Home » Cerita Seks Mama Anak » Di Sebuah Pulau 2

Di Sebuah Pulau 2

Cerita Sebelumnya : Di Sebuah Pulau 1

Halilintar sepertinya sudah letih terus menerus memuntahkan suaranya yang memekakkan telinga itu. Hujan juga rasanya sudah tiodak sederas lagi, dan angin pun pun sepertuinya sudah lelah terus berhembus. Tubuh ibu dan anak itu semakin hangat, bukan karena angin berhenti betrdesau saja atau hujan semakin menipis turunnya. Keduanya tidak sadatr, kalau mereka sedang dialiri darah cepat yang mereka tidak sadari. Pekukan dan gesekan kulit mereka membuat mereka secara diam-diam dan malu, menjadi bernafsu. Nafsu itulah yang membuat mereka menjadi hangat dan rasa dingin semakin menjauh.
Secara perlahan-lahan Burhan merasakan Emaknya, menggeser-geser tubuhnya. Himpitan memek emaknya terasa sekali di pangkal pahanya. Terasa hanghat dan basah. Burhan juga merasakan pentil tetek ibunya semakin keras menusuk bagian dadanya. Burhan sendiri juga merasakan nafsunya demikiann keras. Tapi bagaimana caranya, agar ibunya tidak mengetahuinya, sementara ibunya butuh kehangatan.

Maimunah (Emak Burhan) merasakan kemaluan anaknya terasa mendenyut-denyut di bibir Memeknya. Dia berusaha untuk tetap tenanag, agar apa yang dirasakannya tidak diketahui oleh Burhan, karena selain dia malu, dia juga tak ingin Burhan menjadi malu. Maimunah merasakan degup jantung Burhan demikian keras. Itu terasa ke degup jantungnya sendiri. Saat kepalanya disandarkan di tengkuk Burhan, dia merasakan dengus nafas Burhan seperti sudah tidak teratur. Dia mengetahui sekali bagaimana laki-laki kalau sudah bernafsu. Tubunya kini masih dalam dekapan kuat kedua tangan Burhan.

Kedua ibu dan anak itu, memiliki pikiran masing-masing, untuk saling menjaga, agar tidak ada yanhg merasa malu. Anak meyakinkan dirinya bagaimana caranya agar emaknya tidak merasa malu dan sebaliknya juga demikian. Tapi Burhan yang masih berusia 24 tahun dan masih menginginkan nafsunya tersalurkan, terlebih dalam keadaan demikian, dlam beberapa detik kehiloangan akal sehatnya.

Dengan kuat tangan kirinya yang memeluk tubuh ibunya mulai dari pinggang ke atas, mampu mengangkat tubuh ibunya. Ibu sendiri yang diangkat tubuhnya tidk mengetahui apa keinginan anaknya dan mengikuti angkatan tangan anaknya. Dia tekan kakinya ke lantai bambu agar tubuhnya terangkat. Saat tubuhnya terangkat sedikit ke atas, Sebelah kanan tangan Burhan memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke memek emaknya. Memek yang sudah basah kuyup dengan lendir nafsu itu, saat Burhan mendudukkan emaknya kembali ke atas pangkuannya,: Cluuup Kemaluan Burhan yang tegang, begitu cepat tertelan ke dalam memek emaknya,
Saat kemalouan Burhan sudah berada sepenuhnya dalam memeknya, Maimunah tersadar dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Burhan.

Burhan Kita sudah tidak benar katanya berusaha meronta.
ÔÇ£Emak. Semua sudah terlanjur. Biarlah. Tak ada yang tak benar. Kita sedang dalam hal yang benar,ÔÇØ katanya dan terus memeluk emaknya. Emaknya tak bisa berbuat apa-apa. Burhan mencdium leher emaknya dan mengelus-elus punggung Emaknya.

