Home » Cerita Seks Mama Anak » Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 10

Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 10

Cerita Sebelumnya : Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 9

ÔÇ£Setelah perceraiannya, Nyokap aku lalu menenggelamkan dirinya pada pekerjaannya, hasilnya memang memadai, jabatannya terus naik dan pemasukanpun mengalir deras kedalam kantong, tapi semua itu ditebus dengan hal yang sangat pribadi dari nyokap aku. Dia tidak pernah menghiraukan uluran tangan setiap laki-laki yang tertarik padanya.
Bukan tidak ada, banyak bahkan laki-laki yang mencoba mendekati nyokap, bahkan beberapa orang diantaranya dengan gigihnya mendatangi nyokap kerumah, tapi semua itu ditolaknya, dia bahkan tidak pernah berkencan dengan siapapun juga, kecuali pergi berlibur, itupun biasanya hanya dengan aku.
Sampai-sampai aku bahkan berfikir mungkin nyokap aku memang frigid dan tidak memiliki lagi kebutuhan akan seks., dan anggapan aku itu berlangsung terus sampai kira-kira enam bulan yang lalu, ketika tanpa sengaja aku menyaksikan nyokap tengah bermasturbasÔÇØ.
Kau ingat gak Did waktu itu sekolah kita mau mengadakan acara camping bersama tapi gagal dan akhirnya dilanjutkan dengan acara api unggun disekolah?ÔÇØ tanya Restu padaku. Aku mengangguk mengiyakan. ÔÇ£Nah saat itu aku pamit pada nyokap mau camping, tapi setelah acaranya beralih ke api unggun disekolah, maka saat murid-murid yang lain tidur disekolah, aku nyelonong pulang sendiri kerumahÔÇØ kata Restu sambil mematikan puntung rokoknya, dan menghirup minuman dalam gelasnya.
ÔÇ£Aku masuk rumah langsung kekamar aku sendiri dan dengan menggunakan kunci yang aku bawa sendiri, jadinya nyokap tidak tahu kalau malam itu aku ada dirumah. Saat aku mau ngambil air minuman, saat itulah aku menyaksikan nyokap tenmgah bermasturbasi dengan menggunakan dildo.
Akh pemandangan saat itu sukar aku ceritakan, yang pasti aku terangsang berat, melihat nyokap aku akhirnya meraih orgasme, sungguh pemandangan yang tidak akan aku lupakan selama hidup aku. Sejak saaat itulah aku jadi kerajingan seks, dan sering mengintip-intip nyokap dalam segala keadaan, baik dia lagi tidur ataupun mandi.
Sampai akhirnya saking tidak tahannya aku ngajak pacar aku yang anak anak SMA V untuk bersetubuh, dan hasilnya aku orgasme memang, tapi rasanya hambar dan ada yang tidak terpuaskan jauh didalam diri aku. Sejak saat itu aku bersumpah suatu hari nanti aku harus melakukannya dengan nyokap aku sendiri.
Lalu sementara cita-cita aku belum terlaksana, iseng-iseng aku ngegoda Bi Leha, wanita yang kurang lebih sebaya dengan nyokap, dan hasilnya aku bisa menikmatinya, jauh lebih baik dibanding dengan mantan pacar aku ituÔÇØ.
ÔÇ£Bagaimana aku berhubungan dengan Bi Leha, kau bukan cuma pernah mendengar ceritanya, kau sendiri bahkan pernah meyaksikannya bukan?ÔÇØ kata Restu sambil nyengir padaku.
Aku hanya mesem saja mendengar pertanyaannya, dalam hati aku berkata ÔÇ£aku juga bukan Cuma menyaksikan kau ngegituin Bi Leha, tapi aku sendiri juga pernah menikmatinyaÔÇØ. Tapi biarlah untuk saat ini Restu tidak perlu tahu fakta ini.

