Home » Cerita Seks Kakak Adik » Kak Alya 8

Kak Alya 8

Cerita Sebelumnya : Kak Alya 7

ÔÇ£Sekarang gantian saya yang isi dompetnya non yah.. hehe, dijamin ampe luber lagi dah, hahaha!ÔÇØ terdengar suara pria yang lain.

ÔÇ£Uuugh… Pak Mamit nakal deek, mau ikut-ikutan bayar di dompet kakak niih.. boleh ngga sih dek? Hihihi…ÔÇØ

Suara percakapan yang terakhir kudengar ketika aku tergolek lemas tak berdaya, karena berikutnya aku hanya mendengar suara desahan dan lenguhan kakakku saja di sertai ledekan pria-pria itu yang cenderung melecehkan kakak kandungku.

Antara terima dan tidak terima mendengar kakakku diperlakukan seperti itu, toh akhirnya aku memang tak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri malah coli ketika kakakku sendiri tengah digagahi dua pria itu. Bahkan aku sampai coli dua kali, ketika panggilan pertama kakakku akhirnya terputus dan aku dihubungi kembali oleh kakakku yang ternyata justru Pak Has yang menggunakan hape kakakku untuk menghubungiku.

Aku ingat ketika Pak Has sambil terkekeh-kekeh menceritakan dengan detil apa saja yang tengah dialami oleh kakakku. Dia menjabarkan dengan detil bahwa kak Alya sambil terlungkup digenjot oleh Pak Mamit hingga tak mampu berkata apa-apa. Bahkan sengaja menempelkan hapenya dekat dengan kak Alya agar aku dapat mendengar suaranya yang sedang digenjot habis oleh pria sialan itu. Aku hanya bisa membayangkan seperti apa adegan yang sedang terjadi di sana yang justru membuat otongku kembali bangkit dan dengan tak berdaya aku pun kembali mengocoknya lagi.

Aku marah pada diriku sendiri, tapi aku tak mampu menahan diri ketika mendengar kakakku melenguh dan mendesah tak karuan hingga akhirnya melolong panjang yang dibarengi dengan muncratan pejuku di kasurku. Dan malam itu baru menunjukkan pukul delapan malam. Sedang kakakku baru diantar pulang hampir menjelang tengah malam.

Dan itu adalah kejadian seminggu yang lalu. Dimana semenjak kejadian itu banyak mengubah pandanganku terhadap kakak kandungku.

Malam ini aku sedang tidur-tiduran di ranjangku, sendirian tapi tidak seperti biasanya yang selalu mengganggu kakakku. Habisnya kak Alya sejak sesudah makan malam terus saja berada di kamarnya, gak mau diganggu. Katanya sih sedang sibuk bikin tugas kuliah. Padahal aku belum ngepejuin dia malam ini. Ya hampir tiap malam aku pasti selalu menguras kantong zakarku dan memindahkan isinya ke tubuh kakakku itu. Sungguh hari-hari yang indah bila mengingat kembali kebiasaan kami di rumah apabila sedang hanya berdua..

Tapi aku tidak menyangka kalau kakakku lebih nakal dari yang aku pikirkan. Ataukah dia memang sudah nakal sejak dulu dan aku baru mengetahuinya? Aku pikir kejadian dengan teman-temanku itu adalah satu-satunya, tapi ternyata terus berlanjut dan semakin parah. Seharusnya aku marah ketika kakakku dilecehkan seperti itu, tapi entah kenapa aku juga sangat horni membayangkan kakakku yang putih dan cantik sedang ditindih oleh orang-orang seperti mereka. Aku benar-benar seperti sedang di antara dua sisi yang berjalan berdampingan.

Untung saja sampai saat ini dia masih tetap berbaik hati membolehkanku beronani di depannya, hingga aku memuncrat-muncratkan pejuku dengan banyaknya menembak wajah maupun tubuh kakak kandungku yang cantik ini. Hanya saja belakangan ini perasaanku seperti teraduk-aduk.

Sebenarnya aku ingin sekali merasakan seperti yang orang-orang itu rasakan, tapi kak Alya terus saja tidak membolehkannya dengan alasan kalau kami adalah saudara kandung. Sungguh bikin kesal, tapi biar deh daripada gak dapat sama sekali, apalagi aku memang selalu tidak tahan bila berkhayal sedikit tentang kakakku sendiri. Ah, aku ingin pejuin dia lagi nih sebelum tidur.

Akupun bangkit dari tempat tidurku, keluar kamar, dan segera menuju ke kamarnya. Aku harap kak Alya sudah selesai bikin tugas sehingga aku bisa bermanja-manjaan lagi dengannya.

Tok tok tok ku ketok pintu kamarnya.
ÔÇ£Siapa?ÔÇØ tanya kak Alya kemudian. Apaan sih kakakku ini. Udah tahu di rumah cuma ada kita berdua, siapa lagi emang kalau bukan aku? -_-

Aku kak jawabku malas, terdengar dia seperti tertawa kecil di dalam.

Oh Ada apa dek?
Itu Aku boleh masuk nggak kak?
ÔÇ£Mau ngapain? Kan kakak udah bilang kalau kakak lagi sibuk, bandel banget sih kamu dibilanginÔÇØ

ÔÇ£Eh, i..itu.. pengen main game di tabletnya kakak, penasaran nih belum tamatÔÇØ alasanku mengada-ngada. Tentu saja dia tahu kalau itu cuma alasanku saja.

Huuu gayamu dek. Jujur aja deh mau ngapain, hayo? kepengen yah? hihihi
Hehehe iya nih boleh ya kak?
ÔÇ£Nggak!ÔÇØ Ugh kak Alya..

Yaah janji gak bakal ganggu kok kak Please bolehin aku masuk yah
ÔÇ£Dasar kamu ini, emang susah dilarang kalau lagi kepengen, hihihi.. Tunggu setengah jam lagi yah..ÔÇØ ujarnya kemudian.

