Home » Cerita Seks Mama Anak » Satu Hilang Satu Datang 5

Satu Hilang Satu Datang 5

Sambil berdendang dalam hati, bu Lestari menyusuri jalan setapak yang gundul… karena keseringan diinjak-injak oleh kaki-kaki orang yang berlalu-lalang disitu… mana mau lagi sang rumput bertumbuh disana… mendingan juga tumbuh ditempat lain yang lebih aman. Juga tidak ada tanaman pohon yang besar dikiri dan dikanan jalan setapak itu, hanya dipenuhi dengan tanaman perdu dan bebungaan saja… jadi suasananya cukup aman… lagi pula daerah disekitar situ memang aman-aman saja kok, kekurangannya cuma satu… yaitu tidak ada lampu penerangan… apa lagi kalau itu cuma jalan setapak, iya kan? Didaerah sekitar sini, listrik negara hanya diperuntukkan untuk rumah-rumah hunian saja dan… tidak untuk jalan setapak.

Bu Lestari sudah mendekati rumahnya, berkat senter kecil canggih didalam genggamannya itu, yang menyala sangat terang… menyoroti jalan setapak didepannya, membuat langkah kaki bu Lestari menjadi mantap. Disorotnya pintu depan rumahnya itu, tak lama kemudian pintu itu berderik terbuka… bayangan sesosok tubuh gadis yang bertubuh sintal terlihat… disorot oleh cahaya lampu didalam rumah yang cukup terang.

“Mama ya…? Pakai apaan tuh… terang banget! Iiih… bandel nih mama…! Jangan disorot ke Naning dooong…! Silau niiihh…!”, teriak Naning, puteri bungsu bu Naning.

Buru-buru bu Lestari mengalihkan sorot senter itu kembali ke permukaan jalan kembali. “Iya sayang… ini mama datang!”, seru bu Lestari agar supaya Naning tidak berlama-lama was-was. ‘Tumben suara Naning tidak bernada ngambek malam ini, kan… seharusnya aku pulang 2 jam lalu… apa karena pesona senter ajaib ini? Wah… bagus nih gelagatnya… Bakalan bisa ngentot lagi nih sama Dido, si setengah perjaka yang ganteng dan perkasa itu, kan… aku belum tuntas ‘mengikis’ habis keperjakaannya, hi-hi-hi…’, cekikikan senang sisi nakal dalam pikiran bu Lestari… mesum!

Selewat pintu depan itu dan melangkah masuk kedalam rumah, segera pintu itu ditutup dan dikunci kembali oleh anaknya. Naning segera berbalik dan berhadap-hadapan dengan ibunya serta menatap heran penuh tanda tanya diwajahnya yang muda, ayu dan manis itu. Bagaimana tidak heran, ibunya masih tetap saja tersenyum-senyum. Ini ditanggapi Naning keliru dengan bertanya pada ibunya yang tercinta, “Kok senyum-senyum saja dari setadi ma? Nah… ketahuan yaaa… mama senang karena habis dikasih THR sama pak Darto ya…?! Hayo ngaku… deh! Benar kan?”.

“Astaganaga…! Anak mama ini, ingatannya cuma duittt… melulu! Apa kamu lupa? Pak Dartowan kan pergi ke ibukota… bersama Nani, kakakmu. Lupa yaaa…? Aduh… kacian deh anak mama ini, masih muda… cantik lagi… kok mulai suka lupaan ya?”, kata bu Lestari riang sambil mengecup mesra dahi mulus anak gadisnya itu.

“Ooohh… iya… bener! Sampai lupa Naning…! Jadi kenapa dong senyum-senyum terus…?”, tanya Naning masih penasaran.

Ibunya tidak menjawabnya, hanya menyodorkan senter kecil itu ke tangan Naning. “Nih… salam perkenalan dari Dido, cucunya pak Dartowan”, kata ibunya singkat, mulai menjalankan taktiknya untuk membujuk hati anaknya itu.

“Kok salam perkenalannya pake benda ini sih… ma? Aneh ya?!”, kata Naning sembari mengamati benda kecil itu dengan kagum. ‘Mengherankan sekali…! Benda sekecil ini, kok cahayanya bisa terang sekali ya?’, berdecak kagum Naning didalam hatinya.

“Eh… jangan salah sangka lho Ning… mungkin saja memang begitu kali… kebiasaan di Amerika…”.

“Kok mama jawabannya nyasar kemana-mana sih…? Pake Amerika segala… emangnya mama baru dari Amerika… apa!?”, kata Naning rada heran.

“Eehhh… anak mama ini… tidak percayaan sama mamanya…! Dido itu yang baru datang dari Amerika… bukannya mamamu sayang… Ning… kamu tahu tidak? Dido itu usianya masih muda sekali lho… umurnya cuma 3 tahunan saja lebih tua darimu… Kan kamu bakalan berumur 15 tahun… bulan depan. Heran ya… Dido yang masih berumur 18 tahun itu sudah kuliah kedokteran di Amerika sana… semester dua lagi…!”, kata bu Lestari mempromosikan Dido, berondong mudanya itu pada puteri bungsu, anak kesayangan-nya. “Pasti cerdas sekali si Dido ini… kalau tidak mana mungkin bisa…! Lagi pula sesuai kali… dengan perhitungan pak Dartowan yang pintar… tidak sia-sia rupanya beliau mengeluarkan biaya seluruhnya untuk semua keperluan Dido di Amerika sana…”, kini giliran pak Dartowan, boss-nya yang dipuji-puji.

“Masak sih…? Tapi mungkin benar juga kali…”, kata Naning mulai mempercayai semua cerita ibunya itu. “Kalau tidak salah ingat… kan mama pernah bercerita sama Naning. Pak Dartowan punya anak perempuan, Desrita namanya yaitu ibunya Dido… yang juga seorang dokter… iya kan?”, kata Naning mengingatkan ibunya.

“Eeeh… benar itu! Ternyata anak kesayangan mama ini… ingatan kuat juga…!”, jawab ibunya memuji dan sekaligus membujuk Naning, puteri bungsunya ini.

Jarum menit pada jam dinding berjalan terus, sudah 15 menit berlalu sejak bu Lestari tiba dirumahnya ini. Sekarang waktu pada jam dinding itu menunjukkan pukul 20.15.

“Jadi gimana nih… Naning-ku sayang?”, tanya ibunya tiba-tiba.

“Gimana… bagaimana? Maksud mama apaan sih…?”, kata Naning, tidak mengerti apa yang dimaksudkan ibunya itu.

“Aduhh… tega-teganya kamu mempermainkan mama lagi… ‘gimana’ itu artinya adalah ‘bagaimana’, ‘gimana’ itu adalah bahasa gaulnya dari kata ‘bagaimana’… kamu orangnya… tidak gaul sih, udah… pake bahasa sekolahan aja deh, biar lebih… keren! Yang dimaksudkan mama adalah ‘salam kenal’-nya Dido diterima tidak?”, kata bu Lestari menjelaskan, khawatir waktu 1 jam seperti yang dikatakannya pada Dido tadi… terlewati! ‘Wah… si Dido bisa tidur nihh… bisa nggak jadi ngentot deh malam ini…’, kata sisi buruk bu Lestari dalam hati yang mulai dirambati kekhawatiran.

“Oh itu… toh!”, jawab Naning mulai paham. “Ini sudah diterima dengan baik, masih ada ditangan Naning… dijamin deh tidak disia-siakan…”.

“Aduh biung…! Anak mama yang ayu… cantik… botoh… nggak ngerti-ngerti juga sih?! Kasihan tuuhhh… cucunya pak Dartowan… pasti lagi ketar-ketir… menunggu kita berdua!”, kata ibunya, tanpa berani menunjukkan kesebalan pada anak gadisnya ini, takut anaknya malah jadi ngambek… lagi. Yang dilanjutkan dengan pikirannya yang genit. (‘Nggak tahu apa? Dido itu kan berondongnya mamamu…! Hi-hi-hi…’, kata sisi nakal dalam dirinya yang ikut-ikutan mengomentari).

“Kok berdua ma…?”, tanya Naning lagi pada ibunya.

“Lhaaa… iyaaalah…! Apa kamu berani pergi sendiri apa?!”, kata ibunya lagi sambil menahan rasa kekinya.

