Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 8

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 8

Cerita sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 7

Sekarang hari Minggu pukul 10:00 pagi. Dirumah kediaman pak Damarto sekeluarga.

Seperti biasanya setiap pagi pada jam-jam segini, bu Ratna sudah duduk diatas sofa, diujung sebelah kanan sambil memegang remote control TV serta matanya yang indah berpinggir pelupuk berbulu lentik itu… menatap ke layar kaca TV didepannya.

Didit dari meja makan usai sarapan pagi, berjalan menuju ruang TV untuk menemani ibunda tercinta yang sedang duduk diatas sofa sambil menonton TV. Mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan suara, <uuughhh-haaa…!> <Uuughhh-haaa…!> <Uuughhh-haaa…!>.
Sesampainya di sofa langsung duduk diujung sebelah kiri, matanya ikut-ikutan menonton TV, <uuughhh-haaa…!> <Uuughhh-haaa…!>.

“Itu lagu baru ya Dit?”, tanya bu Ratna sambil menahan senyum didalam hati.

“Lagu baru apaan… ma?”, <uuughhh-haaa…!> Didit bertanya balik pada ibunya.

“Itu yang barusan… yang kamu lantunkan dari mulutmu… hi-hi-hi…”, akhirnya keluar juga suara tawa dari mulut sexy bu Ratna.

“Wahh… mama! Pagi-pagi gini sudah ngeledekin Didit lagi… ini bukan lagu baru… tau! Didit kepedesan… tadi waktu sarapan tertuang banyak sekali cabe super hot… minta ampun pedesnya…! Tapi merdu… ya ma? He-he-he…!”, jawab Didit cukup lancar walau sedang merasa sangat kepedasan.

“Hi-hi-hi… sering-sering aja… tuh bibir jadi merah muda… sexy seperti bibir seorang gadis remaja! Hi-hi-hi…”, kata bu Ratna tertawa sambil menatap bibirnya Didit.

“Nggak mau jawab aahhh… mendingan juga menikmati rasa pedes ini… huuuhhh…! Kenapa dikau pedes sekali sih…?!”, <uuughhh-haaa…!> Didit berkata sendiri.

“Hi-hi-hi… sana minum air hangat mendekati agak panas… biar rasa pedesmu itu jadi hilang! Setelah itu… balik lagi kemari… ada yang ingin mama ceritakan padamu… tidak usah khawatir… ini berita sangat menggembirakan… buruan ya… tidak pake lama… lho!”, kata bu Ratna selanjutnya.

***

Didit setelah minum segelas air putih yang suhunya diatas hangat mendekati panas, segera kembali lagi menuju sofa. Walaupun matanya basah agak berair, gara-gara ‘siksaan’ sejenak takkala minum air putih itu… sekarang keadaannya tidak lagi bersenandung kepedesan lagi. Begitu kembali ke sofa, langsung duduk diujung sebelah kiri dan berkata. “Bener-benar hebat mama-ku ini…! Begitu minum air putih agak panas seperti saran mama tadi, bukan main… rasa pedesnya langsung menghilang seketika…! Mama-ku sayang… bener-bener hebat dan banyak ilmu simpanannya yang ampuh… terimakasih mama…”, kata Didit mengucapkan terimakasih dengan caranya sendiri.

“Hi-hi-hi… yang jelas terimakasih-mu ini tidak mama kembalikan, tapi mama simpan didalam hati. Dari itu kalau lagi nge-browsing di internet… jangan situs-situs bokep melulu… tapi imbangi juga dengan meng-akses situs-situs knowledge lainnya yang bermanfaat”, kata bu Ratna menasehati Didit.

“Katanya… mama mau memberitahukan kabar gembira, mana… dong?”, tanya Didit menagih janji pada ibunda tersayang.

