Home » Cerita Seks Kakak Adik » Kak Alya 4

Kak Alya 4

Cerita Sebelumnya : Kak Alya 3

ÔÇ£Adeek! Buruan gih berangkat.. entar telat lohÔÇØ
ÔÇ£Iya Kak Alya yang cantiik.. gak liat nih Aldi lagi ngiket tali sepatu?ÔÇØ
ÔÇ£Oh, benarkah adikku? Ngiket sepatu itu liatnya ke sepatu doonk, masa ke kakak siih?ÔÇØ
ÔÇ£Adududuh! Iya kak.. iya..ÔÇØ

Kak Alya menjewer telingaku karena mengikat tali sepatu gak kelar-kelar. Siapa yang bisa cepat kelar kalau kak Alya malah duduk di depanku pakai daster bergambar hello kitty dengan potongan bawahan sepaha. Dan saat dia duduk bagian bawahnya ketarik sampai ke pangkal paha, dan memperlihatkan kulit mulus pahanya yang putih. Kalau perlu aku gak usah berangkat sekolah saja untuk melihat pahanya selama mungkin. Dari pada ngiket tali sepatu, mendingan ngiket kakak sendiri deh, hehe..

ÔÇ£Enak dek?ÔÇØ
ÔÇ£Hehe.. apanya kak? Liat kak Alya? Enak kak?ÔÇØ
ÔÇ£Bukan! Dijewernya deek..ÔÇØ
ÔÇ£Aduh kak! Kok lagi sih?ÔÇØ
ÔÇ£Lagian kamunya, mau ngiket tali sepatu.. atau mau ngiket kakak sih dek?ÔÇØ

Takjub mendengar tebakan kak Alya , aku hanya bisa memandangnya sambil cengengesan.
ÔÇ£Kok tau sih kak? Boleh ya kak?ÔÇØ

ÔÇ£Enak aja kak Alya diiket-iket.. emm, emangnya kak Alya sapi?ÔÇØ
ÔÇ£Kak Alya jadi sapii..?ÔÇØ

Duh, pikiranku mendadak menerawang kemana-mana. Kak Alya jadi kayak sapi? Dengan hanya bertelanjang dan lehernya diikat tali. Lalu payudara putih kak Alya menggantung bebas menanti bocah-bocah sapi untuk menyedot dan memeras susu yang ada di dalam buah dada kak Ayla. Uugh.. aku mauu jadi anak sapi ituu..

ÔÇ£Hihi.. lagi mikirin apaan sih dek? Mukanya ampe jelek begitu? Dasar mesumÔÇØ
ÔÇ£Hah? Hehe.. anu kak.. sapi..ÔÇØ
ÔÇ£Sapi.. sapi.. gih, buruan berangkat!ÔÇØ

ÔÇ£Iya iya.. kak Alya, aku berangkat yah..ÔÇØ aku memonyongkan bibirku kearah wajahnya, kak Alya yang menyambutku dengan dipegangya kepalaku dan ditundukkan kebawah lalu mengecup keningku. Gagal sudah percobaanku untuk mencium bibir kakakku ini.

ÔÇ£Bandel ih! Kakak sendiri mau dicium.. ati-ati dijalan yah dek..ÔÇØ
ÔÇ£Hehe.. dag kak Alyaa..ÔÇØ sambil menstarter motorku, aku mulai berangkat sekolah. Meninggalkan kak Alyaku yang cantik di rumah. Dan tidak ada hal lain yang kupikirkan selain ingin cepat pulang kerumah untuk menemui kakakku ini. Kakakku yang nakal abis, dan hanya aku yang mengetahuinya.

