Home » Cerita Seks Ayah Anak » Satu Hilang Satu Datang 1

Satu Hilang Satu Datang 1

Terseok-seok Dartowan melangkahkan kakinya sambil memegang sebilah tongkat kayu ditangan kirinya, kaki kirinya dibalut kain perban yang tebal. 2 hari yang lalu tanpa sengaja, kaki kirinya memijak pecahan beling dihalaman belakang rumahnya. ‘Coba mata kaki-ku dapat melihat… takkan sampai mengalami naas itu…’, pikir Dartowan sambil tersenyum nyeri.

Dartowan, seorang pria paruh baya berumur 45 tahun, sudah 2 tahun menduda sejak ditinggalkan oleh isterinya yang lari ke pelukan seorang lelaki tua berumur 55 tahun, hartawan yang doyan kawin… Entah dijadikan isteri ke-berapa oleh si ‘bandot tua’ itu.

Sewaktu berumur 28 tahun, Dartowan adalah seorang pria lajang yang ganteng, macho, sudah bekerja dengan kedudukan yang cukup baik serta sudah memiliki rumah yang masih ditempatinya sampai sekarang. Bingung mencari pasangan hidupnya, dari beberapa gadis muda yang mudah didekatinya, akhirnya pilihannya tertuju pada seorang gadis 19 tahun, cantik rupawan berbadan sekal, seksi menawan. Derlina nama gadis yang ‘beruntung’ itu. Mereka cepat menikah dan cepat pula mempunyai momongan seorang bayi perempuan yang manis dan mungil, Desrita namanya…

Lamunannya cepat kembali ke masa sekarang. Dartowan mendiami rumahnya dengan anak gadisnya, Desrita yang sekarang telah menjadi dara ‘sweet seventeen’, jelita dan lincah. ‘Cantik seperti ibunya, mudah-mudahan tidak mewarisi sifat ibunya yang doyan foya-foya dan kesenangan semata…’, Dartowan berharap dalam hati.

***

1 minggu telah berlalu, sekarang hari Jum’at, Dartowan sudah sembuh kakinya dan kembali bekerja seperti sediakala sebagai kepala bagian pemasaran dari sebuah perusahaan pabrikan penghasil cat rumah dan cat untuk kendaraan.

Jam dinding diruang kerjanya telah menunjukkan pukul 4 sore, Dartowan sibuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini yang hampir rampung.

<Kriingg…> <kriinggg…> telepon diatas meja kerjanya berdering, sigap Darto mengangkat gagang telepon itu. “Halo… ada yang bisa…”, perkataannya telah dipotong oleh suara lincah seorang dara remaja.

“Halo pa… ini aku… Rita”.

“Ada apa Des…?”, tanya Dartowan. Ternyata puterinya, Desrita meneleponnya.

“Jemput aku disekolah ya pa…? Sebenarnya Rita ada yang mau diomongin… tapi nanti saja… deh. Papa tidak lembur kerja kan? Bisa ya pa… jemput aku…”, kata Desrita pada ayahnya. Dia baru saja selesai mengikuti kegiatan extra kurikuler di sekolahnya.

“Baik sayang… papa akan segera kesana… bye”, kata Dartowan mengakhiri pembicaraannya dengan puterinya dan langsung menaruh kembali gagang telepon itu pada tempatnya.

Desrita yang sedang berada didepan pintu gerbang sekolahnya, menaruh kembali HP-nya kedalam tas sekolah yang disandang dibahunya.

Teman ceweknya sesama kelas 2 SMA yang berdiri agak jauh darinya, sama-sama menunggu jemputan, berkata, “Keren… gerak cepat nih ya… daripada si doi keburu disambar cewek lain, hi-hi-hi…”.

Desrita menjawabnya sambil lalu, “Kok tahu nek… udah pengalaman nih rupanya, ajarin dong…”.

Tak lama menunggu, Dartowan datang dengan mengendarai sedannya mendekati Desrita yang sedang berdiri menunggunya. Memang jarak kantornya dengan sekolah puterinya tidak begitu jauh, hanya 4 km-an saja.

Desrita datang mendekati mobil ayahnya dengan menaruh tangan kanannya didepan dadanya sambil telunjuknya membengkok bergoyang-goyang memberi kode pada ayahnya supaya mendekat pada jendela pintu kiri depan yang terbuka. Dartowan mendoyongkan tubuhnya kekiri dan melongokkan muka keluar sedikit dari jendela itu, dengan cepat Desrita mendekatkan bibirnya pada bibir ayahnya yang masih terheran-heran. Hanya sekilas ciuman dari bibir ke bibir itu berlangsung tapi itu sudah cukup bagi Desrita yang segera membuka pintu mobil itu lalu segera masuk dan duduk diatas tempat duduk yang empuk dalam mobil.

“Hi-hi-hi… biar tahu rasa dia…”, katanya pelan ditujukan pada temannya yang masih berdiri diluar.

‘Gila…! Cantik-cantik kok mainannya sama oom-oom…!’, terperanjat dalam hati, temannya melongo menyaksikan adegan ciuman itu berlangsung.

Dartowan telah melajukan mobilnya, pandangannya fokus kedepan jalan yang dilalui mobilnya. Tanpa menoleh, Dartowan bertanya pada puterinya, “Untuk apa ciuman tadi, Des?”.

Desrita menjawab dengan gembira, “Hi-hi-hi… maaf pa… itu tontonan gratis untuk temanku yang tadi berdiri dekat kita itu lho… habis usilan banget sih dia… hi-hi-hi…”.

Dartowan hanya mengangkat sedikit kedua bahunya. ‘Dasar… anak-anak muda jaman sekarang…’, komentarnya dalam hati.

Mereka mampir sebentar umtuk membeli makanan di sederetan toko yang menjual pelbagai makanan cepat saji untuk dibawa pulang. Dartowan memesan 2 paket kotak makanan, setiap paket dalam kotaknya berisi nasi hangat secetakan mangkuk besarnya dan 1 bh potongan besar dada mentok ayam broiler yang digoreng garing kulitnya plus bonus 1 gelas kertas berisi penuh minuman ringan CC dingin per kotak paketnya. Tidak lupa pula, 2 paket besar pizza ikut dibeli.

Dartowan kembali ke mobil dan memberikan gelas kertas yang berisi penuh minuman ringan dingin itu pada Desrita yang dengan senang hati menerimanya dan langsung mendekatkan mulutnya pada bibir gelas kertas itu lalu meminum isinya dengan perlahan. Makanan lainnya ditaruh diatas jok belakang tempat duduk dalam mobil itu.

***

Jam dinding telah menunjukkan pukul 7 malam. Dartowan duduk santai diatas sofa didepan TV dan disamping anaknya, Desrita, yang ikut-ikutan nonton bareng tayangan berita malam di TV. Setelah selesai tayangan berita malam itu, Dartowan mematikan TV dengan menggunakan remote control.

