Home » Cerita Seks Kakak Adik » Satu Hilang Satu Datang 3

Satu Hilang Satu Datang 3

Cerita Sebelumnya : Satu Hilang Satu Datang 2

Bagian 1

Dido sambil menyandang keker digital-nya yang masih baru, menyusuri tepian pematang padang rerumputan yang menghijau. Lahan ini dahulunya adalah sawah, tetapi sekarang tanahnya telah mengering serta mengeras karena sudah lama tidak mendapatkan pasokan air lagi. Beruntung bukan tanaman ilalang yang tumbuh disana tetapi keburu keduluan bertumbuh subur rerumputan yang tebal dan menghijaukan lahan yang lumayan cukup luas itu.

Sejenak terhenti langkah-langkah kaki Dido. Dengan heran Dido menatap dikejauhan didepannya, disekitar tempat yang terletak ditengah-tengah lahan rerumputan itu. ‘Sedang ngapain tuh anak… berdiri dibelakang seekor kerbau betina yang sedang diangonnya itu?’, Dido bertanya-tanya didalam hatinya. Ya… bagaimana tidak mengherankan, anak lelaki yang menurut perkiraannya baru berumur sekitar 14 tahunan itu sedang berdiri dengan tangan kirinya mengacung keatas dan… eh… apa pula yang ada dalam genggaman didalam telapak tangan kirinya itu. Oh… he-he-he… rupanya sedang menggenggam HP yang diarahkan pada pertemuan antara bagian belakang kerbaunya dan bagian depan tubuhnya sendiri. Sedangkan pinggul anak lelaki tanggung itu sedang gencar-gencarnya bergerak maju-mundur. ‘Buset… deh! Kirain lagi ngapain…? Ternyata… rupanya tuh anak lagi ‘gituin’ kerbaunya sendiri! Kenapa pula pakai direkam segala?!’.

Buru-buru Dido merunduk dan kedua lututnya menjejak diatas tanah yang sedang dipijaknya. Dengan cepat Dido mengenaksn keker digital-nya didepan kedua matanya dan diarahkan kesana ketempat dimana kegiatan ‘bestiality’ yang sedang berlangsung itu. Setelah disetel seperlunya, barulah keker digital itu memberikan gambaran yang sangat jelas sekali, seakan kegiatan itu berlangsung pas didepan matanya.

‘Wow… lumayan besar dan panjang juga penis anak tanggung itu… pas deh… untuk ‘jatah’ si kerbau betina yang jadi ‘sparring partner’ ngeseks-nya itu’, Dido mengomentari dalam hati kegiatan yang sedang berlangsung itu. Tak sampai hati Dido merekam semuanya itu… biarlah itu menjadi rahasia dua makhluk itu. Yang pasti sang kerbau betina pastilah ‘pandai’ menyimpan rahasia itu, entahlah dengan si anak lelaki tanggung itu, kecuali… kalau memang ‘urat malu’-nya sudah putus, he-he-he…

Dengan merunduk-rundukkan tubuhnya rendah-rendah, Dido mengambil arah kekanan menjauhi tempat itu, menuju ke satu rumah gedung dikejauhan nun disana, jauh jaraknya dari tempat dia berada sekarang.

***

Akhirnya sampai juga Dido dirumah kakeknya, Dartowan namanya. Rumah ini masih saja lengang dan sepi seperti kemarin ketika Dido pertama kalinya menjejakkan kakinya disini. Dido merenggangkan badannya yang sekarang baru terasa pegal-pegal, ternyata berjalan sambil merunduk-rundukkan badannya tadi itu cukup membuat penat sekujur tubuhnya. Dido menegakkan lagi tubuhnya dan berbalik badan…

“Oh My God…!!”, seru Dido kaget tiba-tiba dan melompat mundur kebelakang. Banyak kejutan yang dialaminya hari ini. “Aduh… mak! Bikin kaget saja…!”. Bagaimana tidak kaget… didepannya telah berdiri seorang anak gadis manis tanpa suara yang kedua tangan mungilnya menjulur kedepan sambil memegang sesuatu dikedua tangannya itu. “Aduh dik… kakak jadi kaget sekali… kok diam-diam saja sih…?”. Diperhatikan benda yang tengah disodorkan padanya ohhh… bukankah itu dompetnya? Kok bisa berada di tangan anak gadis ini?