ÔÇ£Nah kau ingat bulan lalu kita pernah pergi kerumah si Nita, ceweq gebetan kau?ÔÇØ tanya Restu, kembali aku mengangguk. ÔÇ£Nah nyokapnya si Nita rupanya seorang dokter, dan dirumahnya aku sempat menemukan lemari kecil tempat obat-obatan, disitu aku nyuri dua butir pil tidurÔÇØ lanjut Restu sambil kembali nyengir.
ÔÇ£Sejak megang pil tidur, aku mulai merencanakan cara dan jalan untuk bisa meniduri nyokap aku, lalu pucuk dicinta ulampun tiba, nyokap ngajak aku berlibur ke sebuah perkebunan teh, sebuah tempat yang samngat dingin bro.
Sejak ngedenger ajakan nyokap, aku langsung berburu dua hal, yang pertama adalah obat perangsang buat wanita, dan yang kedua adalah film semi blue. Obat perangsang bsa aku dapatkan dengan mudah, tapi film semi seperti itu, payah juga aku nyarinya. Untunglah akhirnya bisa aku dapatkan juga.
Jadilah malam pertama kita berlibur, sehabis makan malam, aku mencampurkan dua macam obat itu kedalam minuman nyokap. Dan nyokap meneguk habis gelas yang berisi minumannya. Lalu aku sengaja mengajaknya nonton film yang aku bawa, meskipun aku harus pura-pura menemukannya ditempat itu.
Sengaja aku ngajak nyokap nonton diatas kasur yang di hamparkan ditengah ruangan, dan bukan di kamar. Setelah beberapa waktu nonton, nyokap sempat protes dengan mengatakan tidak baik aku menonton film kayak begituan, tapi protesnya juga tidak terlalu keras karena hanya film semi saja.
Jadi aku abaikan saja protesnya, sampai akhirnya pengaruh obat muncul, yang pertama nyokap mulai agak resah duduknya, aku sadar nyokap mul;ai terangsang oleh film yang kita tonton. Saat aku tanya, eh malah nyokap membneri alasan bahwa dia ngantuk dan mau tidur di kamarnya.
Tentu saja aku cegah sambil berkata aku ngeri ditinggalin sendiri, tapi filmnya juga penging aku tonton sampai habis. Jadi yah singkat cerita akhirnmya nyokap setuju untuk tiduran di kasur depan TV, sekalian nemenin aku.
Akhirnya nyokap justru tertidur karena pengaruh obat tidur yang aku berikan, tapi bahkan dalam tidurnya, nyokap terlihat agak resah, bukan saja karena pengaruh obat perangsang, tapi karena aku mulai menukar film dengan film blue beneran, dan suara erang serta rintih di film itu sengaja aku sedikitdikerasin, sehingga terbawa ke alam mimpi nyokap.
17
Aku sempat memeriksa nyokap dengan mengguncang tubuhnya dan memanggil namanya, tapi ternyata dia sudah sangat pulas, memang paten obat tidur yang aku curi, padahal aku cuma ngasih separuhnya. Setelah yakin nyokap terlelap, aku mulai melakukan aksiku. Pertama tentu saja mengamankan lingkungan, aku periksa semua pintu, untuk memastikan semua terkunci dari dalam, begitu juga dengan gorden, pokoknya semua tertutup rapat.

Nyokap aku tidur dengan posisi terlentang dengan kepala di ganjal dua bantal, satu bantal besar, dan satu lagi bantal normal, perlahan aku geser bantal besarnya sehingga kini dia hanya memakai bantal normal. Lalu kugeser baju yang dipakai nyokap, meskipun dengan susah payah plus dada aku yang sakit karena jantung aku yang berdebar kencang, akhirnya terlepas juga baju nyokap.
Uh… mataku terpaku pada tubuh nyokap, yang kini hanya memakai bra dan CD, Sekarang terlihat paha nyokap yang bulat, besar, dan putih bersih nggak ada bekas lukanya. Perutnya rata berisi. Gundukan CDnya warna krem. Menyembul di atas perutnya buahdada besarnya yang ditutupi BH warna krem juga.
