Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi di hari Sabtu 2

Semua Terjadi di hari Sabtu 2

Cerita Sebelumnya : Semua Terjadi di Hari Sabtu 1

Bagian 2 – Mandi Bareng Pada Sabtu Pagi

Mereka berdua, sang ibu beserta putera tunggalnya yang remaja sudah berada dikamar mandi, dalam kamar tidur utama itu.

Didit segera melucuti kaus oblongnya, sedangkan celananya sudah di-dobel… tadi sewaktu dia kekamar tidurnya sebentar… dengan sangat cepat memakainya.

Bu Ratna pun sudah berdiri menghadap tembok, yang posisi-nya tepat dibawah dus air mancur kurang lebih 70 cm-an diatas kepalanya. Sedangkan bathtub dipinggir tembok disebelah kiri dimana bu Ratna berdiri sekarang, dibiarkan kosong dan kering karena tidak diisi air. Memang bu Ratna tidak suka berendam lama-lama diwaktu pagi… sementara pekerjaan rapi-rapi rumahnya yang sudah banyak menumpuk, harus segera dikerjakan… rutin, setiap harinya.

Dengan pelan saja, bu Ratna menanggalkan gaun terusan sutera khusus untuk tidur itu. Kemudian melipat-lipatkannya agar tidak sampai menjuntai kebawah dan mengenai lantai kamar mandi, kemudian menjulurkan tangannya kebelakang lewat bahu indahnya sebelah kanan sambil memegang baju terlipat itu. “Ini… Dit! Tolong taruh di gantungan baju ditembok sana… dekat wastafel”, pinta bu Ratna lembut pada putera tunggalnya.

Didit yang dari awal acara ‘striptease’ itu berlangsung, mengawasi dan sangat terpesona akan tubuh indah pas didepan matanya ini, jantungnya berdegup sangat kencang dengan tangan kanannya yang gemetar menyambut baju terlipat itu dengan segera menaruhnya ditempat yang dimaksudkan ibunya.

Bu Ratna sama sekali tidak menduga sampai sejauh itu, efek yang akan timbul akibat aksinya itu terhadap Didit, remaja matang putera tunggalnya itu. Aksinya memang tepat sekali disebut ‘striptease’… menelanjangi diri sendiri sambil menggoda hati orang yang tengah menontonnya.

Didit sudah kembali pada posisi-nya yaitu berdiri tepat dibelakang tubuh mulus ibunya, yang cantik jelita dan… beraroma kental… sangat sensual sekali! Penis remajanya langsung mengacung tanpa ampun mendorong celana dobelnya… menonjol kedepan.

Aksi ‘striptease’ berulang kembali… total 3 kali, yaitu ketika menanggalkan gaun tidur dan melepas BH tipis dan terakhir melucuti sendiri CD yang juga tipis…

“Ooohhh…!”, desah Didit terlepas keluar begitu saja tanpa disengaja.

Bu Ratna menoleh kebelakang sekilas dan berkata, “Ini sesuai dengan kata-katamu tadi… iya kan?! ‘Cool’ aja kenapa… kan mandi dirumah sendiri… telanjang tanpa busana…! Ini sambut
spons mandinya”. Bu Ratna menyodorkan spons itu dan segera membuka aliran air mancur dari dus diatas kepalanya, mulai membalur sekujur tubuh telanjangnya dengan sabun cair yang beraroma bunga mawar merah yang wangi.

“Hei… jangan bengong dong…! Ayo… mulai menggosok punggung mama! Tapi jangan keras-keras yaaa… bisa lecet kulit mama… nantinya”, kata bu Ratna memberikan arahan cara menggosok punggung putih bersih dan sangat mulus itu.

Didit mulai menggosokkan spons mandi pada punggung ibunya dengan tangan kanan yang agak gemetaran, kadang-kadang agak melenceng seperti mau mengarah ke sisi pinggir dari payudara montok milik ibunya. Spontan mengundang reaksi yang keras dari ibunya. “Eeiittt…! Jangan kedepan-depan dong… kalau bagian depan sih… mama bisa sendiri”, kata bu Ratna yang tangan kanannya juga memegang spons mandi sambil digosok-gosok pelan disekujur bagian depan atas tubuhnya.

“Aaaduuh… risih amat sih… nih!”, Didit tanpa sadar berkata.

Segera bu Ratna menengok kebelakang… ‘Ada apa gerangan yang terjadi?’, tanya Bu Ratna dalam hati. Dia memandang wajah ganteng puteranya sekilas, kemudian melihat kebawah pada celana Hawaii komprang yang menonjol kedepan.