Lama kelamaan, Maimunah pun tersirap juga. Dia mengalah toh semuanya sudah terlanjur. Kemaluan anaknya sudah di dalam. Sebentar atau lama, kemaluan anaknya sudah dalam lubang memeknya. Dia hanya diam dan menyandarkan wajahnya ke leher Burhan. Burhan hanya mengelus-elus tubuh emaknya. Kulit keduanya demikian lengket, seperti lepat dan daun. Mereka diam dn perlahan-lahan Maimunah terpancing juga dan dia secara perlahan, ikut pula megelus tubuh Burhan. Burhan terkejut, karena emaknya sudah mulai mengelus tubuhnya.. Perlahan Burhan mulai berusaha menusuk tarik kontolnya di memek emaknya. Di tekannya pantat emeknya dengan tenagnnya, kemudian di lepaskannya, kemudian ditekannya kembali. sampai akhirnya, pantat emaknya berjalan maju-mundur sendiri tanpa ditolak-tolak lagi.

Maimunah entah sadar atau tidak, dia memaju mundurkan pantatnya, sampai pula pada saat yang tak terduka, Maimunah jusyru mempercepat maju-mundur pantatnya,. hinga kontol anaknya bisa keluatr mauk dalam memeknya yang basah. Maimunah mdnesahdesah dan Burhan juga demikian. Mereka tak berhenti dan sama-sama mereka memberi respons dengan cepat dan semakin cepat, dengan desahan nafas yang memburu.

Burhan memeluk ibunya dengan kuat, dan pelukan Burhan pun dibalas pula denga pelukan yuang kuat pula. Sma-sama mereka tiba di puncah nikmat yang terlukisakan dengan kata-kata. Keduanya hening dan nafas mereka yang memburuh, masing-masing mereka menetralkannya.

ÔÇ£KIta usdah salah,ÔÇØ kata Maimuna.
ÔÇ£Tidak ada yang salah,ÔÇØ kata Burhan.
ÔÇ£Cukup hanya ini, tak boleh lagi,
kata Maimunah yang masih berada dalam pelukan Burhan.
ÔÇ£Jika ada kesempatan, kita harus melakukannya lagi. KIta boleh cari pulau mana yang kita suka dengan lasan mencari ikan atau apa saja,ÔÇØ tegas Burhan.
ÔÇ£Tidak boloeh. Aku ENakmu,ÔÇØ
ÔÇ£Tidak. Sekarang isteriku yang sangat rahasia. Jika bukan isteriku, mana mungkin kita sama-sama menikmatinya?ÔÇØ

Maimunah diam. Apa yang dikatakan Burhan benar. Baru saja dia menikmati betapa indahnya bersetubuh dengan anaknya sendirei yang sudah lama tak dia rasakan, sejak suaminya jatuh dari pohon kelapa.
Berdua mereka mencuci tubuh mereka ke air laut. Kembali mereka ke gubuk dituntun oleh sinar rembulan yang malu-malu di balik awan. Berdua merek akembali ke gubuk dan duduk di tempat yag sama. Burhan kembali memeangku emaknya dengan kasih sayang dan kali ini, Burhan sudah berani menciumi bibir emaknya dan mempermainkan lidahnya di mulut emaknya itu. Dan..

BERSAMBUNG..

Balas Dengan Quote Balas Dengan Quote
13 March 2012, 10:52 AM #3
kernel
kernel is offline
Kakak Semprot kernel’s Avatar

Daftar
Mar 2012
Posts
183
Thanks
0
Thanked 150 Times in 26 Posts

THREAD STARTER

ÔÇ£Lalu kita ini bagaimabna? Apakah ada yang tahu, kalau kita selamat di Pulau ini? Bagaimana pula nasib teman-teman kita yang lain?ÔÇØ tanya Maimunah sedih mengenang teman-teman mereka yang belum diketahuinasibnya. Maimunah dan Burhan berusaha mengelilingi pulau yang hanya seluas tak lebih dari 20 hektar itu. Seharian mereka berupaya mencari teman-teman mereka sembari menunggu ada orang yang b isa

melihat mereka untuk mendapatkan pertolongan. Nyatanya nihil.