ÔÇ£Janji yah kak setengah jam lagi?ÔÇØ
Iya adek kakak ini cerewet banget sih
Hehehe.. makasih kak Ya sudahlah kalau dia bilang setengah jam lagi. Aku rela menunggu kak Alyaku yang seksi demi ngepejuin dia. Sambil menunggunya aku habiskan waktu saja dulu menonton tv.

Sekitar setengah jam kemudian kak Alyapun keluar dari kamarnya. Seperti biasa, dia selalu kelihatan cantik. Tapi tumben kali ini dia muncul dengan pakaian yang cukup sopan. Dia memakai baju kaos biru lengan pendek dan rok yang panjangnnya di bawah lutut. Hmm.. mungkin karena hawa malam ini cukup dingin karena baru saja turun hujan.

ÔÇ£Kamu lagi ngapain dek? Belum bobok?ÔÇØ

ÔÇ£Aku kan nungguin kakak, gimana sihÔÇØ ujarku kesal.

Eh, iya yah hihihi. Eh dek, temenin kakak cari minuman ke minimarket dong Capek nih habis ngerjain tugas, kakak jadi haus

Yah kok sekarang sih kak tengah malam gini ngapain sih keluar? Minum air putih aja deh tolakku karena aku ingin segera bermanja-manjaan denganya. Sudah gak kuat lagi nahan dari tadi.

ÔÇ£Gak puas kalau cuma minum air putih aja, ayo dong dek.. temenin kakak yah?ÔÇØ pintanya lagi manja.

Duh Iya deh kak. Cuma nyari minum aja kan? Ga ada niat yang lain-lain? tanyaku penuh selidik. Meskipun aku selalu penasaran dengan tingkah kak Alya yang tidak tertebak, tapi aku agak cemas juga kalau kak Alya mengulangi aksi nekatnya seperti sebelumnya. Tetap sih aku konak, tapi aku merasa aksi nekatnya yang keliling komplek dengan pakaian nyaris telanjang waktu itu terlalu beresiko. Aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kakakku tercinta ini.

ÔÇ£Hihihi, emangnya kamu ngarepin apa, hayo? Iya.. kakak beneran haus kok dek.. Bentar ya kakak ambil mantel duluÔÇØ

Kak Alyapun pergi ke kamarnya. Beberapa saat kemudian ku lihat dia kembali dengan memakai mantel panjang rapat berwarna ungu yang menutupi hampir seluruh tubuhnya hingga sebetis kakakku. Fiuh.. leganya, sejenak ku pikir kak Alya bakal muncul dengan pakaian yang memamerkan aurat-auratnya, untung saja tidak.

ÔÇ£Yuk dek,ÔÇØ ajaknya mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum manis.
Iya kak Akupun menggapai tangannya. Dia lalu menarik tanganku menuntunku sampai ke luar rumah.

Tampak suasana yang sudah sangat sepi dan gelap di luar sini. Mana hawanya dingin banget pula. Aku pengen cepat-cepat saja ke mini market dan segera kembali ke rumah, terus manja-manjaan deh dengan kakakku. Setelah mengunci pintu kamipun segera menuju ke mini market.

ÔÇ£Sepi yah dek?ÔÇØ
Iyalah namanya juga tengah malam gini
ÔÇ£Berarti udah gak ada orang lagi kan di luar?ÔÇØ
ÔÇ£Kalau iya memangnya kenapa kak?ÔÇØ
Umm.. kalau kakak telanjang kira-kira ada yang lihat gak yah. ujarnya genit sambil tersenyum nakal padaku. Duh kak Alya ini, jangan mulai deh.

Jangan macam-macam donk kak
Kenapa? Gak bakal ada yang lihat tuh kayaknya udah pada bobok

ÔÇ£Iya sih, tapi kan belum tentu gak ada orang yang bakal lewat nanti. Udah deh kak jangan yang aneh-anehÔÇØ

Hihihi.. takut benar sih kamu. Iya deh iya kakak gak telanjang dulu, hihihi Ugh Kak Alya. Apa dia benar-benar berniat bertelanjang di tempat umum lagi? Kakakku ini sungguh membuat aku gemas! Meskipun aku penasaran dan horni juga, tapi gila aja kalau dia benaran bakal telanjang lagi di luar sini, di lingkungan komplek perumahan kami yang orang-orangnya mengenal kakakku sebagai gadis baik-baik, sopan dan alim. Kalau kakakku ketahuan keliling komplek bertelanjang bulat gimana coba, bisa rusak nama baik orangtua kami. Nasib baik waktu itu aksinya tidak ketahuan, aku tidak ingin dia mencoba mengulanginya lagi, karena belum tentu selanjutnya bakal seberuntung waktu itu.

Kak Alya berjalan lebih dulu di depanku. Dari dulu kalau kami jalan bareng memang selalu dia yang di depan. Baik ketika jalan ke mall, jalan ke sekolah, atau kemanapun selalu begitu. Kakakku di depan dan aku mengikutinya di belakang, bukan beriringan. Hal itu karena dulu kalau kami jalan beriringan aku selalu tanpa sadar berjalan lebih cepat sehingga kakakku harus sering tergopoh-gopoh menyusulku. Aku tidak bisa mengimbangi langkah kak Alya yang kecil dan pelan. Akhirnya entah mulai kapan, kak Alya memutuskan kalau kita jalan berdua, dia harus di depan sedangkan aku harus ngikutin di belakang supaya bisa menyesuaikan langkah dengannya. Dilarang keras menyelipnya. Akhirnya lama-lama jadi terbiasa jalan berdua seperti ini.

Kami terus berjalan. Ku lihat dia membuka tali mantelnya yang tadinya terikat sehingga kini mantelnya terbuka. Menurutku tidak aneh, tapi lama-kelamaan agak janggal karena kak Alya sering memelankan langkahnya sambil tengok-tengok. Kalau di depan terlihat ada kendaraan, dia akan melambat untuk menunggu kemana arah kendaraan itu. Kalau ternyata kendaraan itu tidak menuju ke arah kami, hanya lewat di depan dan menghilang di tikungan jalan, kakakkupun kembali berjalan dan mempercepat langkahnya seperti khawatir disalip olehku, kadang sambil menengok ke belakang dan senyum-senyum nakal padaku.

