Home » Cerita Seks Mama Anak » Semua Terjadi Di Hari Sabtu 1

Semua Terjadi Di Hari Sabtu 1

Pendahuluan:

Sebuah bangunan gedung yang menghadap ke timur itu, tidaklah terlalu besar, jauh dari kesan mewah. Karena itu, tidak sampai mencolok kelihatannya bagi beberapa pasang mata orang-orang yang berlalu-lalang di jalan rata beraspal didepan gedung itu. Pandangan mata mereka lebih sering ditujukan justru pada hamparan tanaman berbunga sarat dalam taman yang luas dikiri dan dikanan samping gedung itu. Sangat asri dan sedap dipandang mata. Sedang-kan halaman didepan gedung itu dipenuhi dengan rerumputan pendek yang hijau diselingi dengan sebagian alur permukaan tanah pada titik-titik tertentu yang disemen rata untuk pijakan kaki orang dan roda-roda mobil tentunya.

Penghuni rumah gedung ini tidaklah banyak, hanya 3 orang saja yaitu Damarto (40) dan isterinya Ratna (36) serta anak tunggal mereka yang telah remaja, Didit (17).

Saat ini mereka tidak mempekerjakan PRT… karena belum mendapatkannya. Rencananya pak Damarto yang sekarang berada di kota K sedang mengawasi proyek yang sedang dikerjakan oleh serombongan tukang dan teknisi, para karyawannya. Jika ada waktu luang pak Damarto atas saran dari salah satu anak buahnya itu akan berkunjung pada desa-desa terdekat disekitar kota K itu, untuk mencari satu atau dua orang PRT muda yang akan dinilai olehnya. Calon PRT-nya haruslah muda dan sehat, cekatan bekerja dan tidak terlalu minus wajahnya… gaji yang diminta tidak menjadi masaalah bagi pak Damarto, boss dari perusahaannya sendiri. Syukur-syukur bisa mendapatkan yang kece… he-he-he…

Bagian 1 – Pagi Yang Cerah Di Hari Sabtu

Jam dinding menunjukkan pukul 6.30, masih cukup pagi. Tumben pagi hari ini, langit sangat cerah sekali dan matahari yang berada nun jauh disana… diatas langit yang bersih dari awan, memancarkan cahayanya yang hangat tapi menyehatkan.

Bu Ratna berdiri didepan jendela kaca yang lebar dan bagian bawahnya hampir mencapai lantai. Sedang lantai itu seluruhnya dipasangi dengan keramik putih bersih tanpa motif. Jendela lebar itu telah disingkap tirainya sehingga cahaya matahari dengan bebas seakan tanpa hambatan menerobos masuk dan menerangi kamar tamu yang ukurannya tidak terlalu kecil pun tidak pula terlalu besar sekali, sedang-sedang saja begitu…

Bu Ratna meregangkan badan dengan meliukkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, sebatas pinggangnya yang ramping sampai bagian tubuhnya bagian atas. Gerakan meregangkan tubuhnya ini mengakibatkan payudaranya yang montok ikut-ikutan berayun pelan… ke kiri kemudian ke kanan, serta regangan itu juga menghasilkan suara yang tidak terlalu keras <krrttek…> <krrttek…>

“Aaahhh… nikmatnya!”, kata bu Ratna berbicara sendirian sambil bernafas lega dalam-dalam.

Berdiri dengan tenang sambil mengawasi rerumputan di halaman depan rumahnya, kadang menoleh pada orang yang berlalu-lalang didepan jalan beraspal, orang-orang itu ada yang berjalan santai pelan saja, ada yang jalan dengan langkah kaki-kakinya dipercepat… maklum saja sedang berolahraga dengan gaya jalan-cepat. Kadang-kadang terlintas dalam pandangan matanya yang berbulu lentik itu, seseorang yang berlari-lari kecil tapi jumlah mereka tidak terlalu banyak. Ini biasa terjadi pada setiap hari Sabtu pagi, namun sekitar jam 9.00 pagi nanti, dapat dipastikan jalan beraspal didepan rumahnya itu akan sepi dan lengang kembali.