Pagi ini Dado temanku ingin menjemputku untuk berangkat bersama. Kebetulan arah menuju sekolah dari rumahnya ke sekolah kami satu jurusan. Tapi terkadang suka kutolak. Apalagi kalau bukan ingin mampir dan melihat kakakku. Kak Alya yang cantik, putih, berbulu mata lentik, dan bibir yang merona merah Bahkan Dado sering sekali sengaja goda-godain kakakku. Dari ngajak ngobrol, sering-sering ngajak salaman, sampai minta-minta foto sama kakakku. Mending nih anak enak dilihat. Udah item, jerawatan pula. Keseringan main layangan di jalan tol sepertinya. Belum lagi temanku yang lainnya seperti Feri dan Bono alias Bon bon. Walau kami sering main PS bareng, punya otak mesum yang sama, kalau sudah urusan tentang kakakku, aku sering merasa tidak rela. Siapa juga yang mau melihat kakaknya yang cantik dan seksi digodain mereka-mereka ini yang kucel, item, dan mendekati jelek. Entah bagaimana rasanya melihat kak Alyaku digangguin terus sama mereka.

———————-

Ketika hendak pulang ke rumah, teman-temanku, Dado, Feri dan Bono ingin mampir ke rumahku. Katanya sih pengen ngerjain PR bareng-bareng. Hanya saja aku setengah percaya karena pasti tujuan utama mereka hanya ingin ngobrol dan menggoda kakakku.

Mereka itu memang mesum, tapi aku tidak bisa juga menyalahkan mereka yang sangat mengidolakan kakakku. Kak Alya, yang meski kalau di luar busananya selalu tertutup, tapi kalau sudah di dalam rumah sering sekali nyaris telanjang. Aku saja dibuat tidak tahan oleh penampilan maupun ulah kakakku sendiri sehari-hari bila di rumah, apalagi orang lain. Lihat saja saat beberapa hari yang lalu ketika kak Alya menemui peminta sumbangan dengan hanya mengenakan tanktop saja, orang itu sampai salah tingkah. Bahkan Dado saja mengaku padaku bahwa ia menjadikan kak Alya sebagai bahan coliannya sehari-hari, dengan hanya berbekal foto kak Alya yang entah kapan dia ambil saat berada di rumahku. Sialan tuh anak.

Sesampainya di rumah aku memarkirkan motorku dan yang lainnya di depan garasi lalu segera masuk kedalam.

ÔÇ£Kak… aku pulaangÔǪ Bawa demit tiga ekorÔÇØ Sambil memanggil kakakku pelan aku meledek teman-teman yang suka mengganggu ketenangan di rumahku.

ÔÇ£Ah sial lo bro, tapi biarlah.. mana tau kakak lo demen demit kayak gue, heheÔÇØ jawab Dado seenaknya bikin telinga panas. Dasar kampret.

Sambil menaruh tas di ruang tamu aku masuk menuju ruang tengah bersama teman-temanku. Mereka bilang ingin nonton acara TV dulu sebelum mengerjakan PR, tapi tiba-tiba salah satu temanku memanggilku dengan nada setengah terkejut.

Wah, bro! Apaan nih? Kemari woi semua! panggil Bono. Dengan penasaran aku dan yang lainnya pun menghampirinya dan ikut melihat apa yang membuatnya terkejut. Dan memang apa yang dia lihat juga ikut membuatku terkejut. Malahan bagian bawahku juga berontak karena ikut terkejut. Kami melihat kak Alya!

Kakakku sedang tertidur di sofa panjang depan tv dengan pulasnya. Tapi yang membuat kami terkejut bukan itu, tapi penampilannya! Rambut kak Alya tergerai indah menutupi sebagian pipinya yang merona dari kulitnya yang putih. Baju kaos pink bergambar Hello Kitty-nya tersingkap hingga hampir sampai ke pinggul! Memperlihatkan meki kak Alya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dengan bebasnya. Astaga kakakku ini Dia benar-benar selebor tidurnya. Untung yang datang hanya kami, coba kalau tamu asing yang tidak jelas, pasti kakak kandungku ini sudah diperkosa habis-habisan tanpa ampun. Meskipun tetap saja tidak lebih baik jika orang itu teman-temanku ini. Aku bahkan bisa mendengar suara ketiga temanku sedang menelan ludah.