Untung di pondok yang usang itu, ada sekotak korek api yang masih kering. Ada pula minyak lampu sedikit dengan sumbu lampu teplok yang tersisa. Yang lebih membuat mereka senang, mereka menemukan sebuah parang, walau sudah berkarat, tapi m asih bisa dipakai. Burhan berupaya menajamkan parang itu dan memanjat kelapa untuak mereka makan. Emaknya sudah memakai celana dalam dan baju Jacket Burhan dililitkan di pinggangnya, namun Burhan masih tetap memandang Emaknya itu dengan nafsu. Burhan juga berupaya mengorek-ngorek lumpur saat pasang surut, untuk mendapatkan beberapa puluh kerang.

Burhan mencari dedaunan kelapa untuk disisipi di atas gubuk, serta memperbaiki bale-bale pada gubuk. Dibnding gubuk pun diselipi daun kelapa yang merek ambil di tanah. Kerang itu mereka cucuki pakai lidi, kemudian ditumpuk di daun kelapa kering dan dibakar. Wah rasanya enak sekali, terutama dalam keadaan lapar. Seharian mereka membenahi gubuk, mencari makanan dan untuk di sebuah perbukitan ada mengalir air, walau debitnya sangat kecil bisa ditampung pada baskom usang untuk minum dan mereka memasaknya di tungku dengan pelepah kelapa jadi kayu apinya.

Hari semakin gelap saja, sebentar lagi akan gulita dan pekat serta hitam. Ikan-ikan kecil yang di tanggok pakai kaos singlet di tepian, mereka makan dengan lahapntya. Biji buah Ketapang juga mereka makan dengan lahap. Sore berganti senja dan senja bergerak kebarat menuju malam. Nun di ufuk timur sana, ada warna jingga, secara perlahan hilang di balik laut luas dan lepas.
ÔÇ£Kita bakal bermalam lagi di sini,ÔÇØ kata Maimunah seperti mengeluh.
Ya kita akan tidur bersama sekarang, karena aku sudah buat bale-bale untuk kita berdua, kata Burhan.
Tapi
ÔÇ£Jangan pikirkan yang lain. Kita saling membutuhkannya sekarang,ÔÇØ jawab Burhan singkat. Maimunah mengerti maksud perkataan Burhan. Dari kejauhan ada kelihatan lampu kelap-keliop. Ada harapan bagi mereka, Namun lama kelamaan lampu kelap kelip dari perahu itu , hilang pula. Mereka yakin sekali, perahu itu pasti sedang mencari mereka. Mereka pun pasrah setelah tak seberkas cahaya dari matahari pun yang kelihatan. Hari berganti dengan tiba-tiba dan langsung gelap. Itulah laut.

Burhan menuntun emaknya ke gubuk dan meraka tiduran di bale-bale, dengan parang tetap siap sedia tak jauh dari kepala Burhan. Karena dingin, Maimunah memakai jacket Burhan dan di bagian bawah dia hanya memakai celana dalam saja. Dindin yang dikelilingi oleh daun kelapa yang kering, juga dijadikan pengganjal agar tempat tidur mereka terasa empuk dan hangat. Tubuh mereka juga dikelilingi oleh daun kelapa yang kering.
ÔÇ£Mak aku selalu curi-curi dengar. Kalau Bapak tak bisa lagi melayani Emak,ÔÇØ bisik Burhan.
ÔÇ£Kenapa kamu suka mencuri dengar. Tidak baik,ÔÇØ sela Maimunah
ÔÇ£Mulanya iseng saja. Kelamaan aku menginginkannya walau aku sudah punya isteri.ÔÇØ
ÔÇ£Sebenarnya ini tak bisa kita lakukan.ÔÇØ
ÔÇ£Ya. Tapi nyatanya, kita saling membutuhkan,ÔÇØ Burhan tak mau kalah karena pahanya sudah berlaga dengan paha emaknya. Keduanya pun diam. Maimunah tak bisa membantah apa yang dikatakan Burhan. Tiba-tiba saja bibir Burhan sudah mengecup bibir Maimunah. Mulanya Maimunah berupoaya menahan diri. Namun rabaan tangan Burhan pada selangkangan Maimunah dan elusannya pada buah dadanya, membuat Maimunah tak mampu juga menahan diri.