Bayangan tubuh bu Ratna yang semampai, mulus, ramping tapi berisi… Payudaranya yang indah di dadanya, menyebabkan teman-temannya sukar sekali menerka usianya. Dengan kondisi dan perawakan tubuh yang terawat seperti itu, belum pantas bu Ratna disebut wanita paruh-baya. Mungkin sebutan yang tepat untuknya adalah sebagai wanita dewasa yang lagi matang-matangnya. Tubuh bu Ratna, kalau dilihat dari belakang saat ini… bagaikan melihat sesosok tubuh wanita cantik jelita yang sedang berdiri di pantai dan berbusana hanya dengan BH yang tipis serta CD yang tipis pula. Gaun tidur yang terbuat dari bahan sutera tipis itu seakan… sirna begitu saja! Pinggulnya yang besar, kedua pangkal pahanya yang penuh dan mulus. Bokongnya yang super bahenol… Tidak percuma deh… ulah ‘nakal’ cahaya matahari yang menerobos masuk kedalam ruangan tamu itu menciptakan pemandangan yang begitu mempesona, sangat eksotis… Bahkan dikarenakan perawakan tubuhnya sangat ideal, payudara yang berukuran 36B sekal dan montok dengan tinggi 164 cm serta berbobot badan ideal 54 kg, menjadikan pemandangan itu… menjadi sangat erotis sekali!

Bu Batna memalingkan wajahnya agak kekanan dan dari situ menyelusurkan pandangannya bergeser pelan-pelan kearah kiri. Sampai dekat bingkai jendela bagian kiri, selusuran pandangan mata berhenti disitu dan terpaku. Seakan sedang melihat kaca cermin saja, karena kaca jendela dibagian itu dinaungi oleh bayangan tiang penopang teras yang terbuat dari batu. Bayangan semu dalam kaca itu dapat dilihat bu Ratna dengan jelas. Bayangan semu itu memperlihatkan bahwa seseorang yang berada kurang lebih 5 meteran dibelakang dirinya… sedang mengawasi sekujur tubuhnya dengan seksama. Seketika bu Ratna sadar akan keadaan dirinya sekarang dan secara refleks menutup kembali tirai yang langsung menyelubungi jendela kaca itu. Dengan cepat membalikkan tubuhnya dan terlihat didekat sudut tembok bagian luar kamar tidur didekatnya, Didit, putera tunggalnya yang masih remaja dan baru kelas 2 SMU, masih berumur 17 tahun itu, beringsut ingin segera menyembunyikan dirinya… tapi keburu dipanggil oleh bu Ratna, ibunya.

“Didit! Ayo kesini… cepat! Jangan coba-coba kabur kembali balik kekamarmu yaa…! Dit… cepat kemari… denger tidak!”, perintah Ratna pada putera remajanya itu dengan agak kesal.

Didit yang dipanggil ibunya, pelan-pelan memperlihatkan dirinya. Setelah menghadap didepan ibunya dengan jarak sekitar 2 meteran, dia menghentikan langkah kakinya dan bertanya pada ibunya, “Ada apa ma…? Kok manggil Didit kenceng sekali sih…?”.

Yang dijawab bu Ratna dengan dongkol, “Pura-pura tidak tahu lagi! Bagaimana pemandangannya tadi… asyik ya…? Sesuai dengan harapanmu kan…?!”.

Didit masih saja berpura-pura tidak tahu, dengan mengatur mimik wajah gantengnya kelihatan seperti lugu tak bersalah, bertanya lagi, “Didit… tidak mengerti maksud mama? Apaan sih…?”.

“Adegan yang kamu lihat tadi itu… masih dapat mama maafkan. Tapi kalau kamu membohongi mama secara terang-terangan begini… mama tidak akan memaafkanmu! Nanti setelah papa-mu pulang dari luar kota… mama akan melaporkannya!”, kata bu Ratna dengan nada mengancam. “Sekarang mama tanya lagi… jawab dengan jujur! Bagaimana pemandangan tadi menurutmu…?!”.

