Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi di hari Sabtu 3

Semua Terjadi di hari Sabtu 3

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi di Hari Sabtu 2

Bagian 3 – ML Perdana Pada Sabtu Masih Pagi

Mereka berdua, sang ibu, bu Ratna dan Didit, putera semata wayangnya, baru saja usai menyelesaikan sarapan mereka. Biasa saja, setumpuk beberapa lapis roti yang diselang-selingi dengan irisan keju, irisan daging dan lembaran sayur segar serta sedikit bubuhan mayonnaise. Kalau mau ditambahkan saus cabe… juga tidak dilarang kok. Biasa orang-orang menamakan makanan racikan ini dengan satu kata pendek saja, yaitu ‘hamburger’ yang asalnya dari negeri sana… tapi disukai karena bisa dengan cepat disajikan… tidak pake ribet. Memang sih kalau diluar negeri sana di-konsumsi sebagai makan siang, tapi kita kan ‘perut nasi’, apa susahnya timbang menggeser jam konsumsi-nya beberapa jam lebih awal… kan oke-oke saja, bukan?

Duduk berdampingan diatas sofa panjang yang menghadap ke TV belum plasma yang berukuran diagonal 21 inci… memang sih TV model lama tetapi masih enak kok untuk ditonton… informasi-informasi yang didapat juga tidak berbeda dengan TV yang lebih canggih, saat itu mereka menonton acara berita pagi ala kadarnya.

Mereka bertiga sekeluarga (ayah + ibu + putera) menempati rumah ini belumlah lama, belum genap satu tahun… sekitar 10 bulanan saja.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya… bahkan lebih jauh lagi dari hari yang sekarang… bu Ratna dan Didit, putera tunggalnya ini, duduk berdampingan… sangat dekat sekali… Seandainya ada orang lain melihat mereka dari belakang… kelihatan seperti sepasang kekasih yang sedang memadu janji…

Bu Ratna mulai membuka percakapannya dengan Didit, “Dit… ingat selalu! Kalau kita berada diruang terbuka seperti sekarang ini… haruslah kita waspada dan berhati-hati dan tanganmu jangan gerayangan kemana-mana, kecuali didalam kamar yang tertutup…”.

Didit langsung menyelak perkataan ibunya… maklumlah ABG pada umumnya biasa selalu maunya segera cepat ingin tahu… tidak sabaran mendengar penjelasannya dahulu sampai selesai. “Emangnya… kenapa ma?”.

Tapi bu Ratna yang cukup bijak menghadapi anak ABG-nya ini, dia bisa memakluminya.

“Dengarkan mama dulu… sayang”, kata bu Ratna cukup sabar. “Kamu harus menjaga sikapmu, karena mama adalah masih tetap sebagai ibumu. Agar supaya orang-orang sekitar kita… seandainya ada… tidak terpancing rasa curiganya. Sebab kalau sampai mereka ‘membaui’ sesuatu hal yang tidak lazim… tentang adanya suatu hubungan tidak sewajarnya yang terjadi antara ibu dan anaknya… pastilah mama yang akan dipersalahkan. Karena dimata hukum, dengan usiamu sekarang ini, dipandang belumlah dewasa… sehingga konsekuensi hukumnya akan dilimpahkan pada diri mama sepenuhnya. Kalau kamu memang sayang pada mama-mu… ingat-ingatlah selalu hal ini…!”.

“Jadi gimana dong… kalau sampai ketahuan sama papa…?!”, tanya Didit jadi khawatir. “Wah…! Bisa berabe nih…!”.

“Huuusshh…! Kamu kok jadi berpikiran jelek begitu sama papa-mu sendiri?! Papa-mu itu bukan orang lain… tau!”, kata bu Ratna mengeritik sikap Didit terhadap papanya.

“Tapi-tapi…”, kata Didit terputus… dipotong oleh bu Ratna seketika.