Kak Alya mulai sadar dan terbangun dari tidurnya, mungkin karena suasana yang mulai agak berisik. Aku yakin kak Alya pasti akan kaget melihat kami sedang mengelilinginya, menonton aurat-auratnya, tapi tebakanku sepertinya salah..

ÔÇ£Ehh.. ada temen-temen adek rupanya? Baru pada dateng yah?ÔÇØ sapa kak Alya pada mereka sambil merapikan kaos bagian bawahnya. Ha? Kok kak Alya malah terlihat tenang sekali dan gak ada kaget-kagetnya!?

ÔÇ£Hehe.. iya nih kak, baru aja pada datang. Jadi ganggu tidurnya kak Alya nih.. aduh, bening amat yak?ÔÇØ ujar Dado sok merasa segan.

ÔÇ£Iya kak Alya, tidur aja lagi. Kita gak bakal ganggu kok..ÔÇØ kata Feri ikut nimbrung. Kampret, mereka pasti bermaksud ingin melihat kak Alya buka-buka paha lagi. Lagian kak Alya juga sih pake tidur sembarangan. Mana kakakku ini gak pake daleman lagi. Uhh, benar-benar kakakku ini.

ÔÇ£Hihi.. kakak udahan kok tidurnya. Tadinya sih suguhan buat adek aja, tapi karena udah pada disini.. anggap aja yang tadi itu rejeki buat kalian juga yah…ÔÇØ jawab kak Alya melirik manis padaku. Aku hanya melongo tak percaya dengan yang kak Alya ucapkan barusan. Sial, seharusnya aku yang mendapatkan pemandangan indah ini sendiri, sekarang jadi harus berbagi dengan teman-temanku juga. Duh, andaikan aku tidak mengiyakan mereka untuk mengerjakan PR di rumahku, pasti kakakku yang bening dan seksi ini bakal habis kucabuli seharian.

Ya udah, kakak mau mandi dulu kakak tinggal bentar yah.. kata kak Alya sambil bangkit berdiri, tapi teman-temanku ini menghalangi.

Gak mandi juga tetap cantik kok kak hehe
Iya kak kita ngobrol-ngobrol aja dulu. Masa udah mau pergi aja sih? ujar mereka berusaha menahan-nahan kakakku.

ÔÇ£Woi! Lo semua apa-apaan sih! Kakak gue mau mandi dulu.. Hush! Hush!ÔÇØ gayaku setengah mengusir mereka ke ruang tamu, karena aku masih merasa tidak rela harus berbagi rejeki dengan teman-temanku yang berotak mesum semua.

Kak Alya mau mandi? Kalo kakak butuh bantuan, saya bersedia kok bantuin kakak mandi, hehe si Dado yang cengengesan mulai kumat cabulnya. Terkadang nih bocah suka kebablasan kalau bercanda ke kakakku, tapi hal itu juga membuat aku panas dingin karenanya.

ÔÇ£Hihihi.. adeek, kakak mau dibantuin mandi tuh sama si Dado.. boleh ga sih dek?ÔÇØ tanya kak Alya yang malah menggodaku.

ÔÇ£Ah! Gila kali, ga boleh kak! Enak aja.. sono-sono..ÔÇØ sambil mengusir aku pasang tampang sewot. Yang bener saja, aku saja belum pernah memandikan kakakku, masa mereka duluan yang dapat.

ÔÇ£Tuh Dado, dengerin Aldi.. Emangnya kakak kamu ini mirip sapi kali yah dek, pake dimandiin segala? Hihihi..ÔÇØ ujar kak Alya malah bercanda.

ÔÇ£Hehe.. Sapi betina dong kak?ÔÇØ celetuk Bono dari belakang.

