Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 6

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 6

Cerita sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 5

Bagian 6 – Sabtu Menjelang Malam

Kali ini justru Didit yang terjaga lebih dahulu dari tidurnya, dilihatnya jam dinding telah menunjukkan pukul 17.00. Didit menghitung-hitung sesuatu didalam hatinya. ‘Wah… nge-seks dengan mama, kali ini berlangsung kurang-lebih ada sekitar dua jam-an… nggak nyangka?!’.

Diregangkannya kedua tangannya menyamping kekiri dan kekanan, lalu ke belakang sehingga perut remajanya yang masih rata sedikit maju kedepan. Dilanjutkan memutar pinggangnya kekiri dan kekanan dan… selesai. Dirasakan tidak ada yang terasa sakit pada semua bagian tubuhnya yang masih bertelanjang bulat. ‘Ternyata ‘olaraga-seks’… adalah olahraga yang menyehatkan luar… dan dalam! He-he-he…!’, begitu kesimpulan asal dari ABG yang baru mulai dewasa ini.

Dipungut serta dikenakan kembali langsung semua pakaiannya, lalu mendekati pintu. Diliriknya sebentar kearah ibunya yang masih terlelap pulas, dengan posisi miring membelakanginya. Didit tidak mau mengecup ibunya sebagai tanda kasih dan terimakasih, khawatir malah membangunkan ibundanya tercinta.

Syukurlah Didit tidak melakukan itu… kalau diperhatikan dari dekat dan seksama… ada satu atau dua tetes airmata bu Ratna telah mengalir keluar dari matanya yang berbulu lentik dan… menyangkut di cuping hidungnya yang mancung. Rupanya bu Ratna terhanyut oleh mimpi pada kejadian sebenarnya yang dialami sekeluarga saat mereka merayakan ultah pernikahan 5 tahunan yang pertama di waktu silam…

Dengan pelan dan berhati-hati memutar anak-kunci pintu, membukanya lalu keluar dari kamar tanpa suara. Setelah menutup pintu kembali kamar ibunya, segera Didit bergegas melangkah menuju kamarnya sendiri, tentu saja untuk mandi sore.

***

Bu Ratna dalam tidurnya tanpa sadar membalikkan tubuhnya menelentangkan dirinya yang masih bertelanjang bulat itu, terlihat dia sesegukan dua kali lalu diam. Selang beberapa menit kemudian bu Ratna membuka mata indahnya itu, langsung melihat ke jam dinding yang menunjukkan waktu sudah pukul 17.15. ‘Ooh… aku tertidur agak lama…!’, sembari melihat sekeliling dalam kamarnya, tidak terlihat kehadiran Didit, putera tunggalnya. ‘Anak itu semakin dewasa saja kelihatannya…’, tersungging senyuman keibuan di bibirnya, bu Ratna merasa bahagia karenanya.

Buru-buru bu Ratna kekamar mandi dan membersihkan diri ala kadarnya… ‘Biarlah aku akan mandi setelah pekerjaan sore-ku selesai’, pikir bu Ratna yang memikirkan tugas dan kewajibannya lebih dahulu sebagai ibu rumahtangga yang baik, segera dia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyiapkan santapan makan-malam.

Satu seperempat jam kemudian, meja makan sudah tertata rapi… penuh dengan piring dan pinggan yang berisi lauk-pauk yang mengepul-ngepul karena masih panas.

Memang barusan saat bu Ratna memasak tidak menyebarkan aroma masakan yang mengundang selera… kali ini bu Ratna tidak lupa menghidupkan Filter-Hood yang berada didalam dapur.

Dengan bersenandung senang… entah apa lagu yang dinyanyikannya, bu Ratna segera kembali kekamarnya untuk mandi sore.

Pukul 19.00, mereka, bu Ratna dan Didit, sudah duduk menikmati makan-malam mereka.

“Tumben diam saja nih… hi-hi-hi…”, bu Ratna membuka percakapan.

“Lagi fokus ma…”, jawab Didit singkat sambil telunjuk tangan kirinya menunjuk piringnya yang tinggal sepertiga saja menunggu giliran untuk di-konsumsi.

“Apa takut ditinggal sendiri lagi… tidak ditemani mama, hi-hi-hi…!”, kata bu Ratna menggoda putera tunggalnya ini.

