Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 7

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 7

Cerita sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 6

Bungalow yang ditempati pak Damarto beserta Naning dan Neni kakak-beradik dirasakan cukup nyaman ber-AC, apalagi dilengkapi dengan sebuah spring bed berukuran extra king size, kiranya tidak terlalu sempit bagi mereka bertiga untuk tidur bersama.

Perawakan pak Damarto, pria hampir paruh baya ini cukup tampan dan tegap dibanding dengan pria yang seumuran dengannya, umur 40 tahun, tinggi 175 dan berat badan 70, tidak terlalu gemuk dan jauh daripada kurus, sedang-sedang saja begitu.

Naning yang berbaring disebelah kiri pak Damarto, berumur 19 tahun, tinggi 158 cm dan berat badan 52 kg, kelihatan agak gemuk tapi tidak terlalu ‘chubby’ sekali serta mempunyai ukuran payudara 36A, nah ini dia… asset berharga milik Naning inilah membuat pandangan mata pak Damarto rada jelalatan bila menatap ‘area terlarang’ itu.

Neni yang adiknya Naning, berbaring disebelah kanan pak Damarto dan dibatasi oleh tembok kamar disebelah kanan tubuh muda belianya, berumur 15 tahun, tinggi 155 cm dan berat badan 44 kg, kelihatan agak kurus tapi tidak terlalu sekali serta ukuran payudara belianya 34B, sampai-sampai mata pak Damarto bila menatap ke arah payudara Neni itu, suka bertanya-tanya dalam hati… seperti apa ya… bentuknya bila dilihat dalam keadaan telanjang… dipandang dengan mata telanjangnya yang rada usilan itu.

Hari semakin larut malam saja, jam dinding telah menunjukkan waktu pukul 23:20 tengah malam.

Neni terlihat sudah tertidur pulas sejak satu jam yang lalu, sedangkan Naning yang kakaknya Neni, berusaha keras berbaring pada posisi tidur tertentu diupayakannya agak lamaan, agar tidak kentara bahwa dia belum bisa tidur dan hanya memejamkan kedua pelupuk matanya saja. Tapi berbaring dengan posisi tertentu selalu gagal saja untuk dibuat tetap tenang. Sebentar dia terlentang lalu sebentar kemudian tidur miring menghadap kekiri. Yang pasti Naning tidak punya keberanian untuk tidur miring kearah kanan… menghadap pada tubuh pak Damarto.

Pak Damarto yang tahu semuanya ini, akhirnya tidak kuasa juga menahan dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan tubuh Naning yang tengah berbaring gelisah. Ditengok sebentar kearah Neni yang terlentang masih tidur dengan pulas dan terlihat dari gerak turun-naik dadanya yang bernapas secara teratur. Dengan perlahan dan berusaha tidak menimbulkan guncangan pada spring bed itu, akhirnya berhasil juga mendekat dan lekat pada punggung Naning yang berbaring miring menghadap kekiri.

Naning yang tahu sentuhan pada punggungnya, langsung berbaring kaku dan mendengar suara bisikan pak Damarto yang penuh birahi pada telinga kanannya yang polos tidak memakai anting-anting. “Belum bisa tidur ya… Ning? Sama dong dengan bapak…”. Naning berpura-pura tidak mendengar dan berusaha keras berbaring miring kekiri tetap diam dengan susah payah, jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Tapi pak Damarto tidak mau menyerah begitu saja, melanjutkan bisikannya, “Jari-jari tangan bapak sudah mendekati pinggangmu nih! Eeeng-iiing-eeeng…!”.

Mendengar itu, dengan seketika Naning membalikkan badannya, tidur terlentang kembali sembari melancarkan protes keras. “Iiihhh… bapak… jangan curang dong…! Selalu memanfaatkan kelemahan Naning nih!”, sembari menengok kearah pinggangnya sebelah kanan, tapi tidak ada jari-jari tangan pak Damarto disana. “Eh… kirain… bapak ternyata suka bohong juga ya… hi-hi-hi… ma’afkan Naning ya pak! Tapi… hi-hi-hi…!”, kata Naning sambil tertawa tidak bisa menahan tawanya.

Mana punya keberanian lagi pak Damarto menggelitik pinggang Naning, setelah dia dinasehati panjang lebar oleh bu Ratna, isterinya. Memang pak Damarto sangat penurut sekali terhadap isterinya yang cantik dan berperasaan halus itu, hampir tidak pernah ia membantah perkataan isteri cantik yang sangat dicintainya itu.