“Ketemu dimana dik… dompet itu?”, tanya Dido lembut setelah dengan cepat menipis rasa kagetnya.

“Maafkan Dina oom… si oom jadi kaget begitu… hi-hi-hi…”, kata gadis itu dengan suara serasa merdu sekali di telinga Dido, yang ternyata bernama Dina itu sambil menahan tawa yang tertahan di kerongkongannya… khawatir si ‘oom’… tersinggung hatinya. “Dompet itu tergeletak diatas tanah didekat pohon Ketapang sana”, jelas Dina perihal penemuan dompet itu. Ya… tempat dimana Dido memergoki anak lelaki tanggung itu dari kejauhan.

“Aduh neng geulis… jangan panggil aku dengan sebutan ‘oom’ dong, kakak masih berumur 18 tahun lho… jadi belum pantas dipanggil dengan kata ‘oom’… kan? Sedang dik Dina kan masih berumur 12 tahun ya?”, kata Dido asal tebak saja sembari sebelumnya minta diralat panggilan terhadap dirinya.

“Bukannya ‘masih’ oom… eh kak”, kata Dina dengan suara merdu. “Tapi… ‘sudah’ berumur tig… eh… empat belas kurang kok…”.

“Itu sih… namanya tiga belas lebih neng… belum genap empat belas tahun dong…”, kata Dido sedikit protes sembari tangannya mengambil kembali dompet yang ada di tangan lentik gadis itu. “Terima kasih ya dik sudah bersusah payah mengembalikan dompet kakak… adik sungguh seorang anak gadis yang sangat jujur sekali”. Bagaimana tidak bergejolak gembira hatinya, wong… semua asset harta benda miliknya semuanya ada didalam dompetnya itu. Kelak dia harus lebih berhati-hati lagi dengan dompetnya itu… jika memang tidak ingin sengsara nantinya…

“Ya sama-sama… terima kasih kembali oom eh… kak”, jawab Dina tersenyum. “Tapi… si oom eh… kakak yang salah eh… tidak ding… kakak keliru menerka umur Dina… yang benar adalah empat belas kurang…”, jawab Dina pasti. “Orang kata… kurangnya cuma seminggu lagi… kok”, kata Dina tetap bersikukuh mempertahankan pernyataannya.

“Iya deh… dik”, kata Dido lembut mengalah serta buru-buru mengeluarkan BB-nya sembari mengetikkan sesuatu catatan pada BB itu. “Jadi dik Dina akan berulang tahun yang ke-empat belas nanti pada tanggal 10 mendatang… iya kan?”, tanya Dido kembali.

Rupanya diantara mereka berdua, kekakuan suasana telah mencair seketika.

“‘Tul… ‘ner… ‘kul… ‘nger… hi-hi-hi…”, jawab Dina sembari berkelakar ceria.

“He-he-he…”, Dino ikut-ikutan tertawa tanpa tahu makna perkataan anak gadis itu. Seketika Dino sadar akan dirinya dan bertanya pada anak gadis itu. “Pantun itu artinya apa toh… kakak kok tidak mengerti sih? Maklumlah kakak kan tidak bersekolah disini…”.

“Ini bukannya pantun oom… eh salah lagi deh… kak…!”, kata Dina yang rupanya rasa canggungnya belum surut-surut juga. “Itu cuma kelakar diantara teman-teman Dina ketika berada diluar kawasan sekolah kok… artinya… tapi jangan tersinggung ya… kak”, jelas Dina yang masih merasa canggung saja. “Itu artinya… artinya yaitu… itu adalah betul dan bener tapi kalau kena pukul pasti kelenger… hi-hi-hi…”, kata Dina mulai ceria kembali.

“Ha-ha-ha… bisa saja kamu…”, Dino ikut-ikutan tertawa tapi kali ini dia tahu apa yang sedang ditertawakannya. “Kalau begitu kita berkenalan dulu dong”, kata Dido selanjutnya seraya menyodorkan tangan kanannya mengajak Dina untuk bersalaman kenal, yang disambut dengan jabatan tangan mungil Dina.