ÔÇ£Ada apa sih kak?ÔÇØ tanyaku heran melihat tingkahnya.
ÔÇ£Nggak ada kok, hihihiÔÇØ jawabnya centil cekikikan. Sungguh bikin gemes. Rasanya aku melihat rona wajah kak Alya memerah, tapi aku tidak begitu yakin. Aku berusaha tidak berpikir yang macam-macam.

Kami semakin jauh dari rumah. Sekarang di depan tampak ada tukang nasi goreng. Agak jauh tapi jelas menuju ke arah kami. Namun lagi-lagi kakakku menengok ke belakang dan tersenyum kecil padaku. Kali ini aku yakin kalau wajah kak Alya bersemu merah. Dia lalu mempercepat langkahnya sehingga ujung-ujung mantelnya jadi agak berkibar. Aku sampai dapat melihat betis putih kak Alya tersingkap agak tinggi hingga ke atas lutut. Lho? Bukannya tadi sebelum pergi kak Alya memakai rok panjang? Apa dia diam-diam sudah menggantinya dengan rok mini atau celana pendek?

Kak Alya memperlambat langkahnya lagi. Tukang nasi goreng itu semakin dekat. Jalanan yang kami lewati agak gelap karena lampu jalan hanya menyala sebagian kecil. Begitu jarak kami dan tukang nasi goreng itu semakin dekat, kak Alya kembali menutupkan mantelnya rapat-rapat, tidak diikat, melainkan sekedar memegangi dengan tangannya, dan lagi-lagi dia melirik ke belakang tersenyum padaku. Senyum yang membuat aku berdebar-debar karena aku tidak tahu apa maksud senyumannya itu.

ÔÇ£Nasi goreng neng?ÔÇØ Tanya tukang nasi goreng itu sambil tersenyum mesum. Aku yang sekarang berdiri di samping kak Alya kini mulai curiga melihat kakakku mendekapkan tangannya rapat-rapat memegangi mantelnya.

ÔÇ£Hihihi, nggak bang, makasih…ÔÇØ jawab kak Alya centil. ÔÇ£Udah kenyang, lagian malam-malam makan nasi goreng ntar gendut bangÔÇØ sambungnya lagi. Duh, kakakku ini, kalau nggak mau beli ya tinggal bilang ÔÇÿnggakÔÇÖ aja, gak usah berhenti dan ngajakin ngobrol sambil kecentilan gitu!

ÔÇ£Emang sekarang udah jam berapa neng?ÔÇØ

Hmm.. jam berapa yah bentar bang kak Alya lalu berusaha mengambil hape yang ada di saku mantelnya. Untuk mengambil hape di sakunya kak Alya harus mengendorkan pegangannya pada mantel sehingga bagian kerahnya agak terbuka. Oleh karenanya belahan dada kakakku itu jadi tampak dengan jelas! Terang saja tukang nasi goreng menelan ludah dibuatnya, tapi kak Alya tetap terlihat cuek. Duh, kak Alya

Jam setengah dua belas bang. Udah malam kan? Masa jam segini makan nasi goreng sih hihihi ujar kak Alya kemudian dengan ramahnya. Aku yakin kalau kak Alya memang berniat menggoda tukang nasi goreng itu. Begitupun dengan tukang nasi goreng itu yang tentunya sangat beruntung bisa bertemu dan ngobrol dengan gadis secantik kakakku. Tapi yang bikin aku penasaran, sebenarnya apa yang dikenakan kak Alya dibalik mantelnya itu? Sepertinya tidak hanya aku yang penasaran, tapi juga si tukang nasi goreng. Matanya terlihat berusaha mengintip ke balik kerah mantel kakakku yang terbuka. Aku mulai curiga kalau jangan-jangan kak Alya tidak memakai apapun lagi dibaliknya!? Duh Aku jadi tegang membayangkannya.

ÔÇ£Memangnya neng mau kemana malam-malam begini?ÔÇØ tanya si tukang nasi goreng yang sepertinya ingin menahan kakakku lebih lama. Tapi kak Alya sendiri malah tetap meladeninya.

ÔÇ£Mau cari minuman bang ke minimarket sama adek, iya kan dek?ÔÇØ jawabnya sambil melirik tersenyum padaku.

I..iya. Kak udah yuk jalan lagi, ntar kemalaman ajakku. Aku tidak mau berlama-lama di sini. Namun kak Alya belum mau beranjak juga, sepertinya masih belum puas menggoda si tukang nasi goreng. Si tukang nasi goreng itu tampaknya juga ingin berlama-lama ngobrol dengan kakakku, bahkan dia kelihatan tidak begitu memperdulikanku saat aku mengajak kakakku untuk pergi dari sini.

Oh mau ke minimarket ya neng? Haus yah malam-malam?

Iya bang minimarketnya masih buka kan bang? Ya iyalah, kan 24 jam, hihihi ujar kak Alya yang masih saja beramah-ramah pada bapak penjual itu. Udahan dong kak!

ÔÇ£Hahaha, si neng… tapi ada apa sih kok lihat ke bawah terus?ÔÇØ

Ah, nggak mastiin aja kalau kakinya bapak napak ke tanah, hihihi

ÔÇ£Idih si neng, masak bapak dikira setan. Yang patut dicurigai tuh neng, kok tengah malam di luar bisa ketemu cewek kayak neng, udah cantik, putiih mulus, rambutnya panjang. Jangan-jangan neng sundel bolong lagi, hayo liat punggungnya… heheÔÇØ

Iihh abang gak sopan nih mau lihat-lihat punggung orang!