“Kamu mau cepat tidur pulas nggak… Ning?”, tanya pak Damarto dengan penuh nafsu, penisnya sudah tegang sedari tadi, panjangnya 18 cm cukup panjang tapi belum termasuk kategori sebagai penis sangat panjang sih… tapi lingkaran penisnya itu lho… sebesar lingkaran pergelangan tangan Naning, buat ukuran penis umumnya, ini sangat gemuk. Memang penis pak Damarto kalau lagi ‘ngamuk’ sungguh gede dan panjang!

“Ya pak… emangnya seperti apaan tuh pak?”, tanya Naning mulai tertarik.

“Dengarkan bapak dulu… pertama kamu harus memejamkan kedua matamu barang sejenak… jangan dipaksakan… lakukan dengan santai saja…”, kata pak Damarto bernafsu, begitu melihat Naning menurut dengan patuh apa saja yang disuruhnya… langsung saja mencipok bibir merah muda itu dengan penuh hawa birahi yang meluap-luap. Sedangkan Naning tahu bibirnya ‘disergap’ oleh mulut pak Damarto secara refleks berusaha meronta dan menghindar. Tetapi mana mungkin? Setengah bagian tubuhnya, yaitu seluruh bagian atas tubuhnya sudah ditindih oleh badan pak Damarto yang tegap.

Dirasakan oleh Naning yang mulai pasrah, lidah pak Damarto menyusup kedalam mulutnya mencari-cari lidah Naning begitu tersentuh langsung saja membelit lidah Naning. Gadis muda ini akhirnya ikut-ikutan juga cara yang digunakan pak Damarto… jadilah kedua lidah itu saling berkutatan… saling membelit didalam rongga mulut Naning. Inilah FK perdana bagi Naning.

Akhirnya terlepas juga tautan lidah itu dan segera saja Naning memberitahu, “Jangan disini pak, nanti goyangan tempat tidur ini… bisa membangunkan Neni”.

Pak Damarto buru-buru menengok kearah Neni yang masih saja tertidur nyenyak.

“Ayo sayang… kita lakukan diatas karpet lantai saja”, kata pak Damarto sambil menyambar selimut yang masih terlipat rapi yang belum sempat dipakai dan langsung digelar menutupi karpet lantai itu.

Mereka berciuman kembali sembari berlutut, pak Damarto begitu merasa Naning ingin merebahkan badannya terlentang langsung dicegah oleh pak Damarto sambil berkata pelan, “Kita buka dulu semua pakaian kita…”.

Naning yang sekarang menjadi patuh dan ikut-ikutan bernafsu, buru-buru melepas seluruh pakaian, blus atas, gaun bawah, BH dan CD-nya.

“Lain kali kalau mau tidur, jangan lagi memakai BH, agar supaya pertumbuhan payudara-mu bisa sehat dan tidak belang warna kulitmu pada bagian itu. Kalau CD sih… terserah, mau dipakai atau tidak. Tetapi saran bapak sih… sebaiknya tidur tanpa CD saja”.

Dengan bertelanjang bulat mereka berbaring kembali, tubuh pak Damarto menindih diatasnya, berdua melanjutkan FK yang sempat tertunda tadi. Tangan kiri pak Damarto bergerak kebawah dan memegang penisnya yang sudah panjang dan tegang oleh kobaran gejolak gairah yang membara… mengarahkan palkonnya… ingin segera menembus vagina segaris tipis dan klimis milik Naning. Palkon yang kelihatan rada ‘galak’ dan ‘bermata satu’ seakan dapat melihat posisi tepat untuk menyusup masuk menuju ‘lubang nikmat’ vagina gadis muda itu.

“Aduuhh… pak! Pelan-pelan dong! Entar malah robek memek Naning deh jadinya…”, pinta Naning menjerit kecil.

“Oh… maafkan bapak… sayang…”, jawab pak Damarto yang wajahnya ‘terpaksa’ menjauh dari wajah ayu Naning yang kelihatannya sudah pasrah menghadapi segala gempuran seks pemain ‘old crack’ yang berpengalaman ini, tubuh pak Damarto bangun dan mundur sedikit dan… ngedeprok ditengah-tengah dekat vagina segaris tipis dan klimis vagina Naning.

Rupanya terobosan penis kakek (bapak dari ayahnya) yang tidak terlalu panjang dan rada kisut itu tidak mampu meninggalkan bekas pada vagina gadis muda ini, kalau dilihat dari luar. Tidak sedikitpun bagian celah dari vagina itu yang terlihat melebar. Hanya selaput dara didalam vagina gadis itu sudah tidak ada bekasnya sama sekali, akibat digauli beberapa bulan oleh kakeknya yang bejat itu… sudah habis ‘terkikis’ oleh penis kisut sang kakek.