“Kok tahu ma? He-he-he…! Soalnya kalau makan sendiri, tidak didampingi sama yang masak… yang cantik itu, citarasa makanan ini berkurang banyak… kalau mau tahu orangnya… nih… dia!”, kata Didit serius dan lancar sembari mengacungkan jempol tangan kanannya mendatar mengarah ke wajah ibunya.

“Hi-hi-hi… mulai deh ngerayunya!”, kata bu Ratna yang senang juga… sudah tentu. Wanita mana sih yang tidak senang dipuji? Apalagi masakannya memang enak sih!

“Seperti kata mama tadi… kita harus saling terbuka satu sama lainnya…”, kata Didit terputus karena diselak oleh ibunya.

“Kan udah tadi… hi-hi-hi…! Malahan tanpa benang seutas pun! Hi-hi-hi…”, kata bu Ratna menimpali perkataan anaknya, Didit.

“Wahh… mama! Bukan itu yang dimaksudkan Didit! Nah… ketahuan nih ya… memangnya mama masih ‘horny’ ya? He-he-he…!”, Didit jadi ikut-ikutan tertawa juga.

“Ooohhh… jadi salah ya… tebakan mama?”, kata bu Ratna sembari memasang wajah dengan mimik seakan ingin minta penjelasan lebih rinci pada Didit.

“Nah… dari itu jangan main potong aja dong…!”, kata Didit rada dongkol.

“Kamu jugalah! Oke deh… mama mau dengar… naga-naganya pasti top-secret nih…!’, kata bu Ratna pasang muka serius.

“Secret… ya bener…! Tapi nggak pake naga…!”, kata Didit memulai penjelasannya.

“Kamu ini sebenarnya mau cerita… apa nggak sih!”, kata bu Ratna dengan nada rada kesal.

“Sebentar… sabar! Didit mau minum dulu ya…”, jawab Didit kalem.

“Beruntung mama dulu punya pacar yang namanya Damarto, kalau tidak…”, kata bu Ratna sekenanya.

“Kalau tidak… apaan ayoo…!”, Didit menuntut jawaban dari ibunya.

“Yaa… nggak jadi kesal kayak sekarang ini… hi-hi-hi…!”, jawab bu Ratna santai.

“Oooh… jadi mama suka yang kesal-kesal ya…?!”, timpal Didit lagi.

“Sebenarnya sih… mama lebih suka yang keras-keras, gitu lho… hi-hi-hi..”, kata bu Ratna yang genitnya mulai muncul.

“Mama ini… mulai lagi deh… mau dengar apa nggak?”, kata Didit agak kesal.

“Ya-ya-ya… mau! Mulai deh…”, kata bu Ratna menunggu.

Didit memulai cerita secret-nya, “Kemarin siang, sebelum papa berangkat… papa memberi uang panjer… lumayan besar, yaitu sebanyak Rp 500 ribu dan akan ditambah lagi kalau Didit menyelesaikan tugas yang diberikan papa pada Didit…”.

Sementara itu bu Ratna mendengarkan dan diam saja tidak bereaksi. “Mendingan jangan dipotong cerita Didit ini… biar cepat selesai urusannya, soalnya… aku masih banyak pekerjaanku yang harus diselesaikan’.

Didit melanjutkan lagi, “Papa berkata bahwa tugas Didit mudah saja… yaitu menemani dan mengawasi mama setiap waktu… kalau perlu tempelin terus kemana mama pergi…”.

Bu Ratna yang mendengar dengan seksama tidak kuasa menahan dirinya untuk tidak memotong perkataan anaknya, “Tempel…?! Kan udah tadi! Malah pake nyatu lagi…! Hi-hi-hi…”.

Didit yang mendengar perkataan ibunya hanya menjawab dengan rada kesal, “Mama ini… ngeres terus! Tidak bisa serius… pantes saja jadi awet muda…!”.

“Hidup ini jangan dibawa terlalu serius terus… memang sih untuk hal-hal tertentu dan khusus… barulah kita dengan serius menghadapinya. selebihnya… don’t worry, be happy! Hi-hi-hi…!”, bu Ratna mengakhiri perkataannya… langsung melanjutkan makan sore-nya yang tinggal sedikit lagi.

Didit yang melihat ibunya melanjutkan makannya, ikut-ikutan mulai menyantap lagi makanannya. ‘Entar… aku ditinggal sendirian lagi… kacian deh aku!’, pikir Didit yang mengasihani dirinya sendiri didalam hati.

***

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.30.

