Home » Cerita Seks Kakak Adik » Angel Namaku

Angel Namaku

Senja memang asik untuk dimanfaatkan sebagai waktu untuk bersantai. Begitu juga diriku. Saat ini aku sedang menikmati senja, saat yang paling aku suka dari semua bagian waktu. Duduk di kursi di balkon lantai dua menikmati langit yang memerah dan waktu penuh perenungan. Begitu nikmat, dan tidak hanya itu yang sedang kunikmati. Kedua tanganku terikat di masing-masing lengan kursi, begitu pula kakiku yang terikat di ujung lengan kursi. Memaksa kakiku membuka lebar menghadap matahari terbenam dan atap-atap rumah serta layangan yang mengisi langit. Namun, aku dalam keadaan telanjang. Telanjang bulat terikat dikursi dengan kedua kaki terbuka lebar memamerkan vaginaku yang mulus tercukur serta kedua payudaraku yang besar yang berguncang-guncang karena tubuhku yang menggeliat dan paru-paruku yang memompa sangat dalam. Sudah hampir satu jam aku dalam keadaan seperti ini, dengan vibrator yang menyesaki vaginaku dan satu lagi menempel di klitorisku ÔÇô yang dibantu sebuah selotip agar menempel. Sudah dua kali aku orgasme, tubuhku lemas namun nikmat.

Senja sore di belakang rumahku memang menjadi waktu yang sangat nikmat bagiku. Hampir setiap hari aku memandang senja dari balkon rumahku. Rumahku tidaklah besar, papaku membangun rumah menjadi tiga tingkat ÔÇô basemant, lantai satu, dan lantai dua ÔÇô untuk menyisakan halaman belakang yang cukup luas untuk mamaku manfaatkan sebagai taman. Mamaku sangat menyukai bunga, begitu juga diriku. Taman mamaku didominasi warna merah, mawar scarlet carson kesayangannya. Katanya bunga itu selalu mengingatkannya akan masa-masa pacarannya dulu dengan papa. Dan ada kolam renang yang memanjang di tepi kiri taman, memanjang dari dinding belakang rumah hingga ke tembok belakang rumah. Juga peralatan vigorous lengkap milik ayahku di belakang basemant. Namun tetap balkon ini yang menjadi lokasi favoritku di rumah.

Kain alas duduk kursi yang terikat denganku sudah begitu basah, akibat cairan orgasmeku. Aku terus mendesah dan berteriak selama kedua vibrator itu mengerjai dan memberiku kenikmatan. Adam datang lalu mengusap rambutku yang hitam panjang bergelombang, dan mengecup keningku. Ia duduk di sisi kananku. Memandangku yang tengah menggeliat dan berkeringat.

Adam, tolong, udahan. Lemeeeees kataku. Namun ia hanya menyandarkan punggungnya dan menghisap dalam-dalam kreteknya dan menghembuskan ke wajahku.

Adaaaaam. Belum selesai kalimatku, vaginaku terasa sungguh geli. Tubuhku semakin menggeliat tak karuan. Dan kembali aku meraih orgasmeku yang ketiga. Namun kali ini aku mendapatkan multi-orgasme, begitu hebat dan banyak cairanku yang tersembur sehingga vibrator yang di dalam vaginaku terdorong lepas. Aku mengejang beberapa saat setelah orgasmeku selesai. Otot-ototku berkontraksi hebat. Aku tak sanggup membuka mataku karenanya. Mulutku terbuka lebar menghembuskan udara dari dadaku.

Ia menghampiri dan memasukkan kedua jarinya ke vaginaku.

ÔÇ£Uh!!ÔÇØ

Lalu menempelkannya di pipiku dan memasukkannya ke mulutku. Aku hisap dan jilati tanggannya yang penuh cairan orgasmeku. Ia matikan dan cabut vibrator yang menempel di klitoris ku. Begitu juga ikatan yang mengekang tangan dan kakiku. Seketika kakiku jatuh ke lantai hingga tubuhku hampir melorot ke lantai. Sungguh lemas dan nikmat.

Ia tarik tubuhku dan membopong diriku di bahu kanannya. Sambil menggumamkan lagu Singing in the Rain kesukaannya memasuki rumah. Aku yang lemas dan telanjang ini pasrah dan tak mampu menggerakkan tubuhku, bahkan menggerakkan bibirpun tak mampu. Ia elus dan tepuk pantatku selama perutku bertumpu di bahu kanannya.

Dan aku telah tiba di dalam kamarku. Ia hempaskan tubuhku ke kasur dan menyalakan AC. Sekali lagi ia masukkan kedua jarinya ke vaginaku yang masih basah dan berlendir. Kemudian memasukkan jarinya yang basah kedalam mulutku. Dan sekali lagi aku hisap dan jilat. Aku lanjutkan memejamkan mataku. Aku tak peduli ia masih di kamarku atau sudah meninggalkanku.

