Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 5

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 5

Cerita sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 4

Bagian 5 – ML Ke-dua Yang Hot Penuh Variasi

Setengah jam telah berlalu sejak usainya makan-siang mereka. Jam dinding menunjukkan waktu pukul 14.15.

Bu Ratna sedang duduk-duduk santai melepaskan lelah sehabis beres-beres didapur tadi seusai makan-siangnya. Bu Ratna mengambil tempat, duduk di ujung paling kanan dari sofa yang menghadap TV itu, sambil menekan-nekan tombol kecil pada remote TV… memang susah mencari tayangan yang diinginkan. Yang dicari bu Ratna sih… bukan tayangan yang aneh-aneh, hanya tayangan berita siang semata. Kebetulan saat itu, pada waktu bersamaan semua stasion TV sedang menggelar iklan-iklan komersilnya… ‘Tayangan berita kok… pake diiklankan segala…?!’, bu Ratna ngedumel dalam hati.

<Kriieeett…> bunyi suara pintu kamar Didit terdengar dibuka penghuninya. Didit mendekati area ruang TV dan melihat ibunda tersayangnya sekaligus yang digandrunginya itu… sedang duduk santai di ujung kanan sofa panjang. Sedang bu Ratna yang mendengar langkah-langkah kaki Didit mendekat, hanya menolehkan wajah cantiknya agak kekanan sedikit sekilas… lalu balik menatap TV sembari menekan-nekan tombol pada remote TV.

Didit mendekat dibelakang ibunya dan mendekap serta mengecup lembut rambut ibunya yang wangi seraya berkata pelan, “Mama-ku sayang…!” lalu segera melepaskan dekapan itu dan berjalan… mengambil tempat duduk… diujung kiri dari sofa panjang itu.

Berbunga-bunga dalam hati bu Ratna mendengar kata-kata yang diucapkan oleh putera tunggal semata wayangnya itu. Sederhana tapi terasa romantis sekali dalam hatinya… bu Ratna jadi teringat kembali pada masa-masa awal ketika berpacaran dengan Damarto yang kala itu sebagai pria muda… tambatan hatinya seorang.

Bu Ratna segera berdiri dari duduknya dan mengambil tempat berdampingan disebelah kanan Didit… sangat dekat dan lekat sambil mencium lembut pipi kanan puteranya itu dengan lembut. “Terimakasih… sayangku…’, kata bu Ratna pelan, serta dipegangnya tangan Didit dalam genggaman tangan lentiknya.

Didit segera memberitahu ibunya, “Ingat lho… ma! Ini masih ruangan terbuka… iya kan…?!”. Rupanya baru saja beberapa menit berselang barusan… Didit sudah mencapai pembawaannya yang lebih dewasa…

“Oh iyaaa…! Sorry ya sayang hi-hi-hi…!”, kata bu Ratna buru-buru menggeserkan tubuhnya kekanan, tapi sembari tidak lupa… mencekal agak keras pada ‘gundukan’ ditengah pangkal paha anaknya itu.

Sempat kaget juga sekilas Didit tidak mengira akan adanya cekalan genit ibunya pada penisnya yang sebenarnya masih tidur-tiduran anteng itu, seketika langsung bangun dengan ‘garang’ dan mendorong keras celana hawaii menonjol tegak keatas (Didit mempunyai beberapa stel celana pendek Hawaii), langsung mencapai panjang maksimum-nya, yaitu sekitar 15 cm-an… dengan seketika!

“Lagi ‘horny’ ya ma…! He-he-he…!”, tawa Didit ikut-ikutan rada genit.

“Kayak kamu nggak aja lagi?! ‘Peliharaan’-mu itu sudah lapar sejak tadi makan-siang tadi… tau nggak?!”, kata bu Ratna berpura-pura kesal. “Mau baring tidur-tiduran santai dulu aaahh…!”, kata bu Ratna berdiri dan melangkahkan kaki-kakinya menuju kamar tidur utama. Pas berjalan didepan Didit yang sedang sibuk menenangkan ‘peliharaan’-nya yang masih ‘ngamuk’ itu… bu Ratna langsung mencekal tangan kanan Didit dengan tangan kirinya yang lentik. Akibatnya tubuh Didit ikut tertarik keatas yang memaksa Didit ikut berdiri disamping ibunya.