ÔÇ£Ya iya lah.. masa sapi jantan.. ya udah kakak tinggal mandi dulu yah. Kalian pasti mau ngerjain PR kan?ÔÇØ

ÔÇ£Eh.. iya kak, ngerjain sapi, eh.. PR kak!ÔÇØ jawab ketiga temanku serempak.

ÔÇ£Ya udah sana, ngerjainnya yang rajin yah.. jangan ngerjain kakak melulu, kayak si Aldi nihÔÇØ

ÔÇ£Ih! Apaan sih kak?ÔÇØ sambil sewot aku agak menghindarkan kepala saat kak Alya mengacak-acak rambutku. Kak Alyapun beranjak dari sana menuju ke belakang untuk mandi.

Kembali ke ruang tamu, kami mulai membuka buku masing-masing untuk mengerjakan tugas sekolah. Aku berusaha untuk konsen, tapi tetap tidak bisa. Entah kenapa terlintas di kepalaku sebuah bayangan mesum seandainya kak Alya benar-benar dijadikan sapi betina. Dengan susu yang menggantung indah menunggu untuk dikenyot dan ku sedot habis isinya. Bahkan ketika sudah habis aku masih tidak mau berhenti mengenyotnya, jadilah aku seperti anak sapi yang selalu mengikuti induknya kemana saja. Tapi kehadiran teman-temanku ini mengganggu kesenanganku saja, aku ingin mereka cepat pulang agar aku bisa berduaan lagi dengan kakakku yang seksi ini. Ugh Kak Alya.

Sambil mengerjakan PR, ku lihat Dado berbicara pelan pada Feri dan Bono.

Elo sih bro tadi pake bengong kan tinggal keluarin HP aja, lama amat
ÔÇ£Gue sibuk bro, hehe.. liatin susu sapi. Cetakannya gak nahan.. hampir aja gue coli kalo gak inget ada si Aldi, heheÔÇØ

ÔÇ£Hehe, iya.. kalau tadi gak ada Aldi pasti kita semua udah coli bareng-bareng tuh di depan kakaknya itu, heheÔÇØ
Iya Apalagi jembutnya itu, aduhhh bikin pusing atas bawah bro. Itu daging tembem amat yak? Hehe

Sial, mereka ngomongin kakakku! Gaya mereka seperti tidak mau aku mendengarnya, tapi suara mereka cukup keras untuk dapat ku dengar. Aku malah berpikir kalau mereka memang sengaja supaya aku juga bisa mendengarnya.

ÔÇ£Inget susu sapi gue jadi haus nih bro, jadi pengen icip-icip, kenyot-kenyot dikit, hehe..ÔÇØ lanjut mereka terus berbisik-bisik.

ÔÇ£Si Aldi liat susu sapi jadi haus ga ya? Hahaha..ÔÇØ
ÔÇ£Aldi mah haus tiap hari, hahaha..ÔÇØ mereka terus saja mengatakan hal yang tidak-tidak tentang kak Alya. Aku tidak tahan lagi. telingaku mulai panas mendengar mereka membicarakan kakakku seperti itu.

ÔÇ£Woi, setan! Lo kira gua gak denger apa!?ÔÇØ makiku pada mereka.

ÔÇ£Hahaha, becanda broo.. jangan sewot melulu..ÔÇØ si Dado menoleh untuk menenangkanku.

ÔÇ£Iya bro.. bagi-bagi rejeki buat kita sekali-sekali gak ada salahnya kan?ÔÇØ Feri ikut nimbrung yang malah bikin aku tambah panas.

ÔÇ£Lagian bro, kayaknya kakak lo gak masalah juga tuh kita liatin kayak tadi.. jangan-jangan kakak lo emang demen lagi kita liatin? Hehehe..ÔÇØ Bono malah semakin menjadi bicaranya tentang kakakku. Seolah kak Alya adalah objek untuk kepuasan nafsu mereka. Benar-benar pelecehan! Kakak kandungku sedang dilecehkan!