“Tadi siang… seingat papa, kamu ingin menceritakan sesuatu… apa itu Des?”, tanya Dartowan pada anaknya.

“Ii-iya… benar pa… Rita hanya menunggu waktu yang tepat saja…”, jawab Desrita.

“Memangnya sekarang kurang tepat… apa?”, tanya Dartowan yang mulai tertarik… ‘Apa itu… gerangan? Top secret rupanya’.

“Waktunya sih sudah tepat… tempatnya kurang… kurang apa… ya…? Oh ya benar… kurang aman!”, kata Desrita menjawab asal saja, rupanya dia menginginkan tempat khusus untuk menyampaikan hal-ikhwal yang ada didalam benaknya itu.

“Kan cuma ada kita berdua…”, kata Dartowan heran. Belum tuntas perkataannya sudah langsung diselak oleh anaknya.

“Takut didengar…”, belum Desrita habis berbicara, justru sekarang Dartowan balas memotong perkataan anaknya.

“Oleh siapa? Sayang…”, tanya Dartowan bertambah heran.

“Itu tuuuh…!”, jawab Desrita pendek saja sambil jari telunjuk kanannya yang lentik dan mungil itu menunjuk tertuju pada TV set yang berada didepan mereka.

“Ha-ha-ha… kamu Des ada-ada saja… TV memang bisa ‘berbicara’ tapi tidak dapat mendengar…”, tawa Dartowan langsung meledak.
“Ya sudah… tunjukkan pada papa tempat yang kamu anggap paling aman… menurutmu”.

Segera Desrita bangun dari duduknya langsung menarik tangan kekar ayahnya. Dartowan jadi ikut-ikutan berdiri, tangannya digamit oleh tangan anaknya, Desrita yang menuntunnya menuju kamar tidur ayahnya. Sampai didalam kamar, Desrita membalikkan badannya dan langsung mengunci pintu kamar tidur itu dari dalam. “Nah… aman deh!”, kata Desrita ceria sambil mendekati tempat tidur ayahnya dan langsung melompat keatas kasur yang yang berpegas, duduk bersila ditengah-tengah. “Ayo… kesini dong… pa”, kata Desrita meminta ayah mengikuti tindakannya. Jadilah sang ayah ikut duduk bersila didepan anaknya saling berhadap-hadapan.

“Pertama-tama… papa harus berjanji dulu…”, kata Desrita berlagak dewasa memulai percakapan dengan Dartowan, ayahnya.

“Apa itu…?”, tanya Dartowan singkat.

“Ayah tidak boleh kesal, marah atau… kecewa”, kata Desrita bergaya wanita dewasa. Dartowan hanya tersenyum geli melihat gaya anaknya yang dianggapnya lucu.

“OK papa berjanji tapi teruskan…”, kata Dartowan tersenyum renyah.

***

Inilah cerita selengkapnya seperti apa yang dituturkan Desrita pada ayahnya, Dartowan…

Pagi itu adalah hari Jum’at, matahari bersinar lembut karena panasnya sebagian telah terbawa oleh semilir angin yang berhembus terus-menerus.

Desrita telah pula berpamitan pada mamanya untuk pergi kesekolah. Sang mama, Derlina hanya menjawabnya dengan goyangan telapak tangan kirinya yang dibuka karena dia tengah sibuk berteleponan ria dengan seseorang. Maklum saja, itulah kebiasaan Derlina setiap paginya tatkala suaminya bertugas keluar kota, kali ini untuk 3 hari berdinas, dia belum pula mandi apalagi berdandan, hanya mengenakan gaun tidur yang tipis tanpa memakai pakaian dalam.

Desrita telah membuka pintu depan rumah, dia berhenti sejenak lalu dia menutup lagi pintu itu, tidak jadi melangkah keluar rumah… tapi balik kembali kedalam kamar tidurnya sendiri dan menguncinya dari dalam. Entah kenapa, hatinya merasa risau sekali pagi ini, hari pertama dia menginjak umur 15 tahun. Tiada seorangpun yang ingat akan hari ulangtahunnya, usia yang sangat labil untuk gadis yang baru menginjak remaja pada usianya yang ke-15 ini. Peristiwa jelek yang dialaminya hari ini akan menorehkan luka kecil didalam hatinya, kelak apa yang dialaminya hari ini tak akan pernah dilupakan seumur hidupnya!

<Drzzz…> <drzzz…> <drzzz…>

Bunyi RBT getar dari HP-nya berbunyi pelan lalu diangkat dan didekapkan ke kupingnya.

“Rita…! Rita… lokasi lo ada dimana sekarang?”, terdengar jelas kata-kata si Anna, teman sebangku didalam kelasnya itu.

“Aku masih berada dirumah An, ada gossip apa nih…?”, sahut Desrita.

“Bukan gossip! Payah lo… OK deh gue ijinin lo libur hari ini tapi hari Senin masuk sekolah lagi ya… jangan lupa!”, demikian kata-kata Anna yang lagak lagunya seperti guru pembimbing mereka. Memang di sekolah mereka hari Sabtu termasuk hari libur tetapi akibatnya setiap harinya jam pelajaran bertambah 1 jam lebih lama.

“Kuasa apa kamu ngajakin aku susah…?!”, balas Desrita lagi.

Anna buru-buru menjawab, “Bukan begitu neng… para dewa-dewi guru lagi rapat mendadak…! Kecuali kalau lo memang diundang… tapi kayaknya… lo nggak ada tampang deh…! Hi-hi-hi…”.

“Ooh… begitu? Trims sebakul deh… kamu memang temanku yang cantik… manis dan…” yang langsung ditimpali Anna dengan…

“Udah-udah… trim’s balik… iiih… lesbai deh…!”, Anna langsung memutuskan percakapan lewat cellular itu.

Terdiam sejenak Desrita duduk ditepi tempat tidur, wajahnya yang manis kembali bersemu lesu dan sedih. Tidak seorangpun dari teman-temannya mengetahui tanggal lahir, baik cewek dan cowok. Memang itu lebih baik menurut pertimbangannya, tubuhnya yang lebih tinggi, lebih berisi dan lebih semok dari teman-teman ceweknya. Teman-temannya menganggap dia berumur 2 tahun lebih tua dari sebenarnya, dia adalah primadona di kelasnya dan tidak ada seorangpun yang dengki padanya karena mereka menganggap Desrita lebih tua jadi pantas dan wajar saja kalau tubuh Desrita lebih berisi.

<Drzzz…> <drzzz…> <drzzz…>

Kembali HP-nya bersuara getar kembali. ‘Ooh… siapa lagi sih… mungkin rapat guru dibatalkan…”, Desrita berpikir ngawur sambil mengambil dan mendekapkan kembali HP itu ke telinganya.

