Home » Cerita Seks Mama Anak » Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 6

Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 6

Cerita Sebelumnya : Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 5

ÔÇ£Jangan terlalu banyak merokok mas, kurang baik bagi kesehatanÔÇØ katanya sambil tersenyum, aku mengambil rokok dari tangannya, sambil melakukan hal itu, aku meremas tangannya penuh arti, dan menjawab ÔÇ£iya sebenarnya aku juga tidak terlalu doyan merokok, doyannya dirokok kok Yu..ÔÇØ kataku nakal sambil tersenyum penuh arti.
Yu Darsih menengok memperhatikan keadaan sekeliling, ÔÇ£ih Mas Adid ini bisa saja, ya kalau itu sich tempatnya tidak disiniÔÇØ jawabnya dengan muka sedikit memerah, ÔÇ£bagaimana keseleonya sudah baikan?ÔÇØ tanyanya nakal setelah yakin tidak ada orang yang mungkin memperhatikan pembicaraan kami.
ÔÇ£Rasanya masih belum Yu, terasa masih sangat tegang sekali, bagaimana kalau aku dipijat lagiÔÇØ kataku sambil menatap tajam kearahnya. Muka Yu Darsih semakin memerah, ÔÇ£boleh saja, nanti setelah kios ditutupÔÇØ katanya sambil mengerling penuh arti padaku.
ÔÇ£Seep lah, nanti aku datang lagi seperti tadi malamÔÇØ kataku sambil ngeloyor pergi, aku sama sekali tidak menghiraukan uang kembalian rokok ku karena tadi aku memberikan uang seratus ribu, dan Yu Darsih juga tidak mengangsurkan uang kembaliannya.
Hari sabtu itu aku berputar-putar tanpa tujuan yang pasti. Tadinya aku mau mengendarai mobilku kerumah Restu dan berbicara tentang keberhasilan rencanaku, tapi aku keburu ingat dia tengah berlibur, jadi kuurungkan niatku. Jadilah hari itu aku menyambangi twenty one dan nonton sampai dua kali pertunjukan dengan film yang berbeda.
ÔÇ£Dari mana saja kamu seharian ini Did?.. tadinya mama mau ngajak kamu pergi kerumah bulik Wida untuk mengantarkan pesanan bajunya dari ayahmu, yang baru dating kemarin, tapi kamu tidak ada..ÔÇØ omel ibuku saat aku masuk rumah.
Kan liburan Mah, lagian tadi malam mama gak ngomong sich, tapi besok juga kan bisa? Sekalian kita pergi ke pantai berlibur ok kataku sambil nyengir pada ibuku. Ya sudah besok kita pergi, dan Did tolong kamu lebih konsentrasi pada pelajaran, bukankah kamu sebentar lagi ujian? Jadi berhentilah membuang waktu seperti sekarang pinta mamaku sambil menyiapkan hidangan makan malam kami.
Aku menganggukkan kepala, tapi tiba-tiba sebuah pikiran bagaikan cahaya terang melintas di kepalaku, dan aku perlahan-lahan tersenyum senyum sendiri seperti orang yang kurang waras, untunglah ibuku tidak memperhatikanku.
Selesai makan malam, ibuku lalu berbaring diatas sofa sambil menonton TV, sedang aku sendiri tetap duduk di kursi makan, sambil merokok. Tapi pikiranku sebenatnya sedang berkelana, menganalisa dan mengevaluasi berbagai kemungkinan. Entah berapa lama aku dalam posisi seperti itu, yang pasti lebih dari sejam, sampai saatnya ibuku bangkit dan berkata padaku ÔÇ£mama tidur dulu ya DidÔÇØ katanya kepadaku.
Aku sedikit tergagap karena lamunanku terusik, lalu mengangguk kepada ibuku, mengiyakannya. Ibuku sendiri tanpa mempedulikan jawabanku langsung melangkah ke kamar tidurnya. Aku sendiri bak terbang langsung ngacir kekamarkudan langsung on position di tempat aku biasa mengintip.