Sebenarnya aku antara terima dan tidak terima melihat kejadian tadi, namun seperti yang dikatakan Bono, kak Alya memang seperti tidak keberatan sama sekali. Tapi biasanya kak Alya bertingkah nakal begitu bila di hadapan orang asing yang gak dikenal sama sekali, tapi masa di hadapan teman-temanku kak Alya juga tetap bertingkah begitu?

Setelah beberapa saat, kak Alya sudah muncul kembali ke ruang tamu dengan memakai kemeja putih lengan panjang dan rok panjang berwarna ungu gelap lengkap dengan jilbab berwarna pink. Kak Alya lalu ikut duduk bergabung bersama kami. Penampilan Kak Alya sekarang sangat kontras dengan penampilannya tadi. Yang mana sebelumnya sangat mempertontonkan auratnya, kini malah sangat tertutup, rapi dan begitu sopan. Hanya saja, kak Alya sepertinya tidak mengenakan dalaman BH lagi! Karena aku bisa melihat dengan cukup jelas pentil kak Alya agak nyetak pada kemejanya. Kak Alya ini benar-benar deh Teman-temanku ini kan orangnya cabul semua.

ÔÇ£Eh, kak Alya yang cantik sudah balik lagi,ÔÇØ celetuk Dado merayu kakakku.

ÔÇ£Hihihi, bisa aja kamu DadoÔÇØ balas kak Alya dengan senyum manisnya pada kami.

Iya kak, udah cantik, baik, seksi lagi.. beruntung banget yang jadi adeknya, hehehe.. Bono ikut nimbrung. Aku hanya cengengesan membenarkan omongannya, ya betapa beruntungnya aku memiliki kakak seperti kak Alya, tapi si otong juga sangat tersiksa punya kakak cewek seperti dia ini.

ÔÇ£Iya tuh, makanya adek kakak itu jadi suka bolos, telat sekolah, jarang main-main ke luar. Kerjaannya di rumah melulu sih gangguin kakaknya. Iya dek yah?ÔÇØ tanya kak Alya melirik sambil senyumÔÇôsenyum padaku. Duh! kak Alya malah buka-bukan soal keseharianku di depan demit-demit ini.

ÔÇ£Wuaa! Ketahuan lo! Suka bolos, telat nyampe kelas, ternyataa..ÔÇØ sorak teman-temanku membuatku malu.

ÔÇ£Iya tuh, kayak tadi pagi, sambil ikat tali sepatu tapi matanya ngelihatin kakaknya terus. Ngebayangin kakak diiket kayak sapi yah dek? Hihihi..ÔÇØ goda kak Alya lagi padaku.

ÔÇ£Wuih! Ngebayangin kak Alya diiket kayak sapi, aku mau donk kak jadi anak sapinya, hehe..ÔÇØ Feri mulai ikut nimbrung dengan tampang mesum.

Gua juga mau lho kak Kita-kita jadi anak sapinya, terus nyusu ama emaknya, hehehe.. ujar Bono juga ikut-ikutan.

ÔÇ£Hihihi Emak? Emangnya kakak mirip emak sapi yah dek? Bagusan dikit dong manggilnya.. misalnya, mama sapi yang suka menyusui sapi-sapi mudanya, Hihihi..ÔÇØ

ÔÇ£Hah? Eh, anu kak.. iya, mama sapi.. hehe, jadi pengen nih kak…ÔÇØ mereka mulai salah tingkah di depan kakakku. Aku juga ikut membayangkan yang tidak-tidak tentang kak Alya sekarang. Celanaku mendadak mulai terasa sempit.