“Haloo… Des, selamat ulang tahun ya sayang… muuu…ahh…!”, Dartowan menelpon puterinya sembari menirukan suara kecupan di pipi.

Terlonjak gembira Desrita mendengarkan suara ayahnya itu, rasa bahagianya seketika menghapus noda kesedihan dari wajahnya yang manis, rona kecantikan seorang gadis remaja menghiasi wajahnya kembali… ceria seperti sediakala.

“Terima kasih pa…! Papa mau berbicara dengan mama ya? Tapi mama lagi sibuk berat tuh… berbicara di telepon… mungkin sudah hampir sejam atau lebih…”, Desrita memberitahu ayahnya.

“Tidak apa… sayang… sampai sore pun tidak jadi masaalah… hari ini papa hanya mau ngomong sama kamu, puteri kesayangan papa… yang lagi berulang tahun hari ini… papa memutuskan dinas kerja di kota tempat papa berada sekarang ini dari 3 hari menjadi 2 hari saja, jadi besok malam papa sudah kembali kerumah. Dan… Des… tidak perlu memberitahukannya pada mamamu… ini urusan kita berdua…”, kata Dartowan yang ikut merasa bahagia berbicara dengan puterinya yang hari ini sedang berulang tahun. “Des… halo Des”, Dartowan memanggil-manggil Desrita lewat teleponnya.

“Ii-yaa pa… Rita… ma-sih disini…”, jawab Desrita masih sesegukan karena habis menangis bahagia.

“Hei… kamu habis menangis ya? Jangan sedih dong… nanti papa jadi ikut-ikutan sedih nih…”.

“Tidak-tidak… Rita tidak menangis kok… orang lagi senang juga… mendengarkan suara papa…”, Desrita buru-buru mengelak pertanyaan ayahnya.

“Ohhh… begitu ya…? Des… coba dengarkan papa… sekali lagi… selamat ulang tahun yang ke-15 sayang… kado ulang tahunmu sudah papa siapkan seminggu yang lalu. Coba lihat didalam lemari kecil bawah pada meja riasmu… papa telah menaruhnya didalam sana… pada bagian atasnya… direkatkan dengan lak-ban… papa harap kau berkenan menerimanya… kalau ada lagi yang kamu perlukan lagi… tunggu papa sampai dirumah ya sayang… bye… happy birthday honey…!”. Dartowan memutuskan hubungan teleponnya dengan Desrita, puteri remajanya.

Duduk termangu Desrita memikirkan percakapan dengan ayahnya tercinta… yang selalu memperhatikan semua kebutuhannya… tidak seperti ibunya yang sibuk dengan dirinya sendiri. Masak sih hari kelahiran puteri semata wayangnya bisa terlewatkan begitu saja terhapus oleh kegiatannya… mungkin ini gara-gara yang dimaksudkan puber ke-2 dalam obrolan orang-orang lebih dewasa yang tak sengaja terdengar olehnya. Desrita bertekad tidak ingin mengganggu kesibukan ibunya dengan mengingatkan beliau tentang hari ulang tahunnya itu.

‘Happy birthday honey…’, masih saja terngiang-ngiang kata-kata itu di telinganya. ‘Kado…? Apa kado? Ooh… didalam lemari kecil bagian bawah meja riasnya? Kok bisa-bisanya ya, papa punya kejutan semacam itu untukku…’. Segera dia mengambil senter dan duduk diatas karpet kamarnya didepan lemari kecil yang dimaksudkan ayahnya tadi. Dibukanya pintu lemari itu, Desrita membungkukkan badannya dan melongok kedalam lemari kecil. Bersentak hatinya seketika… melihat pada bagian atas dalam lemari… memang ada dua kotak kecil berwarna pink muda dan didekat kotak-kotak kecil itu juga direkatkan selembar amplop berukuran sedang… juga berwarna pink muda. ‘Romantis sekali rupanya papaku ini’, tersenyum riang Desrita menggapaikan tangannya pada kotak-kotak kecil itu, jari-jari lentiknya langsung memegang dan menaruhnya diatas karpet didepannya dulu. Kemudian dengan hati-hati dia melepaskan amplop pink muda itu, dengan cepat amplop itu sudah berada dalam tangannya.

Indah sekali gaya tulisan yang tertera diatas kertas amplop itu, pasti ayahnya memakai jasa seniman tulis untuk itu. Kalimatnya sih sederhana saja tapi penuh makna bagi remaja muda yang baru menginjak usia 15 tahun itu:

SELAMAT ULANG TAHUN KE-15 DESRITA

DARI PAPA & MAMA

Desrita paham ibunya pasti tidak mengetahuinya, hanya ayahnya saja yang berinisiatif mencantum kata ‘mama’ pada amplop itu.

Dilihatnya isi amplop itu, ternyata sepuluh lembar uang kertas yang masih kaku dari pecahan seratus ribuan. Senang juga Desrita memegang uang itu… tapi untuk apa? Desrita tidak mau berpikir terlalu lama untuk uang sejuta rupiah itu, lebih baik nanti dimasukkan kedalam buku tabungannya saja dahulu.

Kini perhatiannya beralih pada kedua kotak kecil yang berwarna pink muda itu, tersenyum dia melihatnya. Seperti lagi merayakan hari kasih sayang (Valentine’s Day) saja layaknya. Dari kedua kotak itu dipilihnya kotak yang berukuran agak besaran sedikit. Dia tidak mau mengguncang-guncangkan kotak itu seperti pernah dia lihat ketika salah satu teman pernah mendapatkan hadiah dalam bentuk kotak. Dengan hati-hati dia membuka kotak itu… terkesiap hatinya ketika melihat benda didalam kotak yang baru dibukanya. Sebuah kalung emas berleontin batu mulia berbentuk hati, batu mulia diasah halus berbentuk hati itu juga berwarna pink muda, transparan dan berkilauan.

Desrita mengambil senter, dinyalakan dan disorotkan pada batu mulia berbentuk hati itu. Batu itu memantulkan kembali cahaya senter itu dalam bentuk ‘star’ bertulang 6 garis sinar terang yang simetris. Memang begitulah khas cahaya pantulan dari batu mulia ‘mirah daging’ kalau di-‘cutting’ model cabochon. Hasil dari galian tambang batu permata domestik Indonesia di Martapura.

Menjadi sangat mahal harganya di manca negara hampir mendekati harga batu mirah delima dari Birma.

Sedang nilai kekerasannya pun hanya dibawah setingkat dari nilai kekerasan intan yang dijadikan tolok ukur kekerasan batu umumnya yaitu 10.

Sedangkan pada kotak satunya lagi isinya adalah sebentuk cincin emas bertatah batu mulia bermotif hati dari jenis batu yang sama halnya dengan kalung tapi ukurannya lebih kecil.