Setelah jantung agak mereda dan tidak berpacu seperti mobil disirkuit, perlahan kulepas juga sisa baju nyokap, dan tergoleklah nyokap tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Ternyata jembut memiauw nyokap lebat sekali.
Nafasku kembali memburu Keringat dingin mengucur di badanku, padahal angin malam yang dingin dari luar menerobos masuk dari atas lubang pintu. Tongkolku yang terbungkus CD dan celana pendek sudah tegang banget sejak tadi.
Aku beringsut ke bawah kaki Nyokap, lalu kurenggangkan kakinya. Wuaah! Ini pengalamanku yang kuingat terus sampai sekarang. Pertama kalinya Aku bisa melihat memiauw nyokap dengan bebas, ya saat itu. Hmm, indah sekali.
Lalu kurenggangkan lagi kaki Nyokap lebar-lebar sampai badanku dapat duduk bebas di antara selangkangan kakinya. Nyokap masih pulas meskipun agak resah, karena udara dingin yang menyapu tubuhnya yang tidak terbalut sehelai benangpun.
Aku mulai merunduk di atas memiauw Nyokap. Kubuka Memiauwnya yang tembem dan rapat itu dengan kedua tanganku, perlahan. Hmm, kuciumi Memiauwnya. Wanginya khas cairan pembersih kewanitaan nyokap, tapi justru wangi ini yang selalu aku rindukan.
Aku ingat banget, lubang luar Memiauwnya sempit, cuma segaris saja keliatannya dari luar.Pas kusibak, warna pinggir lubangnya merah tua dan dindingnya tebal, lembut, dan lubang dalamnya merah muda serta berkilat. Napasku mulai terengah-engah.
Aku sibakkan memiauw itu dengan tanganku. Lubang Memiauw Nyokap semakin kuperlebar. Lama kuperhatikan. Kini terlihat dua belah bibir kecil dengan lubang kecil ditengahnya. Bibir kecil dan lubang kecil itu berwarna merah jambu dan agak basah. Tongkolku semakin keras. Jantungku berdetak keras.
Dengan tangan kiri, kutahan bibir Memiauw Nyokap, lalu kumasukkan jari telunjuk tangan kananku ke dalam lubang kecil itu. Aah, terasa lembut sekali daging merah jambu didalamnya. Lalu kuangkat jariku, kuciumi baunya. Ooh aku begitu terangsang sehingga hampir terpancut air mani aku.

Lalu kumasukkan lagi jari tengahku ke dalamnya, kugosok-gosokkan perlahan jariku di dinding-dinding dalam Memiauw Nyokap. Uuh, terasa lembut sekali daging basah di dalamnya. Lama Aku begitu sambil sesekali mengelus-elus bibir luarnya dan menjilat-jilatnya dengan lidahku. Semakin penasaran, kumasukkan dua jariku ke dalam lubang kecil Memiauw Nyokap. Ah, ternyata muat, lalu kugosok-gosokkan lagi bergantian dengan masuknya ujung lidahku ke dalam lubang kecil itu. Agak asin-asin gurih gitu, rasanya. Tongkolku semakin keras dan terasa menyakitkan dibungkus CD dan celana pendek.
Nyokap semakin resah dalam tidurnya, nafasnya mulai memburu, terkadang dalam tidurnya, bibirnya mengeluarkan suara rintihan nikmat, yang begitu menggetarkan sukmaku. Aku benar-benar dalam saat itu seperti seorang perjaka ting-ting saja.
Perlahan kuambil posisi badanku di atas Nyokap, lalu kucoba memasukkan tongkolku kedalam memiauw nyokap, dengan satu tangan, kudekatkan tongkolku ke Memiauwnya Nyokap. Kugosok-gosokan di bibir luar Memiauw dan bulu jembutnya. Seer, seer, asik deh. Terus, kucoba masukkan tongkolku ke dalam Memiauwnya.