ÔÇ£Pengen? Kalian bertiga mau nyusu sama kakak? Yee, mana bisa.. susu kakak kan cuman dua, kalau kalian bertiga, satu lagi nyusu dimana donk?ÔÇØ Gila nih kak Alya! Malah terus melayani omongan mereka, bahkan nantangin segala. Aku yang mendengarnya semakin panas dingin dibuatnya.

ÔÇ£Yang satu gak usah jadi anak sapi deh kak.. jadi papa sapi aja, hehehe..ÔÇØ Bono mulai ikut-ikutan kelewatan.

ÔÇ£Iya bro.. mama sapinya diiket, biar gak kemana-kemana.. hehe..ÔÇØ sekarang Feri yang mulai terbawa suasana. Aku entah kenapa hanya bisa terdiam tak percaya dengan pembicaraan kak Alya dan teman-temanku yang semakin menjurus ini.

ÔÇ£Dek, masa kakak mau dijadikan sapi tuh sama mereka, diiket-iket, terus susu kakak diperas-peras, hihihi” ujar kak Alya yang malah cekikikan mendengar semua omongan kurang ajar mereka terhadapnya. Aku tentu saja marah, tapi membayangkan kakakku dijadiin sapi betul-betul membuatku horni. Aku sampai tak bisa bereaksi apa-apa.

“Adeeeek, kamu kok diam aja sih?? Jadi mereka boleh nih jadiin kakak sapi? ya udah… kalian ikat kakak gih, hihihi” ujar kak Alya sambil menjulurkan kedua tangannya seperti pasrah untuk diikat. Aku dan teman-temanku tentu saja terkejut bukan main melihat ulah kakakku yang malah menantang mereka itu. Mereka tentu saja sangat bersemangat.

“Eh, jangan kak!” ujarku cepat, gila aja kalau kakakku benar-benar akan diikat oleh mereka.

“Hihihi… kakak bercanda kok dek…” ujar kak Alya yang membalas kecemasanku dengan tertawa renyah.

ÔÇ£Lagian kakak juga gak kebayang betapa repotnya ngurusin si papah sapi sama anak-anaknya sekaligus.. Hihihi.. Kamu kebayang gak sih dek? Pengen lihat?ÔÇØ ujar kak Alya yang terus membuatku panas dingin. Kakakku ini sadar gak sih kalau dia sedang dilecehin? Kok malah kelihatannya suka seperti ingin hal itu benar-benar terjadi sih? Aduh, aku yakin bukan aku saja yang merasakan sempitnya celana bagian selangkangan. Ku lihat ketiga temanku duduknya juga sudah tidak nyaman.

ÔÇ£Eh! Anu kak.. Emm..ÔÇØ mendadak aku jadi bingung antara ingin lihat atau tidak.

ÔÇ£Hihi.. Liat deh muka adek tuh, jadi sama jeleknya kayak muka temen-temen adek. Cabul! Udah ah, bukannya pada lanjut bikin PR malah ngerjain kak Alya nantiÔÇØ kata Kak Alya sambil pergi menuju ke dalam, meninggalkanku dalam keadaan mupeng berat. Duh! Mana celana sudah berasa sempit, malah ditinggalin begini aja. Kak Alya memang jahat! Tapi seksi banget! Obrolan panas antara kak Alya dengan teman-temanku tadi sungguh bikin aku terangsang.

ÔÇ£Aduh bro.. gua numpang kamar mandi yak? Dah gak tahan nih..ÔÇØ si Dado sepertinya sudah tidak kuat menahan gejolak otongnya. Tentu saja dia tidak kuat, hanya dengan melihat sosok kak Alya saja siapapun pasti bakal mupeng, apalagi sampai digoda-godain segitunya sama kakakku yang cantik ini. Lagian juga sih kakakku. Pake goda-godain mereka. Kayak gak tahu aja mereka seperti apa. Aku saja sudah mau meledak rasanya. Tapi rugi kalau kukeluarkan di kamar mandi. Pokoknya harus di depan kak Alya.