ÔÇ£:Burhan,,, Emak takut,ÔÇØ
ÔÇ£Jangan takut Mak, aku ada di samping emak.ÔÇØ
Emak takut hamil
ÔÇ£Jangan takut Mak. Kan aku ada?ÔÇØ
Justru, nanti bagaimana kalau aku hamil karena ini Maimunah mengelus kontol Burhan.
ÔÇ£Tenang saja Mak.ÔÇØ Burhan mengupayakan menghilangkan kecemasan emaknya. Perlahan, lahan Burhan melepas celana dalam emaknya sampai lepas. Kemudian dileusnya bulu-bulu yang memenuhi antara dua paha emaknya itu. Selain itu, Burhan juga mengisap-isap tetek emaknya dengan rakus.
Bagaimana ini. desah emaknya. Burhan diam saja dan terus mengulum lidah emaknya.
Oh apa lagi lagi baru dimasukkan? Maimunah akhirnya meminta.
Mendengar perkataan emaknya, Burhan langsung meniki tubuh emaknya dan Maimunah pun mengangkangkan keuda kakinya. memek yang sudah basah itu ditusuk oleh kontol anaknya, sampai amblas.

Keduanya tidak bersuara apa-apa kecuali desahan-desahan nafas dan rintih kecil dari mulut Maimunah. Burhan mempompanya dengan teratur dan pompaan itu membuat Maimunah seperti tak mampu berkata apa-apa lagi selain menggoyang-goyangkan pinggulnya dari bawah. Maimunah pun terus merintih-rintih dan dengan kuat, dia membalikkan tubuhnya. Posisi mereka sudah berubah. Burhan kini berada di bawah dan Maimunah menakan-nekan tubuhnya dari atas. Pantatnya dia putar-putar dan teteknya menekan-nekan dada Burhan.
Kelihatan Burhan jadi kwalahan sekali mengimbanginya dan dia mendesah, menyatakan dia akan sampai.
Jangan dulu..Maimunah semakin mempercepat putaran pinggulnya ke kiri dan ke kanan, serta dia menekan jauh ke dalam.
Maaaakkkk aku sampeeeekkkk. Burhan memeluk emaknya dari bawah dan mencengkram tengkuk emeknya. Maimunah terus memutar pinggulnya, takut kontol anaknya jadi mengecil. Dia terus berupaya secepatnya untuk mengejar nikmat, jangan sampai konbtil itu mengecil; dan keluar dari memeknya. Maimunah pun mengerang kuat. Akhhhhhh.. Lalu erangannya menjadi senyap di telan gelap gulita yang pekat.
Mereka berpelukan dan tertidur dengan pulas di malam gelap itu. Karean angin sedikit kencang, nyamuk-nyamuk tak berani mendekat.
Mereka terbangun, saat mata hari mulau menusuk-nusuk mata mereka. Cepat Burhan terbangun dan bangkit, lalu memakai pakaiannya. Dia takut, saat mereka tertidur, sudah ada orang di pulau itu yang melihat keadaan mereka.

Akhirnya mereka pun ditemukan oleh nelayan pulau lain di pulau itu dan memberi merek akain untuk disarungkan. Nelayan itu membawa mereka ke pulau mereka setelah tiga malam mereka berdua terdampar di Pulau itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*