Home » Cerita Seks Tante Keponakan » Satu Hilang Satu Datang 4

Satu Hilang Satu Datang 4

Cerita Sebelumnya : Satu Hilang Satu Datang 3

Seperempat jam kemudian, Dido sudah sampai kembali dirumah kakeknya lagi. Terlihat didalam rumah, bu Lestari berjalan hilir-mudik. Kalau dilihat pada mimik wajahnya yang ayu dan cantik itu… rupanya dia agak kesal menunggu Dido kembali. Begitu bu Lestari melihat sosok tubuh Dido yang tegap itu datang mendekat, maka nyeletuklah kata-kata dari mulutnya yang sexy itu.

“Chk-chk-chk… akhirnya sang perjaka tong-tong pun… datang juga… Pasti pakai acara sun pipi kiri… sun pipi kanan… iya kan?”, kata bu Lestari asal.

“Emangnya seperti di Amerika tempat aku belajar sekarang apa…? Nah ketahuan nih ya… kesal menunggu ya mbak? Sorry deh… sini deh… Dido kasih sun pipi kiri dan pipi kanannya, biar redaan rasa kesalnya… eh… tunggu dulu mbak Les… jangan bergerak dulu… kayaknya… kayaknya…”.

Bu Lestari jadi kesal menunggu tuntasnya perkataan Dido yang dianggap rada lelet itu. “Ayo kayak apaan…! Kayak nenek gombel ya…?!”.

Belum juga bu Lestari habis berbicara, buru-buru balas dipotong oleh Dido. Katanya dengan cepat, “Maksud Dido… kalau mbak lagi marah-marah begini… kayaknya makin cantik aja deh…”.

Bu Lestari mukanya langsung bersemu merah muda mendengarkannya, maklum saja karena kulitnya yang putih bersih itu, malu bercampur senang. “Bisa aja kamu… lagi ngerayu mbak ya…? Apa lagi ngegombalin mbak?!”.

“Benar mbak… ‘swear’ deh! Pasti puteri-puterinya… juga secantik mbak Les deh! Orang kata… ‘pabrik’-nya saja mulus begini…”.

“Hussh… disamain dengan pabrik lagi… sana mandi dulu… mana belum makan siang lagi? Tuh lihat di meja makan… piring dan makanannya masih utuh…”, kata bu Lestari masih sedikit kesal. ‘Kalau ketahuan sama pak Dartowan, perihal cucunya ini… wah… bisa berabe deh…!’.

“Sorry deh mbak… tadi keasyikan mengobrol…”, kata Dido pelan seperti merasa bersalah sembari melangkahkan lagi kakinya menuju kamarnya untuk mengambil baju salin yang bersih, kan… mau mandi.

“Eh-eh…! Dido…! Mau kemana?”, seru bu Lestari tiba-tiba.

Seketika jadi berhenti langkah kaki Dido mendengarnya. ‘Katanya… disuruh mandi… kasihan deh… masih muda begini sudah pikun… kali’, pikir Dido cepat disambung dengan perkataan. “Kata mbak Les… Dido disuruh mandi dulu…”.

“Itu benar… tapi kamu ingkar ya…?!”, kata bu Lestari yang kadar kesalnya mulai menaik lagi.

“Ingkar mengenai apaan… mbak?”, terheran-heran Dido bertanya.

“Mengenai sun pipi kiri dan sun pipi kanan itu… mana…? Itu namanya ingkar… tahu!”, ujar bu Lestari rada ketus… jadi makin manis saja dipandang matanya Dido.

“Oh iya…!”, jawab Dido seketika. ‘Kenapa aku jadi lupa begini ya… padahal ini kan… suatu hal yang sangat mengasyikkan!’.

Dengan segera Dido bergegas kembali mendekati bu Lestari yang sedang diam berdiri dan tengah memperhatikannya terus dengan seksama. Saking terlalu cepatnya, ketika memeluk tubuh depan bu Lestari dan ingin mendaratkan kecupan pada pipi kiri bu Lestari… tersenggollah tangan kanan Dido tepat pada puncak buahdada bu Lestari yang sebelah kiri… ‘Wah… empuk sekaligus kenyal… mana montok lagi… kok rasanya seperti nggak pakai BH… sih?’, pikir Dido mulai ngeres sembari meresapi gesekan nikmat pada lengan kanannya itu.