“Cewek kalau lagi ‘horny’ pake ngajak-ngajak tiduran santai sih… pasti bukan untuk sekedar berbaring tapi…”. Langsung saja bu Ratna menempelkan mulut sexy-nya pada telinga kanan Didit dan meneruskan kata yang belum terucap Didit itu dengan kata yang dibisikinya dengan mantap, “Ngeeentoott! Tau!”.

Terperanjat wajah Didit jadinya mendengarkannya sambil memandang terperangah wajah cantik ibunya… “Iiihhh mama ngomongnya jorokkk…! Ingat ma… jangan keras-keras… ini masih ruangan terbuka he-he-he…!”, masih saja Didit mengingat ibunya tentang hal ini.

“Kan mama berbisik pelan padamu… malah pake nempelin mulut mama pada kupingmu… lho! Sama joroknya kali… dengan kata-kata ‘bersetubuh’, ‘bersenggama’, ‘bersebadan’, ‘ngewek’, ML, dan…”.

Langsung saja Didit memotong perkataan ibunya yang dianggapnya mulai rada… ngaco, “Wah…! Mama lagi ‘horny’ berat nih!”.

“Kok tahu…!”, kata bu Ratna sembari tertawa mengikik terbungkuk-bungkuk sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. “Hi-hi-hi…! Baru tau ya?! Apa susahnya ngomong ‘vulgar’ kayak begitu… hi-hi-hi…!”, sembari tetap melangkahkan kaki-kakinya menuju kamar tidurnya.

***

Begitu mereka berdua sudah berada dalam kamar tidur utama, segera bu Ratna mengunci pintu kamar, membalikkan tubuhnya menghadap pada Didit seraya berkata dengan suaranya agak bergetar saking nafsunya, “Hayo sayang…! Cepat buka pakaianmu semuanya dan… berbaring terlentang ditengah-tengah tempat tidur…”.

Bu Ratna hanya dengan mengendorkan tali baju tidurnya yang langsung jatuh bertumpuk diatas lantai. Dilihatnya Didit masih memerlukan beberapa detik untuk melepaskan T-shirt, celana hawaii dan terakhir CD-nya.

“Hi-hi-hi… payah deh…! Masak yang diundang lebih cepat sih?! Kan kamu yang ngundang mama untuk ronde ke-dua! Hi-hi-hi…”, kata bu Ratna bercanda ngeledek Didit.

“Sedang Didit aja tidak menyadari dari sejak dekat TV tadi kalau mama sudah mengganti pakaian dengan baju tidur, mana… nggak pake daleman lagi…! Yaaa… pasti lebih cepatlah…!”, kata Didit yang berupaya membela diri.

“Siapa suruh tidak bersiap lebih awal, dasar masih…”, kata bu Ratna berpura-pura mencemoohi Didit, putera kesayangannya itu.

“Nah ketahuan yaa… mau ngatain Didit masih ijo kan…?!”, kata Didit menebak dengan yakin kata belum terucap oleh ibunya.

“Itu sih… kamu yang ngomong, bukannya mama… hi-hi-hi…”, kata bu Ratna sambil tertawa geli. “Maksud mama… kamu masih tetap sok tahu padahal sih… memang tidak tahu… hi-hi-hi…!”.

“Iihh… mama… suka ngeles ya!’, kata Didit masih dongkol.

“Mama sih sukanya… ngeennn…”.

Kata ibunya yang belum terucap itu langsung saja dipotong saja oleh Didit. “Iihh… ngomong begituan terusss…! Yang penting… action dong!”, mengingatkan ibunya tentang ucapannya sendiri pada ML perdana Didit… pada waktu tadi pagi.

“Mana bisa action… orang kata… cowoknya aja belum ada diatas tempat tidur kok…!”, kata bu Ratna bergetar saking nafsunya.

***

Didit sudah menelentangkan dirinya ditengah-tengah tempat tidur, bertelanjang bulat sambil melipatkan kedua tangannya keatas dan menaruh kedua telapak tangannya itu dibawah tengkuknya. Sedangkan penis remajanya berdiri agak doyong kebawah, maklum saja… belum ‘dibumbui’ dengan birahi secukupnya, serta kedua telapak kakinya yang bergoyang-goyang kekiri dan kekanan.