Didit berpikir cepat, ‘Wah uang panjer yang dikasih papa sebelum berangkat kemarin siang… bisa-bisa diminta kembali nih…! Apeeesss deh… jadinya…!”.

“Eeehhh…! Ditanya malah… bengong…!”, kata bu Ratna dengan tensi marahnya mulai menanjak naik.

Merasa gelagatnya bisa lebih buruk lagi dengan melihat kondisi mamanya seperti itu, Didit buru-buru saja menjawab dengan cepat, “Kalau memang Didit diharuskan berkata jujur… tapi mama jangan ingkar lho… tadi mama sudah ngomong… pemandangannya… maafkan Didit ya ma… sangat asyik sekali… sayang cuma sebentar… he-he-he… eehhh… maafkan Didit yaa… jangan lapor dong sama papa…”.

“Dasar anak baru gede… untung saja mama pake daleman… kalau tidak… wah… momen tadi sudah tersimpan deh… dalam HP-mu itu!”, kata bu Ratna lagi.

“Emangnya… mama suka tidak pake daleman… apa?”, Didit memberanikan diri bertanya karena dilihatnya agak surut marahnya, lagi pula hal seperti ini kan digandrungi anak-anak seusia dia. Sekali-sekali nekat menerjang resiko tidak apa-apa deh! Bila sukses… hasilnya bagaikan mendapat buah segar yang manis… iya kan? Pikir Didit nekat.

“Kamu ini tanyanya macem-macem… tapi karena ABG yang tanya… mungkin ada baiknya mama akan menjawab… meskipun kurang begitu yakin apa manfaatnya…”, jawab Ratna pelan agak ragu. Dilihatnya wajah anaknya itu mengharapkan dengan sangat jawaban darinya. Sambungnya lagi, “Oke deh mama jawab sejujurnya… memang benar mama-mu ini kadang-kadang tidak memakai daleman… baik kelupaan atau memang disengaja… yang pasti minimal 2 kali setiap harinya…”.

Jadi melongo Didit mendengarkannya, tanpa disadarinya dia bertanya lagi, “Kapan saja itu… ma?”.

“Huuusshh… dasar anak bandel…! Kamu mau memanfaatkannya lagi… seperti tadi ya…?! Oke deh… karena mama sayang padamu… mama jawab lagi nih ya… pertama pada saat mandi di pagi hari dan… kedua pada saat mandi sore-sore… puas…??!”.

Jawaban bu Ratna ini menjadikan Didit, anaknya menjadi mendongkol. “Kalau itu sih nggak usah diomongi lagi… mana ada orang mandi dirumahnya sendiri dengan masih memakai baju… Mau ditanya kek… apa nggak ditanya kek… tetep aja Didit juga berbugil ria… kalau lagi mandi…”, kata Didit keki meskipun jawabannya itu tidak diminta.

Bu Ratna tertawa melihat kekecewaan dan kekesalan puteranya itu dan bertanya lagi, “Jadi kamu… ingin melihat tubuh telanjang mama-mu ini apa…? Tega sekali kamu…! Oke deh… nanti mama minta ijin dulu… sama papa-mu yaaa…”.

“Eh-eh-eh… ma! Mama ini apa tidak bisa dipercaya yaa…?! Kan mama sudah janji tadi… lho!”, kata Didit memprotes keras niatan ibunya.

“Siapa yang janji lagi…?!”, bu Ratna kerkelit. “Lagi pula mama kan tidak melapor, cuma ingin minta ijin saja. Nih mama beri contoh, hal ini mungkin saja terjadi didalam kelasmu, begini… murid A datang melapor pada gurunya, memberitahukan bahwa di halaman sekolah sedang ada perkelahian antara 2 murid musuh bebuyutan. Sedang murid B datang pada gurunya untuk minta ijin pulang karena ibunya mau mandi…”, Ratna memberi contoh untuk menjelaskan perbedaan antara ‘melapor’ dengan ‘minta ijin’.