“Eheeemmm… mana dong…!”, pinta bu Lestari yang telah menyodorkan pipi kirinya dengan memalingkan wajahnya sedikit kekanan.

‘Asyik nih… tidak ada protes sedikitpun mengenai senggolan pada susunya yang kiri…’, pikir Dido tambah berani serta makin ngeres saja.

<Muahh…!> <Muahh-muahh-muahh…!>, bunyi suara kecupan itu pada pipi kiri bu Lestari… bukannya hanya sekali… tapi berkali-kali…

Bu Lestari pun merasa seperti ada kejanggalan, kok tidak seperti biasanya. ‘Apa ini namanya kecupan model terbaru…! Kecupan model tahun 2015… kali?’, bu Lestari bertanya-tanya dalam hati… heran!

Sedang Dido sekarang sudah bertekad bulat menerjang resiko… mengalihkan kecupan gencarnya dari pipi kiri bu Lestari berpindah ke pipi kanannya. Secara refleks, bu Lestari memalingkan wajahnya sedikit kekiri.

Segera Dido mendaratkan lagi kecupan-kecupan di pipi kanan bu Lestari sembari tidak lupa menekankan dengan sengaja lengan kirinya pada buahdada bagian kanan milik bu Lestari. Usai mendaratkan kecupan-kecupan itu… dengan cepat Dido menegakkan kepalanya dan berkata, “Dan ini… tambahan bonus dari Dido…”. Langsung saja mulutnya menyosor ke mulut bu Lestari yang merah dan sexy itu.

Kaget mendapat perlakuan ini, serta-merta bu Lestari setengah meronta ingin menghindar. “Hhhmm-mmmhh…”, desahnya.

Tetapi Dido tetap saja menempelkan bibirnya pada bibir bu Lestari malahan disusul dengan serbuan lidahnya yang mulai menerobos masuk kedalam mulut… terjadilah awal sesi ‘French Kiss’ yang populer, umumnya bagi pasangan berlainan gender yang sedang memadu kasih.

Merasa tidak ada penolakan yang berarti… bahkan dirasakan Dido malahan lidah bu Lestari ikut-ikutan saling membelit lidahnya, maka tangan Dido pun mulai mulai menyusup masuk dari bagian bawah blus bu Lestari (saat itu bu Lestari berbusana blus dan rok)… menuju keatas dan menemukan… bungkahan besar dan montok susu bu Lestari bagian kanan. Sekarang tangan kiri Dido sibuk meremas-remasnya serta tidak lupa memelintir puting yang yang tidak terlalu besar tapi sudah tegang menonjol itu.

Tersentak tubuh bu Lestari kebelakang merasakan plintiran jari telunjuk dan jempolnya Dido pada pentil susu bagian kanan itu… disitulah terletak daerah sensitif-nya yang bila dirangsang cukup lama bisa menimbulkan birahinya yang tinggi seketika.

“Aduh Dido sayang… nakal sekali kamu… oooh… enaknyaaa…”, kata bu Lestari disertai desahannya, dengan cepat kedua tangannya yang tadinya memeluk tubuh Dido, sekarang memegang bagian bawah blus-nya dan langsung diangkat keatas sampai ke lehernya yang jenjang itu. “Jangan diplintir keras-keras dong… sakit tahu…! Mendingan juga… nenen nih… sama mbak…!”.

Dido segera memenuhi permintaan bu Lestari, memang inilah yang sedang ditunggu-tunggu Dido.

Dengan cekatan mulut Dido langsung menyergap puting dari buahdada yang montok yang disodorkan pemiliknya itu… sesuatu asset milik bu Lestari yang berharga dan indah… serta bisa membangkitkan gairah birahi seketika bagi pria siapapun yang seberuntung seperti dirinya.

Mulut Dido yang rakus mencucupi puting-puting indah yang membangkit selera birahinya. Kalau puting kiri yang dikenyot, maka buahdada yang kanan diremas-remas dengan tangannya, sebalik saat puting kanan yang dikenyot, maka buahdada yang kiri yang diremas-remasnya… Sungguh bersemangat sekali anak muda ini.

