Home » Cerita Seks Kakak Adik » Satu Hilang Satu Datang 6 (Tamat)

Satu Hilang Satu Datang 6 (Tamat)

Cerita Sebelumnya : Satu Hilang Satu Datang 5

Tiba-tiba jelas terdengar, bunyi jam antik berdentang satu kali <Tenggg…!>, karena pintu kamarnya tidak ditutup kembali oleh bu Lestari.

‘Wahhh… sudah jam 1.00 dini hari…’, kata Dido dalam hati… konsentrasi-nya jadi sedikit terganggu. Dido mengembalikan konsentrasi pada vagina-nya Naning, saat itulah… penis Dido langsung terperosok lebih dalam lagi… menembus barikade selaput dara Naning… menyebabkan Naning ‘siuman’ dari keadaan bawah-sadar dari ‘naungan’ klimaks orgasme perdana-nya.

“Aduh… kak! Kan kata mama tadi… jari kakak… tidak boleh dalam-dalam lho…”, kata Naning sambil mengingatkan Dido sang tambatan-hatinya… tanpa merasakan sakit yang menyengat. Cuma merasakan nikmat saja bercampur perasaan risih saja. ‘Perasaanku kok… gede amat sih… jarinya kak Dido… jangan-jangan…! Ditolehkannya wajahnya yang rupawan kekiri dan kekanan… melihat kedua tangan kekasih sedang menahan bobot badan Dido sendiri agar tidak menindihnya dengan beban terlalu berat. ‘Ooohh…! Rupanya ‘itu’-nya kak Dido toh… kok bisa masuk ya? Katanya gituan pertama kali akan mengalami rasa sakit…?’, Naning sedikit terkejut sambil merasakan rasanya nikmat pada persetubuhan perdana-nya ini.

Terang-terangan Naning memberitahu Dido, “Aduh enaknya…! Kak Dido…! Jangan pelan-pelan sekali dong…”.

“Oh… kesadaran dik Naning sudah kembali ‘full’ ya… kirain sih…”, jawab Dido sambil menatap kekasihnya itu tanpa menghentikan ayunan pinggulnya turun-naik dngan super hati-hati.

“Kirain apaan haayooo…! Cepetin sedikit kenapa kak, biar tambah enak lagi… nih kayak begini nih…”, kata Naning sambil menghentak-hentak pinggulnya keatas.

‘Eeehhh… nantangin lagi, kebetulan… enjotan yang pelan memang enak sih… tapi kalau dengan super hati-hati… cepat melelahkan…!’, langsung dilanjutkan dengan perkataannya. “Nih… coba nih rasakan…”, Dido mulai menggenjot dengan cepat dan bertenaga. “Lebih enak kan?”.

“Nah ini kayaknya… baru bener…!”, jawab Naning senang. “Rasanya bukannya enak deh kak… tapi niiikkmaaat sekaliii…! Uuugh… kak…! Kakak…! Kayaknya mau dapet… seperti tadi kak…! Cepetin kak! Makin cepat…! Aduuuhhh… nggakkk tahaaan deh… ooohhh…!”, dibarengi dengan goyangan pinggul yang ‘liar’ tak terkendali… <seerrr…!> <seerrr…!> <seerrr…!> <seerrr…!>.

Terhempas sudah tubuh Naning terlentang diatas spring bed besar itu, terpejam matanya, sempat dia mengingat-ingat proses persetubuhan perdana-nya ini… dari awal sampai saat ini… hanya rasa nikmat… tanpa disertai rasa sakit yang sering dia dengar…

<Zzz…> <zzz…> <zzz…> <zzz…> bunyi lemah suara desahan tidur Naning yang menjadi letih tapi penuh pengalaman nikmat selama lebih dari 2 jam dalam tuntunan ngesek oleh ibunya yang tercinta… kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya… mengantarkannya tertidur lelap dengan wajah cerah dan senyum simpul bahagia yang tersungging di bibirnya yang merah…

Dido yang melihat Naning tertidur lelap dengan wajah penuh rasa kepuasan, ditariknya pinggulnya keatas dan terdengar pelan suara <plookk!>… Terlepas sudah penisnya yang yang masih keras itu dari jepitan otot vagina Naning yang super ketat. Turun dari tubuh Naning dan menelusuri lagi matanya pada tubuh yang putih mulus dan sexy itu… penisnya kembali bertambah keras lagi… tapi apa yang mau dikata… sang kekasih hati sudah tidur terlelap… Dido langsung membaringkan dirinya disamping Naning.