Dan aku langsung terpaku, karena ibuku tengah membuka bajunya sehingga tubuhnya yang putih mulus langsung terlihat. Lalu dia membuka branya juga, sehingga sepasang buah dada besar nan bulat montok terpampang di mukaku dihiasi sepasang putting yang berwarna merah kecoklatan. Buh dada itu tampak masih tegak menantang, dan tidak banyak melorot.
Lalu kulihat ibuku mengambil sehelai daster, dan sebagaimana biasanya, sebelum memakai daster ibuku berputar-putar sejenak di hadapan kaca riasnya, sambil mengukur dan menaksir tubuhnya, mana yang kurang dan mana yang lebih. Akhirnya ibuku tersenyum puas dan memakai dasternya, lalu berbaring di tempat tidur.
Aku sendiri segera mengunci pintu kamar, dan seperti kemarin langsung pergi keluar lewat jendela kamarku. Sesaat kemudian aku aku sudah berada didepan pintu rumah Yu Darsih, setelah memperhatikan keadaan sekeliling, aku langsung mengetuk pelan pintu rumahnya.
Mas Adid? terdengar suara pelan dari pintu, yang segera kuiyakan. Pintu langsung terbuka dan aku menyelinap kedalamnya. Ssstt tunggu sebentar, si Iyem baru saja masuk kamarnya desis Yu Darsih ditelingaku, ketika aku langsung memeluk tubuhnya.
Aku yang sudah tidak sabar langsung berbisik ke telinganya ÔÇ£Yu kita masuk kamar saja yach..!ÔÇØ pintaku, Yu Darsih menganggukkan kepalanya, dan sambil saling berpegangan tangan kami masuk kedalam kamar Yu Darsih, sempat tadi malam aku kehilangan keperjakaanku.
Didalam kamar baru kusadari Yu Darsih mengenakan kain dan baju kebaya, tapi tanpa bra, sehingga puting buah dadanya yang coklat kehitaman tampak menonjol di balik baju kebayanya. Aku segera memeluknya dari belakang sambil meremasi buah dada tersebut.
Ssssttt tunggu sebentar lagi biarkan si Iyem lelap dalam tidurnya pinta Yu Darsih kepadaku, tapi Yu Darsih tidak berusaha menepis remasan tanganku didadanya tersebut. Bahkan ketika aku melepaskan kancing-kancing pada kebaya yang dikenakannya, Yu Darsih juga tak mencegahnya, diIa membiarkan saja aku mengeluarkan buah dadanya yang besar dari baju kebayanya. Dari kaca di lemari seberang bahkan kulihat mata Yu Darsih mulai merem melek keenakkan.
Buah dadanya memang tidak setegak buah dada ibuku, karena sudah agak sedikit kendur, namun bentuknya masih cukup bagus dan merangsang selera, putih mulus dihiasi sepasang puting coklat kehitaman. Sepasang puting itulah yang kini jadi sasaranku, sambil tetap mendekapnya dari belakang, ku pilin-pilin perlahan sehingga YU Darsih mendesah dan menggelinjang dalam pelukanku.
Sambil tetap meremasi buah dad tersebut dengan telapak tanganku yang kanan, tangan kiriku lalu merayap turun mencoba menyelusup ke balik kain panjang yang dipakai wanita itu. Dan karena gerak tangaku itu kain panjang yang hanya disimpulkan begitu saja segera terlepas dari ikatannya.
Yu Darsih mencoba meraih kainnya yang jatuh kelantai, nmun terlambat, kain itu telah terhampar di lantai, sehingga kini tubuhnya telanjang bulat dalam dekapanku dari belakang.

Ih mas Adid kok gak sabaran sich.. kata Yu Darsih sambil berbisik, dan membalikkan badannya, sehingga kini kami berangkulan dengan erat.
Sejenak kukulum bibirnya, yang disambut dengan kuluman pada bibirku yang tidak kalah liarnya. Tangan kananku mulai merosot dari punggungnya, setengah mengelus kebawah, dan meremas sejenak di buah pantatnya yang demplon, lalu mulai menggerayangi bagian tubuh Yu Darsih yang paling rahasia.
Sementara itu tangan Yu Darsih juga turun membuka kancing celana panjangku serta menolaknya dengan kaki hingga kini aku hanya memakai celana dalam saja. Lalu tangan Yu Darsih mulai membuka t shirt yang kukenakan, sehingga aku hanya tinggal memakai celana dalam saja.
Tanganku sendiri tidak mau diam, kemaluan Yu Darsih yang mentung membusung langsung kurb-raba dan kuelus-elus, sambil mengesek-gesekkan tongkol ku yang masih terbungkus celana dalam ke bulu jembutnya yang subur.
Klitoris Yu Darsih mulai mencuat menyembul dari balik jembulnya, tepat diatas bibir kemaluannya yang mulai membasah akibat ulahku. Klitoris tersebut ukurannya tampak lumayan besar dan menonjol. Nafsuku yang mkulai tidak terkendali menyebabklan aku segera mengalihkan sebuan bibirku pada belakang telinga dan lehernya.
Yu Darsih tampak sedikit tergeliat kegeliaan ketika lidahku menyapu sisi lehernya. Lalu serbuanku semakin lama semakin menurun, kini bahu nya yang jadi sasaranku, lalu dada atasnya, dan akhirnya mulutku menclok di puting buah dadanya yang kanan. Sebelah tangan ku juga tidak diam, tapi meremas buah dadanya yang kiri.
Aaakhhh. Okhh Mas Adiiid erang Yu Darsih keenakan saat mulutku menyonyot-nyonyot puting buah dadanya, lidahku tetap mengusap-usap kepala putingnya. Tanganku yang lain dengan setia tetap mempermainkan dan mengusap klitorisnya yang telah mencuat.
Puas bermain-main dengan buah dadanya, ciumanku merambah kearah bawah, menyelusuri perutnya, dan akhirnya sampai juga di memiauwnya yang telah basah licin akibat permainan tanganku. Aku berjongkok sambil menciumi memiauw nya.
Akhhh ssshhss memiawku mau diapakan mas? Ahhh enak banget . ssshhhsss, Yu Darsih mulai mendesah seiring dengan juluran lidahku yang mulai menyapu ke bagian dalam lubang vaginanya. Kaki kanan Yu Darsih mulai diangkat, dan bertumpu pada pembaringan yang ada disampingnya.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan posisinya memiauw Yu Darsih menjadi terbuka semakin lebar, karenanya kini aku tidak hanya sekedar menyapukan ujung lidahnya ke lubang nikmat Yu Darsih yang kini terbuka menganga. Tetapi klitorisnya yang mencuat di sela lubang memiawnya pun ikut kuobok-obok, kujilati dan sesekali kucerucupi dan kuhisap-hisap.

