Home » Cerita Seks Mama Anak » Wanita Pemijat Itu.. Ibuku

Wanita Pemijat Itu.. Ibuku

Part 1

Sudah pukul jam 11 malam. Aku sudah bersiap-siap mau tidur dikamarku. Terdengar suara motor tukang ojek yang biasa mengantar ibuku pulang lalu dilanjutkan dengan suara pintu rumahku terbuka. Aku bangkit dari kasurku dan pergi keluar kamar.

ÔÇ£Baru pulang bu? Malam amat.ÔÇØ
ÔÇ£Iya nih Yo, lagi rameÔÇØ

Tercium bau alkohol dan parfum yang menyeruak dari tubuh ibuku. Make up diwajah masih ada, sepertinya ibu tidak sempat menghapusnya sebelum pulang kerumah. Bahkan ibuku masih memakai Tank Top yang terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang agak gemuk dan dengan belahan dada yang sangat rendah. Hanya ibuku melapisinya dengan memakai jaket Jeans.

ÔÇ£Udah makan bu?ÔÇØ
ÔÇ£Udah Yo. Kamu tidur gih, besok kerja kan?ÔÇØ Ucap ibuku sambil membongkar tas bawaanya.
Dia mengeluarkan sebuah dress tanpa lengan dan berpotongan paha pendek berwarna hitam lalu menaruhnya dikeranjang cucian. Lalu lanjut mengeluarkan sabun mandi cari, pasta dan sikat gigi, obat kumur, dan… sekotak kondom yang sudah terbuka.

ÔÇ£Duh tinggal satu biji. Besok harus beli lagi nih.ÔÇØ Ucapnya sambil menggenggam kotak kondom tersebut lalu dia berlalu menuju ke arah dapur.

Aku masuk ke dalam kamar. Perasaanku agak gamang setiap kali ibu pulang kerja seperti ini. Mungkin ini adalah hal yang biasa jika ibuku adalah seorang pekerja kantoran atau pekerjaan normal lainnya. Tetapi tidak bagiku, karena ibuku adalah… seorang wanita pemijat. Pemijat plus plus tepatnya.

================================================== ==============================

Ibuku sudah lama melakukan pekerjaan tersebut. Menjadi seorang wanita pemijat didaerah yang sangat terkenal sebagai tempat pijat esek esek di Jakarta Barat. Kalau tidak salah sejak aku kelas 3 SMP. Saat itu ayahku meninggalkan rumah setelah bertengkar dengan ibuku lalu tidak jelas pergi kemana hingga akhirnya untuk membiaya aku, ibuku harus menekuni pekerjaan tersebut. Saat itu aku tidak terlalu mengerti apa yang dilakukan ibuku. Berangkat kerja pada sore hari dengan pakaian yang ketat dan bisa dibilang seksi, make up yang tebal, dan parfum yang wanginya sangat menusuk hidung. Lalu ibuku akan kembali pada malam hari, terkadang diantar oleh laki-laki yang berganti tiap malamnya.

Hingga akhirnya pada suatu hari saat aku menyampar Amat, tetangga dan teman karibku untuk bermain, ibunya amat keluar rumah dengan wajah yang terlihat sangat galak.

ÔÇ£Aryo! Kamu jangan main lagi ya sama Amat. Awas kalau kamu masih nyamper-nyamper Amat lagi.ÔÇØ

Aku terkejut. Tiba-tiba saja ibunya amat memarahiku seperti itu.

ÔÇ£Kami tuh keluarga baik. Bukan kayak ibu kamu yang kerjaannya gak bener itu.”

Aku tidak mengerti apa yang ibunya amat maksudkan, tetapi tiba-tiba saja dimarahi seperti itu, aku menangis sambil berlari pulang ke rumah. Sebenarnya aku sangat ingin menanyakan hal ini pada ibuku, tapi aku tidak berani.