“Dido…”.

“Aku Dina kak…”.

“Sudah tahu kok…”, jawab Dido santai.

Hening sejenak… keduanya telah ber-inisiatif sendiri, mengambil kursi masing-masing (memang ada beberapa kursi didepan beranda rumah sunyi itu) dan mengatur kursi-kursi itu saling berhadapan dan duduk diatasnya. Tidak terlalu dekat sih… kira-kira berjarak sekitar 2 meteran.

Tiba-tiba Dina memecah keheningan diantara mereka dengan berkata. “Lucu deh kak… tadi dekat pohon Ketapang yang rindang disana itu… melihat cara kakak tadi disana berjalan sambil mengendap-ngendap… bagaikan nyemot yang sedang belajar berjalan… hi-hi-hi…”, kata Dina sambil mengikik tertawa dan segera menutupi mulutnya dengan telapak tangan mungilnya supaya suara tawanya tidak terlalu keras terdengar (NB: nyemot = monyet).

“Masak sih berani ngeledek yang lebih tua-an sih… kurang ass… eh… enggak kok!”, Dodi membungkamkan mulutnya untuk sementara.

“Bercanda… kak, lagi pula… kita kan masih dalam satu generasi lho”, jawab Dino mulai bernada serius.

“Generasi apaan?”, Dido bertanya dengan heran.

“Ya ‘generasi belasan’ lah… masak sih ‘generasi tua’… gitu lho”, jawab Dina serius.

“Iya juga sih…?”, akhirnya Dido menjawab dengan singkat.

Hening sejenak… kemudian tiba-tiba Dido dikejutkan oleh seruan agak keras yang keluar dari mulut Dina yang mungil.

“Hayooo… tadi kakak mau ngomong kata ‘asem’ ya…”, tanya Dina spontan. “Orang Dina sudah mandi kok tadi pagi… jadi tidak asem lagi dong…!”.

“Lha apa hubungannya ‘asem’ dengan ‘mandi’…?”, komentar Dido dongkol.

“Mana Dina tahu…?! Mungkin ‘hubungan’-nya jatuh disana ngkali… dekat pohon Ketapang itu hi-hi-hi…”, lanjut Dina lagi.

Dodi yang terpojok hanya bisa nyengir saja dan berpikir keras untuk membalasnya… tidak pakai lama sih… ‘Nah ini dia yang bakalan gadis belia ini akan susah menjawabnya, he-he-he…’, sebersit ide yang dianggapnya cemerlang oleh Dido muncul seketika di benaknya.

Dina yang sedang asyik menekuni wajah ganteng Dido, menjadi tak mengerti arti senyuman Dido itu. “Kok kakak senyum-senyum sendiri sih?”, Dina bertanya heran.

Spontan Dido berkata dengan bersemangat. “Nah… ketahuan ya…! Kamu tadi disana lagi ngintipin tuh anak lagi bercengkrama dengan kerbau-nya ya… ha-ha-ha…”, kata Dido sambil tertawa mengakak lepas.

Tapi yang sedang ditertawai Dido malah menjawab dengan santainya, “Keliru lagi kak… hi-hi-hi… disana itu bukan anak… melainkan kakak lelaki Dina kok… dia sudah berumur 15 tahun lebih… hi-hi-hi…”.

Kagum juga Dido melihat ketenangan Dina menghadapi sindirannya. Secara serampangan Dido melanjutkan tanpa pikir panjang lagi. “Kalau begitu… Dina sudah di-‘keboin’ ya… sama kakaknya…”.

Tertegun seketika Dina mendengarkan perkataan Dino yang sembrono itu. “Iiih… kak Dido… kok ngomongnya begitu sih…!”, jawab Dina mulai sewot.

Sekarang malah berbalik justru Dido yang tertegun menyadari perkataannya yang super sembrono itu. Dengan cepat Dido menutupi mulutnya dengan telapak tangan kirinya dan seketika disambung dengan gerakan cepat tangan kanannya yang menampar keras punggung tangan kirinya. <Plakkk…!!> <plakkk…!>, terdengar sangat keras sekali di telinga Dina.