Namaku Angel. Aku adalah anak pasangan pengusaha yang Puji Tuhan memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. Mamaku membuka butik dan juga menjual pakaian dan kain, menjual di butik maupun secara online dan juga memiliki sebuah toko bunga, aku sering menemani dan membantu mamaku mengurus tokonya. Papaku, aku tak begitu tahu apa usahanya, yang jelas penghasilannya jauh melebihi penghasilan mamaku. Dan aku sedang menghadapi Ujian Akhir Semester Empat, dan aku kuliah di PTS di kotaku sehingga aku tak perlu meninggalkan rumahku yang aku sayang ini.

Ya, kata orang aku cantik, dan papaku memberiku nama Angel karena kata papaku aku cantik, secantik ibuku. Dan memang ibuku begitu cantik, dan aku akui aku juga mirip ibuku. Aku rajin merawat tubuhku dengan melakukan workout yang diajarkan dan dipantau kedua orang tuaku ÔÇô yang akhirnya aku tahu papakulah yang memulai gaya hidup seperti ini, itulah mengapa terdapat peralatan vigorous di dalam basemant. Ibuku tak hanya mewarisi wajahnya yang cantik kepadaku, tapi tubuhnya juga. Hingga aku memiliki payudara yang besar dengan kulit putih mulus.
Dan aku hanya memiliki satu saudara saudara kembar. Oh bukan saudara kembar perempuan, tapi saudara kembarku adalah laki-laki. Ya, laki-laki. Jadi, kami hanya dua bersaudara. Kembar, laki-laki dan perempuan. Dan nama kembaranku adalah Adam.

Sedari kecil aku dan Adam terbiasa mandi bersama, hingga berlanjut ke masa SD. Dan Adam adalah malaikat pelindungku. Kami sekolah di SD yang sama. Anak-anak nakal di sekolah dan komplek sering menggangguku. Mereka tidak bisa diam melihatku bermain. Ada saja ulah mereka. Pernah beberapa kali aku jatuh dari sepeda dan terluka akibat ulah mereka, dan pernah sekali aku tercebur ke comberan akibat ulah mereka. Namun Adam selalu ada untuk menolongku, bahkan Adam tak segan-segan berkelahi dengan mereka demi menolongku. Dan Adam selalu menang berkelahi melawan mereka, walaupun Adam juga mendapati memar bahkan luka. Adam juga selalu menenangkanku jika aku dikerjai. Dan kejadian aku tercebur ke comberan itu, Adam kemudian memandikanku karena aku menangis terus dan tidak mau ngapa-ngapain.

Memasuki SMP, aku sudah bisa menjaga dan membela diri, sehingga aku tak perlu merepotkan Adam lagi. Namun Adam tetap setia menjagaku. Puji Tuhan aku dan Adam masuk di sekolah yang sama. Dan di SMP aku juga tidak pernah lagi mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari anak-anak lainnya.

Di awal SMP, aku dan Adam mengalami perubahan ÔÇô secara seksual, mental, dan pola pikir. Payudaraku mulai tumbuh, dan tumbuh melebihi anak-anak perempuan yang lain. Awalnya aku malu, tapi Adam membantuku menghilangkan rasa malu itu. Ia terus mengatakan bahwa aku lebih dan semakin cantik dengan tubuh yang seperti ini, cantik seperti mama katanya. Aku selalu senang jika orang mengatakan aku cantik seperti mama.

Dan pada saat SMP itu juga, kami pisah kamar. Aku menempati kamar baru yang ukurannya sama dengan kamar Adam. Aku sebenarnya keberatan tidur sendiri. Aku lebih senang tidur dengan Adam. Aku merasa Adam terus menjagaku dalam tidurku. Namun orang tuaku memaksa.

Di rumah, aku dan Adam terkadang masih menyempatkan mandi bersama ÔÇô tentunya tanpa sepengetahuan papa mama. Kami saling mengamati pertumbuhan dan perubahan tubuh. Penis Adam mengalami perubahan bentuk, penisnya semakin membesar dan panjang. Apalagi jika dalam keadaan tegang. Ukurannya menjadi jauh lebih besar dan panjang. Payudaraku semakin besar dan vaginaku mengalami perubahan, bibir vaginaku semakin merekah. Kami dulu walaupun mandi bersama, namun untuk menyabuni badan, kami lakukan sendiri. Memasuki SMP, kami mulai saling menyabuni tubuh. Adam sering sekali berlama-lama menyabuni payudara, pantat, dan pahaku hingga aku mengalami sensasi yang begitu nikmat dan akhirnya ketagihan. Ketika aku menyabuni Adam, aku sengaja membalas dengan berlama-lama menyabuni penis Adam. Namun ia tak menunjukkan reaksi keenakan sepertiku, walaupun aku yakin ia merasakan nikmat yang sama denganku terlihat dari penisnya yang menegang.