“Yaaa… ampuunnn… Didit! Sampai segitu horny-nya kamu ini… masak sih… sama mama-mu sendiri?!”, seru bu Ratna keras sambil merasa ‘kagum’ sekali, betapa besar tonjolan pada celana yang dipakai Didit itu.

“Maaf… ma…”, kata Didit tersipu malu. “Bukan Didit… yang buat itu… sampai begitu… itu… kayaknya… dengan sendirinya deh…. Didit sudah berusaha keras mencegahnya… ttaaa”.

Perkataan Didit yang terputus-putus itu, segera dipotong bu Ratna, “Mama tidak marah kok… mama ngerti… pasti otak ngeresmu itu yang punya andil besar… menyebabkan itu semua terjadi…”.

“Jadi gimana dong… sekarang?”, tanya Didit harap-harap cemas.

“Yaaa… apa boleh buat… mungkin tubuh telanjang mama-mu ini juga punya andil besar… menyebabkan itu semua terjadi… yaaa sudah…”, menarik napas dahulu dalam-dalam, tapi keburu diselak oleh Didit yang tak sabaran.

“Sudah yang gimana dong… ma?”, tanya Didit nggak sabaran.

“Main potong aja sih kamu…! Buka deh celanamu… semuanya!”, kata bu Ratna setelah berpikir kilat dan mengambil keputusan… yang tidak terlalu yakin… ini salah atau benar… selayaknya dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya yang telah remaja matang itu.

Dilihatnya Didit merasa ragu-ragu dan kurang yakin akan kebenaran perintah ibunya itu. Cepat bu Ratna meng-antisipasi keadaan, dengan berkata lagi, “Atau mama yang membukakannya untukmu… tapi dengan syarat wajib menerima bonus dari mama… tidak boleh tidak!”.

“Bonus??”, tanya Didit heran sekali. “Bonus apaan tuh…?”.

“Pasti kamu akan sulit melupakan bila menerima bonus ini, yaitu… satu atau dua kali sentilan mesra yang keras pada penis-mu… yang kelihatan besar itu”.

“Waaah…! Itu… toh?! Tidak ma… nggak usah pake bonus-bonusan deh… Biar mesra tetep aja menyakitkan tau…! Didit buka sendiri saja deh…”, jawab Didit yang jadi kecewa terhadap bonus ibunya itu. ‘Bisa-bisanya… bonus kok… kayak begituan’, Didit ngendumel dalam hatinya… mangkel tau!

“Hi-hi-hi…! Ya sudah… tunggu apa lagi? Hi-hi-hi…”, bu Ratna tertawa geli melihat reaksi anaknya itu.

Didit membuka lapis pertama celananya, yaitu celana Hawaii yang kombor.

Pada saat membuka kancing celana kedua, celana pendek jeans-nya, Didit sempat membayangkan, ‘Begitu penisku nonggol… jangan-jangan… langsung dicaplok lagi…!’. Sampai-sampai dia menggigilkan bahunya. “Iiihhh…!”, terlontar keluar kata-katanya dengan keras dan sangat jelas didengar bu Ratna.

Bu Ratna tertawa melihat tingkah-polah anaknya itu. “Hi-hi-hi… sudah…! Tidak usah membayangkan yang aneh-aneh… mama-mu ini sudah jinak kok… hi-hi-hi…”, bu Ratna terus saja menggoda anaknya, Didit, remaja yang masih bau kencur itu.

“Mama nggeledekin Didit terus… nih!”, kata Didit kesal.

“Atau mau nenen dulu… apa?”, kata bu Ratna masih menggoda anaknya sambil menyodorkan buahdadanya yang montok mendekati wajahnya Didit. Tapi kali ini godaannya bukan saja sangat berhasil bahkan efeknya sungguh luar biasa pada diri Didit.

Begitu Didit manatap buahdada ibunya yang ranum, montok serta masih sekal itu langsung pupus sudah semua keragu-raguan bahkan penisnya menjadi semakin keras saja.

Dengan cepat Didit melepas celana pendeknya sekaligus CD berbarengan, terlihat penisnya tegak berdiri, sangat garang kelihatan bagi remaja seusia Didit.

Terlihat jelas 2 manusia bugil, ibu dan anaknya, yang muda dengan wajah penuh senyum simpul, sedangkan yang tua, sedikit ternganga mulutnya, heran dan takjub. Bu Ratna dengan mempertimbangkan segala sesuatu, dalam benaknya dia berpendapat… pasti semua wanita dari kalangan baik-baik ataupun tidak, wanita komersil ataupun amatir pasti dengan sukarela memperkenalkan anaknya akan kenikmatan bersenggama untuk pertama kalinya… serta merampas keperjakaan anak semata wayangnya.