“Kok mukulin diri sendiri sih… kak?”, kata Dina terkejut mendengar dan menyaksikan ulah aneh Dido itu.

“Maafkan kakak… Din, kadang mulut kakak ini suka nyerocos tanpa dipikir dahulu…”, kata Dido memelas minta dimaafkan.

“Ya… sudah deh… tapi suara keras itu sungguh mengagetkan jantung Dina… lho”, kata Dina itu sambil merapatkan telapak tangan kirinya yang terbuka menempel ketat pada dadanya… akibatnya… terlihatlah bahwa ternyata… dada itu lumayan menonjol…

Tertegun Dido menekuni dada Dina itu… rupanya tatapan mata Dido jadi terpaku disitu…

Dina yang jeli dan cerdas segera membuka pembicaraan lagi sambil berdehem keras memecah konsentrasi pandangan mata Dido yang genit pada dadanya itu. “Hehh-mmm…! Hehh-mmm…! Hai kak… kalau lagi ngomong, pandangi mata lawan bicaranya dong…!”.

Gelagapan Dido menjawabnya. “Sorry… Din, kakak tidak menganggap Dina sebagai lawan bicara kok… cuma sebagai teman bicara… lho”, jawab Dido berkelit karena telah ‘tertangkap-basah’.

“Kalau mau melihat susu Dina… bilang saja dengan baik-baik… tidak apa-apa… kok”, kata Dina senyum-senyum dengan santainya.

“Ah… tidak kok…”, jawab Dido singkat karena risih dan malu.

“Yakin deh… Dina tidak akan marah… Dina maklum kok…”, kata Dina yang nadanya sekarang berlagak dewasa.

“Ya… boleh deh…”, jawab Dido harap-harap cemas… penisnya seketika dialiri darah dengan deras dan… menjadikannya tegang sempurna. Horny deh dia sekarang jadinya.

“Boleh apanya…? Kalau ngomong yang jelas dan mudah dimengerti Dina dong… jadi bingung nih, yang dimaksudkan kakak itu apa siiih…? Tidak usah takut-takut… kan Dina tadi sudah bilang tidak akan marah…”, ujar Dina pura-pura tidak mengerti sambil tersenyum tenang, masih saja dengan lagaknya seperti wanita dewasa.

“Itu lho…”, kata Dido berhati-hati. Setelah menghirup napas yang dalam, kemudian menghembuskannya spontan berupa satu kalimat tanya yang mantap. “Boleh ya… kakak melihat susunya Dina… kan sudah diijinkan lho… tadi”, tanya Dido ‘to the point’.

“Emangnya… kakak mau nenen yaaa…? Kan sekarang sudah gede…! Tidak boleh!! Hi-hi-hi…”, jawab Dina tenang dan diikuti dengan kata terakhirnya yang bernada tegas disambung dengan tawanya yang renyah.

Mendengar itu mendadak Dido tertawa terpingkal-pingkal. “Ha-ha-ha…! Kurang asseeem…! Ternyata aku bisa dikerjain juga sama anak kecil…!”.

Dina yang masih tetap saja bersikukuh dengan usianya mulai melancarkan protes. “Aku bukan anak kecil lagi kak… aku sudah berumur 14 tahun kurang sedikit saja kok…!”. Lanjutnya lagi, “Sudah ah… kak, jangan ngomongin yang begituan ya… ingat lho… kita kan baru saja berkenalan…”.

“Setuju…”, jawab Dido singkat dan tegas.

Selanjutnya… jadilah mereka mengobrol ngalor-ngidul dengan asyiknya tanpa menghiraukan waktu…

***

Hari tanpa terasa telah menjelang sore, langit pun makin meredup saja.

Tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh senandung lagu yang dilantunkan dengan suara merdu oleh seorang wanita ayu yang kayaknya sih tidak terlalu tua… yang herannya… kok dekat sekali dengan mereka yang sedang duduk-duduk santai sambil mengobrol itu.