Bu Ratna telah duduk diatas sofa didepan TV, kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas rupanya, bila dia telah merampungkan kerja beres-beresnya di dapur barusan. Apa lagi kalau bukan… untuk menonton tayangan berita malam di layar kaca didepannya, bu Ratna tidak suka menonton sinetron atau sejenisnya… kapok! Katanya… lebih mengerti isi selingan iklan komersil-nya daripada isi cerita sinetron itu sendiri… 5 menit tayang sinetron lalu diikuti lebih dari 5 menit selingan iklan komersil… uuughh… amit-amit deh…!

<Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> bunyi HP berdering, RBT-nya diubah menyerupai deringan telepon rumah.
Diangkatnya HP itu dari meja kaca didepan TV.

<“Ya… halo…!”>, bu Ratna menyapa seseorang ‘yang disana’.

<“Halo sayang…! Ini aku… bekas pacarmu itu lho… he-he-he… apa baik-baik semua disana…?”>, pak Damarto menyapa balik isteri tersayangnya.

<“Eh… mas! Jadi senang sekali aku mendengar suara mas… beres semuanya disana?>, bu Ratna menanyai suaminya.

<“Beres-beres…! Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku”>, kata pak Damarto bersikeras meminta jawaban.

<“Aman-tenteram… terkendali! Hi-hi-hi… semoga!”>, jawab bu Ratna manja.

Terdengar samar-samar melalui HP yang digenggam bu Ratna… suara cekikikan spontan… yang diduga bu Ratna… pasti dari mulut seorang cewek muda usia.

<“Ooh begitu… kok pake ‘semoga’ segala?”>, kata pak Damarto masih tetap bersikeras minta penjelasan.

<“Sayang… suamiku tercinta… tidak ada setitik pun rahasia padamu mas…! Nanti kalau sudah sampai dirumah pasti aku ceritakan semuanya… yang akan membuat keluarga kita berbahagia! Ngomong-ngomong… tuh anak orang jangan dianggurin dong, kan… kasian! Hi-hi-hi…!>, jawab bu Ratna sembari tertawa cekikikan.

‘Eh…??! Kok sudah tahu duluan… sih?’, kata pak Damarto dalam hati… heran sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
<“Sebenarnya aku menelpon kamu malam ini… yaaa… itulah! Aku telah mendapatkan calon PRT kita… tinggal nanti menunggu persetujuanmu… kalau aku telah tiba kembali dirumah dengan membawa keduanya… kakak-beradik…”>.

Kemudian pak Damarto menjelaskan temuannya itu panjang-lebar dan sejelas-jelasnya pada isterinya yang tercinta.

***

Dibeberkan oleh pak Damarto bahwa pencaharian itu lumayan memakan waktu. Karena langkah-langkah kakinya yang kebetulan ber-sinergi dengan pikirannya yang lagi cemerlang… membawa dia kerumah kediaman seorang bidan resmi di dusun itu. Bidan paruh baya, lebih tua sedikit beberapa tahun dari usia pak Damarto, lumayan cantik dan ayu paras wajahnya, menerima kedatangan pak Damarto dengan ramah. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya di dusun ini pada bu bidan paruh baya ini, yang kemudian diketahui pak Damarto bernama bu Murni Atika, biasa orang-orang di dusun ini menyebut dengan panggilan, bu bidan Atik saja.

Terheran-heran pak Damarto mendapat jawaban pertama dari bu bidan itu, berupa yaitu… tiba-tiba bu bidan itu berdiri tegak, menengadahkan kepalanya keatas sambil memejamkan matanya dan menggumamkan kata-kata… “Terimakasih! Oohh… Gusti! Terimaksih!”, duduk kembali menghadap pak Damarto yang memang sudah duduk sedari tadi.

“Kebetulan sekali pak Damar…”, bu bidan Atik membuka perbincangan dengan tamunya. “Dasar rejeki kedua gadis manis itu… dan dikabulkanNYA doa permohonan saya… baru saja tadi malam…”, tergenang mata bu bidan terharu bahagia. “Ada dua gadis muda didusun ini… keduanya kakak-beradik sekandung. Mereka tinggal dirumah tidak terlalu besar… bersama ibu mereka yang ditinggal suaminya pergi menikah lagi. Suaminya itu tinggal bersama isteri mudanya di dusun lain… kira-kira 5 km dari sini… cukup jauh. Alasan suami bejat itu… eeh… maafkan saya pak, bahasa kasar saya ini… maksud saya, suami tidak bertanggung jawab itu mempunyai alasan sepele saja… ingin mempunyai seorang anak lelaki! Bukannya mengurus keluarganya dengan baik dan bertanggung jawab sebagai kepala rumahtangga… eeh… malah berbuat ulah yang tak perlu”.