“Aaaahh… nggak deh ma… sekarang kan sudah malam untuk acara berkenalan… besok pagi saja yaa…?”, kata Naning menawar. Sebenarnya gadis belia yang ayu dan cantik ini menolak karena sungkan dan rasa malunya saja. Memang Naning adalah gadis yang sangat pemalu, tidak seperti si Dina yang hampir selalu mengawali pembicaraan (NB: lihat pada Bagian 1 cerita ini).

“Aduh mak… sayangku… yang cantik dan ayunya melebihi mamanya… sekarang kan baru pukul 8.20 malam, bukannya sudah tengah malam sayang…! Apalagi besok kamu kan libur sekolah, biasanya juga… kamu baru tidur jam 12.00 tengah malam. Asyik menonton filem di TV yang nggak jelas jalan ceritanya itu…”, kata ibunya lembut (tapi… sebel!) sembari membujuk anak bungsunya itu.

“Bagaimana ya ma…?”, jawab Naning agak ragu, dia menghela napas panjang dan mendorongnya keluar bersama rasa ragunya. “Iya deh ma… Naning dandan dulu yaaa…”, katanya menyerah dengan… sangat terpaksa.

“Ooohh… tidak-tidak… keburu tidur deh… si Dido… lagi pula dia tidak terlalu suka sama gadis yang suka berdandan… Dido adalah seorang pria muda pemuja kecantikan yang alami… seperti dirimu ini Ning… dan jangan pula pake minyak wangi segala, sebab wangi yang kamu sukai… belum tentu orang lain menyukainya… mama tidak bohong lho! Buktinya… kenapa begitu banyaknya ragam dan mereknya… mungkin ratusan lebih… semuanya tidak ada yang sama wanginya…! Jangan sampai wangi yang kamu sukai… membuat orang lain didekatmu menjadi mual-mual. Nanti orang lain disekitarmu itu… men-cap kamu egoist. Camkan nasehat mama ini… gratis kok!”, nasehat ibunya sambil berkelakar kecil.

‘Iya juga sih…’, kata Naning dalam hati, mengenai minyak wangi ini dia sependapat dengan mamanya. “Jadi… apa begini aja…? Malu nggak ya… nanti?”, kata Naning masih agak bimbang.

“Yaaa… enggak lah yao…!”, komentar mamanya yang mulai agak kesal atas keluguan puteri bungsunya ini. (‘Lugu… kok dipelihara…! Dido saja tadi nggak pake dandanan segala… alias telanjang bulaaatt…!’, pikiran nakal bu Lestari ikut-ikutan nimbrung berkomentar).

“Iiddiihh… mama ngomongnya kayak anak muda aja sih… hi-hi-hi…”, kata Naning tertawa mengikik senang.

“Memang benar…! Mamamu ini masih muda kok…!”, jawab ibunya pendek saja.

“Ingat ma! Jangan malam-malam ya…”, kata Naning mengingatkan ibunya.

“Iya… gimana nanti saja deh…”, sudah malas ibunya menanggapinya panjang lebar lagi… yang penting Naning sudah mau bersamanya kerumah pak Dartowan.

***

Ibu dan puteri bungsunya itu sambil jalan seiring dan saling merangkul mesra menyamping, sudah tiba dekat pintu depan rumahnya pak Dartowan. Dido yang sekarang menjadi tuan rumahnya langsung saja membuka pintu depan rumah dan mempersilahkan tamu-tamunya masuk kedalam. Dido kemudian menutup pintu itu dan menguncinya kembali.

‘Cantik sekali anak ini’, komentar Dido dalam hatinya. Jantung-nya selalu berdetak lebih kencang setiap kali dia memandang paras ayu dan cantik gadis muda usia itu.

Dido menyodorkan tangan kanannya mengajak bersalaman kenal pada
gadis itu. Yang disodori tangan eh… malahan secara refleks langsung memundurkan tubuhnya sedikit kebelakang. Jadi heran sekali Dido melihat Naning ini, yang dipandang… malah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan cepat Dido yang calon dokter itu meng-analisa situasi ini secara ilmu kedokteran. ‘Ohhh… anak ini super malu sekali toh…!”, inilah kesimpulan awal Dido mengenai gadis cantik didepannya ini.

“Jangan takut dik… kakak sudah jinak… kok”, kata Dido sedikit bergurau untuk mencairkan suasana.

Bu Lestari yang menyaksikan semua itu tersenyum, ‘Terang aja sudah jinak… kontolmu itu lho… Do…! Kan sudah mendapat jatah dariku… hi-hi-hi…!’. Dia tidak mau mempermalukan anaknya didepan orang lain dengan mendiktenya. Biarlah semuanya terjadi secara normal saja menurut karakter mereka masing-masing, kecuali… kalau puteri bungsunya itu terang-terangan meminta saran darinya. Sementara ini dia hanya pasif saja… tidak mau ikut campur, meskipun sekarang ini dia sebagai penonton sangat aktif sekali… mengawasi dengan seksama kedua orang remaja itu… yang sedang melakukan proses perkenalan awal.

‘Lebih baik aku ke dapur saja membereskan semua piring kotor yang sedari siang belum sempat dikerjakan’, pikir bu Lestari yang mulai ‘normal’ kembali.

“Do…! Mbak ke dapur dahulu ya…”, kata bu Lestari.

“Sebenarnya yang jadi ‘tuan rumah’ bukannya aku lho… mbak! Dido mana tahu segalanya, kan baru sampai kesini kemarin sore. Lagi pula opa Darto sudah memberitahu Dido melalui telepon bahwa segala sesuatunya tanya dan minta saja sama mbak Les…”, kata Dido menjelaskan semuanya. ‘Termasuk… minta ngeseks, kan… semuanya disuruh minta sama mbak he-he-he…’, sambung Dido dalam hati… nakal!

“Kenapa kamu tidak memberitahu juga opa-mu tentang kamu berpuasa tadi siang… tidak makan…”, timpal bu Lestari mulai rada sewot lagi kalau mengingat semuanya itu.

“Eehhh… jangan marah dulu dong, mbak”, kata Dido lembut. “Dido ditelepon opa, ketika masih di Amerika sana, baru mau siap-siap berangkat ke Indonesia kok…”, kata Dido memberitahu, agar jelas bagi bu Lestari.

“Ooohh… gitu toh? Pantesan… mbak diminta opa-mu untuk menginap disini sementara beliau bersama Nani ke ibukota… sekarang mbak baru mengerti…”, kata bu Lestari mulai paham akan instruksi pak Dartowan, boss-nya itu. Jadi lega deh hatinya sekarang (lega… kenapa ya…? Cuma bu Lestari sendiri yang tahu…).

Sementara itu Naning menyimak semua percakapan itu dengan seksama… menyimpulkan, ‘Wah… aku juga harus ikut-ikutan menginap nih… disini’. Naning tidak menyapa ibunya mengenai hal ini… bukan karena takut, tapi lebih disebabkan karena malu… ‘Habis kak Dido… gantengnya banget-banget sih… pintar lagi kuliahnya…’, demikian penilaian Naning yang baru saja mengalami peristiwa ‘jatuh-hati’ pada pandangan pertama, dalam hal ini ibunya ikut andil juga… yang mempromosikan Dido langsung pada puteri bungsunya ini.

Rupanya ada benih-benih cinta muncul dari ‘pandangan pertama’ didalam hati gadis lugu yang super malu ini! Memang demikianlah kenyataan pada umumnya bagi seorang gadis pemalu yang biasanya lebih cepat ‘jatuh hati’ ketimbang dari gadis yang tidak pemalu… Apalagi bagi Naning yang super malu ini, benih-benih cinta pada ‘pandangan pertama’ sangat cepat bertumbuh… subur lagi! Bertolak belakang kejadiannya pada gadis-gadis muda yang gaul, kalau cinta pertamanya diterima… ya… syukurlah! Kalau ditolak… ya… kebangetan amat sih… tanpa harus ditangisi sampai berhari-hari… buang-buang energy saja!

Kedua remaja itu berdiri diam saja ditempat berhadap-hadapan… diselimuti keheningan suasana. Tapi setelah merasakan kaki mereka mulai dirambati sedikit rasa kebas… tanpa disadari… mereka sekarang sudah duduk dikursinya masing-masing… masih tetap berhadap-hadapan, cuma dipisahkan oleh meja tamu berkaca tebal yang berbentuk elips. (NB: elips = lonjong}

Sepintas kelihatan kedua sikap mereka sama… tapi berbeda penyebabnya. Kalau Naning lebih disebabkan rasa malu yang kadarnya sudah super, sedang Dido sedang memutar otaknya… menyusun strategi jitu untuk mengatasi keadaan serta berupaya keras mencairkan suasana diantara mereka berdua yang terasa ‘kaku’ itu.