***

Bu Lestari sudah kembali kedalam kamar tidur itu sambil membawa baskom berisi air hangat suam-suam kuku. Sebenarnya bu Lestari bisa saja mengambil air hangat dikamar mandi dalam kamar tamu itu, tetapi disana kan tidak ada baskom, lagi pula dia ingin menyiapkan minuman segar di dapur untuk kedua remaja itu dan untuk dirinya sendiri.

Dengan heran bu Lestari melihat kedua remaja itu sama-sama terlentang dengan dengan mata tertutup, segera dia meletakkan baskom berisi air hangat itu diatas lantai disisi spring bed yang berdekatan dengan bagian kepala tempat tidur itu.

Diperhatikan wajah puteri bungsu kesayangannya itu yang terlelap dengan senyuman di bibirnya yang mungil lalu melirik kearah vagina Naning… tidak ada lelehan air mani Dido dan sepintas tidak terlalu kelihatan noktah-noktah darah perawannya. Bu Lestari memperhatikan vagina Naning dari dekat, yang terlihat adalah endapan cairan yang sedikit kemerah-merahan tapi tidak begitu nyata pada selimut bergaris-garis itu. ‘Oh… rupanya misi si Dido… sukses toh?’. Kemudian me-lap vagina Naning seperlunya dengan lap yang sebelumnya direndam dahulu kedalam baskom yang berisi air hangat.

Setelah selesai membersihkan, bu Lestari langsung mendekati tubuh berondong mudanya itu dan tersenyum melihat penis Dido masih berdiri saja dengan tegak dan gagah… ‘Kok kering ya? cuma agak kemerah-merahan sedikit saja, pasti disebabkan oleh darah perawan Naning.

Dan berkata pelan pada Dido. “Kalau kamu tidak cepat membuka matamu… mbak akan cubit lagi kontol bandelmu in….”, kata bu Lestari dengan nada mengancam.

Belum juga tuntas bu Lestari menyelesaikan kata-katanya… langsung Dido membuka matanya dan melompat duduk untuk melindungi penisnya dengan kedua belah telapak tangan sambil berkata bernada protes, “Ehhh… jangan dong mbak!”.

“Hi-hi-hi… baru juga pake omongan aja, sudah belingsatan kamu… Kok kamu ngentotnya … nggak sampe muncrat sih?!”, tanya bu Lestari.

“Habis… Naning sudah tertidur duluan… mbak, mana tega Dido meneruskannya lagi…”, jawab Dido.

“Eehmm… ternyata kamu baik hati juga ya Do! Mbak nggak nyangka lho…”, kata bu Lestari lagi.

“Eh… mbak sayang… memang Dido baik hati kok”, kata Dido lagi sambil matanya melototi buahdada bu Lestari yang montok dan menggairahkan itu…

“Huuushhh… kerjanya cuma ngerayu mbak saja kamu… sudah bersihkan kontol bandelmu itu… dikamar mandi dan… turun dari tempat tidur jangan grabak-grubuk… takkan lari kamar mandi dikejar… hi-hi-hi…”, sambil melangkah keluar kamar.

“Mbak-mbak…! Mau kemana lagi?”, tanya Dido dengan heran.

Sambil tetap melangkahkan kakinya, bu Lestari menjawab, “Kan… minuman segarnya masih ketinggalan di dapur…”.

***

Dido keluar dari kamar mandi dan melihat bu Lestari berdiri menghadap kearahnya sambil berkacak-pinggang.

Bu Lestari ngedumel, “Chk-chk-chk…! Sampai dua tahun nunggunya… kontol bandelmu itu pake disikat dulu apa…?!”.

Jawab Dido sambil tertawa, “Bisa aja mbak-ku sayang… dua tahun atau 2 menit…? Kan Dido sekalian kencing… kencing itu nggak bisa diburu-buru lho… mbak”.

“Ya sudah… kalau begitu, ikutin mbak sayangmu ini sekarang!”, kata bu Lestari sambil melangkah dengan melenggak-lenggokkan pinggulnya… menuju kekamarnya Dido.

Dido mengikuti dari belakang sembari melihat menikmati goyangan pinggul sexy bu Lestari… semakin lama dilihat… semakin keras dan tegang penis Dido jadinya. Dido tidak menengok kekiri dan kekanan… matanya melototi pinggul sexy bu Lestari saja. Saat mereka tiba didalam kamarnya, Dido menubrukkan badannya ke tubuh bu Lestari yang menghentikan langkahnya tiba-tiba. Tapi bu Lestari dengan sigap membalikkan badannya, langsung melingkari kedua tangan mulusnya pada tubuh tegap Dido, menciumnya dengan ganas dan menggiring tubuh Dido ke tempat tidur serta mendorong sampai jatuh terlentang diatas tidur.