“Ha-ha-ha….! Kalau minta ijin karena ibunya mau mandi sih…
pasti gurunya dengan senang hati akan mengantarkan muridnya itu sampai dirumahnya… ha-ha-ha….!”, Didit jadi tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasan ibunya.

“Huuusshh… dasar otak ngeres…! Ibunya itu lagi sakit… tau nggak?!”, kata Ratna.

“Ooohhh… begitu toh…?”, jawab Didit pelan.

“Hi-hi-hi…! Kecele deh tuuh… kacian deh…! Hi-hi-hi…”, sekarang malah bu Ratna balas menertawai Didit sambil menutupi mulutnya dengan tangannya yang mulus.

“Jadi sekarang bagaimana urusannya nih…?”, tanya Didit pada ibunya mulai bersikap sok lebih dewasa.

“Urusan apa…?! Mama tidak ada urusan denganmu… Dit!”, jawab Ratna mulai sewot lagi.

“Lha… jadi gimana dengan minta ijinnya itu lho…?”, tanya Didit mencecar ibunya.

“Soal itu sih…! Urusan mama sama papa-mu… jangan ikut campur dong…!’, jawab Ratna makin sewot.

“Oke deh… jadi sekarang bagaimana?”, tanya Didit masih saja berlagak dewasa.

“Sudah tidak ada, tadi subuh si ‘bagaimana’ sudah mudik naik kereta-api”, jawab bu Ratna sambil lalu, melangkah menuju kamar tidurnya… mau mandi (kamar mandi ada baik didalam kamar tidur utama dan kamar tidur Didit}.

“Eh-eh… mama, mau kemana?”, tanya Didit dengan lembut.

Mendengar suara lembut puteranya itu, bu Ratna tidak sampai hati memarahi anaknya. “Mama mau mandi sayang… emangnya kenapa sih…?”, suara Ratna jadi ikut-ikutan lembut.

Didit yang getol dan masih sangat penasaran layaknya ABG normal lainnya, menawarkan bantuannya, “Mau ditolong gosokin punggungnya nggak?”.

“Habis gosokin punggung mama lalu kamu mau ngapain lagi”, tanya bu Ratna memancing dan ingin tahu seberapa jauh daya khayal putera-nya itu.

“Tergantung…”, jawab Didit singkat.

“Tergantung kenapa…? Apa…? Kapan…? Bilamana…”, semua kata tanya diborong bu Ratna untuk diucapkan.

“Eh-eehhh… tanyanya… satu-satu dong…!”, jawab Didit kewalahan. “Maksud Didit tadi… sehabis digosokin punggung mama, lalu maunya diapakan lagi…”, kata Didit harap-harap cemas…

“Mau diapain lagi yaa…? Apa… yaaa? Tau… aaahh…! Besok aja deh jawabannya… lagi mumet nih…!”, jawab bu Ratna berdalih.

“Emangnya mandinya terus-terusan sampai besok pagi apa…??”, tanya Didit menyindir ibunya, kelihatan sekali ABG ini akan segera memasuki dunia yang bernuansa dewasa.

“Yaa… tidak atuuh…!”, jawab Ratna. Kemudian mengajukan syarat pada Didit, “Dengan syarat kamu harus mengenakan celana dobel… jadi kamu harus mengenakan lagi celana Hawaii-mu yang kombor itu… supaya tidak terlalu sesak dan bisa muat…”.

‘Nggakkk… percayaan banget sih…!’, Didit ngedumel dalam hati. Didit bertanya pada ibunya, “Bagaimana dengan baju atasan yang Didit pakai?.

“Oooh… itu… ‘optional’! Mau dipake dobel… apa tidak memakainya sama sekali… terserah…! Mama tidak ngurusi yang begituan!”, jawab bu Ratna tenang dan kalem saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*