ÔÇ£Lho, tadi si neng sudah ngecek kaki saya napak apa nggak. Sekarang biar adil boleh dong saya ngecek punggung neng bolong apa nggak, heheÔÇØ ujar si tukang nasi goreng yang tentunya punya maksud mesum. Sialan. Aku harap kak Alya tidak benar-benar akan membuka mantelnya, karena apapun itu dibaliknya pastinya akan membuat heboh nantinya. Apalagi kalau sampai memperlihatkan punggungnya segala.

ÔÇ£Beneran abang mau lihat? Ntar kalau beneran bolong abangnya bakal lari pontang-panting lagi, hihihiÔÇØ

Ah, kalau hantunya secantik neng sih saya pasrah aja dah Ayo dong neng buka mantelnya pinta tukang nasi goreng itu lagi yang sepertinya ngebet banget ingin tahu apa yang dikenakan kakakku di balik mantelnya. Aku sebenarnya juga penasaran, tapi tentunya aku tidak ingin kak Alya benar-benar akan membuka mantelnya di hadapan orang ini. Gila aja kalau dia sampai membuka mantelnya. Kalau ternyata kakakku memang tidak memakai apa-apa dibalik mantel itu entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

ÔÇ£AduhÔǪ abang ini. HmmÔǪ gimana yah… Tuh dek, abang ini pengen lihat dibalik mantel kakak ada bolongnya atau nggak, kasih lihat nggak sih dek?ÔÇØ tanya kak Alya senyum-senyum padaku. Tentu saja aku menolak.

ÔÇ£Eh, jangan kak! Ngapain juga sih diturutin becandaan abang iniÔÇØ

Hihihi tuh bang gak dibolehin sama adek

Yahh si neng, malu yah? Jangan-jangan si neng gak pake apa-apa lagi? Hehe si bapak penjual itu menebak seolah yakin betul yang aku sendiri tak tahu dari mana dia bisa berpikiran seperti itu. Tapi melihat sikap si bapak yang terus memaksa kak Alya untuk memperlihatkan punggungnya jangan-jangan di kejauhan tadi dia memang melihat sesuatu. Apa kak Alya benar tidak memakai apa-apa di balik mantel itu?

ÔÇ£Adeek, gimana donk niih? Si abang maksa banget deh kayaknyaÔÇØ kak Alya bertanya padaku tapi bukan seperti dilanda panik karena dipaksa si bapak penjual nasgor itu, malah senyum genit gak jelas. Justru aku yang panik dan khawatir kalau kakakku akan berbuat nekat meladeni si bapak itu.

ÔÇ£Ayoh neng..ÔÇØ si penjual makin ngelunjak memaksa kak Alya untuk membuka mantelnya untuk memperlihatkan punggung kak Alya.

ÔÇ£Adek, sini deh..ÔÇØ panggil kakakku setengah berbisik. Entah apa yang sedang kak Alya ingin sampaikan sampai harus bersuara agak berbisik. Yang aku yakin pasti selalu membuatku tegang dan tak berkutik.

ÔÇ£Duh kak, apaan lagi?ÔÇØ
ÔÇ£Kamu bantuin kakak yah dek..ÔÇØ
ÔÇ£Bantuin apaan sih kak?ÔÇØ tanyaku penasaran dengan nafas mulai memburu, entah karena terburu panik atau hal yang lainnya kini sudah makin tak jelas.

ÔÇ£Ummm… kamu bantu pelorotin mantel bagian belakang kakak yah, hihi..ÔÇØ
ÔÇ£Hah?! Ah, gak mau kak!ÔÇØ
ÔÇ£Yaah adeek, entar abangnya gak pergi-pergi loh.. mau yah?ÔÇØ

Kak Alya selalu memberikan pilihan yang sulit buatku, dan aku sudah sangat panik apabila memang benar kak Alya tak memakai apa-apa di balik mantel ini, maka kakakku akan jadi tontonan buat si bapak itu. Tapi membayangkan memelorotkan mantel kakakku sendiri supaya bisa dilihat orang lain, gejolak batinku benar-benar tercampur aduk makin kacau. Kakakku yang cantik dan putih, akan kuperlihatkan punggung polosnya pada si bapak sialan itu.

Tanpa menunggu persetujuan dariku, sepertinya kak Alya tau betul kalau aku juga setengah menikmati adegan ini yang mana kakakku langsung mengambil posisi memunggungi bapak itu. Sedang aku entah sadar atau tidak kini sudah memegang kerah belakang mantel kak Alya.

ÔÇ£Kaak.. kakak serius nih?ÔÇØ sambil menatap wajah kakakku yang sama sekali tak menyimpan kecemasan, malah melempar senyum manis dan kedipan sebelah mata. Apa maksudnya?

Lalu dengan perlahan kak Alya menyibakkan rambut panjangnya kedepan dan membuka mantel bagian depannya yang tak terlihat oleh si bapak itu, tapi aku yang berdiri di samping kak Alya melihat jelas apa yang dikenakannya malam ini di balik mantel ungu itu. Kak Alya tak mengenakan apa-apa! Mendadak jantungku merasa seperti berhenti hingga lupa bernafas. Aku melihat jelas susu kak Alya yang putih dengan puting merah kecoklatan mengacung keras ketika membuka lebar mantelnya. Ough.. Celanaku..

ÔÇ£Adeek.. tarik kebawah doonk..ÔÇØ pinta kak Alya dengan suara manja kepadaku. Aku benar-benar seperti terhipnotis karena godaannya. Dan aku malah benar-benar menarik kebawah kerah belakangnya yang perlahan-lahan mulai memperlihatkan leher jenjang dan mulus kak Alya, sungguh aku bisa melihat bulu-bulu halus yang tumbuh pada tengkuknya. Kak Alya benar-benar seksi. Aku bahkan seperti tak mendengar celotehan si penjual sialan itu lagi. Sebagai sesama lelaki aku tahu betul ia pasti sedang menikmati pemandangan ini dengan leher tercekat.