Terteguh Desrita sejenak lalu menarik nafas panjang… indah sekali hadiah yang didapatkannya. Dia meletakkannya kembali perhiasan itu pada masing-masing kotaknya lalu ditaruh semuanya didalam laci kecil yang letaknya diatas lemari kecil tadi.

<Druummzzz…> <druummzzz…> (tiinnn-tiinnn…!)

Kaget Desrita mendengar suara derum mobil dan bunyi klaksonnya. ‘Apa…?! Papa sudah pulang? Tapi kan barusan ngomong di HP?’. Seketika perasaan Desrita dari gejolak riang gembira menjadi rasa takut yang amat mencemaskannya. Dari sudut bawah jendela kamar yang sudah terkunci serta ditutup korden itu, Desrita mengintip keluar. Memang jendela kamar tidur Desrita menghadap pintu gerbang pagar rumah mereka.

Dilihatnya 2 orang pemuda gagah turun dari mobil sedan berwarna biru tua. Tegap sekali tubuh mereka, agak ganteng sedikit tapi sayang tangan-tangan kekar mereka penuh tatoo… Umur mereka mungkin sekitar 25-an ‘kali, pikir Desrita mengawasi dengan seksama kedua orang itu yang berjalan santai menuju pintu utama depan rumah. Rupanya ini teman bicara ibunya dalam telepon tadi, 2 orang berondong (gigolo muda usia) tua untuk seorang wanita cantik masih muda berumur 35-an. Rupanya ibunya memberitahu berondong-berondongnya itu bahwa dirumah tidak ada siapa-siapa kecuali dia (Derlina) yang sedang menunggu. Pantas saja ibunya tidak mengenakan pakaian dalamannya!

Desrita menjadi sangat gugup jadinya… ‘Aku harus tetap tenang… tenang!’. Dia menghirup napas dalam sekali dilakukan secara berulang-ulang… kini dirinya sudah agak tenang. ‘Tenang-tenang… tenang… tenang!’, seakan Desrita memerintahkan seluruh tubuh menjadi tenang kembali. Desrita tanpa menyadarinya telah berhasil men-sugesti dirinya untuk kembali tenang dan… berhasil! Itulah salah satu dari sebegitu banyak… misteri alam…

Buru-buru dimatikannya lampu dalam kamar, dia melihat sekeliling dalam kamar, mencari barang-barang yang bisa mengeluarkan cahaya ataupun bunyi. HP-nya telah di-non aktifkan, jam weker diatas meja kecil yang letaknya disisi kepala tempat tidur juga sudah dicabut baterai-nya. Instingnya seakan menuntun langkah kakinya mendekati pintu kamar, memutar anak kuncinya kekiri sehingga meski pintu itu yang masih tertutup tetapi sudah tidak terkunci lagi. Dia harus ekstra hati-hari dan berusaha tidak ada sekecil apapun yang bisa dicurigai oleh 2 orang begundal itu, kelihatannya orang-orang itu tak segan-segan memperkosanya kalau mereka tahu dia masih berada dalam kamarnya!

Lain halnya dengan sang ibu yang genit malah sangat bergairah menyambut kedua pemuda pemuas nafsu liarnya. Sebenarnya kedua pemuda kekar itu adalah bodyguard dari boss bandot tua, Pramachdi yang doyan kawin, tidak bisa melihat perempuan cantik mulus lagi nganggur, langsung saja mengutus kedua bodyguard-nya untuk menyampaikan pesan perkenalan dan rayuan perdananya.

Selain kerjanya sebagai bodyguard, kedua pemuda itu juga dimanfaatkan Pramachdi untuk memuaskan hasrat seks dari ke-enam isteri-isterinya…

Membayar gaji mereka hanya untuk satu pekerjaan sebagai bodyguard saja, sedangkan tugas pemuda-pemuda itu sebagai gigolo… gratis… kan jadi murah jadinya… demikian kalau ‘otak dagang’ Pramachdi bekerja.

Kejadian awalnya sebenarnya sudah berlangsung 3 minggu yang lalu dan hebatnya tidak ada seorangpun dalam rumah yang tahu! Jangan pula dipikirkan tetangga-tetangga yang memang rada cuek. Begitulah ciri khas kehidupan bertetanggaan di kota-kota besar yang masing-masing menyibukkan diri mereka pada urusannya sendiri-sendiri.

***

Mereka bertiga sedang berdiri berhadap-hadapan. Derlina tersenyum genit menatap kedua pemuda itu. Sedangkan Tom Punk dan Tim Punk (mereka tidak ada hubungan saudara, hanya nama yang dipilih dan dianggap mereka keren untuk menutupi identitas mereka yang sebenarnya) menatap lapar pada sekujur tubuh cantik dan mulus Derlina yang masih saja berpakaian gaun tidur tipis tanpa dalamannya samasekali.

Tom Punk yang lebih kekar badannya, mendorong kesamping Tim Punk menjauhi Derlina, katanya, “Hei Tim…! Lihat sana kedalam kamar anaknya bu Lina… siapa tahu dia sudah pulang… kan bisa berabe jadinya!”.

Tim Punk yang didorong tubuhnya, menurut saja, maklum kalau Tom lagi nafsu berat mendingan tidak usah dibantah… bisa berabe urusannya nanti.

Tim sudah berada didepan pintu kamar tidur Desrita, langsung membuka dengan keras pintu itu (yang memang sudah tidak terkunci lagi), diam sebentar sambil matanya melihat sekeliling dalam kamar itu. Kemudian memegang gagang pintu dan menutupnya kembali.

Sedangkan Desrita saat itu sedang menahan napasnya serta memepetkan tubuhnya serapat mungkin pada dinding tembok dibelakang bukaan pintu itu.

Tim kembali lagi keruang tamu untuk memberitahu Tom bahwa ‘sikon’ (situasi dan kondisi) aman-aman saja. Karena dilihatnya tidak ada siapa-siapa disana, langsung dia membuka kamar tidur sang nyonya rumah, Derlina dan melongok kedalam…

‘Sialan…! Dasar orang gila! Sudah nafsu berat… geraknya cepat lagi…’, umpat Tim dalam hati kesal sama temannya, Tom.

Tom sudah menindih tubuh mulus Derlina sibuk mengayun-ayunkan pantatnya, keduanya sudah bertelanjang bulat tanpa busana, sedangkan yang ditindih mengerang-erang keenakannya serta kedua kakinya melingkar pada bokong Tom sambil menekankan tumit kakinya pada masing-masing kedua bongkahan pantat Tom seirama dengan ayunan mantap bokong si Tom Punk.