“Hayoo cepat! Seperti yang kemarin, berbaring terlentang ditengah-tengah… cepat…! Nggak pake lambat…!”.

Dido agak kaget sedikit akan ‘keberingasan’ bu Lestari dan dia berpura-pura jadi penurut saja. ‘Lihat saja nanti! Aku sudah tahu titik lemahmu mbak… mbak-ku sayang yang nafsuan banget. Mbak tidak akan kuberi kesempatan WOT berlama-lama… kita akan MOT, gaya klasik saja. Tunggu nanti Dido genjot sambil Dido kenyot yang keras puting mbak yang kanan… he-he-he…”, tekad Dido sangat mantap didalam hatinya.

(NB: WOT = Woman On Top; MOT = Man On Top)

Dido segera dengan ‘patuh’ menelentang dirinya ditengah-tengah diatas tempat tidurnya. Cepat saja bu Lestari mengambil posisi… menempatkan pantat bahenol-nya itu… menduduki pangkal paha Dido. Menyergap penis tegang milik Dido lalu palkon-nya diarahkan ke lubang vagina-nya. <Bleeesss…!> tak ayal lagi, batang penis Dido tenggelam seluruhnya… dirangkul ketat oleh otot-otot nikmat vagina-nya bu Lestari… langsung pinggul menggairahkan itu bergerak naik-turun yang mengakibatkan penis tegang milik berondong muda-nya… keluar-masuk pada vagina-nya tanpa terlepas…

‘Oohhh… nikmatnya…!’, hampir-hampir Dido terbuai oleh ayunan mantap pinggul bu Lestari… sebentar-sebentar diselingi dengan gerakan memutar yang dahsyat. Tapi tekad Dido masih mengungguli sedikit atas kenikmatan yang sedang dirasakannya itu. Ditariknya agak keras tangan ibu cantik ini yang menyebabkan tubuhnya terjerembab kedepan dan menindih tubuh Dido, yang menantikan FK-nya yang rada galak. Dengan posisi ini bu Lestari tak lagi bisa mengandalkan ‘ilmu simpanan’ empotan ayamnya.

“Mau mbsk enakin kok… malah ngajakin cipokan melulu sih…?!”, gerutu bu Lestari.

Tiba-tiba Dido membalikkan badannya sambil memeluk ketat tubuh bu Lestari, sehingga sekarang Dido menindih tubuh bu Lestari yang molek seutuhnya.

“Eh-ehhh…! Mau ngapain kamu… Do! Dasar bandel!”, seru spontan bu Lestari yang heran sambil bertanya.

“Mbak sayang…! Diam saja, jangan meronta-ronta… pokoknya terima enak aja… service dari ‘kontol nakal’-nya Dido… Please… deh!”, jawab Dido tanpa menghentikan pompaan penisnya kedalam vagina legit bu Lestari sambil kemudian mengulum-ngulum kencang puting buahdada montok sebelah kanan milik bu Lestari yang indah… Sedang pantat Dido yang cukup kekar itu konstan dan intens bergerak berirama dengan stabil… turun-naik.

Tidak perlu memakan waktu dengan lama… hanya dengan 5 menit kurang sedikit saja… sudah terdengar desahan bu Lestari disertai keluhan nikmatnya, “Aduuuh… Dido… kamu iniii… enaaakkk banget tauuu…! Ayooo dong Do… kecengin lagi enjotannya… mbak mau nyampe nih…!”.

Dido mematuhinya, dinaikkannya sedikit frekuensi ayunan pantatnya yang langsung mengundang lagi desahan keras bu Lestari. “Ooohhh… enaakknyaaa…! Nikmatnya… nggak ketahan lagiii… ooohhh… Dido sayang…!”, diikuti dengan… <seerrr…!> <seerrr…!> <seerrr…!> <seerrr…!> sampai terhentak-hentak tubuh cantik bu Lestari mendapatkan orgasme pertamanya pada dini hari ini… terlentang lemas dengan mata terpejam… meresapi kenikmatan yang klimaks…

Sedangkan pantat Dido masih tetap saja bergoyang samba… tidak terpengaruh sedikitnya adanya orgasme untuk bu Lestari itu. Dia sendiri berupaya ingin meraih orgasme untuk dirinya sendiri, tidak seperti… meminjam kata bu Lestari… tidak pake grabak-grubuk…

Goyangan pantat Dido yang masih tetap stabil dan intens ini mengundang desahan dari bu Lestari… kali ini bernada keluh-kesah protes. “Udaaahh… dong Do! Hentikan sebentaarrr saja… beri kesempatan mbak istirahat sejenak… mbak tau kok… kamu belum keluar kan…? Nanti dilanjutkan lagi… nggak pake lama deeehhh…”, bu Lestari meminta dengan sangat pada berondong muda-nya.