Sembari rehat sebentar, bu bidan Atik menyeka matanya yang membasah… takut airmatanya jatuh menetes dengan sehelai saputangan yang diambil dari saku seragam bidan-nya. Lalu meneruskan lagi perbincangannya dengan tamunya, pak Damarto yang dengan sabar dan tekun mendengarkan semua perkataan bu bidan.

“Gadis yang lebih tua bernama Naning berusia 19 tahun, sedangkan yang muda bernama Neni berusia 15 tahun, baru saja lulus dari SMP, anak yang manis, pendiam… cerdas lagi, ranking satu lho… pak! Naning sejak 4 tahun yang lalu setelah lulus SMP tidak melanjutkannya ke SMU… karena ketidak-adaan biaya… yaa.. itu… biayanya dipakai ayahnya untuk kawin lagi… uuugh… dasar! Saya tidak mereka-reka cerita ini, semuanya datang dari mulut Naning sendiri… yang sering bahkan selalu curhat pada saya. Dan… oohhh… Gusti ampuni hambaMU ini…!”, bu bidan Atik segera menutupi matanya dengan saputangan yang buru-buru diambil dari saku seragam bidan-nya itu.

“Maafkan saya… pak! Saya telah menyita banyak waktu bapak yang berharga… sebaiknya saya sudahi dulu perbincangan ini. Sekali lagi beribu-ribu maaf pak… kok malah saya yang jadi curhat sama bapak…”, kata bu bidan ingin menyudahi saja percakapan ini.

Buru-buru pak Damarto menyela, “Tidak-tidak jangan… bu! Saya mohon dilanjutkan saja… ini informasi sangat penting bagi saya… agar supaya saya lebih banyak berbuat kebaikan bagi sesama…”, kata pak Damarto membujuk bu bidan Atik untuk melanjutkan kisah nyata yang diketahuinya itu.

“Benar juga kata Darmin, anak dari sepupu saya mengenai pak Damar… bapak seorang yang baik hati dan suka menolong sesama… Darmin adalah anakbuah bapak sendiri… Darmin sudah bekerja sejak awal bapak mendirikan perusahaan bapak yang sekarang! Saya dengar bapak sejak beberapa tahun telah mengangkat dia sebagai kasir… saya selaku bibinya mengucapkan beribu terimakasih atas kepercayaan bapak padanya…”.

“Oohhh… Darmin Saputra toh! Dia adalah ‘tangan-kanan’ saya di kantor pusat… jadi bagaimana dong bu tentang kedua gadis yang akan saya tolong itu…? Maafkan saya lho… bu!”.

“Ooh… iya! Hampir saya lupa, dan… tidak ada yang perlu dimaafkan kok… pak”, jawab bu bidan Atik. “Baiklah saya akan berkata jujur dan terbuka… tetapi sebelumnya saya memohon agar supaya semua rahasia yang akan saya ungkap ini… dijaga kerahasiaannya… dalam hal ini saya percaya sama pak Damar sepenuhnya! Ini sebenarnya satu hal yang sangat tragis… apa yang telah dialami Naning… dia sering dijadikan pelampiasan nafsu bejat… maafkan saya pak… oleh ayah dari ayah kandung sendiri. Padahal kakeknya ini sudah mempunyai 2 isteri, tinggal serumah pula! Keduanya masih muda sekali… paling beda satu atau dua tahun saja lebih tua sedikit dari Naning…!”, bu bidan Atik terdiam sejenak… dan mengambil napas dalam-dalam.

“Ironis-nya saya selaku bidan resmi dari 5 dusun sekitar sini, mengambil jalan pintas… karena terdesak waktu! Sebab saya berpikir begini… keluarga malang ini… sudah miskin, janganlah sampai tertimpa skandal ini, apalagi bisa sangat memalukan bagi keluarga ini dan… bagi dusun kami secara keseluruhan…! Sebelum terjadi suatu kehamilan yang tidak diharapkan… saya telah memasang spiral KB atau IUD pada diri Naning… Ooohh… maafkan hambaMU ini Gusti…!”, bu bidan menghentikan perkataannya sambil nenundukkan kepala dan menutupinya dengan kedua belah telapak tangannya.

