Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 4

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 4

Cerita sebelumnya : Semua Terjadi Di Hari Sabtu 3

Rumah gedung yang ditempati keluarga kecil ini, diatur letaknya tepat ditengah-tengah lahan yang berukuran, yaitu 40 m X 40 m = 1600 m. Bangunan rumah berukuran 15 m X 15 m = 225 m, sangat besar bila mengingat jumlah penghuninya sekarang serta menyisakan lahan tanah yang lumayan luas dikiri-kanan dan depan-belakang dari rumah itu. Rencananya bila ada tambahan penghuni baru, misalkan PRT atau siapalah yang bukan termasuk famili, akan dibangun rumah ‘kecil’ merapat ke batas belakang lahan dan dihubungkan dengan koridor terbuka (tapi beratap) ke bangunan utama bagian belakang dekat dapur.

Kamar tidur ada 2 ditambah 2 kamar tidur tamu dan satu kamar tidur cadangan, berikut ditambah lagi dengan kamar-kamar dan ruangan-ruangan yang biasa ada pada rumah tinggal pada umumnya.

***

Bagian 4 – Pasca ML Perdana Didit

Bu Ratna mendusin… terjaga dari tidurnya, dilihatnya jam pada dinding kamar yang menunjukkan waktu pukul 11.45. Ibu cantik ini merasa tubuhnya segar-bugar dan tubuhnya terasa sangat enteng dan nyaman serta tidak merasa pusing lagi. Rupanya setelah tertidur selama 2 jam lebih sedikit, telah mengembalikan stamina-nya kembali fit seperti sedia kala. Ditengoknya Didit yang masih tertidur pulas, dengan posisi-nya sekarang, tubuhnya terlentang dengan kedua tangannya terentang bebas. ‘Dasar anak bandel…! Tidak mau dituntun agar ML perdananya bisa berlangsung rada lamaan sedikit, eeehh… malah main tancap aja lagi…!’, gerutu bu Ratna dalam hati. Tetapi hatinya puas juga sih… terbukti sekarang pikirannya tidak terasa mumet lagi.

Masih saja dengan bertelanjang bulat sejak persetubuhan dengan putera tunggal yang masih remaja itu, bu Ratna menuju kekamar mandi untuk membersihkan badan mulusnya dari segala bekas pergumulan seks mereka tadi. Dengan tersenyum manis bila mengingat Didit, putera tunggal sekarang telah mendapat predikat baru yaitu sebagai berondong muda milik ibu kandungnya sendiri. Mengenai hal ini, berkaitan dengan suaminya… biarlah nanti setelah Damarto, suaminya itu pulang sampai kerumah, entah berapa hari lagi kedepan. Bu Ratna yakin bahwa Damarto, suaminya itu bila telah mendapatkan PRT pastilah sudah terlebih dahulu diceknya… luar-dalam.

Bu Ratna tahu akan kebiasaan suaminya itu, Damarto adalah seorang checker yang sangat teliti… mungkin malah terlalu berlebihan…

Selesai membersihkan tubuhnya dengan mandi tidak terlalu lama, berbalutkan handuk besar yang menutupi tubuhnya yang sexy menggairahkan… dan hanya terbuka pada separuh paha mulusnya sampai kebawah dan bagian batas atas payudaranya sampai ke kepala… keluar dari kamar mandi untuk bersalin pakaian yang biasa dikenakan sehari-hari didalam rumah.

Dilihatnya Didit baru saja bangun dari tidurnya yang ‘lelah tapi nikmat’ serta meregangkan kedua tangan remajanya sejauh mungkin kekiri dan kekanan. “Aaahh… segarnyaaa…!”, yang langsung dipotong saja oleh bu Ratna, “Segar apaan…?! Mandi dulu sana… itu baru segar namanya! Dan mandi dikamar mandimu sendiri, jangan disini, entar… mama malah disergap dari belakang lagi! Wahhh… bisa keringatan lagi deh…! Lagi pula pakaianmu kan ada dikamarmu sendiri, iya kan?!”.

“Aahhh… mama…! Biar lebih dekat untuk… ronde ke-dua begitu… mama-ku sayang he-he-he…!”, jawab Didit asal, sambil tertawa meringis bagaikan bandot muda belum tumbuh jenggot.

“Huuusshh…! Tidak-tidak… sorry ya! Masih banyak waktu untuk itu! Mama mau masak makanan yang lebih bergizi dan menyehatkan… Agar supaya ‘ronde ke-dua’ yang kamu maksud itu, bisa berlangsung lebih… greget… dan lamaan, hi-hi-hi…! Kalau tadi sih… seperti ayam jago mabuk… eeehhh… maksud mama jago remaja… yang juga… sama-sama mabuknya! Hi-hi-hi…!”, kata bu Ratna santai sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.

“Tapi-tapi… tadi mama kelojotan karena keenakan… hayooo!”, jawab Didit sewot.