Naning masih saja menundukkan kepalanya dalam-dalam… duduk diam ditempat.

Tiba-tiba Dido berdiri, lalu membungkuk dan… mengangkat meja tamu itu… dipindah dan ditaruh lagi sampai mepet ke tembok yang terdekat.

Sekilas Naning terkejut dan mengangkat wajah melihat semua ulah Dido itu, ketika Dido kembali lagi menuju kursinya tadi, Naning buru-buru menundukkan kepalanya lagi.

Dido menghenyakkan tubuhnya di kursi… diam sejenak. Tiba-tiba Dido merangkak dengan kedua lutut dan kedua telapak tangannya menjejak di lantai. (NB: seperti guguk… gitu lho… Maaf ya… Do!). Ini memang disengaja, semuanya harus dilakukan secara ‘tiba-tiba’, tujuannya sebagai ‘shock therapy’ untuk mengundang perhatian dari Naning yang kalau dinilai sekarang secara psikologis, rasa malu-nya itu sudah parah sekali! Itulah strategi yang dijalankan Dido yang sedang berupaya keras mencairkan kekakuan suasana diantara mereka.

Naning yang masih duduk dan menundukkan kepala, melihat dengan jelas kemunculan sosok tubuh Dido sekonyong-konyong dibawah di lantai didepan dirinya itu, refleks mencetuskan kalimat seru yang lumayan keras, “Aduhh mama…!”, lalu segera mengatupkan kedua lututnya rapat-rapat (saat ini Naning berbusana blus atasan dan rok bawahan yang tidak terlalu pendek sih… malah rasanya agak kepanjangan… begitu).

“Sorry… kaget ya…? Kakak cuma mau ikut membantu mencari-kan… apaan ya… yang sudah jatuh ke lantai? Sebab… dari tadi kakak melihat kamu sibuk melihat-lihat terus ke lantai…”, kata Dido sambil merundukkan kepalanya… celingukan… menoleh kekiri dan kekanan seakan-akan sedang mencari sesuatu…

Naning tanpa suara, tangannya menyodorkan senter kecil itu dalam genggaman telapak tangannya yang putih mulus… kan dia anak ibunya…

Dido melihatnya dengan rasa sangat senang, ternyata… strategi-nya mulai mendapat respons dari gadis pemalu ini. Diambil dengan segera senter kecil itu yang tadinya diberikannya pada bu Lestari, ibunya Naning. “Kakak pinjam dulu ya dik… senternya”, setelah menyalakan senter itu langsung saja Dido tiarap dan memasukkan kepala dan sebagian tubuhnya di kolong sofa yang ada didekat situ.

Sedang Naning hanya menyaksikan saja dengan diam dan… heran!
‘Apa dia tahu apa yang telah jatuh dari dariku… aku jatuh hati padamu… kak! Dasar tidak tahu sih…!’, rintih Naning dari lubuk hatinya yang lugu dan murni… masih bersih dari coretan-coretan kisah kasih…

Naning masih saja terus mengawasi tingkah-polah Dido dengan seksama. Dilihatnya tangan kanan Dido nongol dari kolong sofa, lalu merogoh-rogoh saku belakang dan saku depan pada jeans coklat yang dikenakannya itu, seakan-akan sedang mencari sesuatu. Kemudian tangan itu masuk lagi kedalam kolong sofa.

Dilihat Naning, tubuh Dido diam sejenak tidak bergerak. Tak lama kemudian Dido menarik keluar seluruh tubuhnya dari kolong sofa itu, seraya berkata dengan nada gembira, “Sudah ketemu… dik!”.
Dido menyodorkan kembali senter yang menindih secarik kertas. “Ini senternya dik… sama kertas catatan adik yang jatuh tadi…”.

Naning menerima semuanya yang disodorkan itu dengan malu-malu sambil bertanya-tanya dalam hatinya, ‘Apa benar itu catatan milikku…? Jangan-jangan miliknya mama yang jatuh tercecer… kali?’.

Segera Naning memegang senter kecil dalam genggaman tangan kirinya dan… memegang kertas itu dengan jari telunjuk dan jempol tangan kanannya dan… membaca isi catatan pada secarik kertas itu.

SUDAH DIK… KAKAK SUDAH MENEMUKAN ‘HATI’-MU
YANG JATUH TADI… KAKAK SIMPANKAN DAHULU YA
SEKARANG KITA KENALAN… DAHULU… YUK…

Seketika Naning mengangkat wajahnya… menatap nanar pada Dido, seakan sedang ngelamun… “Kok kakak… bisa tahu sih…??!”, tercetus spontan… tanpa disadarinya.. keluar begitu saja… dari mulutnya yang mungil… sexy dan… sedikit bergetar.

Buru-buru Dido menyodorkan tangan kanannya, mengajak bersalaman kenal. Sekarang… secara refleks Naning pun ikut-ikutan menyodorkan tangan kanannya kedepan, maka… bertemulah kedua telapak tangan insan yang berbeda gender itu…

“Dido…”.

“Eh… Naning…”.

“Kirain nama adik adalah Nani…”, kata Dido berpura-pura tidak tahu.

“Itu sih… nama kakaknya Naning… kak…”, kata Naning dengan lembut dan cukup pelan.

“Kalau begitu… sekarang Nani berada dimana?”, tanya Dido, yang masih saja berpura-pura tidak tahu.

“Kan… sudah 2 hari ini… pergi bersama opa-nya kakak ke ibukota… masak sih kakak tidak diberitahu lewat telepon sama opa-nya?”, kata Naning masih tetap lembut dan pelan.

Interaksi diantara keduanya tampaknya… semakin lancar saja. Seakan-akan tulisan pada secarik kertas itu bagaikan ‘mantera yang ampuh’ yang bisa ‘memecah’ rasa malu Naning… dengan seketika dan… sirna!

“Kelupaan kali… dia, kakak hanya dipesankan bahwa segala sesuatunya tanya atau minta pada mama-nya dik Naning…”, kata Dido… kali ini dia berbicara dengan jujur. “Jadi sebenarnya kakak adalah tamu dirumah ini… kebetulan saja jadi cucu-nya pak Dartowan. Kan mama-nya Naning yang diberi mandat untuk mengurusi semuanya… kalau kakak sih tidak tahu apa-apa mengenai rumah ini…”, Dido mengulangi penjelasannya seperti tadi telah diutarakannya pada bu Lestari.

“Seharusnya dik Naning dong… yang menjadi ‘guide’ bagi tamunya yang malang ini…”, Dido mulai melancarkan rayuannya ala ‘Western Americana’.

“Hi-hi-hi…”, Naning tertawa mendengar kata-kata Dido barusan sambil menutupi mulut sexy-nya dengan tangannya yang mulus. “Emangnya… kak Dido lagi… menderita ya sekarang…? Hi-hi-hi….!”, mulai nyaring tawa Naning kedengaran di telinga Dido.

“He-he-he… melihat dik Naning jadi luntur deh… rasa malang-nya”, kata Dido masih tetap melancarkan rayuannya. “Bukannya sekarang… kakak dalam ‘guiding’-nya dik Naning apa? Iya kan…?”, masih saja berlanjut rayuannya si Dido ini…

<Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!>
<Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!>
<Tenggg…!>

Dentang lonceng antik berbunyi 11 kali, bergaung… merambah ke seantero ruangan dalam rumah Dartowan… memecah kesunyian malam.

Setelah selesai… suasana keheningan malam pun pulih kembali…

Dido sudah berada ditempat tidurnya… sendirian… tidak dapat memicingkan matanya… barang sedetik pun! Meringkukkan tubuhnya menghadap kekiri, tak lama kemudian meliukkan tubuhnya berganti arah… kekanan… terus saja berlangsung hal ini hampir 10 menit lamanya. Tiba-tiba Dido melompat turun dari tempat tidurnya. Habis sudah daya tahannya menahan cobaan ini… Que Sera Sera…! Gimana nanti saja… deh…! Dido membuka pintu kamarnya perlahan. Tidak menjinjitkan kakinya… apalagi merundukkan tubuh. Dia tidak mau lagi seandainya ada seseorang memergokinya dan menyindir dia sebagai… ‘nyemot’ seperti sindiran Dina tadi pagi… cukup sekali saja deh!