***

<“Demikianlah proses pencaharian 2 gadia muda usia ini…”>, pak Damarto mengakhiri cerita dibalik pencarian 2 orang calon PRT ini.

Terdengarlah lagi tawa cekikikan gadis-gadis muda itu di HP milik bu Ratna.

<“Halo-halo mas…! Yuuu-huuu… mass, kemana saja dikau…!”>, bu Ratna menunggu sesaat kemudian baru ada suara dari ‘ujung sana’ lagi.

<“Ya halo! Maafkan sayang, aku sedang minum air… tidak menjawab sebentar… takut tersedak! Ada apa sayang…?”>, jawab pak Damarto sekaligus bertanya pada isteri tercintanya.

‘Minum air… apa… lagi nenen sih, hi-hi-hi…’, bu Ratna tertawa geli dalam hati membayangkan kemungkinan itu terjadi…

<“Boleh tidak aku bicara pada Naning dahulu… boleh ya mas…”>, tanya bu Ratna pada pak Damarto, suami tersayangnya.

<“Boleh-boleh… kenapa pula harus tidak boleh…?! Sebentar aku oper HP ke Naning ya…? Nih… Ning! Ibu mau berbicara padamu… ya… ibu… ini Naning yang bicara… bu”>, Naning dengan takut-takut dan was-was mulai berbicara di HP milik pak Damarto.

<“Halo Naning… salam kenal! Nama ibu adalah bu Ratna… jangan takut begitu… kenapa?! Eh… Ning nanti kalau kamu menjawab pertanyaan ibu berikut ini… bisik-bisik aja ya… ini urusan cewek dengan cewek lho! Cowok jangan ikut-ikutan dulu deh! Percayalah bu Ratna ini baik kok orangnya… Naning tidak perlu takut-takut… wong yang ngomong yang punya nama itu kok, hi-hi-hi…”>, kata bu Ratna membuka perbincangan dengan Naning.

<“Ii-iya… bu, kata bapak juga begitu… ibu memang baik kok orangnya…!”>, jawab Naning agak gugup menjawab perkataan calon boss-nya ini.

<“Apapun jawabanmu… ibu tidak akan marah… percaya deh sama ibu… Ibu dengar tadi secara samar-samar kamu tertawa cekikikan tadi… benar ya? Kenapa sayang…?”, mulai deh sifat keibuan dari bu Ratna muncul, memang kesehariannya bu Ratna selalu ramah pada siapa saja.

<“Ooohh… maafkan Naning ya bu…! Biar deh nanti kalau Naning bertemu ibu… Naning akan mencium kaki ibu dan… mohon ampun…”>, kata Naning sangat kaget.

<“Tidak usah sampai sebegitu kali, wajar-wajar saja kenapa? Lagi pula ini kan pembicaraan empat mata antara cewek dengan cewek… ‘tul… nggak? Ibu tunggu jawabanmu sekarang… sayang…!”>, kata bu Ratna dengan kalem berusaha menenteramkan hati Naning yang masih ragu saja padanya.

<“Begini… bu. Tapi ibu jangan marah ya…? Tadi saat bapak teleponan sama ibu… ternyata diam-diam bapak kasih kode sama Neni… rupanya Neni tahu apa dimaksud oleh bapak itu… kemudian Neni dengan mencekal tangan Naning lalu menggiring Naning mendekat bapak yang masih teleponan sama ibu tadi… padahal sebelumnya Naning lagi berjongkok membereskan pakaian bawaan punya Naning dan Neni…”>, Naning menjelaskan semuanya itu dengan agak kikuk… meskipun memang dia berbicara jujur apa adanya.

<“Habis itu gimana dong…?”>, tanya bu Ratna dengan sabar meskipun dalam hatinya tidak sabar untuk mengetahui kelanjutan penjelasan Naning itu.

<“Setelah dekat sama bapak… eh… si Neni mendorong tubuh Naning sampai menubruk badan bapak… bapak bukan saja tidak marah… malah merangkul badan Naning… sembari itu lho bu… jari-jarinya langsung ngegelitikin pinggang Naning… iiihhh… gimana nggak geli… sampai Naning nggak disengaja jadi tertawa cekikikan, padahal mulut Naning sudah ditutup rapar-rapat dengan telapak tangan Naning sekuatnya… masih kedengaran ya bu…? Maafkan Naning ya… bu…”>.