ÔÇ£Uugh.. kaak, udah yah?ÔÇØ
ÔÇ£Kalo kakak bilang udahan, adek bener mau udahan? Hihihi…ÔÇØ kak Alya seperti tahu betul kalau aku sedang perang bathin. Apalagi kini aku seperti sedang menelanjangi kakak kandungku sendiri di hadapan orang lain. Sensasi ini justru malah membangkitkan hasratku untuk terus memeloroti mantel kakakku.

ÔÇ£Kaak..ÔÇØ
ÔÇ£Apa deek?ÔÇØ
ÔÇ£Punggung kakak putih banget kaak..ÔÇØ tanpa sadar aku malah berceloteh sendiri dan sudah menurunkan kerah kak Alya sampai kepunggungnya, kak Alya benar-benar merawat tubuhnya hingga terlihat seksi seperti ini.

ÔÇ£Hihihi.. adek suka yah?ÔÇØ
ÔÇ£Suka kaak..ÔÇØ
ÔÇ£Dek, liatin deh abangnya..ÔÇØ perintah kak Alya sambil menatap genit padaku untuk melihat reaksi si abang, karena jelas sudah kak Alya memang niat membuat si abang ketar-ketir dengan pemandangan ini.

Saat aku melihat si abang yang sedang melongo sambil memegang pegangan gerobaknya melihat punggung putih kak Alya, tiba-tiba aku agak dikejutkan dengan hembusan angin di kakiku seolah ada yang jatuh di bawah sana. Saat kulihat kebawah, aku melihat mantel kak Alya sudah berada di kakinya yaitu di atas aspal. Kak Alya menjatuhkan mantelnya!

ÔÇ£Kak!ÔÇØ
ÔÇ£Aduuh.. melorot deh deek, ambilin doonk, hihi.. dingin niih..ÔÇØ katanya sambil ketawa cekikikan sambil tersenyum geli. Kakakku benar-benar gila dan nekat! Bahkan di depan bapak penjual nasi goreng kakak memperlihatkan tubuh belakangnya, yang mana kini si bapak itu tahu bahwa kak Alya memang bugil!

Sepintas kulihat si bapak penjual itu masih melongo dan melotot melihat kakakku yang bugil membelakanginya. Malahan seperti orang yang tersedak biji salak. Dari tengkuk, punggung, pantat, sampai paha dan kakinya yang jenjang dan putih bersih terlihat jelas oleh si bapak itu.

Dengan cepat aku mengambil lagi mantel itu dari bawah dan memakaikan kembali ke tubuh kakakku yang agak menggigil kedinginan dan berniat untuk segera pergi dari sini dengan menariknya, tapi kak Alya malah mendekati si bapak itu.

ÔÇ£Bang.. gak bolong kan punggungnya?ÔÇØ
ÔÇ£Eh, A-anu.. ngga neng, hehe.. bening..ÔÇØ
ÔÇ£Yang bolong bukan punggungnya, tapi yang dibawah, hihihi..ÔÇØ
ÔÇ£Hah?!ÔÇØ
ÔÇ£Daag abaang..ÔÇØ celoteh kak Alya yang langsung menghampiriku dan memegang tanganku meninggalkan si abang yang tengah terbengong-bengong seperti tak mempercayai bila ia akan benar-benar melihat seorang cewek cantik yang mau bugil di depannya.

Sampai di persimpangan kami berbelok dan sudah meninggalkan tukang nasi goreng tadi. Sambil terus berjalan aku semakin tak nyaman dengan situasi yang makin memanas ini. bahkan saking panasnya sepertinya aku hampir pingsan setiap kali mendapat serangan siksaan dari kakakku yang nakal ini.

Kak pulang aja deh kalau gini pintaku cemas takut-takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi setelah tahu kalau kakakku tidak memakai apa-apa lagi dibaliknya.

Hihihi kamu ini penakut banget sih jawab kak Alya santai, tapi aku tahu dia tidak sesantai itu juga, dia pastinya sangat berdebar-debar juga saat ini. Terutama kejadian barusan dimana kak Alya langsung pergi meninggalkan si penjual nasgor itu sendirian. Udah dekat tuh ke minimarket masak pulang sekarang sih? ujarnya lagi.

Iya.. tapi pakaian kakak kayak gitu jawabku yang masih ragu untuk meneruskan petualangan malam ini.

Huuuu seperti tadi tuuh, padahal kamu suka kan? goda kak Alya. Tebakannya memang tidak salah, walaupun aku begitu cemas, namun aku memang sudah konak dari tadi melihat tingkah nakal kakak kandungku ini. Kak Alya senyum-senyum manis melihat aku yang hanya terdiam, sepertinya dia tahu isi pikiranku.

Dia lalu mulai berjalan lagi. Akupun ternyata mengikutinya juga akhirnya. Aku harap kakakku tidak akan berbuat yang akan membuat jantungku copot.

ÔÇ£Bentar dekÔÇØ ujar kak Alya menyuruh berhenti saat kami sampai di perempatan jalan yang lampu jalannya menyala terang.

ÔÇ£Ada apa kak?ÔÇØ tanyaku heran. Dia tidak menjawab dan hanya senyum-senyum padaku. Dia berniat menggodaku! Apa yang akan diperbuatnya? Dadaku sungguh berdebar kencang.

Kak Alya lalu celingak-celinguk memperhatikan setiap sudut jalan. Setelah memastikan kondisi sepi dia kini malah berdiri tepat di bawah sorotan lampu jalan dan

Dek
ÔÇ£Ya kak?ÔÇØ
ÔÇ£Tangkep nih!ÔÇØ BUK! Kak Alya melemparkan mantelnya padaku! Dia kembali bertelanjang bulat! Bugil polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya! Badanku langsung panas dingin. Kakakku benar-benar nekat! Jelas aku jadi panik bukan main dibuatnya, namun sekaligus konak berat di saat yang sama. Melihat ekspresiku yang tidak karuan ini kakakku malah tertawa cekikian.

