Home » Cerita Seks Ayah Anak » Satu Hilang Satu Datang 2

Satu Hilang Satu Datang 2

Cerita Sebelumnya : Satu Hilang Satu Datang 1

Dentang lonceng berbunyi delapan kali. Dartowan setelah menyelesaikan makan malamnya, duduk santai di sofa. Dia tidak menyalakan TV tetapi tengah asyik dengan serius membaca selembar kertas ‘instruction for use’ dari benda berbentuk tabung kecil setinggi kurang lebih 15 cm-an yang ditaruh diatas meja kaca didepannya.

Tulisan dalam lembaran kertas ditangannya itu, dicetak dalam 3 bahasa, English, huruf kanji Chinese dan Indonesia. Mentang-mentang sih penduduk negara kita, Indonesia tercinta ini berjumlah seperempat milyard lebih orang. Nama benda didepannya itu adalah ‘Saliva Fertility Tester’, sebuah hasil teknologi kedokteran dengan kegunaannya yang berhubungan seputar KB.

Dari beberapa lembaran referensi serta tayangan-tayangan sewaktu browsing di internet, Dartowan sudah mulai mengerti cara kerja dan tujuan yang dimaksud tabung tester itu. Yaitu bahwa… para wanita yang tubuh mereka telah ‘matang’ secara biologis (umumnya berkisar antara 15 sampai dengan 50 tahun) sewaktu dalam keadaan ‘subur’, pada air liur mereka mengandung lebih banyak garam dan kadar estrogen dari pada hari biasanya. Tabung yang berfungsi membesarkan itu memperlihatkan molekul kristal estrogen yang dikandung dalam air liur yang telah mengering diatas kaca ‘slider’ pada alat itu. Kalau banyak berarti ‘subur’ dan kalau sedikit berarti ‘tidak subur’.

<Kriieettzz…> bunyi pintu dibuka dari kamar tidur Desrita, puteri Dartowan, remaja jelita yang berusia 17 tahun itu.

Desrita yang berpakaian piyama keluar dari kamarnya dan langsung mendekati dan duduk disamping ayahnya pada sofa itu.

“Halo pa… sedang ngapain nih…?”, sapa Desrita bernada dewasa melebihi usianya sendiri.

“Hei sayang…”, Dartowan balas menegur puterinya sembari lengan kanannya merangkul bahu mungil indah Desrita dan mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibir sensual puterinya itu… tetapi kalah cepat… Desrita lebih gesit telah menutupi mulutnya dengan telapak kirinya yang halus. Alhasil sang ayah hanya bisa mengecup punggung telapak tangan puterinya saja. Dartowan tidak memaksa dan duduk tegak lagi menghadap puterinya kembali.

“Sabar papaku… sayang”, kata Desrita. “Asal papa tahu saja… aku lagi datang bulan nih sekarang…”.

“Oh yaaa…? Papa dan kamu seharusnya bersyukur…”, kata Dartowan lega penuh rasa syukur… (yang semu! Seharusnya malah dia tidak perlu melakukan incest dengan puteri kandungnya pada saat diduganya sangat beresiko tinggi itu), maka dari itulah ‘Saliva Fertility Tester’ dibelinya.

“Papa sih… makanya jangan selalu menganggap Rita masih anak-anak… tidak tahu apa-apa… lugu apa lah… kan Rita sudah mengatakan tentang… waktunya sudah tepat… maksudnya… pada malam itu… memang Rita lagi ‘tidak subur’… dengan memakai sistim kalender KB, Rita telah lama mengetahui bahwa siklus bulanan Rita adalah 29 hari stabil. Tidak percuma di sekolah dari sejak SMP, kami, murid-murid diberi mata pelajaran tambahan yaitu… Pendidikan Seks Lebih Awal…”.

“Ohhh…?!”, tanggap Dartowan yang bengong mendengarkan ocehan puteri kandungnya itu. “Kok dulu kamu tidak cerita-cerita sih sama papa…?”.

“Papa-papa… hi-hi-hi… ini urusan cewek… pa!”, kata Desrita menerangkan pada ayahnya. “Rita sudah membicarakan sama mama… dulu, tapi sayangnya… mama senangnya selalu dekat-dekat dengan gagang telepon rumah saja. Reaksi mama cuma… ‘ya-ya-ya…’ atau ‘oooh begitu’ doang…!”.

“Ohhh ya… jadi begitu toh?”, kata Dartowan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Tapi tidak mengapa… nih papa telah membeli alat yang bisa mendeteksi saat kamu ‘tidak subur…’ jadi kapan kita boleh ‘kesana’ dan kapan waktunya ‘no trespassing’… he-he-he…”, kata Dartowan dengan nada senang tapi… mulai sedikit bernada mesum.

“Kesana…? Kemana pa?!”, tanya Desrita pura-pura tidak tahu… apa yang dimaksud ayahnya itu.

“Tuhhh…! Benar kan…! Kamu sebenarnya masih lugu sekali… itu tuhh… yang kamu doyan…”, kata Dartowan mulai menjurus…

“Tahulah pa! Biar doyan juga… kan sekarang harusnya ‘no trespassing’ dulu kan? Hi-hi-hi…”.

“Wahhh… pintar juga kamu…”, kata Dartowan yang tanpa sadar masih saja tetap menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

“Sudah-sudah pa… jangan digaruk-garuk terus tuh kepalanya pa…! Entar sudah tu-tuu… to-tos… lagi, hi-hi-hi…”, ujar Desrita mencandai ayahnya yang selalu menganggapnya lugu terus.

“Apa tuh… artinya?”, tanya Dartowan memang tidak mengerti.

“Artinya… papaku sayang… sudah tuek… plontos lagi! Hi-hi-hi…”, kata Desrita masih saja mencandai ayahnya.

“Wahh… kamu makin lama… semakin pintar saja…”, kata Dartowan mengakui keunggulan puteri kandungnya itu dalam mengolah kata dalam obrolannya.

“Kan sudah disuntik ‘hormon kedewasaan’ sama papa… hi-hi-hi… dari itu jangan ngatain lugu terus dooong… Percaya deh, Rita sudah dewasa dalam berpikir… OK papaku sayang…?”, kata Desrita seakan meminta pengakuan dari kedewasaan dirinya pada ayahnya.

“Yaaa… terserah kamu deh… apa maumu…”, kata Dartowan akhirnya menanggapi pasrah perkataan puteri kandungnya itu.

“Jangan ngambek dong… pa”, kata Desrita setelah mendengar jawaban yang cuek dari ayahnya.

“Bukan ngambek… sayang, kalau ngambek… yang rugi kan papa sendiri… ha-ha-ha…”, Darowan kembali tertawa sambil berkata yang mulai ‘menjurus’ lagi.

‘Papa salah makan ‘kali nih’, pikir Desrita heran sambil bertanya-tanya dalam hati. “Sejak kapan yaaa… papa mulai genit…?”, tanya Desrita sambil memandang wajah ganteng ayahnya tetapi kenapa malam ini kelihatannya… rada genit?!

“Bukan genit… sayang… masak sih baru mau mengecup bibirmu saja… tidak boleh sih…?”, kata Dartowan pura-pura merengut pada puteri kandungnya itu.