<“Apa yang harus dimaafkan? Ibu tidak marah kok! Memang bapak suka bercanda… tetapi kadang-kadang tanpa disengaja suka kebablasan…! Maafkan bapak ya sayang?!”>, jawab bu Ratna bernada keibuan.

<“Iya… bu ehh… nggak apa-apa kok… tuh-tuh…! Udah ya bu… bapak datang mendekat…!”>, kata Naning menutup pembicaraannya dengan bu Ratna dan… langsung saja melempar dengan pelan HP milik pak Damarto ketengah-tengah tempat tidur yang ada didekat. Rupanya Naning takut digelitik lagi pinggangnya… itu daerah sensitif-nya… dan Naning tidak kuat menahan rasa geli.

Bu Ratna masih saja menempelkan HP-nya yang super sensitif itu ke telinganya sembari memantau apa gerangan yang berlangsung ‘diujung sana’ lewat suara yang diterima pada HP-nya itu.

Dengan tenang pak Damarto memungut HP-nya dari atas tempat tidur, kemudian dengan menjepit dengan kedua ibu jari tangannya, meletakkan HP itu disebalik kedua telapak tangan yang terbuka dan semua ujung-ujung jarinya saling bersentuhan… yang kiri dengan yang kanan. Kemudian menggerakkan kedua telapak tangannya yang terbuka itu berbarengan menekuk kedepan dan menekuk belakang.

“Wahh… HP bapak… putus jadi dua deh…!”, kata pak Damarto tiba-tiba yang mengagetkan Naning seketika.

Naning melihat telapak-telapak tangan pak Damarto yang bergerak-gerak menekuk kedepan dan kemudian menekuk kebelakang, langsung saja paras gadis muda yang ayu itu… menjadi pucat-pasi. ‘Iya bener… pasti HP itu patah menjadi 2 bagian pada bagian tengahnya… tapi kok bisa ya? Kan tempat itu ini cukup empuk?’, kata Naning dalam hati serta tangan kanannya menekan-nekan permukaan tempat. ‘Tapi.. cukup empuk… kok! HP-ku saja biarpun murahan… jatuh ke tanah kering saja tidak apa-apa kok’.

Syukurlah kekhawatirannya tidak sampai berlarut-larut.

“Jangan percaya kak! Kakak dibohongi mau saja…! Sini… keluarkan HP kakak… biar Neni beritahu caranya”, kata Neni berusaha menenteramkan dengan segera kekhawatiran sang kakak yang sangat disayanginya ini.

Sementara itu pak Damarto sibuk berteleponan-ria lagi bersama isteri tercinta.

<“Mas ngerjain lagi si Naning ya…? Mas-mass… kalau bercanda suka kebablasan… sih! Ingat mas… kedua gadis ini baru saja menghirup udara kebebasan… punya harapan tertentu… minimal menolong ibunda tersayang mereka keluar dari kemelut yang melanda keluarga malang ini…!”>, kata bu Ratna memberitahu suami tercinta dengan membela kaumnya sendiri, yaitu sesama… wanita.

Terkejut dan sadar akan keteledorannya sendiri, pak Damarto langsung menjawab bu Ratna, isterinya. <“Iya benar sayang! Maafkan aku yang ceroboh ini… tidak berpikir sampai sejauh itu dampaknya…!>.

<“Jangan minta maaf padaku… mas, kan kita berdua tidak ada ada masaalah. Tapi… mintalah maaf pada kedua gadis ini…
pribadi-pribadi murni yang kebetulan lagi mengalami kemalangan sekeluarga. Aku mohon pada mas… lakukanlah tanpa ragu dan dan tanpa takut samasekali serta… tanggalkan gengsi mas sejenak… Bye mas-ku sayang… aku sudah ngantuk nih… sudah pukul setengah sepuluh lewat. Cupp-cupp…! Muah…!”>, bu Ratna seakan memberikan kecupan-kecupan mesra. Sembari menguap dengan membuka mulutnya lebar-lebar… memutuskan hubungan telekomunikasi cellular itu.