“Baiklah kalau kamu memang sudah siap ingin mendengarkannya. Tapi perkataan mama nanti… jangan dipotong-potong ya… kecuali kalau memang dirasa perlu atau memang kamu ingin bertanya… paham ya sayang… dan satu lagi… harus konsens dan pikiranmu jangan ngelantur kemana-mana… OK?!”, kata bu Ratna.

“Siap boss!”, jawab Didit singkat dan mengambil ancang-ancang serius mulai mendengar.

***

“Begini sayang… seperti yang telah kamu ketahui, bahwa papa-mu dan mama telah bersepakat mencari PRT untuk membantu mama ala kadarnya… agar mama tidak terlalu keteteran…”, kata bu Ratna mengawali apa yang disebutnya sebagai berita yang sangat menggembirakan itu.

Didit sangat antusias sekali mengikuti dan mendengarkan dengan serius uraian ibunya itu.

“Mama memang senang melakukan pekerjaan beres-beres… baik didalam rumah maupun diluar sekitar rumah. Mama tahu kamu selalu ingin membantu mama dalam hal ini… tapi dalam penilaian mama… kayaknya kamu lebih tertarik pada tubuh mama-mu sendiri… Awal-awalnya sih… berniat membantu bersama-sama untuk beres-beres pekerjaan yang ada didalam rumah, tetapi… selalu berakhir di… tempat tidur! Sorry ya sayang… hi-hi-hi…!”, kata bu Ratna sambil tertawa mengikik geli.

“Eehh… mama! Didit lagi serius begini kok… malahan mama sendiri yang memotong perkataan mama sendiri, lagipula jangan buka rahasia Didit dong…! Taaa-ppiii… nikmat kan?! He-he-he…!”.

“Huuusshh… dasar otak ngeres…! Siapa yang nyuruh kasih komentar? Udah… aah! Entar malah keburu datang orang yang lagi kita bicarakan ini…”, lanjut bu Ratna sambil menarik napas dalam-dalam agas supaya kalimat yang akan diucapkan… rada panjangan dikit.

Didit mendengarkan sambil menahan keinginan untuk bertanya… apakah yang diomongin bakalan datang hari ini? Jam berapa? Siapa saja namanya? ‘Lebih baik, aku mendengarkan perkataan mama lebih dahulu…’, kata Didit didalam hati,

“Ternyata papa-mu bukannya mendapat tenaga PRT, eeehh… malahan bertemu dengan kerabatnya yang tinggal ditempat dimana papa-mu sedang mencari informasi tentang adanya kemungkinan bertemu dengan satu atau dua orang tenaga PRT yang memang sedang dibutuhkan oleh keluarga kita… dirumah ini”.

Bu Ratna diam sejenak, dilihatnya Didit masih fokus mendengarkan perkataannya, setelah menarik napas lagi dalam-dalam… melanjutkan lagi perkataannya.

“Mereka… yang mama maksudkan adalah dua orang gadis remaja… atau lebih tepatnya adalah satu gadis berusia 15 tahun, baru saja lulus SMP, dan satu gadis muda berusia 19 tahun sudah 4 tahun tidak bersekolah lagi, berkorban demi pendidikan adiknya yang umur 15 tahun itu. Jadi mereka adalah kakak-beradik, hidup bersama ibunya, sedang ayah mereka… meninggalkan mereka hanya untuk kawin lagi… dengan alasan ingin mempunyai anak lelaki… na’if sekali orang itu… huh! Mereka berdua akan tinggal dirumah kita, disini… meramaikan rumah ini yang selalu sepi…”.

Spontan Didit bersorak gembira! “Horeee…! Asyik kalau begitu, jadi Didit tidak kesepian lagi… jadi sama dong… dengan teman-teman Didit yang mempunyai banyak saudara. Tapi… ma! Usahakan niat mereka jangan sampai dibatalkan… telepon deh… papa sekarang juga, supaya jangan sampai terjadi suatu pembatalan… wah… kalau itu terjadi bisa kecewa berat nih… Didit…!”, kata Didit yang malah jadi kuatir kalau-kalau adanya suatu pembatalan.