ÔÇ£Woi! Awas salah belok lo!ÔÇØ hardikku mengingatkan Dado. Siapa tahu tuh anak kalap lalu memperkosa kakakku, bisa kacau urusan.

Sumpah bro, gue beneran mau kekamar mandi kok sambil seperti menahan sesuatu Dado berjalan santai kekamar mandi, membuat roman mukanya yang sudah demek menjadi semakin jelek.

Dua temanku yang lainpun sepertinya juga sedang mengalami hal yang sama. Ingin coli karena tidak tahan membayangkan hal yang tidak-tidak tentang kakak kandungku. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu ketika kak Alya menggoda bapak-bapak peminta sumbangan. Entah kemana bapak itu melampiaskan nafsunya yang tertunda itu. Ngebayangin kak Alya bugil dari balik pagar. Uugh, aku saja sampai meledak-ledak gak karuan ke dada kak Alya. Mana sembarangan pula nyampirin tanktopnya. Tapi aku malah jadi penasaran, tanktop kak Alya yang disampirin di pagar mendadak hilang. Siapa yang ambil ya?

Setelah beberapa saat aku melamun sendiri tentang kak Alya, si Dado sudah kembali dengan wajah cerah sumringah seperti demit yang habis makan korban.

ÔÇ£Wuih! Lega broo.. lo mendingan buruan deh keluarin, dari pada sakit nahan, hehe..ÔÇØ katanya cengengesan.

ÔÇ£Ah lo! Buang tai aja pake ngomong-ngomong.. risih gua dengernya..ÔÇØ ujar si Feri tapi tetap saja beranjak gantian ke kamar mandi, kemudian setelah itu si Bono. Bener-bener kacau teman-temanku ini. Baru kali ini aku melihat orang coli bergantian pake kamar mandi, mana kamar mandi rumahku lagi. Hingga akhirnya mereka semua selesai dan sudah berkumpul kembali di ruang tamu. Aku tidak yakin kita masih bisa terus melanjutkan PR ini karena sepertinya semuanya sudah tidak lagi konsen, ya.. gara-gara kak Alya!

Mungkin ini saatnya giliranku untuk juga buang pejuh. Hanya saja jurusanku tentunya bukan kamar mandi, melainkan kamar kak Alya. Aku ingin langsung beronani di depan kakakku, kalau bisa ngepejuin dia. Tanpa menunggu lagi aku langsung bangkit menuju ke kamar kakakku tercinta yang cantik dan seksi itu.

ÔÇ£Kak Alyaa..ÔÇØ ketokku pada pintu kamarnya. Tidak ada yang menjawab. Apa kak Alya sedang tidur? Mumpung lagi tidur aku masuk saja, otong sudah ngga tahan. Bener kata Dado, kalau nggak disalurkan bisa sakit, hehe..

ÔÇ£Kak Alyaa.. aku masuk yaa?ÔÇØ ketika aku masuk kedalam kamarnya ternyata kak Alya tidak ada di dalam. Kamar kak Alya kosong! Kemana kak Alya? Masa iya kak Alya lagi ada di..

ÔÇ£Adeek! Minta tolong donk deek.. ambilin kakak handuk!ÔÇØ suara kak Alya memanggil dari ruangan lain. Dari ruang kamar mandi! Sejak kapan kak Alya berada di kamar mandi? Bukankah teman-temanku tadi juga dari kamar mandi? Membayangkan hal-hal yang mungkin saja terjadi mendadak membuat tubuhku lemas, badanku jadi panas dingin.

ÔÇ£Kak Alya lagi apa sih..?ÔÇØ tanyaku kemudian saat sudah sampai di depan pintu kamar mandi. Kak Alya membuka pintu kamar mandi sedikit dan mengeluarkan kepalanya.