(NB: Que Sera Sera = apa yang bakal terjadi, terjadilah)

Sampai sudah… Dido berdiri didepan kamar tamu didalam rumah ini. Memang bu Lestari memilih kamar tamu ini, karena memiliki sebuah spring bed yang sangat besar ukurannya (extra king size).
Dia yakin pintu ini tidak terkunci dari dalam.

Tadi ketika semuanya bersiap-siap untuk tidur dan saat bu Lestari dan anaknya, Naning lengah… dengan sangat cepat Dido segera mengambil anak kunci kamar ini dari lubang kuncinya bagian dalam dan… mengantonginya masuk kedalam saku jeans-nya.

<Uuugh… ukhh!> <Uuugh… ukhh!> Dido berpura-pura batuk-batuk kecil seakan-akan tersedak minum air. “Eehh… heeemmh…”, ditutup dengan deheman. Perlahan dia menekan handel pintu kebawah… dan mendorong pintu itu hati-hati. Setelah terbuka sepertiganya, segera Dido melongokkan kepalanya kedalam… kearah tempat tidur. Didalam kamar… diluar dugaan dan harapan Dido sama sekali… disana… dia disambut oleh tatapan Naning… yang memandangi wajah Dido… dengan tersenyum! Ketika Naning melihat wajah Dido yang melongo… jadi lucu saja kelihatannya… hampir saja meledak tawanya Naning… buru-buru saja tangan-tangan lentiknya menutupi rapat mulutnya yang mungil tapi… sexy itu.

Dengan cepat Dido menguasai dirinya kembali… normal seperti sedia kala. Digerakkannya jari-jari tangan kanannya (kecuali ibu-jarinya) memberi kode pada Naning untuk mendekat. Naning yang paham arti kode itu, segera memiringkan tubuhnya yang sintal… untuk bangun. Saat itu Naning hanya mengenakan jubah-tidur yang memang tersedia beberapa stel dalam lemari pakaian dikamar tamu itu, dia memilih warna pink muda. Dan sesuai anjuran mamanya… Naning tidak memakai daleman sama sekali!

Ketika Naning bangun dan ingin turun dari tempat tidur itulah… jubah tidur yang dikenakan Naning terbuka lebar bagian atasnya… terpampang sudah dengan jelas seluruh bagian buahdada yang sekal, sangat montok serta… sekal sekali… mancung kedepan… milik Naning yang berharga dan… indah, yang puting-putingnya dan hampir keseluruhannya persis sama dengan milik bu Lestari… hanya beda ukurannya… setingkat dibawah saja.

Dengan tenang saja Naning merapikan kembali jubah-tidurnya… tidak usah terburu-buru… khawatir membuat Dido, tambatan hatinya menjadi risih perasaannya… Bukankah ‘hati’-nya tadi telah disimpan pada diri Dido yang dicintainya ini. Tekadnya sudah bulat membuang jauh-jauh rasa jengahnya… hanya untuk Dido… seorang, sang kekasih hati… sungguh-sungguh… nekat!

Dia mempercayai Dido… 100% tanpa pamrih… apa yang diinginkan Dido akan dilakukan dengan sepenuh hati… sungguh-sungguh… nekat!

Bahkan hubungan Dido dengan mamanya, yang sudah diketahuinya… tidak akan mengusiknya sama sekali… bahkan tidak barang setitik pun! Bagi kedua orang yang dikasihi ini, Naning mempercayai 100% tanpa pamrih! Sungguh-sungguh… nekat!

***

Dido dan Naning sudah keluar dari kamar tamu itu, setelah secara perlahan Dido menutup kembali pintu kamar itu tanpa menimbulkan bunyi, takut mengusik ibunya Naning yang sedang pulas tertidur.

Mungkin kelelahan sehabis membereskan segala sesuatunya dirumah ini, barangkali… lho, pikir Dido dalam hatinya.

“Jubahmu terbuka… sayang”, Dido memberitahu Naning… sok santun… mengingat pengalaman ‘pahit’ yang dialami dalam upaya-nya ingin melihat susunya si Dina… tadi pagi.

“Biarin aja…”, jawab Naning tenang dan… pasrah!

Tertegun Dido mendengarnya, seketika itu juga terhenti langkah kakinya. Dido memandang dalam-dalam paras cantik gadis muda ayu dan bertubuh sintal ini… sedangkan yang dipandangi wajahnya, bukannya menunduk eh… malah menengadah memandang Dido dengan mesra dan… pasrah (tinggi tubuh Naning 160 cm, lebih pendek 2 cm dari tinggi tubuh ibunya, bu Lestari yang 162 cm serta tinggi tubuh Dido masih tetap dengan 172 cm).

Tidaklah lama Dido memandang tajam dan dalam… mata jernih dan bersinar milik Naning itu… paling 2 detikan tambah sedikit… dengan pelan tapi pasti… mendekatkan bibirnya pada bibir Naning yang sexy dan… sensual… merekah dan terbuka sedikit…

Terjadilah ciuman ala ‘French Kiss’, yang seru dan bersemangat. Penuh gairah Dido melakukannya penuh konsentrasi, sedangkan Naning yang baru pertama kali dalam hidupnya merasakan FK itu… megap-megap napasnya, meliuk-liuk tubuhnya seakan-akan tengah sedikit meronta-ronta… Dido yang cepat tanggap, segera menghentikan ‘serangan’ FK-nya itu.

“Aduh kak… Naning sampai tidak bisa bernapas nih… jadinya!”, kata Naning yang masih saja tersengal-sengal napasnya.

“Ohhh… bodohnya kakak ini…! Terlalu egois…! Kan kamu baru pertama kali mengalaminya… sekarang, maafkan kakak ya… sayang”, kata Dido sambil mendekatkan lagi wajahnya… kali ini sasarannya adalah… dahi mulus sang gadis jelita ini.

Naning yang tahu gelagat, arah mana bibir milik pria dambaan hatinya ini bakalan didaratkan… langsung saja menjinjitkan ujung jari-jari kedua kakinya setinggi mungkin… bagaikan jinjitan kaki seorang ballerina, maka… bertemu kembali bibir kedua insan remaja yang sedang dimabuk… asmara itu. Terjadilah kecupan mesra dan yang menggetarkan gelora kasih keduanya. Dengan merangkulkan kedua tangannya dengan lembut, Dido agak menekan sedikit tubuh sintal Naning kebawah, agar Naning tidak usah berlama-lama menjinjitkan kakinya yang nantinya akan bisa sangat melelahkannya.

“Mendingan kekamar kakak saja ya… Ning?”, kata Dido mengajak Naning dengan suara lembut dan setengah berbisik.

“Terserah kak Dido saja… Naning sih setuju saja…”, jawab Naning, juga dengan suara lembut dan setengah berbisik.

“Apa balik lagi… ketempat tidurnya Naning yang tadi…?”, seloroh nakal Dido muncul tiba-tiba.

“Boleh juga… malah lebih bagus kan masih sangat lega untuk bertiga kok…”, jawab Naning tenang saja… tapi sebenarnya… sangat senang!.

Kaget Dido jadinya dan memandang kembali wajah dara manis ini dalam-dalam sambil menduga-duga… jangan-jangan ini cuma jawaban kelakar saja dari Naning.

Naning yang dipandangi begitu, bertanya pada Dido, “Apa Naning salah ngomong ya kak…? Maafkan Naning ya kak…”.

Segera Dido memeluk lembut tubuh Naning, sambil berbisik, “Tidak ada setitik pun yang salah padamu sayang… cuma kakak heran saja, kan… ada mama-mu disana…?”.

“Tidak apa-apa kan…? Mama adalah kebahagiaan Naning yang sesungguhnya… sejak Naning dilahirkannya… sampai sekarang…!”, jawab Naning pelan tapi penuh keyakinan.

Termangu Dido mendengar jawaban Naning ini, menyesal sekali dia telah mengeluarkan pertanyaan usil tadi yang dimaksudkannya hanyalah untuk menggoda Naning saja… ‘Bodohnya aku ini…! Nggak jadi deh… ngalamin yang syur-syur… nikmat dan… menghanyutkan…! Yaaa… nasib!’.

