Home » Cerita Seks Mama Anak » Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 8

Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 8

Cerita Sebelumnya : Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 7

Hampir setengah jam aku berenang, puas berenang aku kembali ketepian, kulihat ibuku masih bermalas -malasan. Sambil mengeringkan badanku dengan handuk, akupun kemudian ikut berbaring di kursi sebelah ibuku, berjemur menikmati hangatnya udara.
Tiba-tiba ibuku bangkit dan kini dalam posisi duduk, kulihat dia membuka kaosnya, nampak keteknya yang bersih tanpa sedikitpun ditumbuhi bulu, dan warnanya juga tidak menggelap. Kulihat BH bikininya bergoyang saat ibuku mengangkat kaos. Ugh…tongkolku langsung mengeras, kuarahkan pandangan mataku terfokus ke daerah dada ibuku.
Tampak BH bikininya seperti sedikit kekecilan, karena besarnya buah dada ibuku, yang masih tampak tegak menantang. Lalu ibuku masih sambil duduk di tepi kursi, membuka celana thongnya, sehingga nampak lah celana bikininya yang sangat seksi, menjadikan pinggul dan pantatnya yang montok dan berisi terlihat jelas. tongkolku mengeras sejadi-jadinya. Lagi enak-enaknya terpesona, kudengar suara ibuku ÔÇ£Did tolong usapin lotion tabir surya ini!ÔÇØ.
Wah sungguh tawaran yang menggiurkan, tanpa menunggu diperintah dua kali, aku segera menghampiri ibuku yang berbaring tengkurap. Akupun segera memulai tugasku, Posisiku berdiri membungkuk dengan kaki mengankang di atas pantat ibuku.
Segera kutuang lotion ke tanganku, akupun segera mengusapkannya ke punggung dan badan ibuku. Sengaja aku mengusap-ngusap dengan agak bertenaga sedikit, seperti memberikan pijatan. Sepertinya ibuku menikmatinya. ÔÇØEnak Did, rasanya nyaman, bikin pegel mama hilang. Sekalian deh kakinyaÔÇØ pinta ibuku.
ÔÇØBoleh deh, tapi itu tali BHnya dibuka ya, biar tanganku nggak nyangkut- nyangkutÔÇØ jawabku yang kegirangan setengah mati, meskipun begitu kuusahakan suaraku se acuh mungkin. ÔÇØYa sudah, kamu tarik sendiriÔÇØ jawab ibuku.
Akupun segera menarik tali BH bikini tersebut, kuambil lotion kembali, sengaja aku memulai dari kaki, kuusap lotion dan memulai memijit dari telapak kaki, lalu betis, naik lagi ke paha, lalu tanganku sampai ke daerah CD, sengaja aku lebarkan kaki ibuku pelan-pelan.
Nampak belahan pantatnya yang montok, kupijit dengan lembut kedua belahan pantatnya, jariku juga dengan perlahan dan sesekali menyentuh ÔÇØtanpa sengajaÔÇØ bagian terluar daerah memiaw ibuku yang tertutup CD. Ibuku juga diam saja, entah tidak tahu atau sangat menikmati pijitanku.
Cukup lama aku memijat daerah pantat ibuku, rasa-rasanya aku juga mencium bau aroma menyenangkan yang belum lama kukenal, dan CD di daerah memiaw ibuku mulai basah. Akupun meneruskan pijatanku dengan khidmat, tidak berani aku terlalu lama disana, takut ibuku curiga.
Aku pun mengambil kembali lotion, kali ini aku duduki pantat ibuku, lalu aku mulai memijat punggung ibuku. Kuusap-usap dan kubelai dengan lembut dan bertenaga bergantian. Saat sampai bagian tengah punggungnya, sengaja aku lebarkan jari ÔÇô jari tanganku, dan sedikit menyentuh bagian pinggir buah dadanya. Nampaknya ibuku benar-benar enjoy dengan pijitanku, membiarkan saja semua ulahku memijatnya. Tanpa terasa tongkolku makin mengeras dan berdenyut ÔÇô denyut.