‘Pasrah amat sih… nih anak kelihatannya! Hi-hi-hi…’, bu Ratna terawa dalam hati. dengan cekatan bu Ratna segera naik ke tempat tidur dan… segera langsung saja… ‘mencaplok’ penis Didit yang belum terlalu tegang kelihatannya.

Melonjak kaget Didit melihat ‘keganasan’ ibunya, yang dirundung hawa nafsu sangat tinggi itu. “Jangan digigit ya… ma! He-he-he… entar kita berdua jadi rugi lho…! He-he-he…!”, kata Didit sambil cengengesan.

Bu Ratna tidak bisa menjawabnya, karena ada penis Didit didalam mulutnya, lagipula buat apa dijawab, yang penting… action…! Dikulum-kulumnya palkon anaknya itu, sembari mengatur posisi tubuhnya. Diangkatnya pinggul bahenolnya menindih tubuh Didit tapi… berlawanan arah, serta ditempatkannya vaginanya pas didepan mulut remaja anaknya itu. Didit yang cerdas segera mengetahui bahwa ibunya menghendaki dirinya ikut juga ‘pro-aktif’. Jadilah sepasang kekasih yang berbeda umur… ibu dan anak tunggalnya yang remaja itu melakukan gaya ’69’…! Inilah… ‘sixty nine style’ perdana bagi Didit, sang putera tunggal…

Sementara merubah posisi tubuhnya itu, bu Ratna tak pernah barang sedetikpun berhenti mengulum-ngulum palkon anaknya diselingi dengan gerakan mulut sexy-nya, kebawah balik lagi keatas lalu kebawah lagi… sepanjang batang penis Didi, sang buah hati. ‘Kocokan’ dengan mulutnya ini semakin lama semakin cepat saja, menyebabkan Didit mulai menggelepar-geleparkan pinggulnya serta meliuk-liukkan tubuh, berusaha menahan rasa geli-ngilu dan sangat nikmatnya. ‘Kayaknya…! Hampir tiba saatnya…’, pikir Didit mantap, bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

Tiba-tiba bu Ratna menghentikan kuluman pada palkon Didit, anak-nya. ‘Wah… kalau diteruskan… bisa rugi bandar nih!’, pikir bu Ratna ngeres.

“Aduh ma! Jangan dihentikan dong…! Tanggung nih… sebentar lagi aja… ya mama-ku sayang… sudah mendekati ujungnya, please deh…!”, protes Didit sambil memohon dengan rayuannya agar diteruskan sebentar lagi saja.

Bu Ratna tidak menjawab, walau pun telah melepaskan penis Didit dari ‘cekalan’ mulut sexy-nya itu. Hanya menjawabnya dalam hati, ‘Dalam hai ini tidak ada jawaban bagimu sayang…!’.

Bu Ratna dengan menghadap wajah puteranya segera mengambil posisi berjongkok diatas penis remaja anak tunggalnya itu… penis yang sudah tegang dan kerasnya… minta ampun! Dicekalnya palkon anaknya dengan jari-jarinya yang lentik itu… diarahkan dan mendekat ‘lubang nikmat’ vaginanya dan… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Didit yang sangat tegang itu…!

Inilah WOT perdana bagi Didit, yang merem-melek merasakan nikmatnya tatkala seluruh batang penisnya ‘di-emut-emut’ dengan ketat oleh otot-otot dalam vagina ibunya. ‘Wowww… ternyata benar juga tuntunan nge-seks dari mama, lebih… berkualitas!’, kata Didit dalam hati.

(NB: WOT = Woman On Top)

Bu Ratna mulai menggerakkan pinggulnya yang padat tapi mulus… turun-naik turun-naik turun-naik, konstan saja… tidak terlalu lambat… tetapi sedang-sedang saja, ini berlangsung hampir 5 menitan.

Keadaan Didit sekarang ini… sudah jangan ditanya lagi deh… tetap merem-melek keenakan ditambah pinggulnya mulai menyundul-menyundul keatas. ‘Wah…! Uuugghhh… nikmatnya! Kayaknya… sudah mau sampai ke ujung nih…’. Tanpa tedeng aling-aling lagi, Didit dengan setengah berteriak, “Nikmat sekali ma! Ayooo dong… mama-ku sayang… yang… cantik jelita! Enjotannya dicepetin… ooohh…! Sudah sampai di ujung niihh…!”.