Serentak berdua (Dido dan Naning) berbalik badan, sambil berdekapan mesra menuju ke kamar tamu itu kembali. Setiap langkah kaki Dido yang mengiringi langkah-langkah kakinya Naning yang pelan, setiap kali pula kata-kata penyesalannya Dido membersit di benaknya… ‘Yaaa… nasib!’, ‘Yaaa… nasib!’, ‘Yaaa… nasib!’, ‘Yaaa… nasib!’, ‘Yaaa… nasib!’… memang diperlukan cuma lima langkah untuk sampai dipintu kamar tamu itu.

<Uuugh… ukhh!> <Uuugh… ukhh!> sekarang Naning yang berpura-pura batuk-batuk kecil seakan-akan tersedak minum air, persis sama menirukan apa yang telah dilakukan Dido tadi, lalu disambung dengan deheman yang persis sama pula, “Eehh… heeemmh…”.

Dido yang tahu tengah dipermainkan oleh Naning jadi tersenyum malu dan… menowelkan jari telunjuk tangan kanannya pada bungkahan pantat Naning yang bahenol itu. ‘Buseeet deh…! Mana nggak pake CD lagi… ohhh…! Yaaa… nasib!’. Nyata sekali terasa lewat jubah sutera yang tipis itu… memang Naning tidak mengenakan CD… kan mengikuti anjuran mamanya yang tercinta…!

Dengan mantap Naning menekan kebawah handel pintu itu serta didorongnya membuka pelan-pelan, setelah keduanya berada didalam kamar, Naning segera menutup kembali pintu kamar itu rapat-rapat.

Diatas tempat tidur extra king size itu telah duduk bersila… bu Lestari yang jelita memang tengah menanti mereka berdua kembali dengan jubah tidurnya yang rapi serta warnanya yang merah menyala itu.

“Kok… cepat sekali siiihhh…!??”, tanya bu Lestari sangat heran.

“Begini ma… ya kan kak Dido…?”, sambil mengerling dan mengedipkan sebelah matanya yang berbulu lentik itu pada Dido. “Kami memutuskan… sebaiknya dibawah tuntunan mama saja deh… ini kehendak kami berdua lho… iya kan… kak Dido?”, kata Naning sembari bertanya pada Dido.

Dido yang sekarang sedang ditanyai Naning… gelagapan… megap-megap langsung menjawab, “Eeehh… iyaaa… beneeer mbak… kami telah berembuk tadi… sewaktu berada diluar kamar pas… depan pintu kok…’, dengan gugup Dido menjawabnya.

Tersenyum bu Lestari mendengarkannya… ‘Setelah berembuk atau… setelah cipokan tadi… hi-hi-hi…!’, bu Lestari tertawa dalam hatinya.

***

“Nah… sekarang kamu Dido harus memandang mbak… dan kamu, Naning harus memandang mama-mu ini sebagai… seorang pelatih-seks… hi-hi-hi…!”, kata bu Lestari mengawali sesi-ngeseks ini tapi dia tidak dapat menahan tawanya… habis pertama kali dalam hidupnya dia mengalami situasi seperti ini… ML-trainer…?! Ooohhh…

Akibatnya kedua remaja itu, Dido dan Naning pun, jadi ikut-ikutan tertawa… “He-he-he… Hi-hi-hi…”, mereka tertawa spontan secara serempak.

“Huuusssh…! Hentikan tawa kalian! Ini serius…!”, seru bu Lestari yang sudah tidak tertawa lagi… yang telah berhasil… menekan dengan susah-payah ‘urat-tawa’-nya… “Pelajaran ini hanya sekali…! Dan tidak ada pelajaran susulan… cukup sekali! Tanya-jawab ditiadakan… karena sekarang sudah larut malam… mau berganti hari…!”. Benar juga penjelasan bu Lestari, jam dinding dalam kamar tamu itu, jarum-jarumnya telah menunjukkan pukul 23.50 tengah malam.

‘Tutor’ jelita ini melanjutkan sesi-nya kembali. “Pertama-tama kamu, Naning… ambil selembar selimut tipis yang bergaris-garis… yang ada didalam lemari tempat kamu mengambil jubah tidur tadi. Selimut itu ada dibagian dasarnya lemari itu…”.

“Buat… apa sss….”, Naning mau bertanya, tapi keburu diselak oleh perkataan Dido. “Sssttt… ambil saja dik… nanti juga akan dijelaskan kegunaannya selimut itu… lagi pula… kan tidak ada tanya-jawab… iya… kan?!”, Dido memberitahu Naning dengan berbisik, yang tahu akan kegunaan selimut itu. ‘Berarti benar dong… Naning masih perawan ting-ting… mudah-mudahan ‘selaput-dara’-nya tidak terlalu tebal…’, Dido berharap-harap cemas.

Naning setelah dibisiki oleh sang ‘kekasih hati’ berkata dengan perlahan, “Iya… kak, maaf… ma…”.

Sedangkan bu Lestari, sang ‘tutor’ jelita, diam saja tidak menanggapi percakapan kecil itu, kalau dijawab… wah… bisa molor deh… urusannya…!

Naning sudah menemukan selimut yang dimaksud oleh ibunya dan menaruhnya diatas tempat tidur itu.

“Langsung naik keatas tempat tidur saja, sayang…”, instruksi sang ‘tutor’ jelita. “Sekalian digelar saja selimut itu… ditengah-tengah tempat tidur ini… lipat-4 ya… bagus… ya begitu…”, usai sudah instruksi awal dari sang ‘tutor’ jelita.

Sekarang kedua remaja itu sudah duduk bersila kembali… meniru sikap duduk sang ‘tutor’ jelita.

‘Sebagai peserta ‘kursus kilat ngesek’ ini, kedua remaja ini kelihatan serius dan penuh antusias… hi-hi-hi…’, tawa bu Lestari dalam hatinya… senang. ‘Kalau begini gelagatnya… kayaknya bisa kebagian juga minimal barang satu ronde aja sih…’, bu Lestari menyimpulkan dan meyakinkan gejolak hasrat seksnya.

“Eeeehhh… kok bengong aja…? Oooh iya… belum dikasih instruksi lanjutan ya…’, kata bu Lestari menyadari keadaan yang tengah berlangsung. “Sekarang lepaskan seluruh pakaian kalian… semuanya…! Yang paling cepat… dia akan akan mendapatkan sertifikat…”. ‘Hi-hi-hi… biar nggak buang-buang waktu… untukku nanti… hi-hi-hi…”, bu Lestari mengikik senang dalam hati.

Naning cukup dengan mengendorkan simpul pada gaun tidurnya serta menjulurkan kedua tangannya agak kebelakang, jubah tidur sutera yang licin itu meluncur kebawah dengan sendirinya dan jatuh diatas tempat tidur… telanjang sudah Naning ini… tubuhnya sintal, mulus dan putih bersih… bak tubuh bidadari muda yang segar… jelita.

“Sayangku…”, kata ibu-nya Naning. “Langsung berbaring terlentang… usahakan pantatmu berada diatas lipatan selimut garis-garis itu… nah iya… benar begitu posisinya… aduh mak…! Mulus sekali tubuhmu sayang…”, kata bu Lestari menyelusuri seluruh permukaan tubuh mulus anak bungsu kesayangannya ini. Dada mulus seorang dara remaja yang dihiasi sepasang buahdada yang indah dangan puting-puting kecilnya yang berwarna pink-muda menantang tegak keatas. Saat telusuran mata bu Lestari sampai pada perut Naning yang mulus… sangat rata tanpa kerutan sama sekali… terlontarlah kata-kata ibunya seketika, “Mama… ngaku kalah deh… benar kan kata mama, saat tadi dirumah, kamu benar-benar lebih cantik dari mama-mu ini… sungguh mama bahagia dan sangat bangga…”. Telusuran mata bu Lestari berlanjut ke bagian bawah, terlihat vagina segaris dan klimis… sama dengan vagina miliknya, bedanya panjang garis vertikal vagina Naning lebih pendek sedikit… dia masih muda usia iya… kan, apa lagi belum pernah diterobos…

Bu Lestari segera menengok kearah Dido, ‘Ya ampun… tuh anak… lagi bengong…! Ikut-ikutan memperhatikan tubuh mulus Naning’.