Lubang memiauw nyokap mulai semakin basah dan semakin licin, dan dengan satu tangan kumasukkan tongkolku. Bless! Masuk kepala tongkolku yang berkilat dan licin. Pelan-pelan kusodokkan lagi dibantu dengan tanganku. Bless! Makin dalam. Rasanya hangat gitu. Nyokap masih pulas, tapi erangan lirih keluar dari bibirnya, dan badannya sedikit tergeliat..
Perlahan dengan napas memburu, kumaju-mundurkan tongkolku. Ugh! Rasanya hangat dan nikmat sekali, tercapai juga cita-citaku selama ini. Mungkin karena pemgaruh nafsu yang menguasai diriku, aku sulit sekali mengontrol diriku.
Apalagi tubuh nyokap juga memberikan reaksi, dalam tidurnya tangan nyokap mulai memeluk punggungku, sedangkan pantatnya mulai memberikan goyangan yang aduhai sekali. Setelah sekitar sepuluh menit Aku maju-mundurkan tongkolku. Keringat dingin makin deras menetes dari badanku. Jantungku makin berdegup kencang.
Sedapat-dapatnya aku bertahan untuk tidak langsung ngecret, dan berusaha menyusuri semua titik lemah wanita yang aku tahu, tapi orgasme itu datang begitu cepat, untunglah saat itu terjadi, keluar masuknya tongkolku menjadi tidak terkendali, dan rupanya menyentuh G spot nyokap.
Akibatnya hampir bersamaan tubuh kami tiba-tiba mengejang, ÔÇ£oughhh….ÔÇØ lenguhku akhirnya keluar juga, meskipun aku sejak awal berusaha untuk tidak bersuara. Tapi lenguhkuitu langsung disambut dengan erang keras nyokap ÔÇ£ooohhhh…. akhhh…ÔÇØ kurasakan dinding memiauw nyokap berdenyut keras memijit tongkolku, bersamaan dengan muncratnya air maniku didalam lubang memiauw nyokap, cruuut…creeet.

Sejenak aku terbadai, lalu setelah agak tenang, kututupkan sehelai selimut tebal yang kupersiapkan ketubuh kami berdua, dan kucoba merubah posisi tidur mama yang terlentang jadi miring menghadapku. Setelah itu aku pura-pura tidur.
Selang sejam kemudian kurasakan nyokap mulai terbangun, aku masih tetap dalam posisi purapura tidur. Tiba-tiba terdengar pekik nyokap aku, ÔÇ£Aaahh… apa…apa yamng telah kau lakukan Restu..ÔÇØ pekik nyokap sambil mencoba bangkit.
Tapi dia segera berjongkok kembali dan meraih selimut, saat dia menyadari ketelanjang bulatannya. Akibat dari tarikan selimut itu, maka tubuhku yang bugil segera terpampang dimuka nyokap berikut tongkolku yang sudah mengeras kembali.
Mata nyokap tampak terbelak seprti melihat hantu disiang bolong. Aku pura-pura baru bangun tidur, ÔÇ£kenapa Ma?ÔÇØ tanyaku pada nyokap. ÔÇ£Ha…haram jadah… apa yang telah kamu lakukan pada diriku?ÔÇØ damprat nyokap padaku.
Kukerutkan keningku, ÔÇ£aku lakukan? Bukankah tadi saat mama tidur mama yang mulai memelukku, dan mencium aku? Lalu karena kupikir mama yang memintaku, dan lagi aku laki-laki normal, maka jadilah kita bersetubuh, lalu kenapa sekarang aku yang dipersalahkanÔÇØ tangkis aku kepada nyokap.