Lalu kusadari semakin banyak laki-laki yang berlalu lalang disekitar kami, sambil berjalan pelan-pelan. Dan rata-rata celana mereka di daerah selangkangan membonggol, aku segera sadar, kalau ibuku telah merangsang begitu banyak orang, dan bukan hanya aku sendiri.
Karenanya segera kusudahi aksi memijatku, kuikatkan kembali tali BH bikininya, sambil berkata Ma udahan ya aku capek kataku kepada ibuku. Uh pijatanmu enak sekali Did, pegal mama hilang nich, bentar lagi dong pinta ibuku kepadaku.
ÔÇØOgah ah ÔǪ capek, memangnya bagian depan juga mau dipijit ?ÔÇØ tanyaku belagak lugu. ÔÇØYehh…itu sich mama juga bisa sendiri, ya sudahÔǪ, makasih ya sayang, tapi setelah mama tahu pijatanmu enak, maka kamu harus sering-sering memijat mamaÔÇØ kata ibuku sambil bangkit dan duduk.
Sejenak ibuku mereggang-regangkan badannya, lalu berlari ketepi pantai dan nyemplung berenang dilaut, aku sedikit terkesima melihat goyangan pantat dan pinggul ibuku saat berlari, lalu dengan serta merta akupun berlari menyusulnya, dan ikut berenang juga.
Jadilah kami bermain di dalam air, saling susul dan bercanda berdua. Acapkali saat berenang itu kulit tubuhku bergesekan dengan kulit tubuh ibuku yang putih mulus dan halus itu, membuat tongkolku berdiri tegak bagai tiang bendera.
Bahkan dua tiga kali telapak tanganku sempat menclok di buah dadanya, merasakan kepejalan yang hangat dari buah dadanya. Sekali pahaku bahkan sempat mampir diselangkangan ibuku saat ibuku berusaha mendorong kepalaku kedalam air.
Aku sendiri terus berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan, tapi sampai saatnya kami naik dan kembali ke hotel aku tidak mendapat banyak kesempatan itu. Bahkan sampai akhirnya kami pulang kerumah, aku tidak mendapat tambahan pengalaman lain yang mendebarkan.
Menjelang gelap aku sudah sampai kerumah, lalu setelah membereskan semua barang bawaan, kulihat ibuku berniat mandi, akupun segera mendahuluinya masuk kedlam kamar mandi di kamarku, dan bersiap mengintip saat ibuku mandi.
Benar saja tak lama kemudian ibuku masuk kedalam kamar mandi, dengan hanya mengenakan sehelai handuk besar yang dililitkan ditubuhnya, menutup dari atas dada sampai pertengahan paha. Lalu setelah meyiapkan bath tube, serta lotion mandinya, maka ibuku mulai membuka handuknya.
Mataku terbelak lebar, dan nafasku serasa tertahan didada, kulihat buah dada ibuku yang besar dan berbentuk bulat seperti bola tepat didepan mataku. Buah dada itu masih tegak dan sangat sedikit sekali melorotnya, dihiasi dengan sepasang puting yang berwarna merah kecoklatan, senada dengan lingkaran aerolanya. Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan. Dada yang membusung itu ditimpali dengan perut yang masih cukup rata dan pinggang yang ramping.