“Anak kesayangan mama satu ini, bener-bener deh… terlalu spontanitas, sangat ekspresif sekali, dan… hi-hi-hi… dan… seorang pencinta yang ulung…! Hi-hi-hi…”, bu Ratna mengomentari kegembiraan Didit ini.

Didit yang mendengarkan ini, berpikir dalam hati, ‘Waduuuhhh…!? Gawat nih… kelihatan mama kok… jadi horny kayaknya?!’. Kata Didit selanjutnya, “Terserah deh… apa kata mama… yang penting lanjutkan dong… berita yang katanya sangat menggembirakan itu… ya mama-ku tersayang…!”.

“Pake ngerayu lagi… tidak dirayu juga… mama akan menyampaikannya sampai selesai, ingat… yang paling gembira adalah mama duluan, kan… mama yang lebih dulu mengetahuinya, hi-hi-hi… kacian deh kamu… kali ini rayuanmu hilang tertiup angin lalu… hi-hi-hi…”, kata bu Ratna meledek Didit, anak kesayangannya itu.

Sambil berpura-pura menengok kiri-kanan, Didit berkata, “Emangnya ada angin yang lewat… apa? Didit lagi serius nih ma! Please… lanjutkan dong…”.

“Baiklah mama ulangi lagi, habis tadi terlalu banyak ‘intermezzo’ sih… Calon adik perempuan-mu itu bernama Neni, berusia 15 tahun, wajahnya… yang pasti lebih cantik dari wajahmu hi-hi-hi… dan calon kakak perempuan-mu, bernama Naning, berusia 19 tahun, wajahnya, hhmmm… yang pasti lebih muda dari mama. Mereka berdua akan tinggal bersama kita selama mereka masih betah… Neni akan bersekolah disini dan… yang pasti akan jadi adik kelas-mu juga. Sedang Naning akan bersama-sama dengan mama mengurus dan membereskan rumah supaya selalu rapi dan bersih. Sampai disini dulu sayang… ada pertanyaankah?”, bu Ratna rehat sejenak.

“Ada ma… ibu mereka apa nggak kasian tuh… ditinggal sendirian?”, tanya Didit.

“Ooh itu… kamu tidak usah khawatir, bahkan kedua anak ceweknya itu juga tidak usah mengkhawatirkannya. Karena disana… dekat kediaman mereka, ada seorang bidan resmi yang kabarnya cakupan wilayah kerjanya sekarang sudah mencapai 7 dusun disekitarnya, yang juga selama ini membantu keluarga mereka… telah mengangkat ibu cewek-cewek itu menjadi asisten-nya dan tinggal bersama dirumah bu bidan yang sangat baik hati itu. Sedangkan rumah kecil yang selama ini mereka tempati… dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu… kakek dari cewek-cewek itu sendiri.

Sungguh mama sangat terkesan dengan pertanyaanmu ini… sayang! Ibu orang lain saja kamu perhatikan dengan seksama… apalagi mama yang sebagai ibu-mu… mama sungguh berbahagia mempunyai anak, sepertimu… sayang…”, jawab bu Ratna dengan mata agak berlinang… terharu dan bahagia.

“Kan tadi Didit sempat mendengar bahwa mama khawatir kalau mereka keduluan datang kerumah ini… berarti mereka datangnya hari ini dong…?! Kira-kira… jam berapa itu… ma?”, tanya Didit lagi penuh antusias.