“Tidak pake tapi-tapian… sayang…! Papa-mu itu… sebelum kami menikah, adalah… pacar mama yang pertama dan terakhir… tau! Kami saling mencintai satu sama yang lain, dan… apa yang dianggap papa-mu baik… adalah baik juga bagi mama, demikian juga sebaliknya. Tidak ada rahasia diantara kami, bahkan ketika papa-mu mengaku dan menceritakan tentang bagaimana dia menggauli sekretarisnya yang pintar tapi rupawan serta sudah berkeluarga… dikala mereka melakukan kunjungan bisnis diluar kota… tidak jadi masaalah bagi mama. Sebab mama dalam mempertimbangkan sesuatu adalah memilih mana yang paling kecil kadar buruknya dari semua hal yang buruk-buruk. Misalnya bagaimana seseorang yang lagi ‘horny’ tidak pada tempat… lalu melampiaskannya pada PSK yang penuh resiko penyakit yang menakutkan… apa jadinya nanti? Demikian juga denganmu… apalagi setelah mama mendengar perkataanmu tadi dikamar mandi tadi bahwa teman-temanmu di sekolah… cowok maupun cewek, banyak yang doyan seks…!”, bu Ratna menjelaskan panjang-lebar semuanya pada Didit agar supaya tidak menjadi terlalu khawatir tentang sesuatu hal… yang memang kekhawatiran itu tidak diperlukan.

“Iya ma…”, jawab Didit singkat, maklumlah ABG ini hanya samar-samar saja mengerti tentang penjelasan panjang lebar ibunya ini… saat ini sebagian besar perhatiannya hanyalah pada tempat tidur ibunya semata…!

Hal ini tidak luput dari perhatian bu Ratna, dia mengerti apa sesungguhnya terjadi dalam benak Didit, putera tunggal yang disayanginya ini.

“Kamu ‘horny’ ya?”, sambil memandang wajah ganteng anaknya ini langsung saja bu Ratna bertanya ‘to the point’.

“Hmmm… eehh… gimana ya… kok mama tahu sih?”, jawab Didit tersipu malu.

“Sama dong…! Kalau begitu…!”, timpal bu Ratna singkat tapi terang-terangan.

“Sama apanya ma?”, tanya Didit, kali ini dia memang tidak mengerti apa yang dimaksukan ibunya itu.

Bu Ratna menjawab dengan satu kata saja, “Horny!”.

Perlu beberapa detik Didit mengolah jawaban ibunya, “Ooohhh… mama ternyata…!”.

“Ternyata apa…?”, tanya bu Ratna singkat.

“Yaaa… itu…!”, jawab Didit singkat tapi malu-malu.

<Hi-hi-hi…!> <He-he-he…!>, mereka jadi tertawa berbarengan memikirkan jawaban mereka masing-masing.

***

Setelah memeriksa kembali dengan seksama semua pintu, jendela serta mengawasi sejenak keadaan diluar rumah dengan memandang melalui jendela kaca tentunya. Barulah mereka berdua bergandengan tangan… melangkah menuju kamar tidur utama. Seandainya pun ada orang bisa melihat mereka dengan keker misalnya… tidak ada suatu hal yang janggal terlihat. Bergandengan tangan antara ibu dan putera semata wayangnya adalah suatu hal yang lumrah… yang tidak patut untuk dicurigai sedikitpun.

Segera begitu mereka sampai didalam kamar tidur utama, dengan cepat bu Ratna mengunci pintu kamar dari dalam.

“Kamu merasa jijik tidak? Seandainya… mama minta sesuatu hal yang harus kamu lakukan pada… tubuh mama?”,

“Setiap titik dari tubuh mama… sama sekali tisak ada yang menjijikkan bagi Didit… ma!”, jawab Didit mantap menjawab permintaan ibunya.

“Bapak dan anaknya… sama saja…!”, kata bu Ratna tersenyum.

“Pasti sama lah ma! Mama pura-pura tidak tau aja…! Papa dan Didit kan sama-sama punya penis…”, jawab Didit asal.

“Huuusshh… sok tahu deh kamu…! Dikit-dikit penis… dikit-dikit penis lagi… penismu ini sekarang sudah dibawah pengawasan mama sepenuhnya, tau nggak!? Yang mama maksudkan adalah… papa-mu suka merayu… begitu juga kamu… sebagai anaknya…! Serupa tapi tak sama…!”, kata bu Ratna pada Didit, anaknya.

“Kok bisa begitu ma?”, tanya Didit singkat.

“Iyalah… papa-mu kalau berkeinginan merayu wanita lain… mama akan ijinkan… tapi untuk kamu… ada batasannya… selama kamu masih berkeinginan ngeseks dengan mama, kamu dilarang merayu gadis, wanita apalagi nenek-nenek…!”, kata bu Ratna cukup tegas.