Semuanya dilakukan kedua insan ini sembari berdiri, pria-nya agak merunduk sedikit (maklum saja Dido mempunyai tinggi 172 cm, sedang bu Lestari tingginya 162 cm) mencumbui buahdada montok dan sekal itu. Sedangkan wanita-nya yang sedang dicumbu, tubuhnya rada doyong kebelakang sembari meliuk-liukkan tubuhnya merasakan kenikmatan itu. Erotis sekali… tampaknya. Bu Lestari tidak takut tubuhnya bakal ambruk kebelakang, karena selalu dipeluk erat oleh sebelah tangan Dido yang kekar. Kalau tangan kanan Dido yang sedang meremas-remas buahdada kiri maka tangan kiri Dido yang mendapat giliran memeluk erat tubuh bu Lestari, demikian pula bila tangan kiri yang meremas buahdada yang kanan, maka giliran tangan kanan Dido yang memeluk erat tubuh bu Lestari. Mulut Dido yang bertugas mengemut pentil-pentil indah itu menjalankan fungsi dengan mudah dan cekatan… tidak perlu dibantu tangan-tangannya yang juga lagi sibuk, ini dimungkinkan karena buahdada milik bu Lestari itu memang masih sekal sekali, sehingga pentil-pentilnya tidak terlalu sering berayun-ayun.

Sampai juga ke batas maksimal gairah yang sudah tidak mampu lagi ditanggung bu Lestari berlama-lama, kalau dibiarkan terus keadaan ini… bisa-bisa dia mendapatkan orgasme-nya… sambil berdiri! Dibisikkannya ke telinga Dido dengan suara gemetar serta menjauhkan dadanya dari mulut Dido yang ‘rakus’ itu, “Sssudahh… sssudahh… sayang! Aayooo… kita tuntaskan saja dikamarmu saja…!”.

Sampai dikamar Dido, tanpa malu-malu lagi, bu Lestari melucuti sendiri pakaiannya… mumpung gairah seks-nya masih menggebu-gebu… bahkan sekarang sudah sampai keubun-ubunnya!

Terpampanglah… sesosok tubuh telanjang wanita yang molek… bak tubuh seorang bidadari yang elok-jelita dan sempurna… Dido dengan mulutnya melongo serta matanya tanpa bisa berkedip… menyusuri setiap senti permukaan tubuh wanita yang cantik jelita ini… Maklum saja, ini pertama kalinya bagi Dido bisa menikmatinya dari dekat… hanya sejangkauan tangannya saja jaraknya… lagi pula tanpa perlu memakai keker digital-nya yang canggih itu. Sungguh terpesona Dido memandanginya, buahdada yang montok, sekal dan masih mancung kedepan, ditambah… itu lho… vagina segaris yang klimis…

“Eeehhh… sayang… tubuh mbak, tidak untuk dipandangi saja… kasihan si Naning nanti yang sedang menunggu mbak pulang! Ayoo… sini mbak bantu bukain bajunya deh… biar cepat selesai jadinya…!”, kata bu Lestari tidak sabar ingin dipuaskan gelora seks-nya yang lagi tinggi-tingginya itu.

Segera bu Lestari membukai seluruh pakaian Dido, ketika membuka CD-nya Dido rada sulit karena tersangkut sesuatu… Begitu CD itu terlepas… bu Lestari berkata hampir setengah teriak, “Aduh biung…! Gagahnya… kok kontolmu besarnya sama dengan punyanya kakekmu…. uupppss… tidak ding… lupakan saja!”. Hampir saja bu Lestari membuka tabir affair-nya dengan boss-nya yaitu pak Dartowan, kakeknya Dido itu. Lain kali dia harus hati-hati berbicara… agar supaya rahasianya tidak jadi berita skandal.

Sedang Dido mana mau memperhatikan perkataan bu Lestari secara seksama, dia kini sedang memperhatikan tubuh sintal bu Lestari yang telanjang dengan keseriusan tingkat tinggi.

“Hayooo… sayang, cepat naik ketempat tidur. Telentang saja ditengah-tengah, pokoknya… terima nikmat saja… dari mbak”, kata bu Lestari yang merasa sempitnya waktu yang dipunyai. ‘Mudah-mudahan aku tidak disambut dengan ambekan lagi dari Naning…’, demikian selalu dialaminya jikalau telat sampai dirumahnya. Masaalahnya Naning tidak suka berlama-lama sendirian dirumah, lain halnya kalau dia ditemani kakaknya, Nani. Tapi kan… Nani sekarang sedang bepergian bersama pak Dartowan… sudah 2 hari.