Dengan cekatan serta kepiawaian seorang ‘old crack’ mendekap mesra tapi penuh nafsu birahi dengan mulut pak Damarto pada vagina mungil itu, serta ujung lidah yang kesat-nya berseluncur-ria diatas permukaan kelentit sang gadis muda.

Akibatnya… segera bisa dilihat. Terlonjak-lonjak pinggul mulus Naning sembari menggeleng-gelengkan kepalanya kekiri dan kekanan… dan mendesis, “Aduuuhhh… pak! Mau-maunya sih… gituin punya Naning… ternyata kok… enaaakkk sekali…! Uudaaah… pak! Oh-ooohhh… banjir deh… punya Naning…!”. Dikuti dengan… <seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> terhenyak tubuh sintal Naning jadinya.

“He-he-he… memang begitu tujuannya! Supaya punya bapak bisa leluasa bertandang kedalam…”, kata pak Damarto tertawa senang. Sedangkan penisnya mengangguk-angguk tegang… rupanya setuju dengan pemiliknya.

Tidak pake buang waktu… mumpung vagina Naning lagi banjir-banjirnya… entar keburu surut lagi… bisa berdua sama-sama lecet jadinya… Tubuh tegap pak Damarto sudah berpindah keatas… menindih penuh tubuh sintal Naning yang masih dalam suasana orgasme. Palkon besarnya sudah menerobos masuk tanpa permisi lagi… sampai juga didepan mulut ‘gua nikmat’ vagina Naning yang legit. Dengan ditambah sentakan maju tidak terlalu pakai tenaga… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis pak Damarto yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah pak Damarto. Ayunan pinggulnya yang kekar bergerak… turun-naik… turun-naik… turun-naik… tidak terlalu grasa-grusu… kalem saja… kecepatannya sedang-sedang saja tapi konstan, seakan pak Damarto ingin meresapi kenikmatan yang didapat dari persetubuhannya dengan Naning, gadis muda yang ayu dan sintal ini…

Persetubuhan antara sepasang insan yang berbeda usia 21 tahun ini, berlangsung tenang tapi penuh rasa nikmat bagi kedua pelakunya. Rupanya Naning gadis muda ini telah menjadi spesialis sebagai pasangan nge-seks untuk pria yang sangat lebih tua darinya.

Yang tidak diketahui oleh pasangan yang lagi asyik-masyuk ini adalah… Neni yang sudah terjaga dari tidurnya… dengan disiplin tinggi tanpa hore-hore… serius menonton dengan tenangnya… melihat Naning, kakaknya sedang digauli oleh pak Damarto, dilihatnya tangan kakaknya memeluk mesra tubuh tegap yang masih saja sibuk mengayun-ayunkan pinggul kekarnya itu… turun-naik… turun-naik… turun-naik…

Neni, gadis muda belia yang baru beranjak dewasa ini, sudah biasa melihat Naning… bertelanjang bulat sedang disetubuhi… dulu oleh kakek mereka sendiri! Sekarang oleh pak Damarto, kelihatannya Neni lebih senang melihat adegan yang tengah berlangsung didepan matanya, penilaiannya… ini lebih seru bahkan kelihatan berlangsung lebih mesra… ketimbang melihat kakaknya, Naning digauli oleh kakek mereka sendiri… sang bandot tua itu!

Takut ketahuan oleh mereka yang sedang asyik nge-seks penuh kenikmatan itu, Neni mengulirkan tubuhnya lagi, berguling pelan ketempat dia berbaring tadi. Sekarang dia berbaring miring kekanan menghadap tembok. Tangan kanannya masuk menyusup kedalam CD-nya dan jari-jari lentik sibuk bermain-main dengan kelentit mungil dari vagina yang masih perawan ting-ting… Neni ber-masturbasi dengan pikiran masih dipengaruhi tontonan ‘live show’ tadi… Tidak memerlukan waktu lama, apa yang diinginkan tubuhnya itu… cukup dalam waktu 5 menit saja, tubuh muda belianya sudah terhentak-hentak pelan… mencapai klimaks-nya, yang langsung mengantarkannya kembali tertidur pulas dengan wajah ceria dan puas…

***

15 menit kemudian terlihat dua orang pasangan ‘tua-muda’ berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi saling menopang dengan merangkulkan tangan pada tubuh pasangannya masing-masing… sangat mesra tampaknya, walaupun mereka sendiri belumlah sejoli. Beberapa tetes sperma jatuh keatas karpet kamar, rupanya pak Damarto sangat banyak menyemprotkan air maninya pada ML barusan tadi… mengantarkan orgasme pertama untuk pak Damarto dan orgasme untuk ke-dua kalinya bagi Naning.