Nyokap tertegun sejenak, lalu pecah lah tangisnya, dan sengaja aku biarkan dia menangis beberapa lamanya, sampai akhirnya kupeluk tubuh nyokap sambil berkata ÔÇ£sudah lah Ma, apa yang sudah terjadi tidak dapat dirubah lagi, kupikir tadi mama yang menginginkannya, karena terlihat sekali mama sangat menikmatinya, begitu juga aku, sangat menikmati semua itu, karena mama sudah lama jadi wanita impiankuÔÇØ kata aku sambil mengelus rambutnya.
Awalnya nyokap memberontak, tapi aku tidak melepaskan pelukan aku, sampai akhirnya dia menyerah dan menangis di dada aku yang telanjang. ÔÇ£Aku tidak tahu bagaimana perasaan mama, yang jelas aku tidak menyesalinya, dan bahkan berharap bisa terus melakukannya dengan mama, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan biologis mamaÔÇØ kata aku ditelinga nyokap.
Mendengar kata-kataku, nyokap makin keras lagi tangisnya, tangannya memukul-mukul dadaku, ÔÇ£ini tidak benar!… ini sungguh terlarangÔǪ Oh apa yang telah kita lakukanÔÇØ nyokap tampaknya histeris, karena kata-kata itu terus diucapkannya secara berulang disela tangisnya, sambil tangannya memukul-mukul dadaku.
ÔÇ£Ma dengarlah! Nasi telah menjadi bubur, ibarat orang yang menyebrang pulau melintasi lautan, maka kini kita telah menapak di pantai pulau tujuan, sementara perahu yang mengantar kita telah karam, jadi percuma kita menyesalinya, karena itu tidak dapat mengembalikan kita pada keadaan semulaÔÇØ bujukku kepada nyokap.

Cukup lama juga aku berusaha menenangkan nyokap, akhirnya isak tangisnya mereda. Aku bimbing nyokap kedalam tempat tidurnya, dan kubaringkan ditempat tidur, serta kuselimuti tanpa mengenakan bajunya. Dan nyokap yang kelelahan akhirnya tertidur lagi.
Paginya, sengaja aku memberikan layanan kamar, dengan membawakannya sarapan dan segelas minuman kesukaannya, sudah tentu minuman itu telah kucampuri lagi dengan obat perangsang. Lalu sengaja kubangunkan nyokap yang masih terlelap sekalipun jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi.
ÔÇ£Selamat pagiÔÇØ sapaku saat nyokap membuka matanya, dan aku segera melayaninya dengan sarapan yang kubawa. tanpa sekalipun menunjukkan bahwa tadi malam telah terjadi peristiwa itu.
Meskipun nyokap tampak heran bin kaget serta rikuh, tapi dia menerima juga layanan kamarku, tanpa banyak bicara. Aku benar-benar melayaninya saat itu dengan tulus, sampai akhirnya nyokap selesai menyantap sarapannya, berikut obat perangsang yang aku berikan.
Selesai sarapan, aku sengaja mengajaknya bicata ngalor ngidul, sambil menunggu reaksi obat yang kuberikan, dan aku terus mengajaknya bicara, meskipun jadi seperti monoton, karena nyokap tidak membalas semua pembicaraanku. Aku baru berhenti setelah nyokap berkata Restu apa yang telah terjadi semalam kata-kata nyokap segera kupotong sudahlah ma, apa yang telah terjadi tidak perlu disesali lagi kataku sambil mencium dahinya.
Nyokap tampak tertegun dan memandangku, kubalas pandangannya dengan sangat mesra, ÔÇ£tidak perlu lagi kita bahas apa yang telah terjadi ok!, lebih baik kita menikmati hidup kita yang singkat iniÔÇØ lanjutku pada nyokap.
Saat nyokap tertegun, kuambil kesempatan itu untuk mengulum bibirnya, mula-mula nyokap tidak memberikan respon, tapi lama-lama bibirnya membalas kulumanku, dan aku mulai meningkatkan seranganku dengan lebih ganas lagi, lidahku mulai beraksi menjilat serta menujah mulut nyokap.