Semakin kebawah lagi tampaklah bulu jembut yang tercukur rapi, menghiasi daerah mentung dari memiauw ibuku, saying aku tidak bias melihat dengan jelas belahan memiauwnya, karena dalam posisin berdiri seperti itu, adalah mustahil terlihat. Semuanya dilengkapi dengan pinggul dan pantat ibuku yang membulat demplon.
Lalu perlahan ibuku mulai masuk kedalam bath tube, lagi-lagi aku gagal melihat belahan memiauwnya, tapi kemudian ada suatu hal yang membuat mataku kembali terbelak, ternyata ibuku tidak langsung mandi, tapi sebelah tanganny mulai bermain-main dengan buah dadanya, sedang sebelah tangan lagi mengelus-elus daerah memiauwnya.
Ternyata ibuku kembali bermasturbasi, cukup lama juga ibuku melakukannya, mungkin sekitar sepuluh-lima belas menit, dia melakukan hal itu, lalu wajahnya yang memerah tiba-tiba tertengadah dengan mata terpejam rapat, dan mulut sedikit terbuka, lepaslah erangan nikmatnya.
Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan, dalam keadaan orgasme, ternyata wanita menjadi semakin cantik dan menggairahkan. Terengah aku melihatnya, dengan gelisah aku langsung keluar rumah, setelah ibuku mulai mandi.
Niatku aku mau bikin janjian dengan Yu Darsih. Tapi sesampainya disana kembali aku kecewa karena kulihat kedua anak Yu Darsih ada di kios itu, bertiga dengan Yu Darsih tampak tengah bercakap-cakap. Yu, rokoknya pintaku sambil mengangsurkan uang 20 000 an.
Saat aku memberi isyarat, Yu Darsih membalasnya dengan menggelengkan kepala lemah, aku sadar dia memberitahu bahwa kami tidak bias melakukan hal itu. Dengan lemas aku kembali kerumah. Sepanjang malam itu aku benar-benar bête dibuatnya, apalgi ibuku yang tampak sedikit kelelahan langsung tidur setelah makan malam.
Kisahku Bab 4 The First Expanding
Besoknya aku segera pergi ke rumah Restu, beban berat didada ini ingin sedikit kulimpahkan dengan bercerita padanya, bahwa kini aku telah memiliki pengalaman ngeseks yang nyata dengan wanita separuh baya.
Sesampainya disana, kulihat rumah Restu masih sepi, mobilnya pun yang biasa di parker di carport tidak Nampak. apa masih belum pulang? pikirku, tapi karena sudah kadung dating, aku pencet juga bel rumahnya. Tingtong. Tidak menunggu lama terlihat pintu terbuka, dan nampak Bi Leha didepan pintu.
Eh Mas Adid, masuk mas ajaknya padaku. Aku langsung melangkah masuk kedalam rumah. Restunya mana bik? tanyaku pada Bi Leha. oh mas Restu sama mamanya belum pulang, mas Adid jawabnya kepadaku.
ÔÇ£Lho kan rencananya mereka akan pulang hari kemarin?ÔÇØ tanyaku sambil memperhatikan seluruh tubuh Bi Leha dengan teliti. ÔÇ£Iya mas, rencananya memang begitu, tapi gak tahu tuh kenapa belum pulangÔÇØ sahut Bi Leha sambil sedikit tersipu.

Aku yang kecewa hampir saja pulang, ketika sebuah ingatan muncul di benakku. ÔÇ£Bi.. boleh aku ikut beristirahat sebentar? Aku lelah juga habis kesana kemari dari tadi pagi butaÔÇØ kataku berbohong. ÔÇ£Oh silahkan mas, tapi maaf bibik masih ada kerjaan di belakang, jadi ditinggal yaÔÇØ katanya sambil tersenyum.
Aku memperhatikan goyangan pantat Bi Leha, yang hanya mengenakan sehelai kain, dan baju kebaya. Kedua-duanya tampak sudah agak lusuh, tapi dengan jelas memperlihatkan bentuk tubuhnya, yang memang mengundang selera.
Jelas Bi Leha tidak mengenakan celana dalam dibalik kainnya itu, dan ketika kuingat-ingat, rasanya dia juga tidak mengenakan bra, karena samar-samar kulihat bayangan hitam putting buah dadanya dibalik baju kebayanya, yang terbuat dari bahan agak tebal.
Sambil melamunkan berbagai kemungkinana, aku duduk di kursi yang ada diruang tamu tersebut. Tidak lama kemudian Bi Leha datang lagi dengan membawa nampan yang berisi gelas air minum dan sepiring kue kering. ÔÇ£Ma kasih BiÔÇØ kataku sambil langsung menyeruput air minum yang dibawakannya, karena tiba-tiba aku jadi haus. Aku hanya mengiyakan dengan menganggukkan kepala ketika dia pamit mau kebelakang lagi.
Setelah menimbang, menganalisa, dan mengevaluasi berbagai keadaan, aku segera bangkit dan mengunci pintu depan, dibibirku tersungging senyum nakal, aku aku sudah membayangkan, bahwa rasa haus ku akan segera terobati. Kulangkahkan kaki ke bagian belakang rumaah Restu.
Didapur kulihat Bi Leha tengah mencuci beberapa peralatan masak dan makan yang kotor. Kuhampiri dia sambil bertanya ÔÇ£Bibik tidak takut ditinggal sendiri?ÔÇØ kataku sambil tersenyum. ÔÇ£Ah takut apa Mas? siang hari begini kokÔÇØ jawab Bi Leha sambil membalas senyumku.
ÔÇ£Iya Bibik memang pemberani< eh Bik aku boleh tanya tidak?ÔÇØ kataku sambil berjalan semakin dekat kearahnya. ÔÇ£Mau nanya apa mas, Tanya sajalah, bibik tidak keberatan kokÔÇØ jawab Bi Leha sambil terus mencuci di washtapel dapur.
ÔÇ£Kenapa waktu itu bibik telanjang bulat?ÔÇØ kataku langsung menembak pada sasaran. Bi Leha tidak menjawab, hanya mukanya saja yang tiba-tibaa memerah ditundukkan, badannya tampak sedikit gemetar. ÔÇ£Lebih dari itu Bik, dipaha Bibik waktu itu kulihat adaa caitan kental, sebenarnya habis apaan sich BibiK?ÔÇØ kataku mempertajam seranganku.
ÔÇ£Bibik habis ML ya?, dan karena saat itu hanya ada aku, bibik dan Restu dirumah ini, pasti bibik ML dengan RestuÔÇØ kataku menembakan peluru terakhirku. ÔÇ£Bibik memng pemberani, tidak takut diketahui
tante Wati dan Mang Sarno suami bibikÔÇØ kataku semaklin menekan.
Sekujur tubuh Bi Leha gini benar-benar gemetaran, wajahnya pun langsung pucat. Sambil menoleh padaku Bi Leha berkata ÔÇ£Mas Adid tolong jangan cerita sama siapa-siapa ya, terutama pada Bu Wati mamanya Restu dan kang Sarno suami bibikÔÇØ katanya dengan suara memelas.