Sesampainya didalam kamar mandi itu, eh… penis pak Damarto yang sangat setia sekali dengan pikiran ngeres ‘boss’-nya ini… mulai membesar dan tegang kembali, orang-orang biasa menyebut keadaannya ini dengan satu kata pendek saja, yaitu: ngaceng!.

Pak Damarto langsung mendekap tubuh sintal Naning, gadis muda ayu yang bisa bikin para pria sangat bernafsu apalagi memandangnya dalam keadaannya yang bertelanjang bulat…

Pak Damarto berbisik pelan dekat bagian belakang telinga sang gadis, “Ning… sayang… tanganmu, coba berpegang erat pada pinggiran bathtub, kita… main lagi yuukk…!”.

Jadilah Naning mengikut saja apa yang dikehendaki pak Damarto itu sambil berpikir. ‘Sebenarnya… mau ngapain lagi sih…??!’.

Rupanya pak Damarto ingin menikmati nge-seks dengan Naning lagi, tapi kali ini dengan gaya ML, doggie style. Sambil memegang penisnya yang ngaceng hampir sempurna, palkon-nya langsung ‘menyeruduk’ masuk dan sampai kedalam gua nikmat vagina mulus Naning, yang terheran-heran… ternyata nge-seks bisa juga dilakukan dengan cara begini. ‘Baru tahu aku… kayak guguk lagi ngewek aja…!’, kata Naning dalam hati yang masih patuh saja dengan segala apa yang diinginkan kekasih barunya yang 2X lebih tua dari usianya sendiri…

ML kali ini tidak memerlukan waktu yang lama, hanya 10 menit-an saja… sudah cukup mengantarkan pak Damarto pada orgasme-nya yang ke-dua dan orgasme ke-tiga bagi Naning, sang gadis muda yang ayu.

***

Waktu sudah pukul 7:00 pagi hari. Pak Damarto sudah berpakaian rapi kembali, kemeja panjang, pantalon dan berdasi. Mandi pagi yang segar tadi, membuat tubuh tegap pak Damarto menjadi ‘fit’ kembali.

<Brrr…!> <Brrr…!> <Brrr…!> RBT getar dari HP pak Damarto berbunyi. Segera pak Damarto mengangkatnya dan menempelkan pada telinga kirinya.

<“Ya halo…! Siapa nih…!?”>, tanya pak Damarto mengawali pembicaraan lewat sambungan telekomunikasi cellular ini.

<“Hi-hi-hi… bekas pacar mas yang pertama dan satu-satunya… ini lho! Apa kabarnya disana… mas?”>, jawab riang bu Ratna sambil bertanya balik.

<“Oh… kamu toh Rat… baik-baik saja sayang… mana tuh… jagoan remaja kita… sayang…”>, kata pak Damarto.

<“Ini ada… lagi bobo pulas diatas tempat tidur kita…”>.

‘Kok bisa…? Jangan-jangan ada hubungan dengan apa yang diucapkan Ratna dengan nada bahagia kedengarannya kemarin itu… -semoga…-, sayang… selalu lah ingat! Kebahagiaanmu adalah kebahagianku juga… takkan berubah sampai akhir hayat…’, kata pak Damarto dalam hati, yang sangat teguh dan selalu setia dengan segenap jiwa-raga… mencintai isterinya yang cantik jelita ini.

<“Eh… mas! Halo…! Yuuu-huuu…! Kok jadi bengong begini sih…? Dan… itu lho… mas… asyik ya mas…? Hi-hi-hi…”>, kata bu Ratna menggoda suami tercintanya.

Agak kelabakan juga pak Damarto bila bercakap dengan Ratna, isterinya yang dikasihinya dengan sepenuh hati ini.

<“Apaan yang… ‘asyik’ itu sayang…?”>, tanya pak Damarto sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal… kebiasaan buruk yang akhir-akhir ini mulai sering dilakukan tanpa disadarinya. Tapi kebiasaan buruk yang belum terlalu ‘parah’ ini sudah lama terpantau oleh Ratna, isterinya yang penuh perhatian dan pengertian.

<“Eh…! Mulai lagi ya… sayang? Mas… sekarang garuk-garuk kepala lagi ya? Padahal kepala mas tidak gatal… kan…?!”>, kata bu Ratna.