“Oooh… itu…? Ya sudah… tapi ingat ‘no trespassing’, lho!”, kata Desrita sambil memonyongkan bibirnya yang mungil… bukannya sensual tetapi jadi lucu saja kelihatannya.

“Ha-ha-ha… tampangmu jadi lucu ya sekarang…?”, kata Dartowan tertawa geli melihat mimik wajah puteri kandungnya itu, tetapi dia tetap menyosorkan bibirnya dan mengecup lembut bibir monyong itu.

Tangan kanannya menahan kepala Desrita, tetapi tangan kirinya mendarat pada payudara Desrita bagian kanan… meremasnya sesaat kemudian tangan kirinya itu diangkat lagi dan didaratkan pada payudara Desrita yang kiri… meremasnya sebentar lalu memainkan jari-jarinya yang kesat kulitnya itu… pada puting susu puterinya dengan memilin-milinnya. Tersentak geli Desrita merasakan pilinan-pilinan itu, menggeliatkan tubuhnya serta mukanya bersemu merah seketika dan berkata, “Benar kan…! Janji lelaki itu… sulit dipercaya, hi-hi-hi…!”.

Dartowan mengelak tuduhan itu sambil berkata, “Ini kan belum ‘trespassing…’ baru pada ‘luar pagar’-nya saja, lagipula kamu kan masih mengenakan baju piyama meskipun… jari-jari papa merasakan… kamu tidak pakai BH ya…?”.

“Idih…! Papa tumben genit sekali malam ini…”, Desrita menimpali perkataan ayahnya. Kemudian dia berdiri menegakkan tubuhnya bergegas berjalan menuju kamarnya sambil berkata, “Rita mengantuk nih… besok ada ulangan di sekolah, takut bangun kesiangan… selamat malam papaku sayang…” dan menutup pintu kamarnya dari dalam.

***

Tanpa kehadiran isterinya yang minggat itu, hidup Dartowan bersama puterinya dirumah ini terasa lebih susah… tidak ada lagi tempat untuk menyalurkan hasrat seks-nya yang sah. Dia tidak perlu khawatir berhubungan badan dengan Derlina, karena mantan isterinya itu telah memasang IUD (spiral KB) sedangkan Dartowan memang tidak suka memakai kondom untuk ber-ML. Seseorang yang bisa mendampingi sekaligus mengawasi kegiatan puteri mereka sehari-hari sementara dia bekerja bersungguh-sungguh diluar rumah… Dia masih tetap mencintai isterinya itu, cinta pertamanya. Masih diingatnya dan takkan terlupakan olehnya, pada malam pengantin, pertama kalinya mereka berhubungan intim… mereka sama-sama kehilangan perjaka dan perawan mereka untuk digantikan dengan semangat bersama mengarungi hidup ini dengan kasih-sayang yang tulus, tetapi apa yang mau dikata… bahtera mereka kandas ditengah jalan…

2 hari yang lalu, Dartowan menelepon interlokal pada ayahnya, Mertowan yang walaupun sudah berumur 66 tahun masih tetap saja segar dengan perawakannya yang gagah. Dia meminta ayahnya untuk dicarikan seorang PRT yang bisa dipercaya untuk mengurus segala pekerjaan dirumahnya, karena ayahnya dianggap oleh Dartowan pintar mencari PRT yang baik. Buktinya PRT pertamanya sampai sekarang masih tetap bekerja pada ayahnya. Masih jelas dalam ingatannya, PRT pertama ayahnya itu bernama bi Nurasih, sejak Dartowan masih kecil selalu memandikan dan mengurus segala kebutuhannya dengan telaten.

Mertowan menjawab dan memberitahu Dartowan supaya menunggu saja dengan sabar, kemungkinan besar bi Nurasih akan datang dengan PRT yang diminta itu… kerumahnya.

***

Sekarang hari Kamis, tadi sore Dartowan sesampainya dari kantor langsung saja pergi mandi, setelah itu melepaskan penat sejenak dengan ‘tidur-tiduran ayam’ ditempat tidur yang biasanya malah jadi tidur beneran.

1 jam kemudian Dartowan terbangun dari tidurnya dan langsung saja pergi keruang tamu dan duduk disana sambil membaca suratkabar yang belum sempat dibacanya sewaktu pagi hari tadi. Dilihatnya jam dinding telah menunjukkan waktu jam 7 malam, menurut perkiraannya seharusnya bi Nurasih sudah datang hari ini. ‘Bagaimana ya rupa PRT ayahnya yang sangat setia itu?’, Dartowan mengira-ngira dalam hati. Bi Nurasih sekarang sudah berumur 54 tahun, saat terakhir pertemuan mereka adalah 3 tahun yang lalu dirumah ayahnya, Mertowan. Kala itu bi Nurasih terlihat masih segar bugar dan heran… masih tetap cantik saja, memang pintar ayahnya memilih PRT. Bi Nurasih juga betah bekerja pada ayahnya, karena beliau memperlakukan pekerjanya itu tidak dengan cara hubungan kerja antara majikan dan pembantunya melainkan dengan perlakuan yang bersifat kekeluargaan.

<Tok-tok-tok…!> terdengar bunyi pintu utama diketok seseorang.

“Permisi… selamat malam pak Darto…!”, rupanya itu suara pak hansip, Urip namanya yang mengetok pintu. Biasa… mungkin ingin menagih iuran sampah dan keamanan.

“Ya-ya…! Tunggu sebentar…”, jawab Dartowan segera mengambil dompetnya dahulu, kemudian dibukanya pintu itu yang langsung disambut dengan dengan sapaan hormat Urip.

“Selamat malam pak Darto… maaf kalau mengganggu…”, sapa Urip dengan tubuh tegak dan menundukkan kepalanya sekilas memberi hormat. “Ini ada keluarga dari luar kota yang datang ingin mencari bapak…”.

“Ohh… aku kira ingin menagih iuran bulanan… mumpung kamu sudah datang, sekalian aku bayar saja deh iuran untuk bulan ini”, kata Dartowan sembari merogoh dari dalam dompetnya dan menyodorkan selembar uang kertas senilai Rp 50 ribu. “Kembaliannya untuk rokok kamu. Nanti kwitansi-nya dimasukkan saja kedalam kotak pos di pagar sana”, kata Dartowan pada Urip yang berpakaian seragam hansip, baju dinasnya.

Dengan hormat dan gembira Urip menerima uang itu. “Terima kasih banyak pak”, kata Urip senang, bagaimana tidak? Iuran bulanan sampah dan keamanan hanya Rp 25 ribu, kembaliannya untuk dia, menurut ukuran Urip, itu suatu jumlah yang lumayan besar.

“Mana Rip…? Keluargaku itu…?”, tanya Dartowan yang celingukan matanya mencari-cari dikeremangan dibawah sorotan buram lampu jalanan didepan rumahnya.

“Itu… dekat pohon yang besar itu, maaf pak… saya teriakin saja dari sini ya”, kata Urip meminta ijin untuk berteriak. “Maaf ibu-ibu…! Silahkan kemari… bu…!”, teriak Urip kepada ibu-ibu disana.

Bi Nurasih dengan mengandeng tangan seorang wanita yang lebih muda tapi sangat mirip sekali dengan wajahnya sendiri dalam versi 20 tahun lebih muda, datang mendekat…

“Ohhh… bibi kiranya…! Malam sekali datangnya…”, seru Dartowan gembira lalu berpaling pada Urip dan berkata, “Benar… Rip, ini keluargaku… terima kasih banyak ya Rip telah mengantarkan mereka kemari”.