Orang tua kami mendidik kami untuk mandiri. Kami tidak memiliki pembantu tetap. Hanya seorang bibi yang datang di pagi hari untuk membersihkan rumah dan mengurusi pakaian kotor. Setelah selesai tugasnya, ia pulang. Dan mama, semenjak kami sudah SMP, jadi sering meninggalkan kami berdua di rumah saat sore. Aku paham, karena mama mulai serius dengan butiknya dan aku sering diajak mama. Jika aku ikut mama, tinggal Adam seorang diri menjaga rumah. Dan waktu sibuk mama memang lebih banyak di siang hingga menjelang malam, ketika butik sedang ramai-ramainya. Dan papa, jam kerjanya tidak menentu.

Karena payudaraku sudah mulai tumbuh, mamaku mulai menyuruhku menggunakan mini set. Aku mulai menggunakannya kemanapun dan kapanpun. Namu lama-kelamaan aku risih jika menggunakannya di rumah. Dan aku putuskan untuk tidak mengenakannya lagi jika di rumah. Awalnya mama menegur, namun aku jawab saja bahwa aku tidak nyaman mengenakannya jika di rumah dan memberitahunya bahwa aku tetap memakainya jika di sekolah. Mama memaklumi.

Tapi, bukan hanya mini set saja yang aku semakin gerah mengenakannya. Celana dalamku juga. Aku merasa tidak nyaman menggunakannya berlama-lama. Sehingga jika di rumah, aku lebih sering mengenakan legging ataupun yoga pants ataupun celana pendek kain yang mencetak pantatku di rumah.

Saat itu aku dan Adam baru saja memasuki tahun ajaran baru, kami sudah kelas dua SMP. Sepulang sekolah aku langsung mengganti pakaianku lalu tidur saking lelahnya. Tengah tidur, Adam membangunkanku.

ÔÇ£Angel, bangun. Buruan bangun.ÔÇØ Ia menggoyangkan tubuhku sambil sesekali meremas kedua payudaraku dan menggosok vaginaku yang hanya dibalut selembar celana kain ketat sehingga tangannya begitu terasa di vaginaku. Aku terbangun.

ÔÇ£Apaan sih?ÔÇØ

ÔÇ£Ini, lihat. Aku punya hal baruÔÇØ, ia kemudian duduk di sampingku dan menyalakan laptop yang ia bawa. Aku bangkit dan duduk disampingnya. Karena masih mengantuk, aku memeluknya dan menyenderkan kepalaku di bahunya.

Ia membuka beberapa folder dan membuka sebuah file. Ternyata itu adalah film. Bukan film biasa, itu adalah film porno. Film porno pertama yang aku tonton. Awalnya kedua orang bule itu ÔÇô laki-laki dan perempuan ÔÇô berciuman dan melepas seluruh pakaian mereka hingga telanjang bulat. Si pemain perempuan memasukkan penis si laki-laki yang begitu besar dan panjang ke dalam mulutnya, dan si laki-laki mulai mengumpat si perempuan. Kemudian berganti si laki-laki yang melahap vagina si perempuan, dan kini balas si perempuan yang mengumpat si laki-laki. Mereka melanjutkan dengan bersetubuh dengan berbagai macam gaya. Aku menontotn dengan antusias. Aku tak lagi memeluk Adam. Aku kini duduk tegak menonton adegan persetubuhan itu. Aku begitu tertarik melihat si perempuan yang mendesah-desah hingga berteriak-teriak disetubuhi si laki-laki. Dan setiap kali si laki-laki mengumpat si perempuan, si perempuan terlihat begitu senang dan semakin menikmati persetubuhan itu. Aku semakin antusias dengan keadaan si perempuan.

Walaupun aku tak lagi memeluk Adam, namun tangan kananku masih kuletakkan di atas paha Adam. Sejenak aku heran, koq aku rasanya memegang sesuatu yang keras. Namun karena aku masih ingin menonton setiap detik dari film porno itu, aku tak menghiraukan.
Setelah hampir 20 menit film berjalan, si laki-laki menyetubuhi si perempuan dengan kasar and umpatan yang semakin menjadi-jadi. Teriakan si perempuan semakin menjadi, dan dari vagina si perempuan keluar cairan yang begitu deras, diikuti dengan tubuhnya yang mengejang. Tanpa ampun si laki-laki kembali menyetubuhi si perempuan dengan kasar. Tak berapa lama si laki-laki mencabut penisnya yang masih tegang dan mengkilap lalu mengocoknya di depan wajah si perempuan. Tersemburlah cairan putih kental yang banyak dan menempel di wajah dan payudara si perempuan, yang akhirnya aku tahu bahwa itu adalah sperma.