Dek fotoin kakak dong pintanya kemudian sambil mengulurkan hapenya padaku. Hah? Apa-apaan sih kakakku ini? Dia minta difotoin pake hapenya dengan pose bugil di tengah perempatan jalan di bawah penerangan lampu jalan! Badanku semakin lemas dibuatnya. Dia seakan-akan tidak memberiku kesempatan untuk bernafas lega dengan aksi-aksi nekatnya.

ÔÇ£Kak Alya!ÔÇØ
Apa? Fotoin dong dek pintanya lagi sambil masih mengulurkan hapenya padaku.
Please kak pakai dong mantelnya ujarku memohon. Aku ingin dia menyudahi aksi nekatnya ini.

ÔÇ£Gak mau sebelum kamu fotoin kakak duluÔÇØ
ÔÇ£Masa gitu sih kak!?ÔÇØ
Ya udah, kalau gitu kakak telanjang terus di sini katanya dengan gaya mengancam. Ugh sungguh aku dibuat gemas dengan ulahnya.

Akupun tidak punya pilihan lain. Daripada semakin lama kami di sini kuturuti saja deh permintaannya. Aku ambil hape dari tangannya lalu menjepretnya beberapa kali. Perasaanku sungguh campur aduk antara cemas dan horni. Sungguh pemandangan yang tidak lazim, seorang gadis cantik dengan kondisi bertelanjang bulat di tengah jalan, sedang difotoin oleh adek laki-lakinya sendiri. Kak Alya bergaya-gaya bak foto model professional. Sambil memotretnya, aku berkali-kali celingak-celinguk untuk memastikan kondisi tetap sepi. Sungguh nekat dan bahaya sekali! Tapi aku sungguh konak bukan main.

Duh kak, konak berat nih keluhku.
ÔÇ£Hihihi, ya udah dek dikocok ajaÔÇØ

ÔÇ£Gila di tempat umum gini. Yuk pulang aja yuk kak, kita ngentot di rumahÔÇØ ujarku yang sudah sangat horni.
Hihihi, maunya kamu tuh Enak aja ngentot-ngentot. Udah dekat nih minimarketnya, yuk lanjut katanya sambil beranjak dari bawah lampu jalan.

ÔÇ£Ta..tapi dipake dulu lagi dong mantelnya kak..ÔÇØ
Ogah ah, gerah nih dek

Hah? Apanya yang gerah sih Ayo donk kak, tadi udah janji lho gak bakal macem-macem
Aku sendiri tidak tahu apa aku tulus atau tidak meminta kak Alya mengenakan mantelnya kembali, secara aksi kakakku ini sukses membuat adik kecil di balik celanaku berontak hebat. Tapi di sisi lain aku sungguh mencemaskan apa yang akan terjadi. Aneh memang, karena semakin aku mencemaskan kakakku, aku juga semakin horni.

ÔÇ£Cepetan ah kak, pakai mantelnyaÔÇØ pintaku lagi memaksa.
Malas ah jawabnya enteng, bahkan sambil berlari. Gila kak Alya!

ÔÇ£Kak!ÔÇØ
Aku berusaha mengejarnya, tapi semakin aku mencoba mengejar, dia malah semakin cepat berlari.
Kak mantelnya! teriakku tertahan, tapi dianya malah menolehkan kepalanya ke belakang sambil memeletkan lidah dan terus berlari. Ya ampun kakakku ini!

Hingga akhirnya kak Alya kecepekan sendiri dan berhenti. Dia mengulurkan tangan mengambil mantelnya yang ku berikan padanya.
ÔÇ£Jadi adek mau kakak pake ini lagi?ÔÇØ katanya sambil senyum-senyum nakal.

Iya kak cepetan
Hmm Bukannya segera mengenakan mantelnya. Kak Alya malah tengak tengok lalu mengerling padaku. Apa yang dia lakukan selanjutnya sungguh membuat aku jantungan, kak Alya melemparkan mantelnya ke halaman rumah orang!

ÔÇ£Kak!ÔÇØ
Gila sungguh gila! Jelas mantel itu tidak mungkin bisa diambil kembali. Pagar rumah orang itu cukup tinggi. Kak Alya melemparkan mantelnya melewati pagar itu. Apalagi begitu mantelnya mendarat di dalam halaman rumah orang itu langsung terdengar anjing penjaga menyalak-nyalak keras. Aku dan kak Alya langsung lari dan sembunyi meskipun tahu anjing itu berada di balik pagar dan tak mungkin mengejar keluar. Aku sungguh panik, tapi kakakku ini justru ketawa kegirangan. Dia seperti puas sekali dengan aksi nekatnya yang membuat adeknya ini jantungan.

Aduh dek, gimana nih Kakak gak punya pakaian ucap kak Alya manja pura-pura panik. Aku sungguh gemas sekali dibuatnya. Padahal dia sendiri yang membuang mantelnya sembarangan. Aku saat ini cuma memakai kaos dan celana pendek, tidak ada dari pakaianku yang bisa ku berikan ke kakakku.

ÔÇ£Duh, kakak ini gimana sih!? Masak mantelnya dibuang sembarangan gitu!ÔÇØ protesku padanya.

ÔÇ£Maaf yah dek, gak sengaja, hihihi…ÔÇØ ujarnya masih dengan gaya tak bersalah.

ÔÇ£Pulang aja deh kak kalau gini. Gak mungkin kan kakak ke minimarket telanjang begituÔÇØ

ÔÇ£Masak pulang sekarang sih dek? Mini marketnya udah dekat banget gitu. Sekalian aja deh gak papaÔÇØ jawabnya enteng. Apanya yang gak apa-apa!

Seharusnya aku benar-benar menyeret kakaku pulang saat ini, tapi ternyata aku penasaran juga bagaimana kakakku tetap ke mini dengan kondisi telanjang bulat, yang mana bila terjadi apa-apa tidak akan ada sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya nanti. Tapi aku justru semakin penasaran dan horni membayangkannya. Ya, akupun setuju akhirnya untuk tetap lanjut ke mini market.