“He-he-he… nenek-nenek kok dibawa-bawa… Kok bisa begitu ma?!”, kata Didit bernada protes pada ibunya.

“Pertama, kamu belum cukup umur… kedua, kamu bukan suami mama… tetapi adalah anak mama yang masih abege…”, kata bu Ratna… yang sudah tidak mampu mengendalikan keinginan seks-nya lagi… langsung saja menangkupkan telapak tangan kanannya pada tonjolan di pangkal paha Didit.

“Eeehhh…! Mama ngagetin aja nih”, kata Didit melonjak kaget oleh cekalan tangan ibunya secara tiba-tiba itu. Tapi dengan cepat hilang rasa kagetnya, “Ini apa yang disebut cekalan mesra juga ya ma…? He-he-he…”.

“Tau aahh… gelap!”, jawab bu Ratna tidak sabar lagi menahan birahinya sejak dari kamar mandi tadi… “Buruan buka kenapa… celanamu ini! Nanya-nanya melulu nih sedari tadi…!”.

Cepat saja mereka berdua menanggalkan semua pakaian yang mereka kenakan… kelihatan seperti perlombaan adu cepat nyopotin pakaian sendiri layaknya…

Hasilnya sih… tidak ketahuan siapa yang paling cepat meloloskan pakaiannya.

Ibu dan puteranya kini… berbugil ria saling berhadap-hadapan, saling mengagumi tubuh telanjang didepannya masing-masing… tidak lama sih…! Serentak saling berpelukan penuh nafsu… terjadi lagi FK untuk kedua kalinya di pagi hari ini, lebih seru dari FK pertama pada saat mereka masih berada dikamar mandi… yang dilakukan mereka dengan kalem tapi penuh dengan kemesraan.

“Sayang… mama duluan ya… yang naik ke tempat tidut… kamu nyusul ya!”, kata bu Ratna yang suara terdengar rada gemetar saking nafsunya…

Bu Ratna langsung saja berbaring terlentang ditengah-tengah tempat tidurnya, sambil membuka kedua pahanya yang padat tapi sangat mulus itu agak lebar menyamping ke kiri dan ke kanan. Tujuannya agar Didit bisa dengan leluasa ngedeprok didepan vaginanya yang bersemu merah jambu dan sudah membasah itu… Sebenarnya langsung ditoblos dengan penis tegang milik Didit pun tidak masaalah… tapi bu Ratna kalau lagi ngeseks biasanya penuh dengan variasi… meskipun bukan terlalu ekstrim atau yang aneh-aneh.

Sedangkan Didit yang masih remaja… dari awal ibunya berbaring terlentang… tidak bosan-bosannya memelototi payudara montok, mulus ibunya. Dia berdecak kagum dalam hati. ‘Bukan main tuh pentil-pentilnya mama… warnanya maroon sangat muda hampir mendekati warna pink… tidak terlalu besar tapi mendongak kaku lurus keatas karena ditopang oleh sepasang buahdada besar, montok… pasti deh kekenyalannya oke banget!’, pemandangan indah yang menggiurkan ini menyebabkan penisnya yang dari tadi tegang… bertambah keras saja. Padahal orgasme yang bakal didapatnya nanti justru lebih dominan diakibatkan oleh ‘ulah’ otot-otot vagina klimis bergaris tebal vertikal… ditengah-tengah pangkal paha ibunya.

Bu Ratna yang memperhatikan tatapan mata Didit yang memelototi susunya itu, memberi waktu beberapa detik lagi, lalu menegur Didit yang fokus.

“Hayooo sayang… katanya kamu tidak jijik…!”, kata bu Ratna pelan penuh gairah birahi sangat tinggi.

Didit yang ditegur tersentak gelagapan jadinya. “Eeh… iya ma… Didit harus melakukan apa…?”.

‘Dasar remaja masih bau kencur… udah tau mamanya sudah ngangkang begini… pake tanya lagi…!’, bu Ratna ngedumel dalam hati… tapi dengan segera menyadarinya… Didit kan belum pernah melakukannya alias… masih perjaka gitu lho…

“Maksud mama… kamu tau nggak oral-sex…?”, tanya ibunya sabar.

“Ooohh… itu ma, kirain apa gitu… kalau teori-nya sudah lulus ma! Summa Cum Laude… lagi…!”, jawab Didit dengan pongah.