“Sama-sama… pak, mohon pamit pak… saya ingin tugas jaga kembali…”, kata Urip berdiri tegak menundukkan kepalanya sekilas… tanda hormat lalu berlalu menuju keluar pagar sembari didalam hatinya bergumam, ‘Seettt dah… cantik banget tuh cewek yang mudaan… pasti dia sepupunya pak Darto… putih mulus… montok lagi… mana tuh bemper… ck-ck-ck… bahenol banget…’.

<Jjdduukkk…!> bunyi benturan jidat Urip dengan tembok penyanggah engsel pintu pagar tempat bertenggernya kotak pos. “Aduhh…!”, sontak Urip berteriak kecil dan langsung spontan mengambil sikap hormat dihadapan tembok itu. Maklum saja tembok itu dicat dengan warna gelap, hijau tua pekat. “Maaf…”, katanya sembari buru-buru menutup pintu pagar lantas berlari-lari kecil menuju pos jaganya.

***

Setelah bi Nurasih membersihkan diri dikamar mandi demikian pula dengan Ningsih, puterinya itu, Dartowan menawarkan makan malam bersama, tetapi ditolak dengan halus oleh bi Nurasih, katanya, “Bibi dan Ningsih telah makan sore menjelang malam tadi, terima kasih Darto”. Memang bi Nurasih selalu memanggil langsung Dartowan tanpa embel-embel sebutan lain didepan namanya. Ini sudah kebiasaan bi Nurasih sejak Dartowan masih kecil dalam momongannya. Dartowan juga senang bi Nurasih tidak merubah kebiasaanya itu, bi Nurasih adalah bagaikan sosok seorang ibu bagi Dartowan yang tidak terlalu mengingat wajah ibu kandungnya sendiri karena tatkala Dartowan berusia 2 tahun, ibu kandungnya meninggal dunia terkena penyakit serius yang sampai sekarang Dartowan tidak tahu penyakit apa itu. Sejak kecil itulah bi Nurasih merawatnya dengan penuh kasih sayang layaknya ibu kandungnya sendiri…

Dartowan dan Desrita makan malam berdua, cepat saja kemudian Desrita kembali kekamarnya untuk belajar lagi untuk mempersiapkan diri guna menghadapi ulangan umum akhir di sekolahnya besok pagi.

Dartowan mendatangi kamar tamu yang pintunya sedikit terbuka, baru saja tangan Dartowan ingin mengetok perlahan pintu itu segera membatalkan niatnya itu, bagaimana tidak… dari celah bukaan pintu itu dia melihat Ningsih yang mengenakan baju daster sedang tidur-tiduran santai diatas tempat tidur sambil menekukkan kedua lututnya keatas, sehingga pinggiran bawah daster itu merosot kebawah memperlihatkan kedua pahanya yang putih mulus tanpa cela sedikitpun… bahkan nyaris memperlihatkan CD-nya. Agar nantinya Ningsih tidak merasa malu ketika pintu itu terbuka lebar, Dartowan berpura-pura membersihkan tenggorokannya dengan cara berdehem pelan.

“Hmmm…!”.

<Tok-tok-tok…>

“Bi… bibi… boleh aku masuk sebentar?”, kata Dartowan perlahan.

“Yaaa… ada apa Darto? Kami berdua belum tidur, masuk saja…”, jawab bi Nurasih.

Dartowan membuka pelan pintu itu, dilihatnya Ningsih telah duduk dipinggir tempat tidur, dasternya sudah dirapikan kembali sembari berpura-pura memperhatikan kuku-kuku jari tangannya yang lentik itu. ‘Kayak anak gadis saja… Ningsih ini…’, komentar Dartowan dalam hati sembari matanya yang ‘lapar’ melihat sekilas seluruh tubuh molek Ningsih walaupun masih terbalut dengan dasternya.

“Maaf dik… aku ‘pinjam’ dulu ya ibunya, habis aku kangen berat nih sama bi Nurasih… sudah lama tidak ketemu… boleh ya dik?”, tanya Dartowan pada Ningsih, tidak lupa dengan sapuan-sapuan liar matanya kesekujur tubuh dan wajah seksi yang tertunduk manis itu.

“Ya… mmmaas…”, jawab singkat Ningsih yang rada ragu memanggil ‘mas’ pada Dartowan.

Terkejut bi Nurasih mendengar kata ‘dik’ dari mulut Dartowan tapi dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya itu dengan bertanya pada Dartowan, “Mau ngomong apa… Darto? Dimana…?”.

Tapi gerak-kejut dari bi Nurasih ketika dia menyebut kata ‘dik’ tidak luput dari perhatian mata Dartowan yang jeli. Dartowan menggapai dan memegang lengan kiri bi Nurasih dengan lembut sembari berkata, “Sebentar saja bi… disana”.

Berdua mereka bergandengan tangan keluar dari kamar tamu itu. Disangka bi Nurasih arah mereka berjalan lurus menuju tempat duduk diruang keluarga yang ada TV-nya, ternyata berbelok kekanan dan… memasuki kamar tidur Dartowan.

Tercekat hati bi Nurasih jadinya, jantungnya mulai berdetak kencang… “Kok disini…?”.

Langsung dipotong cepat oleh Dartowan dengan singkat, “Ya… disini… lebih santai dan aman…”. Seperti meminjam perkataan puterinya, Desrita beberapa malam sebelumnya, didalam kamar ini.

Lalu mereka berdua berdiri dipinggir tempat tidur, diam sejenak.

“Tadi aku tak sempat memeluk bibi… boleh kan bi?”, kata Dartowan tanpa menunggu jawaban langsung melingkarkan tangan kekarnya ke tubuh bi Nurasih sambil mencium pipi kiri dan kanan bi Nurasih.

Bi Nurasih gelagapan tak menyangka akan didekap erat oleh Dartowan, mau tak mau ikut-ikutan melingkarkan tangannya ke tubuh Dartowan yang kekar itu sambil berbisik pelan ke telinga Dartowan, “Kamu kok tidak berubah-ubah ya… dari kecil sampai sekarang… tetap nakal saja… hi-hi-hi…”, kata bi Nurasih sembari tertawa pelan.

“Mau tahu yang lebih nakal dari ini… bi?”, bisik Dartowan ke telinga bi Nurasih.

“Apa itu…?”, tanya bi Nurasih lirih.

“Syaratnya… mata bibi harus merem dulu sebentar…”, kata Dartowan yang memancing keingintahuan bi Nurasih.

Bi Nurasih memejamkan matanya perlahan-lahan, begitu melihat pelupuk-pelupuk mata itu menutup, Dartowan langsung saja menyambar bibir sensual itu dan berusaha meneroboskan lidahnya masuk kedalam mulut bi Nurasih yang langsung gelagapan dan meronta kecil menghindar dari sergapan mulut Dartowan yang tetap saja menyosor. Telapak kanan Dartowan menahan bagian belakang kepala bi Nurasih yang berambut tidak terlalu panjang. Sementara bi Nurasih sibuk dengan rontaan-rontaan kecilnya, Dartowan menarik tangan kirinya dari punggung bi Nurasih dan membawanya pada buahdada sebelah kanan dan meremas-remas buahdada bi Nurasih yang besar, dengan mengingat umurnya yang sudah 54 tahun wajar saja agak sedikit bergayut karena besarnya dan bobot bongkahan dada yang montok itu tapi rasanya tidak terlalu berkurang kekenyalannya dan memang tidak cukup kentara.