Sedangkan Desrita yang masih sedikit gemetar tapi pikirannya masih tetap tenang, diam sejenak… berkonsentrasi dan dengan seksama menyimak keadaan yang sedang dihadapinya sekarang. Pelan-pelan dengan sangat berhati-hati membuka pintu kamarnya sedikit, segera sebersit sinar datang dari luar kamarnya menerobos masuk kedalam kamarnya yang masih gelap. Dilihatnya diseberang sana, pintu kamar tidur orangtuanya terbuka lebar… sayup-sampai terdengar rintihan-rintihan nikmat dari ibunya yang sedang disetubuhi oleh Tom Punk dan… bertambah keras rintihan dan desahannya karena Tim Punk sudah memulai aksinya. Tim kebagian jatah sedikit dari bagian tubuh atas sang nyonya rumah hanya bisa meremas dan mengisap puting kiri Derlina diselingi kata-kata jorok dari ketiga insan mesum itu bersahut-sahutan, cukup jelas sampai ke telinga Desrita yang lagi konsentrasi mendengarkannya dari jauh.

Dengan gesit dia berlari keruang dapur yang tak berpintu, dari situ dengan mengendap-ngendap berjongkok sambil membungkukkan badannya, dari jauh berseberangan menyilang, dia dapat melihat lewat pintu yang terbuka lebar dari kamar tidur orangtuanya… dua pasang kaki yang sedang saling bertumpukan… yang putih mulus dan kuku-kuku kakinya dicat dengan pewarna kuku… itu pasti kaki milik ibunya yang nakal, serta sepasang kaki lainnya yang jempol kakinya amat besar dilihatnya… adalah pasti kaki milik begundal yang bertubuh lebih kekar (Tom Punk) sedangkan kaki begundal satunya diluar jangkauan pandangan matanya.

Desrita mencoba membaca situasi lagi dengan seksama… ‘Oooh… kalau aku mengendap dekat kolam ikan yang letaknya disamping belakang dapur… pasti aku dapat melihat lebih keatas bagian tubuh mama yang lagi dikerjai oleh begundal-begundal itu’, pikirnya nekat.

Segera Desrita menyelinap cepat mendekati kolam ikan itu dan segera berjongkok dan membungkukkan badannya, mulai melihat lagi. Benar sekali perhitungannya… sekarang dia dapat melihat sampai batas leher ibunya yang nakal itu. Tapi… kok sekarang ada dua pasang kaki yang jari-jarinya mengarah keatas…? Sedangkan jempol kaki dari begundal (Tim Punk) yang lagi menggenjot tubuh ibunya yang nakal itu lebih kecil sedikit dari yang tadi dilihatnya. ‘Rupanya begundal yang badannya lebih kekar (Tom Punk) sudah ‘dikalahkan’ oleh nafsu mama yang dahsyat…!’, pikir Desrita. Langsung posisinya digantikan temannya, yang tadi memeriksa kamar tidur Desrita…

‘Lama amat sih…!’, Desrita menggerutu kesal. Meski badannya kalah kekar dari temannya, tapi begundal satu ini ternyata lebih kuat dan lama sekali menggenjot tubuh ibunya. Mendadak sontak gelombang amarah muncul dari dalam hati Desrita yang sudah panas membara! Dicarinya batu koral bulat sebesar kepalan tangannya dan… langsung dilempar kearah kaca cermin hiasan yang digantung di dinding tembok disamping kiri pintu masuk kamar tidur orangtuanya. Strike…! <Koompraaangg…!> Kaca hiasan gantung itu jatuh ke lantai dan kacanya pecah berkeping-keping… lancip dan panjang-panjang. Aneh tapi nyata…! Batu koral bulat yang dipakai untuk melempar itu… menggelinding kencang dan mulus… permisi keluar lewat pintu depan rumah yang masih terbuka lebar dan berhenti ‘menyembunyikan diri’ dikerimbunan tanaman perdu bebungaan di halaman depan rumah! Sedangkan si pelempar, Desrita sudah sedari tadi kabur melarikan diri menuju warung terdekat milik tetangganya… berpura-pura membeli sabun mandi…

Sedangkan 3 manusia yang lagi bermesuman didalam kamar, gelagapan dan belingsatan… cepat berpakaian kembali dan… Tom Punk lalu memasang sikap kuda-kuda bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi…

Setengah berbisik Tom berkata pada Tim, “Ayo cepatan…! Lihat keluar… ada apaan?!”.

Tim dengan gontai akan pergi keluar kamar, menggerutu dalam hati, ‘Pale lu peyang…!’. Tadi pas bunyi keras jatuhnya hiasan kaca itu, Tim terlonjak tubuhnya keatas tercabut sudah penisnya dari jepitan memek Derlina langsung memicu penisnya mendadak menyemprotkan air maninya ke perut rata dan mulus Derlina… bagaimana tidak lemas jadinya yang dia rasakan sekarang…!

Tim sudah berada diluar kamar, matanya jelalatan menengok kekiri dan kekanan. Pecahan kaca berserakan diatas lantai, diperhatikannya dengan seksama seluruh lantai itu, tidak ada yang mencurigakan, tidak ada batu atau apa yang bisa membuat hiasan dari kaca itu bisa pecah. Diperiksanya tempat gantungannya yang berupa paku baja, dilihatnya paku baja itu miring letaknya mengarah kebawah kearah lantai. ‘Ooh cuma paku tempat menggantungkan hiasan kaca itu yang doyong kebawah mungkin karena beratnya hiasan kaca itu, mengakibatkan hiasan itu merosot kebawah…’, pikir Tim Punk menilai salah situasi yang sedang dihadapinya.

Tim kembali lagi kedalam kamar tidur sang nyonya rumah, dilihatnya keduanya sudah rapi berpakaian lengkap bersiap untuk pergi. “Tidak ada yang perlu ditakutkan, cuma hiasan kaca yang merosot dengan sendirinya lepas dari paku cantelannya”, kata Tim dengan mantap dan yakin menerangkan situasi diluar kamar.

Bertiga keluar dari kamar dan hendak keluar rumah. Derlina sepintas melihat hiasan kaca itu, diperhatikan sekilas ada bekas memar tumbukan sesuatu pada tengah-tengah papan tripleks latar
belakang hiasan itu. Hatinya seketika menjadi kecut dan menjadi sangat khawatir sekali, terburu-buru dia berkata pada kedua pemuda itu, “Ayo buruan, boss kalian sudah lama menunggu. Tadi pagi dia sudah bicara lama di telepon! Cepat nanti dia malah curiga…!”.

“Siap… bu”, kata kedua pemuda itu berbarengan.

Itulah hari terakhir bagi Derlina berada dirumah itu…

Desrita yang melihat kepergian mobil biru tua itu dari kejauhan dibalik dinding warung tetangganya, sempat juga dia melihat sosok ibunya yang duduk sendirian di jok belakang mobil. Buru-buru dia pamit pada penjaga warung dan bergegas kembali kerumahnya.