“Kamu bener-bener tidak sabaran ya… tapi mama kagum juga akan ketelitianmu menyimak perkataan mama. Memang mereka akan datang hari ini, tapi harus diingat… disana adalah desa kecil… tidak ada bandara… yang pasti akan mengendarai mobil papa-mu dan yang menjadi supirnya adalah pak Suripman (44). Lagipula… apa kamu lupa akan kebiasaan papa-mu sendiri? Pastilah mereka akan mampir dulu ke mall untuk membeli segala sesuatu yang akan menjadi kebutuhan mereka masing-masing… itu sudah pasti! Mama tahu persis kebiasaan papa-mu ini… kamu sudah seharusnya berbangga dan bersyukur memiliki seorang ayah yang penuh perhatian akan sesuatu hal apapun… seperti papa-mu ini… Jadi dengan memperhitungkan segalanya… mama berpendapat… mereka akan datang kira-kira… sore hari menjelang malam”, kata bu Ratna mengakhiri perbincangan dengan anaknya seraya bangkit dari sofa dan melangkah menuju dapur, tapi… saat lewat depan Didit yang masih duduk… seketika bu Ratna membungkukkan tubuhnya dengan sigap mencekalkan tangan kirinya pada celana pendek jeans yang dikenakan Didit dan kelihatannya agak menggelembung pada tengah-tengah pangkal paha Didit.

“Eh… jalan-jalan kemana tuh… ‘peliharaan’-mu itu sayang”. Ternyata kali ini keliru meng-antisipasi keadaan. Memang begitulah kalau mengenakan jeans… suka menggelembung dengan sendirinya… walaupun yang ditutupi tidak dalam keadaan ngaceng…

“Mama ketahuan yaa…! Tangannya suka celamitan… mama-ku sayang… horny lagi yaa… ma? He-he-he….”, Didit jadi ketawa cengegesan.

“Enak aja! Kamu kali yang pengen…! Lihat tuh… jam sudah menunjukkan pukul 11:50, mama mau menyiapkan makan siang kita… tahu nggakk…!”, kata bu Ratna berkelit agak malu… ketahuan kondisi libido-nya saat ini.

“Bagaimana ma… kalau setelah istirahat seusai makan nanti…?”, pinta Didit yang mengandung daya tawar yang sangat tinggi itu.

“Auh-ah… g’lap!”, jawab singkat bu Ratna melangkah menuju dapur.

“Eh-eh… mama-ku sayang… jangan gitu dong…”, kata Didit menghiba pada ibunda tersayang.

Bu Ratna sambil tetap melangkah, menjawab, “Satu piring… satu ronde, dua piring… dua ronde, tiga piring… pasti kamu ketiduran… hi-hi-hi…”.

“Wah harus susun strategi yang jitu nih…”, kata Didit sambil melangkah menuju kamarnya sendiri.

***

Jam dinding menunjukkan waktu pukul 13:15.

Mereka sudah duduk berhadap-hadapan, malah hampir menyudahi makan siang mereka.

Bu Ratna memperhatikan Didit yang tengah memasukkan suapan terakhirnya kedalam mulutnya. Sampai dilihat bu Ratna kunyahan pada mulut Didit berhenti, dan menunggu sesaat lagi, kemudian menegur anaknya itu.

“Tidak mau dua ronde apa…? Hi-hi-hi…”, kata bu Ratna sambil tertawa.

“Wah… terimakasih ma… atss makanan enak ini, tapi… kayaknya rongga perut Didit… diisi dengan sepiring nasi beserta lauk-pauknya… sudah cukup penuh. Soal ronde sih… Didit teringat tarung laganya Mike Tyson… satu ronde-nya ada yang ber-durasi cuma beberapa detik saja lho… ma! Didit sih memilih satu ronde saja, tapi… yang ber-durasi waktu lama… gitu lho!”.

“Emangnya… kamu mau bertarung tinju dengan siapa sih…? Hi-hi-hi…”, tanya bu Ratna berlagak pilon tidak tahu.

“Kadang-kadang ngomong sama mama… susah-susah… sulit, mendingan langsung action saja… tingkat keberhasilannya bisa diatas 99% deh…!”, kata Didit mengambil gelas airnya dan langsung menenggaknya sampai habis.