Sibuk dengan rontaannya menghindari sergapan mulut Dartowan yang gencar, akhirnya terasa juga remasan-remasan pada buahdadanya yang kanan itu…

“Oooh… kamu…! Bapak sama anak sama saja tingkahnya…!”, desah bi Nurasih tanpa sadar.

Begitu mendengar kata ‘Bapak’ terlontar keluar dari mulut bi Nurasih, Dartowan langsung menghentikan aksinya seketika dan mendorong tubuh bi Nurasih kearah tempat tidur sehingga jatuh terduduk dipinggiran tempat tidur, sedangkan Dartowan dengan sedikit memutarkan tubuhnya juga jatuh terduduk disamping bi Nurasih. Dipegangnya kedua belah telapak tangan bi Nurasih masuk dalam dekapannya. Dipandangi dengan tajam kedua mata bi Nurasih dan berbisik pelan. “Jadi benar kan… Ningsih adalah adikku sendiri?”, tanya Dartowan dengan tajam.

Cepat bi Nurasih membantahnya, “Tidak-tidak… ngaco kamu… Darto, itu tidak benar samasekali… tahu dari mana kamu…?!”.

Dengan lembut Dartowan berkata, “Dengar dari mulut bibi sendiri… yang memberi petunjuk kearah itu. Bi… dari kecil bibi selalu mengajarkan aku untuk tidak berkata bohong… selalu…! Bi… kenapa bibi berbohong padaku sekarang…?”.

“Ayah kamu saja… yang menjadi ayah kandungnya Ningsih saja tidak tahu…’, akhirnya bi Nurasih terpojok dan menyerah… memberitahukan yang dianggap rahasianya berpuluh tahun itu.

“Bi… jangan pernah meremehkan kemampuan ayahku… yang juga menjadi ayah kandungnya Ningsih, tahukah bibi… 2 hari setelah aku menelepon interlokal ayah… Ningsih sudah lepas dari cengkeraman tuan tanah yang yang berbini lebih dari sepuluh wanita-wanita muda dan cantik itu. Tidak dengan kekerasan melainkan dengan perkataannya yang datar dan sopan saja… Ningsih sudah menyandang status cerai talak-3 menjadi janda… janda kembang yang tidak punya keturunan dari bekas suami tuanya itu. Juga kesemua isterinya tidak akan mendapatkan keturunan darinya! Apa bibi tidak melihat siapa yang mengantar Ningsih kerumah ayah untuk menemui bibi, ibu kandungnya sendiri”.

Tertegun bi Nurasih mendengar penjelasan Darto itu, masih segar dalam ingatannya siapa yang mengantarkan Ningsih kepadanya, yaitu 2 orang muda gagah dan tegap serta berambut cepak. Bahkan seakan masih jelas bayangan kejadian itu didepannya sekarang.

‘Lapor…! Target sudah ditemukan tanpa kurang sesuatu apapun… Laporan selesai…!’.

Lalu segera mereka berlalu menghilang cepat dengan kendaraan mobilnya. Cepat datang dan… cepat menghilang… seakan setelah itu seperti tidak pernah terjadi apa-apa di ruangan dimana bi Nurasih dan Ningsih berada saat itu.

Kedua orang muda itu pula yang mengantar dia dan anaknya, Ningsih dengan mobilnya, berhenti dekat gardu sang hansip jaga yang tak terlalu memperhatikan kedatangan mereka, lalu dengan cepat kedua orang itu menghilang dengan kendaraan mobilnya… menghilang bagaikan asap yang sirna tertiup angin kencang…

Terdiam Dartowan dan bi Nurasih dengan lamunan masing-masing.

<Kriinggg…!> <Kriinggg…!> telepon rumah berdering keras, membuyarkan lamunan keduanya yang sedang duduk dipinggir tempat tidur.

“Halo…”, kata Dartowan. Ada jawaban dari ‘seberang sana’…

“Bagaimana… nak, beres kan…?”, kata Mertowan santai pada Dartowan, anaknya itu.

“Terima kasih ayah… just perfect…!”, jawab Dartowan gembira penuh semangat.

“Bukan kata-kata itu yang ingin ayah dengar… nak!”, jawab Metrowan datar.

“Begini… yah, aku minta ijin ‘menahan’ bi Nurasih sampai hari Minggu, aku akan mengantarkan sendiri kerumah ayah.

“Tidak perlu, biar ‘orang-orang’ ayah yang menjemput, dulu mereka yang mengantar”, kata Mertowan tandas. “Jam berapa minta dijemput?”, tanya Mertowan tegas.

“Jam 10 pagi deh… yah”, jawab Dartowan.

“Baik… sebelum jam 10 harap bersiap. Dan… sampaikan ‘salam kakek’ untuk cucu ayah yang cantik, Desrita… tapi jangan ganggu dia malam ini karena dia pasti sedang mempersiapkan diri untuk ulangan umum kenaikan kelasnya”.

“Ayah kok tahu saja ya…?”, kata Dartowan heran.

“Dia cucu ayah, ingat itu… bukan cucu orang lain” <klik…!> sambungan telepon itu sudah diputus Mertowan.

“Jadi… Darto…”, kata bi Nurasih seakan memecah keheningan sesaat tadi. “Bibi kembali dulu ya… kekamar bibi… bibi pikir sebaiknya Ningsih diberitahu juga mengenai hal ini… agar tidak canggung jadinya… berada disini…”.

“Tapi bi… Darto masih kangen berat sama bibi… tidur malam ini ya… bersamaku…”, rengek Dartowan seakan waktu cepat berputar mundur ke waktu dimana Dartowan kecil berusia 9 tahun masih saja minta dikeloni bi Nurasih… untuk tidur malam.

“Darto… Darto… kamu dulu seperti anak manja saja… selalu minta dikeloni… tidak bosan-bosannya…”, kata bi Nurasih tersenyum bernostalgia mengingat kenangan manis ketika bersama Dartowan kecil. “Tapi… kalau sekarang… kan berbeda…”.

Dartowan memotong perkataan bi Nurasih. “Apa bedanya… bi?”.

“Jangan berpura-pura polos… Darto… bibi sudah tua… bibi tahu apa wujud kelonanmu itu sekarang… kamu kelihatannya sange sekali malam ini…”.

Mendengar itu, Dartowan langsung saja memeluk tubuh bi Nurasih dari belakang dan berbisik ke telinga bibinya. “Bibi… sudah tidak mendapat ‘M’ kan…?”.

Dijawab bi Nurasih pelan, “Benar sayang… bibi sudah masuk masa menopause… kenapa pula harus mengatakannya dengan M-M-an segala… tapi… untuk malam ini saja ya… Darto”, jawab bi Nurasih pelan, merasa iba pada Dartowan yang kelihatan menanggung beban berat oleh nafsu birahinya sendiri.