“Ampun biung… deh kamu Do…! Ngapain kamu bengong aja!”, seru bu Lestari melihat Dido cuma bertelanjang dada… karena telah melepas T-shirt nya.

“Hi-hi-hi…!”, tawa Naning seketika meledak, melihat mata ‘tambatan hati’-nya masih melongo saja melihat tubuh telanjang-nya.

Kaget karena tawa keras sang kekasih, menyadarkan Dido yang terkesiap ‘siuman’ dari bengongnya dan… kembali ke alam nyata.

“Tunggu ya sayang… tenang-tenang berbaring terlentang saja begitu… sebentar mama mengurus Dido yang lelet ini”, kata bu Lestari segera mendekati Dido.

Gerakan cepat bu Lestari menyebabkan spring bed extra king size itu… jadi bergoyang-goyang, sedangkan tubuh telanjang Naning super mulus itu jadi mentul-mentul. Tapi goyangan per didalam spring bed yang bagaikan ‘lindu lemah’ itu masih belum mampu mengombang-ambing payudara remaja milik Naning yang kekenyalan masih murni itu.

“Karena kamu tidak memperhatikan instruksi pelatih dengan seksama maka kamu mendapatkan hukuman yang harus dilaksana sekarang juga!”, kata sang ‘tutor’ jelita dengan tegas. “Dan nggak usah lagi urusin celana pendek jeans-mu lagi…!”, kata bu Lestari keki. ‘Buang-buang waktu saja…!’.

‘Apa…?! Baru melihat tubuh Naning yang mulus… sebentar saja kok…! Yaaa… nasib! Hukumannya apa ya…?’, Dido pasrah saja menanti.

Dari luar kamar, terdengar tidak terlalu keras (karena pintu kamar sudah tertutup rapat) bunyi lonceng jam antik berdentang 12 kali. Waktu telah memasuki detik pada hari baru pada dini hari ini.

“Kamu tetap mengenakan celana pendekmu itu… kecuali… bila kamu mampu… dengan hanya menggunakan lidahmu saja… membuat Naning mencapai puncak kenikmatan… yang belum pernah dirasakan-nya… Oke deh… mbak memperingan sedikit hukumanmu… kamu boleh dibantu jari-jarimu… dengan syarat tidak boleh memasukkannya dalam-dalam di memeknya Naning… mengerti…?!”.

‘Kirain sih… hukuman apa begitu…?! Mbak belum tahu saja sih… mbak juga nanti akan Dodi buat mendapatkan orgasme dengan cunnilingus… lihat saja nanti…!’, kata Dodi dalam hati dengan keki… merasa telah diremehkan oleh ‘tutor’ yang jelita ini.

(NB: cunnilingus = oral seks pada vagina)

“Hei… Dido! Boleh jawab…!”, instruksi sang ‘tutor’ tegas.

“Oh-oh… iya mbak!”, jawab Dido pendek saja.

“Apa perlu mbak ajari caranya…?”, tanya sang ‘tutor’ kembali.

“Ti-tidak usah mbak, kayaknya Dido sudah tahu kok…”, jawab Dido lagi.

“Ya… buktikan kemampuanmu itu sekarang…!”, kata sang ‘tutor’ bernada menantang.

Dido segera mendekati tubuh kekasihnya yang masih bertelanjang bulat itu… ‘Mulus sekali tubuh ini… mana cantik lagi, sungguh sempurna sekali. Nggak salah dong… aku sampai terbengong-bengong tadi melihatmu…!’, kata Dido dalam hati. Dia mendekati wajahnya pada vagina segaris yang klimis dan masih merapat itu. Baru juga nyaris akan menyentuh vagina itu, kepala Dido yang berambut cepak itu sudah dipegang oleh Naning dengan tangan-tangan yang mulus dan lentik, menariknya keatas.

‘Rupanya Naning ingin mengajakku berciuman lagi…’, pikir Dido sambil mendekatkan wajahnya pada wajah cantik kekasihnya itu. Dugaan Dido meleset, Naning cuma ingin membisikkan sesuatu padanya.

Hanya sekilas kecupan itu berlangsung… Naning segera memaling-kan wajahnya serta menarik kepala Dido dan mendekatkan mulutnya yang mungil dan sexy ke telinga pujaan hatinya ini pada sambil berbisik pelan, “Kak Dido… maafkan mama Naning yaa… heran deh… mama kok jadi galak sekali pada kakak…?”.

Dido melihat wajah dan menatap tajam pada mata Naning yang mulai berkaca-kaca. Buru-buru Dido berbisik dekat telinga kekasihnya itu, “Eeeh… kamu jangan salah duga sayang… taktik mama-mu sangat pintar sekali. Kelihatannya mama-mu seperti menghukum kakak, padahal tidak…! Beliau ingin membantu kita berdua… agar kamu tidak merasa sakit saat diperawani kakak nanti dan… agar supaya kakak saat melakukan itu menjadi tidak terlalu sulit. Jangan memandang remeh lho… kepiawaian mama-mu dalam soal… ngeseks! Naning sayang…”.

Heran Naning mendengar penjelasan ‘tambatan hati’-nya itu. “Oh… gitu yaaa… kak?”.

“Siap ya dik… nanti kamu akan merasakan sangat geli… bukan geli seperti halnya ketika pinggangmu dikitik-kitik yang bisa menyebabkan kamu tertawa terbahak-bahak, kalau ini… tidak! Kamu hanya merasa enak dan… nikmat yang belum kamu rasakan…! Percaya deh pada kakak… seandainya rasa enak dibarengi dengan sedikit rasa ngilu, jambak saja rambut kakak ya…”.

“Mana bisa kak?! Cepak begini rambut kakak… mana bisa dijambak…!”, kata Naning memberitahu Dido.

“Ohhh.. iya-yaa… kalau begitu jepit saja kepala kakak dengan paha mulusmu… ya”, Dido menghentikan bisikannya.

Mulutnya menyusuri kebawah tubuh Naning yang aduhai… tapi mampir sebentar pada pentil susu Naning yang sebelah kiri… langsung mengusap-usap pentil itu dengan sapuan-sapuan lidah Dido yang kesat. Tersentak Naning merasakan sapuan lidah Dido itu langsung saja menggelinjangkan tubuhnya… bergetar dan meliuk-liuk… Dido buru-buru memindahkan sapuan lidahnya… sekarang pada pentil susu Naning yang kanan yang menimbulkan efek yang sama… gelinjangan… getaran dan liukan tubuh bahkan sekarang diiringi dengan desahan yang keras, “Ooohh… kak…! Kok jadi begini rasanyaaa…! Ooohhh enaknyaaa…!”. Segera saja Dido menghentikan aksinya itu.

‘Wah… bisa berabe nih…! Kalau Naning mendapatkan klimaks-nya dengan cara ini… waduh…! Bisa di-diskualifikasi sama ‘tutor’ jelita yang streng ini…!’. Karena yang menjadi ‘hukuman’-nya sekarang adalah membuat Naning mendapatkan klimaks-nya… hanya dengan merangsang vaginanya Naning… bukan pada bagian tubuh Naning yang lain! Segera saja ekspansi mulut Dido dihentikan seketika dan meninggalkan bukit yang masih perawan itu.

“Aduuuhhh… kak! Kok berhenti sih…?! Orang lagi enak-enaknya… juga!”, protes keras Naning seketika… melihat Dido sang ‘tambatan hati’-nya melanjutkan telusurannya mengarah… kebawah. ‘Ya apa boleh buat deh… tunggu aja… mau diapain lagi nih… Naning…’, keluh Naning dalam hati… pasrah.

Bu Lestari yang terus memantau situasi tanpa mengedipkan matanya, tersenyum-senyum saja, serta… menarik kesimpulannya, ‘Kalau dilihat begini sih… ‘hukuman’ Dido kayaknya… akan segera berakhir…’. Bu Lestari menonton saja semuanya, apa yang terjadi didepannya… diatas spring bed besar itu, dia tidak memberi komentar, saran ataupun instruksi… belum saatnya… (bu Lestari sekarang sedang duduk menyamping ditepi spring bed itu).

