Setalah hampir 20 menit mempompa memek Maimunah, Maimunah menjerit-jerit kecil kenikmatan. Dia memeluk Buirhan dengan kuat sekali, sampoai Burhan juga memuntahkan spermanya. Denagn nafas terengah, mereka tersenyum dan Maimunah secepatnya memakai kembali pakaiannya, menjadi kemungkinan ada manusia lain. Burhan juga demikian.

Mata hari sudah berada di ubun-ubun. Merek amengambil bontot dan makan siang. Pada saat makan siang itulah Maimunah menyampaikan kabar kepada Burhan, kalau dia sudah hamil dua bulan. Burhan menatap Maimunah.
ÔÇ£Benarkah,ÔÇØ tanya Burhan. Maimunah mengangguk bangga.
Anakmu cucuku, kata Mamunah. Burhan tersenyum. Dia mengerti makna ucapan emaknya itu.
ÔÇ£Lalu bagaimana?ÔÇØ tanya Burhan.
ÔÇ£Tetangga sudah aku atasi juga seisi keluarga kita, termasuk isterimu dan adik-adikmu. Tinggal Bapakmu. Bapakmu, aku yang atasi, kau pura-pura tidak mengerti saja,ÔÇØ kata Maimunah. Burhan setuju dan tersenyum.
ÔÇ£Sudah lama aku menginginkan ini, Mak. Sebenarnya sudah lama aku ingin punya anak dari Emak. Anak kita,ÔÇØ kata Burhan. Maimunah pun tersenyum

Brrhan menebar jala dan hari itu mereka memang lagi mujur banyak ikan yang dapat. Saat mereka menyinggapi pulau-pulau yang ditebari alat penagkap kepiting, juga banayk juga yang dapat. Mereka tersenyum.
ÔÇ£Berlipat ganda rezeki kita, Mak,ÔÇØ kata Burhan. Maimunah tersenyum.

Perut Maimunah semakin besar dan besar. Isteri Burhan senyum-senyum saja bahkan mengatrakan, agar Burhan menjaga Emaknya bila melaut jangan dikasi kerja berat. Burhan justru sangat senang dalam kehamilan ibunya, mereka terus bersetubuh di sela-sela pohon bakau.
Maimunah tau, kalau kehamilannya itu dipertanyakan oleh suaminya, tapi Maimunah tak mau menjawab bahkan lidahnya dia peletnya mengejek suaminya yang sudah tiga tahun tak memberinya nafkah bathin.

Soatu sore saat Burhan dan Maimunah mau menebar jala, tiba-tiba nelayan berteriak dari kejauhan. Niagt mereka mau bersetubuh memasuki pohon bakau, terhenti karena ada yang mengsik.
ÔÇ£:Kelian harus sgeera kembali.ÔÇØ
ÔÇ£Kenapa?ÔÇØ
ÔÇ£Maaf, suami kakak meninggal dunia?ÔÇØ
Maimunah pura-pura menangis histeris dan Buhran demikian sedih melihat Emaknya menangis. Cepat mereka kembali. Tak seorang pun yang tau, Saat merek amau berangkat subuh tadi, Maimunah membubuhkan racuk ke dalam gelas kopi suaminya. Sepertio biasanya, suaminya begitu bangun, tanpa cuci mulut apalagi sikat gigi, langsung minum kopi. Maimunah sempat melihat suaminya meneguk setengah gelas kopi yang dia hidangkan.
ÔÇ£Sudahlah Mak. Emak harus tabah. Kita semua harus tabah,ÔÇØ bujuk Burhan yang tak mengerti apa-apa. Suaminya, sebelum anak-anaknya dewasa, pernah berlaku sangat kerjam terhadap Maimunah.

Setelah anak mereka lahir, Maimunagh diam-diam meminum ramuan, agar dia tak hamil lagi. Peranakannya dikeringhkand engan meminum ramuan, hinga dia takkan pernah melahirkan lagi. Tak seorang pun percaya, kalau anak bungsu Maimunah adalah anaknya dengan Burhan yang juga anak kandungnya sendiri.

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*