Persetubuhan dengan bi Nurasih berlangsung lancar saja. Dalam keadaan berdua bertelanjang bulat, Dartowan sudah 10 menit mengenjot dengan cepat pinggulnya turun-naik… diatas tubuh telanjang bi Nurasih… tersentak-sentak pompaan penis Dartowan didalam vagina bi Nurasih dan… <croottt…> <crottt…> <crottt…> muncrat dengan deras semprotan-semprotan mani Dartowan didalam vagina bi Nurasih yang masih legit itu. Dengan lunglai tapi puas Dartowan berbisik ke telinga bi Nurasih, “Terima banyak bi… nikmat sekali… bibi sungguh baik sekali padaku…”.

Bi Nurasih tidak langsung menjawabnya, tapi menekan kedua bongkahan pantat Dartowan dengan kedua tangannya, mulai berkata pelan padanya. “Jangan dicopot dulu sayang… nih rasakan…”, sambil menggoyang pinggulnya berputar pelan tapi bertenaga.

Dartowan secara perlahan merasakan penisnya yang masih berada didalam gua nikmat vagina bi Nurasih seakan diemut-emut oleh otot-otot kenyal dalam vagina bi Nurasih… ternyata bi Nurasih mulai melancarkan jurus andalannya yaitu… ’empotan ayam’! Serasa penis Dartowan yang mulai setengah ereksi karena sudah lega menyemprotkan muatannya itu… urung menjadi loyo… malahan seperti balon lembek yang ditiup kembali… menjadi sangat keras dan tegang sekali. Mengetahui bi Nurasih belum mendapatkan orgasme-nya, Dartowan berbisik pelan ke telinga bi Nurasih, “Maafkan aku yang… egois… bi”. Yang langsung dibalas bi Nurasih dengan bisikan juga.

“Huuush… jangan banyak komentar… fokus saja… turuti arahan dari bibi…”.

Ada sekitar 5 menitan bi Nurasih melancarkan ‘jurus’ andalannya, mulai mendesah pelan, “Oooh… nikmatnya… ternyata tidak mengecewakan ukuran penismu ini…”. Sementara itu Dartowan sudah mulai megap-megap keenakan…

“Aaayo… Darto… mulai ngenjot bibimu ini… cepat… bibi mau sampai…”.

Mendengar aba-aba dari bibinya, langsung saja Dartowan menggerakkan pinggulnya turun-naik dengan cepat, diiringi desahan-desahan nikmat dari mulut bi Nurasih…

“Lebih cepat lagi… sayang! Oooh… nikmat sekali… yaaa… teeerus… Darto… aaah…!”.

<Seeert…> <seeert…> <seeert…> yang dilanjutkan dengan… <croottt…> <crottt…> <crottt…>.

“Aahh…”, berdua mendesah berbarengan… yang bersamaan mendapatkan orgasme masing-masing dengan hebat… bi Nurasih untuk pertama kali sedangkan Dartowan untuk yang kedua kalinya… Berhenti sudah gerak ritual klasik ini, keheningan kamar masih diwarnai dengan bunyi nafas-nafas yang terengah-engah…

Tak lama kemudian, Dartowan menggulirkan tubuhnya berbaring rapat disamping tubuh telanjang bi Nurasih yang tergolek lemas… tapi puas kelihatannya.

“Pantas saja… ayah selalu betah bersama bibi…”, kata Dartowan pelan.

Yang langsung dijawab pelan juga oleh bi Nurasih, “Jangan pernah meremehkan kemampuan ayahmu…”.

Langsung saja perkataan bi Nurasih dipotong saja dengan cepat oleh Dartowan, “Hei… itu kata-kataku… bi”.

Yang dijawab bi Nurasih, “Kenapa pula bibi tidak boleh meminjam kata-katamu sendiri? Maksud bibi.. ayahmu… sungguh seorang pencinta yang ulung…”.

“Memangnya penis ayah… besar ya bi?”, tanya Dartowan lagi.

“Hush! Itu rahasia perusahaan… sayang. Pokoknya lebih besar sedikit dari penismu… hanya sedikit saja…”.

Mereka berdua cepat tertidur pulas. Dartowan puas telah menyalurkan tuntas gejolak birahi yang sempat mengganggunya, sedangkan bi Nurasih memang kecapean dari perjalanan siang sampai sore tadi.

***

Sekarang hari Selasa, masih pagi buta. Dartowan sudah duduk di kursi makan tapi menghadap pintu kamar Ningsih, menunggu saat pertama kali Ningsih keluar dari pintu kamarnya itu. Ditangan Dartowan memegang tabung kecil ‘Saliva Fertility Tester’, sesuai petunjuk pemakaian tester itu, pengambilan sedikit air liur dari bagian bawah lidah wanita yang akan diuji tingkat kesuburannya harus dilakukan pada waktu pagi hari sebelum melakukan aktivitas sehari-hari.

Memang Dartowan telah membeberkan segala hal mengenai tester ini pada Ningsih, adik tirinya sebelum dia berangkat tidur tadi malam. Melihat kebingungan pada wajah cantik adik tirinya itu, Dartowan menjelaskan bahwa pengambilan contoh air liur itu untuk melengkapi eksperimen-nya untuk memanfaatkan kegunaan tester itu. Jadi pengambilan air liur contoh itu, harus dilakukan pagi hari pada wanita yang ingin di-test sebelum sempat memakan sesuatu atau menggosok giginya, malahan disarankan sebelum wanita yang bersangkutan belum sempat meminum sesuatu pada pagi hari.

Dartowan melihat lonceng jam yang tergantung rendah pada dinding, waktu menunjukkan pukul 5 kurang 10 menit pagi hari.

<Kriieettzz…> bunyi pintu dibuka dari kamar tidur yang ditatap Dartowan semenjak setengah jam yang lalu. Muncul sosok tubuh molek dari Ningsih yang berparas cantik itu, masih mengenakan daster bermotif bunga-bunga kecil sepintas seperti motifnya batik. Sambil meregangkan kedua tangannya kesamping agak keatas Ningsih menguletkan badannya sambil memutarkan pinggang rampingnya kekanan dan kekiri serta menengadahkan keatas kepalanya yang berambut ikal tidak terlalu panjang hanya sebahunya saja. Ningsih kembali berdiri tegak kembali akan menuju kearah dapur… mendadak menghentikan langkah kakinya ketika melihat Dartowan tengah asyik melihat semua tingkah lakunya barusan. Cepat wajahnya bersemu merah yang justru menambah seksi paras cantik wajahnya itu.

Menunduk tersipu malu, Ningsih spontan berkata pelan. “Kakak… aku…” dia tidak melanjutkan perkataannya. Sempat sebelum menundukkan kepalanya, Ningsih sempat melihat lambaian tangan Dartowan yang meminta dirinya datang mendekat.

Dartowan menggeser kursi didekatnya dan menyuruh Ningsih yang sudah datang mendekat untuk duduk di kursi yang didepan dia duduk.

“Silakan duduk dik…”, kata Dartowan pelan, masih terpesona dengan adegan sensual yang dilihatnya tadi.

“Iiya… kak…”, menimpali kata kakak tirinya yang tampan dalam pandangan mata indahnya itu.

Ningsih tidak lagi memanggil ‘mas’ pada kakak tirinya itu, kata-panggilan itu hanya membawanya pada kenangan buruk yang belum lama berselang dialaminya. Dan Dartowan memakluminya.