Sampai juga Dido ke ‘tempat’ yang dituju, diperhatikannya dengan seksama… ‘Mana celahnya… nih? Waduuhh… kalau penisku menerobos… bisa-bisa rasanya seperti penisku dilingkari karet gelang kecil beberapa belas sekaligus…! Bukannya Naning saja… tapi aku bakalan merasakan sakit juga… tapi kayaknya… mungkin… enak juga kali…’, pikir Dido rada ragu. Segera tubuh Dido naik lagi keatas tubuh jelita Naning, mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Naning.

Naning yang selalu mengikuti gerak-gerik tambatan hatinya itu heran. ‘Kak Dido ini kok… doyan banget sama ciuman sih…?’, pikir Naning, padahal dia sudah tidak sabar lagi ingin segera merasakan persetubuhan perdana-nya, habis dia penasaran apalagi setelah mengingat akan pengalamannya ketika mendengarkan kisah hot para teman-temannya sesama cewek yang bercerita dikala jam istirahat di sekolah… Kali ini justru Naning yang meleset.

Dido hanya ingin membisikkan Naning tentang sesuatu padanya. Naning yang sudah siap-siap menerima ciuman itu menjadi heran… hanya kecupan sekilas sambil lewat saja. ‘Kirain sih…!’. Naning segera tahu, kekasihnya itu ingin membisiki sesuatu padanya.

“Naning sayang…”, bisik Dido. “Rentangkan kakimu yang lebar ya sayang… biar lebih memudahkan kakak…”, setelah berbisik, segera saja Dido menggeserkan tubuhnya kembali ketempat (yaa… dibawah sana… pada vagina mungil milik sang kekasih).

Sedangkan bu Lestari yang masih tetap mengikuti dengan seksama gerak-gerik Dido ketika mengggeserkan tubuhnya keatas, seakan sedang menindih tubuh Naning… samasekali tidak merasa khawatir… wong dia masih mengenakan celana pendek jeans-nya kok…

Belum juga wajah Dido sampai didepan vagina mungil itu… kaki-kaki yang jenjang dan mulus milik Naning sudah… mengangkang cukup lebar. Vagina mungil itu membuka hanya sedikit, memberi kesempatan kelentit-nya… untuk bisa mengintip keluar…

‘Nah… ini baru siiip…!’, kata Dido dalam hati sambil mulai merekah vagina mungil itu dengan kedua pasang jempol dan telunjuk tangannya yang kiri dan kanan. Dengan ujung lidahnya yang menjulur keluar… menyentuh kelentit mungil gadis perawan itu. Hanya dalam hitungan waktu sedetik kurang sedikit, aksi Dido mendapat respons yang luar biasa dari Naning…

“Aduuhh… mama!”, tak disengaja, terlontar teriakan itu keluar begitu saja begitu merasakan sengatan nikmat akibat sentuhan ujung lidah Dido, yang sekarang malah mulai sibuk mengusap-usap kelentit mungil itu… Tanpa disadarinya pinggang ramping gadis itu mengelinjang-gelinjang… serta pinggul gadis itu bergeser sedikit saja kekiri dan kekanan… tapi sangat cepat… malah pinggul itu seakan terlihat bagaikan bergetar… berusaha keras menghindar ‘serangan’ gencar ujung lidah Dido.

‘Nah… ini saatnya aku harus turun tangan…!’, kata bu Lestari dalam hati. Dengan segera melepaskan jubah tidur berwarna merah menyala yang dikenakan… dengan bertelanjang bulat wanita jelita ini mendekati tubuh tegap Dido yang bertelanjang dada. Dikecup sekilas tengkuk Dido dengan penuh hawa-nafsu, segera mendekatkan mulut sexy yang sensual itu di telinga Dido sebelah kanan, dengan suara pelan tapi bergetar penuh nafsu, “Terus Do! Sasaran yang kamu pilih sudah tepat… nanti jangan hiraukan desahan Naning dan apapun permintaannya… makin dipercepat saja sapuan lidahmu pada itil-nya Naning. Ikuti terus instruksi dari mbak, yaa.. sayang…!”.

Kata bu Lestari lagi, “Luruskan kedua kakimu sayang… sikap tubuh seperti tiarap… mbak mau melepas celana pendekmu… dan jangan pernah menghentikan aksi yang kamu lakukan sekarang… biar sedetik pun… jangan! Begitu Naning klimaks… segera tancapkan kontolmu di memeknya Naning… tapi jangan terlalu kasar… pelan dan lembut saja… setelah kontolmu menembus selaput daranya… diamkan sejenak… tapi jangan terlalu lama… mulai genjot dia sampai mendapatkan orgasme… kenikmatan yang sesungguhnya… oooh… rindunya mbak sama kontol bandel-mu!”. Dengan cepat, bu Lestari melucuti celana pendek dan CD-nya Dido…

Terlihat ketiga insan yang bertelanjang bulat dalam kamar tamu itu… sibuk dengan aksi-nya masing-masing.

Bu Lestari segera memegang penis Dido yang sedari tadi… tegang dan memanjang… ‘Dasar kontol bandel…! Nggak bisa anteng ngeliat cewek cantik telanjang… langsung ngaceng aja…’. Digenggamnya penis Dido dan… mulai mengocoknya perlahan dan hati-hati. ‘Wah… nih kontol… kerasnya kurang sedikit… nanti bisa rada kesulitan… menerobos memeknya Naning… yang kayaknya… super seret itu. Harus buru-buru nih… mana kelihatan si Naning sudah mau ‘nyampe’ lagi…!’.

Cepat saja, bu Lestari melepaskan genggamannya pada penis Dido. Dengan mengangkat sedikit sebelah kanan kaki Dido yang tengkurap, sedang santer-santernya ‘menggempur’ kelentitnya sang kekasih, sambil berbaring terlentang, bu Lestari menyusupkan kepalanya dengan wajah menghadap penisnya Dido… mulut sexy bu Lestari dengan tangkas menyergap palkon-nya Dido dan langsung diemutnya.
(NB: palkon = kepala kontol).

Dido yang merasa ada ‘gangguan’ pada penisnya… refleks mengangkat pinggul keatas… terlepaslah penis dari mulut sexy ‘tutor’ galak ini. ‘Ngapain juga si mbak pake nyerobot-nyerobot segala… bukannya sabar menunggu gilirannya aja…!’, Dido ngedumel dalam hati.

Bu Lestari yang menjadi kesal karena ulah Dido itu, langsung saja menampar pantat Dido pada bungkahannya yang sebelah kanan… <plakk…!> dengan tidak terlalu keras sih… “Kamu diam saja… kenapa?! Mbak lagi berusaha membuat kontol-bandelmu ini supaya lebih keras lagi… supaya langsung siap… bisa dipakai! Tahu nggak…?!”, kata ‘tutor’ jelita ini dengan kesal.

“Oohhh… begitu toh… mbak? Kirain… apa begitu…? Sorry deh mbak…”, jawab Dido yang segera mengerti maksud dan tujuan aksi si ‘tutor’ jelita ini.

“Kirain apa ayooo…?!”, kata bu Lestari yang disertai tamparan pelan pada bungkahan pantat Dido, <plakk…!> kali ini yang sebelah kiri mendapat gilirannya. “Aduh biung… deh… kamu Do…! Jangan dihentikan… usapan ujung lidah kamu pada kelentitnya Naning! Sekarang kamu jadi memulainya lagi dari awal… Dasar… nggak bisa dibilang sih…! Kalau mau ngomong… didalam hati saja…!”, bu lestari menjelaskan dengan kesal. ‘Jadi molor… deh urusannya… bisa-bisa sampai subuh nih… baru selesai! Uuughhh…! Dasar pintar-pintar bodoh sih…! Mana bandel lagi… tidak percayaan!’, bu Lestari mengungkapkan kekesalannya dalam hati.

***

Sudah berlangsung 15 menit sesi kedua aksi usapan ujung lidah pada kelentit kecil mungil itu.

Naning sudah kelihatan letih… kedua tungkai kakinya yang semampai telah menekuk keatas serta paha mulusnya yang bagian dalam sudah sedari tadi mengencet kedua sisi kepala Dido, yang kiri dan kanan. Gencetan itu sudah tidak keras lagi terasa.

Lidah Dido mulai terasa sedikit kelu… sendainya saja dia tidak membangkang dengan instruksi yang dibisiki pada telinga kanannya oleh ‘tutor’ jelita yang ternyata juga sebagai seorang guru praktek yang sangat handal… tidaklah dia sampai mengalami seperti ini.