Aku tersenyum menyeringai, ÔÇ£boleh saja Bik, tapi aku juga punya permintaan pada Bi LehaÔÇØ kataku sambil memandangnya tajam-tajam. ÔÇ£Apapun permintaan Mas Adid, pasti bibik penuhiÔÇØ katanya dengan suara lirih.
ÔÇ£Ada dua hal Bik, pertama tolong jangan mengatakan apa-apa pada Restu tentang pertemuan kita ini dan permintaanku ini, dan yang kedua, bik aku juganya pingin merasakan bagaimana ML itu seperti yang Restu dan bibik lakukanÔÇØ kataku sambil mulai memluknya dari belakang.
Kulihat muka Bi Leha yang tadi pucat kembali memerah, senyum dan lirikan genitnya menyambarku, sebelum akhirnya dia menundukkan wajahnya. Sekalipun Bi Leha tidak menjawab apa-apa, tapi aku tahu pasti dia tidak keberatan dengan semua apa yang akan kulakukan padanya.
Tanpa membuang waktu lagi, aku yang sudah memeluknya dari belakang, segera saja mengulurkan kedua tanganku, meremas-remas buah dadanya, benar dugaanku, Bi Leha tidak memakai BH, buah dadanya yang lembut langsung terasa dibalik baju kebayanya.
Aaahhh. Mas Adid nakal desahnya saat aku mulai menguli-uli puting buah dadanya. Desahannya semakin membuat nafsu naik sampai kekepala. Tanpa membuang waktu lagi kubuka kancing baju kebayanya, dan kurenggut kebaya itu lepas, sehingga kini Bi Leha bertelanjang dada.
Posisinya yang membungkuk saat mencuci membuat buah dadanya yang sudah agak melorot tampak tergantung bebas, yang langsung kuremasi dengan sepenuh gairah. AaakhhhMas Adid nakal sekali erang Bi Leha ketika aku memijit putting buah dadanya agak keras. Puas meremas dan menguli-uli puting buah dadanya, aku segera melorot kebawah, dan berpindah kedepan Bi Leha, serta langsung memasukkan puting buah dadanya yang berwarna coklat kehitaman itu kedalm mulutku. Okhh mas Adid erang bi Leha, kakinya tampak sedikit menggigil.
14
Cukup lama juga aku menyusu pada Bi Leha, yang pasti gigilan kaki Bi Leha tampak semakin keras. Aku lalu berdiri sambil merenggut bebatan kain yang dikenakan Bi Leha, sehingga kainnya langsung melorot dan jatuh dilantai. Tangan Bi Leha mencoba menahan kain itu, tapi segera kutahan dan kulingkarkan di kudukku.
Tanpa membuang waktu lagi kuciumi bibir Bi Leha, ciuman ku segera berbalas dengan kuluman bibirnya yang ganas pada bibirku. Sementara sebelah tanganku meremas buah dadanya yang merapat pada dadaku, sebelah tanganku yang lain mulai mengusap-usap memiauwnya. Nggg Okhh.  erang Bi Leha saat aku melepaskan kuluman bibirku.
Puas saling mengulum, aku berjongkok dan mulai memperhatikn memiauwnya Bi Leha, kukuakkan bulu jembutnya yang lebat, dan kurenggangkan kedua kakinya. Akhirnya terlihat juga klitorisnya yang mengintip dibalik lebatnya bulu jembut Bi Leha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*