Keesokan harinya, di sekolah Amat pindah tempat duduk yang tadinya duduk disebelahku hingga kini aku duduk hanya sendiri, ibu guruku yang mengaturnya. Pada saat jam istirahat, aku duduk dibangkuku lalu tiba-tiba Amat menghampiriku.

ÔÇ£Aryo.. Maafin aku ya. Aku disuruh sama ibuku ngejauhin kamu.ÔÇØ

Ah untunglah, Amat memang teman baikku sejak SD. Dia tidak membenciku.

ÔÇ£Kenapa sih mat, ibuku kamu marahin aku terus nyuruh kamu pindah duduk begitu.ÔÇØ

Amat terdiam. Memandangku dengan pandangan yang agak takut.

ÔÇ£Enggg… aku… aku… aku di-dilarang ibu main sama kamu soalnya kata ibuku, ii…ibu kamu kerjaanya gak bener yo.. ÔÇ£ Jawab Amat agak takut.
ÔÇ£Enggak bener gimana mat maksudnya?ÔÇØ
ÔÇ£Ka..kata ibuku, ibu kamu kerjaanya kotor. Jadi wanita malam.ÔÇØ

Aku terkejut, untunglah saat itu kondisi kelas sepi. Aku sudah pernah dengar istilah ÔÇ£wanita malamÔÇÖ dan lumayan mengerti artinya, tetapi… aku tidak pernah menyangka bahwa itulah pekerjaan ibuku. Meski dari aktifitas dan ciri pekerjaan yang ibuku lakukan, seharusnya aku mengetahuinya.

ÔÇ£Bener gak sih yo, kalau ibu kamu begitu?ÔÇØ
ÔÇ£Gak.. gak tahu Mat.ÔÇØ Ucapku malu sambil aku mengambil tas lalu berlari meninggalkan kelas.

Malam harinya, aku tidak mau berbicara pada ibuku dan hingga keesokan harinya, aku tidak mau berangkat ke sekolah.

ÔÇ£Kenapa sih aryo kamu gak mau berangkat sekolah?ÔÇØ Tanya Ibuku.
ÔÇ£Kok ibu tanya, kamu diam aja. Dari semalem kamu juga diem aja. Kenapa Aryo?ÔÇØ Lanjut ibuku.

Aku hanya memalingkan badanku, membelakangi ibuku.
Saat tangan ibu menyentuh bahuku, aku langsung menepisnya sambil berbalik menghadap ibuku sambil berteriak.

ÔÇ£Aku malu punya ibu wanita malam!!!ÔÇØ

Wajah ibuku terlihat sangat kaget lalu matanya terlihat berkaca-kaca. Air matanya mulai jatuh lalu ibu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku langsung masuk ke kamar.
Beberapa hari kemudian, aku masih tidak mau sekolah dan tidak mau berbicara dengan ibu. Hingga suatu siang saat aku sedang menonton TV, ibu menghampiriku yang sedang duduk lalu berlutut dihadapanku.

ÔÇ£Ma..Maafin ibu ya nak. Ibu kerja seperti itu. Ibu gak punya pilihan lain. Bapak kamu pergi gak jelas kemana. Malah ninggalin banyak hutang yang pada nagihnya ke ibu.ÔÇØ Ucap ibu sambil menunduk. Aku hanya terdiam.
ÔÇ£Ibu cuma sekolah sampai SMP, ibu gak tahu lagi bisa kerja apa. Kamu pasti marah dan malu punya ibu yang kerjaannya begini, tapi ibu harap kamu bisa mengerti. Maafin ibu ya aryo.ÔÇØ Ibuku mulai sesegukan. Aku pun jadi ikut menangis dalam diam.
ÔÇ£Ibu tahu kamu malu sama teman-teman sekolah kamu dan tetangga disini. Minggu depan kamu ikut nenek saja ya, pulang kampung di Indramayu.ÔÇØ