“Begini dik… kumpulkan air liur dibawah lidahmu”, kata Dartowan memulai percakapan setelah Ningsih duduk di kursi didepan yang menghadap padanya. “Maaf dik… tolong buka mulutmu”, kata Dartowan dengan lembut pada Ningsih yang pasrah saja kelihatannya. Dengan memakai ‘cotton-bud’ khusus untuk mengambil sedikit air liur itu dan mengoleskannya pada slider kaca tester itu lalu menaruh tabung itu kembali diatas meja makan sambil menunggu air liur itu mengering dengan sendirinya.

Ningsih masih patuh saja duduk berdiam diri, hanya mata indahnya saja melihat semua gerak-gerik tangan-tangan Dartowan. ‘Seperti sedang diperiksa dokter saja…’, terlintas dalam pikiran Ningsih. Diikuti saja semua perintah sang ‘dokter’ Dartowan pada dirinya.

Dengan kedua tangannya yang sudah kosong, Dartowan mengambil kedua tangan Ningsih dan mendekap erat kedua telapak tangan Ningsih yang dibiarkan saja oleh adik tirinya yang masih bersikap patuh layaknya seorang pasien… Dartowan memandang wajah cantik adik tirinya itu dan berkata, “Cantik sekali kamu dik… tanganmu juga mulus dan halus…”.

Ternganga jadinya mulut seksi Ningsih setelah mendengar perkataan Dartowan… kemudian mulai tertawa terkikik-kikik saking gelinya. “Hi-hi-hi… kirain sih… masih dalam proses pemeriksaan… hi-hi-hi…”.

Malah sekarang Dartowan terheran-heran dengan reaksi Ningsih atas kata ‘rayuan’-nya tadi. Setelah melihat wajah cerah Ningsih segera mengerti apa yang sedang terjadi sekarang.

“Ha-ha-ha… semakin cantik saja kamu dik…”, kata Dartowan sambil ikut tertawa paham tapi masih tetap tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini dengan membubuhkan kata-kata ‘rayuan’-nya.

Tertawa lepas sudah kedua kakak-beradik yang telah dipertemukan setelah besar ini, suasana senang dan bahagia menyelimuti keduanya…

Sedangkan yang ‘nun’ disana, lewat pintu kamar yang sedikit dibuka, mata remaja jelita Desrita mengawasi sedari tadi semua gerak-gerik tante barunya yang cantik, Ningsih bersama ayah gantengnya yang dirasakannya mulai genit saja sejak beberapa hari sebelumnya… ikut tersenyum bahagia bersama.

Desrita memulai masa libur panjangnya setelah mengambil rapor hasil akhir ulangan umum kenaikan kelas, nilai yang tercantum dalam rapornya sungguh membanggakan hati ayahnya. Nilai rata-ratanya adalah 9+ langsung menempatkan diri Desrita pada ranking pertama dikelasnya, dia dengan gemilang naik ke kelas 3 SMA.

Desrita merasakan tubuhnya sudah ‘bersih’ dari mens rutin bulanannya. Sesuai dengan apa yang diajarkan dalam pendidikan seks yang diikutinya, 5 hari sebelum hari M dan 5 hari sesudah hari M adalah hari ‘aman’ alias hari ‘tak subur’. Tetapi supaya lebih meyakinkan dirinya, Desrita menetapkan 3 hari sebelum hari M dan 3 hari sesudah hari M. Karena setelah mens membutuhkan waktu kurang lebih 2 hari proses untuk ‘membersihkan’ tubuhnya kembali, maka praktis dalam sebulan dia hanya mempunyai 4 hari yang benar-benar sangat aman untuk… ML. Desrita sudah mempunyai partner khusus untuk itu… siapa lagi kalau bukan dengan… ayah kandungnya sendiri.

Karena untuk 2 pekan kedepan waktu ‘aman’-nya cuma hari ini saja sampai tengah malam nanti, setelah ayahnya pergi kerja, dia berniat menggalang ‘kerjasama’ dengan Ningsih, tante barunya yang cantik itu untuk melampiaskan hasrat seks-nya itu.

Desrita kembali naik ketempat tidurnya dan menyambung lagi tidurnya yang tadi sengaja ditundanya hanya untuk melihat tante barunya bercengkerama dengan ayah kandungnya, meskipun tidak ada adegan hot seperti yang diharapkannya untuk dilihat… tapi dia ikut bersyukur karena ikut merasakan kebahagiaan 2 insan kakak-beradik itu.

<Zzz…> <zzz…> <zzz…> memang kalau kepala Desrita diletakkan diatas bantal… pasti dia segera dengan cepat tertidur pulas. Pada paras wajahnya yang rupawan masih saja tersungging senyum bahagia… semoga remaja manis ini mendapatkan mimpinya yang indah.

***

Sedangkan kedua kakak-beradik, Dartowan dan Ningsih semakin asyik mengobrol duduk dikursi makan. Dartowan melihat lonceng di dinding, sudah 15 menit berlalu sejak air liur Ningsih disaputkan pada slider kaca tester itu. ‘Pasti sudah mengering’, pikir Dartowan.

“Sebentar dik, kayaknya sudah bisa dilihat nih hasilnya”, katanya pada Ningsih yang ikut-ikutan tertarik jadinya, ingin juga mengetahui kondisi kesuburan dirinya. Ningsih mengawasi dengan seksama, melihat tangan Dartowan memegang tabung tester itu dan mulai meneropong pada slider kacanya yang dilapisi saputan tipis air liur Ningsih yang sudah mengering. Sementara jari-jari tangan Dartowan menggeser-geser pelan kekiri dan kekanan pada ring geser penyetel titik-apinya (titik fokus maksimal). Kemudian gerakan geser jari-jarinya berhenti, dengan serius menela’ah hasil gambaran dari kumpulan serat-serat kecil sel-sel estrogen pada slider kaca itu. Lalu Dartowan menarik napas lega. “Bagus dik… hasilnya… sesuai dengan harapan kakak”, nyeletuk senang Dartowan tersenyum sumringah.

‘Apanya… yang bagus…?’, pikir Ningsih tidak bisa menebak arti perkataan Dartowan barusan.

Dartowan menaruh tabung tester itu kembali diatas meja makan, dilihatnya paras Ningsih seakan-akan sedang bertanya-tanya ingin tahu.

“Ohh… maaf dik… terang saja adik tidak tahu… habis belum melihatnya sendiri sih”, sambil mengambil kembali tabung tester itu dan menyodorkan pada Ningsih. “Coba saja dik, lihat sendiri… meneropongnya dari ujung yang ini dik”, kata Dartowan menjelaskan cara meneropong untuk melihat gambaran sel-sel estrogen pada air liur kering itu.

Ningsih memegang dengan hati-hati tabung tester itu, mendekatkan matanya pada pangkal corong tabung lalu bersamaan menengadahkan kepalanya meniru persis apa yang dilakukan Dartowan tadi. Memang sih dia melihat gambaran suatu sekumpulan serat-serat kecil… tapi… tidak ada artinya sama sekali bagi Ningsih… dia tidak tahu apa-apa tentang tabung tester itu… maklum saja dia belum pernah membaca lembaran ‘instruction for use’ dari tester itu. Didalam lembaran itu juga diberi gambar-gambar contoh yang kemungkinan bakal dilihat pada slider kaca yang tersaput air liur mengering itu.