Begitu Dido membaringkan tubuhnya terlentang ditengah-tengah tempat tidurnya sesuai petunjuk bu Lestari, langsung saja bu Lestari berjongkok didepan penisnya Dido yang panjang dan keras.
‘Ukuran boleh sama tapi kerasnya itu lho…! Berbeda jauh dengan kontol kakeknya yang rasanya lebih lunak dari kontol Dido yang tengah kupegang ini… ampun biung… keras sekali!’, pikir bu Lestari memberi penilaian.

Langsung tangan lentik bu Lestari memegang penis Dido dan tanpa menunda-nunda lagi… langsung saja mengarahkannya pada vagina-nya, segera diturunkan pinggul mulusnya sambil menekannya kebawah… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Dido yang keras itu. “Aduh biung…! Nikmatnyaaa…!”, ujar bu Lestari setengah berteriak.

Lain pula dengan Dido yang penisnya baru pertama kali dijepit ketat oleh vagina… apalagi vagina wanita secantik bu Lestari ini. Secara refleks Dido mengangkat-angkat pinggulnya tinggi-tinggi dengan maksud ingin menghunjamkan penisnya lebih jauh kedalam vagina milik bu Lestari yang dirasakan Dido sangat legit dan… nikmat!

“Ooohhh… nikmatnya memek mbak Les ini…”, kata Dido dengan keras.

“Huuushhh… ngomongnya jangan keras-keras! Kan mbak sudah ngomong tadi, kamu terima nikmat saja”, kata Bu Lestari sembari menaruh kedua telapak tangan diatas perut Dido yang rata dan berotot sambil menekannya agar Dido tidak menggoyang-goyangkan pinggulnya lagi. Serta kegiatan otot-otot vagina yang tadinya mengurut-urut batang penis Dido yang berada seluruhnya didalam vaginanya ikut dihentikannya.

Hal ini mengundang protes dari Dido yang kenikmatan yang dirasakan tadi… terhenti seketika. “Ayo dong mbak… jangan siksa Dido dong… lanjutkan lagi ya… mbak-ku yang cantik…”, pinta Dido sembari merayu.

Bu Lestari yang merasa berada diatas angin langsung mengambil alih kendali permainan. “Janji…! Ikuti petunjuk mbak, biar… sama-sama merasa nikmat dan cepat mencapai puncak… Kamu tidak tertarik sama susunya mbak ini… apa? Tadi aja waktu diluar kamar, lengan kamu sengaja ditekan-tekan ke susunya mbak… iya kan?! Emangnya mbak nggak tahu apa? Sekarang kamu mainin susunya mbak, biarkan mbak yang ngurusin kontolmu yang nakal ini…”.

“Iya deh… mbak! Dido turuti, tapi… yang nikmat ya mbak-ku sayang…”, Dido mulai merayu lagi.

“Huussshhh… banyak komentar deh kamu. Soal nikmat dan lebih nikmat… itu sih… tergantung sama kontolmu sendiri… dasar kontol bandel!”, kata bu Lestari yang mulai sewot lagi… maklum saja, waktu kan terus berjalan…

“Aku bukan kontol mbak… aku Dido, yang kontol itu… yang ada didalam memek mbak yang legit…”, kelakar Dido.

Bu Lestari tidak menjawabnya. ‘Buang-buang waktu saja’, kata bu Lestari dalam hati. Segera saja mengeraskan dan mengendorkan otot-otot elastis vaginanya seakan sedang mengemut-emut ketat sekujur batang penis Dido, seraya memutar-mutarkan pinggul seksi-nya itu.

Ini adalah ilmu andalan bu Lestari dalam hal bersenggama. Orang-orang yang doyan ngeseks menyebutnya ’empotan ayam’. Tidak ada yang bisa bertahan lama menghadapinya, kecuali… suami almarhumnya seorang…! Tapi yang tidak diketahui oleh bu Lestari sampai sekarang adalah… kepiawaiannya ini mengusik gengsi suaminya sebagai seorang lelaki dan suami. Diam-diam tanpa sepengetahuan isterinya yang tercinta, dia (suaminya bu Lestari) sebelum melakukan senggama dengan isterinya, 15 menit sampai 30 menit sebelumnya mengkonsumsi satu pil perangsang ereksi ‘C.al.s’. Pil itu didapatnya dari anak majikannya yang sudah dewasa dan sangat doyan ngeseks… memberinya 1 botol penuh masih bersegel dan gratis! 1 botol itu berisi 100 pil tablet. Mungkin saja pemakaian rutin pil ini mempunyai dampak buruk yang bisa saja mengganggu daya konsetrasi seseorang pada saat situasi membutuhkan daya konsentrasi secara maksimal… Tapi… nasib seseorang siapa yang tahu?