Sampai dirumahnya, dia dengan cepat membersihkan lantai diruang tamu dari serpihan-serpihan kaca dan membuangnya sembarangan di… halaman belakang… Salah satu dari serpihan kaca itulah yang telah mencederai kaki kiri ayahnya…

***

Desrita terdiam duduk bersila setelah menyudahi cerita panjangnya tentang kejadian yang berlangsung 2 tahun silam itu, sambil menunggu reaksi ayahnya setelah mendengarkan itu semuanya. Dia mulai merasa sangsi… sepertinya ternyata belum saat dia menceritakan semua hal itu… tempatnya sih kelihatan sudah tepat… pikirannya mulai kalut… hawa kecemasan mulai melanda dirinya yang menyebabkan tubuhnya mulai gemetaran.

Tapi tidak ada gerak sekecil apapun dari ayahnya itu. Dipandanginya wajah ganteng ayahnya itu… matanya lolong melompong, kosong memandang hampa kedepan… Desrita memberanikan diri mengangkat kedua lengannya sendiri keatas… menggoyang-goyangkan kedua telapak tangannya didepan mata ayahnya tercinta… tidak ada reaksi samasekali… Desrita langsung menubruk dan memeluk erat tubuh ayahnya sembari tersedu… “Kan papa sudah… berjanji lho…!”.

Termangu Dartowan mendengarkan apa yang diceritakan puterinya tadi itu, gelagapan Dartowan terjaga dari lamunannya merasakan tubuhnya dipeluk erat puterinya. Katanya, “Kuat juga ya ingatanmu itu… sayang… kan sudah 2 tahun berlalu… peristiwa itu… terjadi…?!”.

Heran juga Desrita mendengar komentar ayahnya mengenai cerita yang telah dipaparkan tadi, dia merenggangkan sedikit pelukannya sembari melihat keatas menatap wajah ganteng ayahnya… terhenti sudah sedu-sedannya seketika…

Jari-jari tangan kanan sang ayah tanpa sadar memilin-milin puting payudara bagian kiri puterinya… kenyal-kenyal semakin mengeras.

Tersentak tubuh Desrita merasakan pilinan itu seakan membuka kran yang mengalirkan gairah birahi yang membasahi sekujur tubuh remajanya yang mulus nan molek… refleks Desrita mendekatkan bibirnya pada bibir ayahnya dan… menciumnya bertubi-tubi…

Tersentak Dartowan melepaskan tangannya yang tadi memilin-milin itu… hampir saja tubuhnya terjengkang kebelakang oleh tubrukan tubuh molek puterinya… dengan cepat kedua tangannya yang kekar melingkari tubuh indah mungil puterinya yang jelita… memeluknya erat… French kissing pun terjadi secara refleks diantara kedua insan itu… ayah dan puteri kandungnya…

Dartowan merebahkan tubuh molek puterinya… telentang diatas kasur… mereka masih tetap ber-Fench kissing… malahan lebih gencar dan seru lagi…

Tapi sesaat kemudian Dartowan tersadar dan segera melepaskan pelukan tangan-tangan kekarnya dari tubuh mungil tapi seksi itu, cepat duduk tegak kembali sembari menatap nanar pada tubuh indah puterinya itu…

Desrita mengetahui tangan-tangan kekar ayahnya telah melepaskan pelukan eratnya itu… segera bangun ikut terduduk diatas kasur… dengan cepat dia menanggalkan T-shirt tipisnya dan… terpampanglah sudah tubuh bagian atasnya yang telanjang mulus… sangat menggairahkan sekali bagi Dartowan yang matanya terus memandang tubuh puterinya itu… buahdada indah seorang dara remaja berukuran cukup besar 34B… mulus montok… menantang kaku kedepan… tidak ada sedikitpun gayutan kebawah dari payudara semok itu… Desrita memandang wajah ganteng ayahnya dengan penuh gairah birahi dari seorang dara remaja…

Dartowan memandang tubuh molek puterinya dengan penuh nafsu-syahwat yang menggelora… raib sudah benteng moral yang sebelumnya sangat kokoh berdiri didalam hati sanubarinya… hancur berkeping-keping dilanda oleh lamanya penantian tanpa pelampiasan seks selama 2 tahun lebih… bagai melihat tubuh sensual isterinya, Derlina dikala muda… pertama kali dilihat Dartowan sewaktu dulu… 18 tahun tahun yang silam.

Secara intuisi meniru keadaan ketelanjangan puterinya… perlahan-lahan melepas kaos oblongnya… tidak berhenti sampai disitu tapi dilanjutkan dengan celana pendeknya… lalu terakhir juga melepas CD-nya… tersembul gagah batang penisnya yang panjang dan sangat tegang… palkon besar mengkilat dilapisi penuh oleh cairan pelicin yang keluar perlahan tapi terus-menerus… Dartowan telah siap… menyetubuhi puteri kandungnya sendiri…! Nekat… apapun resiko yang akan dihadapinya nanti…

Tersentak Desrita melihat betapa besarnya penis tegang ayahnya itu… bukannya merasa ngeri malahan membumbungkan tinggi birahinya sampai ke ubun-ubun… dengan cepat melepaskan celana pendeknya dan… tanpa memakai CD-nya dari setadi selepas dia mandi…

2 insan tanpa busana… telanjang bulat, duduk saling berhadap-hadapan…

Perlahan Dartowan mendekati Desrita, puteri telanjang bulatnya… yang sudah rebah terlentang, mengangkang kakinya lebar-lebar… pasrah menunggu tindihan tubuh ayahnya yang kekar…

Dartowan menempatkan dirinya ditengah kangkangan kaki puterinya, dengan tenang mulai menindih tubuh mungil jelita Desrita, ditaruhnya kedua lengan bawahnya disamping kiri dan kanan tubuh puterinya itu untuk menopang bobot tubuhnya yang besar itu… Dartowan mulai mencium bibir Desrita dengan lembut tapi dengan nafsu birahi yang sangat tinggi. Dirasakan oleh Dartowan, jari-jari lentik Desrita bergerak kebawah langsung memegang batang penisnya dengan mantap dan mengarahkan palkon besarnya didepan mulut gua nikmat vaginanya yang sudah sangat licin dan berdenyut-denyut… Merasakan posisi palkon-nya sudah pada letaknya yang tepat, Dartowan mendorong pinggulnya kebawah, pelan tapi mantap. Palkon-nya sudah menerobos mayora labia (bibir luar vagina) lalu ditarik sedikit kemudian ditekannya masuk… ditariknya lalu ditekan masuk… demikian berulang-ulang sampai sekitar 5 menitan.