<“Kok kamu tahu sih…?? Mas sungguh-sungguh sangat heran…!”>.
‘Seperti seorang… clairvoyant saja. Jangan-jangan memang Ratna, isteriku ini memang mempunyai talenta seperti itu… seseorang yang penglihatan matanya dapat melihat menembus tempat dan waktu, salah satu dari sekian banyak talenta bawaan manusia yang penuh dengan misteri’, pak Damarto kagum campur heran… bertanya-tanya dalam hatinya.

<“Mas… suami tersayangku seorang…! Jangan berpikiran macam-macam dong…! Kebiasaan buruk mas ini… sudah terpantau oleh mataku… sudah cukup lama lho…! Ingat lho…! Mas sekarang… bukan saja sebagai bapak keluatga, tapi juga… sebagai bapak buah… dari anak-buah mas yang lumayan banyak itu. Cobalah berusaha… ketika mas merasa heran akan sesuatu… pikiran mas tetap fokus mengendalikan tangan-tangan mas… agar anggota tubuh mas itu tidak… mampir di kepala mas dan… menggaruk-garuk disana! Padahal kepala mas kan tidak ketombean kan… berarti tidak gatal dong! Jangan sampai kebiasaan buruk mas ini… dijadikan untuk bahan berpantomim-ria oleh anak buah mas… meskipun aku tidak punya prasangka buruk apapun pada anak-buah mas… bukankan kita lebih baik menghindari hal semacam itu…? Yang mungkin disuatu hari kelak bisa merugikan mas sendiri… Aku tidak pernah berniat menggurui mas… tapi yakinlah karena… aku sangat mencintaimu mas…!”>, kata bu Ratna mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar ini.

Agak termangu juga sesaat mendengar penjelasan isterinya tercinta… sudah cantik jelita… bijak lagi… Buru-buru pak Damarto bicara menanggapi perkataan isterinya itu, maklum… khawatir disangka bengong lagi… padahal sih… iya juga sih…!

<“Benar sayang… tidak terpikirkan olehku… kamu Rat… selain sebagai ibu rumahtangga yang baik, juga… merupakan penasihat pribadi mas yang sangat… bijak. Terimakasih ya… sayang!”>, kata pak Damarto mengomentari perkataan isterinya dengan penuh kasih-sayang.

<“Eh… mas! Gimana…? Sukses ya meng-‘eksekusi’ mereka berdua, hi-hi-hi… kalau sukses, isterimu ini mengucapkan selamat deh… bercape-ria… hi-hi-hi….!”>, kata bu Ratna mulai menggoda suaminya lagi.

<“Ratna-Ratna… isteriku sayang…! Tidak berubah-ubah banyolanmu itu sayang… emangnya suamimu ini seorang algojo apa? He-he-he…”>, jawab pak Damarto sembari tertawa.

<“Wah gimana toh ini…? Ditanya malah tertawa…?!”, tanya bu Ratna masih penasarannya saja.

<“Begini sayang… mas mengakui telah ML dengan Naning tadi malam… malah sampai 2X… Cuma untuk ML dengan adiknya Naning, si Neni… mas tidak sampai hati… dia masih belia sekali dan… perawan ting-ting loh! Dan aku ada usulan padamu Rat… terserah sepenuhnya pada penilaian dan persetujuanmu, karena mas pikir mereka akan lebih lama berdekatan denganmu… ketimbang denganku yang sering keluar rumah… bahkan sekarang aku lebih banyak keluar kota. Seperti kamu ketahui… aku mempunyai kerabat sangat sedikit sekali… yaa itu… gara-gara gen itu! Seperti kesepakatan kita bersama… kita berniat mencari PRT barang satu atau dua orang… tetapi setelah aku berpikir-pikir cukup lama… kok kayaknya seperti aku bukan menemukan PRT, melainkan… seakan aku telah menemukan kerabatku sendiri… misalnya dari daerah… begitu! Bagaimana pendapatmu tentang hal ini… sayang?”>, kata pak Damarto dengan harap-harap cemas.

Kali ini justru bu Ratna membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengolah makna perkataan dan usulan pak Damarto, suami tercintanya. Dan dengan penuh kesabaran, pak Damarto menunggu tanggapan isterinya tentang hal ini.

<“Wooww… keren! Inilah berita yang paling membahagiakanku mas…! Tak kusangka, ternyata mas punya ide sangat cemerlang! Dari lubuk hatiku yang paling dalam… aku berbahagia sekali jadinya… terimakasih mas… cintaku seorang…!”>, kata bu Ratna terharu.

Sedang yang diujung ‘sana’ mendengarkannya sebagai sedu-sedan penuh bahagia… datang dari mulut sexy sang isteri yang jelita…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*