“Eh-eh-eh… mau nyampe ya! Entar dulu dong…!”, langsung saja bu Ratna menarik pinggulnya lebih keatas dan… terlepaslah penis anaknya dari vaginanya. Bu Ratna membalikkan tubuhnya dan merangkak diatas kedua lutut dan dan kedua sikutnya… membelakangi Didit.

Didit yang mengawasi gerak-gerik ibunya dengan sedikit kecewa. ‘Tinggal sedikit enjotan lagi saja… eh… malah pake dicopot lagi! Uuugh!’. Dia melihat kearah ibunya… agak kecewa, diperhatikannya tubuh yang belakang ibunya yang lagi posisi merangkak, ternyata dalam pandangan Didit yang lalu memberikan penilaian pada tubuh telanjang bulat ibunya ini adalah, ‘Uuugh… ternyata bukan saja bagian depan tubuh mama yang mulus… bagian tubuh yang belakangnya ikut-ikutan seksi sekali, pantat yang sekal serta pinggul yang melebar tapi mulus menggairahkan, bagaikan potongan gitar Spanyol… yang kalau dipetik dawai-nya bakalan mengeluar bunyi yang merdu yang mampu menarik keluar gairah birahi yang bersembunyi didalam hati.

“Eeh-hmm…! Eeh-hmm…! Katanya… sudah ‘lulus dengan pujian’, nih… mama sudah begini nih… hayo… enaknya mau diapain dong… kayaknya mama sekarang lagi nungguin remaja ganteng yang… kayaknya bengong apa lagi kebingungan ya?! Hi-hi-hi…!”, ejek bu Ratna pada anaknya yang suka meng-akses situs porno itu.

Dijawab Didit yang memang cerdas itu dengan sedikit pongah, “Bilang aja… pengen di-doggie… pake ngetest-ngetes Didit segala! Nih… rasakan! Dijamin tubuh mama akan bakalan nungging keenakan deh…!”.

Langsung saja Didit mendekati pantat bahenol ibunya, dengan memegang batang penis yang keras, mengarahkan palkon-nya pada lubang nikmat vagina ibunya dari belakang, mendorong masuk palkon itu dengan agak keras dan… <bleeesss…!> amblas sudah semua batang penis remaja ini… ‘tenggelam’ di lubang nikmat dalam vagina ibunya yang sudah siap sedia dengan cengkeraman otot-otot dalam vagina-nya yang sangat kuat…!

Tubuh bu Ratna langsung terjerembab kedepan… menungging… jadinya. ‘Belum juga aku merasakan nikmatnya dengan mantap… sudah langsung dibikin nungging lagi! Wah… curang nih si kokokbeluk ini!’, bu Ratna protes dalam hati. “Pelan-pelan dong… nyodokinnya… ooohhh…! Nikmatnya! Genjot teruuusss sayang…!”, kata bu Ratna yang protesnya menghilang dengan sendirinya.

Biar lebih mantap menyodok vagina ibunya ini, Didit memegang pinggul ibunya, baik yang kiri maupun yang kanan dengan kedua tangan remajanya yang mencengkeram dengan kuat.

Inilah Doggie Style perdana bagi Didit, the young motherfucker.

Ini berlangsung tidaklah lama… hanya 5 menitan saja… tiba-tiba bu Ratna memajukan tubuhnya kedepan dan membalikkan tubuhnya segera dan terlentang pasrah dihadapan anak tunggalnya itu… gara-gara gerakan bu Ratna merubah posisi dengan cepat… Didit jadi terjerembab kedepan dan wajah gantengnya mendarat tepat pada vagina ibunya.