Desrita merasakan sensasi sangat nikmat yang baru pertama kali dirasakan dalam hidup bahkan melebihi nikmatnya saat dia masturbasi sendiri. Clitorisnya terusap-usap terus tanpa henti-hentinya… Habis sudah kesabarannya karena ingin cepat-cepat merasakan nikmatnya orgasme, dipeluknya tubuh ayahnya dengan kedua tangannya dengan kuat… lalu dihentakkan pinggulnya keatas dengan keras…

<Bleesss…!> Palkon berikut batang penis besar Dartowan melesak masuk sudah melewati jepitan minora labia (bibir kecil dalam vagina) tapi terhenti gerak masuknya oleh ‘barikade’ selaput dara Desrita. “Aaaduh… sakit pa…!”.

Dartowan mencium lembut bibir seksi Desrita yang masih terbuka karena tadi menjerit pelan merasakan sakit dalam vaginanya, berbisik mesra pelan ke telinga puterinya, “Jangan terburu nafsu sayang… biarkan papa melakukan dengan cara papa sendiri… papa pastikan tidak akan terlalu sakit rasanya untuk kamu menjadi wanita baru…”.

Dartowan mulai lagi menggerakkan pinggulnya turun-naik sehingga batang penisnya keluar-masuk dijepit oleh minora labia-nya sedangkan palkon sedang mengaduk-aduk gua nikmat vagina Desrita yang sempit-sempit nikmat, mencengkeram sangat kuat sekujur penis Dartowan. Dia melakukan dengan sangat sabar dan teratur… dia berniat meneguk sebanyak-banyaknya kenikmatan dari tubuh molek puterinya yang jelita sampai mabuk kepayang kalau bisa. Desrita diam sambil merasakan nikmat yang amat sangat dan mempercayakan tubuh telanjang bulatnya disetubuhi ayah kandungnya sendiri dengan asyik-masyuk penuh nafsu syahwat yang membara.

Tersentak-sentak tubuh mungil Desrita merasakan nikmat setiap rojokan pendek-pendek palkon perkasa milik ayahnya tercinta.
Mengeliat-geliatkan tubuhnya, tubuh mulai bergetar hebat seraya dia mendesah kencang… “Aaah… niiikmatnya…! Oooh… Rita sudah tidak taaahan lagi… paaapa…” <seeer…!> <Seeer…!> <Seeer…!> terkulai lemas Desrita dilanda oleh orgasme-nya sendiri… memejamkan matanya sembari merasakan sisa-sisa kenikmatan yang perlahan-lahan kembali mulai surut.

Dartowan tersenyum senang melihat wajah puas puterinya yang cantik. Dengan penuh kenikmatan dia merasakan denyut-denyut kuat dari otot-otot vagina Desrita yang mengemut-emut seluruh bagian penisnya yang masih berada didalam gua nikmat vagina Desrita…
Didiamkannya sebentar didalam vagina sempit puteri kandungnya sendiri. Setelah dirasa sudah tidak ada denyutan dalam vagina sempit itu, dengan perlahan dia menarik penisnya keluar dari vagina Desrita yang masih perawan…

Kemudian Dartowan bangkit dari tubuh telanjang Desrita dan duduk ditengah-tengah kangkangan lebar kaki-kaki puterinya itu. Dia melihat keseluruh tubuh bugil dari puteri remaja yang molek terpampang pasrah didepannya, penis panjangnya tidak berkurang sedikitpun kekerasan tegangannya. Perlahan-lahan Dartowan menindih kembali tubuh mungil yang mulus sensual itu, sasarannya sekarang adalah buahdada mengkal dan semok milik puteri kesayangannya itu. Bibirnya yang gasang mengemut-emut puting kecil dari buahdada Desrita yang kanan sementara jari-jari tangan kanan Dartowan yang tekstur kulitnya agak kasar meremas-remas dengan sangat lembut buahdada Desrita yang kiri.

Tergugah kembali birahi tubuh remaja Desrita menikmati cumbuan-cumbuan pada toket remajanya yang semok… segera menutup lembaran pertama ronde pertama yang telah sukses mereka lakukan bersama sekaligus membuka lembaran baru dari ronde kedua ML incest ini…

“Oooh… nikmatnya…!”, desah Desrita merasakan cumbuan ayahnya yang berpengalaman. “Geeeli… tapi eeenak…! Ayo dong… pa lagi…!”, pinta Desrita penuh nafsu sembari menggapaikan tangannya kebagian bawah mencari-cari penis panjang ayahnya itu.

Dartowan memberi kesempatan pada Desrita untuk mencapai penis panjangnya dengan menggeser tubuhnya keatas sehingga bibir Dartowan bisa mendekat pada telinga Desrita… ditunggunya sampai jari-jari lentik puterinya melingkar dan menggenggam erat batang penisnya yang panjang dan masih tetap tegang itu.

Desrita langsung mengarahkan kembali palkon ayahnya pada pintu masuk gua nikmat vagina remajanya yang masih saja perawan itu, dihentak-hentakkannya pinggul seksinya keatas berkali-kali… agar palkon itu cepat memasuki vaginanya yang sudah berdenyut-denyut penuh nafsu.

Dartowan membiarkan sebentar upaya puteri kesayangannya, lalu diciumnya sesaat dengan lembut bibir seksi Desrita, kemudian mendekat mulutnya ke telinga puterinya membisiki pelan kata mesra, “Sabar… sayang… mari nikmati ML ini… kita reguk kenikmatan sebanyak-banyaknya… bersama-sama… sehingga kau akan rela kehilangan perawanmu dengan pasrah… penuh dengan kenikmatan… percayakan semuanya pada papa…”.

Dartowan kembali bangkit dari tubuh remaja telanjang Desrita… duduk kembali menghadap vagina puteri kesayangannya yang masih gundul… terlihat jelas clitorisnya menyembul sedikit melewati sedikit dari jepitan mayora labia vagina Desrita yang mungil…

Dartowan memundurkan sedikit posisi duduknya lalu mendekatkan mulut pada vagina indah Desrita, mulailah Dartowan melakukan cunnilingus (oral sex pada vagina), lidah kesatnya menyusuri seluruh permukaaan vagina puterinya. Dengan kedua tangannya, jari-jarinya yang besar membuka sedikit mayora labia vagina Desrita sehingga terlihat jelas seluruh bagian clitoris yang kecil mungil yang akan jadi sasaran utama lidah kesatnya serta tidak lupa memasukkan jari tengah dari tangan kanannya memasuki lubang vagina Desrita… tetapi arahnya tidak kedepan… melainkan membelok tajam kebagian atas dalam lubang vagina puteri kesayangannya itu, telunjuknya sibuk mencari-cari posisi tepat dari G-spot dengan sekali-sekali melirik wajah manis Desrita yang sedang memejamkan matanya serius menikmati perlakuan sensual dari ayahnya tercinta…

Tiba-tiba tersentak-tersentak tubuh mungil Desrita diterpa badai nikmat ketika telunjuk kanan ayahnya menemukan letak tepat dari G-spot nya… “Oooh… papa sayang… nikmat sekali…! Aaayo dong pa… masukin lagi…”, Desrita merengek-rengek keenakan minta segera disetubuhi ayahnya.