“Iya sih… mama akui itu… sekarang tidak mumet lagi deh…! Terimakasih yaa… jago remaja mama, hi-hi-hi…”, balas bu Ratna yang sudah melangkah keluar melewati pintu kamar tidurnya.

“Uuugh… mama-ku yang cantik jelita… bikin Didit ‘horny’ terus-terusan…”, Didit berkata sambil melompat terburu-buru dari tempat tidur berniat mengejar dan memeluk ibunya dari belakang.

Bu Ratna yang selalu waspada, melihat gelagat yang mencurigakan dari gerak-gerik anaknya… segera kabur dengan cepat menuju dapur.

Didit yang tahu niatannya itu gagal total, memungut pakaian miliknya yang berserakan diatas lantai, tanpa mengenakannya kembali. Bertelanjang bulat dengan pakaian ‘kotor’ di lengannya melenggang menuju kamarnya sendiri untuk mandi membersihkan diri yang sekarang baunya rada apek.

***

Semerbak aroma masakan yang menggugah selera menyebar ke seantero dalam rumah, bu Ratna lupa menghidupkan Filter Hood (Exhauster Fan khusus untuk dapur). Bu Ratna yang cantik jelita ini memang pandai juga mengolah makanan. Selain bu Ratna punya hobby yang gemar menata taman bunga juga hobby memasak, yang mengherankan adalah biasanya orang yang gemar memasak rada ‘chubby’ tubuhnya, tetapi bu Ratna tetap saja langsing semampai tapi berisi dengan berat tubuh idealnya itu. Begitulah… kalau nyonya rumah yang satu ini… memang pandai merawat tubuhnya sendiri.

***

Setelah selesai berbenah diri, sambil bersiul-siul kecil menuju ke meja makan. Didit sang remaja jago… atau sang jago remaja… ya? Telah ‘sukses’ meredakan gejolak seks ibu kandungnya sendiri yang menggebu-gebu, padahal bu Ratna baru ditinggal kerja pak Damarto, suaminya… belumlah genap satu hari!

Mungkinkah bu Ratna memang ada perasaan ‘syur’ pada putera tunggalnya itu? Atau seperti tanpa disadarinya ada keinginan melakukan pembalasan secara bawa-sadar (‘psychological revenge’) atas segala kelakuan semberono suaminya bila berada diluar rumah… siapa yang tahu… mungkin saja! Memang sih agak janggal rasanya, kalau melihat pembawaan dirinya sehari-hari. Bu Ratna selalu berpakaian rapi, cukup wajar dan… selalu santun apa adanya, meskipun didalam rumahnya sendiri…

***

Didit masih duduk menunggu diatas kursi yang terletak didepan meja makan. Sekilas terdengar suara ‘kukuruyuk ala kroncongan’ dari dalam perutnya. Asam lambung sudah memenuhi tempatnya yang biasa. ‘Wah… harus buru-buru dinetralisir nih dengan makanan… kalau tidak si ‘asam’ akan menggerogoti dinding dalam lambungku. Dan aku akan mengalami ‘maag’ yang dapat dipastikan akan mengganggu kegiatan seks-ku dengan mama!’, demikian kesimpulan Didit dalam hati perihal kesehatan dirinya sendiri.

Tidak percuma Didit rajin nge-browsing internet tiap harinya. Itu sisi baiknya, sisi buruknya… jikalau terlalu sering meng-akses situs illegal porno, seperti yang dikatakan ibunya, bu Ratna. Tapi tadi… beliau sempat ‘kelojotan-nikmat’… berkat itu juga bukan…?!

Tiba-tiba Didit berdiri dan segera melangkah menuju dapur, ingin meninjau keadaan disana secara diam-diam…

Didit hanya bisa melihat punggung ibunya, yang sedang berdiri didepan sink (tempat cuci piring) sibuk membenahi peralatan-peralatan dapur yang kotor, Didit menoleh kearah meja dapur yang dipenuhi beberapa pinggan berisi masakan yang siap disajikan.

Rupanya bu Ratna berpikir praktis, pekerjaan yang memang harus ditangani, ya… segera dituntaskan saja tanpa harus menunggu, agar nanti tidak bertumpuk kelihatannya. Lagi pula siapa sih… seorang nyonya rumah yang akan tetap bersemangat bila melihat pekerjaan yang dihadapi didepan matanya… sudah bertumpuk-tumpuk?!

Akhirnya terdeteksi juga oleh indera bu Ratna, bahwa Didit diam-diam mengawasi tubuhnya dari belakang.

“Ingat Dit! Disini termasuk ruangan terbuka lho…!”, tegur bu Ratna tiba-tiba yang seketika mengagetkan Didit yang sedang asyik-sayiknya memperhatikan aneka lauk-pauk didalam pinggan-pinggan itu.