Sadar akan adanya ‘santapan nikmat’ didepan mata, dengan tidak sempat berkata protes atas aksi ibunya yang tak diduganya tadi… langsung saja mulut Didit menyergap dengan tangkas serta ujung lidahnya yang rada kesat itu sudah ‘bermain-main’ dengan kelentit sang bunda tercinta. Terlonjak-lonjak pinggul mulus ibunya disertai erangan nikmatnya, “Ooohhh… Didit-ku sayang… maafkan mama ya… sampai kamu jadi terkejut… aduh…! Nikmatnyaaa… aduh-udah-aduh-udah… sayang…! Nanti ‘punya’ mama jadi banjir lho…! Mama pengen di… entoott…! DI ENTOT!”. Mendengarkan kata vulgar yang santer keluar dari mulut ibunya itu, segera saja Didit mengangkat wajahnya dari ‘santapan nikmat’ itu… langsung merangkak diatas tubuh menggiurkan ibunya dan menindihnya serta mendaratkan mulutnya menutup mulut sexy ibunya yang kalau beliau lagi ‘tinggi’ suka mengeluarkan kata-kata vulgar dan… Didit agak jengah mendengarnya… soalnya keluar dari mulut ibunya yang tersayang. Terjadi lagi FK untuk sekian kalinya penuh gairah dan nafsu seks yang mengebu-gebu… Serta tidak lupa tangan kanannya… menggapai batang penis yang kerasnya… minta ampun deh! Diarahkan palkon-nya, tanpa kesulitan menemukan mulut gua nikmat pada vagina ibunya. Dengan menekankan pinggulnya tidak terlalu keras… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Didit yang sangat tegang itu…!

Didit yang sekarang sudah sudah menindih tubuh indah, cantik jelita milik ibunda tersayang, mulai mengayun-ayunkan pinggulnya… penisnya yang sempat terlepas dari Doggie Style barusan lewat… memompa masuk-keluar… masuk-keluar dalam vagina ibunya yang licin (karena basah oleh cairan pelicin dari dalam vagina), tapi otot-otot dalam vagina mencekal sangat kuat pada sekujur batang penisnya, sehingga Didit perlu mengeluarkan tenaga ekstra kalau mau penisnya bergerak lancar didalam vagina ibunya yang… super peret itu! Inilah MOT untuk kedua kalinya bagi Didit (MOT perdana-nya pada ML tadi pagi).

“Ooohhh… nikmatnya! Sayang… yang stabil goyangannya… jangan diperlambat… tapi juga jangan terlalu cepat… sedang-sedang saja biar mainnya lebih lamaan ya sayang…! Ooohhh… nikmatnya! Siapa tahu kamu bisa membuat mama mendapatkan orgasme lebih dari satu seperti pada… ML perdana-mu… tadi pagi…”, kata bu Ratna setengah berbisik sambil menikmati persetubuhan ini, berusaha memberitahukan tuntunan-seks-nya pada Didit, putera tunggalnya. Lanjutnya lagi, “Ingat sayang… nanti jangan sampai tercecer keluar sperma-mu…! Siapa tahu…? Ooohhh…!”.

Didit yang sibuk mengayun-ayunkan pinggul remajanya dengan bersemangat, tidak terlalu konsens pada kata yang terakhir itu… bermakna apa? Hanya satu tekad dalam hati remaja ini, yaitu menerima tantangan atau permintaan apapun itu namanya dari ibu tersayangnya… dia akan mempersembahkan orgasme berkali-kali pada ibunya dan berusaha sekuat tenaga menghindar dari kedatangan orgasme-nya sendiri… Walaupun dia sadar… seandainya Superman mempunyai anak seperti dia… belum tentu juga sesuper ayahnya… iya kan?! Yang terpenting dia berusaha sebaiknya… soal hasilnya… ya lihat saja gimana nanti…

Sambil tetap mengayun-ayunkan pinggulnya secara intens, Didit berusaha menemukan solusi yang tepat untuk memenangkan ‘tantangan’ dari ibunda tersayang. Yang pasti yang akan memakai segala cara untuk meraih semuanya itu!

Bila dilihat yang lagi di-enjot, lagi merem-melek sesekali saja, bu Ratna lebih banyak memejamkan matanya sambil menikmati sepenuh hati akan enjotan-enjotan nikmat… penis putera tunggalnya ini… yang lagi mengubrak-abrik dan mengaduk-aduk seluruh permukaan dinding didalam lubang nikmat vaginanya… seakan-seakan ingin mencari sesuatu, karena sesuatu itu memang tidak ada, ya… tidak ketemu-ketemu… akibatnya ya… itu… bu Ratna jadi kelabakan dan megap-megap vaginanya… keenakan!