YU Darsih menggelepar tubuhnya akibat ulahku itu, kepalanya bergoyang-goyang ke kiri dan kekanan, aaakhh  enak bangat Mas Adid, okhh aakhh terus hisap klitorisku, aakhh ssshhhh. oookhhhh, ia melenguh sambil memegangi kepalaku dan berusaha menekan ke selangkangannya.
Tubuh Yu Darsih yang menggelepar dan mengejang akhirnya mulai melemas, aaakhhh ampun mas nikmat sekali, sampai lemas aku dibuatnya, pindah yuk ke pembaringan pinta Yu Darsih yang kakinya mulai menggigil saking lemas. Aku menurut dan melepaskannya.
Y Darsih yang tadinya mau berbaring menelentang, kucegah dan kuminta dia berjongkok diatas pembaringan, lalu tanpa ba bi bu lagi aku segera mengangsurkan tongkolku yang sudah sangat tegang ke mulutnya. Yu Darsih mengerti aku masih ingin melakukan pemanasan segera beraksi pada tongkolku.
Lidahnya mulai menjilat jilat kepala tongkolku yang tegak mengacung, lalu akhirnya tongkolku terbenam didalam mulutnya, dihisap hisapnya tongkolku, sementara ujung lidahnya mengelus-elus lubang kencingku. Aksinya Yu Darsih itu diselingi dengan menjilat dan mencucupi buah pelirku.
Kini giliranku yang mengejang dan menggelepar, oughhh. Yu Darsiiihh nikmat sekali erangku sambil mengucek-ucek rambutnya. Kenikmatan yang kurasakan sungguh membuat nafsu ku naik sampai kepuncak.
Tanganku terulur mencoba menjangkau memiauw Yu Darsih, dan berhasil, meskipun hanya pada lobangnya saja, aku mulai mengobok-obok lubang memiauw Yu Darsih dengan dua jari tanganku. Hampir bersamaan kami melenguh aaaakhhh. Mashokhh , oughhh Yuuuu erang kami berpadu bagaikan koor paduan suara surgawi.
Payudara Yu Darsih yang bentuknya seperti buah pepaya agak menggelantung itu juga terlihat bergoyang-goyang seiring dengan gerakakkan tubuh pemiliknya. Alhasil birahiku kian tak terbendung dan tubuhku menjadi panas dingin menahan syahwat yang makin menggelegak.
Akhirnya kuminta Yu Darsih menghentikan kulumannya dan aku berbaring terlentang diatas pembaringan, Yu Darsih yang telah berpengalaman, segera tahu aku menginginkannya berada diatas tubuhku.
Dia segera bergerak mengambil ancang-ancang mengangkangi tubuhku, ia berdiri tepat di atas pinggulku, lalu ia menurunkan tubuh dan nyaris dalam posisi berjongkok, wanita berpantat demplon itu mulai menggenggam dan mengelus tongkolku yang tegak mengacung. Lalu kepala penisku itu diusap-usapkan ke lubang memiawnya yang menganga. Akhirnya, bless tongkolku masuk membenam ke lubang memiauw Yu Darsih seiring dengan turunnya pantat demplonnya.
Rasa nikmat akibat terbenamnya tongkolku di lubang memiawnya membuat Yu Darsih sejenak terdiam, seperti aku juga untuk sesaat harus menahan deraan nafsu akibat terjepitnya tongkolku oleh dinding lubang memiauwnya Yu Darsih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*