Dengan agak sempoyongan, bu Ratna memasuki kamar tidurnya menutupnya kembali tanpa menguncinya dari dalam. Menghempas tubuhnya yang lelah keatas tempat tidur… tidak lama kemudian terdengarlah <Zzz…> <Zzz…> <Zzz…> <Zzz…> Malam ini bu Ratna tertidur pulas tanpa bermimpi…

***

Didit yang baru saja selesai merapikan kamarnya dan ingin keluar dari kamarnya untuk mengambil air putih segelas di kulkas dekat meja makan. Setelah meneguk habis air putih dingin segar itu, menengok kearah sofa dekat TV… tidak ada siapa-siapa. Padahal tadi sebelum masuk kamarnya, dilihatnys ibunya sedang berteleponan… siapa lagi, kalau tidak dengan ayahnya. Dilihatnya jam dinding yang tergantung di tembok, jauh diatas TV, jarum-jarumnya menunjuk pada pukul 23.15.

Didit melangkah menuju kamar tidur ibunya, dan membuka pintunya yang ternyata tidak terkunci. Dengan hati-hati tanpa bunyi menutup kembali pintu kamar itu disertai… dengan menguncinya.

Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Didit naik keatas tempat tidur ibunya. Pegas spring bed itu tetap saja bergoyang-goyang walaupun pelan. Pegas itu memang di-disain pabrik pembuatnya… hanya bereaksi dengan bobot orang yang menaikinya dan bukan oleh kehati-hatian dan seberapa pelan yang punya bobot berjalan diatasnya.

Goyangan spring bed yang cukup pelan, sudah cukup membangunkan bu Ratna dari tidurnya. Sambil tersenyum memandang wajah ganteng putera tunggalnya. Baru saja Didit mau minta maaf… sudah keduluan oleh pertanyaan ibunya. “Jam berapa sekarang… sayang?”, tanya bu Ratna sembari mengapai-gapaikan tangan kanannya memberi tanda agar Didit membaringkan badannya disamping dirinya.

“Jam sebelas lewat seperempat… ma!”, jawab Didit berbaring miring menghadapi ibunya.

“Ooh… lumayan juga dong… mama bisa tidur pulas satu setengah jam lebih… pantesan stamina mama kembali fit lagi rasanya, tapi…”, bu Ratna menghentikan kata-katanya seketika sambil menunggu reaksi dari Didit, apakah dia masih cukup konsen.

Didit yang mendengarkannya, mendekati wajah ibunya sambil memperhatikan dengan seksama mata jelita ibunya. Bu Ratna yang tahu sedang dipandangi anaknya, langsung saja membelalakkan matanya dan menjulurkan lidah… yang mengundang tawa dari anaknya.

“Mama ini… suka memberhentikan omongan mama sendiri ditengah-tengah jalan… kalau berhenti dipinggir jalan dong…! He-he-he…”, kata Didit sambil tertawa.

“Emangnya mama lagi naik kendaraan apa?! Mama kan lagi bicara padamu…!”, kata ibunya.

“Didit tahu maksud mama…”, sambil mengecup mesra bibir ibunya sekilas lalu mendekatkan mulutnya pada telinga kanan ibunya dambil berbisik, “Mama pengen gituan lagi… iya kan? He-he-he…
asyik… asyik… asyik…!”.

“Iiih… kamu…! Nadanya kok… kayak orang lagi dangdutan…! Action dong!”, kata bu Ratna sambil mengendurkan simpul dekat pinggang dan mengeluarkan kedua tangannya dari lubang lengan pada baju tidur itu dengan mengangkat sedikit pinggulnya lalu menarik baru itu dan menyampirkan di kayu kepala tempat tidur… selesai sudah! Sesosok tubuh bidadari cantik jelita terlentang pasrah diatas tempat tidur.

<Ehh…!> terlepas sudah tatapan mata Didit pada pesona pemandangan syur yang aduhai itu…

Persetubuhan incest ini berlangsung dengan sangat mesra, bagaikan sepasang sejoli yang sedang memadu kasih. Dilakukan dengan sangat tenang tidak terburu-buru. Bagi bu Ratna bukan sekedar hanya mengejar kenikmatan orgasme semata, tetapi… dia ingin dihamili oleh putera tunggal semata wayangnya ini…!

Mereka mendapatkan orgasme secara bersama-sama… sangat sempurna! Sempat bu Ratna melantunkan kata, “Semoga…”.

Yang mereka tidak ketahui adalah… sesaat setelah mereka mencapai orgasme pada saat bersamaan… pas pula hari Sabtu sudah terpenuhi jadwalnya… Detik-detik baru mengantar mereka berdua tidur diawal hari yang baru…

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*