Home » Cerita Seks Mama Anak » Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 5

Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 5

Cerita Sebelumnya : Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 4

Tubuh kami yang sama-sama mengejang itu berlangsung selama beberapa menit, sementara mulut kami masih saling berebutan menjilat dan mencium. Lidah Yu Darsih dan lidahku saling mencuat, meraih, memilin, menjilat, dan melahap satu sama lain.
Lalu akhirnya tinggallah kelesuan yang amat sangat menyelimuti tubuh kami berdua, untuk beberapa lama kami saling berdiam diri menikmati sisa-sisa keindahan persetubuhan kami, aku kini bukan seorang perjaka lagi, tapi kini telah menjadi laki-laki dewasa.
Lalu perlahan-lahan aku bangkit sejenak kucium bibir Yu Darsih yang tersenyum menggodaku. ÔÇ£Aku ingin tidur disini malam ini YuÔÇØ pintaku. ÔÇ£Jangan mas… nanti ibunya mencari cari pulanglah, nanti kalau ada kesempatan lagi, aku mau kok kamu entotin… asal keadaannya memungkinkanÔÇØ jawab Yu Darsih.
Terpaksa akupun bangkit dan berpakaian. Lalu aku melangkah keluar dari rumah Yu Darsih, dan dengan mengendap-endap aku kembali kekamarku, tentu saja melalui jendela, seperti ketika aku keluar. Setelah sampai di kamar, perlahan-lahan aku membuka pintu kamarku, ternyata keadaan aman, ibuku tidak menyadari kepergfianku yang hampir satu jam itu.
Aku pun kemudian naik de atas kursi dan mengintip ke dalam kamar ibuku, ternyata ibuku masih pulas diatas tempat tidur, sementara sebelah pahanya yang telanjang mencuat keluar dari balik selimut tipisnya, membuat nafasku serasa berhenti saat memandanginya.
ÔÇ£Aaakhh ini sungguh sebuah tantangan yang lebih rumitÔÇØ pikirku sambil turun dari kursi yang kujadikan alat untuk mengintip. Lalu aku berbaring sambil merancang langkah lanjutan untuk memuaskan nafsu seks ku yang terasa semakin membara, akh ibaratnya orang yang kehausan minum air laut, terasa dorongan hasrat birahi semakin mencengkramku setelah aku merasakan arti persetubuhan itu.
Akhirnya disisa malam itu, aku juga terlelap tidur dalam kelelahan.
The Story Continues
Peristiwa malam sabtu, demikian aku menyebut kejadian tadi malam, saat pertama aku kehilangan keperjakaan di dalam pelukan Yu Darsih. Pagi itu saat terbangun dengan perasaan segar luar biasa, aku senyum senyum sendiri mengenang kejadian tadi malam sambil mandi dan sudah tentu keramas untuk lebih menyegarkan badanku.
Terpikir olehku bahwa karena selasa hari libur nasional, maka otomatis saat itu hari seninnya juga sekolah libur, jadi aku masih punya waktu empat hari untuk bertualang dalam kehidupan seks ku yang ternyata amat sangat menyenangkan.
Aku baru saja selesai mandi dan tengah mengeringkan badanku dengan handuk, waktu kudengar ibuku masuk kedalam kamar mandi, sejenak aku tertegun tapi dengan segera aku berpura-pura keluar dan membuka pintu kamat mandi serta menutupnya kembali keras-keras, seolah-olah aku sudah keluar dari kamar mandi.