Sesaat kemudian nyokap mulai membuka mulutnya, dan membiarkan lidahku masuk kedalam mulutnya. Bahkan lidahnya juga mulai balas menjilat dan melilit lidahku, akhhh nikmat sekali berciuman dengan perempuan yang paling kau dambakan secata aktif begini.
Aku yakin obat perangsang telah bekerja di tubuh nyokap, karena itu ketika ciuman kami terlepas, aku tidak mencegahn nyokap yang menarik kepalanya serta memandangku dengan penuh selidik, ÔÇ£Restu benarkah yang kau katakan semalam bahwa kau menginginkan mama?, tapi kenapa mama?ÔÇØ tanyanya.
Aku mengangguk pasti, sambil membuka tshirt ku, dan celana gombrang yang kupakai, lalu langsung menyusup kedalam selimut, segera kurasakan tubuh nyokap yang telanjang menyentuh tubuhku yang juga bugil. Mama sudah tua lho Res kata nyokap kepadaku.

Tanpa menghiraukan kata-katanya kupeluk tubuhnya dengan erat, sambil menciumnya lagi. Puas berciuman, kubuka selimut yang menutupi tubuh kami berdua. Dan kupandangi memiauw nyokap. Memiauw Nyokap lebar dan membukit.
Jembutnya sangat lebat dan hitam pekat. Kontras dengan pahanya yang kuning langsat sampai ke selangkangannya. Puas memandangi bagian paling merangsang di selangkangan wanita itu, keinginanku untuk menyentuhnya menjadi tak tertahan. Kujulurkan tanganku untuk menyentuhnya.
19
Kuusap-usap jembutnya yang keriting dan tumbuh panjang. Jembut Nyokap benar-benar super lebat menutupi memiauwnya. Hingga meski telah mengangkang, masih tidak terlihat lubang memiauwnya karena tertutup rambut lebat itu.
Kuusap-usap dan kusibak jembut yang tumbuh sampai ke atas mendekati pusar wanita itu dan di bagian bawah mendekati lubang duburnya. Menimbulkan bunyi kemerisik. Untuk bisa melihat lubang memiauwnya, aku memang harus menyibak rambut-rambut yang menutupinya dengan kedua tanganku. Bibir luar memiauw Nyokap tampak tebal dan kasar karena sudah banyak kerutan dan warnanya coklat kemerahan.
Di bagian dalam lubang memiauwnya yang berwarna kemerahan, ada lipatan-lipatan daging agak berlendir dan sebuah tonjolan. Rupanya itulah klitoris nyokap, pikirku. Tidak seperti ukuran memiauwnya yang besar, tebal dan tembem, klitoris Nyokap relatif kecil.
Hanya berbentuk tonjolan daging kemerahan di ujung atas celah bibir luar kemaluannya yang sudah berkerut-kerut. Kusentuh-sentuh klitorisnya itu dengan jari telunjukku yang sebelumnya kubasahi dengan ludah. Ia mendesah dan sedikit menggelinjang.
ÔÇ£Kamu sudah sering begituan dengan perempuan Res..? Ee.. maksud mama ngentot dengan perempuan?ÔÇØ tanya nyokap yang mulai terengah. ÔÇ£sering sich tidak Ma, tapi yang jelas aku pernah melakukannyaÔÇØ jawabku sambil tetap asyik dengan ulahku.
Dan nyokap semakin terbakar oleh api birahinya, sehingga terdengar desahan-desahan tertahan dari mulutnya, yang semakin lama semakin keras.Lalu tiba-tiba dia mulai duduk dan memperhatikan aku.