Dengan terlonjak Didit buru-buru menutup sekilas kedua lubang telinganya dengan jari-jari tangannya serta mengepal tangan kanan yang langsung diketuk-ketukkan pelan-pelan pada jidat yang nong-nong, seraya mengumandangkan sebuah ‘mantera’ klasik, penenang diri. “Tenang-tenang…! Makan nasi sama lauk-pauk…!”.

“Hi-hi-hi… kayak orang deso aja! Wong deso gaya baru… garamnya sekarang sudah diganti dengan lauk-pauk… hi-hi-hi… sering-sering aja kalau begitu… biar cepat gemuk hi-hi-hi…!”, kata bu Ratna spontan.

“Mama kenapa ya…? Sukanya membuat orang kaget aja ya…?!”, protes Didit masih terkejut.

“Dari sononya… kali!”, jawab ibunya singkat. “Lagi pula siapa suruh datangnya pake diam-diam… hayooo! Siapa tahu ada sesuatu niatan yang…”.

“Eh-eh-eh… mama! Jangan berburuk sangka dong…! Siapa tahu ada yang Didit bisa bantu… begitu, iya nggak?”, jawab Didit sambil tetap memelototi tubuh ibunya walaupun kebagian hanya punggungnya saja.

“Nah gitu… dong…! Ini baru kebetulan namanya… tolong deh bawa pinggan lauk-pauk itu ke meja makan, dan… tunggu saja disana dengan duduk baik-baik ya, hi-hi-hi…”, kata bu Ratna lagi. ‘Sebab bila Didit tarlalu lama disini, bisa terpecah dua konsentrasi-ku… apalagi aku membelakanginya…!’.

***

10 menit kemudian, mereka, bu Ratna sang ibu dengan ditemani Didit, putera semata wayangnya… telah duduk berhadap-hadapan berseberangan… bersiap-siap memulai bersantap makan-siang mereka.

Baru saja bu Ratna ingin menyuap nasi ke mulutnya… dilihatnya Didit masih termangu-mangu sibuk memandangi paras cantiknya. ‘Waahh…! ‘Selain badan remajanya lapar… rupanya penis remaja-nya ini ikut-ikutan lapar rupanya…! Dasar ABG belum bisa mengatur dirinya sendiri!’. Segera bu Ratna mengetuk-ngetukkan sendoknya pada pinggiran piring makannya.

<Ting-ting…!> <Ting-ting…!> <Ting-ting…!>

Didit refleks memalingkan wajah kekiri kearah pintu depan rumah, walaupun area itu tidak bisa terlihat langsung, kemudian arah pandangan wajah gantengnya kembali kedepan dan melihat ibunya sedang bermain-main dengan sendok makannya pada pinggiran piring.

“Mama ini…! Mengganggu konsentrasi Didit saja…!”, Didit berkata spontan karena kaget.

“Didit…! Anakku sayang…! Coba dengarkan mama barang sejenak…! Kalau makan itu… ‘temannya’ mengunyah, dan… kalau lagi konsentrasi itu… ‘temannya’ belajar. ‘Aturlah dirimu secara dewasa… mama melihatmu sedari tadi seperti orang yang kebingungan saja!”, bu Ratna menasehati dan mengajarkan cara mengatur diri sendiri dengan benar, pada puteranya dengan sabar dan telaten.

“Iya ma… padahal tadi perut Didit sudah mengeluarkan ‘kokokan’-nya lho…!”.

“Nah… apalagi kalau sudah berbunyi kayak begitu…! Perutmu harus segera dipasok dengan makanan yang bergizi, kalau tidak… kamu akan mendapatkah ‘maag’…!”, kata bu Ratna menerangkan pada putera remajanya itu.

“Kok… mama tahu ya…? Apa mama sering nge-browsing internet juga tiap hari ya…?”, tanya Didit.

“Mama mempelajari ketika mama sekolah dulu, kan… komputer di jamannya mama belum secanggih seperti sekarang ini…”, jawab bu Ratna dengan sabar.

“Sebenarnya… kalau boleh berkata jujur…”.

Langsung saja perkataan Didit itu dipotong oleh bu Ratna, “Bukannya boleh saja sayang…! Kamu diharuskan berkata jujur pada mama-mu…! Sudah tidak ada rahasia-rahasiaan lagi diantara kita…!”.

“Boleh Didit melanjutkan lagi ma…?”, tanya Didit dengan penuh hormat pada ibunya.

“Silahkan…”, jawab ibunya singkat.

“Kecantikan mama itu lho… yang mengalahkan rasa lapar Didit…”, kata Didit sejujurnya.

“Oohhh… mengenai hal itu, mama tidak ingin menjawabnya sekarang… kecuali pada momen yang tepat dan… didalam ruangan yang tertutup! Sudah aah…! Yuk… mulai makan sekarang… bila mama terlebih dulu menyelesaikan makan ini, mama akan langsung ke dapur… banyak kerjaan yang menunggu disana… kamu jadi makan sendirian dan… kacian deh kamu hi-hi-hi…!”, sambil mulai menyuapkan nasi ke mulutnya yang sexy…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*