Setelah berjalan tidak lama, kamipun akhirnya sampai di sana. Tapi tentunya kami tidak langsung masuk, karena tidak mungkin kakakku ikut masuk ke sana. Dari tempat kami berdiri dan bersembunyi di seberang jalan, aku perhatikan keadaan di sekitar minimarket tersebut. Minimarket itu milik salah satu warga di dekat sini, bukan minimarket waralaba yang terkenal itu, tidak ada CCTV, karyawanpun hanya satu yaitu kasir, seorang mas-mas, umurnya paling baru 20-an. Suasana sepi sekali, tidak ada satupun pengunjung.

ÔÇ£Kak, tunggu di sini aja yah, biar aku yang masuk ke dalamÔÇØ

Oke adek jawab kak Alya setuju sambil tersenyum manis, lalu mengedipkan matanya. Aku harap dia benar-benar memegang omongannya.

Akupun menyeberang jalan menuju ke minimarket, namun tiba-tiba kak Alya! Dari belakang kakakku ini berlari dengan cepat mendahuluiku menuju minimarket!
ÔÇ£Kakaaaak!ÔÇØ jeritku tertahan. Muke gile kakakku ini!

Kak Alya masuk ke minimarket. Saat pintu terbuka ada suara bel selamat datang yang membangunkan si kasir. Beruntung kakakku sudah sempat berlari masuk dan menuju rak-rak dagangan. Kepalanya terlihat tapi seluruh badannya tersembunyi dari pandangan mas-mas kasir.

ÔÇ£Ee.. selamat belanja mbakÔÇØ sapa mas-mas itu. Kakakku hanya melemparkan senyumnya kepada mas-mas kasir itu. Seandainya mas-mas itu tahu kalau ada gadis cantik telanjang bulat sedang belanja di mini marketnya! Jantungku berdebar-debar dahsyat. Ku yakin kakakku juga demikian.

Akupun menyusul kak Alya, tapi aku berpura-pura tidak mengenalnya. Aku langsung menuju ke balik rak-rak tempat kakakku berada. Aku yang sudah tidak tahan segera mengeluarkan penisku.

Kak
ÔÇ£Apa dek?ÔÇØ

Gak tahan
ÔÇ£Terus? Pengen pejuin kakak?ÔÇØ tanyanya senyum-senyum.
ÔÇ£I..iya kakÔÇØ

ÔÇ£Sekarang?ÔÇØ
Iya

ÔÇ£Ya udahÔǪ kocok aja dulu dek, sambil liatin kakak, hihihi…ÔÇØ ujar kak Alya sambil lanjut kembali memilih-milih belanjaan.

Uugh kak Alya erangku pelan mulai mengocok penisku. Aku beronani sambil melihat kakakku yang belanja sambil bugil. Kak Alya sendiri bertingkah seperti orang belanja dalam kondisi normal. Dia berjalan-jalan melihat-lihat di rak bagian makanan kecil, ia kelihatan yakin sekali mas-mas kasir tidak akan beranjak dari kursi kasirnya. Bahkan ketika ku perhatikan mas-mas itu sudah mulai menguap lagi, tampak sekali berusaha kuat melawan kantuk.

Gila memang apa yang sedang aku lakukan, masak beronani di dalam mini market sih. Tapi aku memang sudah tidak tahan melihat tubuh kakakku yang berkulit putih bersih itu, bertelanjang di depan rak di dalam mini market. Sesekali kak Alya melirik dan tersenyum manis padaku yang sedang beronani. Bikin aku semakin gak tahan ingin muncrat. Dari tadi kakakku ini selalu bikin penisku tersiksa.

Tapi mendadak terjadi hal yang sama sekali di luar dugaanku.

ÔÇ£Adeek.. pengen colinya lebih enak gak?ÔÇØ
ÔÇ£Uugh.. mau donk kaak..ÔÇØ
ÔÇ£Siap yaah..ÔÇØ
ÔÇ£Hehehe..ÔÇØ

ÔÇ£Mas! Mas! Mau tanya donk!ÔÇØ kak Alya dalam keadaan bugil malah memanggil mas penjaga kasir! Ini bunuh diri namanya!

ÔÇ£Kak Alya! Apa-apaan sih?!ÔÇØ sambil setengah berbisik aku melihat si penjaga kasir yang mengantuk tadi mulai berjalan mendekati kami berdua. Mana posisiku lagi nanggung di tengah kocokanku di samping kak Alya.

Mas penjaga kasir itu berjalan semakin mendekati kami, habis sudah kalau dia melihat kak Alya dalam keadaan bugil. Ingin bersuara tapi malah tenggorokan ini tercekat rasanya, saking tegangnya sampai aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu takjub melihat kenakalan dan kenekatan kakak kandungku sendiri. Ketika si penjaga hampir sampai di rak kami sedang melihat-lihat..

ÔÇ£Kalo coklat XX ada gak mas?ÔÇØ potong kak alya sebelum ia sampai ke rak bagian kami, yang mana coklat yang dimaksud kak Alya berada persis di seberang kami berdiri. Sehingga kini kami berhadap-hadapan dengan si penjaga kasir hanya di batasi dengan dua rak yang dempet dan saling membelakangi. Kami berdua agak beruntung karena ternyata tinggi badan si penjaga tidak lebih tinggi dari kami berdua, dan hanya bisa melihat kak Alya dari leher keatas aja.

ÔÇ£Oh coklat XX mba? Bentar yah, saya liat duluÔÇØ si penjaga tanpa perasaan ganjil mencari-cari coklat yang dimaksud kak Alya. Sepertinya kak Alya sengaja membuatku tersiksa hingga menyuguhkan pemandangan di mana kak Alya seolah sedang berhadap-hadapan dengan pemuda itu tanpa mengenakan pakaian sehelaipun. Aku hampir tak bisa mengontrol diriku lagi untuk agak merapatkan badanku ke tubuh kakakku. Kocokanku jadi semakin liar.

