Home » Cerita Seks Mama Anak » Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 7

Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 7

Cerita Sebelumnya : Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 6

Tapi ketika tanganku mulai meremasi buah dadanya, diselingi dengan mengelus putting buah dadanya, perlahan Yu Darsih mulai menggoyang pantatnya, dalam gerakan berputar-putar, yang menghasilkan rasa nikmat yang nyaris tidak tertahankan.
Hal itu terbukti dari Yu Darsih yang mulai memburu nafasnya, sementara tubuhnya mulai berkelojotan, menahan nikmat di memiauwnyaa serta nikmatnya remasan tanganku di buah dadanya. Aku semakin meningkatkan kenakalan tanganku dibuah dadanya.
Bahkan akhirnya sebelah tanganku meliar dengan mengusap klitorisnya, saat sekit tampk akibat gerakan Yu Darsih menggoyang pantatnya. Dirangsang sedemikian rupa, gairah Yu Darsih kian memuncak. Wanita itu mulai menggoyang-goyangkan pantatnya semakin keras sehingga tongkolku yang ada di dalam memiaw Yu Darsih serasa diperah oleh jepitan otot-otot vaginanya.

Sesekali Yu Darsih juga merubah gerakannya. Masih dalam posisi di atas, ia menaik-turunkan pantatnya. Dalam posisi gerakan seperti itu, nafsuku benar-benar kian terbakar. Betapa tidak , aku bisa melihat dengan jelas gelambir daging yang keluar dari memiaw Yu Darsih saat wanita itu mengangkat tubuhnya dan tertarik oleh btang tongkolku.
Batang tongkolku dan memiaw Yu Darsih terlihat sangat basah oleh cairan yang keluar dari lubang memiaawnya, sehingga menimbulkan bunyi plep .. plek yang sangat merangsang. Belum lagi buah dada Yu Darsih yang besar seperti pepaya itu ikut bergoyang indah dalam remasan tanganku yang nakal.
Aaaakhhh. ookhhhh erang YU Darsih berpadu dengan lenguhanku yang tanpa dapat ditahan lagi mulai keluar dari mulutku, Oughhhh Yu memiauwmu enak tenan lenguhku, sama mas oookh tongkolmu juga nikmat sekali jawab Yu Darsih.
Gairah yang semakin memuncak, membuat dengus nafas kami kian keras terdengar diiringi erangan-erangan tertahan, sementara itu gerak naik turun pantat Yu Darsih semakin lama semakin cepat dan tidak teratur, hal itu kuimbangi dengaan gerakan pantatku yang kuputar-putar sehingga hujaman tongkolku pada lubang memiauw Yu Darsih bukan saja semakin cepat, tapi juga seperti membor memiauw tersebut.
Ssshhhh ahhhahh .. memiawku enak banget disogok tongkol Mas Adid Auhh terus mas sogok terus. Ahh.. ahh aku nggak tahan lagi ceracau Yu Darsih. Aku juga suka banget bersetubuh sama Yu Darsih, memiaw nya kayak mijit, oughhh.. terus goyang pantatnya Yu. Iya Yu  aaakhhh. ssshhh ..aakhhh enak baanget Yu.. ooughhh jawabku sambil mengobok-obok memiaw Yu Darsih dan mencongkel-congkel klitorisnya hingga membuat wanita itu kian kelabakan dan suara rintihannya makin menjadi.
Puncaknya, Yu Darsih mengangkat pantatnya lebih tinggi dan lalu kembali menjatuhkannya dengan gerakan lebih cepat. Setelah tongkolku kembali menerobos masuk ke lubang nikmatnya, ia menggoyang pantatnya dengan goyangan memutar yang sangat kencang. Sekejap setelah itu, tubuhnya tampak tergetar menandakan ia telah mencapai orgasmenya. Auuuww aohh ohhh khuuukeluar mas. Enak banget mas, aahh.. sshhh shhh . ohhhh.