Akupun akhirnya pindah sekolah dan ikut neneku di Indramayu. Sepertinya nenekku pun juga tahu pekerjaan ibuku yang sekarang, karena disana aku selalu dinasehati nenekku untuk memaklumi ibuku. Lambat laun pun aku bisa mulai mengerti. Hidup di Jakarta memang keras dan mahal. Bagi orang seperti ibu, mungkin itu satu-satunya pilihan. Lagipula, itu semua dilakukan untuk membiayai diriku. Aku menyelesaikan SMA ku di Indramayu. Sebenernya aku sempat kuliah disana, tetapi akhirnya berhenti karena nenekku sakit-sakitan dan membutuhkan biaya yang banyak. Aku lanjut bekerja serabutan selama dua tahun disana. Nenekku pun akhirnya meninggal. Karena tidak ada saudara lagi disana, akhirnya ibu mengajakku untuk kembali tinggal ke Jakarta saat ibu datang ke kampung untuk pemakaman neneku.

Aku yang sudah hampir 5 tahun tidak bertemu ibuku, takjub dengan perubahan penampilan ibuku. Tubuhnya menjadi semakin padat berisi. Perutnya sudah agak sedikit membuncit, pantatnya sangat besar, mungkin efek karena saat itu ibu menggunakan celana jeans yang ketat. Dan, buah dada ibuku yang saat itu mengenakan kaos terlihat sangat membumbung, besar seperti pepaya walau sudah agak kendor ke bawah. Aku langsung teringat dengan pekerjaan ibuku, dan terbayang sudah berapa banyak laki-laki yang menyentuh tubuhnya. Hal itu sangat membuatku merasa geram, tapi juga ada perasaan aneh, seperti bergairah.

Setelah sampai di Jakarta, tenyata ibu sudah pindah tempat rumah kontrakan dari tempatku yang sebelumnya. Berada di pinggir jalan besar yang samping kiri kanannya bukan lah rumah warga. Baguslah, setidaknya tidak ada lagi tetangga-tetangga yang mulutnya iseng mengomentari pekerjaan ibuku.

Ibuku pun sudah mulai terbuka tentang pekerjaannya. Mungkin karena aku juga sudah mulai dewasa diumurku yang sudah 21 tahun. Ibuku tidak segan menyuruhku untuk membelikan kondom untuk dia bawa ÔÇ£kerjaÔÇØ, dan bahkan pernah meminta aku antar ke ÔÇ£tempat kerjaÔÇØ tersebut. Saat mengantar kesana, aku sedikit melirik-lirik tempat tersebut. Tempatnya dari luar mungkin tidak terlalu mencolok. Hanya sebuah ruko tiga lantai dengan pintu depan Kaca gelap dan bertuliskan ÔÇ£Pijat SehatÔÇØ tetapi saat ibuku masuk kedalam, aku sempat mengintip suasana didalam lewat pintu yang terbuka. Suasanya remang-remang sekali, tapi aku bisa melihat banyak wanita-wanita seumuran ibuku didalam sana dengan pakaian seksi, dan dandanan menor, menunggu para pelanggannya untuk datang.

Membayangkan ibuku ada disana, menunggu sentuhan pria-pria hidung belang beruang membuatku muak, marah, geram bahkan terkadang aku merasa jijik dengan ibuku, tetapi dibalik itu semua… Aku juga bernafsu.. Jika pria-pria lain bisa menikmati tubuh ibuku, kenapa aku tidak?
Ah cepat-cepat kutepis pikiran kotor itu. Mana boleh aku berpikiran seperti itu kepada ibuku sendiri. Lagipula sebaiknya aku memikirkan masa depanku, sejak aku ikut ibu kembali ke jakarta, aku hanya bekerja serabutan. Jadi supir tembak, ikut jadi kenek tukang bangunan, atau terkadang ngojek dengan motor yang dibelikan ibuku ini.

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*