Bu Ratna jadi heran mendengarkannya, “Emangnya… ada mata pelajaran kayak begituan di kelas-mu… Apa…??!”.

“Yaaa… tidaklah ma! Privat-les di internet… he-he-he…”, kata Didit dengan jujur… jadi ketauan deh… dia suka meng-akses situs porno di notebook laptop-nya.

“Huuuhh… dasar nakal! Pakai ‘lulus dengan pujian’ segala lagi… bilang aja situs porno illegal gitu…!”, kata bu Ratna jadi keki. “Yang terpenting prakteknya dong…!”.

“Oke… mama-ku sayang… yang jelita…!”, kata Didit merayu sambil naik ke tempat tidur dan… langsung ngedeprok didepan vagina ibunya.

Bu Ratna yang memperhatikan ulah putera tunggal yang masih remaja, berkata dalam hati, ‘Ngegombal lagi… persis sama dengan papa-nya, dasar bapak sama anaknya sama saja…!’.

“Aduh… Dit…! Jadi kaget…!”, seru bu Ratna tiba-tiba sambil mengangkat pinggul.

Didit mengangkat wajahnya sejenak, memandang wajah cantik ibunya, sambil berkata, “Kaget… tapi enak kan…?! He-he-he…!”.

Bu Ratna jadi ikut-ikutan tertawa melihat wajah Didit yang sumringah tapi genit… jadi lucu saja kelihatannya. “Hi-hi-hi… kalau sudah begini… sudah tidak ada bedanya kelakuanmu Dit… sama papa-mu… hi-hi-hi…!”.

“Anak siapa dulu… dong he-he-he…”, kata Didit sambil nyengir kuda.

“Sudah aahh… jangan ngomong terus…! Yang penting action! Praktek-mu ini bisa Summa Cum Laude juga nggak… seperti teori yang menurut penilaianmu sendiri sudah lulus itu. Action…! Anggap saja mama lagi ngetest kamu… Ooohh… nikmatnya! Benar Dit…! Ya… benar itu kelentit mama… hajar aja pake ujung lidahmu…! Oooh… nikmatnya…!”, terlonjak-lonjak pinggulnya jadinya. ‘Ternyata teori… sukses juga memainkan perannya… dalam praktek yang lagi berlangsung ini…’, pikir bu Ratna.

Sekarang Didit sudah tidak bisa bertanya-tanya lagi, soalnya… mulut dan lidahnya lagi sibuk berat… ngelonin tuh kelentit ibunya.

Terguncang-guncang hebat pinggul bu Ratna merasakan nikmatnya… karena kelentit-nya digempur habis-habisan oleh lidah Didit yang kesat.

‘Biar tahu rasa…! Pake nantangin oral-sex lagi… pokoknya kalau mama minta menghentikan sebentar… tak usah ya…! Soalnya Didit belum mempelajari cara ngeremnya… he-he-he…’, tekat Didit dalam hatinya dan… hatinya amat sangat senang sekali… melihat pinggul ibunya kelojotan terus… saking merasakan geli dan nikmatnya. ‘Lagipula… anggap saja sebagai balas jasa untuk BJ perdana yang diterima Didit tadi didalam kamar mandi, he-he-he…”, kata Didit dalam hatinya dengan bangga… bisa membuat ibunya sendiri sampai kewalahan menerima kenikmatan-kenikmatan oleh ulah ujung lidah yang agak kesat itu.

Biar Didit belum pernah mempraktekkan sebelumnya… privat-les di internet sangat jelas sekali dan mudah diikut, apalagi oleh Didit yang cerdas… gimana tidak… pake gambar nyata segala…! Bukannya gambar kartun… plus visual video yang diperagakan oleh sepasang remaja… yang hampir seumuran dengannya.

Baru juga sekitar 10 menitan sesi oral-sex ini berlangsung, bu Ratna sudah merengek-rengek minta dihentikan sejenak kegiatan mereka. Alasan bu Ratna bermacam-macam… soal haus-lah, soal pinggulnya cape-lah dll. Merasa kata-kata bokisan tidak berhasil, bu Ratna memikirkan mencari cara lain yang lebih ampuh. Masaalahnya yang dirasakan pada vagina-nya saat ini… sudah bercapur-aduk…! Ya nikmat bahkan sangat… geli dan rasa ngilunya mulai terasa.