(‘Marilah Kemari’ Ciptaan: T.t.k *us**)

Marilah kemari… hei hei oh kawan…
Aku lah disini… hei hei oh kasih…
Marilah bergembira… bersama-sama…
Hilangkan hati… duka lara…

Boleh berdua-duaan…
Asal dalam lingkaran…
Asal jangan pergi berduaan…
nenek bilang itu berbahaya…

Aaha… aaha… aaha… aaha…

Kemudian muncullah sesosok tubuh wanita…

‘Oh… mbak Lestari toh rupanya… ngagetin aja…!’, ngedumel Dido kesal dalam hatinya.

Benar, itu senandung suara bu Lestari (nama lengkapnya sih cukup keren… Lestari Ayuningsih), tetangganya pak Dartowan, yang rumahnya kurang lebih 100 meteran arah selatan dari rumah kediaman pak Dartowan itu. Maklum saja letak rumah didaerah sekitar kediaman pak Dartowan, jarang-jarang dan tidak terlalu banyak. Jarak 100 m bisa dibilang sebagai tetangga dekat.

Bu Lestari belum terlalu tua, umurnya baru saja masuk 32 tahun, seorang janda muda yang ditinggal mati oleh suaminya yang meninggal karena kecelakaan lalu-lintas di jalan tol. Semasa hidupnya suami bu Lestari itu bekerja sebagai supir truk pengangkut barang antar kota. Ibu janda muda yang masih saja kelihatan ayu dan cantik itu mempunyai 2 puteri juga ayu serta juga cantik, yang sulung bernama Nani (17 tahun) yang saat ini sedang menemani pak Dartowan bepergian bersama-sama ke ibukota beberapa hari untuk keperluan sesuatu. Sedangkan puteri bungsu-nya, Naning (14 tahun) tinggal bersamanya dirumah mereka.

Kegiatan bu Lestari sekarang adalah sebagai housekeeper dan lain-lain dirumah kediaman pak Dartowan, kadang kala juga sebagai kekasih bila dibutuhkan pak Dartowan. Bekerja rangkap bermacam-macam tapi gaji tidak rangkap alias tunggal… Namun penghasilan bu Lestari yang didapat dari bekerja pada pak Dartowan itu, cukup besar dirasakannya, lebih dari cukup untuk membiayai seluruh keperluan yang dibutuhkan oleh keluarga kecil ‘single-parent’ itu.

“Maaf den Dido… hari mendekati waktu maghrib… pulangin deh anak orang ini… entar dicariin sama orangtuanya lho…”, bu Lestari mengingatkan Dido.

‘Dasar nenek comel… lha iyalah… masak sih anak kebo…’, ngedumel lagi Dido yang masih betah mengobrol dengan Dina yang imut dan manis itu.

“Ayo Din… benar juga kata mbak Les, kakak antar kerumahmu… ya”, kata Dido lembut pada anak gadis itu.

“Oh… terimakasih kak… tak usah deh… kan tadi datangnya juga tidak diantar… iya kan?”, jawab Dina menolak halus tawaran Dido itu dengan lembut juga.

“Iya tadi memang tidak diantar kakak… tapi kamu kan ngintil dibelakang kakak…? Ayo ngaku! Sampai… kakak hampir semaput karena kaget…”, Dido mengingat pengalaman ‘pahit’-nya tadi.

“Hi-hi-hi… maafkan Dina deh kak… tapi… Dina kan… bermaksud baik… itu lho… untuk mengembalikan dompet kakak yang tercecer… iya kan?”, jawab Dina membela diri.

“Oh itu… benar juga… terimakasih sekali lagi ya Din… kamu sungguh gadis yang baik”, jawab Dido tanpa menyebutkan lagi kata ‘anak gadis’ lagi, khawatir nanti di-protes lagi oleh Dina yang kayaknya sekarang sedang sensitif dengan sesuatu hal yang berhubungan dengan umurnya itu.

“Oke deh… setuju kak dan… permisi mb… bu Les, Dina pamit pulang… ya”, sapa Dina pada bu Lestari untuk berpamitan.

“Iya deh neng… dan titip salam untuk ibumu ya…”, jawab bu Lestari.

‘Emangnya… dia kenal dengan ibuku apa…?’, tanya Dina heran dalam hati. ‘Barangkali cuma untuk sok ramah aja… kali’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*