Dido tetap melanjutkan aksinya, tidak menggubris keluh-kesah bu Lestari yang memelas.

“Do-Do… Didooo…! Kamu denger apa tidak sih…! Aduh sayang… ngilu nih memek mbak…! Tau nggak sihh… NGILU…!”, kata bu Lestari berkata-kata dengan kondisi tubuh yang risih dan belingsatan menghadapi ‘cobaan’ ini… yang kalau dibiarkan lebih lama lagi akan menyiksa dirinya, sedang tubuhnya sudah lemas… takkan mampu lagi mendorong tubuh Dido yang tegap.

Dido dengan semangat ‘tiada maaf bagimu’ masih menjaga kesinambungan aksinya dengan keseriusan dan tekad yang tinggi.

Dalam hitungan paling banter 5 menit tambah sedikit saja… bu Lestari berkeluh-kesah lagi, “Aduh… Dido! Tega sekali kamu… ooohhh… nikmatnya… mbak nyampe lagi!”, diikuti lagi dengan… <seerrr…!> <seerrr…!> <seerrr…!> <seerrr…!>

Dido yang mengetahui bahwa bu Lestari telah mendapatkan orgasme untuk kedua kalinya, segera ‘tancap gas’… sekarang saatnya giliran dia menjemput orgasme untuk dirinya sendiri. Dengan kecepatan maksimal tapi stabil, Dido memmpercepat sodokan-sodokan penisnya kedalam vagina legit milik bu Lestari yang jelita…

Tidak terlalu lama, terdengar lagi keluh-kesah memelas tapi bernada kesal dari bu Lestari, “Aduh biung…! Dido-Dido…! Kamu kenapa sampai sadis begini… sih…! Memek mbak nih… ooohh sayang… dasar kontol bandel…! Jadi ngiii…LUU… tahu nggak sih…?! Aduuuhhh… NGILU!”.

Dido tidak menghiraukannya, yang dijaganya sekarang adalah
agar dia segera mendapatkan orgasme dengan… sempurna! ‘Masak… bodoh dengan keluh-kesahmu sayang… siapa suruh maunya menang sendiri…!’, Dido berkomentar dalam hati.

5 menit berselang… “Oooh… nikmatnya… memek legit mbak ini…!”, Dido berkomentar mengenai betapa legitnya vagina yang tengah digarapnya ini.

Bu Lestari sudah tidak mampu bereaksi cepat mendengar desahan nikmat dari Dido… karena dia tengah sibuk… dengan sekuat tenaga mengalahkan rasa ngilu yang teramat sangat dirasakannya itu. Tidak dipungkirinya memang ada juga nikmat yang juga dirasakan akibat ‘gempuran’ intens sodokan-sodokan penis Dido yang super ‘galak’ pada dini hari ini.

Tak tertahan sudah… orgasme datang dengan tiba-tiba menerpa keras sekujur tubuh tegap Dido… terguncang-guncang pantat Dido tidak beraturan lagi iramanya…

<Crrooottt…> <crrooottt…> <crrooottt…> <crrooottt…> semburan dahsyat dari ujung palkon Dido didalam vagina bu Lestari menyemprotkan air mani bertubi-tubi… yang langsung memicu gairah bu Lestari mendapatkan satu lagi orgasme-nya.

Kedua insan yang berbeda jauh usianya ini… sudah tidak mampu berkata-kata saat merasakan nikmatnya persenggamaan ini, dan… mendapatkan orgasme hampir berbarengan… ya… beda tipis lah… paling satu detikan kurang sedikit…

***

Kukuuuruyuukkk…! Lapat-lapat dari kejauhan terdengar ayam berkokok kepagian… sudah kehilangan akurasi-nya, tidak lagi sinergi dengan waktu alami… Hanya jam antik dalam rumah itu, di ruang keluarga yang mampu meralatnya…

<Tenggg…!> <Tenggg…!> jam antik berdentang 2 kali, memberi tahu bahwa waktu sekarang adalah baru pukul 2.00 dini hari… masih lama menjelang pagi.

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*