Home » Cerita Seks Mama Anak » Kampung di Tepi Hutan Jati 3

Kampung di Tepi Hutan Jati 3

Cerita Sebelumnya : Kampung di tepi Hutan jati 2

Atikah masih malu malu ketika Dirgo mengangkat dasternya dan meloloskanya melewati kepalanya.Selama ini hanya di kamar tidur dan kamar mandi ia telanjang, tp ini di ruang tengah ditonton oleh anak kandungnya sendiri dan itu adalah sensasi baru buat Atikah.
Dirgo duduk di kursi sementara Atikah berdiri canggung didepanya berusaha menutupi payudaranya yang menggantung telanjang.
“Jangan ditutupin donk buk..”ucap Dirgo protes sambil menyingkirkan lengan ibunya yang menutupi payudaranya.
“Malu nak..” bisik Atikah pelan,sambil menundukan wajah seperti gadis kecil yang lugu.Dirgo nanar menatap tubuh ibunya yg berdiri polos di depanya,dadanya yang bulat besar dan montok meski sedikit menggantung tapi tak mengurangi keindahanya.Turun kebawah perut Atikah terlihat rata tanpa kesan berlemak,khas wanita desa yang memang terbiasa bekerja keras,dibawah perut itu nampak gundul tanpa selembar bulu di vagina Atikah.
“Sini buk..” ajak Dirgo agar ibunya duduk di sebelahnya,Atikah menurut saja, masih terlihat canggung ketika anaknya merangkulnya dan menghujani bibirnya dengan ciuman panas dan gigitan gigitan kecil.Lidah keduanya saling membelit dan menjilat dalam sekejap Atikah telah hilang canggungnya dan melayani aksi Dirgo yang menggebu gebu.
Dirgo tiba tiba merosotkan tubuhnya duduk dilantai diantara kedua paha ibunya,dan mengarahkan kedua kaki ibunya agar naik ke kursi.Atikah merasa sangat porno,mukanya merah menahan nafsu,ia seorang ibu kini duduk di kursi telanjang bulat dengan paha terpentang lebar mengekspose dengan bebas vaginanya di depan hidung anak kandungnya.Atikah mengerang lirih ketika lidah anaknya menyapu bibir vaginanya dan eranganyapun menjadi jadi ketika Dirgo semakin buas memakan vagina ibunya.
“Ooouhh..tempekku km apakan nak..Ou8hh..uenake Go..” Atikah menceracau tak karuan,matanya membeliak, bibirnya bergetar, tanganya menggapai mencari pegangan,bulir bulir keringat nampak menitik di kening dan ujung hidungnya.Setiap sapuan lidah membawa sensasi nikmat yang Atikah jarang rasakan,anaknya begitu bernafsu menjilati setiap inchi dari vaginanya.Atikah mengerang menahan nikmat tapi semakin ditahan gelombang itu semakin besar..semakin daahsyat dan Atikah tak kuasa menahan gelomban nikmat itu
“Aaargggh…Ibuk keluar Go..Ouuh uenake temppekku..” Atikah terhentak hentak,orgasme pertama yang dahsyat meluluh lantakan tubuhnya.Dirgo memberi kesempatan ibunya untuk menikmati sisa sisa orgasmenya,setelah dirasa cukup Dirgo bangkit dan memposisikan ibunya agar berbaring.Kontolnya sudah sangat tegang,perlahan ia menindih ibunya dan mulai memasuki vagina panas ibunya yang basah.
“Pelan pelan nak masih ngilu” rengek ibunya pelan ketika Dirgo mulai mengayuh batangnya di lubang kemaluan ibunya.Mula mula pelan kemudian cepat dan mantab ia mengebor lubang nikmat itu,ruangan itu kembali dipenuhi erang nikmat Atikah dan tak lama orgasme keduanya kembali datang seperti gelombang tsunami..Kembali Atikah mengejang nikmat dan Dirgo tak memberi kesempatan ibunya untuk istirahat ia dengan mantap terus mengeluarkan batangnya di lobang yang semakin licin.Atikah hanya bisa merintih dan merintih.Orgasmenya berulang ulang meluluh lantakan sendi sendi tubuhnya,Atikah pasrah dalam nikmat gempuran kontol anaknya.Sampai di suatu titik Dirgo tak kuasa menahan nikmaat yang telah menggumpal dan menjebol benteng pertahananya.
“Aaaargghh..Aku keluar buk..Ooohh..” Dirgo mengerang panjang dan membombardir rahim ibunya dengan cairan kental panas yang membuat Atikah orgasme untuk yang kesekian kalinya..
Kedua insan itu kini diam tak bersuara,hanya aroma keringat dan nafas nafas lelah yang memenuhi ruangan itu.Mereka tak sadar sepasang mata mengikuti persanggamaan mereka dari sebuah lubang di papan dinding rumah itu.
Wiryo paman Atikah perlahan mundur menjauh dari lobang di dinding rumah ponakanya.Sebuah senyum kecil nampak tergurat di bibirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*