‘Tidak! Takkan kubiarkan semuanya itu terjadi pada putera tunggal, remaja ganteng milikku seorang… Hanya aku, ibunya yang akan membawanya kedalam dunia penuh nikmat persetubuhan untuk pertama kali baginya…! Itu pasti!’, demikian kesimpulan akhir atas semua pertimbangan yang berlangsung dalam benaknya… menjadi tekadnya yang amat kuat. Dia akan mundur dengan teratur bila saatnya tiba… yaitu sekitar 7 – 8 tahun lagi, ketika Didit berumur 24-25 dan sudah lulus kuliah serta telah menemui tambatan hatinya. Lagi pula bukankah gadis yang akan menjadi tambatan hatinya akan menjadi lebih beruntung… mendapatkan suami yang pintar memuaskan isterinya…?

Dengan perlahan tangan kanan bu Ratna menyentuhkan ujung jari telunjuknya yang lentik sambil menekannya sedikit. ‘Bukan main… tidak bergeming barang sedikitpun… saking kerasnya batang penis Didit… Sebegitu sangat ‘horny’ padaku… mamanya sendiri!’, kata bu Ratna dalam hati, mengagumi betapa kerasnya penis anaknya ini.

Dengan kalem yang dipaksakan (bu Ratna jadi ikut-ikutan ‘horny’) mulai menggenggam penis Didit dengan cara melingkari jari-jari tangan kanannya dan mengurut-ngurut lembut batang penis itu sambil mengocok pelan dan lembut…

Spontan si empunya penis keras itu, menyandarkan bahunya pada permukaan tembok dibelakangnya. “Ooohh… mama! Lembut sekali tangan mama…”, mendesir hatinya merasakan sensasi yang baru pertama kali dirasakan dalam hidupnya.

Bu Ratna yang melihat wajah Didit yang matanya merem-melek keenakan, berkata, “Lembut apa enak… sayang?”.

Didit membukakan matanya, memandang paras mama tersayangnya dengan penuh kasih plus… gairah birahi yang tinggi. “Ya… lembut, ya… enak ma! Nikmat sekali…!”.

“Hi-hi-hi… ini baru permulaan sayang… enak dan nikmatnya masih level-1… hi-hi-hi”, kata bu Ratna tersenyum bercampur gejolak gairah dan hasrat seks tinggi pada vagina-nya yang klimis karena dia rajin secara rutin mencukur bulu-bulu disekitar organ vitalnya itu.

“Nikmat sekali…! Emangnya… levelnya sampai berapa sih ma?”, tanya Didit pengen tahu.

“Sepuluh”, jawab bu Ratna pendek sekenanya… asal saja, diperhatikan palkon anaknya itu sudah mulai agak membasah dan licin. Dengan ibu jarinya ditotol-totolkan pelan pada palkon itu, panjang penis Didit 15 cm, tidaklah mengecewakan bagi remaja seusia dia.

Terlonjak-lonjak pinggul Didit jadinya merasakan totolan-totolan ibu jari tangan kanan ibunya itu, “Aduh…! Ngagetin… tapi… nikmat sekali! Apa sekarang sudah level-2 ya ma…?”. Sempat-sempatnya Didit bertanya soal level segala sambil menikmati semua aksi mama tercintanya.

“Belum… masih jauh!”, kata bu Ratna singkat menjawab pertanyaan anaknya. “Sudah… tidak usah mepikirkan level-levelan… itu akan mengurangi rasa nikmat yang kamu rasakan”, kata bu Ratna selanjutnya menghindari pertanyaan tentang level, kapan saja level ini akan terjadi atau dalam keadaan tertentu… sebenarnya masuk level berapa… ribet deh jawabnya, orang kata… dia tadi ngomong asal sekenanya saja kok… ‘Aku sendiri saja tidak tahu soal level-levelan, cuma rekaan aku saja kok!’, bu Ratna jadi kapok… ngomong seenak udelnya… pada Didit yang penuh konsentrasi dan cerdas ini.

Itulah pengalaman HJ yang perdana bagi Didit.
(NB: HJ = Hand Job)

Lalu bu Ratna mendekatkan wajah cantiknya pada palkon Didit dengan cara ngedeprok dekat pinggul Didit, dan dengan tangan kanannya memegang penis Didit yang super keras itu, diarahkan ke mulutnya. Mulut sexy-nya langsung saja ‘mencaplok’ dan segera melakukan kenyotan-kenyotan pelan sembari mulutnya bergerak kebawah lalu balik lagi keatas… awalnya pelan saja.

Inilah pengalaman BJ yang perdana bagi Didit, si perjaka tong-tong ini. (NB: BJ = Blow Job)

Tersentak hebat pinggul Didit merasakan kenikmatan ini.