“Kalau lagi kesel… air minum jangan ‘dihajar’ sampai habis dong… hi-hi-hi…”, bu Ratna masih saja menggoda anaknya itu.

“Tau-aah… t’rang!”, kata Didit singkat, bangkit dari kursi makannya ingin melangkah menuju sofa, tapi… tiba-tiba mengurungkan niatnya, membalikkan badannya dan berkata pada ibunda tercinta. “Ma… Didit boleh bantu cuci piring ya? Please deh…”, kata Didi meminta sangat pada ibunya.

“Wah kalau itu sih… mama tidak menolak, ‘swear’ deh…!”, jawab ibunya dengan senang hati.

***

Jam dinding menunjukkan waktu pukul 14:00.

<Kriieeett…> bunyi suara pintu kamar Didit terdengar dibuka penghuninya. Didit mendekati area ruang TV dan ingin mendampingi ibunda tersayangnya sekaligus yang digandrunginya itu… tapi tidak ada disana. Didit kembali lagi kedalam kamarnya dan… dengan cepat mengganti pakaian yang dikenakan dengan hanya T-shirt ditambah celana Hawaii yang sedikit longgar tanpa memakai CD lagi.

Dengan langkah pasti dan sedikit dipercepat… menuju kekamar tidur ibunya. Didit rupanya khawatir bila ibunya malah tertidur beneran.

Dengan perlahan menekan handel pintu kamar kebawah dan mendorong daun pintuya dengan perlahan, ternyata… pintu itu memang tidak dikunci lagi oleh ibunya.

Didit mendekat pada tubuh ibunya yang berbaring terlentang dan tertutup oleh selembar selimut yang lebar. Rupanya AC ruangan di hidupkan dan di-stel pada posisi thermostat maksimum, maklum saja cuaca diluar rumah… sangat terik sekali pada siang hari ini.

Bu Ratna terlentang sesantai mungkin, ingin menguji ketahanan tubuhnya dalam menghadapi Didit, putera tunggalnya… remaja sang pencinta ulung. Mengatur pernafasan dengan teratur serta mengatupkan pelupuk matanya sewajar mungkin.

Dirasakan hembusan napas hangat Didit menerpa wajahnya yang cantik rupawan. Tapi wajah Didit menjauhi bibir sexy-nya, eh… malah dahinya yang mulus, justru mendapatkan kecupan sangat mesra disertai bisikan tulus yang jauh dari aroma nafsu. “Mama-ku sayang… mama-ku sungguh sangat cantik sekali. seandainya saja… mama juga mempunyai anak perempuan, pasti secantik mama dan… Didit yang jadi kakaknya pasti kewalahan menjaganya dari godaan cowok-cowok nakal, yang… tidak bisa melihat yang bening-bening tanpa melakukan sesuatu…”.

Terenyuh jadinya hati bu Ratna yang berperasaan halus itu, hampir saja dia meneteskan airmata, untung dia berusaha mencegahnya dengan sekuat hatinya. ‘Sudah sayang… mama ML denganmu tanpa kontrasepsi… malahan mama lagi subur-suburnya. Semoga keinginanmu, keinginan mama sendiri, keinginan keluarga kita bisa terwujud… anggap saja Neni, adikmu yang sekarang sebagai pemancing akan datangnya anggota baru keluarga, yang kita nanti-nantikan itu. Besok mama akan mengetes kehamilan mama… sendiri, Pregnancy Test-nya sudah dibeli dan… sudah ada didalam laci lemari pakaian mama…’, jawab bu Ratna dalam hatinya. ‘Hayooo… sayang! Action…! Action…! Action…! Action…!’, seakan sedang melafalkan kata mantera didalam hati, yang biarpun setenang bagaimanapun tubuhnya… dia takkan bisa tertidur lagi, kalau tidak melewati proses ‘action’ yang dimaksudkannya itu.