Sementara itu pergumulan nikmat antara Dido dan bu Lestari sudah berlangsung 15 menit… kayaknya hampir mendekati akhir.

Dido merem-melek keenakan. Sedangkan bu Lestari terus-terusan selalu mengingatkan Dido agar jangan henti-hentinya meremas dan mencumbui buahdadanya yang montok itu. Hanya dengan cara ini mereka bisa mencapai klimaks dengan cepat dan… syukur-syukur dengan waktu bersamaan.

Tiba-tiba Dido menggeliatkan pinggul serta mendorong keatas… tidak memperdulikan lagi larangan bu Lestari. “Oohhh… mbakkk…! Aku sampaiii…!”, jerit nikmat Dido dan… <crrooottt…> <crrooottt…> <crrooottt…> menyembur-nyembur air mani Dido didalam vagina bu Lestari membanjiri ruang dalam vaginanya yang belum disesaki oleh batang penis Dido yang cukup panjang itu.

Saking kencangnya semburan itu… langsung memicu bu Lestari mendapat orgasmenya seketika. “Ooohhh… sayangku… sungguh nikmat ngentot dengan perjaka yang perkasa… seperti kamu Do…! Benar-benar nikmat…!’, jerit bu Lestari.

Sedangkan otot-otot vaginanya masih saja berkedut-kedut… seakan memeras batang penis Dido sampai tetes air mani yang penghabisan. Lalu diangkatnya pinggulnya yang sexy itu… terlepas sudah penis Dido dari jepitan kuat otot-otot vaginanya. Penis Dido yang masih tegang itu, langsung ditangkap dengan tangannya yang lentik serta segera dimasukkan ke mulutnya dan disedot-sedotnya. ‘Tuman…! Ini air mani perjaka… obat awet muda yang mujarab’, kata bu Lestari dalam hati. Setelah itu barulah dilepas penis Dido yang mulai melunak dari mulutnya.

“Mbak sungguh puas… ngentot denganmu Do, kapan-kapan kita akan lanjutkan lagi… itu pasti…! Tapi tidak malam ini… mbak pulang nanti pasti diambekin Naning deh… tapi tidak apa-apa deh… setimpal bahkan lebih… kenikmatan yang didapat mbak darimu”, kata bu Lestari memuji keperkasaan Dido.

Buru-buru bu Lestari turun dari tempat tidur Dido, untuk mengenakan pakaiannya lagi, tapi terlambat… keburu ditangkap kembali oleh tangan-tangan kekar Dido. Dido menarik kembali tubuh bu Lestari menindih tubuhnya serta mencium mulut bu Lestari dengan penuh nafsu kemudian dilepas sejenak hanya untuk membisiki bu Lestari.

“Mbak sayang… menginap saja disini bersama Dido ya…”, bujuk Dido dengan penuh gairah.

“Tidak bisa sayang… kasihan Naning sendirian dirumah”, kata bu Lestari menampik dengan halus.

“Kalau begitu satu ronde lagi deh… ya mbak”, pinta Dido dengan harap-harap cemas.

Buru-buru bu Lestari melepaskan diri dan segera turun menyambar pakaiannya.

“Tidak Do… kan masih banyak waktu besok”, tolak bu Lestari lagi.

“Bagaimana kalau mbak pulang dan membujuk Naning untuk menginap saja disini…?”, usul Dido penuh daya tawar.

“Sudah pernah mbak mencobanya, dalam keadaan hatinya senang saja, Naning tidak mau diajak menginap disini… apalagi sekarang… dia lagi ngambek berat pasti dia tidak mau deh…!”, jelas bu Lestari perihal Naning, puteri bungsunya itu.