Hihi.. ya lagi mandi lah jawabnya sambil senyum-senyum.
ÔÇ£Kan tadi udah mandi? Kok mandi lagi sih kak?ÔÇØ

ÔÇ£Iya nih dek.. abisnya gerah banget.. jadi mandi lagi deeh.. lagian kamu pengen liat kakak tetep cantik, bersih dan segar kan? HihihiÔÇØ

Kak Alya sepertinya memang baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang basah dan butiran air di wajahnya yang mengalir sampai ke dagunya. Aku betul-betul terpana melihat kecantikan kakakku ini. Kak Alya sendiri membalas melihatku dengan senyuman manis. Aduh jantungku berdetak cepat, darahku berdesir memandang kakakku yang cantik ini tersenyum dengan sangat manisnya. Kondisinya yang sedang basah-basahan makin menambah keseksiannya. Membuat celanaku menjadi sempit!

Sambil mengambil handuk yang ada di jemuran kecil yang terletak di dekat sana, aku lalu menerobos masuk ke kamar mandi untuk memberikan handuk itu padanya. Sekalian minta dicoliin kakakku.

Kak.. aku masuk ya gak tahan nih pintaku.
ÔÇ£Eh eh, apaan nih mau masukÔÇômasuk aja?ÔÇØ kak Alya menahan pintunya agar aku tidak masuk.

Kaak.. pengen nih kak rengekku.
ÔÇ£Hihihi.. kamu tuh apa-apaan sih? Kakak tuh lagi mandi, nanti kotor lagi lhoo..ÔÇØ
Yaah, kak Alya.. ya udah deh.. Yah tidak boleh, ya sudahlah. Seperti biasa ketika kak Alya menolak keinginanku, aku berusaha untuk memahaminya. Walau sebenarnya otong sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi.

ÔÇ£Adeek..ÔÇØ kak Alya tiba-tiba memanggilku dengan genit. Apakah kak Alya akan berubah pikiran?

ÔÇ£Iya kak, apa kak? Boleh masuk yah?ÔÇØ tanyaku penuh semangat.

Bukaaaann.. Hmm Kakak mau kasih lihat sesuatu yang spesial buat kamu sambil mengedipkan matanya kak Alya tersenyum manis banget. Sungguh seksi gayanya.

ÔÇ£Beneran kak?ÔÇØ
ÔÇ£Hihihi..ÔÇØ
ÔÇ£Kak? Serius nih..ÔÇØ ditanyain dianya malah ketawa.
ÔÇ£Umm.. beneran gak yah? Kok kakak jadi bingung yah dek? Hihi..ÔÇØ kak Alya memanyunkan bibirnya dan mengerutkan alisnya seperti sedang pura-pura bingung.

ÔÇ£Yaah.. kakak? Ga usah bingung-bingung deh!ÔÇØ aku memburu kak Alya supaya tidak ragu-ragu, karena yang tersiksa adalah kontiku juga. Karena apapun yang dia lakukan, selalu akan membuat otongku muncrat tak terkendali.

ÔÇ£Makanya siniin handuk kakak.. entar kakak berubah pikiran lho.. sana gih, ada temen-temennya jugakÔÇØ kata kak Alya mengusirku, tapi demi sesuatu yang membuatku penasaran, aku coba untuk bertahan. Sebentar lagi yah tong, kasihan banget otongku ini, tak berdaya melawan cantik dan genitnya kak Alya.

Sebelum kembali aku melihat pakaian kak Alya di tumpukan keranjang pakaian kotor di sebelah jemuran kecil. Baju yang dia pakai tadi kini kulihat ada bercak-bercak cairan yang sudah hampir mengering! Pasti ini kerjaan ketiga temanku. Kak Alya tahu gak sih kalau pakaiannya jadi korban onani para dedemit cabul itu!? Duh! Ingin rasanya onani juga, tapi teringat apa yang akan kak Alya suguhkan nanti membuatku mengurungkan niatku. Kak Alya ini bener-bener nakal. Selalu saja menggodaku terus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*