Bu Lestari yang ‘membaca’ situasi yang tengah dihadapinya, segera mengambil keputusan yang sebenarnya kurang disukainya… ‘Biarlah aku sekali-sekali melakukan lesbi… mungkin saja titik rangsangan seks-nya Naning… sama denganku… yang jadi mama-nya… siapa yang tahu, kalau tidak dicoba…?’, demikian kesimpulah bu Lestari yang tubuhnya mempunyai titik rangsangan seks tertinggi, letaknya pada puting buahdadanya yang sebelah kanan (lihat pada Bagian-2 cerita ini). Segera bu Lestari mendekati puteri bungsu tersayangnya itu.

“Ada apa… ma?”, tanya Naning melihat ibu-nya datang mendekat.

“Tidak ada apa-apa kok… sayang”, kata bu Lestari menjawab puterinya itu. Setelah mengecup mesra dahi puterinya, ibu-nya berbisik di telinga kiri Naning, “Sayang… kamu jangan tidak percayaan lagi pada mama-mu ya sayang… seperti dirumah tadi itu lho…?”.

“Emangnya… Naning… mau diapain lagi ma…?”, tanya Naning sedikit khawatir, sebuah garis kerutan tipis muncul di dahi Naning.

Buru-buru bu Lestari mendekatkan wajahnya pada dada atas bagian kiri yang dihias buahdada ranum seorang gadis perawan… Bu Lestari tidak mau berlama-lama lagi… takut kekhawatiran puteri ini menjadi mekar dan berkembang.

Saat ini Dido masih menjalankan aksinya dengan patuh meskipun rasa kelu pada lidahnya… semakin terasa… sembari mengurut-ngurut penis ngaceng-nya itu agar siap-sedia setiap saat… pada detik-detik mendatang…

Lidah bu Lestari yang tidak terlalu kesat mulai mengusapi pentil pink muda pentil buahdada Naning yang bagian kiri itu. Pentil sexy itu disapu-sapu… kadang bagai disentil-sentil dengan dengan ujung lidahnya yang sengaja dilancipkan.

Terkesiap Naning merasakan ulah nakal lidah milik mama-nya ini. “Uuuhh… mama…! Udaaahh… dong… Naning jadi jengah nih sama kak Dido…! Aduuhhh… geli nih… Manaaa.. enak lagi… oooh… mama sayang…”, mulai meliuk-liukkan tubuhnya lagi.

‘Wahh… kayaknya belum terlalu hebat efeknya nih…’, kesimpulan bu Lestari dalam hati. ‘Kalau begitu… kucoba dengan pentilnya yang kanan…”. Segera bu Lestari berpindah kesamping kanan tubuh Naning yang masih pasrah berbaring terlentang itu. Bu Lestari tidak mau menyilangkan tubuhnya yang bagian atas, diatas tubuh Naning, nanti buahdadanya yang indah dan mempesona… akan mengundang perhatian puteri bungsunya itu. ‘Wah… bisa-bisa jadi… lesbi beneran… kan bisa berabe deh…!’.

Bu Lestari sudah mengatur posisi tubuhnya, disebelah kanan Naning. Tidak pakai lama dan membuang-buang waktu lagi, segera saja mulut sexy-nya menyergap pentil pink muda dari buahdada Naning bagian kanan. Dengan aksi penuh variasi, mengusap dan menyapu-nyapu dengan ujung lidahnya… mulut sexy bu Lestari juga tidak mau kalah dalam aksi ini, pentil sexy milik gadis rupawan muda belia itu segera saja… diemut-emut dan dikenyot-kenyot kadang-kadang tatkala mulut bu Lestari ‘mencaplok’ bukit perawan itu disertai usapan-usapan ujung lidahnya pada pentil mungil itu…

Melenguh dan mendesah-desah Naning jadinya… kedengarannya semakin lama semakin keras saja volume-nya…

Jari-jari tangan kanan bu Lestari yang lentik… ikut nimbrung meramaikan suasana… diwakilkan pada jari telunjuk dan ibu jari-nya mulai mulai memuntir-muntir, memelintir… pada pentil pink muda buahdada kanan… itulah…!

Seketika tubuh Naning melonjak keatas, pantat Naning yang ikut-ikutan terangkat keatas… menubrukkan vagina mungil ke mulut Dido yang lidahnya masih saja menyapu-nyapu… Dido tetap mempertahankan posisi ujung lidahnya pada kelentit milik Naning itu…

Di-‘gempur’ atas-bawah secara intensif… tumbanglah pertahanan gadis perawan ini… disertai suara teriakannya…

“Udah-udah…! Mama…! Denger nggak sih…! Naning kebelet kencing nih…! Awas… kak Dido…! Udah-aduh-udah-aduuuhh…! Mama sayang…!”, lengking keras suara Naning dan diikuti dengan… <seerrr…!> <seerrr…!> <seerrr…!> <seerrr…!>
Begitu dahsyat… cairan klimaks menyembur berkali-kali… membasahi wajah ganteng Dido. Terhenyak lemas tubuh Naning diatas spring bed itu.

Dido yang telah melepaskan sergapan pada vagina mungil itu dan juga telah selesai membersihkan wajahnya dengan T-shirt nya

Melihat itu semua, segera bu Lestari mendekati Dido disertai instruksi-nya dengan suara agak keras, “Buruan Do! Masukin cepatt…!”.

Dido segera dengan hati-hati menindih tubuh putih mulus gadis jelita yang terbaring terlentang… kedua kakinya yang jenjang masih terentang lebar… pasrah. Dido menumpuhkan berat tubuh pada kedua lengan bawah yang kiri dan kanan… agar tidak meniban tubuh semampai kekasihnya itu dengan bobot badannya yang tegap itu.

Naning tetap memejamkam mata… masih terbuai kenikmatan dari orgasme perdana-nya yang tak diduganya begitu dahsyat. Pikiran melayang sekilas pada omongan teman-teman ceweknya… rupanya mereka tidak berbohong akan nikmatnya ngesek itu. Baru juga di-kobel-kobel memeknya dan dipelintir pentil susunya saja… dia sudah mengalami kenikmatan yang baru pertama kali dirasakan dalam hidupnya. Gimana kalau… digituin ya?

Bu Lestari yang memperhatikan tindak-tanduk Dido yang serba berhati-hati itu, menggerutu dalam hati. ‘Rupanya Dido ini memang berbakat lelet… kurang cekatan… kalau dibiarkan terus… nanti-nantinya bisa jadi ‘super lelet’ asli…! Mungkin maksudnya sih… baik, tapi yang tidak diketahui Dido, kehati-hatian Dido ini bisa menyebabkan nanti Naning, anak kesayangannya ini merasakan nyeri yang hebat pada memeknya… ketika dia (Naning) pulih kembali kesadarannya secara penuh…! Dasar remaja masih hijau…! Masih mentah banget…!’.

Bu Lestari segera menggenggam penis Dido… yang kerasnya sih… okelah, ingin saja dia mencubit keras penis itu… Dengan menguakkan sedikit ‘mayora labia’ mungil itu dengan jarinya yang bebas, kemudian mengarahkan palkon Dido didepan lubang kecil yang kalau diperhatikan dengan tidak seksama, hampir-hampir tidak kentara…

(NB: mayora labia = bibir luar vagina)

“Ayooo… Do! Mulai menekan… tarik-dorong-tarik-dorong… setiap kali mendorong, jangan terlalu dalam! Harus sabar dan tekun, nsnti juga… ambleess… semua kontol bandel kamu ini!’, instruksi ‘tutor’ jelita ini mengawali gerak turun-naik pinggul-nya Dido.

Dido tetap mengayun-ayunkan pinggulnya… turun-naik… turun-naik… menyetubuhi kekasih muda-nya ini yang segera akan kehilangan selaput daranya… ‘Oohhh… nikmatnya…! Seret tapi licin… licin tapi peret…’, komentar Dido yang telah hanyut dalam lautan asmara… penuh dengan kenikmatan dan… kenikmatan semata! Sembari mendengarkan juga sih… instruksi ‘tutor’ jelita-nya dengan kurang serius sibandingkan dengan keseriusannya menyetubuhi kekasih hatinya ini…

“Mbak tinggal dulu ya… Do! Mbak mau menyiapkan air hangat dan minuman segar untuk kalian berdua”, kata bu Lestari menuju keluar kamar tamu itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*