‘Kalau dibiarkan lebih lama… ooohhh… minta ampun nikmatnya…! Aku bisa KO nih ditangan anakku sendiri… remaja yang masih bau kencur ini…! Tidak bisa tidak…! Aku harus segera melakukannya!’, kata bu Ratna dalam hati… spontan kedua tangan lentiknya menjambak rambut Didit yang tidak terlalu panjang.

Merasa rambutnya dijambak oleh ibunya, dengan sangat cepat dan tepat… kedua tangan menjulur kearah payudara montok milik ibunya yang indah mempesona hatinya, dan… meremas-remas kedua susu ibunya, malah diselingi dengan plintiran pada kedua pentil susu ibunya. Sembari kedua tangan Didit sibuk ‘menggarap’ payudara montok dan kenyal… mulut dan ujung lidah Didit tidak sekejap pun menghentikan aksinya.

Segera bu Ratna menarik mundur kedua tangannya untuk memegang kedua tangan Didit yang nakal lagi asyik menggerayanginya… Tapi sudah terlambat…! Rangsangan yang dilakukan Didit secara simultan pada kedua area bagian tubuh bu Ratna yang sangat sensitif… memicunya segera mendapatkan orgasme pertamanya pada pagi ini.

Setengah teriak bu Ratna berkomentar dan sekaligus mendesah, “Aduuuhhh nikmatnyaaa! Nakal sekali kamu sayang! Ooohhh…!”.
<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.
Menyemprot-nyemprot cairan orgasme bu Ratna… membasahi wajah Didit yang sengaja tidak bergerak menghindari, malahan tanpa rasa jijik sedikitpun menjilati vagina ibunya itu… tapi hanya sebentar. Ada yang jauh lebih penting lagi, yaitu… mendapatkan ML perdana-nya!

Melihat ibunya masih terlentang lemas… masih menikmati orgasme pertamanya. Segera Didit menyeka wajahnya dengan T-shirt yang ditaruhnya dipinggir tempat tidur.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Didit langsung menindih tubuh jelita ibunya yang pasrah saja. Mengenyot-ngenyot sebentar pada kedua pentil susu ibunya kemudian dengan masih menindih tubuh ibunya… menggapaikan tangan kanannya kebawah… memegang batang penisnya yang super tegang itu… mengarahkan palkonnya didepan lubang nikmat vagina ibunya dan… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Didit yang sangat tegang.

Tidak pakai waktu sela… Didit langsung memompa penisnya keluar-masuk-keluar-masuk… ini disebabkan oleh gerakan turun-naik pinggulnya… semakin lama semakin cepat.

Tidaklah memerlukan waktu lama untuk Didit, remaja pemula ML ini menyetubuhi ibu kandungnya sendiri… Bu Ratna yang sadar dan pasrah, dan tahu aksi Didit ini tidak berlangsung lama… paling lama sekitar 3 – 4 menitan. Bu Ratna tidak mampu memberi arahan dan tuntunan seks, agar mereka berdua mendapat nikmat bersetubuh secara maksimal… tapi karena merasa energy-nya belum pulih dan masih lemas… karena tadi tidak diberi kesempatan istirahat oleh Didit walaupun hanya sejenak…

<CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!> menyembur-menyembur air mani Didit didalam vagina ibunya… bahkan semprotan pertama yang sangat kuat… langsung memicu vagina bu Ratna mendapatkan orgasme keduanya… <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

Terhentak-hentak berbarengan pinggul ibu dan anaknya sebentar… diam sebentar… lalu terhenyak tubuh bu Ratna diatas tempat tidurnya untuk kedua kalinya langsung mengantarkan seluruh tubuhnya masuk ke alam mimpi.

Sedangkan Didit seluruh tubuhnya telah masuk ke alam mimpi beberapa detik lebih awal. Tadi ketika Didit berusaha bangkit dan mencopot batang penis dari vagina ibunya yang masih menjepit dengan kuat… tubuh Didit jatuh lagi dan sekarang posisi tubuhnya menindih tubuh ibunya… tubuh bagian atasnya bergeser kekiri, sehingga tidaklah terlalu membebankan tubuh jelita ibunya.

<Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!>
<Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!>
<Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!>

Siapa yang mampu mendengarkan deringan santer telepon rumah itu. Sang ibu terlentang lemas… sedangkan sang anak menelungkup lemas, mereka berdua telah berada dalam alam mimpi mereka sendiri masing-masing…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*