ÔÇ£Oooww.. punya kamu besar juga ya ResÔÇØ kata nyokap sambil membelai tongkolku yang telah tegak mengacung. Nyokap tidak hanya membelai dan mengagumi tongkolku yang telah keras terpacak. Setelah menjilat-jilat lubang di bagian ujung kepala penisku, ia memasukkan batang tongkolku ke mulutnya.
Aku jadi merinding menahan kenikmatan yang tak pernah terbayangkan. Tubuhku tergetar hebat. Sesekali kurasakan mulutnya mengempot dan menghisap batang tongkolku yang kuyakin semakin mengembang. Lalu dikeluarkan dan dikocok-kocoknyanya perlahan.

Ah, teramat sangat nikmat. Sangat berbeda bila aku melakukannya denagn bi Leha. Saking tak tahan, tanpa sadar aku memegang dan mengusap-usap rambut Nyokap yang semestinya tidak pantas kulakukan mengingat usia dan sekaligus statusnya.
Tetapi Nyokap tak peduli. Ia terus asyik dengan tongkolku. Dikulum, dihisap dan dikocok-kocoknya perlahan dengan gemas. Seperti wanita yang baru melihat kejantanan milik pasangannya. Mungkin karena sudah lama nyokap tidak melakukannya dengan laki-laki.
Sambil menikmati kocokan dan kuluman Nyokap pada tongkolku, kuremasi teteknya. Tetek Nyokap gede dan sudah agak menggelayut bentuknya. Namun sangat lembut dan enak di remas. Bahkan puting-putingnya langsung mengeras setelah beberapa kali aku memerah dan memilin-milinnya.
Tak kusangka nyokap ternyata sedemikian lihai dalam urusan kulum mengulum tongkol. Aku dibuat kelojotan menahan nikmat setiap ia menghisap dan memainkan lidahnya di ujung kepala tongkolku.
Bahkan saat Nyokap mulai mengalihkan permainannya dengan menjilati kantung pelirku dan menghisapi biji-biji pelir tongkolku, aku tak mampu bertahan lebih lama. Pertahananku nyaris jebol. Karenanya aku berusaha menarik diri agar air maniku tidak muncrat ke mulut atau wajah Nyokap.
Namun Nyokap menahan dan menekan pinggangku. ÔÇ£Mau keluar Res ? Muntahkan saja di mulut mamaÔÇØ ujarnya sambil langsung kembali menghisap penisku. Akhirnya, pertahananku benar-benar ambrol meski telah sekuat tenaga untuk menahannya karena merasa tidak enak mengeluarkan mani di mulut Nyokap.
Sambil mendesis dan mengerang nikmat air maniku muncrat sangat banyak di rongga mulut Nyokap. Cairan kental warna putih itu kulihat berleleran keluar dari mulut wanita itu. Tetapi ia tidak mempedulikannya.
Bahkan menelannya dan dengan lidahnya berusaha menjilat sisa-sisa maniku yang berleleran keluar. Terpacu oleh kenikmatan yang baru kurasakan dan banyaknya air mani yang keluar membuat tubuhku lemas seperti dilolosi tulang-tulangku.
ÔÇ£Gimana Res, enak?ÔÇØ, ÔÇ£Enak banget MaÔÇØ, ÔÇ£Nanti gantian ya, punya mama dibikin enak sama kamu. Mama ke kamar mandi dulu,ÔÇØ ujarnya berdiri dan melangkah ke kamar mandi.
Saat kembali dari kamar mandi, baru kusadari Nyokap masih bugil tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. Aku kembali terpaku pada tubuh bahenolnya yang masih mulus. Wanita berpinggul besar dan berdada montok meskipun sudah agak kendur itu.
Tubuh nyokap masih sangat menggoda. Jembutnya yang keriting lebat terlihat basah. Mungkin habis dibersihkan di kamar mandi untuk menghilangkan bekas air maniku. ÔÇ£Giliran mama Res!ÔÇØ ujarnya sambil mengerling genit dan mendekat serta berdiri tepat di tempat aku duduk di pembaringan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*