“Kok… nggak jelas ya kak? Aku jadi tidak mengerti…”, kata Ningsih yang memang tidak mengerti samasekali, apalagi harus mengartikan gambaran yang dilihatnya tadi.

“Ohhh… itu, habis lampunya jauh sih… diatas plafon”, kata Dartowan sambil menunjuk lampu neon yang menempel di plafon. “Begini dik… biar jelas… dilihat dekat lampu meja… ada dikamar kakak…”, kata Dartowan menggamit tangan kiri Ningsih dan dengan bergandengan tangan mereka berjalan menuju kekamar Dartowan. Ningsih sih nunut saja… habis tangan kanannya masih memegang tabung tester itu dengan ekstra hati-hati…

***

Sayup sampai terdengar dentangan lonceng sebanyak 6 kali yang ‘mampir’ ke telinga Desrita yang mulai mendusin, mulai membukakan mata lebar-lebar… terjaga sambil rebahan dulu sebentar. Lalu dengan cepat melompat turun dari tempat tidur, sangat tergesa-gesa rupanya… maklum saja ada ‘misi’ yang harus segera dia laksanakan. Merapikan sebentar pakaian piyamanya, juga menyisir rambutnya… ala kadar saja, segera Desrita membuka pintu… langsung tergesa-gesa mencari Ningsih, tante barunya yang cantik itu. Tetapi tidak seorang pun yang dapat dilihatnya… kemana semua orang gerangan? Desrita melongok dari jauh kearah dapur yang tak berpintu… tidak ada siapa-siapa disana… Dia pergi ke halaman belakang melihat-lihat, dia juga menengok kekanan kearah kolam ikan… tidak ada siapa-siapa… Kemana gerangan tante cantiknya itu? Waaah… jangan-jangan diajak ke kantor oleh ayahnya… maklum saja ayahnya lagi sedang genit-genitnya…

Desrita menjatuhkan pantatnya pada kursi makan yang dekat dengannya. Baru saja dia ingin bertelekan kedua sikut tangannya diatas daun meja makan, dia melihat 2 kursi makan yang didepannya sana masih pada posisi yang berhadap-hadapan… langsung saja muncul senyuman gembira menghiasi bibir mungilnya yang sensual. “Hi-hi-hi… ketahuan deh sekarang… papa benar-benar semakin ‘parah’ saja genitnya itu… pasti papa bolos kerja hari ini hi-hi-hi…”, Desrita tertawa geli sendirian. Segera Desrita berdiri lagi dan… dengan yakin dan gembira, dia melangkahkan kakinya dengan mantap menuju… kekamar tidur ayahnya.

Dengan hati-hati Desrita memegang gagang pintu kamar tidur Dartowan, ayah genitnya itu, mendorongnya pelan… pintu itu terbuka sedikit… Diintipnya kearah tempat ridur yang ada didalam kamar tidur itu… dua tubuh yang sudah telanjang bulat… tubuh telanjang ayahnya baru saja ingin naik keatas… mulai menindih tubuh telanjang yang seksi tante Ningsih yang kelihatan pasrah saja atas perlakuan kakak tirinya itu…

Desrita segera melucuti pakaiannya sendiri sampai ikut-ikutan telanjang bulat dengan para tubuh telanjang… dikamar tidur… didalam sana. Menaruh semua potongan pakaiannya disamping pintu masuk kamar diatas lantai yang bersih. Sungguh cantik sekali tubuh remaja ini, tubuhnya yang semampai, dadanya yang putih mulus dihiasi sepasang buahdada indah berukuran cukup besar 34B… mulus montok… menantang kaku kedepan… tidak ada sedikitpun gayutan kebawah dari payudara semok itu… pinggangnya yang ramping, pinggul mulus yang mulai sedikit melebar kesamping serta paha dan betisnya yang seksi… sungguh sempurna sekali… untuk ukuran tubuh remaja sebayanya.

Desrita tidak perlu terburu-buru, dibiarkannya ayah tersayangnya dengan tante barunya yang cantik itu… berasyik-masyuk memadu kasih dan nafsu… Dia akan menunggu gilirannya dengan sabar… sungguh bijak sekali remaja jelita ini dalam menanggapi situasi yang sedang dihadapinya. ‘Takkan lari papa… dikejar’, kata remaja ini yakin dalam hatinya.

Desrita mulai meliuk-liukkan tubuhnya kekiri dan kekanan sedang melakukan sedikit gerakan senam pagi, ‘warming-up’ guna menghadapi ‘pertarungan seks’-nya dengan ‘rival’-nya sang ayah kandungnya nanti… Dilakukannya gerakan-gerakannya itu berkali-kali sembari… sebentar-sebentar berhenti untuk memantau ‘pertandingan seks’ yang sedang berlangsung didalam kamar tidur ayahnya itu. Semua kasak-kusuk dan serta suara segala desahan dari dalam kamar itu biarpun pelan masih tetap dapat didengar Desrita, karena pintu kamar itu sudah terbuka sedikit.

“Ahhh… nikmatnya memekmu ini sayang…”, terdengar suara Dartowan yang masih mantap dan stabil suaranya.

“Oooh… pelan-pelan… kak… punya kakak… kok… besar sekali… itu… ‘kepala’-nya ya…?”, desah Ningsih mulai terdengar ter-engah-engah.

“Tapi… sedap kan rasanya…?”, kata Dartowan masih tetap dengan rajin mengayunkan pinggul kekarnya turun-naik diatas tubuh ‘bidadari’ telanjang itu…

“Bukan… sedap… kak… tapi… niiikmat… seeekali…! Oooh… aaaku… sudah… tak tahan… aaah…!”, desah Ningsih yang lirih.

Terkesiap hati Dartowan mendengar desahan lirih adik tirinya itu. ‘Wahhh… bisa ketinggalan kereta nih… aku!’. Dartowan merasakan otot-otot dalam memek Ningsih mulai mencengkeram kuat batang penisnya, dia menginginkan mereka berdua mencapai puncak kenikmatan orgasme secara bersama-sama… segera saja Dartowan ‘tancap gas’… dengan semakin cepat mengayun-ayunkan bokongnya turun-naik…

“Teeerus… kak… lebih… cepat laaagi… aaah…!”, desah Ningsih semakin santer tapi terpatah-patah…

Dartowan semakin mempercepat gerakan bokongnya turun-naik… tak ada lagi waktu untuk bertutur kata… kecepatannya melebihi kecepatan yang semestinya…

“Aaah… aaaku… saaampai… kak! Aaah…” <seeert…> <seeert…> <seeert…> cairan nikmat memek Ningsih menyemprot deras… mengguyur seantero batang panjang penis Dartowan… seumur hidupnya Ningsih baru kali ini dia merasakan kenikmatan dari orgasme yang sesungguhnya…