Saya juga hampir nyampai Yu, Ayo terus goyang yng kencang Oughhh ah .. ahhh shh rintihku yang merasa pijatan dinding lubang memiauw Yu Darsih kian keras memijat batang tongkolku. Tapi Yu Darsih yang masih menikmati sisa-sisa puncak kenikmatan dari orgasme yang baru diperolehnya tidak memberikan reaksi seperti yang kuharapkan. Dia masih tetap berdiam diri.
Sehingga membut ku menjdi tidak sabar lagi, bagai kesetanan, aku terus menggerak-gerakan pantatku naik turun sambil meremasi buah dadanya semakin keras. Lalu karena dia masih juga diam, segera kubalikan tubuh kami sehingga kini aku yang menindih tubuhnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi aku segera menerkamnya dan menghujamkan batang tongkolku keras keras kedalam lubang memiauwnya yang kian basah oleh lendir yang membanjir, aaakhh mas jangan terlalu keras, memiauwku sakit protes Yu Darsih, ketika merasakan keliaranku.
Aku tidaak mempedulikan protes tersebut, tapi justru semakin kencang menggenjot memiauwnya dengan batang tongkolku smbil membuat hentakan hentakan teratur saat batang tongkol itu amblas kedalam lubng memiauwnya.
Yu Darsih yang mula mula memprotes gerakanku, dengan menggerinjalkan tubuhnya, makin lama makin melemah dan mulai menyambut genjotanku dengan memutar-mutar pantatnya, rupanya gairahnya mulai terbangkitkan kembali.
Aaaakhhh. Mas okh. Nikmat sekali erangnya sambil mengoyang-goyangkan pantatnya semakin keras. Kembali aku merasa sepertinya tongkolku diperah dan dipijat oleh jepitan memiauw Yu Darsih yng sangat legit itu.
Oughhh Yu aku juga nikmat banget, terus goyaang yang keras Yuu balasku pada Yu Darsih, aku hampir nyampai nich lanjutku sambil mempercepat sodokan tongkolku. Iya mas aku juga hamper nyampai lagi, tahan ya biar kita barengan nyampainya jawab Yu Darsih dengan suara tertahan tahan.
Pergumulan kami semakin liar, kedua kaki Yu Darsih akhirnya membelit di pinggangku dan dengan dengus nafas yang sangat keras dari kami berdua, akhirnya tubuh kami mengejang kaku, dan oughhhh Yu lenguhku keras sambil menjambak rambutnya. Croootcrooot, terasa air mani menyembur dari tongkolku.
Hampir bersamaan dengan itu tubuh Yu Darsih yang juga mengejang kaku, memiauwnya terasa berdenyut memijaat batang tongkolku dengan keras, akkkhhhh. Mas okhh.. nikmt sekhaaliiii erang Yu Darsih berpadu dengn lenguhanku. Sejenak lamanya kami tetap dalam posisi berpelukan erat sambil mengejang kaku.
Lalu dengan sama-sama menghembuskan nafas yang serasa kaku tertahan, kami mulai melemas, dan ambruklah aku dalam dekapan Yu Darsih, dan kami sama-sama terbadai dalam kenikmatan puncak nafsu asmara yang terlarang.

Aku sempat tertidur beberapa lamanya karena kelelahan setelah mengadu gairah nafsu, ketika aku sadar, waktu telah lewat dari tengah malam, dan aku segera bergegas meninggalkan rumah Yu Darsih untuk kembali ke kamarku. Kutinggalkan Yu Darsih yang masih terlelap akibat keletihan.
Besoknya aku dibangunkan ibuku dengan suara ketukan keras di pintu kamarku, Adid adidd bangun sayang, kita harus segera pergi terdengar panggilan ibuku dari balik pintu kamarku yang terkunci. Dengan sedikit bersungut aku bangkit dan membuka pintu kamar.
Uh sepagi ini mama sudah membangunkanku? protesku pada ibuku, Pagi apa  sudah jam setengah sepuluh, ayo cepat mandi sana, lalu sarapan, kita harus segera kerumah bulik mu sergah ibuku, aku melirik jam dinding, ternyata ibuku benar, segera aku bergegas mandi dan berpakaian, lalu setelah sarapan kami segera pergi, dengan aku yang mengendarai mobil, menuju rumah bulik Wida, yang tinggal disebuah kota kecil tidak jauh dari pantai PR yang banyak dikunjungi wisatawan.
Kami sampai disana lewat tengah hari, ÔÇ£eh mbak, dan mas Adid, apa kabarnya mbak ?ÔÇØ sapa bulik Wida ketika kami sampai. Bulik Wida adalah adik dari ayahku yang paling kecil, suaminya pakle Warto adalah seorang saudagar ikan, yang kerap kali melaut untuk mendapatkan tangkapan ikan sendiri, karena dia juga memiliki tiga perahu besar, dan merupakan juragan bagi para nelayan.
Setelah berbincang bertukar sapa, ibuku mulai mengeluarkan sebuah bungkusan besar, ÔÇ£ini dek Wid kiriman dari mas Ut, yang kuterima kemarin dulu, maaf baru sekarang mbak kirimkan, habis Adid yang mau kuajak kemari hari kemarin eh malah ngeluyur entah kemanaÔÇØ kata ibuku sambil menyerahkan bungkusan tersebut.
Sambil mendengarkan mereka berbincang, mataku mulai memperhatikan bulik Wida, bulik orangnya kecil mungil, tapi mukanya sangat manis dengan kulitnya yang putih seperti ibuku. Sebenarnya bukan kali ini aku pertama bertemu dengannya, tapi dalam pandangan mataku kini segalanya menjadi lain, setelah aku merasakan nikmatnya ML dengan wanita.
Kini pandanganku dan penilaianku atas wanita menjadi sangat berbeda, setiap kali melihat wanita, pasti yang ada di pikiranku adalah seberapa nyaman dan hebatnya wanita itu jika kugumuli di atas ranjang, dan dari semua wanita yang pernah kunilai, tak ada seorangpun yang melebihi ibuku, bukan karena dia ibuku, tapi begitulah adanya karena aku menilai secara objektif.
Selesai beramah tamah dan makan siang bersama di rumah bulik ku itu, mereka masih saja berbicara kesana kemari, diselingi dengan makan rujak, yang entah dapat dari mana, yang jelas itulah yang dihidangkan bulik Wida kepada kami, dan sungguh cocok dengan udara yang terasa panas menyengat, bukan saja karena matahari yang terik, tapi juga karena dekat dengan tepi pantai.
Sore harinya mama berkata padaku, ÔÇ£Did jadi kita wisata ke pantai?ÔÇØtanya mama sambil tersenyum. Aku segera menganggukkan kepala ÔÇ£tentu saja ma, kita memanfaatkan waktu dan jarak yang telah kita tempuhÔÇØ jawabku kepada mama. ÔÇ£Ya sudah kalau begitu, kita pergi sekarangÔÇØ mumpung masih belum terlalu malamÔÇØ kata mama.