‘Ternyata benar juga dugaanku… tapi ‘caplokan’ ini lain sekali dengan apa yang aku takutkan tadi…! Persis sama dengan yang pernah kutonton secara diam-diam di notebook laptop-ku. “Oohhh… nikmat sekali ma!”, sambil menjundul-nyundulkan pinggulnya kearah mulut sexy ibunya.

Tapi dengan cepat, tangan kiri bu Ratna mendarat diatas perut rata puteranya sembari menekannya sedikit. Didit yang memang remaja cerdas ini segera tahu apa yang dihendaki ibunya. Rupanya ibunya menyuruh pinggulnya jangan menyundul-nyundul lagi, sementara beliau sedang memberikan kenikmatan-kenikmatan yang bertubi-tubi.

Didit yang kenikmatan hampir tidak bisa tertahankan lagi, tanpa sadar berseru hampir lantang, “Ooohhh… ma! Mama-oh-mama-oh-mama…!”.

Bu Ratna yang mengetahui gelagat ini, segera saja memperkuat kenyotan serta mempercepat selusuran mulut sexy-nya sepanjang batang penis Didit… karena dia tahu inilah saatnya Didit akan segera mengalami orgasme perdana-nya… pertama kali dalam hidup-nya.

“Aduh ma…! Nikmatnya… nikmat sekali..! Mau muncrat nih ma…! Mama-mama-mama… awas ma! Kayaknya… sudah mau sampai ke ujung… nih!”.

Mendengar kata-kata Didit, bu Ratna tidak bergeming… semakin mempercepat saja selusuran mulut sexy-nya sepanjang batang penis anaknya itu, kebawah-keatas-kebawah-keatas-kebawah-keatas…

Didit langsung berteriak setengah lantang, “AAAHHH… MAMA…!”.
<Crrooottt…> <crrooottt…> <crrooottt…> <crrooottt…> menyembur-nyemburkan air mani-nya dengan kuat… langsung diterima oleh mulut sexy ibunya yang tetap saja berkutat tidak mau melepaskan palkon anaknya itu.

Setelah dirasakan oleh bu Ratna kedutan-kedutan pada palkon Didit sudah sangat melemah… penis Didit masih agak keras… serta sudah bersih oleh mulut dan jilatan-jilatan lidahnya, bu Ratna melepaskan penis itu dan segera berdiri dan berjalan mendekati wastafel dan berkumur-kumur supaya hilang dari bau sperma. Bu Ratna tidak jijik dengan bau sperma, buktinya dia menelan habis air mani Didit yang menyembur-nyembur banyak sekali. Ini disebabkan oleh perkiraan bu Ratna yang sudah berpengalaman dalam hal ngeseks ini adalah… belum tentu si empunya menyukai bau sperma-nya sendiri. Lagi pula dia ingin menutup sesi ini dengan FK yang lembut sebagai FK perdana bagi putera sekaligus kekasih muda-nya ini.

Didit masih bersandar di tembok dengan mata tertutup dengan wajah cerah dan merasa sangat puas. Ketika mendengar ibunya datang mendekat, Didit membukakan matanya dan berkata pelan pada ibunya, “Terimakasih ya ma… atas segala kenikmatan ini… sekarang Didit mengerti… kenapa teman-teman Didit doyan sekali melakukannya… baik yang cowok maupun yang cewek…”.

“Emangnya kamu merasa nikmat… Apa…?”.

“Iya… dong ma! Ini kan pengalaman pertama Didit!”, kata Didit.

“Kok mama tidak merasakannya yaa…?”, canda bu Ratna pada anaknya.

“Ooohh maaf ma! Kenapa Didit jadi egois begini ya? Jadi
Didit harus melakukan apa ma?”, tanya Didit.

“Mama cuma bercanda kok… sayang”, kata bu Ratna menenangkan hati Didit yang kelihatan merasa bersalah. “Kita kan belum melakukan ML… tapi tidak sekarang”.

Mendengar itu, Didit langsung tergugah gejolak birahi remajanya, penis mulai bergerak bengun lagi… “Kapan dong ma… ML-nya?”, tanya Didit harap-harap cemas penuh antusias.

“Kita selesaikan mandi pagi ini dengan tuntas dan kamu mandi saja bersama mama disini, setelah itu kita sarapan pagi, istirahat sebentar dan… kita lanjutkan ML perdana-mu diatas tempat tidur mama… OK”.

Sambil mendekatkan mulut sexy-nya pada mulut remaja Didit, bu Ratna berkata, “Kita tutup sesi dengan ini…”. Langsung bu Ratna melakukan FK dengan putera tunggal dengan lembut dan penuh gairah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*