Melihat paras cantik ibunya yang lebih banyak memejamkan matanya. ‘Ini saatnya…’, kata Didit dalam hati, tapi rencananya sudah mantap… dan dipertimbangkan se-logis mungkin! Didit menurunkan sedikit kepalanya, mulutnya langsung mendarat pada pentil susu kanan ibunya… sambil mengemut-emut dan di-variasi dengan sesekali kenyotan keras pada pentil itu. Sementara itu tangan kirinya sudah menyelusur kebawah, targetnya adalah… kelentit ibunya yang lagi ‘nganggur’. Begitu tersentuh langsung saja telunjuk dan jempol tangan kirinya saling bahu-membahu ngerjain tuh kelentit, hasilnya… langsung dapat dilihat!

Pinggul bu Ratna melonjak hebat akibat rangsangan pada kelentitnya yang super sensitif itu. Terlepas kata-kata dari mulut bu Ratna yang sexy, “KOK… bisa sih…! Oooh..!”. Khawatir ada orang ketiga yang berperan serta, didongakkannya kepalanya kearah bawah… tidak ada orang lain. Lalu dilihatnya posisi tubuh Didit miring kekiri (kalau dilihat dari atas mereka). “Oooh pantesss…! Kirain sih…!”, kata bu Ratna lega setelah mengetahui kemungkinan itu bisa terjadi, menurunkan kepalanya yang sempat didongakkannya tadi. Sambil memejamkan matanya, mulai meresapi kenikmatan-kenikmatan yang muncul akibat rangsangan-rangsangan pada bagian tubuhnya yang sangat sensitif.

3 gempuran nikmat dalam satu ‘serangan’ menjelang sore hari ini, dapat dipastikan bu Ratna takkan bertahan lama… pertahanan tubuhnya… akan segera tumbang…!

Didit yang tahu akan keheranan ibunya, hanya diam saja tanpa menghentikan barang sedetiknya aksi yang dilakukannya secara simultan ini. Posisi tubuhnya yang miring kekiri ini, justru membuat otot-otot tubuhnya yang kanan menjadi sakit, karena otot-ototnya terlampau jauh diregangkan melebihi yang semestinya. Untuk berganti posisi, sudah tidak keburu. Biarlah pada ML yang berikutnya… entah kapan itu… dia akan berposisi miring kekanan.

Sudah tidak mampu lagi mengangkat kedua pinggul mulusnya itu, bu Ratna hanya mampu meliuk-liukkan pinggul-pinggulnya dan pinggang rampingnya saja. Dia lebih mampu mendesah dengan dengan keras dan… terucap juga kata-katanya, “Aduhhh… sayang ampunnn deh kamu… ini! Aaahh… nikmatnya… terus-cepetin-terus-cepp…”,
tak sanggup bu Ratna menyelesaikan perkataannya karena keburu… <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>. Banyak sekali cairan orgasme yang dikeluarkan vaginanya ini, membasahi… bahkan ‘merendam’ seluruh batang penis berikut palkon Didit yang tetap saja bergerak masuk-keluar masuk-keluar… sejalan dan senada dengan gerak pinggul remajanya, turun-naik… turun-naik… seakan tidak mau tahu apa ayng sedang terjadi!

Terhenyak tubuh bu Ratna diatas tempat tidurnya sendiri, lemas sudah semua otot-ototnya akibat ‘digauli’ secara intens oleh putera tunggalnya sendiri. “Semoga…!”, kata bu Ratna dengan penuh harap.

‘Wah… harus tancap gas nih! Entar mama-ku tersayang bisa jatuh tertidur lagi…!’, kata Didit dalam hati, agak khawatir. Segera sodokan penisnya dalam vagina ibunya semakin dipercepat… bunyi gemericikan ikut mengiringi aksinya ini. ‘Gempuran’ duet telunjuk dengan jempol tangan kirinya pada kelentit ibunya… yang pasrah saja menerima ‘gempuran’ ini. Belum lagi ‘serangan’ mulut remajanya galak… mengemut… mengenyot… menyedot dengan keras… tanpa ampun lagi.

Merasakan rangsangan pada bagian-bagian tubuhnya yang sangat sensitif menyebahkan bu Ratna merintih dengan lirih dan merengek-rengek pada anaknya, “Aduuhh… sayang… sangat nikmat sekali! Tapi… kamu anak mama yang baik kan? Ayo dong… beri kesempatan mama rehat sejenak…”.