Film selesai. Dan aku masih diam melamun merasakan sensasi yang baru yang begitu membuatku gelisah. Aku tak tahu apa ini.
ÔÇ£Jadi, ni tangan sampe kapan mau ngeremas penis aku, ngel?ÔÇØ, kalimat Adam membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, dan eh! Pantas saja keras, ternyata itu penis Adam. Namun aku tak melepaskannya.

Adam menjambak rambutku, sedikit sakit, kemudian menarik wajahku mendekati wajahnya. Hingga segaris jarak wajah kami, kami saling menatap. Tubuhku rasanya panas. Lalu Adam menarik wajahku, hingga bibir kami saling bertemu dan menempel. Tanpa berlama-lama kami berciuman seperti kedua pasangan pemain film porno tadi. Namun ciuman kami lebih lama dan lebih dalam.
Awalnya hanya bibir kami yang saling menngecup. Kini lidah kami sudah saling melilit dan tak peduli jika air liur kami membasahi sekitar mulut kami. Kami berciuman dalam pelukan kami dan menghempaskan diri ke kasur.

Adam melepaskan ciumannya, padahal aku masih ingin menikmati lilitan lidahnya. Kami saling menatap. Jantungku berdebar-debar. Darahku rasanya menjalarkan panas ke seluruh tubuhku. Tanpa saling menyuruh, kami menelanjangi diri kami. Saling telanjang berdua memang sudah biasa. Tapi kali ini rasanya berbeda.

Kami melanjutkan permainan lidah kami. Aku memeluk Adam erat-erat. Tangan kiri Adam yang aku timpa, menjambak rambutku dan menarik wajahku hingga ciuman kami terlepas lagi dan membuat air liur kami saling menyatu. Tangan kanan Adam yang bebas kini sudah mengusap vaginaku, ia mengusap tepat di klitorisku. Tanpa kukontrol mataku terpejam. Sungguh nikmat rasanya, lebih nikmat daripada saat kami saling memandikan.
Dengan kasar Adam menarik kepalaku hingga mulut kami kembali melanjutkan permainan lidah kami. Akibat ulah tangan Adam yang mengusap klitorisku, tubuhku menggelinjang heboh. Setelah vaginaku, kini payudaraku yang kiri menjadi objek permainan tangan Adam. Sungguh nikmat rsanya ketika Adam meremas dengan ritme kasar dan lembut yang bergantian dan merata di seluruh bagian payudaraku. Putingku kemudian dipelintir dengan keras, hingga aku tak sengaja menggigit bibir Adam.

Tangan kiriku kini tak lagi memeluk Adam. Aku mencari penis Adam dan meremas dan mengocoknya. Namun tak lama aku mengocoknya. Kini kepala penisnya aku tempelkan di bibir vaginaku. Adam menggoyangkan pinggulnya, menekan vaginaku dan memberi rasa yang semakin nikmat.
Adam menghentikan perbuatannya hingga aku juga ikut berhenti. Tangan kanannya mulai mengusap lagi vaginaku. Aku kembali memainkan penisnya dan mencium bibirnya. Namun Adam mendesis menyuruhku diam. Aku turuti.

Terasa jari-jari Adam di bibir vaginaku. Ia membersihkan lendir yang keluar dari vaginaku. Mataku mengamati tangannya di vaginaku. Ia angkat tangannya, terlihat begitu banyak lendir yang menempel di tangannya. Sejenak kami mengamati lendir vaginaku, hingga kemudian Adam menempelkannya di pipi kiriku dan memasukkan jarinya yang penuh lendir vaginaku kedalam mulutku. Aku pejamkan mata, dan menghisap lendirku itu, nikmat rasanya. Hingga Adam menarik jarinya, aku masih mengejar jarinya dan terus menjilati jarinya. Hingga tak tersisa lendir di jarinya.

Adam bangkit dan keluar dari kamarku. Aku tak tahu yang ia lakukan. Aku hanya terbaring telanjang menikmati sensasi baru yang begitu nikmat tadi. Tak lama Adam berada di kamarku lagi. Ia tutup dan kunci kamar tidurku kemudian berbaring di sisiku di tempat ia berbaring tadi. Aku menggenggam kedua tangannya. Ia balas dengan mengecup keningku cukup lama. Aku tersenyum dan ia balas senyum kecil. Perlahan aku melanjutkan tidurku yang terganggu. Tidurku kini lebih terasa nyaman, karena kali ini aku bisa tidur lagi dengan Adam. Tidur menggenggam tangan Adam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*