Melihat wajah Dido yang memelas dan kecewa berat itu, bu Lestari berkata lagi, “Sudah deh… catat saja nomor HP kamu di kertas, nanti kalau berhasil… sebelum kembali lagi kesini bersama Naning… mbak akan menelponmu deh… Tapi jangan terlalu berharap banyak, kalau dalam satu jam kedepan tidak ada telpon dari mbak… sudah deh tidur saja, sebelumnya mandi dan makan dulu. Tuh sudah mbak siapkan di meja makan. Sudah cape-cape dimasakin… kok tidak dimakan sama sekali. Naning tadi ikut membantu memasak lho. Kamu belum ketemu dengan Naning sih… jadi tidak menghargai tenaganya… tenaga dari seorang anak gadis ting-ting lho…!”. Sambil berkata itu bu Lestari mengenakan pakaiannya kembali dengan segera.

Setelah rapi, bu Lestari menanyakan kertas catatan nomor HP Dido. Setengah melompat masih dalam keadaan telanjang bulat, Dido segera membuka tasnya. Mengambil sehelai kertas kecil dari bundel buku notes dan menulis nomor HP-nya dan memberikan pada bu Lestari beserta sebentuk benda kecil, segenggaman besarnya.

“Apaan nih Do?”, tanya bu Lestari.

“Itu senter mbak, siapa tahu gelap dijalan nanti dan… tidak usah dikembalikan… Dido ada dua kok”, jelas Dido.

“Oh begitu…”, kata bu Lestari sembari memencet-mencet senter itu tspi tidak jugs memsncarkan cahaya. “Bagaimana cara menghidupkan Do, jangan-jangan baterainya habis lagi”, tanya bu Lestari.

“Itu tidak memakai baterai mbak, juga tidak perlu disetrum seperti HP… mbak”, jelas Dido sambil mendekati bu Lestari. “Ini tombolnya, tapi geser dulu kekanan sedikit lalu tekan sekali saja untuk ON kalau ingin mematikan tekan sekali lagi… lalu geser kembali tombolnya kekiri… untuk pengaman… biar awet… takut tidak sengaja kepencet didalam tas dan supaya cahayanya tetap terang”.

Dido memperagakan caranya pada bu Lestari, diarahkannya senter kecil itu ke tembok didepannya. <Byaar…> senter itu menyala sangat terang pada permukaan tembok itu. “Kalau nanti mulai redup cahayanya, biasanya terjadi kalau dipakai terus-menerus selama seminggu. Cukup diguncang-guncang pelan saja mbak, nih seperti begini… tapi sebaiknya senternya dimatikan dulu”, Dido menjelaskan cara pemakaian senter kecil itu pada bu Lestari.

Diguncang-guncangkannya senter itu pelan-pelan, tidak terlalu lama, cukup 10 detik saja. Diarahkan kembali senter itu pada tembok tadi. <Byaar…> menyala kembali setelah tombol kecilnya ditekan. Lebih terang cahayanya dari yang tadi, bahkan sekarang sedikit menyilaukan mata, saking terangnya.

“Wow…! Terang sekali…!”, kata bu Lestari sambil berdecak kagum.

“Dan kalau mau lebih terang lagi… begini caranya…”, kata Dido yang masih saja bertelanjang bulat, secepat kilat menempelkan mulutnya pada pentil susu bu Lestari yang kiri lalu dikenyot-kenyotnya dengan keras dan bersemangat… yang basah tentu saja blusnya bu Lestari.

“Aduh…! Nakal nih… ngagetin mbak saja!”, teriak bu Lestari tanpa sempat menghindar.

“Emangnya sakit ya mbak… maafkan Dido deh…”, kata Dido melepaskan sergapannya itu.

“Bukannya sakit… kaget tahu!”, kata bu Lestari sembari mencubit dengan pelan penisnya Dido.

“Aahh… jangan dicubit disitu, mbak… entar nggak bisa dipakai… lagi”, kata Dido sambil buru-buru menarik mundur pinggulnya.

“Hi-hi-hi… biar tahu rasa!”, ejek bu Lestari sembari tertawa. “Udah ah…! Kunci lagi pintu ini”, ujar bu Lestari, senter telah dinyalakan, menerangi jalan yang akan dilaluinya.

Setelah kepergian bu Lestari pulang kerumah, sunyi dan sepi kembali rumah besar kediaman Dartowan, kakeknya ini. Buru-buru Dido berbalik badan melangkah kekamarnya untuk segera mandi, untuk membersih tubuhnya dari keringat birahi dari persetubuhan perdananya dengan bu Lestari yang jelita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*