Tapi Didit tidak menghiraukan rintihan ibunya itu. “Aksi ini tidak boleh dihentikan walaupun sekejap… kalau mau sukses hasilnya!”. Dengan semangat yang sangat mantap ini, Didit makin meningkatkan ‘gempuran’ seks-nya… sudah dirasakannya ‘sudah sampai diujung’…

Tanpa ampun lagi… dengan sodokan terakhirnya yang sangat kuat, seluruh bagian penis remajanya mendekam didalam vagina ibunya sedalam yang bisa dijangkau penisnya, serta… menyuplai sangat banyak sperma segarnya dan… sangat kuat sekali semprotannya!

<CRROOOTTT…> <crrooottt…> <crrooottt…> <crrooottt…>

Semprotan sperma pertama yang sangat kuat didalam vaginanya… mengantar bu Ratna pada orgasme-nya yang kedua. Orgasme keduanya ini lebih nikmat dari orgasme yang pertama… bahkan juga lebih nikmat dari orgasme pagi hari tadi. <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

Langsung mengantarkan bu Ratna kedalam alam mimpi… yang membawanya pada masa lalu tatkala mereka sekeluarga merayakan ultah pernikahan lima tahunan pertama…

***

Ratna (23) sambil mengendong mesra Didit (4), anak lelaki pertama mereka… berdiri didepan Damarto (27) sedang membicarakan sesuatu. Kenapa harus berdiri? Padahal didekatnya ada satu set kursi tamu… masih baru lagi! Tidak lain tidak bukan, karena Didit kecil tidak mau disuruh duduk atau bermain dengan mobil mainannya diatas lantai keramik yang bersih. Didit kecil lebih suka ngendon pada buahdada montok ibunya… empuk-empuk kenyal dan menghangatkan.

Damarto ingin mencium pipi kanan Didit kecil, tapi dengan kesigapan seorang anak kecil, Didit kecil menyembunyikan wajah imutnya pada dada ibunya sambil tertawa girang dan menggoyang-goyangkan kaki-kaki kecilnya. Damarto tetap mendaratkan ciuman mesra pada rambut kepala Didit kecil, seraya berkata, “Eeehh… anak kesayangan papa… sukanya ngendon sama susu mamanya saja… jadi ngiri nih! He-he-he…”.

“Hi-hi-hi… dasar papanya Didit kok ngirian terus ya! Hi-hi-hi…”, Ratna tertawa bahagia terbawa suasana keluarga kecil yang harmonis itu. Didit kecil menjawab ibunya dengan goyangan kaki-kaki kecilnya saja.

Kemudian Damarto mulai berbicara serius pada Ratna, isterinya tercinta… yang sedang mendambakan seorang anak perempuan yang alasannya sederhana saja… untuk menemani Didit kecil, anak lelaki pertamanya itu.

“Kamu tahu kan Rat? Seluruh keluarga dekatku yang segaris keatas menurut silsilah garis keturunan… hampir semuanya, keluarganya mempunyai anak satu atau paling banyak dua saja… bahkan ada yang tidak mempunyai anak kandung samasekali. Aku sudah konsultasi dengan team kesehatan. Mereka mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan tubuhku. Anggota team-nya komplit, ada psikolog, spesialis ahli reproduksi dan macam-macam yang aku kurang paham sebutannya. Mereka sendiri sudah mengambil kesimpulan akhirnya. Itu di meja kerjaku… bundel laporan-laporannya… komplit”, kata Damarto sembari mengambil napas yang dalam sejenak.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ratna dengan bertanya, “Kalau begitu bagus dong mas. Mana aku hari ini menurut perhitunganku, lagi… subur-suburnya!”.

“Dengarkan dulu sayang… team kedokteran itu dengan memanfatkan hukum Mendell, seorang scientist kenamaan yang sangat ahli dalam seluk-beluk reproduksi. Hukumnya bahkan berlaku bagi semua makhluk hidup, tanaman maupun khewan tentu saja juga termasuk manusia. Team itu mengatakan bahwa aku mendapatkan ‘karunia’ itu yang terekam dan tersimpan didalam memory-chip dalam sel DNA-ku. Mereka belum mampu mengatasi apa yang kita tidak inginkan dalam DNA-ku itu. Bahkan tehnologi dunia belum menyentuh bidang itu… seandainya juga sudah… belum mendapatkan hasilnya yang kongkrit untuk di-share ke khalayak dunia”, Damarto mengakhiri penjelasan panjang lebarnya pada isteri tercinta. Setetes airmatanya jatuh bergulir…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*