Padahal, aku tidak merapatkan pintu kamar mandi aku, segera setelah memakai baju dan kain sarung, aku kembali kekamar mandi dan memanjat dinding bak mandi serta mengintip kedalam kamar mandi orang tuaku, yang letaknya bersebelahan dengan kamar mandi di kamarku.
Uh rupanya aku sedikit telat, karena ibuku sudah masuk kedalam bath tube, sehingga aku tidak sempat melihatnya membuka handuk serta berbugil ria masuk kedalam bath tube, padahal itu adalah momen yang paling kutunggu, karena aku bias melihat buah dada ibuku dengan jelas, serta bayangan memiawnya yang selalu dicukur rapi.
Ibuku tampak berbaring santai di dalam bath tube, kupikir ibuku sedang mandi, tapi ketika kuperhatikan dengan seksama, lho kok, gerakannya tidak seperti orang mandi. Lama-lama aku tersadar, sepertinya ibuku sedang bermasturbasi di kamar mandi. Sebelah tangannya memijit-mijit puting buah dadanya yng membayang didalam air, diselingi dengan meremas kedua buah dadanya bergantian.
Sebelah tangannya bergerak-gerak di bawah perutnya, menutup jembut memiauw ibuku yang selalu tercukur rapi. Matanya terpejam rapat, sedang kepalanya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, sedang nafasnya mulai terengah-engah seperti orang yang habis berlari.
Aku terus mengintip dan semakin lama semakin horny, karena tanpa sadar tanganku mulaai meremasi tongkolku yang berada di balik sarung yang kupakai. Tiba-tiba ibuku seperti melepas napas keras dan kejang, kedua bibirnya digigit keras-keras. Lalu kedua tangannya berpindah dan mencengkram bibir bath tube, sedang kepalanya tertengadah.
ÔÇ£Oh, mungkin mama sudah klimaksÔÇØ pikirku saat itu. Kutunggu beberapa lama , akhirnya mama mulai mandi dan mencampurkan sabun cair lebih banyak lagi, sehingga busanya mulai menutup permukaan air di bath tube. Dengan perlahan-lahan dan rasa hati yang tidak karuan, aku meninggalkan pos tempat aku mengintip, dan kembali kekamarku.
Tak pernah kusangka aku akan sempat menyaksikan ibuku bermasturbasi di kamar mandi, karena selama sejarah aku mengintipnya, tidak pernah aku melnyaksikan hal itu. Tapi ketika terfikirkan bahwa ibuku yang meskipun sudah berusia 45 tahun, tapi karena perawatan wajah dan tubuhnya yang apik, ditambah senam seminggu dua kali dan berenang seminggu tiga kali, maka tubuh, wajah dan penampilan ibuku sepuluh tahun lebih muda dari usianya.
Wajah cantiknya serta kulit tubuhnya yang putih mulus, dengan dada yang membusung, karena buah dadanya yang besar membulat, dan pantat yang bahenol bulat serta pinggang yang masih cukup ramping serta perut yang masih tampak rata untuk perempuan seusianya yang telah memiliki anak dua orang.
Semua itu membuat banyak laki-laki yang masih memperhatikannya dengan penuh minat, aku tahu pasti akan hal itu, karena sering kali aku memergoki ulah mereka saat harus menemani ibuku belanja atau untuk keperluan lain di luar rumah.

Ibuku memang tidak bekerja, karena penghasilan ayahku yang diplomat senior lebih dari mencukupi untuk kehidupan kami sekeluarga, karena itu aktifitas beliau hanyalah mengurus rumah tangga, senam, dan belanja untuk keperluan rumah tangga.
Hanya sesekali saja beliau pergi, seringnya untuk mengunjungi kakak perempuanku, mbak Ratna yang kuliah di kota Y, atau mengajak aku berwisata ketempat-tempat menarik kalau lagi liburan panjang. Selain itu praktis dia tidak pernah kemana-mana.
Oh ya nama ibuku adalah Ana Susana, adapun kakak perempuanku, usianya tiga tahun lebih tua dari pada aku, sedang aku sendiri baru jalan 18 tahun dan sedang sekolah di SMA 8 kelas tiga, sekolah terfavorit di kotaku.
Adapun ayahku adalah seorang diplomat senior, yang telah tiga tahun berada di luar negeri dan selama itu hanya pernah pulan satu kali, kurang lebih delapan belas bulan yang lalu. Awalnya kami sekeluarga memang ikut ayah, hidup di luar negeri, tapi ketika aku memasuki usia sekolah, orang tuaku memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di tanah air tercinta ini, meskipun karenanya mereka harus hidup terpisah.
Aku tidak tahu alasan mereka yang sebenarnya, tapi setidaknya itulah yang kami, maksudku aku dan mbak Ratna pahami. Meskipun aku yakin pasti ada alasan lain dibalik itu. Selama ini ayahku hanya pulang menemui kami paling banyak satu tahun sekali, saat pulang biasanya dia tinggal selama sebulanan, lalu kembali ketempat tugasnya lagi.
Mengenang semua itu, aku segera sadar bahwa bagaimana pun ibuku masih memiliki keinginan normal sebagai mana wanita biasanya, karena itu seharusnya aku tidak heran menemukannya sedang bermasturbasi, karena ayahku sudah setahun setengah ini tidak pernah pulang.
Sebenarnya aku sudah sangat ingin bermasturbasi seperti biasanya setelah aku mengintip ibuku, tapi krena aku sudah pernh merasakan ML, maka setengah mati aku berusaha menahan keinginan itu, bah bukankah aku sudah dewasa, dan layak menikmati memiauw? Jadi kenapa harus masturbasi.
Dengan tekad seperti itu aku bergegas memki baju yang layak dan pergi keluar kamar, untuk sarapan. Makan pagi ternyata telah terhidang di meja makan, selesai sarapan aku bergegas keluar, karena aku khawatir tidak dapat menahan nafsu kalau melihat ibuku.
Yang pertama kudatangi tentu saja kios Yu Darsih, sejenak aku tertegun di luar kios Yu Darsih, karena ternyata dia sedang sibuk melayani para pembeli. Setelah pembeli surut, dengan berdehem aku aku masuk kedalam kiosnya, ÔÇ£Yu aku minta sebungkus rokokÔÇØ kataku sambil menatapnya penuh arti.
Eh mas Adid, sebentar mas ya kata Yu Darsih sambil tersenyum manis sekali, lalu dia melayani seorang pembeli lain. Selesai melayani pembeli tersebut, baru dia mengambil sebungkus rokok kesukaanku, dan menyerahkannya padaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*