Dartowan pura-pura tidak mendengarkannya, malah makin gencar telunjuk kanannya mengobel-obel G-spot nya ditambah sekarang lidah kesat ayahnya mulai mengelus-elus clitorisnya.

Terhentak-hentak tubuh mungil yang seksi Desrita, tak sanggup dia bertahan lebih lama lagi… <seeer…!> <Seeer…!> <Seeer…!>
<Seeer…!> vaginanya memuncratkan cairan nikmat banyak… berkali-kali… membasahi wajah ganteng ayahnya. Karena Dartowan bermain-main dengan mulut pada vagina mungil Desrita, masuk juga sedikit cairan nikmat itu kedalam mulut Dartowan yang langsung ditelannya saja. Dartowan tidak mau membuang-buang kesempatan emas ini dengan menjilati vagina basah itu. Mumpung Desrita masih setengah sadar oleh orgasme-nya yang dashyat, dengan cepat Dartowan membersihkan mukanya dengan celana pendeknya. Memegang batang penisnya sendiri dan mendekatkan palkon besarnya pada pintu masuk gua nikmat vagina dengan perlahan menekannya masuk sampai terhenti oleh ‘barikade’ selaput daranya, didiamkannya penisnya posisi itu… Dengan perlahan dan hati-hati dia menindihkan tubuhnya diatas tubuh telanjang anak perempuannya itu, tangan-tangan diletakkan disamping kiri dan kanan tubuh seksi itu untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak menjadi beban bagi tubuh mungil Desrita, mendekat mulutnya pada bibir mungilnya menciumnya dengan sangat lembut dan amat mesra… mulailah Dartowan menyetubuhi Desrita, puteri kandungnya sendiri yang sekarang sangat dicintai dengan sepenuh hatinya.

Mulai memompakan pinggul kekarnya turun-naik dengan tetap menjaga terobosan palkonnya pendek saja tidak sampai menembus ‘barikade’ selaput daranya. “Ohhh… nikmat sekali memekmu… sayang”, kata Dartowan berkata sambil matanya merem-melek keenakan. Laku diangkatnya pinggulnya keatas sampai palkonnya hampir keluar dari kawasan vagina mungil puteri jelita, leher dari palkon besarnya terjepit diantara mayora labia-nya, didiamkan sejenak lalu dihentakkannya pinggulnya dengan kuat kebawah… <bleesss…!> palkon menerobos selaput dara puteri kandungnya.

“Aaduh… papa… pelan-pelan pa… penis papa besar sekali…!”, kata Desrita kaget merasakan hentakan keras itu tanpa merasakan terlalu sakit kalau selaput daranya telah diterobos oleh palkon besar ayahnya tersayang.

Dartowan mendiamkan sebentar gerak pinggulnya, dibiarkan palkon besarnya diam didalam cekalan kuat otot-otot didalam vagina puterinya agar vagina lebih akrab akan besarnya batang penis dan palkonnya sembari menikmati denjutan vagina mungil puterinya itu.

Desrita yang merasakan tidak ada gerakan penis sang ayah didalam vaginanya, mengingatkan dengan merajuk, “Ayo dooong… pa… digoyang laaagi…! Biar jadi eeenak…”.

Mendengar permintaan puteri kandungnya, Dartowan tahu bahwa puteri telah siap menerima gempuran dan sodokan palkon besarnya, mulai mengenjotkan pinggulnya yang menyebabkan palkon besar memompa dengan kecepatan sedang tapi konstan.

“Aaah… papa… enak sekali… jangan berhenti lagi ya… pa…! Teeerus…. oooh…”, Desrita mendesah hebat merasakan nikmatnya disetubuhi oleh ayah kandungnya sendiri…

Itu berlangsung terus tanpa berhenti selama 15 menitan, kemudian Desrita mendapatkan lagi orgasme-nya untuk ke-3 kalinya…
<seeer…!> <Seeer…!> <Seeer…!> tidak ada lagi waktu jeda untuk puteri tersayangnya, sekarang adalah adalah sepenuhnya giliran sang ayah… tidak sia-sia penantiannya selama 2 tahun tanpa seks, kini saatnya dia meraup sebanyak-banyaknya kenikmatan bersetubuh dari tubuh sensual puterinya dan menuntas hasrat seksnya yang sudah lama dipendam…

Dartowan tetap mengenjotkan pinggul secara konstan diselingi desah Desrita pelan… ‘Oooh…!’ “Aaah…!’ terus-menerus selama 10 menit kedepan…

Akhirnya tiba juga saat yang ditunggu-tunggu Dartowan… selama 2 tahun penantiannya itu…

Desrita merasakan perbedaan gerak dan bertambah besarnya penis ayah kandung, menyemangati dengan penuh nafsu syahwat liar, “Teeerus… pa… aaah… oooh nikmatnya… aaayo pa lebih cepat laaagi…! Aaah… Riiita mau sampai…!”.

Mendengarkan desah nikmat puterinya itu mempercepat pompaan penisnya, sementara kedua tangan Desrita sudah memeluk sangat kencang tubuh ayahnya tiba-tiba….

“Ahhh…!”. Mereka berdua mendapatkan orgasme yang dahsyat dalam waktu tepat bersamaan… sungguh sangat sempurna pencapaian puncak persenggamaan incest ini terjadi!

<Crottt….!> <Seeerz…!> <Crottt….!> <Seeerz…!> <Crottt….!> <Seeerz…!> <Crottt….!> <Seeerz…!>

Lalu keduanya… ayah dengan puteri kandung terdiam sejenak… kemudian secara bersamaan mengeluarkan desahan karena merasakan kenikmatan persetubuhan ini… “Aaaahhh…!” lalu diam lagi…

Hanya napas kencang dari keduanya yang masih terdengar jelas…

Dartowan mencium lembut bibir anaknya, dilihatnya mata puterinya telah terpejam, raut wajah remaja jelita ini terlihat penuh dengan rona kepuasan… dia menggulirkan tubuhnya dari atas tubuh molek Desrita dan berbaring diam disampingnya… hening sudah suasana dalam kamar tidur utama itu.

Sejam kemudian Dartowan terbangun dan mulai duduk disamping Desrita, puterinya. Dipandangi dengan mesra tubuh jelita puterinya itu…

‘Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’. Hanya yang membedakannya adalah kalau sang ‘pohon’ mengumbar-umbar nafsunya kemana-mana…
sedang si ‘buah’ memenuhi hasrat seks yang bergelora didalam rumahnya sendiri… Siapa lagi kalau tidak dengan… ayah kandungnya sendiri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*