Didit diam sejenak, diperhatikannya dengan seksama tubuh cantik ibunya disekitar dadanya walaupun masih tertutup oleh selimut yang lebar. ‘Alunan dada mama… kok tidak teratur layaknya seseorang kalau lagi tertidur pulas. ‘Jangan-jangan mama cuma berpura-pura tidur saja nih…?!’. Ditolehkannya wajahnya gantengnya menatap dengan seksama pelupuk mata ibunya… tidak ada gerakan atau kedutan sekecil apapun juga. Tapi dia yakin bahwa ibunya belumlah tertidur pulas…!

Kembali Didit menoleh ke dada montok ibunya, diperhatikannya dengan seksama… puncak-puncak gundukan yang tertutup rapat dengan selimut itu. Kayaknya… mama tidak mamakai daleman nih! Rupanya mama ingin menguji Didit atau malah ingin menguji dirinya sendiri? Otak cerdasnya mengolah semuanya ini… Kemudian dengan tersenyum renyah dan yakin, segera melucuti pakaiannya yang cuma 2 potong itu, yaitu T-shit dan celana Hawaii yang kedodoran. Langsung saja dengan bertelanjang bulat manaiki tubuh jelita ibunya dan menindih sepenuhnya, mengecup lembut bibir sexy ibunya sekilas dan mendekatkan mulutnya pada telinga kanan dan berkata tanpa berbisik lagi, “Sudah ma…! Jangan terlalu keras menguji diri mama sendiri… sudah tidak ada gunanya…! Lebih baik kita ‘action’ bersama!”.

Seketika bu Ratna menyemburkan tawanya, “HI-HI-HI… kok dugaan kamu bisa tepat sih, maafkan mama ya sayang…!”.

Dijawab Didit dengan nada yakin, “Itu bukan dugaan ma! Tapi Didit memperhitungkan dengan matang. Sebab ulah mama ini cuma mempunyai 2 tujuan, yaitu menguji Didit, atau… mama memang ingin menguji diri mama sendiri dengan sekuat tenaga… Dan perhitungan Didit lebih memilih kemungkinan yang kedua itu, hi-hi-hi… pecinta ulung kok… pengen diuji… hi-hi-hi…! Ingat ma… gelar itu… mama sendiri yang memberikan pada Didit, hi-hi-hi…!”.

“Iyaaa… deh mama ngaku salah dan kalah”, kata bu Ratna tersipu malu. Agar supaya rasa malu-nya tidak berlangsung terlalu lama dan berlarut-larut, langsung saja bu Ratna berkata agak keras, “Yang penting ACTION dong…”, tapi kata-katanya terhenti dengan tiba-tiba begitu bu Ratna merasakan pentil-pentil susunys yang indah dan menggairahkan sedang di-emut-emut, buahdadanya diremas-remas diselingi dengan plintiran ibu jari dan telunjuknya, baik yang kiri maupun yang kanan. Terlonjak-lonjak bagian atas tubuh jelita ini. Tanpa disadari oleh bu Ratna, tubuh telanjang bulatnya sudah tidak tertutup dengan selimut lebar itu lagi.

Dirasakan batang penis Didit yang ngaceng penuh sedang memompa dengan sengit gua nikmat dalam vagina seretnya. Saking nikmatnya terlontar kata-kata yang berasal dari dalam hatinya. “Oooh nikmatnya… sungguh-sungguh nikmat… HAMILI MAMA SAYANG…!”, disertai dengan… <seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>. Tersentak-sentak tubuh jelita bu Ratna mendapatkan orgasme yang nikmat… persembahan anak tunggalnya, yang… masih terus memompa penis tegangnya, masuk-keluar… dorong-tarik… menyelusup masuk dan dan meng-invasi seluruh permukaan dinding gua nikmat dalam vagina-nya yang otot-ototnya berusaha mencekal ketat disekeliling batang penis Didit yang tanpa henti-hentinya bergerak terus…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*