Desahan puncak Ningsih ini langsung disambut Dartowan dengan… <croottt…> <crottt…> <croottt…> <crottt…> semprotan sperma Dartowan bertubi-tubi menerobos deras masuk kedalam rahim Ningsih… sel telur yang berada disana… sudah bersiap menyambutnya… terjadilah pembuahan yang sangat sempurna pada momen yang sangat… sangat tepat! Diluar perkiraan Dartowan yang terlalu PD menafsirkan gambaran sel-sel estrogen pada slider kaca tabung tester tadi. Yang tidak diduga samasekali oleh Dartowan adalah… pada saat pengambilan air liur Ningsih tadi pagi… adalah awal detik-detik tubuh Ningsih memasuki tahap masa kesuburannya. Karena kadar sel-sel estrogen dalam liur Ningsih… tidaklah serta-merta langsung tinggi tetapi secara bertahap bertambah banyak… meskipun juga dalam waktu tidak terlalu lama.
Seandainya saja Dartowan mengambil air liur Ningsih 1 jam kemudian… tentu Dartowan tidak akan terlalu genit pada adik tirinya yang cantik itu…

Desrita menyaksikan persenggamaan itu yang berakhir dengan sangat indahnya… jari-jari lentiknya masih saja mengusap-usap lembut clitorisnya yang sensitif… tapi dia menjaga agar jangan sampai mencapai orgasme dengan cara masturbasi itu tetapi dia hanya ingin melicinkan saja jalan menuju masuk gua nikmat vaginanya bagi penis ayah tersayangnya untuk melewati itu nanti…

Dengan santai Desrita membuka pintu dan melangkah masuk kedalam kamar tidur ayahnya, membalikkan badannya dan… <klik!> mengunci pintu dari dalam kamar.

Kedua insan telanjang kakak-beradik, keduanya sudah rebah terlentang bersisian rapat… hanya terkesiap pasrah saja melihat tubuh telanjang Desrita yang indah mempesona mendekati mereka perlahan lalu naik keatas pembaringan itu.

Ningsih yang melihatnya berkata lirih, “Maafkan… tante sayangku…”. Yang langsung dijawab Desrita…

“Jangan minta maaf tante… aku melihatnya lama dari awal tadi… sungguh… aku berbahagia bersamamu tante… ayo kita hadapi papaku ini bersama-sama…”.

Dartowan yang menyaksikan kedua perempuan cantik berbeda usia itu didepannya, menjawab santai ‘tantangan’ puteri kandungnya itu. “Siapa… takut?”, sambil meregangkan kaki-kakinya lebih lebih lebar lagi.

Desrita sambil merangkak telanjang mendekati wajah ganteng ayahnya… dikecupnya lembut bibir macho ayahnya itu. Lain halnya dengan Dartowan, begitu bibir mungil puterinya menempel langsung saja meneroboskan lidah kesatnya kedalam mulut puterinya… terjadilah French kissing yang seru antara ayah dan puteri kandungnya itu… Belum juga sampai 3 menit, Desrita sudah gelagapan sulit bernafas, jari lentik tangan kirinya dengan cepat mampir ke perut ayahnya… langsung mencubitnya agak keras…

“Aduhhh… kok papa dicubit sih…?”, protes Dartowan kaget merasakah lumayan sakitnya cubitan itu, selesai sudah French kiss yang brutal itu yang menyesakkan napas Desrita.

Ningsih yang sedari awal tadi mengikuti jalannya ‘pergumulan’ itu dengan seksama, mendadak tertawa menyaksikannya. “Hi-hi-hi…!” sambil berkomentar dalam hatinya, ‘Cerdik juga kamu Des… mengatasi kebrutalan papamu…’.

Desrita yang bebas dari cengkeraman French kiss yang ‘galak’ dari sang ayah… sekarang dapat bernapas lega lagi…

“Nih… lihat saja dulu pa…”, ujar Desrita sambil mendekati penis ayahnya yang belum tegang sempurna.

Melihat gelagatnya yang agak mencurigakan dari puterinya itu langsung saja Dartowan berteriak kecil dengan ngeri… “Hei… jangan digigit punya papa…! Ampun deh sayang…”.

“Hi-hi-hi…!”, terdengar tawa nyaring dari Ningsih yang terus menyaksikan.

“Tenang saja pa… aku ingin ‘mengobrol’ sebentar dengan dengan ‘teman’-ku ini…”, kata Desrita dengan santai sambil memegang dan mengelus-elus penis ayah kandungnya itu, lidahnya dijulurkan keluar menjilat kepala penis ayahnya yang mengkilat karena masih basah dari ML dengan tantenya tadi. Langsung memasukkan seluruh kepala penis yang besar itu kedalam mulut mungilnya, mulailah Desrita melakukan BJ pada ayah tersayangnya itu…

Tidak membutuhkan waktu lama untuk penis Dartowan menjadi tegang sempurna. Tak tahan sudah Dartowan mengalami kenikmatan ini langsung menarik keatas tubuh mungil Desrita menindih tubuhnya. Sedang Desrita segera melindungi mulut mungilnya dengan kedua telapak tangannya… takut di-French kiss oleh mulut ayahnya yang ‘galak’.

Penis panjang Dartowan menyundul-nyundul perut bagian bawah puterinya, dengan perlahan dan lembut Dartowan menelentangkan tubuh puterinya yang langsung saja paha dan kaki Desrita berposisi mengangkang lebar dan… Dartowan mulai menindih tubuh mungil yang telanjang itu. Desrita menyambutnya dengan langsung mengenggam penis besar yang tegang itu dan mengarahkan palkonnya menempel dimuka jalan masuk gua nikmat vagina mungilnya.
<Blesss…> masuk sudah palkon besar itu kedalam jepitan otot-otot kuat dalam vagina mungilnya. Mulai persetubuhan incest itu berlangsung… antara sang ayah dengan puteri kandungnya sendiri.

Sedang Ningsih yang menyaksikan semuanya itu, sudah tidak malu-malu lagi mengusap-usap clitorisnya sendiri sambil pandangan matanya tetap terpaku pada adegan penuh nafsu didepannya…

Pinggul kekar sang ayah mulai menggenjot turun-naik… sedang yang lagi dienjot menggoyang-goyangkan pinggul mulusnya dengan gerakan memutar-mutar secara perlahan.

Dartowan merasakan nikmatnya menyetubuhi puteri kandungnya ini, sungguh kagum dia akan reaksi gerak erotis Desrita dalam ber-ML dengannya. Sementara tangan-tangan Desrita memeluk erat tubuh kekar sang ayah… Tak tahan sudah Dartowan merasakan kenikmatan ini… langsung saja mempercepat enjotannya pada tubuh telanjang remaja jelita puterinya ini.

“Oooh… papaku sayang… teeerus pa… lebih ceeepat laaagi…! Aku dikit lagi mau saaampai nih… aaah… nikmatnya…”, desah Desrita merasakan nikmatnya karena vagina mungilnya dirojok dengan sangat cepat oleh palkon ayahnya, tak tahan sudah… “Aaah… papa… aaah…!” <Seeert…> <seeert…> <seeert…> cairan nikmat dari dalam vagina Desrita menyemprot deras membasahi batang panjang penis tegang Dartowan yang makin melicinkan dan memuluskan gerakan keluar-masuk palkon besarnya tidak perlu lama menunggu… <croottt…> <crottt…> <croottt…> <crottt…> air mani Dartowan menyemprot sangat kencang didalam vagina mungil puterinya… mengisi penuh setiap relung dalam gua nikmat vagina mungil itu…

Tidak lama berselang… terlihat 3 tubuh telanjang bulat terkapar telentang dengan masing-masing wajah mereka yang cerah merasa puas…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*