Lalu kami pun berpamitan pada Bulik Wida, dan menuju pantai PR untuk berwisata. Disana kami checkin di sebuah hotel, menjelang malam. Lalu setelah mandi dan berganti baju, kami makan malam di resto tepi pantai. Ibuku terlihat cantik sekali dengan bajunya yang bergaya santai.
Saat berjalan menuju resto, kami melewati sejumlah besar wisatawan yang sama mau ataupun tengah bersantap malam, dan segera saja penampilan ibuku menyedot perhatian kaum lelaki yang ada disana, serta membuat iri kaum perempuannya.
Selesai makan malam, kami berjalan-jalan disepanjang tepi pantai, menikmati suasana pantai yang sangat damai sambil bercakap-cakap ringan. Selama berjalan itu tangan kami selalu saling berpegangan, dan aku rasanya seperti tengah fly, karena meslipun selama ini aku selalu menjadikan ibuku obyek onaniku, tapi tidak pernah aku mengalami perasaan seperti sekarang ini.
Ibuku sendiri saat berjalan sering sekali menyenderkan tubuhnya pada diriku, terkadang aku bahkan seperti tengah membimbing, dan mendekapnya. Apalagi malam itu purnama bersinar dengan cerahnya. Apakah aku tengah jatuh cinta pada ibuku sendiri?.
ÔÇ£Sudah lama sekali mama tidak berjalan-jalan seperti ini, semuanya mengingatkan mama pada masa lampauÔÇØ desah ibuku padaku saat kami berjalan kembali menuju hotel, ÔÇ£artinya kita harus lebih sering berjalan-jalan seperti ini MaÔÇØ jawabku sambil tersenyum.
Malam itu kami tidur dikamar masing-masing dan tidak ada kejadian yang istimewa, tapi saat tidur aku bermimpi, celakanya mimpiku adalah mimpi basah, dalam mimpiku aku merasa sedang berhubungan intim dengan ibuku, dan bangun dengan celana basah kuyup oleh cairan kental.
Besoknya pagi-pagi sekali aku telah bangun, karena aku telah janjian dengan ibuku untuk melihat matahari terbit di tepi pantai. Aku hanya mencuci muka dan sikat gigi, setelah itu kupakai celana renangku, dan di sebelah luar aku hanya memakai tshirt dan celana gombyang selutut.
Ibuku sendiri hanya memakai tank top, dan celana thong kebawahnya, kami lalu jalan-jalan seperti tadi malam sambil menunggu munculnya matahari terbit. Alangkah indahnya terdengar mama berkata sendiri, sambil menatap takjub semburat kemerahan diufuk timur, lalu munculnya bulatan bola merah, yang seakan muncul dari dasar lautan.
Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan matahari tersebut, karena lebih sibuk merasakan nyamannya tubuh ibuku yang bersandar dalam dekapanku. Setelah matahari naik semakin tinggi, kami lalu sarapan ditepi pantai, selesai itu ibuku duduk dikursi ditepi pantai itu, sambil bermalas-malasan menikmati hangatnya sinar matahari pagi hari. Aku sendiri segera membuka tshirt ku dan celana gombyang, lalu dengan serta merta langsung terjun berenang di laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*