ÔÇ£Ada gak mas?ÔÇØ
ÔÇ£Kayaknya gak ada tuh mbaÔÇØ

ÔÇ£Ummm.. kalau coklat YY deh..ÔÇØ kakakku melempar senyum semanis mungkin ke pemuda itu hingga membuatnya salah tingkah. Kakakku benar-benar suka menggoda orang asing, tapi melihat permintaan kak Alya untuk mecari coklat pada pemuda itu, sepertinya kak Alya juga tak ingin langsung dilihat oleh pemuda itu. Tapi tetap saja jantung ini mau copot rasanya.

ÔÇ£Gak ada juga tuh mba.. mungkin mau coklat yang lainnya mba?ÔÇØ tanya pemuda itu polos, tapi ditelingaku bisa menjadi mesum dan cabul.

ÔÇ£Umm.. gak usah deh. Makasih ya mas.. lagian aku masih punya coklat batangan dari rumah kok, hihi..ÔÇØ sambil melirik genit kearahku kak Alya tersenyum sayu dan genit. Apalagi ketika mengucapkan kata-kata ÔÇ£coklat batangan dari rumahÔÇØ, sungguh membuat badanku panas dingin, karena aku yakin yang dia maksud adalah milikku.

Sekembalinya si penjaga kasir tadi ke mejanya, aku langsung menghadap kak Alya sambil menempelkan kepala penisku ke pinggangnya, aku sudah tak tahan lagi mehanan siksaan yang dilancarkan oleh kakakku yang nakal ini.

ÔÇ£Kaak.. uugh, gak kuat kaak..ÔÇØ
ÔÇ£Hihihi.. adek suka ngga liatnya?ÔÇØ
ÔÇ£Aahh.. kak Alya nakal banget, semua orang mau kakak godain..ÔÇØ
ÔÇ£Hihi, tapi kakak senang adek mau nemenin kakak..ÔÇØ sembari berucap dengan nada lirih, kak Alya tiba-tiba duduk berlutut di depanku sambil membuka mulutnya.

ÔÇ£K-kak Alya?ÔÇØ sambil melihat wajahnya yang cantik dengan mata sayu dan pipi merah merona aku mengarahkan otongku persis di depan mulutnya.

ÔÇ£Coklat batangan kakak mana deek? Hihihi..ÔÇØ
ÔÇ£Hah?!ÔÇØ

ÔÇ£Ayo adeek.. katanya udah gak tahan? Kotorin gih muka kakakmu ini ama peju adek..ÔÇØ
ÔÇ£Oough.. kaak..ÔÇØ racauku sambil terus mengocok makin cepat.

ÔÇ£Lama yah dek? Nanti ketahuan loh kalo ada orang yang datang, hihihi…ÔÇØ tawanya cekikikan setengah meledekku, seolah kak Alya pun tahu aku agak susah keluar karena sebagian diriku dilanda rasa panik takut ketahuan. Bayangkan saja seorang kakak sedang bugil berlutut di depan adik kandungnya sendiri yang sedang coli di depan mukanya, dan kami tengah berada di mini market.

ÔÇ£Kakak gangguin aku terus ihh..ÔÇØ
ÔÇ£Adek kelamaan ah, liat nih dek yaa..ÔÇØ ditengah aku sedang mengocok di depan mukanya tiba-tiba kak Alya membuka mulutnya lebar-lebar persis di depan kontolku dan.. Happ! Kak Alya memasukkan kontolku kedalam mulutnya! Baru kali ini aku menikmati hangatnya kontolku berada di dalam rongga mulut kakakku sendiri. hampir melayang rasanya, bahkan aku hampir tak bisa berdiri tegak sampai harus berpegangan pada rak yang ada di sampingku.

Sambil masih dilanda badai kenikmatan kulihat kak Alya memajukan kepalanya hingga batang kontol coklatku melesak makin dalam kedalam rongga mulutnya. Sungguh aku bisa merasakan tiap lekuk dan tepian di dalam rongga mulut kakakku, dan yang pasti aku semakin tak tahan lagi untuk menahan muncratan pejuku yang siap meledak.

ÔÇ£Kaak.. adek.. mauu..ÔÇØ
ÔÇ£Fuuaah..ÔÇØ kak Alya langsung menarik kepalanya hingga terlepas kontolku dari dalam mulutnya. Seketika itu juga aku yang sudah tak bisa menahan lagi langsung menyemprotkan pejuku kemuka kakakku.

CROOOT! CROOOT!

Sambil masih mengejang beberapa kali dengan getaran-getaran kecil dan pandangan yang agak berkunang-kunang aku melihat kakakku memejamkan matanya sambil membuka mulutnya. Sungguh kak Alya menikmati tiap siraman peju kental hangatku yang mendarat di wajahnya yang cantik. Pengalaman pertama bagiku di mana penisku dikulum oleh kakak kandungku sendiri. Walaupun hanya satu kali kocokan, tapi benar-benar melayang bahkan hampir pingsan aku menerima perlakuan kakakku.

ÔÇ£Udah deek?ÔÇØ
ÔÇ£Uugh.. udah kak.. enaakÔÇØ
ÔÇ£Gara-gara kamu kelamaan kakak jadi ngemut coklat batangan beneran kan.. huuu, dasar..ÔÇØ sambil manyunin bibir imutnya kak Alya mencubit perutku dengan gemas.

ÔÇ£Auw! Sakit tau kakÔÇØ

Tibat-tiba terdengar deru motor dari kejauhan dan mendekat. Oh tidak! Banyak orang berkonvoi motor mendatangi minimarket. Mereka sepertinya adalah geng anak-anak muda bermotor yang memang biasa konvoi dan mangkal di dekat sini. Aku panik bukan main. Kak Alya yang sedang membersihkan wajahnya dengan bajuku pun juga tampak kebingungan. Aku harus menyembunyikan kakakku! Tapi dimana!? Para geng bermotor itu mulai memarkirkan kendaraan mereka di depan minimarket. Jelas ketegangan ini masih belum selesai

Bersambung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*